MONARCH OF DESPAIR
Rate: M
Disclaimer: Naruto [Masashi Kishimoto], Highschool DxD [Ichie Ishibumi], Grancrest Senki [Ryo Mizuno], Musaigaen no Phantom World [Soichiro Hatano], Tensei Shittara Slime Datta Ken [Fuse], Overlord [Kugane Maruyama]
Ditulis tanpa mengharapkan keuntungan materil sedikit pun
Genre: Fantasy, Hurt/Comfort, Action, Adventure, Family, Romance
Warning: Typo, gaje mungkin, masih jauh dari kata sempurna, OOC
Pairing: ?
Summary: Lahir karena pernikahan politik tanpa dilandasi cinta yang berujung sebuah perpisahan dan penghapusan keberadaannya… anak dari keluarga Earl Namikaze dan keluarga Marquess Lucifuge ini tak hanya dihapus keberadaannya tapi juga dibuang dan ditelantarkan oleh kedua orang tuanya. Namanya adalah Naruto, seorang bocah berusia 5 tahun yang nantinya akan tumbuh sebagai budak sekaligus orang yang terpilih untuk mewarisi gelar Monarch of Despair.
Jangan lupa review, favorite follow!
.
.
.
.
.
Chapter 9 : Ibu dan Anak
Dari dalam mansion milik Marquess Sitri, tepatnya di ruangan yang berada di lantai dua, Serafall memperhatikan rombongan Earl Villar Constance yang baru saja tiba. Hal pertama yang dia perhatikan adalah sosok Villar Constance yang ditemani penyihirnya, kemudian sesosok pemuda yang buru buru mengenakan jubah dan masker untuk menutupi wajahnya. Dia langsung menduga bahwa pemuda bernama Toruna ini tidak ingin menunjukkan wajahnya setelah melihat sebuah kereta kuda yang terparkir di halaman kediamannya.
"Kereta milik Lucifuge…?"
Orang orang yang dia perhatikan kini berjalan menuju pintu masuk kediamannya. Dan setelah dia rasa sudah waktunya untuk menyambut mereka, Serafall bergegas turun dari kamarnya yang ada di lantai dua ditemani pelayan pelayan setianya.
Sedangkan Naruto, Villar, Margaret, Rossweisse, Haruhiko dan Gazelle Stronoff baru saja memasuki kediaman besar milik Marquess Sitri. Jika dilihat dari luar, rumah itu terlihat megah dan besar tapi begitu mereka masuk ke dalam, bahkan itu terasa lebih megah. Mulai dari lantai, hiasan dinding termasuk setiap lukisan dan ornamen lainnya yang terpajang disana.
Semuanya bisa memukau kedua mata Naruto meski dia tidak menunjukkan nya lewat sebuah ekspresi.
"Selamat datang di kediaman keluarga Sitri, Villar-dono…"
Ucap Serafall memberikan salam selamat datang kepada Villar dengan senyumannya. Sikapnya sungguh berbeda jika dibandingkan saat Grayfia datang. Sebagai bangsawan dengan segala urusan yang ada, membuat Serafall harus menaati segala aturan, tata krama yang diajarkan untuk bangsawan bahkan terkadang kebebasan pun terkekang. Oleh karena itulah, sebagian dari mereka tidak bisa mengekspresikan diri sesuka mereka.
"Terima kasih sudah menerima kami, Serafall-dono…"
Balas Villar memberikan penghormatan balasan atas penyambutan Serafall yang terlihat baik. Saat itu tatapan mata Serafall tidak bisa untuk lepas dari Naruto yang berada di belakang Villar bersama dengan Rossweisse dan Haruhiko di sampingnya. Villar tentu menyadari arah pandangan yang ditunjukkan oleh Serafall.
"Apakah pemuda itu yang sedang ramai dibicarakan di Kerajaan terutama di wilayah [Artuk]?" tanya Serafall meski sebenarnya dia sudah tahu jawabannya.
"Tepat sekali, Serafall-dono… seperti yang sudah diperintahkan oleh Yang Mulia Strada, bahwa aku diminta untuk menjadi wali darinya. Dan sesuai dengan aturan dan sebagai bentuk rasa hormat kami, karena kami melakukan perjalanan ke Ibukota melewati wilayah [Trisia]… kami ingin menunjukkan rasa hormat kami kepada kediaman Marquess Sitri,"
Naruto menyadari sesuatu sejak awal. Bahkan jika Villar tidak melakukan hal semacam ini, seperti datang dan bertamu sambil memberikan hormat kepada kediaman Sitri, mereka pasti akan bertindak mengirimkan orang suruhan mereka selama perjalanan. Terlebih jika mengingat dua pihak dari pangeran pertama Michael dan putri pertama Shion, maka seharusnya tidak hanya Sitri namun perwakilan dari kubu putri pertama akan mengirimkan orang.
