"Ne, Onii-chan, belikan aku boneka!"

"Kamu ini pria kenapa mau boneka sih?"

Shiga menghela nafas, kenapa sih ia menjaga dan mengajak main anak tetangga yang cukup aktif dan menyebalkan.

Ah iya lupa, ini hukuman yang diberi Musha karena merusak taman miliknya, astaga padahal Shiga sendiri yang membantu merawatnya.

"Karena aku tak punya teman," balas anak kecil bernama Dazai Osamu. "Manusia itu menyeramkan. Mereka saling menipu, namun anehnya dapat tersenyum dan tak merasa tersakiti."

Pria bertindik tersebut terdiam mendengar perkataan anak berusia 7 tahun yang mampu mengatakan hal menyeramkan seperti itu. Sebenarnya berapa banyak hal menyakitkan yang ia terima sampai bisa mengatakan hal seperti itu?

"Baiklah, akan aku belikan." Shiga mengeluarkan dompetnya. "Berikan boneka yang merah dan hijau."

"Ga mau hijau, jadi mirip Onii-chan yang nyeremin!"

"Ngajak ribut nih ceritanya?" tanya Shiga meremas kepala Dazai lembut. "Awas nanti malah aku yang jadi suami mu," gurau Shiga meski tak ada lucunya.

Dazai mengulurkan tangannya menerima boneka biru yang diberikan penjual dan memeluknya erat

"Aku rasa tidak buruk, Onii-chan kan baik." Dazai tersenyum lebar dengan aura yang cerah "Karena Nii-san teman Dazai!"

Ah, sial, kenapa jantung Shiga berdetak tak karuan? Bisa-bisanya Shiga berpikir mewujudkan perkataan menjadi suami Dazai Osamu anak kecil yang masih di bawah umur.

'Tahan Shiga, tahan. Ini di mall, bisa-bisa kamu dikira pedofil.'

"Onii-chan tidak mau, ya?" tanya Dazai dengan raut sedih. Ah, sudah Dazai duga tidak ada yang mau bersamanya karena aneh dan suka menyakiti diri sendiri.

"Bukan aku tak mau, tapi tunggu saat yang tepat." Shiga berjongkok. "Aku akan menunggumu sampai dewasa."

"Dan jika saat itu tiba aku akan datang lagi dan langsung menikahimu, Dazai."

"Onii-chan janji?" tanya Dazai mengulurkan jari kelingking mungilnya.

Shiga tersenyum lembut, pemuda berusia 19 tahun tersebut menautkan jari kelingkingnya.

"Ya, aku janji."

Meski itu hanya janji antara orang dewasa dan anak kecil tapi di hati mereka itu janji yang amat berharga yang harus dijaga.


13 tahun berlalu, namun Dazai Osamu yang berusia 20 tahun masih mengingat sosok janji dari Onii-chan yang ia rindukan.

"Aku ini seperti orang bodoh, ya?" Dazai menghela nafas dan menatap boneka biru yang diberikan Shiga 13 tahun lalu. "Menunggu hal yang tidak jelas, bisa saja dia lupa karena itu hanya janji anak-anak."

"Kenapa murung, Dazai? Ga bisa ngoleksi video 'cewek cantik' karena akhir bulan?" tanya Ango yang memegang karangan bunga hadiah kedewasaan. "Jangan murung begitu di hari kedewasaan kita."

"Hush, Ango." Pria berkepang menggeplak kepala Ango. "Ga boleh bilang begitu."

Dazai menggeleng pelan, menahan tawa melihat pertengkaran kecil Ango dan Odasaku.

"Kalau begitu aku pamit dulu." Dazai berbalik badan dan pergi meninggalkan Ango dan Odasaku. Bisa ia dengar ucapan protes dari Ango dan Odasaku yang tak ingin Dazai pergi.

"Mungkin dia sudah bahagia dengan orang lain."

Dazai menunduk dan menyentuh dadanya, ini buka rasa sakit saat ia mencoba gantung diri ataupun rasa sakit karena berusaha mencekik dirinya sendiri.

"Yo, kenapa menunduk begitu?" Tepukan pelan bisa dirasakan Dazai. "Ini hari bahagiamu, kenapa bersedih?"

"Eh ralat, sebentar ini hari bahagia kita."

Dazai langsung mendongak, mata kuningnya membulat melihat seseorang yang selalu ia rindukan selama 13 tahun.

"ONII-CHAN!? KENAPA ADA DISINI?"

"Tentu saja untuk merayakan hari kedewasaanmu, dasar bodoh." Shiga menahan tawa. Dazai bisa sepolos ini rupanya. "Dan menepati janjiku."

Sontak membuat wajah Dazai memerah padam, dengan refleks ia menutup wajahnya.

"Memangnya aku mau?"

"Pft- aku yakin kamu tak bakal menolaknya."

Sial, kenapa tepat sasaran sih, dan apa pula senyum ganteng dan percaya diri Nii-san? Kan Dazai makin jatuh hati.

"Dazai Osamu, menikahlah denganku. Aku akan membuatmu bahagia." Shiga meraih tangan Dazai dan mencium pergelangan tangan yang penuh bekas luka sayat "Aku janji kamu tak akan merasakan rasa sakit."

Dazai mengangguk perlahan, air mata kebahagian karena rasa hangat dihatinya keluar. Rasanya penantiannya selama 13 tahun terbayar sudah.

"MUSHA, ARISHIMA, TON BAWA ALTAR DAN PENDETANYA KEMARI!!!"

"HAH APA? PENDETA? ALTAR?" Otak lemot Dazai berusaha memperoses kalimat Shiga.

"Astaga Dazai, padahal kamu 13 tahun lebih muda dariku tapi kami pikun, ya?" Pria berambut biru itu menjentik kening Dazai pelan. "Sesuai janjiku, saat kita bertemu lagi aku akan langsung menikahimu."

"GA BEGINI JUGA ONII-CHAN BODOH!!"

"Tapi kamu senang kan?"

"TAPI MALU!!"

Yah, sepertinya perjalanan Shiga dan Dazai masih panjang.


Ekstra :

"Odasaku, kenapa di sana ramai ya?" Tanya Ango memperhatikan kerumunan Shiga Dazai.

"EH SERIUSAN!? DAZAI MAU NIKAH SEKARANG!?" Teriak Haruo yang terdengar oleh telinga Ango dan Odasaku.

Sontak saja Ango dan Odasaku berlari mendekati tempat perkara.

"Dasar Dazai, kenapa ga bilang mau nikah. Pantesan pamit duluan." Ini Ango yang lagi menggerutu.

"Loh kenapa? Apa kamu janji mau jadi Bridesmaids Dazai?"

"Bukan Odasaku, kalau tahu Dazai nikah bakalan aku bawa tuperwer biar bisa ambil makanannya." Ah seharusnya Ango bawa tuperwer biar bisa mengambil makanannya "Lumayan untuk menghemat uang."

"Au ah gelap An -_-