MONARCH OF DESPAIR
Rate: M
Disclaimer: Naruto [Masashi Kishimoto], Highschool DxD [Ichie Ishibumi], Grancrest Senki [Ryo Mizuno], Musaigaen no Phantom World [Soichiro Hatano], Tensei Shittara Slime Datta Ken [Fuse], Overlord
Ditulis tanpa mengharapkan keuntungan materil sedikit pun
Genre: Fantasy, Hurt/Comfort, Action, Adventure, Family, Romance
Warning: Typo, gaje mungkin, masih jauh dari kata sempurna, OOC
Pairing: ?
Summary: Lahir karena pernikahan politik tanpa dilandasi cinta yang berujung sebuah perpisahan dan penghapusan keberadaannya… anak dari keluarga Earl Namikaze dan keluarga Marquess Lucifuge ini tak hanya dihapus keberadaannya tapi juga dibuang dan ditelantarkan oleh kedua orang tuanya. Namanya adalah Naruto, seorang bocah berusia 5 tahun yang nantinya akan tumbuh sebagai budak sekaligus orang yang terpilih untuk mewarisi gelar Monarch of Despair.
Jangan lupa review, favorite follow!
.
.
.
.
.
Chapter 5 : Memenuhi Panggilan
11 November X615, Kalender Kerajaan Lamia
"Bersulang!"
Suasana berbeda kini telah hadir di kota [Mandra] setelah hampir lebih dari sebulan lamanya malam para penduduk kota diliputi dengan rasa takut dan cemas. Malam ini dibuka dengan benturan dua gelas berisi bir antara para petualang dan prajurit pasukan [Artuk] yang diwakili oleh Gazelle Stronoff. Mereka sekarang sedang mengadakan pesta keberhasilan karena berhasil membunuh paus iblis yang sudah menghantui kota [Mandra] selama sebulan terakhir.
Jalanan kota sekarang dipenuhi dengan pesta dan pusatnya ada di alun alun kota dimana bahkan pemimpin kota atau walikota [Mandra] yang seorang kakek kakek bertubuh kecil bahkan turut turun ke jalan untuk bersosialisasi dengan warganya dan berniat mengucapkan terima kasih kepada para petualang dan prajurit kesatuan [Artuk].
"Wahahahahaha!"
"Kita berhasil mengalahkan paus iblis itu!"
"Bahkan Gazelle-dono tidak bisa membunuh paus itu dengan serangannya! Kulitnya benar benar keras!"
"Cara bocah itu mengalahkan paus iblis itu benar benar mengagumkan!"
"Sebesar itu kah?"
Dan itu adalah suara percakapan para penduduk yang ingin tahu jalannya pertarungan para petualang dan prajurit pasukan [Artuk] dalam menghabisi paus iblis itu dalam waktu kurang dari tiga menit. Penduduk kota sulit mempercayai apa yang dikatakan oleh para petualang mengenai Naruto atau yang lebih mereka kenal dengan nama Toruna. Para petualang dan prajurit [Artuk] menceritakan bahwa Naruto mampu membunuh paus tersebut setelah memberikan serangan tusukan pada bekas tebasan yang ditinggalkan Gazelle Stronoff di tubuh paus tersebut.
Hanya dengan satu serangan yang efektif dan waktu yang singkat. Mereka benar benar memuji cara Naruto mulai dari bagaimana dia memanggil paus tersebut, menyiapkan pertahanan dan perangkap hingga cara nya mengeksekusi paus tersebut. Perbedaannya benar benar jauh saat Naruto tidak ada pada misi sebelumnya. Tentu saja cerita cerita para petualang dan prajurit memancing rasa penasaran para penduduk tentang Naruto.
"Aku daritadi tidak melihat Toruna, dimana dia?" tanya Gazelle kepada anak buahnya yang sedang pesta minum dengan para petualang yang ada.
"Maaf, Komandan Gazelle… kami juga belum melihat Toruna-san sejak tadi,"
"Hah~… Dimana anak itu? Dia pahlawan malam ini, kenapa dia tidak hadir sekarang?" tanya petualang berkepala botak yang sebelumnya sempat meremehkan Naruto di guild.
"Rossweisse-san dan Haruhiko juga tidak ada? Apa mereka pergi tanpa pamit?" tanya resepsionis guild.
Berdiri di samping resespsionis guild, ada seorang kakek kakek sederhana yang berdiri dengan bantuan sebuah tongkat. Dia adalah walikota [Mandra] saat ini, tadinya dia berniat menyapa Gazelle Stronoff dan Naruto namun Naruto tidak ada disana.
"Jadi pemuda yang bernama Toruna ini sudah pergi?" tanya walikota [Mandra].
"Hmm… Kurasa dia tidak akan pergi dari kota ini sebelum keinginannya terpenuhi," jawab Gazelle.
"Eh!? Keinginan? Jadi Toruna-san memiliki tujuan dari misi penaklukkan paus iblis ini?" tanya salah seorang prajurit kesatuan [Artuk].
"Hmm… Apa dia menginginkan uang dari misi ini?" tanya walikota [Mandra].
"Kurasa bukan," jawab Gazelle Stronoff.
Naruto atau Toruna bukanlah orang yang seperti itu, itulah yang dipikirkan Gazelle. Naruto tidak melakukan ini semua hanya karena uang saja melainkan juga kehormatan dan kekuasaan. Seperti yang Naruto katakan kepada Gazelle sebelumnya bahwa dia tidak menginginkan uang saja. Gazelle paham itu, dia juga tahu kalau sebenarnya yang diincar oleh Naruto adalah sebuah posisi untuk naik sebagai ksatria bangsawan.
Apa yang membedakan ksatria bangsawan atau Knight dengan prajurit biasa? Knight ini sudah berada pada kategori jabatan bangsawan yang bisa diteruskan ke Baron sedangkan ksatria pasukan biasa yang berasal dari orang orang yang mendaftarkan diri butuh usaha keras lagi untuk naik pangkat hingga menjadi Sersan, Letnan, Kapten, Komandan dan seterusnya hingga dirasa jasa jasanya sudah cukup untuk diangkat sebagai bangsawan.
Dengan cara mendapatkan prestasi seperti ini, Naruto tentu menyelamatkan kota [Mandra], mendapatkan kehormatan sebagai pahlawan disana, mendapatkan kepercayaan masyarakat disana dan memiliki pengaruh dalam pengambilan keputusan di kota tersebut, apalagi kota [Mandra] merupakan salah satu kota yang menjadi pusat ekonomi wilayah besar [Artuk].
Jelas sekali para bangsawan tidak akan mengalihkan mata mereka dari kejadian ini. Pasti mereka akan mencari nama orang yang berhasil mengalahkan paus iblis yang memiliki level [High Class] yang memiliki kesempatan naik ke level [Ultimate Class] dalam belasan hingga puluhan tahun lagi. Saat paus iblis itu sudah mencapai level tersebut bahkan 7 petualang kelas [Adamantite] akan kesulitan untuk menanganinya.
