MONARCH OF DESPAIR

Rate: M

Disclaimer: Naruto [Masashi Kishimoto], Highschool DxD [Ichie Ishibumi], Grancrest Senki [Ryo Mizuno], Musaigaen no Phantom World [Soichiro Hatano], Tensei Shittara Slime Datta Ken [Fuse]

Ditulis tanpa mengharapkan keuntungan materil sedikit pun

Genre: Fantasy, Hurt/Comfort, Action, Adventure, Family, Romance

Warning: Typo, gaje mungkin, masih jauh dari kata sempurna, OOC

Pairing: ?

Summary: Lahir karena pernikahan politik tanpa dilandasi cinta yang berujung sebuah perpisahan dan penghapusan keberadaannya… anak dari keluarga Earl Namikaze dan keluarga Marquess Lucifuge ini tak hanya dihapus keberadaannya tapi juga dibuang dan ditelantarkan oleh kedua orang tuanya. Namanya adalah Naruto, seorang bocah berusia 5 tahun yang nantinya akan tumbuh sebagai budak sekaligus orang yang terpilih untuk mewarisi gelar Monarch of Despair.

Jangan lupa review, favorite follow!

.

.

.

.

.

Chapter 2 : Kehidupan Selama 7 Tahun

Sebuah tubuh tergeletak di semacam ruangan putih yang tak terlihat sampai mana batasnya. Hanya ada suara rintik rintik air yang jatuh tapi tak terlihat keberadaan asal muasal suara tetesan air itu sejauh apapun mata memandang. Tubuh manusia kecil yang tergeletak di sana perlahan bergerak menandakan kesadaran orang itu hampir kembali seutuhnya. Dia adalah Naruto yang masih berumur delapan tahun dengan ketidakpahamannya mengenai dunia ini.

Ketika individu ini terbangun pun, dia sudah dilanda dengan kebingungan. Dia berkedip beberapa kali lalu menoleh ke berbagai arah dengan ekspresi panik.

"D-Dimana aku?" tanya Naruto dan tak seorang pun menjawabnya.

Untuk ukuran anak berusia delapan tahun sepertinya, dia cukup tenang menanggapi kejadian semacam ini. Intuisi nya mengatakan bahwa yang pertama ia harus lakukan adalah tenang dan kumpulkan informasi terlebih dahulu. Tetapi apa yang bisa dia peroleh dari tempat semacam ini? Dia bahkan tidak bisa melihat ujung dari ruangan ini.

Dia mencoba berdiri lalu menatap ke langit langit dan anehnya langit langit yang semula adalah atap berwarna putih bening itu hilang menampakkan sebuah pemandangan langit biru dengan awan yang datang dan pergi bergantian.

"T-Tempat apa ini…? Dimana para penjaga…? Dimana Mai-oneechan?"

Dia mencoba mengingat lagi ingatan terakhir yang dimiliknya lalu melintas lah sebuah ingatan dimana para penjaga mengatakan bahwa Mai sudah dibawa pergi oleh keluarganya yang ternyata adalah bangsawan Earl Meletes.

"Ah… iya itu yang terjadi…"

"Mai-oneechan juga meninggalkanku..."

Setelah mengatakan itu dengan wajah tertunduk sedih, perlahan air matanya menetes. Ia teringat kembali fakta kalau orang tuanya bahkan tidak menginginkan dirinya. Oleh karena itu mereka membuangnya begitu saja lalu saat dia terpuruk dan kembali semangat setelah diselamatkan oleh Mai… dirinya lagi lagi ditinggalkan.

Kepercayaannya pada orang orang sekarang sudah benar benar hancur. Untuk anak seusianya, dia menyadari satu hal yaitu tak ada gunanya membangun sebuah hubungan dekat atau relasi yang dalam dengan orang lain jika akhirnya mereka juga akan membuangmu.

"Kau baik baik saja, nak?"

"Ha…?" tiba tiba Naruto mendengar sebuah suara, secara refleks dia langsung melihat ke depan. Dan sumber suara itu berasal dari seorang pria tua yang muncul seketika di hadapannya entah sejak kapan.

"Woahhh! K-Kakek siapa?"

Kakek itu benar benar aneh di mata Naruto, mungkin tidak hanya bagi Naruto tapi untuk semua orang jika mereka bisa melihat Kakek ini. Kakek tua ini tidak menapakkan kakinya di permukaan tapi seolah dia terbang dalam posisi duduk bersila sambil mengelus jenggotnya. Dia juga membawa sebuah tongkat dan sebuah buku using yang memiliki semacam tulisan bahasa tak dikenal.

"Bagaimana kabarmu, Naruto?"

"Kakek siapa? Dan dimana ini?" tanya Naruto tidak mempedulikan apa yang ditanyakan oleh kakek tersebut.

"Tenanglah, Naruto…"

Dengan perkataan kakek tersebut, akhirnya Naruto kecil mengambil sikap untuk kembali tenang.

"Kita sekarang… hmm… ada di suatu tempat di dalam ruang pikiranmu. Katakan lah saja seperti itu," jawab kakek tersebut.

"Di dalam… suatu tempat di pikiran ku? Maksud kakek aku sedang berkhayal?"

"Hohoho… Tidak… bukan itu maksud kakek,"

"Lalu siapa kakek sebenarnya?" tanya Naruto kembali pada pertanyaannya di awal.

Kakek itu hanya tersenyum lalu menapakkan kakinya di permukaan lantai ruangan itu. Meski heran, Naruto tidak berniat menanyakan bagaimana cara kakek itu terbang karena hal itu bukanlah satu satunya hal aneh yang ia alami sekarang. Terjebak di ruangan ini juga merupakan salah satu hal aneh menurutnya dan itu lebih penting untuk ditanyakan.