Tujuannya adalah untuk bernegosiasi dengan dirinya. Menarik seseorang yang tenar sebagai pahlawan masyarakat dengan usia semuda dirinya pasti akan membawa banyak dukungan dari kalangan masyarakat bawah. Terlebih dia akan diangkat sebagai bangsawan dan mungkin bangsawan termuda yang meraih gelar dengan kekuatannya sendiri mengalahkan sejarah yang diukir Earl Theo Cornaro.
"Apa bentuk penghormatan itu termasuk mengijinkan kami bicara dengan pemuda itu?"
Pertanyaan Serafall barusan sungguh berani. Dia memiliki maksud tersembunyi disana yang jika diartikan adalah bicara dengan maksud bernegosiasi. Tentu Margaret yang mendengar pertanyaan itu langsung mengernyitkan alisnya dan waspada meski masih dengan sikap yang terlihat tenang. Bahkan Rossweisse dan Haruhiko juga sadar maksud Serafall yang sebenarnya.
Mereka hanya tidak menyangka wanita itu dengan terang terangan menanyakan hal tersebut disaat mereka baru saja tiba.
"Tentu saja… tapi obrolan dengannya akan lebih menyenangkan jika ditemani makanan dan banyak orang… mungkin kita bisa saling bertukar pikiran…"
Villar menanggapinya dengan santai seolah mengubah maksud dari kata 'bicara' itu menjadi obrolan obrolan kecil yang ringan seperti sebuah acara minum teh yang dihadiri bangsawan. Serafall sendiri hanya tersenyum mendengar jawaban Villar yang menandakan penolakan secara halus. Sebenarnya dia tidak menolak, hanya menghindarinya.
Semua orang tentu paham bahwa senyuman Serafall itu bukanlah sebuah senyuman yang tulus dan mereka harus waspada karena nya. Apalagi jika mengingat keberadaan kereta kuda bangsawan lain di kediaman Sitri. Nampaknya alasan Sitri tidak menyembunyikan kereta kuda milik Lucifuge adalah karena mereka pikir hal tersebut memang tidak perlu disembunyikan.
"Boleh aku tahu kenapa pemuda itu harus menutupi wajahnya…?"
Pertanyaan itu langsung dijawab oleh Naruto sendiri.
"Maafkan saya, Serafall-sama… tapi saat ini identitas saya sedang saya rahasiakan dari orang luar,"
Meski sebenarnya Naruto yakin beberapa mata mata dari kubu pangeran pertama dan putri pertama sudah melihat wajahnya dari jauh saat mereka mengawasi [Artuk] atau ketika perjalanan menuju kesini. Yang dia khawatirkan semulanya adalah ayah dan ibunya, dia takut kedua orang tuanya mengenalinya meski dia sendiri ragu.
"Aku yakin kalian pasti lelah, pelayan akan mengantarkan ke ruangan kalian,"
"Terima kasih, Serafall-dono…"
"Hmm… dan Villar-dono, ada beberapa hal yang mungkin perlu kita bicarakan nanti setelah makan siang,"
"Hmm, pastinya merupakan hal yang penting mengingat situasi saat ini…" ucap Villar sedikit menyindir situasi Serafall.
Serafall hanya tersenyum mendengarnya sambil menatap Villar beberapa saat, kemudian dia meminta ijin untuk kembali ke ruangannya lagi. Para pelayan segera mengantarkan Villar, Naruto dan rombongannya ke kamar mereka masing masing untuk beristirahat. Dalam pikiran Naruto, ia merasa hari ini tidak akan berlangsung dengan cukup baik baginya. Kediaman Sitri jelas merupakan tempat yang membuat Villar tidak bisa mengendalikan situasi sepenuhnya.
'Lambang kereta kuda tadi… Lucifuge…' batin Naruto mengingat kereta kuda yang berada di halaman depan kediaman Sitri.
"Rossweisse, Haruhiko… jangan pernah kalian kurangi pengawasan kalian pada kondisi sekitar selama di kediaman ini," ucap Naruto berbisik sambil berjalan mengikuti pelayan yang akan mengantar mereka ke ruangan masing masing.
"Saya mengerti, Toruna-sama…"
"Ya, ya… aku tahu,"
Setalah itu mereka bertiga pergi ke ruangan masing masing. Hanya menunggu waktu sebelum jam makan siang datang. Sejauh yang Naruto amati pun, tidak ada hal hal aneh di kamar yang dia tempati. Dia juga belum menemukan tanda tanda kehadiran bangsawan Lucifuge di tempat ini. Yang anehnya adalah kenapa Serafall dengan sengaja mengisyaratkan pada Villar dan rombongannya termasuk dirinya bahwa bangsawan Lucifuge ada disini atau tepatnya di kota ini?
Naruto sadar akan hal tersebut. Sangat aneh bila bangsawan sekelas Marquess Sitri akan seceroboh itu bila mana keberadaan kereta kuda Lucifuge disana terbongkar secara tidak sengaja. Oleh karena itu, kemungkinan hanya satu… mereka sengaja memberitahukan entitas mereka di kota ini.