"Toruna bukanlah pemuda yang terlalu mementingkan uang… dia lebih mementingkan prospek masa depannya melalui kesempatan yang ia buat dari kesempatan ini," ujar Gazelle.
"Hohoho… Benar benar pemuda yang menjanjikan, dia melihat ke depan ya? Apakah itu artinya dia sekarang sedang bertemu dengan Villar-sama?" tanya kakek walikota.
Para petualang yang mendengar pertanyaan walikota tentu sedikit kaget. Pertanyaan barusan menimbulkan tanda tanya baru di kepala mereka.
"W-Walikota… tidak mungkin kan Toruna-san bisa menemui Villar-sama semudah itu?" tanya resepsionis guild.
"Kenapa? Villar-sama kan sudah ada di kota [Mandra] sejak siang tadi," jawab walikota mengejutkan para petualang dan prajurit kesatuan [Artuk].
Terlihat disana para prajurit kesatuan mencoba untuk memberi sinyal kepada walikota agar tidak memberitahu para petualang dan Gazelle Stronoff, meski bisa dilihat sekarang bahwa Gazelle sama sekali tidak terkejut mendengar kalau Villar Constance sudah tiba di kota [Mandra]. Dia juga tahu alasan kenapa Villar tidak muncul sejak tadi karena Villar ingin melihat aksinya.
"Tidak perlu disembunyikan… aku juga sudah menduganya. Kakek Walikota pasti sadar kalau aku sudah menduganya," jawab Gazelle tersenyum tipis kepada kakek walikota.
Kenyataan bahwa semua masalah ini diselesaikan oleh Naruto dan bukan oleh Gazelle pasti juga membuat rasa ketertarikan Villar muncul. Apalagi saat itu Villar juga dari jauh memperhatikan bagaimana Naruto menyelesaikan misi ini tanpa masalah dan Gazelle juga menyadari itu. Villar mengawasi misi tersebut dari jauh dan ketika dia memikirkan itu kembali, dia hanya bisa menyunggingkan senyuman.
'Hmm… Villar-sama terlalu tinggi memandang kemampuanku, aku tidaklah sehebat itu,' batin Gazelle yang kemudian meneguk bir di gelasnya.
Tak lama kemudian salah seorang prajurit kesatuan [Artuk] datang menghadap Gazelle dan walikota [Mandra]. Dia datang dari arah pantai yang artinya dia ingin menyampaikan kondisi terkini di pantai [Mandra]. Jika prajurit ini datang, itu artinya ada suatu kejadian penting yang harus dilaporkan baik kepada Gazelle atau pun walikota.
"Lapor! Komandan Gazelle! Saat ini Toruna-san, Haruhiko-san dan Rossweisse-san sedang melakukan sesuatu kepada bangkai paus iblis tersebut!"
Laporan prajurit tersebut menegaskan dimana keberadaan Naruto, Haruhiko dan Rossweisse sekarang. Gazelle tampak sedikit terkejut meski dia tak heran.
"Ah, ya… Toruna sudah meminta izin untuk memberikan bangkai paus iblis itu kepadanya tapi tak kusangka akan secepat ini dia mengotak atik bangkai tersebut,"
.
.
.
.
.
xxx0xxx
Anggapan Gazelle dan walikota mungkin sedikit terlalu cepat untuk terjadi. Kenyataannya sekarang Naruto, Haruhiko dan Rossweisse ada di pantai [Mandra], alasan mereka ada disana sekarang adalah batang paus iblis tersebut. Tanpa memberi penjelasan kepada Haruhiko dan Rossweisse, Naruto memerintahkan keduanya untuk menyiapkan mantra mantra dasar di sekitar tubuh bangkai paus iblis yang sudah para prajurit dan petualang tarik ke pantai sore tadi.
"Toruna-san… Sebenarnya untuk apa semua ini?" tanya Haruhiko keheranan dengan Naruto.
"Aku berniat menyimpan bangkai iblis ini…"
"Etto…? Menyimpan…? Dimana anda akan menyimpan bangkai sebesar ini, Toruna-sama?" tanya Rossweisse kebingungan.
Naruto mengedipkan matanya beberapa kali saat mendengar Rossweisse menanyakan hal itu. Dia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Rossweisse. "Untuk apa kau bertanya, Rossweisse?"
"Untuk apa?"
"Tentu saja bangkai ini akan ku simpan di sihir ruang penyimpananku,"
"Tapi menyimpannya disana bukannya akan menganggu sirkulasi sihir di tubuhmu dan membebaninya, Toruna-sama? Binatang iblis ini level [High Class] lho…"
Hal yang dikatakan oleh Rossweisse barusan memang benar, dengan kekuatan seekor binatang iblis selevel [High Class] meski hanya sebuah bangkai, hal itu mampu mengganggu sedikit sirkulasi sihir dalam tubuh seorang penyihir dan membebaninya. Akan tetapi semua itu bisa diatasi dengan bantuan kekuatan fisik yang kuat dan energy sihir yang terkendali dengan baik. Mengendalikan pengeluaran kekuatan sihir dalam tubuh bukanlah hal mudah. Penyihir level 1 hingga 3 kebanyakan masih tidak memiliki pengendalian yang baik bahkan untuk penyihir sekelas Rossweisse yang diakui level 6 pun tidak boleh sembrono.
"Kau tidak usah mengkhawatirkan ku… Aku ini berbeda dengan penyihir penyihir biasa. Kupikir kau terlalu meremehkanku bahkan setelah kau melihat sihir tipe suara dengan frekuensi rendah semacam itu," balas Naruto yang kembali fokus dengan rangkaian sihir di hadapannya.
"Uhh… Kau ini benar benar diluar perkiraanku ya… Ini melelahkan, kau tau...?" ucap Haruhiko mengeluhkan tugasnya.
Haruhiko saat ini sedang merangkai mantra mantra dasar dan menyusun urutannya dengan baik. Sejujurnya hal itu juga merupakan tugas Rossweisse namun siapa sangka Haruhiko ternyata juga memiliki sedikit pengetahuan mengenai sihir. Naruto awalnya terkejut juga mengetahuinya, ternyata pengikut barunya memiliki kemampuan yang melebihi perkiraannya.
"Tapi aku benar benar masih tak menyangka kalau ternyata kau bisa menggunakan sedikit sihir ya, Haruhiko?"
"Ya… tapi tentu saja tidak sehebat Toruna dan Rossweisse-san," jawab Haruhiko pasrah.
"Hmm… Bukankah harusnya kau memanggilku dengan Toruna-sama sekarang?"
"Aku mengikutimu bukan berarti harus memanggilmu seperti itu kan?" kata Haruhiko dengan wajah malas.
"Hahaha… terserah saja lah… yang penting kau patuhi setiap perintah dan kerjakan tugas yang kuberikan padamu!"
"Baik…" jawabnya pasrah.
Nampaknya mereka bertiga sudah cukup akrab untuk melanjutkan perjalanan bersama. Sejauh ini semua masih berjalan sesuai rencana Naruto, kecuali dia tak menyangka akan mendapatkan dua pengikut secepat ini. Rasa rasanya dia semakin dekat dengan tujuannya, apalagi dua orang pengikut pertamanya ini memiliki kualifikasi yang cukup sebagai tangan kanan seorang bangsawan.