"Kakek adalah… katakan saja… semacam Pengawas Dunia,"

"Pengawas Dunia? Apa kakek semacam Dewa?" tanya Naruto.

"Ya… kau bisa menyebutnya seperti itu, Naruto. Tapi di satu sisi kakek juga memiliki peran untuk mengawasi calon penerus baru para penyandang gelar [Monarch] di dunia,"

"Wah hebat! Aku bertemu dengan Dewa! Monak? Apa itu Monak?"

Kata kata itu begitu asing di telinga si kecil Naruto. Dia mencoba mengerti apa yang dimaksud sang kakek tapi dia tetap tidak mengerti. Dari mana asal kata [Monarch] ini? Kenapa dia tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya? Apa itu semacam gelar bangsawan ataukah itu adalah nama seorang bangsawan? Dia masih tidak paham hanya dengan mendengarnya sekali.

"Yang benar adalah [Monarch]… untuk saat ini kau tidak usah tau dulu apa itu [Monarch], Naruto. Seiring berjalannya waktu kau akan mengerti apa itu [Monarch] dan juga alasanmu dilahirkan ke dunia ini,"

Ketika mendengar hal itu, Naruto kecil terkejut. Kakek ini barusan mengatakan kalau dirinya akan mengerti alasannya lahir di dunia ini. Dia sangat ingin tahu jawaban itu… setelah semuanya, dia dibuang keluarga nya dan ditinggalkan orang yang dipercayainya. Dia kehilangan tujuan dan tidak tahu apa alasannya harus dilahirkan ke dunia ini.

"K-Kakek Dewa tau alasanku dilahirkan ke dunia ini? Apa kakek Dewa juga tau kalau aku dibuang oleh keluarga ku? Tunggu! Jika kakek adalah Dewa, kenapa kakek beri aku takdir seperti ini!? Kenapa kakek buat kedua orang tuaku membuangku!?"

Itu dia, Naruto kecil menanyakan hal semacam itu kepada kakek di hadapannya yang ia kira adalah Dewa. Dia nampak berniat protes kepada kakek ini.

"…Semua itu ada alasannya, Naruto meski aku sebenarnya tidak berbuat apa apa. Semua itu terjadi secara alami sesuai dengan takdir… Aku disini hanya seorang pengawas bukan penentu takdir seseorang. Tapi ingatlah semua ini ada alasannya Naruto… Semua ini ada untuk membentuk jalan kehidupanmu sesuai takdir yang telah ada,"

Naruto tidak mengerti apa maksudnya tapi dia paham kakek ini sama sekali tidak bersalah atas segala hal yang menimpa dirinya.

"Tapi sayangnya sekarang kau sudah ada di batas antara kehidupan dan kematian,"

"Eh? A-Apa aku akan mati?"

Naruto tiba tiba panik mendengar kata kematian meski nampaknya dia tidak begitu sedih atau mempedulikannya. Jujur ini akan lebih mudah jika dia mati sekarang, itulah yang dipikirkan anak berusia delapan tahun yang sudah menerima berbagai macam ujian kehidupan ini.

"Tenanglah, kakek disini untuk menyelamatkan jiwamu. Ragamu sudah kakek pulihkan dari semua luka… dan sekarang giliran jiwamu untuk kembali ke tubuhmu sebelum menyebrang ke alam kematian,"

"Kakek akan menyelamatkanku?"

Kakek itu tersenyum sambil mengelus kepala Naruto dengan lembut. "Tentu saja… karena peranmu besar,"

"Peranku?"

"Hmm.. Ingatlah Naruto, semua yang terjadi padamu memiliki suatu alasan. Kau boleh mendendam pada mereka, kau boleh membalas mereka… tapi jangan kau benci dirimu sendiri. Jalani hidup seperti yang kau inginkan dan tetaplah jadi dirimu sendiri…"

Mendengar kata kata itu, kedua mata Naruto terbuka lebar dan berkaca kaca, tubuhnya bergetar dan perlahan air mata perlahan mengalir. Tak lama kemudian sebuah cahaya mengelilingi dirinya yang sibuk memandang kakek di depannya yang sedang tersenyum kepadanya… Cahaya itu semakin terang, membuatnya kesulitan melihat kakek itu hingga akhirnya membutakan pandangannya…

.

.

.

.

.

xxx0xxx

Sebuah suara yang berasal dari pecikan api unggun terdengar di salah satu sudut sebuah hutan yang letaknya sekitar 7-10 km dari utara kota [Rirua], kota tempat Naruto dan Mai hidup sebagai budak meski sekarang keadaan kota tersebut sudah hancur lebur karena amukan dari Naruto. Hutan kecil ini disebut dengan hutan [Wildoria] yang terkenal dengan segala macam hewan buas, beberapa spesies binatang iblis, sumber makanannya seperti buah buahan dan berbagai macam jamur yang bisa dimakan. Di dalam hutan ini juga terdapat sebuah sungai serta air terjun jernih yang indah namun sulit dijangkau.

Dengan luas sekitar 3600 hektar, hutan ini sering dikunjungi para pemburu meski kebanyakan pemburu tidak akan berani masuk lebih dalam karena semakin mereka masuk ke dalam, yang akan mereka temui adalah berbagai spesies binatang iblis yang tak bisa dilawan oleh manusia biasa. Tentu saja orang yang menyalakan api unggun di tempat ini dan membangun sebuah pondok di sini bukanlah orang biasa.

Dia adalah Euclid Lucifuge yang berasal keluarga bangsawan Marquess Lucifuge. Seorang ksatria sihir yang menggunakan teknik berpedang dengan sihir sebagai gaya bertarungnya. Dia adalah pewaris sah nama Marquess Lucifuge. Setelah kedua orang tuanya meninggal dibunuh oleh Earl Namikaze saat ini, Minato yang juga merupakan mantan kakak iparnya… dia semakin berambisi untuk mengambil nama tersebut.

