MONARCH OF DESPAIR
Rate: M
Disclaimer: Naruto [Masashi Kishimoto], Highschool DxD [Ichie Ishibumi], Grancrest Senki [Ryo Mizuno], Musaigaen no Phantom World [Soichiro Hatano], Tensei Shittara Slime Datta Ken [Fuse], Overlord
Ditulis tanpa mengharapkan keuntungan materil sedikit pun
Genre: Fantasy, Hurt/Comfort, Action, Adventure, Family, Romance
Warning: Typo, gaje mungkin, masih jauh dari kata sempurna, OOC
Pairing: ?
Summary: Lahir karena pernikahan politik tanpa dilandasi cinta yang berujung sebuah perpisahan dan penghapusan keberadaannya… anak dari keluarga Earl Namikaze dan keluarga Marquess Lucifuge ini tak hanya dihapus keberadaannya tapi juga dibuang dan ditelantarkan oleh kedua orang tuanya. Namanya adalah Naruto, seorang bocah berusia 5 tahun yang nantinya akan tumbuh sebagai budak sekaligus orang yang terpilih untuk mewarisi gelar Monarch of Despair.
Jangan lupa review, favorite follow!
.
.
.
.
.
Chapter 7 : Undangan dari Istana
14 November X615, Kalender Kerajaan Lamia
Masih di hari yang sama setelah Raynare meninggalkan kota [Mandra] dan pergi menuju markas pusat [Grigori] yang ada di kota [Alpha], wilayah bagian pusat Kerajaan Lamia. Sekarang perbatasan luar kota [Mandra] dipenuhi oleh warga dan para petualang yang akan mengantar kepergian rombongan Villar Constance yang juga membawa serta pahlawan kota [Mandra], Naruto dan kedua pelayan barunya.
"Villar-sama!"
"Harap berhati hati!"
"Jaga diri anda!"
Teriakan teriakan dari warga kota [Mandra] yang antusias melepas kepergian Villar. Warga kota [Mandra] sudah mengetahui keberadaan pemimpin [Artuk] ini sejak kemarin malam, dimana mereka juga terkejut saat mengetahui hal tersebut. Villar tentu saja memberikan respon yang baik sebagai pemimpin yang layak untuk disegani, dia melambaikan tangan sambil tersenyum sebagai balasan sorak sorai masyarakat. Hanya dari situ saja, Naruto sudah bisa menyimpulkan bahwa orang ini benar benar pemimpin yang dicintai rakyatnya.
"Sungguh mengesankan…" ucap Naruto.
"Villar-sama memang terkenal di mata masyarakat," tambah Haruhiko.
"Saya yakin Toruna-sama kelak mampu menjadi pemimpin yang melebihi Villar-sama!" ujar Rossweisse.
"Hmm? Benarkah…? Yah, aku sedikit meragukannya entah kenapa," balas Naruto dengan sikap yang santai.
Naruto mungkin bisa menjadi pemimpin seperti Villar, namun dalam hal kepiawaian seorang Villar yang mampu menjadi seorang manipulator wilayah dengan sikap mulia, dermawan dan bijaksana di mata rakyat nya itu mungkin sedikit sulit bagi Naruto. Dia memang bisa memanipulasi orang lain dan menyembunyikan fakta seperti yang dia lakukan sejak awal bertemu Villar, tapi dia juga bosan harus bersikap seperti itu terus menerus.
"Toruna…"
Ketika nama samarannya itu dipanggil, Naruto menoleh ke belakang dan membalikkan tubuhnya. Dia melihat sesosok paman tua berpakaian seperti petualang. Paman itu adalah paman yang tempo hari meremehkan dirinya di Guild dan sekarang menjadi temannya.
"Ah, ada apa… pak tua?"
"Aku ingin berterima kasih sekali lagi kepadamu… berkat dirimu kota [Mandra] mendapatkan kembali rutinitasnya,"
"Ah, kukira apa…"
Tak lama kemudian walikota dan anaknya yang umurnya sudah setua ayah Naruto pun datang bersama resepsionis Guild [Mandra]. Dari situ Naruto menebak bahwa mereka akan mengatakan hal yang sama seperti yang dikatakan paman petualang ini barusan.
"Tolong jangan bilang kalau-"
""""Terima kasih!""""
Rossweisse dan Haruhiko tersenyum sambil memandangi Naruto yang sekarang sedang menunjukkan kebingungan sebagai perwakilan dari ekspresi wajahnya.
"Kami berhutang padamu, anak muda…" ucap anak dari walikota.
"Sudah berapa kali kau ucapkan itu, paman? Lagipula aku juga sudah mendapatkan apa yang kuinginkan, kalian tidak perlu menganggapnya sebagai hutang,"
Apa yang Naruto dapatkan sekarang menurutnya sudah lebih dari cukup sebagai bayaran untuk membunuh paus iblis. Jadi dia bahkan ragu jika ini bisa disebut sebagai hutang, dia justru berpikir bahwa dia berhutang kepada kota [Mandra] karena telah membukakan jalan untuk meraih tujuannya.
"Yah, meski begitu… jika suatu hari kau sempat singgah di kota ini. Kami akan menyambutmu saat itu!"