"Sungguh hal yang aneh… tidak ada keuntungan yang bisa mereka ambil dari memberitahukan keberadaan mereka sendiri kepada kami… justru hal itu membuat kami semakin waspada,"
Naruto memikirkan hal ini berkali kali namun tak kunjung menemukan titik temu hingga akhirnya rasa lelahnya memaksa dirinya untuk menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur. Sungguh nyaman, pikirnya saat dia bisa sesantai ini di tengah situasi yang dianggap berbahaya.
"Memikirkannya saja sudah membuatku lelah… lagipula Sitri serta Lucifuge dari kubu pangeran pertama hanya halangan perta-!"
Saat itulah dia sadar akan beberapa hal. Sitri dan Lucifuge memang sengaja menegaskan keberadaan Lucifuge di kota ini. Tujuannya bukan untuk dicurigai oleh Villar dan Naruto tapi untuk membuat kubu lainnya tidak bersikap kurang ajar. Ada kemungkinan pihak dari pendukung putri pertama sudah mengirimkan utusan mereka di kota ini untuk bernegosiasi dengan Naruto.
Tentunya, Lucifuge dan Sitri ingin menegaskan kekuasaan mereka di kota ini. Kabar mengenai sampainya Villar dan Naruto di kota ini pasti sudah diketahui oleh mereka. Karena itulah, Sitri dan Lucifuge membuat pilihan semacam ini.
"Hmm, jadi begitu… ini jadi semakin menarik,"
Meski dia kerepotan dengan segala urusan mengenai ini semua, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa dirinya juga sedikit tertarik dengan identitas orang yang dikirim oleh pihak putri pertama. Pastinya bukan orang biasa. Entah berapa jumlahnya yang jelas, dia atau mereka yang dikirim ini cukup memiliki keberanian menginjak wilayah musuh.
Semakin dia memikirkannya, dia hanya menjadi semakin penasaran.
"Tidak ada gunanya memikirkan hal itu sekarang…"
Akhirnya dia memutuskan untuk beristirahat sambil menunggu datangnya jam makan siang.
.
.
.
.
.
xxx0xxx
Waktu berjalan cukup cepat, Naruto bangkit dari tempat tidurnya begitu menyadari suara ketukan yang berasal dari pintunya. Disana dia mendengar seseorang memanggil nama samarannya 'Toruna'. Dari kedengarannya, menunjukkan dia adalah seorang wanita. Dari semua wanita yang Naruto kenal, hanya satu orang yang memiliki suara tersebut.
"Toruna-sama… anda di dalam?"
"Tunggu sebentar, Rossweisse…"
Naruto membukakan pintu kamarnya dan menemukan Rossweisse yang sudah menunggunya disana. Saat ini Naruto hanya mengenakan sebuah pakaian santainya yang cukup menunjukkan seberapa terlatih tubuhnya hanya dari menerawang pakaiannya. Hal itu menarik perhatian Rossweisse entah kenapa dan Naruto sedikit menyadari hal tersebut.
"A-Ah, maaf mengganggu anda, Toruna-sama… saya diminta untuk memanggil Toruna-sama untuk bergabung dengan Villar-sama dan Serafall-sama pada jamuan makan siang,"
"Aku mengerti… tunggu sebentar, aku akan mengganti pakaianku dulu,"
"B-Baik…"
Setelah dia rasa cukup dengan pakaiannya yang cukup bermartabat, Naruto pergi bersama Rossweisse menuju ruang makan dimana Villard an Serafall sudah menunggu keduanya. Tak hanya mereka berdua namun juga ada Margaret dan Gazelle juga disana. Sejauh ini, Naruto tidak melihat kehadiran Haruhiro. Yah mungkin itu lebih baik…
"Maaf membuat Villar-sama dan Serafall-sama menunggu…"
"Tidak apa apa… aku tahu perjalanan Villar-dono dan kalian cukup melelahkan…"
"Terima kasih atas pengertiannya, Serafall-sama…"
"Silahkan duduk…"
Setelah dipersilahkan duduk, Naruto duduk di kursi yang letaknya kebetulan ada di samping Gazelle. Setelah dirasa cukup dengan semua kehadirannya, pelayan membawakan banyak makanan untuk dihidangkan kepada mereka.
"Silahkan dinikmati…"
Semua itu sedikit formalitas selama jamuan makan siang berlangsung. Yang ditunggu Naruto bukanlah jamuan makan siangnya melainkan hal yang akan dibahas setelah ini. Setelah ini, Serafall pasti akan secara persuasive mempengaruhi Naruto. Entah setelah ini atau nanti. Yang jelas, malam hari pun bisa menjadi senjata Serafall dan pelayan pelayannya sebagai seorang wanita untuk membujuk Naruto, meski Naruto ragu hal itu akan terjadi.
Dan akhirnya saat yang ditunggu oleh Naruto tiba, tepat setelah mereka menyelesaikan makan siang dan pelayan membawa semua piring kotor pergi dari meja makan.