"Tapi Toruna-sama… sebenarnya apa tujuanmu menyimpan bangkai paus iblis ini?" tanya Rossweisse yang penasaran dengan rencana Naruto pada bangkai ini.
"Entahlah… aku belum memutuskan secara pasti akan kugunakan untuk apa, karena bangkai ini juga bisa diubah menjadi aksesoris penyihir dan kekuatan sihir tubuhnya untuk armor ksatria. Ini bisa juga digunakan untuk memperkuat Kurama sekarang, tapi selain itu… bangkai ini masih memiliki banyak kegunaan yang belum kita ketahui kan?"
Haruhiko dan Rossweisse hanya mengangguk paham mendengar jawaban dari Naruto barusan. Setidaknya mereka tahu kalau bangkai yang mereka simpan ini akan berguna di masa depan.
"Setelah ini apa rencanamu? Bisa kau jelaskan kepada kami?" tanya Haruhiko kali ini.
Jika ini sesuai dengan apa yang diperkirakan oleh Naruto, setelah ini dia akan pergi menghadap Villar Constance. Dan saat itulah dia akan menghadapi tantangan baru, karena sebenarnya melawan paus iblis ini hanyalah awal. Ujian yang sesungguhnya akan datang saat dia bertemu dengan Villar Constance. Villar bukanlah bangsawan sembarangan, dia dikenal dengan prestasi cemerlang nya di antara para bangsawan dengan menaklukkan beberapa wilayah Kerajaan lain dan mampu menjaga wilayahnya tetap makmur.
Dari apa yang Naruto lihat selama ini melalui berita yang tersebar, Villar Constance adalah jenis orang yang memiliki kemampuan untuk membaca orang lain. Maksudnya orang ini benar benar sangat sulit untuk dibohongi dan diperdayai, apalagi dia juga pandai melihat sifat asli seseorang serta mengetahui tujuan seseorang dengan kata kata tajam yang mampu mendesak orang tersebut.
"Setelah ini kita akan berhadapan dengan seseorang yang bahkan lebih berbahaya daripada paus iblis ini," kata Naruto sambil menunjukkan sebuah senyuman tipis.
"Heh~!? Kau serius akan berurusan dengan individu yang bahkan lebih berbahaya dari paus iblis ini? Itu artinya dia lebih berbahaya dari Gazelle Stronoff kan?" kata Haruhiko dengan wajah yang sedikit panik.
"Ya, dia lebih berbahaya dari Gazelle Stronoff dari berbagai indikator tertentu… karena dia memiliki kecerdasan, kekuatan dan pengaruh besar di Kerajaan ini,"
Yang diucapkan Naruto barusan mampu menarik perhatian Rossweisse. Ekspresinya sekarang seolah mengatakan bahwa dia sudah mengetahui siapa orang yang dimaksud oleh Naruto.
"Villar… Constance?" tanya Rossweisse.
Nama yang disebutkan oleh wanita berumur 23 tahun itu tepat sekali.
"Ya… pria itulah yang akan menjadi rintangan berat kita selanjutnya…"
.
.
.
.
.
xxx0xxx
Menaklukkan paus iblis bukanlah perkara mudah, bahkan mantan petualang kelas [Adamantite] seperti Gazelle Stronoff saja tidak mampu menembus kulit keras dari paus iblis itu dengan tebasannya, apalagi jika harus bertarung di laut yang merupakan tempat paus itu bersarang. Memikirkannya saja sudah merupakan hal yang dipikir lagi mustahil untuk pemuda seumuran Naruto pada umumnya. Hal itu adalah salah satu faktor yang membuat Villar tertarik dengannya.
Hingga malam ini pun dia dan Margaret belum bergerak sedikit pun dari atas tebing, tempat dimana Villar dan Margaret mengawasi misi penaklukkan tadi. Alasannya sederhana, dia ingin mengamati tindakan yang dilakukan oleh Naruto. Jika Naruto cerdas dan memiliki pandangan ke depan, tentu dia tidak akan mendiamkan bangkai paus iblis itu begitu saja.
"Pemuda ini menarik… tindakan yang dia lakukan kurang lebih menggambarkan seberapa cerdas dirinya, tapi jelas dia lebih baik dariku dalam pertarungan fisik,"
"Hmm… tapi dari apa yang terlihat, pemuda itu tampaknya berniat menyimpan bangkai iblis itu di sihir ruang penyimpanannya,"
Villar memperhatikan kalimat Margaret barusan, dia menengok ke arah gadis bersurai merah, pemilik wajah eksotis itu.
"Lalu kenapa?"
"Pada umumnya bangkai binatang iblis sekelas itu, akan mengganggu sirkulasi sihir pada tubuh pengguna jika tidak memiliki fisik kuat serta pengendalian sihir yang baik,"
"Apa hal itu sulit untuk kau lakukan, Margaret?"
"Seharusnya untuk penyihir level 6 sepertiku itu tidak masalah.. ini bukan masalah kekuatan tapi pengendalian,"
Dari sinilah Villar bisa mengambil kesimpulan kalau Naruto sangat berbakat dalam bidang sihir juga. Dia benar benar seperti berlian, memiliki kemampuan di pertarungan fisik dan sihir, serta mampu membuat keputusan yang baik dalam pertarungan. Akan sangat bagus jika Naruto nantinya mau tunduk di bawah nama Villar dengan sumpah setianya, tapi entah kenapa Villar tidak merasa hal itu merupakan sesuatu yang bagus.
Menurutnya orang seperti Naruto bukanlah orang yang berada di bawah naungan nama seseorang. Kemampuannya terlalu mengancam untuk orang yang menaunginya meski Villar sendiri masih tetap tertarik dengan Naruto, karena bisa diperkirakan bahwa Naruto akan diangkat menjadi bangsawan ksatria di bawah pengawasannya setelah ini.
Tak lama lagi Villar akan menjalani upacara penobatan dirinya menjadi bangsawan Marquess. Mungkin nantinya disana Raja akan mengangkat Naruto juga menjadi bangsawan ksatria setelah berita ini terdengar di telinga nya.
"Kita harus terus awasi dia… Dia jelas bisa menjadi tokoh berpengaruh di masa depan jika dia masih bisa bertahan setidaknya hingga dua tiga tahun lagi,"
"Hmm… jadi maksud Villar-sama, pemuda ini bisa mencapai prestasi yang sama seperti Theo Cornaro saat usianya 17 tahun nanti?"
Villar tersenyum ketika Margaret menyebutkan nama Theo Cornaro, bangsawan yang dulunya orang biasa namun dalam waktu dua tahun bisa meraih posisi Earl di usianya yang ke 17 tahun. Kini usia Theo Cornaro sudah menginjak 24 tahun. Jasa pria itu kepada Kerajaan benar benar besar, bahkan bila ada bangsawan Earl yang pantas menerima gelar Marquess selain Villar, Theo Cornaro dan Minato Namikaze mungkin adalah calon calonnya.