Mendengarnya, Naruto cukup senang juga. Tidak menutup kemungkinan kalau dia akan kembali kesini segera setelah dia mendapatkan jabatan sebagai [Knight],
"Kalau begitu, kami berangkat…" kata Rossweise menyusul Naruto dan Haruhiko yang sudah mendahuluinya ke kerata kuda.
"Jaga diri kalian!" teriak resepsionis Guild.
Tidak buruk juga jika suatu hari nanti wilayah [Mandra] akan jatuh ke tangannya. Itulah yang dipikirkan Naruto. Dia sudah memiliki pengaruh besar di kota ini, terlebih nyaman juga rasanya jika tinggal disana.
"Kau sudah mengucapkan salam perpisahan?" tanya Margaret.
"Hmm? Kurasa aku akan berpisah dengan kota ini hanya sebentar, jadi menurutku tidak perlu,"
"Hanya sebentar ya? Percaya diri sekali kau kelihatannya?" balas Margaret menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil tersenyum tipis.
Yang dimaksud Margaret adalah kepercayaan diri Naruto bisa mengambil alih kota [Mandra] dari wilayah [Artuk] dan menjadikan kota tersebut sebagai wilayah pertama nya saat dia diangkat sebagai Baron kelak.
"Percaya diri atas apa?"
Balasan santai itu hanya membuat Margaret semakin membuat jelas senyuman di wajah Margaret. Naruto melangkah melewati Margaret dan masuk ke dalam kereta kuda yang ia, Rossweise dan Haruhiko naiki. Lalu saat dia selangkah lagi masuk ke dalam, dia menghentikan gerakannya kemudian teringat akan sesuatu.
"Margaret-san… bagaimana dengan permintaanku pada Villar-sama sebelumnya?"
"Hmm? Ah, permintaanmu akan dipenuhi oleh Villar-sama tapi jika aku boleh tau, apa tujuan utama mu dari meneliti data data informasi bangsawan wilayah lain yang berada di sekitar wilayah [Artuk]?"
"Hanya ingin membuat sebuah rencana pencegahan jika nantinya [Artuk] harus berurusan dengan wilayah lain,"
Ucapan Naruto sebenarnya cukup membuat Margaret heran, namun di satu sisi dia juga cukup kesal mendengarnya. Naruto seolah mengatakan bahwa [Artuk] tidak memiliki rencana pencegahan jika hal semacam itu terjadi.
"Apa kau meremehkan [Artuk] yang dipimpin oleh Villar-sama? [Artuk] jelas memiliki rencana jika hal semacam perang antar wilayah itu terjadi,"
Sebenarnya Naruto tidak ada maksud seperti itu. Dia hanya ingin membuat rencana untuk dirinya sendiri jika sesuatu semacam itu terjadi. Bukan maksud dia juga untuk meremehkan ahli siasat Villar, dia hanya tak bisa mempercayai orang yang tak dikenalnya untuk menjaga tempat yang akan dia singgahi sementara waktu.
"Aku tidak bermaksud seperti itu… hanya saja memiliki dua sampai tiga rencana cadangan atau sekedar membuat rencana ancaman tidak masalah kan?"
Mendengar jawabannya yang diberikan Naruto, Margaret tidak lagi memiliki rasa kesal yang lebih dalam. Sejenak dia paham juga posisi Naruto yang akan mendapatkan status kebangsawanannya sendiri. Mungkin saja dia berniat membuat tindakan pencegahan untuk dirinya sendiri, meski hal itu nanti tidak akan jauh dari pertolongan Villar.
"Margaret-san… anda tidak perlu khawatir, saya yakin bahwa Toruna-sama hanya menginginkan yang terbaik untuk [Artuk]," kata Rossweisse.
Margaret paham akan hal itu. Dia berjalan pergi ke sisi Villar lagi, setelah puas dengan alasan yang diberikan Naruto. Sedangkan Naruto hanya menanggapi respon Margaret dengan tatapan tajam ke arah wanita penyihir api itu.
"Ne~… Selanjutnya apa lagi yang akan kau lakukan, Toruna-san?" tanya Haruhiko yang sudah lebih dulu duduk di dalam kereta kuda.
Naruto tak menghiraukan pertanyaan Haruhiko dan langsung duduk di kursi kereta kuda, begitu pula dengan Rossweisse yang setia mengikuti Tuannya. Merasa dirinya tidak di hiraukan, Haruhiko memasang ekspresi kesal di wajahnya.
"A-A-Aku dihiraukan…?" ucap Haruhiko pelan sambil mengutuk kekesalannya di dalam hati.
"Kalian cukup ikuti saja aku dan nantinya kalian akan tahu hal apa yang harus kalian lakukan…" ujar Naruto sambil memandang keluar jendela dengan tampang bosan.
Rossweisse dan Haruhiko menatap wajah satu sama lain seolah mengatakan bahwa mereka bingung dengan apa yang dimaksud oleh Naruto.
.
.
.
.
.
15 November X615
Setelah melewati perjalanan yang mungkin mencapai lebih dari 12 jam, akhirnya rombongan Villar dan Naruto tiba di kota pusat [Artuk]. Warna langit disana menunjukkan waktu saat ini, masih cukup gelap menandakan matahari belum terbit. Kira kira masih krang satu jam lagi sebelum matahari terbit di langit Kerajaan Lamia. Naruto terbangun disaat dirinya merasakan kalau kereta kuda yang ia tumpangi berhenti.