Tujuannya adalah untuk membalaskan kematian kedua orang tuanya atau dengan kata lain membunuh pemimpin Earl Namikaze saat ini. Tapi bagaimana sekarang? Dirinya sedang duduk di atas batang kayu dan tak jauh darinya… ada seorang anak berusia delapan tahun dengan penampilan rambut pirang, pakaian yang lusuh dan robek robek kini tertidur berbalut selimut.

Anak itu adalah Naruto, putra dari kakaknya sekaligus keponakannya. Dia masih terkejut ketika menemukan bahwa pelaku pembantaian kota [Rirua] itu adalah Naruto dalam wujud yang mengerikan. Dalam ingatannya, anak ini sudah mati tiga tahun lalu. Kakaknya yang mengatakan kepadanya bahwa Naruto tewas dibunuh oleh Minato. Pada saat itu, dia tidak bisa menahan emosinya yang meledak… dia bahkan hampir melakukan tindakan bodoh dengan berniat menyerang wilayah Earl Namikaze saat itu juga untuk membalas kematian kedua orang tua dan keponakannya.

Tapi yang membuatnya lebih terkejut saat ini adalah kenyataan bahwa Naruto yang seharusnya sudah mati di tangannya, bisa selamat dengan luka yang sembuh sepenuhnya. Dia tidak bisa mempercayai apa yang disaksikannya. Seolah Naruto diselamatkan oleh Dewa, dia memutuskan untuk menyembunyikan identitas Naruto dan menyelamatkannya. Dia mengatakan kepada para ksatria bala bantuan yang datang dari wilayah utama dari bangsawan pemilik kota tersebut bahwa kota itu telah dibantai oleh binatang iblis.

Sekali lagi, dia merasakan bahwa anak ini untuk suatu alasan dipilih oleh takdir, dipilih oleh Dewa dengan kekuatannya. Oleh karena itu, anak ini selamat dari kematian dengan cara yang tidak masuk akal. Terlebih, Euclis saat ini menemukan tujuan barunya selama kurang lebih tiga tahun ke depan.

Dia berniat merawat, membesarkan dan mengajari Naruto segala hal yang dia butuhkan untuk hidup di dunia ini. Mungkin ini adalah caranya untuk menebus kesalahannya karena tidak bisa menolong Naruto di masa lalu dan membiarkannya hidup sebagai budak.

"Uhh…"

Sebuah suara terdengar dari mulut Naruto, membuat Euclid menoleh cepat ke arahnya. Naruto terbangun dengan keadaan bingung. Dia tidak ingat apa yang terjadi mengenai pertemuannya di alam bawah sadarnya dengan kakek itu tapi dia mengingat jelas kata kata kakek itu seolah kata kata itu sudah terukir di dalam benaknya.

Hal pertama yang dia lihat ketika ia terbangun adalah gelapnya langit di malam hari. Kemudian dia tatapannya beralih ke sumber yang menghangatkan tubuhnya. Disana dia melihat api unggun dan tak jauh dari situ dia menemukan seorang pria berpakaian putih dengan dilengkapi jubah bangsawan kini tengah menatapnya.

"Kau sudah sadar? Ini… minumlah dulu kemudian makanlah," kata Euclid menyodorkan minuman dan sebuah ikan bakar.

Naruto menerimanya begitu saja dan meminum air yang diberikan kepadanya tanpa peduli siapa orang ini.

"P-Paman… siapa?" tanya Naruto setelah pandangannya fokus.

Euclid cukup terkejut mendengarnya. Mungkinkah Naruto tidak mengingatnya? Itulah yang dipikirkan Euclid pertama kali saat Naruto menanyakan siapa dirinya. Jika itu benar, maka wajar saja karena Naruto terakhir kali bertemu dengan Euclid adalah saat umurnya baru 4 tahun lalu dia harus berpisah dari kedua orang tuanya saat usianya 5 tahun.

"Nama paman adalah Eucliff…"

Dia merubah namanya sedikit dari Euclid jadi Eucliff, menurutnya ini adalah tindakan yang tepat dengan menyembunyikan identitasnya.

"Ah, hmm… jadi kenapa kita ada disini? Dan ada urusan apa paman denganku?" tanya Naruto begitu ia sadar bahwa dirinya tidak berada di kota tapi berada dalam sebuah hutan.

"Kau tidak ingat?"

"Ehmm… tidak,"

Bahkan Naruto tidak mengingat kalau dirinya menghancurkan kota itu dan Euclid hampir membunuhnya. Euclid berpikir kalau hal ini adalah hal yang bagus dan dapat digunakan sebagai alasan olehnya.

"Kau baru saja kuselamatkan dari serangan binatang iblis di kota,"

"B-Binatang iblis menyerang kota?" Naruto tersedak ketika mendengarnya. Dia segera mengambil minum dan meneguknya.

"Ya… Dan kondisi kota sekarang benar benar kacau,"

"Mai-oneechan!" seketika dia menyebut nama itu namun dirinya sekali lagi teringat bahwa Mai tidak ada di kota itu. Dia lega tapi kesedihannya juga tiba tiba datang. Mungkinkah jika mendengar kejadian ini, Mai akan cemas dan mengkhawatirkannya?

"Hmm, siapa itu? Apa itu nama temanmu?"

"T-Tidak, bukan siapa siapa…"

Naruto kembali termenung dan melupakan makanannya, raut wajah kesedihan terukir disana sedangkan Euclid hanya bisa memperhatikan. Kemudian Euclid teringat kembali dengan tujuannya merawat Naruto…

"Siapa namamu?"

"Aku? Etto… namaku Naruto, paman…"

Euclid kemudian bangkit dan menatap Naruto yang masih duduk memperhatikan dirinya.