Berbeda dengan Minato dan Villar yang sudah mencapai usia tiga puluhan, Theo Cornaro bahkan belum menginjak usia ke 25 tahun, namun dia sudah dianggap sebagai calon kuat untuk bisa menaikkan status kebangsawanannya menjadi Marquess. Dia tercatat sebagai orang biasa yang menjadi bangsawan dengan kenaikkan status kebangsawanan tercepat sepanjang berdiri nya Kerajaan Lamia. Salah satu faktor utamanya juga karena kharisma dan kepemimpinannya yang baik.
Dia juga memiliki istri yang juga menjadi penyihir setianya. Putri dari keluarga Meletes, Siluca Meletes. Penyihir level 6 berusia 23 tahun dengan bakat yang luar biasa.
"Apa kau juga mengenal penyihir wanita berambut putih yang bersamanya, Margaret?"
Margaret menyipitkan matanya saat pertanyaan itu keluar dari mulut Villar. Entah kenapa sejak awal melihat Rossweisse, Margaret sudah menaruh minat karena dia merasa sudah pernah melihat wajah Rossweisse sebelumnya. Apalagi dengan rambut putih indah yang sedikit mencolok itu, dia harusnya bisa mengingat dengan baik siapa penyihir tersebut.
"Maaf, Villar-sama…"
"Hmm… jadi bahkan kau tidak mengenalnya ya? Ya itu tidak penting tapi dari yang kulihat setidaknya bukankah wanita itu adalah penyihir level 5 atau 6?"
"Saya sependapat, Villar-sama… wanita itu pasti bukanlah penyihir wanita sembarangan. Dia mampu memahami dengan baik rangkaian sihir unik yang dibuat oleh pemuda berambut pirang itu tadi,"
Villar kembali tersenyum, nampaknya mala mini Kerajaan Lamia akan mendapatkan satu lagi pendatang baru yang mungkin mampu menggemparkan seisi istana dengan kemampuan memimpinnya di masa mendatang, itulah yang dipikirkan Villar.
"Setelah ini kita akan pergi! Jangan lupa untuk mengatur pertemuan ku dengannya besok, Margaret!"
"Baik, Villar-sama…"
.
.
.
.
.
xxx0xxx
12 November X615, Kalender Kerajaan Lamia
Matahari terbit menggantikan bulan yang menguasai malam. Hari ini adalah hari yang ditunggu oleh Naruto, dirinya terbangun tepat setelah sinar matahari pagi yang hangat menyapa nya dari balik jendela yang tertutupi tirai putih di kamar penginapan yang ia tempati sekarang. Kamar dengan tempat tidur untuk dua orang itu sekarang dihuni oleh Naruto dan Haruhiko, sedangkan Rossweisse tinggal di kamar lain.
Dengan kesadaran yang belum sepenuhnya kembali, pria berambut pirang ini meregangkan tubuhnya yang sekarang hanya tertutupi sebuah kaus putih. Dia mengedipkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya pandangannya jatuh ke kasur sebelah, tempat dimana Haruhiko masih tertidur pulas. Naruto hanya memberikan tatapan bosan melihat sifat malas pemuda yang sejak kemarin itu menjadi pengikutnya.
"Bocah malas itu…"
Ya, Naruto tidak begitu mempedulikannya, lagipula dia tidak ingin merusak pagi tenang dari para pengikutnya, apalagi setelah mereka melakukan pekerjaan yang sangat baik kemarin dalam penaklukkan paus iblis. Ingatannya kembali pada saat dia menaklukkan paus tersebut, lalu dia teringat kembali langkah langkah yang harus ia tempuh setelah ini. Dia mengambil jaket hitamnya lalu bangkit dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar.
Ketika dia membuka pintu kamarnya, dia cukup terkejut menemukan seorang wanita berusia 23 tahun dengan rambut putih yang ia kenal sudah berdiri di depan pintu kamarnya, lengkap dengan pakaian penyihirnya.
"T-Toruna-sama! S-Selamat pagi…"
"Hmm… pagi, bukankah ini terlalu pagi untuk menyiapkan diri sebaik itu, Rossweisse?"
"Tidak sama sekali, Toruna-sama… Aku sudah bangun dari satu setengah jam yang lalu,"
'Itu benar benar terlalu pagi!' batin Naruto dengan ekspresi wajah datar.
Pada awalnya Naruto mengira Rossweisse adalah tipe wanita yang suka melakukan kecerobohan tak perlu meski di usianya yang sudah menginjak tahun ke 23 nya, namun ternyata wanita ini bisa bangun sepagi ini dan menyiapkan diri sebaik ini, meski untuk Naruto sendiri itu tidak wajar karena wanita di depannya ini perlu waktu satu setengah jam.
"Kenapa kau sudah bersiap sepagi ini? Bahkan kita saja belum sarapan, aku tidak akan meninggalkan penginapan ini sebelum kita sarapan,"
"Sebagai penyihir yang baik dan berkompeten, aku harus selalu siap di keadaan apapun untuk memenuhi harapan Tuanku!"
"Hah~… harapan mana yang sebenarnya kau maksud? Aku tidak pernah memintamu bangun sepagi ini juga, kok…" balas Naruto setelah menghela nafas pasrah
Rossweisse mengedipkan matanya beberapa kali sebelum ekspresi perlahan berubah sedih. Tentu saja Naruto tidak akan setega itu membuat wanita semacam Rossweisse menunjukkan ekspresi sesedih itu di pagi hari. Naruto tersenyum ketika melihat Rossweisse yang mengingatkannya akan seseorang yang ia kenal, terutama dari rambut putih yang dimilikinya.
"Kau sudah memenuhi harapanku sejauh ini, Rossweisse… jadi tenang saja,"
Ucapan Naruto terbukti efektif dan mampu mengubah ekspresi Rossweisse seketika. Kini dia itu menunjukkan sebuah ekspresi wanita polos dengan senyum bahagia dan rona merah tipis di wajahnya. Naruto hanya tertawa garing menanggapi respon yang menurutnya terlalu berlebihan itu. Yang terbesit di pikiran Naruto ketika melihat ekspresi bahagia Rossweisse adalah ternyta wanita di hadapannya ini sangat suka dengan sebuah pujian, bahkan dia bisa berubah seperti anak kecil ketika mendapat pujian semacam itu.
"Rossweisse, apa kau sudah memeriksa ke bawah bagian resepsionis?"
"Belum, Toruna-sama…"
Tujuan Naruto terbangun sepagi ini dan pergi meninggalkan kamarnya adalah untuk menemui resepsionis di bawah dan menanyakan apakah ada surat yang datang kepadanya atau tidak. Dia tidak begitu terkejut karena masih sepagi ini tapi dia akan terkejut seandainya dia benar benar tidak mendapatkan surat pemanggilan nantinya. Naruto kembali mengalihkan pandangannya kepada Rossweisse yang menatapnya dengan ramah diikuti sebuah senyuman manis. Tiba tiba Naruto teringat akan sesuatu yang tak penting tapi mengganggu pikirannya.
"Hmm… lebih pantas kupanggil seorang wanita atau gadis ya?" gumam Naruto pelan.