Mudah bagi Naruto untuk mengembalikan kesadaran penuhnya setelah tertidur selama beberapa jam. Berbeda sekali dengan salah seorang pelayannya, Haruhiko, yang terlihat kesulitan untuk membawa kembali kesadarannya. Naruto hanya memberikan tatapan datar, lalu dia menyadari sebuah beban lebih yang ada pada bahu kanannya. Dia menoleh ke samping dan menemukan sesosok gadis bersurai putih panjang dengan pakaian penyihirnya sedang tidur nyenyak dan menggunakan bahunya sebagai sandaran kepala.
'Hmm? Manis juga…' pikirnya saat melihat wajah Rossweisse yang sedang tidur.
Sekilas pemandangan dari luar terlihat saat Naruto menolehkan kepalanya ke arah jendela. Naruto perlahan lahan meletakkan kepala Rossweisse agar dia tidak terbangun lalu mendekat ke arah jendela. Tak lama kemudian kusir kereta kuda yang mereka tumpangi muncul disana dan membukakan pintu kereta kuda.
"Silahkan turun, Tuan…"
"Hmm…" Naruto hanya memberikan balasan singkat.
Dia turun dari atas kereta kuda dan segera mengalihkan pandangannya pada kereta kuda yang ada di belakang kereta kuda tumpangannya. Pintu kereta kuda itu terbuka, membiarkan sepasang manusia muncul dari dalam. Mereka tak lain dan tak bukan adalah Villar Constance serta penyihirnya, Margaret Odius.
"Ah, Toruna-kun…!"
"Selamat pagi, Villar-sama…" sapa Naruto sambil memberi hormat dengan senyum tipis.
Villar berjalan menghampiri Naruto ditemani Margaret di sampingnya. "Bagaimana? Kau bisa tidur selama perjalanan?"
"Tentu, Tuanku…"
Jawaban Naruto cukup memuaskan Villar. Lalu dia teringat dengan Rossweisse dan Haruhiko yang sejak kemarin menjadi pelayan Naruto dan ikut serta bersamanya dalam perjalanan ini.
"Dimana para pelayanmu?"
Ketika mendapat pertanyaan itu, Naruto hanya menunjukkan ekspresi bingung harus menjawab apa. Kemudian dia menoleh ke arah kereta kuda yang ia tumpangi. Dari sana Villar langsung menebak situasi kedua pelayan Naruto sekarang.
"Hahahaha… Menarik sekali dua pelayanmu! Mereka masih bisa tertidur sedangkan Tuannya sudah bangun,"
"M-Maafkan saya, mungkin mereka belum terbiasa…"
Ya Villar juga merasa tidak masalah dengan itu, lagipula yang harus mendidik mereka nantinya bukanlah dirinya tapi Naruto sendiri, sebagai Tuan mereka. Di sisi lain, tak seperti Villar, Margaret terlihat menghela nafas heran saat menanggapi kelakuan kedua pelayan Naruto.
"Aku mengerti jika itu si pria… tapi si wanita dengan julukan [White Blood] itu juga? Jika Akademi Sihir tau ini, dia pasti akan diceramahi…"
Naruto tidak bisa berbuat apa apa ketika Margaret menyebutkan hal itu. Dia tidak memiliki pembelaan atas sikap dari penyihir baru yang akan melayaninya. Setidaknya yang Naruto tahu, Rossweisse memiliki kualifikasi yang cukup untuk melayaninya dari segi kemampuan sihirnya dan kecerdasannya.
Sepertinya dia harus mencari pelayan setia yang bertugas untuk memenuhi kebutuhannya dalam mengatur jadwalnya dan urusan lain. Haruhiko sebenarnya cocok dalam hal itu, tapi dia tidak berniat untuk menjadikan seorang pria sebagai sekretarisnya. Haruhiko akan ia gunakan sebagai bawahan utamanya atau tangan kanannya, yang artinya akan ada banyak hal yang harus ia ajari pada Haruhiko.
"Kalau begitu mari masuk ke dalam…"
Villar dan Margaret berjalan masuk ke dalam mansion milik Villar. Naruto hanya membalas ajakan Villar dengan sebuah anggukan dan hormat. Matanya sekarang tertuju ke arah kota pusat [Artuk] yang letaknya ada di bawah. Perlu diketahui bahwa mansion megah dan besar milik Earl Villar Constance berada di atas bukit kecil kota pusat.
Dengan kemegahan serta pemandangan luar biasa yang terpampang disana, tempat tinggal Villar menjadi salah satu kediaman bangsawan yang dianggap paling nyaman di Kerajaan Lamia. Udaranya sejuk, tak tercium adanya polusi udara, suara bising atau hal lain yang mengganggu. Hal ini bahkan menimbulkan rasa iri pada beberapa bangsawan yang menginginkan wilayahnya bisa semakmur [Artuk] terutama Ibukota Wilayahnya.
'Seperti yang diharapkan dari seorang Villar Constance… dari sini bahkan aku bisa melihat tata kelola wilayah kota ini benar benar disusun dengan baik,'
Pikir Naruto sambil menoleh ke arah Villar yang sudah berada di depan gerbang masuk mansion miliknya.