"Baiklah… mulai sekarang hingga tiga tahun ke depan, aku akan merawatmu, membesarkanmu dan mengajarimu segala hal yang dibutuhkan dalam hidup ini, Naruto. Kau bisa memanggilku paman Eucliff mulai hari ini," kata Eucliff dengan nada datar tapi terdengar begitu memaksa di telinga Naruto.

"Eh…? Paman akan mengajariku?"

Dan sejak inilah Naruto semakin dekat dengan Eucliff dan menganggapnya seperti guru, paman sekaligus teman yang bisa dia ajak berbagi cerita mengenai kehidupannya meski sebenarnya Euclid mengetahui itu semua. Dari sini, Naruto yang kini berusia 8 tahun akan tumbuh menjadi ksatria hebat, cerdas dan memiliki ambisi besar untuk masa depannya baik itu untuk membalas perbuatan keluarganya di masa lalu atau untuk kehormatannya di masa depan.

Ini adalah masa masa bersejarah Naruto saat usia 8 tahun pada tahun X608, Kalender Kerajaan Lamia

.

.

.

.

.

xxx0xxx

Masih pada tahun yang sama, X608 Kalender Kerajaan Lamia

Satu minggu setelah insiden pembantaian massal dikota [Rirua], sebuah rombongan bangsawan terlihat di jalan utama menuju kota tersebut. Dari bendera yang terdapat pada kereta kuda bangsawan itu terukir lambang dari bangsawan Earl Meletes. Dari kaca yang terdapat di pintu kereta kuda bangsawan itu nampak seorang gadis berusia 9-10 tahun dengan wajah yang cantik melihat keluar.

Rombongan itu melewati pos pemeriksaan kota kemudian masuk ke dalam. Para warga sekitar yang selamat masih sibuk dengan pengevakuasian dan mengurusi segala hal yang berurusan dengan bantuan logistik seperti makanan dan kebutuhan lainnya tapi tiba tiba langkah mereka semua terhenti begitu gadis yang ada di kereta kuda itu keluar disusul oleh kedua ksatria nya.

"Mai-sama, tunggu kami!"

Gadis cantik dengan penampilan elegan, indah layaknya bangsawan itu ternyata adalah Mai, gadis yang selalu menemani Naruto selama tiga tahun terakhir. Dia berlari dan nafasnya tak beraturan saking tergesa gesanya. Tempat yang ingin dia tuju sekarang adalah bangunan tempat dimana orang orang mendapatkan informasi mengenai korban insiden pembantaian massal tersebut.

"Permisi… Hah~... hah~… hah~… Bisakah… aku melihat daftar orang yang selamat dan hilang dari insiden seminggu lalu?"

Tanya Mai kepada orang yang melayani dalam masalah informasi mengenai orang yang selamat, hilang atau daftar korban yang mati. Kebanyakan orang yang hilang sebenarnya adalah korban yang belum teridentifikasi jasadnya. Dia melihat Mai saat Mai menanyakan daftar orang yang hilang dan selamat… sejatinya orang ini berharap kalau Mai akan menemukan orang yang dicarinya pada daftar orang selamat tapi dia akan merasa kasihan pada Mai kalau gadis ini menemukan nama orang yang dicarinya pada daftar orang hilang.

"Ini nona…"

"Terima kasih,"

Lalu dengan teliti Mai melihat satu satu semua daftar nama orang yang selamat dan hilang. Kertas dokumen yang diberikan kepada Mai ada cukup banyak dan dia berniat melihat semua satu persatu.

"Bukankah nona adalah seorang bangsawan?"

"I-Iya…"

"Lalu bukankah nona tinggal meminta orang untuk mengirim salinan dokumen orang yang selamat dan orang yang menghilang ke tempat nona?"

"Sudah… tapi aku tidak menemukan nama temanku di daftar orang yang selamat, oleh karena itu aku langsung datang kemari…"

"Ah seperti itu, kalau begitu silahkan lihat yang ini, nona. Ini adalah data terbaru yang baru kami rilis pagi ini,"

Mai segera menyambarnya dan mencari di bagian daftar budak lalu betapa terkejutnya dia saat menemukan satu budak di bagian daftar orang hilang dengan ciri ciri yang sama persis dengan Naruto tertulis disana.

"T-Tidak mungkin… Ini pasti bukan Naruto…" Mai membacanya dengan ekspresi tidak percaya.

Tak lama kemudian dua pengawalnya muncul dengan nafas sedikit terengah engah.

"Maafkan aku, nona… tapi kemungkinan teman anda…"

"Tidak… Daftar ini pasti salah… pasti kalian membuat kesalahan…"

"Maafkan kami, nona… Jika saja pasukan datang lebih cepat…"

"Tidak! Kalian pasti bohong!"

Mai menangis sekeras kerasnya menyadari bahwa Naruto yang dicarinya telah menghilang dan di indikasikan oleh orang orang ini kalau Naruto sudah mati.

"Kalian bohong!"

"Kendalikan dirimu, Mai-sama…"

"Mai-sama!"

Para pengawalnya mencoba menenangkan Mai tapi situasi disana justru semakin memburuk hingga Mai menimbulkan keributan yang bahkan terdengar ke penjuru ruangan. Pada akhirnya karena tidak dapat menerima kenyataan itu, Mai yang menempuh perjalanan ini dengan sehari dan belum sempat beristirahat langsung jatuh tak berdaya dalam keadaan pingsan.

"Mai-sama!"

"Kita segera bawa Mai-sama ke ruang istirahat!"

"Sebelah sini!" kata salah seorang pasukan bala bantuan yang bertugas melayani di bidang tersebut.