"B-Barusan anda bicara apa, Toruna-sama?"
"Itu… apa kau sudah pernah melakukan hubungan seksual dengan laki laki, Rossweisse?"
Pertanyaan itu terlalu vulgar untuk di dengar oleh Rossweisse di pagi hari. Bisa juga dikatakan kalau Naruto mungkin terlalu blak blakan karena dia sendiri juga tidak peduli jika itu bawahannya, namun bagi Rossweisse yang sebenarnya masih menjaga kesuciannya, pertanyaan itu mampu membuat pipinya merona merah dengan sempurna.
"A-A-A-Apa… yang T-Toruna-sama bicarakan?"
Melihat respon semacam itu, Naruto hanya menganggukkan kepala beberapa kali karena dia menyadari sesuatu.
"Hum hum… tidak perlu kau jawab, Rossweisse… aku sudah tahu jawabannya hanya dengan melihat responmu,"
"T-Tahu apa!?"
"Kau masih perawan…"
Rossweisse benar benar terlihat malu dan panik mendengarkan setiap ucapan yang keluar dari mulut Naruto. Seperti biasa, laki laki berusia 15 tahun ini tidak akan peduli dengan hal sekecil itu jadi dia memutuskan untuk mengatakannya begitu saja meski dia tahu itu akan membuat harga diri Rossweisse sebagai wanita 23 tahun hancur.
"Tidak tepat bila kukatakan kau adalah wanita. Gadis adalah pemilihan kata yang tepat,"
"G-Gadis?"
Kata gadis baginya itu konotasinya terlalu muda untuk perempuan seumurannya meski dia tidak keberatan sama sekali jika Naruto menggunakan kata tersebut, tapi yang menjadi masalah adalah kalimat berikutnya yang dikatakan Naruto.
"Yah… Tuanmu ini masih berumur 15 tahun jadi mungkin gairah masa mudaku sedang di puncak puncaknya dan ternyata kau juga belum berpengalaman atau bahkan mungkin kau belum pernah memiliki pacar jika kau tidak pernah melakukan itu. Yah yang terpenting bukan itu… yang terpenting kalau saat itu tiba, ketika aku ingin melakukannya… aku mohon bantuannya, Rossweisse.."
Kalimat tersebut memiliki arti tersembunyi yang hanya dipahami oleh orang orang yang sudah atau sedang mengalami masa pubertas. Kalimat itu juga mampu membuat Rossweisse merona merah dengan sempurna! Setelah mengucapkan hal itu pun, dengan tidak bertanggung jawab, Naruto berjalan meninggalkan Rossweisse sambil tersenyum tipis seolah dirinya tidak peduli dengan respon yang ditunjukkan penyihir dengan selisih usia 8 tahun dengannya.
"M-M-M-Melakukannya!? D-Dengan Toruna-sama!?"
Dia mengucapkan kalimat tersebut tepat setelah Naruto pergi sambil memegang pipinya denga kedua tangannya. Tak lupa juga dia membayangkan kalimat yang diucapkannya sendiri. Seketika kepulan asap muncul di kepalanya menandakan pikirannya sekarang dipenuhi dengan fantasi liar dirinya dan Naruto di ranjang yang sama. Apa yang mereka lakukan? Bayangkan lah sendiri dan berharaplah kalau nantinya akan terealisasikan.
Saat ini, laki laki tak bertanggung jawab yang sudah membuat seorang gadis berusia 24 tahun itu di mabuk fantasi liar itu berada di lantai pertama penginapan. Tak ada resepsionis disana dan dirinya sekarang bingung harus apa. Dia melirik ke arah tempat surat surat yang datang dikumpulkan menjadi satu dan berjalan kesana.
"Kurasa tidak masalah jika aku hanya mencari suratku,"
Naruto melihat beberapa surat serta nama nama pengirim dan penerimanya namun dia masih tidak menemukan nama nya di antara surat surat tersebut. Apakah surat itu belum dikirimkan atau jangan jangan Villar Constance memang tidak berniat bertemu dengannya sejak awal? Jika itu benar, Naruto harus menyusun lagi tindakan yang akan dia ambil. Jujur sebenarnya dengan menaklukkan paus iblis itu, ini akan jadi umpan yang sempurna untuk membuat Villar bertemu dengannya.
Villar mungkin sudah mengetahui apa yang diinginkan Naruto dari menaklukkan paus iblis tersebut tapi menolak keinginan atau rencana Naruto itu juga bukan suatu hal yang menguntungkan. Umpan yang diberikan Naruto seharusnya diambil oleh Villar demi keuntungannya juga. Tak hanya Villar yang kemungkinan memperhatikan insiden penaklukkan paus iblis, meski kejadian ini ada di wilayah [Artuk].
"Toruna-san… apa yang sedang anda cari?"
"Ah, nona resepsionis… aku sedang mencari surat, apa tidak ada surat yang ditujukan kepadaku?" tanya Naruto ketika menyadari keberadaan nona resepsionis.
"Uhmm… Ah, aku ingat ada sebuah surat yang baru saja tiba tadi,"
Wanita itu kemudian berjalan ke mejanya dan mengambil sesuatu dari dalam laci mejanya. Itu adalah sebuah surat khusus yang memiliki cap dari bangsawan dengan sebuah lambang keluarga Constance yang terukir disana. Naruto memperhatikan betul surat tersebut dan sudah menebak kalau surat itu pasti untuk dirinya.
"Surat ini ditujukkan untukmu, Toruna-san… Ini adalah surat khusus yang dikirim oleh Earl [Artuk], Villar-sama…"
"Terima kasih,"
Naruto menerima surat tersebut lalu memandanginya selama beberapa saat sambil tersenyum puas.
"Kau telah berjuang keras, Toruna-san… Tidak heran jika bahkan Villar-sama mengirimkan surat panggilan untukmu,"
Pujian itu sebenarnya tidak membuat Naruto senang atau apapun, semua sudah berada dalam jalur rencana yang ia buat. Oleh karena itu dia tidak boleh terlalu senang hanya karena satu langkah rencana nya terbukti sukses. Dia melihat ke arah tangga menuju lantai kedua ketika teringat bahwa dua pelayannya masih ada di kamar mereka. Dia sebenarnya tidak ingin menyibukkan kedua pelayan atau bawahannya dengan pikiran di pagi hari.
"Apakah walikota dan Gazelle-san tau surat ini dikirimkan kepadaku?"
"Kurasa mereka tahu…"
"Ah, maafkan aku… pertanyaan bodoh,"
Sudah pasti walikota dan Gazelle menyadari nya bahkan jika mereka tidak mengetahui kalau surat ini sudah dikirimkan kepadanya. Naruto selalu berpikiran ke depan, ada kemungkinan jika dirinya menjadi bangsawan kelak, bisa saja sebagian wilayah [Artuk] ini lah yang akan diberikan kepadanya, apalagi mengingat [Mandra] sudah ia selamatkan. Tidak menutup kemungkinan juga dia akan mendapat sebuah wilayah kosong yang memang belum memiliki Tuan Wilayah.