'Wajar jika rakyatnya begitu menghormatinya…'
Kemudian, Naruto berjalan menyusul Villar dan Margaret, meninggalkan kedua pelayannya yang masih berada di dalam kereta kuda. Terlihat disana kusir kereta kuda yang mereka tumpangi nampak kewalahan saat harus membangunkan Haruhiko dan Rossweisse.
.
.
.
.
.
Setelah menaruh barang barang yang dibawanya di kamar dan menatanya, Naruto bergegas menuju ke ruang makan. Langit menunjukkan bahwa pagi telah tiba, dia berjalan diikuti oleh Rossweisse dan Haruhiko yang muncul entah darimana. Naruto tampak tak menggubris keduanya, dia hanya bersikap seperti biasanya sedangkan Rossweisse terlihat malu akan sesuatu.
"Ada apa, Rossweisse? Apa ada hal yang mengganggumu?"
Akhirnya setelah tidak betah dengan sikap Rossweisse yang aneh, Naruto memutuskan untuk bertanya kepadanya. Namun yang ia dapatkan adalah respon Rossweisse yang terlihat terkejut saat dia diberi pertanyaan.
"T-Tidak ada, Toruna-sama…" jawabnya terbata bata.
"Hmm?"
Naruto merasa heran sekaligus curiga dengan jawaban dan sikap yang ditunjukkan Rossweisse kepadanya. Sedangkan Haruhiko justru sama sekali tidak merasakan adanya keanehan. Disini dia lah yang terlihat paling tidak peduli. Hal itu ditandai dengan dirinya yang masih bisa menguap santai sambil berjalan mengikuti Naruto.
"Toruna-san… Apa kita akan sarapan?"
"Ha~… Begitulah, jaga sikapmu saat makan karena kita akan satu meja dengan Villar-sama,"
"Baik…" jawab Haruhiko dengan nada malas.
Tak lama berselang, Haruhiko teringat untuk menanyakan beberapa hal. "Ah, sebelum aku lupa… jadi kapan kita akan berangkat ke Ibukota [Lumina] dan bertemu keluarga Raja?"
"Itu belum pasti… pertama tama kita akan mendapatkan surat undangan dari Kerajaan. Menurut prediksi Villar-sama, surat itu akan datang hari ini, dan jika itu benar, kita akan segera berangkat keesokannya,"
"Besok ya…? Kukira kita bisa lebih bersantai dulu sebelum menghadap Raja," gumam Haruhiko sambil menatap langit langit.
Tak hanya Haruhiko yang berpikiran seperti itu, sebenarnya Naruto dan Rossweisse juga memikirkan hal yang sama dengannya. Tadinya mereka pikir, masih ada waktu menikmati suasana nyaman di kota pusat [Artuk] atau sekedar meneliti dokumen dokumen lama yang bisa mereka temukan disini.
Tak lama kemudian, ketiganya masuk ke dalam ruang makan yang begitu besar layaknya ruang makan seorang bangsawan terkenal. Mata Rossweisse dan Naruto tidak bisa untuk tidak melihat ke berbagai arah saat mereka menemukan desain dinding yang indah serta beberapa sudut yang menarik. Berbeda dengan mereka berdua, Haruhiko nampak tidak peduli dengan hal itu.
"Ah, Selamat pagi,"
Sapa Villar yang sudah duduk di kursi utama ruang makan bersama dengan Margaret di samping kanannya.
"""Selamat pagi, Villar-sama!"""
Ketiganya membalas ucapan selamat pagi dari Villar.
"Duduklah…!"
Segera setelah Villar memberikan ijin kepada mereka untuk duduk, Naruto segera berjalan ke kursi yang ada di samping kiri Villar dan duduk disana selayaknya orang kepercayaan Villar setelah Margaret yang duduk di sebelah kanan Villar.
"Terima kasih, Villar-sama… Suatu kehormatan bisa duduk satu meja makan dengan anda," ucap Naruto memberikan hormat kepada Villar.
Melihat sikap Naruto yang begitu hormat dan sedikit kaku di hadapannya, Villar menunjukkan sebuah senyuman kecut karena merasa sedikit tidak nyaman.
"Kuharap kalian menyukai masakan koki dari kediaman Constance,"
Setelah semuanya, Margaret masih merasakan sedikit rasa curiga kepada Naruto. Meski Villar sudah mengakuinya sebagai sekutu, dia tetap tidak bisa menerima Naruto sebagai kawan entah kenapa. Bukannya dia tidak suka dengan Naruto, dia hanya merasakan sesuatu yang mencurigakan dari laki laki berumur 15 tahun dengan pencapaian besarnya itu.
"Ah, Toruna-kun, aku juga sudah menyiapkan permintaanmu,"
Perhatian Naruto pada makanan seketika teralihkan.
"Ya, aku sudah menyiapkan data data terbaru yang bisa dikumpulkan [Artuk] mengenai wilayah bangsawan lain,"
Naruto memberikan hormat dan terima kasihnya kepada Villar. Sebaliknya Villar pun juga menanggapinya dengan bijak, dia tidak berniat menanyakan apa yang akan dilakukan Naruto. Setidaknya hingga batasan ini, dia percaya, tindakan yang akan di ambil Naruto itu hanya untuk kepentingan [Artuk]. Hal yang diincar Naruto tentu saja adalah menemukan kelemahan kelemahan wilayah wilayah yang berbatasan dengan wilayah [Artuk] termasuk Kerajaan Samrada yang ada di seberang laut timur yang berbatasan dengan kota [Mandra].