Dan begitulah cerita saat Mai mengetahui Naruto menghilang dengan kondisi jasad yang juga tidak ditemukan. Orang orang yang bertugas di bala bantuan semua beranggapan mungkin tubuh Naruto hancur berkeping keping dihabisi binatang iblis sehingga tubuhnya tidak bisa ditemukan.

.

.

.

.

.

xxx0xxx

Pada saat yang sama di dalam hutan [Wildoria], Euclid dan Naruto sedang berada di samping halaman rumah pondok yang didirikan Euclid sejak lama meski baru kali ini dia gunakan lagi untuk tinggal dan membesarkan Naruto. Alasannya dulu membangun rumah pondok ini karena ya memang untuk tempatnya tinggal. Beberapa tahun lalu saat umur Naruto masih satu hingga dua tahun, Euclid berada di hutan ini selama kurang lebih satu tahun untuk berlatih bertahan hidup.

Dia tak menyangka kalau dia akan menyentuh rumah pondok ini lagi untuk tiga tahun ke depan. Dia mulai mengajari Naruto membaca, menulis sejak dua hari yang lalu dan betapa terkejutnya Euclid karena kemampuan mempelajari dan memahami Naruto begitu menakutkan. Sebelumnya di kediaman Lucifuge, Naruto memang sempat mendapatkan pelajaran mengenai membaca dan menulis tapi itu hanya tiga hari terakhir sebelum muncul insiden Minato membunuh orang tua Grayfia dan Euclid.

Dan sekarang Naruto sudah bisa membaca dan menulis meski belum begitu baik namun dia benar benar tekun. Tak hanya itu dia juga mendapat ilmu matematika untuk kehidupannya ke depannya dan itu juga pun dia mempelajarinya dengan baik. Tapi untuk hari ini, Euclid akan mengganti dulu menu pengajarannya karena hari ini menurutnya cocok untuk Naruto mengerti yang namanya bertarung dan bermain pedang.

Sejujurnya dia sangat senang karena bisa mengajari Naruto bertarung apalagi dia tahu bakat Naruto dengan pedang itu sangat besar. Dia tiba tiba teringat monster hitam, wujud lain yang ada dalam tubuh Naruto. Dia tak pernah menanyakan hal itu ataupun membahas nya meski dia penasaran. Hasilnya juga percuma karena Naruto tidak mengingatnya.

"Hari ini aku akan mengajarimu bertarung dengan tangan kosong dan juga bertarung dengan senjata… khususnya pedang,"

"Apa tidak masalah anak seumuranku menggunakan pedang?"

Ya dia memang benar, oleh karena itu Euclid membuatkan semacam pedang kayu untuk Naruto berlatih hingga setidaknya dua tahun ke depan, sisa setahun itu Euclid rencanakan akan ia gunakan untuk melatih Naruto dengan pedang asli.

"Ini tangkap!"

"A-Apa ini?"

Naruto menangkap pedang kayu yang diberikan kepadanya lalu menatapnya dengan kagum. Dia tidak menyangka akan mendapatkan pedang kayu sebagus ini.

"Kau membuatnya dengan baik, paman! Terima kasih!"

"Hmm… Sekarang mari kita mulai latihannya,"

Euclid berjalan menuju ke bagian dalam hutan sedangkan Naruto hanya memperhatikan kemudian memutuskan untuk menyusulnya.

"K-Kau mau kemana, paman Eucliff?" tanya Naruto.

"Sudah ikuti saja aku…"

"B-Baik…"

Naruto tidak menanyakan lagi kemana mereka akan pergi, dia hanya mengikuti Euclid dari samping dan menyamakan langkah agar tidak terpisah. Makin lama, keduanya berjalan masuk semakin dalam. Bahkan Naruto mulai khawatir karena dia mulai merasakan sesuatu yang berbahaya mendekat. Hal itu bukan sekedar perasaannya saja tapi memang benar adanya keberadaan yang bisa membahayakan mereka.

"Paman… Aku merasakan keberadaan yang berbahaya di sekitar kita,"

'Bagus sekali… dia memang berbakat, bahkan tanpa diasah pun dia sudah bisa menyadari keberadaan yang berbahaya untuknya dan bisa mengukur sejauh mana tingkat bahaya itu,' batin Euclid sambil menunjukkan senyum saat melihat ke arah Naruto yang cemas.

Naruto bahkan bisa memprediksi dari mana asalnya bahaya akan datang. Seolah intuisi nya mengatakan itu kepadanya. Ini merupakan anugerah yang diberikan kepadanya, insting nya dalam bertahan hidup memberinya tingkat kewaspadaan dan kepekaan akan bahaya yang datang kepadanya.

"Bisakah kau prediksi juga darimana asal keberadaan itu?"

Naruto tampak sedikit berpikir ketika Euclid menanyakannya.

"Dari sana paman…" jawab Naruto meski ia sempat ragu ragu.

Euclid kembali tersenyum.

WUUSSSHH

Dari sana muncul seekor babi hutan yang bentuknya berbeda dari babi hutan biasanya. Ukurannya lebih besar dan terdapat aura aura gelap di sekitarnya.

"Itu bukan babi hutan biasa!" bahkan di situasi berbahaya seperti ini Naruto tidak membeku karena takut atau panik dan masih bisa merespon ketakutannya itu dengan sebuah tindakan berupa berlindung di belakang Euclid.

'Dia benar benar memiliki ketenangan dan bisa membaca situasi dengan baik… harus kuakui meski aku membencinya… bakat bertarung laki laki pirang brengsek itu menurun pada Naruto,' pikir Euclid dalam situasi seperti itu.

Euclid mengeluarkan pedangnya lalu memposisikan kuda kudanya.

"Lihat ini, Naruto! Lihat dan pelajari dengan kemampuan pemahamanmu itu!"