"Jadi, apa yang ingin anda bahas, Serafall-dono…?" tanya Villar membuka pembicaraan.
Naruto sedikit tidak menduga kalau Villar yang akan mengingatkan dan membuka pembicaraan yang sebenarnya diinginkan oleh Serafall. Serafall sendiri hanya memberikan sekilas tatapan terkejut pada Villar, dia sendiri juga tidak menduga tindakan Villar.
"Ah, terima kasih untuk Villar-dono sudah mengingatkan saya…"
Tatapannya beralih kepada Naruto seketika. Matanya terlihat serius menatap Naruto.
"Apa Toruna-kun tertarik untuk menjadi bagian dari pemerintahan Kerajaan yang mendukung pangeran pertama Michael?"
Seluruh orang yang hadir disana nampaknya cukup pandai menutupi raut wajah mereka yang ingin terkejut atas pertanyaan langsung dari Serafall. Awalnya mereka semua pikir, Serafall akan memulainya dengan sebuah basa basi panjang yang meski pada akhirnya juga akan mengacu pada pertanyaan ini.
"Menjadi bagian?" ucap Naruto seolah olah tidak mengerti.
"Ya, menjadi bagian…"
Villar memberikan tatapan tenang kepada Naruto seolah mereka berdua saling mengerti pikiran satu sama lain atau setidaknya itulah yang dipikirkan Villar sejauh ini. Villar sendiri tahu betul bahwa Naruto tidak ingin terlibat dengan semua urusan perebutan takhta ini, akan tetapi bisa berbahaya jika Naruto menolaknya secara frontal sekarang.
"Bisakah Serafall-sama menjelaskan 'menjadi bagian dari pendukung pangeran pertama' itu seperti apa?"
Serafall tersenyum menutupi ekspresi asli yang ingin dia tunjukkan kepada Naruto. Dia menatap wajah Naruto dalam dalam dan dia sadar bahwa tindakan tindakan balasan dari Naruto ini mengingatkannya kepada seseorang.
"Sejujurnya… jika tidak dijelaskan bahwa kau berasal dari kalangan masyarakat biasa, mungkin aku akan percaya jika kau bilang dirimu adalah seorang bangsawan. Perilaku dan jawaban jawbanmu benar benar mencerminkan tindakan para bangsawan yang terpandang, Toruna-kun…"
Naruto diam diam memberikan tatapan tajam yang mengisyaratkan bahwa dirinya waspada dengan wanita ini. Apakah wanita ini menyadari sesuatu dari dirinya. Saat ini, wajahnya tak tertutupi masker atau apapun, dia benar benar mengekspos wajahnya di hadapan Serafall. Dan hal ini membuatnya sedikit khawatir, jika saja wanita ini menyadari kemiripan antara dirinya dengan kedua orang tuanya.
"Apa hubungannya dengan 'menjadi bagian' itu, Serafall-sama? Saya tidak mengerti,"
"Maaf, itu hanya basa basi…"
Serafall kemudian membuat tatapan serius seusai menjawab pertanyaan Naruto barusan dengan santainya. Naruto sendiri juga bisa merasakan kelegaan di hatinya, karena dia sadar dirinya masih aman sejauh ini.
"Setelah dirimu diangkat menjadi bangsawan… kau akan ada sebagai pendukung pangeran pertama. Segala prestasimu, tindakan mu, popularitasmu akan digunakan sebagai media menambah kesan baik di mata masyarakat dan menjadi senjata dukungan bagi pangeran pertama,"
Sejujurnya Naruto tahu akan hal itu dan sebaliknya Serafall juga menyadari bahwa Naruto memahami nya juga. Dia hanya sedang mengulur ngulur waktu untuk mencari jawaban yang bisa membuatnya terlihat menolak namun tidak menyebabkan masalah. Dari yang dia dan Villar amati sejauh ini, dia tidak bisa hanya langsung memberikan jawaban 'Tidak'.
"Apakah itu artinya saya akan lepas dari naungan dan bimbingan Villar-sama…?"
Serafall sudah menyadari datangnya pertanyaan ini. Dia tidak boleh mengatakan kebenarannya dulu disini, dia harus menahannya hingga negosiasi berikutnya.
"Itu bisa kita bicarakan dengan para bangsawan yang mendukung fraksi pangeran pertama…"
Setidaknya jawaban inilah yang paling aman menurut Serafall untuk saat ini, agar Naruto tidak lepas dari jangkauan mereka. Fraksi pangeran pertama sadar betapa pentingnya posisi Villar bagi Naruto. Oleh karena itu, jika Serafall langsung menjawab dengan jawaban yang sekiranya akan diberikan atasan fraksi atas pertanyaan Naruto tadi, Naruto akan lepas sepenuhnya.
Villar benar benar memperhatikan jawaban yang diberikan oleh Serafall kepada Naruto. Yang buruknya lagi, Serafall sama sekali tidak memberikan sedikit pun ruang bagi Villar untuk masuk menyela.