"Baiklah, aku akan kembali ke kamarku lagi, nona…"
Setelah menyapa wanita tersebut, Naruto bergegas menuju ke kamarnya dan menemukan Haruhiko yang baru saja bangun sedang diceramahi oleh Rossweisse di depan pintu kamar mereka.
"Kalian…? Sedang apa kalian disini?"
"T-Toruna-sama?"
"Cepatlah… setelah ini kita akan pergi ke rumah walikota,"
"R-Rumah walikota?"
"Ya…"
.
.
.
.
.
xxx0xxx
Pagi berganti siang, setelah bersiap siap dan merasa bahwa sudah cukup bagi mereka dengan pakaian yang mereka kenakan sekarang, mereka bertiga bergegas meninggalkan penginapan dengan barang barang milik mereka menuju ke rumah walikota untuk melakukan pertemuan khusus dengan seseorang yang sudah ia, Gazelle dan walikota duga keberadaannya sejak kemarin. Tentu saja dia adalah Earl dari [Artuk], Villar Constance.
Villar sendiri juga sudah menebak kalau Gazelle dan walikota akan menduga kalau dirinya sudah berada disini sejak kemarin namun tak mau menunjukkan diri. Tentu saja Gazelle dan walikota juga tahu alasannya. Di dalam rumah walikota sekarang hanya terdapat orang orang penting yang memiliki urusan dan pengaruh penting di kota [Mandra]. Selain Villar sendiri, disana juga ada eksistensi lain yang tak kalah penting seperti walikota, Gazelle Stronoff, Margaret Odius, ketua guild cabang kota [Mandra] dan bahkan utusan khusus dari [Guild Alliance].
Villar kini tengah duduk sambil meminum teh hangat, sedangkan utusan dari Guild Alliance yang merupakan seorang wanita… baru saja tiba dan sekarang sedang sibuk memperhatikan Villar. Ya… tentu saja tatapan wanita yang berasal dari [Guild Alliance] ini membuat Margaret Odius kesal. Dia memberikan sebuah tatapan tajam kepada wanita dari [Guild Alliance] itu.
"Bagaimana kabar anda, Villar-sama?"
"Aku baik… terima kasih sudah bertanya, Raynare-san. Bagaimana kabar Jenderal Azazel dan Ketua Baraqiel? Apa mereka sehat?"
"Baik Jenderal Azazel maupun Ketua [Guild Alliance] Baraqiel-sama benar benar sehat,"
"Apa guild departemen pengembangan sihir [Grigori] berjalan dengan baik?"
"Bisa saya katakan bahwa kondisi [Grigori] sekarang cukup baik, pengembangan untuk alat alat sihir juga semakin baik,"
Pengembangan alat alat sihir kah? Villar sebenarnya sudah tahu sejauh mana perkembangan guild yang menangani masalah pengembangan sarana sihir Kerajaan Lamia, [Grigori]. Dia tak memiliki tujuan tersembunyi dari pertanyaannya barusan, hanya saja jika melihat perkembangan alat sihir yang diciptakan oleh [Grigori] rasa rasanya mereka masih kalah dengan Naruto yang bisa membuat dua kapal bermuatan belasan orang mampu mengeluarkan berbagai rangkaian sihir sekaligus.
Bahkan hebatnya lagi dia mampu membuat rangkaian sihir miliknya bisa diaktifkan oleh orang lain meski setiap orang memiliki perbedaan karakteristik aliran sihir mendalam. Tapi di tangan pemuda pirang itu, semuanya dibuat menjadi sesuatu yang tak mustahil.
"Aku ingin menunjukkan pemuda ini kepada Jenderal Azazel yang benar benar gemar mengembangkan alat dan sarana sihir di jaman ini,"
"Saya ragu Azazel-sama akan bisa dibuat terpukau semudah itu, Villar-sama…" jawab Raynare tersenyum.
Perkataannya barusan benar benar mengatakan kalau dirinya meremehkan pemuda yang dimaksud oleh Villar. Villar, Gazelle dan Margaret sekarang hanya menunjukkan sebuah senyuman. Mereka kelihatannya tidak sabar melihat ekspresi Raynare yang akan dibuat terkejut dengan inovasi inovasi baru yang diciptakan oleh Naruto.
"Yah, kita lihat saja nanti…"
Pembicaraan itu berlangsung cukup cepat karena pihak yang mereka tunggu tampaknya juga sudah datang. Sebuah suara ketukan datang, pintu dari rumah walikota yang bisa dikatakan cukup megah dan besar itu terbuka, menunjukkan seorang prajurit pengawal yang membawa serta Naruto, Haruhiko dan Rossweisse.
"Lapor, Komandan Gazelle! Toruna-san, Haruhiko-san dan Rossweisse-san sudah datang memenuhi panggilan,"
"Tinggalkan mereka bertiga dan kembali ke tempatmu…"
"Baik…"
Disana Naruto, Haruhiko dan Rossweisse sama sekali tidak terkejut dengan kehadiran Gazelle Stronoff disana. Tentunya mereka sudah menduga keberadaan orang hebat ini disini. Akan aneh juga bila dia tidak diundang kesini untuk bertemu dengan Villar Constance. Lirikan mata Naruto kemudian jatuh pada tubuh berbagai jenis hiasan ikan yang dipajang di sepanjang ruangan awal ketika dirinya masuk ke rumah walikota. Rumah ini megah dan besar namun tampaknya rumah ini sudah berusia cukup lama. Perlu diketahui bahwa walikota [Mandra] bukanlah bangsawan tapi seseorang yang memang turun temurun dianggap sebagai keluarga pemimpin kota [Mandra].
"Akhirnya kau datang juga, Toruna…" kata Gazelle tersenyum tipis kepada Naruto.
"Ah… Apa aku telat?"
"Hmm… Tidak sama sekali, hanya saja kami tidak bisa sabar menunggu kedatanganmu dan rekan rekan barumu ini,"
"Begitukah? Tapi kalian terlalu tinggi memandangku," kata Naruto mencoba rendah hati.
Sebenarnya mengatakan hal itu bukan berarti dia rendah hati, itu hanyalah kesombongan dengan cara yang halus menurutnya. Mereka berjalan mengikuti Gazelle menuju ke ruang pertemuan.
.
.
.
.
.
xxx0xxx
NARUTO POV
Kami bertiga mengikuti kemana Gazelle pergi, hingga akhirnya kami sampai di sebuah ruang tamu besar dengan segala macam hiasan di dinding. Orang orang yang kulihat pertama kali adalah walikota lalu putra nya yang kuterka seumuran dengan ayahku. Aku tak mengetahui siapa namanya tapi dia memiliki sikap yang pantas untuk menjadi walikota selanjutnya. Selanjutnya ada seorang wanita bersurai hitam yang kutebak adalah utusan dari [Guild Alliance]. Sudah jelas pihak mereka harus hadir dalam pertemuan ini karena kegagalan misi sebelumnya menyebabkan korban jiwa.