[Moon Slash]

Gerakan seperti menghunus pedang lalu terfokus memberikan tebasan satu arah dari atas ke bawah dan langsung membuat sayatan tajam pada tubuh babi hutan itu.

Dalam satu kali tebasan, Euclid menghabisi babi hutan itu. Tubuh babi hutan itu tersayat luka yang sangat dalam hingga membuatnya mati seketika. Hal itu benar benar membuat Naruto kagum dan bahkan dia hanya bisa membentuk huruf O pada mulutnya ketika melihat mayat babi hutan itu.

"Mengagumkan…"

"Babi hutan ini bukanlah babi hutan biasa… Ini adalah binatang iblis dan kita tidak bisa memakan dagingnya,"

"Eh? Jadi kita tidak bisa makan daging binatang iblis?"

"Bukan tidak bisa… tapi tidak semua binatang iblis bisa kita makan. Ada yang bisa dimakan dan bermanfaat untuk pertumbuhan kekuatan sihir kita,"

"Paman juga bisa menggunakan sihir!?" tanya Naruto dengan semangat.

"Tentu saja… Kau mau kuajari?"

"…Hmm… aku mau, entah kenapa aku jadi teringat dengan Ibuku. Dia itu adalah salah satu penyihir terkenal di Kerajaan ini, paman,"

Ketika mendengar hal itu, ekspresi Euclid berubah, pikirannya kacau dan dia kebingungan harus menanggapi apa. Dia yakin dalam lubuk hati Naruto, anak ini ingin membalas perbuatan yang dilakukan kedua orang tuanya kepada dirinya serta menunjukkan kehormatannya tapi bisa bisanya dia masih bisa menyanjung Ibunya yang sudah membuangnya seperti ini. Jujur bahkan Euclid tidak bisa menebak apa yang dipikirkan dan dirasakan oleh bocah berusia delapan tahun ini.

Anak ini terlalu sulit untuk dipahami.

"Apa kau sudah lihat teknik yang kugunakan tadi…?"

"Aku sudah lihat paman,"

"Kalau begitu coba praktekkan… Aku akan menerjangmu dengan tangan kosong tanpa menghindar,"

"Kau serius, paman?" tanya Naruto dengan ekspresi datar.

"Tentu saja…"

"Oke… Jangan salahkan aku kalau kau terluka, paman…"

Euclid mengambil jarak dari Naruto sedangkan Naruto bersiap dengan pedang kayunya. Lalu setelah aba aba diberikan oleh Euclid, Euclid melangkah cepat lalu melakukan gerakan seolah akan menerjang dan menghantam Naruto dengan tubuhnya.

'Aku ingin lihat seberapa jauh kemampuan pemahamanmu, Naruto…'

Naruto hanya menatap Euclid dengan sorot mata tajam dan menggenggam pedang katana kayu nya. Dia seolah menunggu momen yang tepat untuk memulai gerakannya dan Euclid menyadari hal itu, kuda kuda yang digunakan Euclid bahkan mampu ditirukan sama persis oleh Naruto. Hal itu tentu saja mengguncang Euclid dengan keterkejutan.

'Apa ini!? Kenapa aku merasakan adanya bahaya!?' batin Euclid dengan mata terbuka lebar saat melihat Naruto akan menyerangnya.

SLASSHH

Alhasil Euclid dengan instingnya menghindari tebasan pedang kayu Naruto dan melompat mundur ke belakang hingga 3 meter jauhnya. Ekspresinya menunjukkan keterkejutan, dia seolah olah habis melihat semacam musuh yang akan membawanya pada kematian.

"Eh…? Kenapa paman menghindar?" tanya Naruto dengan wajah datar dan kesal.

'Yang barusan itu… Aku… anak ini… dia…' gumam Euclid dalam hati masih dengan ekspresi yang sama.

"Paman… Paman Eucliff… Eucliff-san? Kau baik baik saja?" tanya Naruto melambaikan tangannya ke arah Euclid yang masih terdiam membeku.

Euclid kemudian sadar dari lamunannya.

"Maaf, maaf… Hanya saja aku pikir pikir lagi akan sakit jug ajika terkena pedang kayu itu," kata Euclid.

"Sudah kubilang, kan…" balas Naruto dengan ekspresi bosan.

Euclid kemudian sekali lagi tenggelam dalam pikirannya…

'Jika dia diasah dengan baik… bahkan dalam waktu tiga tahun hingga umurnya 11 tahun, dia bisa menjadi ksatria atau pun monster,' pikir Euclid.

Dan itulah latihan bertarung pertama Naruto bersama dengan Euclid. Setelahnya Euclid terus mengajari Naruto berbagai macam gerakan bertarung tangan kosong dan seni pedang untuk bertarung. Semua itu diserap dengan cepat oleh Naruto karena bakat alami yang dia miliki. Begitu juga dengan sihir serta ilmu pengetahuan lainnya. Euclid mengajarkan hampir semua yang dia ketahui mulai dari cara bertarung, ilmu pengetahuan hingga sihir.

Sejujurnya Euclid juga memiliki bakat sihir meski tidak sebesar kakak perempuannya dan jujur ketika dia mengajari Naruto tentang sihir… Naruto juga memiliki bakat dalam hal itu bahkan dia mampu mengkreasikannya melebihi apa yang dibayangkan Euclid. Kadang Euclid berpikir bahwa Naruto benar benar di anugerahi kemampuan untuk memimpin. Dia punya bakat dalam seni bertarung baik dengan tangan kosong atau pedang lalu sihir serta kecerdasan yang mampu menggiringnya ke posisi puncak.

Dia memiliki segala hal yang dibutuhkan untuk menjadi seorang bangsawan… tidak… dia bahkan memiliki kriteria untuk menjadi seorang Raja.

.

.

.

.