'Dasar pembohong… kalian pasti akan berusaha melepaskan ku dari Villar Constance…"
Namun sayangnya, Naruto juga sadar dengan maksud Serafall ketika dia memberikan jawaban itu.
"Kalau begitu, bolehkah aku menjawab tawaran Serafall-sama setelah upacara pengangkatanku selesai?"
Naruto tidak kehabisan akal, jika Serafall ingin menutupi jawaban sesungguhnya, Naruto juga bisa melakukan hal yang sama dengan cara menahan jawaban yang bisa dia berikan hingga upacara pengangkatannya sebagai bangsawan selesai. Villar tersenyum mendengarnya, sedangkan senyuman di wajah Serafall sedikit menghilang ketika mendengarnya.
"Upacara pengangkatanmu sudah dipastikan… jadi kurasa tidak masalah jika kau memberikan jawabannya sekarang,"
"Tidak… bukan itu yang saya permasalah kan, Serafall-sama. Saya merasa belum pantas untuk memberikan jawaban sekarang, lagipula saya masih harus berpikir ke depan lagi seandainya saya menerima tawaran ini sekarang…"
Serafall paham sekarang. Sejak tadi sebenarnya Naruto sudah tahu bahwa jawaban sebenarnya bukanlah jawaban yang dia berikan. Sudah jelas Villar pasti memberitahu kepada Naruto situasinya jika dia menerima tawaran untuk masuk ke fraksi pangeran pertama. Tidak peduli apa yang terjadi Villar tidak akan masuk ke salah satu kubu dan karena itulah, mereka harus melepaskan Naruto dari Villar Constance.
"Jadi begitu…"
Villar tersenyum kembali.
"Kurasa semuanya memang harus diputuskan setelah Toruna-kun setelah dia bisa mengurus wilayahnya sendiri…" ucap Villar mempertegas.
Serafall hanya semakin terpojok ketika Villar ikut berbicara. Naruto sendiri bernafas lega setelah Villar memberikannya sedikit bantuan untuk menolak secara halus tawaran Serafall. Yang mengejutkan bagi mereka sekarang adalah suara langkah kaki yang tiba tiba masuk ke ruang makan. Mereka yang menyadari suara tersebut langsung menoleh ke arah seorang wanita cantik berambut putih panjang yang terlihat melambangkan sosok wanita bangsawan dewasa.
"Aku sudah tahu kau akan gagal, Serafall…"
Semua orang yang duduk disana terkejut terutama Naruto yang tidak menyangka akan melihat wajah itu lagi setelah sekian lama. Wanita itu berjalan melewati kursi Serafall, Gazelle, Rossweisse dan akhirnya Naruto. Dia melihat kursi kosong di sebelah Naruto, lantas dia menarik kursi tersebut dan duduk disana. Naruto terdiam tidak tahu harus berkata apa.
"Jadi bisakah anda menjelaskan kenapa, Marquess Grayfia Lucifuge-dono ada disini, Serafall-dono?" tanya Villar dengan ekspresi wajah yang tidak senang.
"Tidak perlu memasang ekspresi semacam itu, Villar-dono… aku datang hanya untuk membantu Serafall,"
Villar mengerti akan ucapan Grayfia mengenai 'membantu Serafall'. Dia datang kesini bertujuan mengajak dengan cara yang lebih memikat dan mempersulit keadaan bagi Villar. Margaret yang duduk di sebelah Villar terlihat mengerutkan dahinya ketika menatap tingkah laku Grayfia sekarang.
"Jadi, pemuda ini yang bernama Toruna… pemuda yang disebut sebut sebagai calon bangsawan muda yang melampaui prestasi Pahlawan Pembebasan dan Pemberontakan dari wilayah [Sistina], Earl Theo Cornaro…"
Grayfia memperhatikan Naruto yang sedang terdiam dengan ekspresi dingin dan tatapan mata yang tajam.
"Masih sangat muda… usia 15 tahun… dengan penampilan menawan dihiasi dengan rambut yang memiliki warna seperti milik keluarga Lucifuge.."
Sejatinya warna asli rambut Naruto adalah pirang kuning, akan tetapi sejak merubah jati dirinya menjadi Toruna, dia harus menemukan penyamaran sederhana yang sekiranya mampu membuat keluarganya tidak menyadari identitas aslinya. Caranya adalah dengan merubah warna rambutnya menjadi putih.
"Kau akan cocok menjadi bagian dari Lucifuge, Toruna-kun…"
Ucap Grayfia seperti seorang bangsawan besar sambil memperhatikan pemuda yang sebenarnya adalah anak kandungnya sendiri.
'Sudah kuduga kau tidak akan mengenali wajah anakmu sendiri…' batin Naruto memberikan tatapan tajam kepada Grayfia.
Grayfia sendiri cukup terkejut mendapatkan tatapan semacam itu dari Naruto. Sebelumnya dia tidak pernah melihat ada pria yang akan menatapnya seperti itu apalagi seorang bangsawan baru seperti Naruto. Ada sedikit perasaan di hati Grayfia ketika melihat wajah pemuda di depannya ini. Dia merasa tidak asing entah kenapa.