Lalu setelahnya aku melihat ketua guild kota [Mandra] yang juga tak kuketahui namanya. Sebelumnya bahkan orang ini tidak hadir di guild ketika misi penaklukkan sedang berjalan. Sisanya aku bisa menebak… dua orang itu adalah Villar Constance dan penyihir setia nya, Margaret Odius.
"Saya memberi hormat kepada Earl [Artuk], Villar-sama…"
Aku memberikan hormat kepada Villar Constance, tentu saja Haruhiko dan Rossweisse juga memberikan hormat yang sama kepadanya.
"Jadi kau yang bernama Toruna ya? Usia 15 tahun dengan prestasi besar semacam ini… tak hanya itu, kau bahkan bisa memimpin tim penaklukkan dan menyelesaikan misi tanpa adanya korban berarti,"
Dia memberikan pujiannya untukku meski kurasa bukan itu tujuan aslinya. Sejujurnya aku merasa bahwa dia curiga dengan keberadaanku atau siapa diriku sebenarnya. Sampai sekarang aku sudah memikirkan adanya kemungkinan yang muncul di tengah tengah proses berjalannya rencanaku dan hal ini adalah salah satunya. Dia pasti penasaran dengan asal usul ku yang tidak jelas, bisa saja dia mencurigaiku sebagai mata mata dari Kerajaan lain.
"Benar, nama saya adalah Toruna, Villar-sama…
Villar tersenyum kepadaku, aku bisa melihat juga tatapan tidak senang dari wanita utusan [Guild Alliance] serta tatapan waspada dari penyihir Villar, Margaret Odius. Mereka melihatku seperti sedang melihat penipu atau penjahat yang licik. Apakah ini insting seorang wanita? Bisakah mereka melihat lebih dan membuktikannya? Hahahaha… entahlah, tapi Rossweisse kujamin tidak akan bisa memperkirakan tujuanku meski aku adalah Tuan nya sekarang.
"Kau… bukankah kau si penyihir [White Blood] Rossweisse?"
"Dan anda adalah Margaret Odius [Phoenix Princess]?"
Mereka ternyata saling mengenal, aku tidak begitu terkejut namun yang mengejutkanku justru identitas asli Rossweisse yang memiliki julukan [White Blood]. Nama itu begitu dikenal di kalangan penyihir Kerajaan Lamia, konon ada seorang wanita cantik berambut putih indah yang menghabisi setiap lawannya di medan pertempuran hingga bercak darah dari lawannya membekas di rambut indah sang penyihir. Tak kusangka orang itu adalah Rossweisse.
"Kenapa kau ada disini?" tanya Margaret Odius curiga.
"Sejak kemarin, aku telah memberikan sumpah setiaku kepada satu satunya Tuanku, Toruna-sama…"
Margaret melirik ke arah ku, kurasa dirinya semakin heran bagaimana bisa penyihir sekelas Rossweisse di usia nya yang sudah menginjak 23 tahun atau seumuran dengan Siluca Meletes ini, bisa menjadi penyihir yang memberikan sumpah setianya kepada orang seperti ku yang bahkan belum memiliki status kebangsawanan atau setidaknya itu yang mereka pikirkan.
"Apa yang kau pikirkan dengan memberikan sumpah setiamu kepada orang yang bahkan belum memiliki status kebangsawanannya sendiri, [White Blood]?"
"Maaf sebelumnya, Margaret-san… tapi apa hak anda bicara seperti itu. Kuyakin bahkan Tuan yang kulayani lebih layak dari siapapun termasuk Villar-sama!"
"Lancang sekali kau!"
Mereka merubah sikap dan membuat lingkaran sihir untuk menyerang satu sama lain. Aku segera menghentikan gerakan Rossweisse agar tidak berbuat lebih jauh.
"Hentikan itu, Margaret…"
"Baik, Villar-sama…"
"Kau juga mundur, Rossweisse…"
Keduanya mundur begitu aku dan Villar memberikan perintah kepada penyihir kami masing masing.
"Maaf atas kata kata kasar dari penyihirku,"
"Tidak masalah, Villar-sama… Saya mengerti bahwa orang seperti saya masih belum berkompeten,"
Villar tersenyum sedangkan Rossweisse nampaknya ingin menentang kalimatku, tentunya aku sudah menghentikannya dengan sebuah aba aba tangan. Aku datang kesini bukan untuk membuat keributan dengan orang ini, aku masih belum memiliki kekuatan untuk menentang dia dan kekuasaannya. Aku datang kesini hanya untuk memenuhi panggilannya, tapi jika pembicaraan semacam ini yang dia maksud, aku akan benar benar kecewa.
"Toruna… pencapaianmu dalam menaklukkan paus iblis akan membuat namamu dikenal di Kerajaan terutama wilayah [Artuk],"
Tentu saja, hasil itu sudah pasti. Apalagi jika menilai dari seberapa besar kontribusiku, lalu dari Gazelle Stronoff yang terkenal bahkan tak mampu menembus kulit paus tersebut, apa yang sudah kulakukan berefek pada seisi kota. Bisa dikatakan kalau aku telah menyelamatkan seisi kota yang merupakan salah satu jantung perekonomian wilayah [Artuk].
"Bayangkan saja… seorang pemuda yang tiba tiba muncul kemarin dan sekarang sudah menjadi bintang terkenal di [Artuk] karena satu kali misi. Namamu bahkan sebelumnya tidak pernah terdengar,"
Dia benar benar menaruh kecurigaannya kepadaku.
"Villar-sama, akan berbohong jika saya mengatakan kalau saya tidak memiliki tujuan… tentu saja dengan apa yang sudah kuselesaikan, hal itu menjadi jalan pintas untuk masuk ke gerbang kebangsawanan,"
Villar tersenyum mendengarnya, aku mengatakan hal itu jujur meski aku tak menjelaskan lebih jauh detailnya.
"Kau cukup jujur… mataku bahkan kesulitan menentukan dirimu ini ada di golongan orang semacam apa… aku tidak bisa menilai,"
Aku tidak bisa sepenuhnya lepas dari kecurigaannya, orang ini benar benar sangat waspada dan mempertimbangkan kemungkinan yang ada. Bahkan bila aku diangkat menjadi bangsawan ksatria oleh Raja di bawah naungannya, dia tidak akan pernah lengah sedikit pun… aku yakin itu.
"Apa saya harus menceritakan asal usulku untuk sedikit meyakinkan anda, Villar-sama?"
"Hmm… Entahlah,"
Gazelle Stronoff dan walikota nampaknya ada di pihakku sekarang, aku bisa melihat mereka sedikit berbisik kepada Villar untuk meyakinkan bahwa diriku bisa dipercaya. Masih saja… ekspresi dari pria itu tidak berubah, senyuman tipis dengan tatapan tenang dan santai tapi begitu menusuk saat aku melihatnya. Dia benar benar lawan yang sulit dikalahkan.
"Apa yang anda lihat dari saya, Villar-sama?"