Jika dia bisa segera menemukan titik titik kelemahan dari wilayah sekitar [Artuk], itu akan jadi sesuatu yang menguntungkan untuk dirinya di masa depan. Saat ini wilayah yang berbatasan langsung dengan [Artuk] adalah wilayah milik Baron Yamanaka yang berbatasan di barat, wilayah Marquess Sitri di barat laut dan Viscount Phenex di utara.
Jalan tercepat yang akan mereka ambil untuk sampai ke Ibukota [Lumina] nantinya akan melewati wilayah Marquess Sitri. Disana lah mereka harus berususan dengan masalah pertama. Sesuai permintaan Naruto, sebisa mungkin dia ingin menyembunyikan wajahnya atau identitasnya sebagai 'Toruna', tapi Villar yakin Sitri akan berusaha sebaik mungkin untuk membongkar kedok Naruto, meski sampai sekarang pun Villar tidak tahu bahwa nama asli Toruna adalah Naruto.
Sarapan mereka terasa cukup cepat, Naruto baru saja menghabiskan suapan terakhirnya dan meletakkan sendok, garpunya di piring. Setelah itu dia mengelap mulutnya dengan kain serbet. Dia mengalihkan pandangannya kepada Tuannya yang sekarang sedang menatapnya.
"Bagaimana makanannya?"
"Benar benar enak, Villar-sama…"
"Syukurlah kalau kalian menyukainya,"
Pandangan Villar beralih lagi ke arah pelayannya yang muncul mengantarkan sebuah surat. Kedua mata Villar menajam dan ekspresinya jadi serius. Naruto, Rossweisse, Haruhiko dan Margaret sontak terfokus pada surat yang diantarkan pelayan tersebut.
"Villar-sama… surat undangan dari Istana untuk Toruna-sama,"
Villar menerimanya kemudian membuka isi suratnya. Tak butuh waktu lama baginya untuk memahami keseluruhan isi surat tersebut. Semua sesuai dengan dugaannya sejauh ini. Dia memberikan tatapan serius kepada Naruto dan tentu saja Naruto paham maksudnya.
"Sepertinya kalian memang tidak bisa bersantai dulu…" ucap Villar dengan nada yang ramah.
Rossweisse dan Haruhiko menghela nafas mendengarnya. Itu artinya besok mereka harus berangkat ke Ibukota [Lumina]. Margaret meneguk tetes terakhir teh miliknya kemudian berdiri dengan anggun sambil memberikan tatapan nya kepada Villar.
"Villar-sama…"
"Ya, aku tahu…"
Villar bangkit dari kursinya. "Detailnya akan kita bahas di ruanganku…"
Setelah mengatakan itu, dia pergi menuju ruangannya. Dan tentunya, Naruto, Rossweisse dan Haruhiko sadar kalau mereka harus mengikutinya. Apa yang akan dibahas oleh Villar pasti tidak jauh dengan masalah jalur yang akan mereka lewati menuju Ibukota. Jika ingin data diri mereka aman dan tetap dirahasiakan, rintangan pertama mereka adalah lolos dari wilayah Marquess Sitri dengan ijin mereka tentunya.
Sesampainya di dalam ruangan Villar, Naruto mengedipkan matanya sekali lalu merubah ekspresinya. Disana tertulis jelas bahwa dirinya sedang penasaran. Berbeda dengan Naruto, Haruhiko membulatkan matanya saat melihat isi ruangan Villar. Disana tak hanya dipenuhi dengan buku dan dokumen dokumen penting, tapi juga ada berbagai lukisan dan [Ether Stone] yang dibentuk sedemikian rupa.
'[Ether Stone] yang dibentuk menyerupai senjata meriam…?' batin Naruto sambil menyipitkan matanya sedikit.
Pandangan Naruto beralih lagi pada Villar yang sudah duduk di kursinya.
"Duduklah…"
Setelah mendengarnya, fokus Naruto beralih pada kursi tamu panjang yang berada di depan meja Villar. Dia memberikan hormat dan mengangguk sopan sebagai balasan dari perkataan Villar, lalu duduk disana.
"Terima kasih, Villar-sama…" ucap Rossweisse.
Tiba tiba saja perhatian Rossweisse terpusat pada sebuah buku sihir yang ada di rak buku milik Villar. Cukup lama dia memperhatikannya hingga akhirnya dia mengalihkan perhatiannya lagi pada Villar. Villar pun nampaknya juga sadar kalau Rossweisse sempat memperhatikan buku miliknya selama beberapa saat.
"Apa kau tertarik dengan sihir manipulasi ruang, Rossweisse?"
"A-Ah… Ya, Villar-sama…"
Naruto yang mendengar hal itu, juga jadi ikut penasaran dengan pembahasan keduanya. Sejauh yang ia ketahui, dasar dari sihir manipulasi ruang itu hanya sekedar mengolah ruang sihir individu sebagai tempat meletakkan senjata atau barang barang berharga lainnya. Namun sihir semacam itu juga tidak efektif jika digunakan untuk menyimpan uang dalam jumlah banyak. Oleh karena itulah, dunia ini masih membutuhkan system tempat untuk menyimpan uangnya.