Bagi Naruto sendiri, dia cukup merasakan sakit ketika orang yang melahirkannya ke dunia ini ternyata tidak mengenalinya sama sekali meski sudah berpisah lama. Yang ada di hatinya sekarang hanya perasaan benci dan bingung yang bercampur jadi satu. Bimbang memutuskan, apakah dia harus senang atau sedih.
"Tatapan yang menakutkan…"
'Aku bersumpah akan memberimu hal lain yang lebih menakutkan di masa depan… tapi tidak sekarang…' batin Naruto mengatur kembali emosinya.
"Saya merasa terhormat, Grayfia-sama datang kemari untuk diriku…"
Setelah Naruto kembali mendapatkan ketenangan dalam dirinya, dia memberikan salam yang pantas kepada Grayfia sebagai mana mestinya. Rossweisse yang duduk di sebelah kanan Naruto sejujurnya juga terganggu dengan tingkah Grayfia yang terlihat benar benar tertarik pada Naruto.
"Tentu saja, aku sebagai perwakilan dari fraksi pangeran pertama sudah tugasku untuk membawa pemuda potensial sepertimu ke pihak kami…"
"Lalu apakah aku memiliki opsi untuk menolak?"
Naruto menjawabnya terangan terangan kali ini.
"Kita lihat… atas dasar apa kau berpikir menolak tawaran kami itu hal yang tepat? Fraksi pangeran pertama memiliki dukungan dari sejumlah besar bangsawan besar di Kerajaan… Villar-dono pasti sudah memberitahumu kan?"
"Begitu pula dengan fraksi putri pertama yang memilik bangsawan dengan reputasi yang sama besarnya,"
Grayfia cukup kesal dengan pemuda di hadapannya lama kelamaan dalam beberapa hal semacam ini. Tapi dia menginginkan pemuda ini lebih dari siapapun. Hal pertama yang dia dapatkan jika pemuda ini bergabung dengan fraksi pangeran pertama, terlebih lagi tunduk dalam arahannya dan menjadi miliknya, dia akan memiliki pengaruh serta peluang besar untuk membalas mantan suaminya.
Itu pun terlepas dari ketidaktahuannya mengenai fakta bahwa pemuda yang kini tengah dirayu nya adalah anaknya sendiri.
"Hmm… kurasa sulit membujukmu masuk ke dalam fraksi kami mengingat kau memiliki mentor yang luar biasa…"
Ucap Grayfia yang secara tidak langsung juga memuji Villar.
"Terima kasih atas pujiannya, Grayfia-dono… tapi kurasa Toruna-kun sudah menegaskan bahwa dia tidak akan memberikan jawaban sebelum upacara pengangkatannya selesai…"
"Apakah benar seperti itu, Toruna-kun?"
"Itu benar…"
Grayfia hampir kehilangan akalnya untuk menarik Naruto ke sisinya. Lalu dia teringat dengan hal yang diinginkan oleh semua pria di dunia atau setidaknya salah satu hasrat terbesar mereka. Jawabannya adalah wanita…
Selama 7 tahun terakhir, Grayfia sudah mengangkat empat anak perempuan untuk menjadi anak angkatnya. Ketiganya adalah murid dari Akademi Ksatria Bangsawan Kerajaan, nama kedua gadis itu adalah Sakura, Shizuka, Xenovia dan Irina. Keempatnya adalah gadis cantik dengan kemampuan luar biasa di bidang mereka. Mereka juga cukup mampu untuk melindungi diri sendiri dan bisa menjadi sosok pendukung dalam peran mereka sebagai istri.
Ya, niat Grayfia sekarang adalah menawarkan satu putri angkatnya kepada Toruna. Meski dia terlihat seperti lelaki yang penuh ambisi dan tidak peduli dengan hal semacam itu, mungkin masih ada kesempatan.
"Bagaimana dengan menikahi salah satu putriku?"
Villar cukup bingung mendengarnya. Dia rasa hal semacam itu tidak akan mempengaruhi pikiran Naruto. Di lain sisi, Naruto justru terkejut dengan pernyataan Grayfia.
"P-Putrimu?"
Tentu saja Naruto terkejut, dia sama sekali tidak mengetahui kalau Grayfia yang notabene nya adalah ibunya, memiliki seorang anak lain selain dirinya.
"Ya… mereka adalah anak angkatku yang kubesarkan sejak 7 tahun terakhir,"
Naruto tidak percaya dengan apa yang dikatakan ibunya. Dia mengangkat seorang anak, sedangkan dia melupakan kalau anak kandungnya tengah menderita selama masa masa itu.