.

xxx0xxx

Hari ini sudah tepat setengah tahun setelah Euclid memutuskan untuk hidup bersama Naruto dan merawatnya. Naruto sudah bisa membaca, menulis, menghitung dengan baik serta memahami segala hal yang diberikan Euclid mengenai ilmu pengetahuan. Naruto bahkan kerap membaca buku buku baik yang ada pada rak buku Euclid di ruangannya ataupun buku yang diberikan Euclid ketika dia membelinya di kota. Euclid sekarang sedang membelah beberapa batang kayu dan dia belum melihat Naruto seharian.

"Huft… Dimana anak itu?"

Biasanya Naruto akan menunggu dengan membaca buku hingga Euclid akhirnya selesai dengan pekerjaannya entah itu pekerjaan fisik ataupun pekerjaan yang berhubungan dengan kertas kertas dokumen di ruangannya tapi hari ini dia menghilang. Euclid tidak berusaha mencarinya karena dia tahu Naruto yang sekarang setidaknya mampu melindungi diri sendiri atau kabur jika ada binatang atau binatang iblis.

Tak lama kemudian dia mendengar suara yang berasal dari hutan.

"Paman Eucliff! Aku menemukan bayi binatang iblis…"

"Hmm?"

Itu adalah suara Naruto, dia datang sambil membawa seekor bayi binatang iblis berbentuk rubah merah dengan api yang terdapat di ekornya. Euclid yang melihat binatang iblis itu langsung meletakkan kapaknya dan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

"Darimana kau dapatkan itu?"

"Aku melihat dua binatang iblis… berbentuk serigala putih dan rubah merah yang kelihatannya adalah induk bayi rubah merah ini, tengah bertarung. Nampaknya induk bayi rubah ini melindunginya… kedua binatang iblis itu tewas pada pertarungan sedangkan aku hanya melihat dari balik semak semak,"

Euclid memahami situasinya dan dia tahu betul anak ini, dia tidak akan berbohong kepadanya.

"Kau beruntung… jika kau membesarkannya, rubah itu bisa membantumu dalam pertarungan sebagai partner dan jadi temanmu seumur hidup,"

"Benarkah?"

"Hmm, begitulah…"

Naruto nampak begitu antusias dengan ucapan Euclid barusan. Dia sudah tak berpikir dua kali untuk memelihara rubah merah ini. Saat ini yang dia pikirkan adalah nama yang cocok untuk rubah merah ini. Lalu entah kenapa sebuah nama terlintas di benaknya…

"Kurama! Mulai hari ini namanya adalah Kurama! Bagaimana, paman?"

"Hmm… kurasa itu adalah nama yang bagus untuknya…" jawab Euclid sambil mengangguk beberapa kali.

Dan inilah saat pertama kalinya, Naruto mendapatkan partner binatang iblis yang akan menemani nya seumur hidup… berjuang bersamanya di masa depan… dan tidak pernah meninggalkan nya.

.

.

.

.

.

xxx0xxx

Tahun x611, Kalender Kerajaan Lamia

Sudah tiga tahun berlalu sejak Euclid dan Naruto bersama. Naruto mempelajari segala hal yang diberikan oleh Euclid dan Euclid juga sudah membagikan segala hal yang dibutuhkan Naruto untuk masa depannya. Dia bahkan mengajarkan prinsip prinsip hidupnya yang akan diingat selalu oleh Naruto. Waktu kebersamaannya dengan Euclid juga merupakan saat saat paling membahagiakan dalam kehidupan Naruto.

Setiap harinya dia dengan Kurama yang tumbuh semakin besar, berlatih keras dan belajar atas arahan Euclid. Dalam tiga tahun ini ukuran Kurama bahkan sudah sebesar ukuran seekor harimau betina biasa. Hal itu adalah hal yang wajar mengingat Kurama adalah seekor binatang iblis jadi Naruto juga tidak terkejut dengan pertumbuhan Kurama.

Lalu hari ini adalah hari dimana Naruto dan Kurama harus berpisah dengan Euclid…

"Apa kau serius akan pergi…?"

"Ya… Ini sudah tiga tahun dan sudah tak ada lagi yang bisa kuajarkan padamu. Kau terlalu cepat paham,"

"T-Tidak… Masih banyak yang belum kupahami, paman Eucliff!" jawab Naruto dengan ekspresi serius diikuti sebuah suara Kurama yang nampaknya sedih.

Ketika mendengar itu, Euclid teringat masa tiga tahun yang dilalui nya bersama Naruto dan Kurama. Tiga tahun ini juga merupakan masa masa indah dalam hidup Euclid karena dia bisa membesarkan keponakannya dan membayar hutangnya kepada anak ini meski anak ini tidak mengenal siapa dirinya. Dia juga sangat senang karena keponakannya ini benar benar memiliki kemampuan pemahaman dan penguasaan yang mengerikan.

Ia bahkan bisa mengatakan bahwa Naruto adalah salah satu jenius yang hanya muncul sepuluh tahun sekali. Bayangkan saja pelajaran berupa ilmu pengetahuan yang seharusnya dipelajari anak anak bangsawan sejak usia 8 tahun hingga 15 tahun mampu dikuasai oleh Naruto dalam waktu 3 tahun saja. Dia bagaikan berlian yang nilainya masih akan terus naik.

Sejujurnya Euclid tidak mau meninggalkan Naruto tapi kondisi nya mengharuskannya kembali ke kediaman Lucifuge secepatnya. Dia sudah tidak khawatir dengan Naruto yang kini berusia 11 tahun karena dengan kemampuannya bersama Kurama sekarang, dia mampu mengatasi semua binatang iblis di hutan ini.

"Kalau begitu… Tidak ada lagi yang ingin kukatakan… dan jangan lupa janji yang kita buat, Naruto…" kata Euclid kepada Naruto.