Dan disinilah Naruto terpikirkan sebuah ide, meski dia akan menyimpannya dulu untuk sementara. Dia kembali pada topik permasalahannya, sihir manipulasi ruang. Dalam beberapa kejadian yang pernah terjadi di dunia ini, sihir manipulasi ruang dikaitkan dengan jenis sihir yang bisa memindahkan seseorang ke tempat lain dalam waktu sekejap, atau katakan lah teleportasi.
"Aku cukup tertarik dengan sihir manipulasi ruang…"
"Hmm? Kenapa anda tertarik pada sihir manipulasi ruang, Villar-sama?" tanya Naruto.
"Hahaha… Ini hanyalah keinginan lamaku untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan mudah,"
Naruto meresponnya dengan mimik wajah yang kebingungan, sama halnya dengan Haruhiko dan Rossweisse. Sejauh yang ia ketahui, jika Villar menginginkan agar bisa pergi ke suatu tempat, keinginannya bisa dipenuhi dengan mudah kalau mengingat jabatannya sekarang.
"…Ada tempat yang ingin anda kunjungi, Villar-sama?"
"Hmm…? Tempat ya? Sebenarnya tempat yang ingin kukunjungi adalah kediaman ini,"
"M-Maksud anda?" tanya Rossweisse kebingungan.
Villar memutar kursinya menghadap ke arah jendela yang ada di belakangnya. Matanya berubah menjadi sayu dan seketika semua kenangan masa lalunya masuk ke dalam kepalanya. Sedangkan itu, Margaret yang sejak tadi diam, sekarang sedang mengerutkan dahinya.
"…Sihir manipulasi ruang… dan sihir manipulasi waktu…"
Naruto semakin penasaran dibuatnya, namun dia paham maksudnya. Nampaknya juga Rossweisse dan Haruhiko juga paham. Dia segera mengambil kesimpulan dari jawaban Villar…
'Tempat yang ingin dia kunjungi adalah tempat ini di masa lalu… yang artinya… ada hal yang ingin dia rubah dari sejarah masa lalunya…' batin Naruto dengan tatapan menajam.
Hal itu dirasa mustahil bahkan oleh Naruto. Dia menciptakan berbagai macam sihir namun dia tak pernah terpikirkan membuat sesuatu seperti sihir yang bisa membawanya ke masa lalu. Karena dia sadar, sihir semacam itu adalah… hal yang tabu.
"Saa~… mari kita bahas rencana keberangkatan kita besok!" ucap Villar membalikkan kursinya lagi ke hadapan Naruto, Rossweisse, Haruhiko dan Margaret.
.
.
.
.
.
15 November X615
Masih di hari yang sama namun di tempat yang berbeda. Letaknya ada di barat laut wilayah [Artuk] atau lebih tepatnya wilayah [Trisia] yang dipimpin oleh bangsawan Marquess Sitri, tepatnya di kota pusat atau Ibukota [Trisia] yaitu kota [Serafall]. Nama kota ini sama dengan nama penerus utama Marquess Sitri, Serafall Sitri. Serafall Sitri, perempuan cantik dengan rambut hitam panjang dan tubuh mungil namun berisi yang memiliki segudang prestasi dalam kemajuan wilayah [Trisia].
"Serafall-sama… tamu anda sudah datang…"
Di meja kerjanya, wanita yang dipanggil Serafall ini mengalihkan perhatiannya dari lembar kerjanya. Sebuah senyum tipis terukir di wajah manisnya.
"Persilahkan dia untuk masuk ke ruanganku…"
"Baik, Serafall-sama..."
Saat ini di kediaman Sitri, mereka kedatangan seorang tamu bangsawan penting yang berada dalam fraksi yang sama dengan mereka. Fraksi pangeran pertama yang memiliki dukungan dari beberapa bangsawan besar lainnya seperti Duke Bael dan Marquess Gremory. Tamu itu adalah orang yang menjadi perwakilan Marquess Lucifuge saat ini, Grayfia Lucifuge.
"Lama tidak berjumpa, Serafall…"
"Grayfia-chan! Bagaimana kabarmu!?" teriak Serafall berlari memeluk Grayfia Lucifuge saat perempuan itu masuk ke dalam ruangan kerja Serafall.
"Serafall, aku datang kesini bukan untuk minum teh atau bersenang senang denganmu…"
"Uhmm… Siapa peduli? Ini rumahku dan setiap tamu yang datang kesini harus mengikuti aturanku!"
Tujuan Grayfia datang kesini ada dua. Yang pertama adalah membahas mengenai memanasnya suasana di Kerajaan antara fraksi yang mendukung pangeran pertama, Michael dan adiknya, tuan putri kedua, Gabriel dengan fraksi yang mendukung tuan putri pertama, Shion. Dilihat dari latar belakang mereka, sebenarnya yang pantas mewarisi tahta adalah Shion karena ibunya adalah permaisuri pertama Kerajaan yang lahir dari keluarga Duke Senju. Tapi menurut fraksi pangeran pertama, Michael memiliki kemampuan yang lebih, meski lahir dari seorang selir yang berasal dari Kerajaan Heavenia yang letaknya berbatasan dengan bagian utara Lamia.
Mereka juga mempertimbangkannya dengan hubungan politik kedua Kerajaan yang kemungkinan bisa membaik jika Michael menjadi Raja Kerajaan Lamia berikutnya.