"Tidak buruk, kan? Keempat anak perempuanku memiliki paras yang cantik… dan memiliki kemampuan yang mumpuni untuk mendukungmu, setidaknya kurasa mereka seusia denganmu,"
Ucap Grayfia sambil melirik ke arah Rossweisse yang memasang wajah kesal. Naruto hanya terdiam menunduk dengan ekspresi dingin tidak percaya dengan apa yang dia dengar barusan. Wanita ini benar benar sudah melupakannya atau sejak awal… dia tidak pernah peduli?
"Ketahuilah… Villar-dono bukan satu satunya bang-"
"Tutup mulutmu!" ucap Naruto pelan namun terdengar tajam dan begitu dingin sama halnya dengan ekspresi yang ditunjukkannya kepada Grayfia.
Tatapan itu menghasilkan sebuah perasaan buruk di hati Grayfia entah kenapa. Banyak dosa yang telah dilakukan oleh Grayfia selama hidupnya entah dia menyadari nya atau tidak, namun yang pasti dia tidak merasakan hal yang diperbuatnya itu salah. Dia juga melihat banyak sekali contoh kejahatan yang dilakukan para penjahat dunia yang diibaratkan 'Perbuatan Iblis'. Namun baru kali ini dia merasa… dia sedang ditatap oleh entitas yang jauh lebih mengerikan daripada iblis.
"K-Kau…"
Mulutnya sulit bergerak, perasaan yang sepintas dia rasakan itu nyata namun terasa seperti ilusi.
"Toruna-kun…"
"Jaga mulutmu, bocah!" ucap Serafall.
Naruto menarik kembali amarahnya dan sepenuhnya mengendalikan lagi emosinya. Gazelle dan Rossweisse sendiri juga merasakan hal yang buruk ketika Toruna meminta Grayfia untuk menutup mulutnya.
"Maafkan aku, Grayfia-sama… Serafall-sama… tapi menawarkan anak gadismu seperti itu, bagiku adalah perbuatan yang kurang pantas untuk dilakukan,"
Grayfia belum sadar sepenuhnya setelah dia menerima tekanan semacam itu. Yang menyadarkannya adalah ucapan permintaan maaf dari Naruto. Dia terlihat bingung entah kenapa, seolah dia melupakan apa yang terjadi barusan dan tidak mau mengingatnya. Sebuah perasaan yang selama beberapa tahun terakhir menghantui jauh di dalam hatinya. Rasa takut.
"Ah, lupakan saja apa yang kukatakan barusan…"
Naruto mengangguk tanda memahami. Satu satunya yang curiga disana sekarang hanyalah Villar Constance. Sejujurnya dia melihat apa yang terjadi barusan, dia juga mengenali ekspresi wajah yang ditunjukkan oleh Grayfia. Memang tidak salah lagi kalau itu adalah perasaan ketakutan.
"Hmm…"
Villar sadar bahwa aura mengintimidasi barusan keluar dari Naruto.
"Menarik…"
"Grayfia-sama… ini mengingatkanku dengan satu hal… diberitakan bahwa kau pernah menikah dengan Earl Namikaze Minato dan akhirnya bercerai karena dikatakan Earl Namikaze gagal melindungi keluargamu dari serangan Kerajaan tetangga."
Naruto kali ini sedikit terbawa emosi dan ingin menekan wanita ini lebih jauh. Dia juga ingin tahu jawaban semacam apa yang akan diberikan oleh wanita ini.
"Hentikan sikapmu yang kurang ajar!" kata Serafall tegas.
Namun Grayfia menghentikan Serafall untuk tidak bertindak dan mengganggu.
"Untuk apa kau membahas hal itu?"
"Anda mengatakan keempat anak perempuan anda adalah anak angkat. Apakah itu artinya anda tidak pernah memiliki seorang anak dari hasil pernikahan anda dengan Earl Namikaze?"
Grayfia terdiam selama beberapa saat sambil menatap Naruto. Sampai saat ini pun, Grayfia juga tidak mengetahui kalau pemuda yang bertanya kepadanya saat ini adalah anak kandungnya yang dia buang dan dia telantarkan. Tentu saja untuk menjaga reputasinya dan membuang hal yang dianggap kotor baginya, dia akan memberikan jawaban…
"Tidak, aku tidak pernah memiliki atau melahirkan seorang anak dari pernikahanku dengan Earl Namikaze… ada pertanyaan lain?" jawabnya dengan sebuah senyuman.
Naruto terdiam selama beberapa detik sebelum akhirnya sebuah senyuman terukir di wajahnya.
"Ah, cukup disayangkan… maaf jika sudah bertanya"
"Tidak apa apa… jika itu bisa membantumu dan membuatmu semakin tertarik untuk bergabung ke fraksi pangeran… maka akan kujawab dengan jujur,"
'Jujur ya…'
Senyuman itu tidak hilang dari wajahnya.
"Tapi jika dilihat lihat mungkin kalau anda memiliki seorang anak… dia akan mirip dengan Toruna sekarang, bukan… apalagi dengan rambut putih itu…"
"Fufufu… aku pasti akan bahagia jika memiliki anak seperti Toruna-kun. Tidak hanya mencetak prestasi besar di usia muda tapi juga dirumorkan akan menjadi bangsawan besar di masa depan…"
'Aku disini… anak yang kau inginkan… yang bisa membuatmu bahagia… namun kau buang begitu saja…' ucap Naruto dalam hatinya tersakiti.