"Yang aku lihat? Aku melihat pribadi yang memiliki kemampuan memimpin yang hebat, kekuatan tempur yang memadai dengan posisinya, pengambilan keputusan, pandangan masa depan yang bagus tapi aku juga melihat kelicikan disana… serta sedikit kegelapan…"
Dia bisa melihatku sejauh itu, tidak kusangka. Manusia seperti dirinya lah yang benar benar harus di waspadai jika menjadi lawan, tapi rencana ku tidak boleh gagal disini hanya karena aku tidak bisa membuatnya percaya kepadaku. Sejauh ini, dia pasti juga sudah melihat apa saja yang bisa kuperbuat termasuk saat aku membuat 2 kapal yang kami gunakan untuk menaklukkan paus iblis menjadi sebuah sarana prasarana pengunaan sihir secara praktis.
"Kau memang pahlawan [Mandra] tapi aku tahu ada tujuan lain di balik tindakanmu. Mungkin saja kau sudah merencanakan ini dan kami sedang menari di atas telapak tanganmu,"
Orang ini benar benar mengejutkanku. Gazelle dan walikota bahkan mampu dibuat diam, tak bisa berkomentar ketika mendengarnya. Dugaan semacam itu terlalu sembrono untuk seseorang yang sudah menyelamatkan kota. Sejauh apa dia memperhatikan ku dan menilaiku dalam waktu sehari yang singkat itu?
"Fufufu… maaf, maaf… tidak mungkin aku memojokkan pahlawan kota seperti itu. Aku hanya bercanda,"
"A-Ah, begitu ternyata…" kata Gazelle.
"Tidak kusangka Villar-sama memiliki selera humor seperti ini.. hohoho…" tambah walikota.
Tiba tiba dia merubah sikapnya, dia tertawa dan mengatakan semuanya hanya bercanda? Aku ikut tertawa menanggapinya dan hanyut dalam suasana yang ia ciptakan dalam paksaan ini. Tidak… dia tidak bercanda… kutegaskan bahwa sebelumnya dia benar benar serius.
"Nah, sekarang… bisa kau ceritakan asal usulmu?" tanya wanita utusan [Guild Alliance] yang tiba tiba memberiku pertanyaan.
Pandanganku beralih kepada wanita tersebut. Kenapa dia mendadak tertarik kepadaku? Dia menatapku dengan ekspresi yang aneh, entah kenapa. Aku mencoba untuk mengabaikannya tapi dia seperti mencari perhatianku. Aku kembali menatap Villar namun kelihatannya dia menunggu jawaban dari pertanyaan yang diajukan oleh wanita tersebut.
"Saya berasal dan besar di kota [Rirua] yang berada di dekat perbatasan, kedua orang tuaku meninggal karena serangan monster beberapa tahun yang lalu,"
"Ohh…"
Dengan ini aku cukup mampu untuk menekan sedikit keraguan Villar terhadapku. Menggunakan alasan kedua orang tuaku meninggal karena serangan monster 7 tahun yang lalu adalah pembentukan latar belakang yang sempurna. Aku juga sudah menyiapkan kedua nama orang tuaku meski aku tidak akan menyiapkan nama keluarga mungkin. Kelihatannya pun Villar tidak akan ragu dengan itu.
"Ah, maksudnya serangan monster hitam 7 tahun yang lalu itu?"
"Ya…"
Nampaknya kejadian itu benar benar dikenang. Entah kenapa aku jadi teringat dengan Euliff yang mengatakan bahwa perwujudan monster tersebut ada di dalam tubuhku. Jujur aku masih sulit untuk mempercayai kekuatan semacam itu tersimpan di dalam tubuhku. Tapi jika melihat dari watakku yang sekarang, aku tidak akan terkejut kalau ada makhluk sejahat itu di dalam tubuhku.
"Monster yang berhasil dikalahkan oleh Euclid-sama," ucap Gazelle Stronoff membuat alisku terangkat.
"Euclid? Bukannya Eucliff?" tanyaku ketika Gazelle salah menyebut nama dari paman Eucliff.
Gazelle lalu tersenyum kepadaku lalu dia memerintahkan salah seorang prajurit untuk membawakan foto Euclid kepadaku. Aku melihat foto tersebut dan memang wajah yang terpampang disana adalah Eucliff. Ini pasti ada kesalahan ketika Eucliff menyebutkan namanya. Tidak… tunggu…
"Apa kau mengenalnya, Toruna?"
"Ya… orang inilah yang membesarkanku setelah aku kehilangan kedua orang tuaku hingga usiaku 11 tahun,"
"Kau dibesarkan oleh Euclid?" tanya Gazelle Stronoff.
Kenapa orang orang ini…
"Tak kusangka akan bertemu anak didik dari Euclid disini, sekarang aku tidak ada lagi alasanku untuk ragu kepadamu, Toruna…" kata Villar menghela nafas nya lega.
"Ah… jadi itu alasan Euclid sering sekali tidak muncul ketika keluarga Lucifuge datang ke pertemuan bangsawan,"
Apa…? Apa yang dikatakannya barusan? Nama itu? Kenapa nama terkutuk itu bisa disandangkan dengan Euclid? Euclid Lucifuge? Lelucon macam apa ini? Apa semua orang yang ada disini bercanda? Rossweisse seketika menarik sedikit lengan bajuku memaksaku untuk mendengarkan bisikannya.
"Toruna-sama… Tidak kusangka ternyata anda dilatih oleh calon penerus bangsawan Marquess Lucifuge yang juga adik dari salah satu penyihir terbaik di Kerajaan ini, Grayfia Lucifuge-sama!"
Ekspresi nya menunjukkan bahwa dia benar benar antusias tapi untukku ketika mengetahui identitas orang yang merawatku selama tiga tahun itu. Aku… Aku… rasanya seperti dijatuhkan dari atas tebing ke dasar jurang, apa ini!? Dunia terasa berputar di sekitarku… ada apa dengan ekspresi lega orang orang ini? Ada apa dengan wajah penuh kagum dari wanita utusan [Guild Alliance] ini? Ada apa pula dengan ekspresi mu tadi Margaret Odius!? Kemana…? Orang yang selama ini… merawatku… membesarkanku dan mendidikku hingga aku mendapatkan kekuatan untuk merubah keadaan ini… untuk membalas perbuatan keji keluargaku… Pamanku sendiri?
"Apa yang kalian bicarakan?"
TBC
.
.
.
Tes tes… Shiba desu. Sesuai janjiku, aku update di hari selasa dan rabu. Langsung kumulai saja ocehanku untuk chapter ini… pertama bagi kalian yang ada masalah saat chapter terbaru tidak muncul, silahkan hapus fic ini dari download an offline itu terus download ulang.
Chapter ini cukup panjang, sekitar 6500 word… asli ini melelahkan tapi memang harus segini. Masih hanya seputar pembicaraan, kalau kalian anggap membosankan… ya… aku tidak bisa apa apa. Aku tak mau memaksakan alurnya terlalu cepat jadi kubuat seadanya saja. Sekali lagi fic ini terbentuk dari segala pengetahuanku selama menjadi otaku terutama ketika menonton anime, membaca manga dan juga light novel. Dan ya… hmm.. tolong bantu aku mengembalikan semangatku dengan review kalian..
Dan terakhir Selamat Hari Raya Idul Fitri 1440 H