"Apa ini ada hubungannya lagi dengan perseteruan fraksi pangeran pertama dan tuan putri pertama?"
Ketika menanyakan hal itu, wajah Serafall terlihat lesu. Dia sebenarnya sudah malas harus mengurusi dan ikut andil dalam pihak pangeran pertama namun bukan berarti dia ingin ada di fraksi tuan putri pertama. Pangeran pertama adalah orang yang cocok menurutnya namun dia hanya malas terlibat dalam segala urusan yang ada pada fraksi pangeran pertama.
"Sebagai salah satu penyokong fraksi pangeran pertama, kau tidak bisa lalai, Serafall… fraksi putri pertama, Shion-sama… memiliki dukungan dari Duke Senju dan Duke Uchiha…"
"Itulah kenapa aku malas terlibat… menyusahkan sekali apalagi jika harus berhadapan dengan mata tajam para Uchiha itu!"
Memang menyulitkan jika harus berurusan dengan Duke Uchiha karena mereka lah yang sebagian besar memegang urusan intelejensi dalam Kerajaan. Segala pekerjaan kotor, gelap yang dirahasiakan oleh Kerajaan, dikerjakan oleh mereka. Pimpinan Duke Uchiha yang sekarang memiliki dua orang penerus yang menjanjikan, terutama putra pertama nya, Itachi yang sudah mengukir banyak prestasi di usia mudanya.
Memiliki kemampuan dengan pedang dan sihir serta kecerdasan luar biasa dalam mengatur strategi dalam perang, dia berhasil menghentikan pemberontakan dan beberapa serangan kecil dari Kerajaan lain. Dan saat ini muncul seorang pemuda yang lebih muda dari Itachi dengan prestasi gilanya pada debut pertamanya, mengalahkan seekor binatang iblis [High Class].
Pemuda itu sekarang dikenal di kalangan bangsawan Kerajaan Lamia dengan nama Toruna. Itulah hal kedua yang ingin dibahas Grayfia saat mendatangi kediaman Serafall.
"Serafall, kau pasti sudah mendengar nama 'Toruna', bukan?"
Respon Serafall yang berlebihan tadi lenyap seketika, ekspresinya berubah seiringan dengan sikapnya juga. Dia menghela nafas dan berjalan kembali ke kursi kerja nya sambil menatap sebuah kertas dokumen. Kemudian, dia memalingkan wajahnya ke arah jendela sambil melihat langit biru pada siang hari itu.
"Toruna… pahlawan [Artuk] yang baru baru ini muncul. Dikabarkan usianya masih 15 tahun dan dia berhasil mengalahkan seekor paus iblis level [High Class] dengan rencananya yang cemerlang hingga membuat nya disebut mengungguli salah satu Komandan Batalion yang terkenal, Gazelle Stronoff…"
Ucap Serafall menyebutkan garis besar pencapaian pemuda bernama Toruna ini.
"Istana sudah mengundangnya dan Raja tertarik kepadanya…"
Wajar jika hal ini terjadi, mana ada pemuda berusia 15 tahun yang sanggup menyusun rencana sendirian dan dengan luar biasa mengeksekusi seekor paus iblis yang bahkan tidak bisa dibunuh seorang mantan petualang kelas [Adamantite] bintang 1 digit. Pemuda yang memiliki kemampuan bertarung dan kecerdasan luar biasa itu bahkan lebih mengerikan daripada Itachi saat di usia 15 tahun.
Itachi sendiri digadang gadang adalah jenius yang hanya muncul 10 tahun sekali, lalu sebutan apa yang cocok untuk pemuda yang bisa mengungguli jenius yang muncul 10 tahun sekali?
"Masa depan pemuda itu pasti akan cerah dimana pun dia berada," ucap Serafall.
"Ya… dan yang lebih berbahaya nya lagi, dia berada di sarang yang tepat untuk tumbuh," jawab Grayfia mengomentari ucapan Serafall barusan.
"Villar Constance ya…"
"Ya… Tidak salah lagi, pria itu adalah kandidat terkuat di antara para Earl yang bisa naik menjadi seorang Marquess…"
Serafall tahu akan hal itu, pria bernama Villar Constance ini sendiri tidaklah memiliki kekuatan sihir yang besar, namun keterampilan pedangnya merupakan salah satu yang terbaik. Kecerdasan dan strategi yang ia buat bisa dikatakan yang terbaik di antara para bangsawan. Kabarnya hanya seorang Baron bernama Nara Shikaku yang bisa menandinginya.
"Saat ini Villar Constance bukanlah anggota fraksi pangeran Michael atau fraksi putri Shion… dia netral. Ada kemungkinan juga dia membentuk aliansi sendiri bersama para bangsawan netral lain seperti Duke Kreische, Marquess Jalucia atau Earl Cornaro…"
Grayfia menjelaskannya dengan anggun setelah dia meminum teh yang disajikan untuknya, sedangkan Serafall nampak lesu mendengarnya.
"Kita tidak bisa menyentuhnya…" ucap Serafall.
"Tidak… kita bisa!" balas Grayfia.