"Iya… aku janji, paman.."

Janji yang mereka buat adalah Naruto tidak diperbolehkan berpetualang keluar sana sebelum usianya 15 tahun. Dia masih diperbolehkan pergi ke kota [Rirua] untuk membeli kebutuhan sehari harinya, menjual kulit binatang yang ia bunuh di hutan atau menjual hasil sumber daya hutan yang memiliki nilai jual untuk memenuhi kebutuhannya.

"Ah, aku hampir lupa… Sebelum aku pergi, aku ingin memberikanmu kalung ini,"

Euclid kemudian mengeluarkan sebuah kalung aksesoris dengan semacam rangkaian sihir yang tertanam di dalamnya. Bentuk kalung aksesoris itu sendiri cukup biasa tapi disana terdapat sebuah lambang yang tidak dikenali oleh Naruto.

"Hmm…? Terima kasih, paman.."

"Ya… Jaga baik baik kalung itu. Jika kau dalam keadaan yang benar benar terdesak dan butuh bantuan… tunjukkan lah kalung itu pada petugas Kerajaan,"

"A-Ah…"

Naruto memang pernah menduga tapi dari sini dia sudah bisa mengindikasikan bahwa Euclid merupakan orang yang penting dalam bagian Kerajaan.

"Kalau begitu… aku pergi dulu," ucap Euclid dengan berat hati.

"A-Ah… Hati hati…"

Euclid membalikkan tubuhnya kemudian berjalan pergi meninggalkan Naruto dan Kurama di pondok rumah itu. Terlihat disana kedua mata Naruto berkaca kaca ketika melihat kepergian Euclid sedangkan kedua telinga Kurama tampak turun ke bawah menandakan binatang iblis itu juga sedih.

"Selamat tinggal, paman… ukh…" kata Naruto sambil mengusap air matanya.

Hari hari terus berlanjut untuk empat tahun, Naruto dan Kurama tumbuh semakin kuat. Naruto semakin mempelajari banyak hal yang tidak diajarkan Euclid kepadanya. Dia mempelajari mengenai masalah mengatur perekonomian dalam suatu wilayah, strategi pemasaran, strategi perang dan bahkan langkah langkah yang harus dilakukannya untuk membangun pondasi sebagai seorang ksatria dan bangsawan di masa depan. Tujuannya sudah jelas… dia akan membalas perbuatan keluarganya…

Dia tidak akan membalasnya dengan membunuh atau apapun itu. Dia sadar bahwa mereka juga masih keluarganya. Niat dan ambisi nya sekarang adalah untuk membuktikan kehormatannya dan menjadi seorang bangsawan dengan status yang melampaui kedua orang tuanya. Lalu dengan kemampuannya, dia berniat mengincar posisi tertinggi Kerajaan ini.

Itu artinya kudeta atas keluarga Kerajaan…

Naruto tak hanya tumbuh sebagai pribadi yang cerdas, kuat, tampan tapi juga menjadi sebuah entitas yang bisa melakukan suatu hal yang licik dan kejam bersamaan demi mencapai ambisinya. Itulah yang diajarkan Euclid kepadanya…

Terima kasih kepada Euclid karena atas didikannya, Naruto mengubah keputus asaannya menjadi kekuatannya…

.

.

.

.

.

xxx0xxx

Tahun x615 Kalender Kerajaan Lamia

Hari ini adalah hari yang cerah untuk melangkah keluar dan memulai hari. Dan hari ini tentu saja akan dimanfaatkan oleh pemuda berusia 15 tahun ini untuk membuka lembar baru dalam kehidupannya. Di sebuah pondok di tengah hutan, pemuda itu bersama dengan partner nya seekor binatang iblis yang ia beri nama Kurama sudah menyiapkan segalanya untuk memulai jurnal takdir mereka hari ini.

"Saatnya kita pergi, Kurama…"

TBC

.

.

.

Tes tes… Shiba desu. Wuhhh, melelahkan tapi jujur aku puas! Aku merasa fic inilah yang benar benar akan mengalahkan fic ku yang lain, Symbol of Revenge. Aku cukup lelah karena dalam kurun waktu 6 hari ini aku sudah update 5 kali di 4 fic berbeda termasuk fic ini.

Yah pertama aku akan memberi keterangan usia untuk tiap karakter yang muncul sampai chapter ini hingga tahun X615

Keterangan usia tokoh Tahun X615, Kalender Kerajaan Lamia:

Naruto : 15 Tahun

Mai : 16 Tahun

Euclid : 33 Tahun

Minato : 35 Tahun

Grayfia : 35 Tahun

Sirzech Gremory : 35 Tahun

Theo Cornaro : 24 Tahun

Siluca Meletes : 23 Tahun

Earl Villar Artuk : 34 Tahun

Marquess Alexis Jalucia : 27 Tahun

Duke Marinne Kreische : 27 Tahun

Siapa lagi yak? Sepertinya sudah… Yak kujamin chapter selanjutnya akan lebih… sudahlah, yang jelas fic ini aku yakin mampu mengalahkan fic ku yang lain.

Aku ingin tau tanggapan dari kalian, karena aku lumayan puas dengan chapter ini… terlepas dari kepuasanku aku ingin tau sejujurnya dari kalian. Mohon review nya… untuk flame, gak gua urusin…

Ah dan satu lagi, hari minggu kemarin aku sudah update Fate of My Adolescence kemudian senin nya aku publish chapter pertama dari fic ini, hari rabu aku update Lord of Apocalypse dan hari kamis kemarin aku update Symbol of Revenge. Aku ingin update lagi mungkin hari minggu, enaknya yang mana yang harus ku update? Atau harus ku update Warrior From The Heaven? Ya aku tunggu vote kalian

Oke, see you in next chapter