Rasanya dia ingin berteriak hingga ke surga, mengutuk segala hal yang terjadi kepadanya dan menghancurkan rantai takdir itu sendiri. Ibu nya sendiri, wanita yang melahirkannya bahkan tidak menginginkannya dan menganggap dirinya seolah kotoran, dosa, sampah yang harus dia buang. Bahkan hingga pertemuan mereka setelah sekian lama, sedikit pun… wanita di hadapannya tidak mengingat wajahnya. Dia benar benar merasa dihancurkan dari dalam namun tidak bisa mengekspresikannya karena posisinya disini.
"Satu hal lagi… Grayfia-sama…"
Villar dan Serafall memperhatikan…
"Aku tidak bisa bergabung karena aku memutuskan untuk berada di bawah naungan Villar-sama, tapi aku bisa memberikan sedikit bantuan kepada pangeran dengan beberapa syarat…"
Villar mengernyitkan alisnya sedikit terkejut sama seperti Margaret, Rossweisse dan Gazelle. Serafall justru tidak mengerti kenapa tiba tiba Naruto mengubah keputusannya. Barusan saja, Naruto memikirkan ide gila lain yang bisa membantunya mendaki posisi yang diinginkannya dengan lebih cepat.
Dia baru saja dihancurkan dan dia tidak peduli sekarang, meski dia harus memanfaatkan dan mengorbankan wanita di depannya. Daripada tertahan oleh emosinya, Naruto merasa putus asa dan akhirnya membuang perasaannya sebagai seorang putra demi tujuannya. Grayfia sendiri tersenyum ketika mendengar Naruto akhirnya tertarik.
"Bantuan?"
"Ya… bergabungnya diriku dengan fraksi pangeran pertama bukan satu satunya cara untuk menaikkan pandangan bagus dan dukungan masyarakat pada pangeran pertama. Aku memiliki sebuah cara…"
"Jangan terlalu percaya diri, bocah!" sejak tadi Serafall semakin tidak suka dengan sikap Toruna yang mulai kurang ajar.
"Tidak, mari kita coba dengarkan pemuda ini, Serafall… mungkin bukan hanya prestasi nya di [Mandra] saja yang membuatnya berharga," ucap Grayfia sambil melirik ke arah Villar.
Naruto tentu tidak akan memberikan hal hal semacam penemuan yang dia buat mengenai revolusi dari penerapan sihir pada benda mati. Dia akan menawarkan ide lain yang ada di otaknya demi menunjang kebutuhan Grayfia dan bangsawan fraksi pangeran pertama.
'Akan kubuat kalian saling menghancurkan…'
TBC
.
.
.
Author Note :
Yo, Shiba desu… atau lebih tepatnya sekarang Hanakusa? Bang, kenapa ada FI nya? Karena ya, ku member dari grup Fanfiction Indonesia yang dibuat oleh author Eins. Itu author nya Golden Magic. Silahkan bagi yang mau join, bisa hubungi sang author tersebut, syaratnya sih setahuku harus punya akun fanfiction. Lebih cepat, lebih baik karena menurutku grup itu adalah grup terbaik dari semua grup yang berisi penghuni fanfiction untuk sekarang.
Itu sedikit promosi, selanjutnya ku mau bahas fic ini saja. Dimulai dari, hmm… ah ya maaf, ku baru update… sumpah sibuk! Tadinya ku mau update Symbol of Revenge tapi mendadak gaada mood sama fic itu, akhirnya ku update yang ini. Hmm, maaf kalau alurnya yang ini terlalu lambat dan maaf kalau kalian protes sama plotnya. Ya kalau tidak suka bisa silahkan kalian diam saja, tidak usah menghina, mendingan kalau kritik membangun tapi kalau cuma mau ngata ngatain ya skip lah gak bakal gua baca reviewnya.
Hmm, sampai mana tadi… ah ya chapter depan hmm, mungkin sampe di Ibukota dan masuk upacara pengangkatan gelar kebangsawanan. Yang jelas Arc Prolog + 1. Pengangkatan Gelar Bangsawan ini yang dimulai dari chap 1-2 untuk prolog lalu 3-9 untuk Arc 1 ini bakal kuakhiri di chapter 11-12 mungkin?
Ya dan terserah gimana pandangan kalian sama Grayfia yang muncul + bagaimana Naruto menyikapinya. Ku gak akan reveal identitas Naruto secepatnya sih, palingan masih lama… yaudah itu aja sih… selanjutnya gua mungkin update Lord of Apocalypse hmm? Atau ini lagi? Atau Fate aja ya? Ya sudahlah…
Ohh dan maaf kalau ada typo, ga sempet ngecek ulang.. sibuk gan
See u in next chap