Kemudian Serafall teringat lagi bahwa sebenarnya dia juga sudah memprediksikan jalur keberangkatan rombongan Villar Constance ke Ibukota Kerajaan Lamia, [Lumina]. Dia juga sudah menyadari tujuan kedatangan seorang Grayfia Lucifuge yang jauh jauh dari wilayahnya hingga memakan waktu hampir dua hari perjalanan.
"Apa ini keputusan seluruh anggota fraksi?" tanya Serafall.
Mendengar pertanyaan itu, Grayfia mengedipkan matanya sekali. Dengan ekspresi sedingin es dia berhenti meminum tehnya.
"Ini keputusan fraksi atas saran dariku…"
Serafall mengerutkan dahinya ketika mendengar hal itu. Teman nya yang ia kenal sejak lama, memang sudah berubah. Ekspresi nya yang dulunya dipenuhi kebahagiaan pun juga hilang digantikan kekejaman dan kelicikan. Dia menatap sahabatnya itu namun wanita berambut putih indah itu hanya memberikan sorot mata yang dingin, dan tidak berubah sejak tadi mereka berjumpa.
"Kau benar benar sudah berubah, Grayfia…" ucap Serafall pelan.
Grayfia tidak menanggapinya, dia hanya menatap teh di mejanya.
"Inilah sikap yang kubutuhkan jika ingin naik ke puncak, Serafall… kuharap kau mengerti itu,"
Serafall menggertakkan giginya saat mendengar ucapan Grayfia barusan. "Apa membuang darah dagingmu sendiri itu juga termasuk hal yang harus kau lakukan untuk naik ke puncak!?"
Serafall mengatakannya dengan nada yang cukup tinggi. Tak bisa dipungkiri jika perasaannya juga dia letakkan di dalam kalimat tersebut. Setetes air mata jatuh ke lantai dan pemiliknya tak lain adalah Serafall. Dia mengetahuinya. Apa yang disembunyikan di antara Marquess Lucifuge dan Earl Namikaze selama ini dan dosa macam apa yang telah dilakukan sahabatnya.
"…Aku tidak mempunyai seorang anak… lagipula itu tidak ada hubungannya dengan urusanku kemari,"
Jawabannya benar benar dingin. Dia juga benar benar tidak mau mengakui apa yang diucapkan oleh Serafall. Dia bersikeras mengatakan bahwa dirinya tidak memiliki seorang keturunan dari hubungannya dengan Earl Namikaze yang sudah membunuh kedua orang tuanya. Pada akhirnya pun, Serafall hanya bisa menyerah pada keinginan kuat yang ditorehkan Grayfia.
"Baiklah… jika itu perintah fraksi… tugas ini akan kulaksanakan…"
Ucap Serafall membalikkan tubuhnya membelakangi Grayfia dengan perasaan bercampur aduk.
"Kita harus bisa mendapatkan pemuda itu ke fraksi pangeran pertama…"
TBC
.
.
.
Tes Tes… Shiba. Senang bisa berjumpa lagi dengan para reader. Maaf jika aku update terlalu lama, yah karena kuliah ku juga membuatku jadi sibuk. Kebetulan kuliahku itu satu tahun isinya tiga semester, dan ya kemungkinanku update rutin itu saat liburan. Kebetulan kuliahku semester 3 sudah selesai dan kemungkinan aku akan libur sampai awal September. Jadi waktu dua minggu lebih ini akan kumanfaatkan sebisa mungkin untuk update dua tiga hari sekali sebelum ku kuliah selama 3-4 bulan lagi.
Hmm, yang ingin kubahas disini adalah dua fraksi yang ada di Kerajaan Lamia, fraksi yang mendukung pangeran pertama, Michael dan fraksi yang mendukung putri pertama Shion. Pangeran pertama Michael dan putri kedua Gabriel lahir dari selir yang berasal dari Kerajaan Heavenia. Yah itu nanti saja lah, akan dijelaskan oleh cerita juga.
Yang jelas disini dua fraksi itu dipimpin oleh Duke. Fraksi pangeran pertama dipimpin Duke Bael sedangkan fraksi putri pertama dipimpin Duke Senju dan Duke Uchiha. Intinya seperti itu dan sejauh ini aku sudah membuat sketsa peta wilayah untuk kusimpan. Jumlah Duke ada 4 karena ya itu posisi yang tertinggi untuk bangsawan di bawah keluarga Raja. Jumlah Marquess ada 5, Earl juga ada 5 tidak menutup kemungkinan bertambah, Viscount sejauh ini kurencanakan ada 6-7, dan Baron ada belasan namun yang nantinya jadi sorotan hanya ada 7 Baron.
Fic ini benar benar akan lama tamatnya, kuyakin. Bahkan lebih lama dari Symbol of Revenge. Itu juga kalau aku sanggup menamatkannya, karena nantinya tidak akan berfokus pada satu Kerajaan Lamia saja tapi juga bersinggungan dengan Kerajaan lain.
Ah dan ngomong ngomong ada kesalahan tanggal di chapter 6 kemaren. Harusnya 14 November di hari yang sama.. bukan tanggal 15, akan kurevisi. Itu saja mungkin… selebihnya maaf kalau ada kesalahan.
Selanjutnya aku akan update Fate of My Adolescence karena kelihatannya fic itu memang lebih digemari walaupun juga kulihat review tidak begitu banyak namun positif.
Jangan lupa review, di fav fol juga… biar gua semangat cok!
