Monarch of Despair

Rate: M

Disclaimer: Naruto [Masashi Kishimoto], Highschool DxD [Ichie Ishibumi], Grancrest Senki [Ryo Mizuno], Musaigaen no Phantom World [Soichiro Hatano], Tensei Shittara Slime Datta Ken [Fuse], Overlord [Kugane Maruyama]

Ditulis tanpa mengharapkan keuntungan materil sedikit pun

Genre: Fantasy, Hurt/Comfort, Action, Adventure, Family, Romance

Warning: Typo, gaje mungkin, masih jauh dari kata sempurna, OOC

Pairing: ?

Summary: Lahir karena pernikahan politik tanpa dilandasi cinta yang berujung sebuah perpisahan dan penghapusan keberadaannya… anak dari keluarga Earl Namikaze dan keluarga Marquess Lucifuge ini tak hanya dihapus keberadaannya tapi juga dibuang dan ditelantarkan oleh kedua orang tuanya. Namanya adalah Naruto, seorang bocah berusia 5 tahun yang nantinya akan tumbuh sebagai budak sekaligus orang yang terpilih untuk mewarisi gelar Monarch of Despair.

Jangan lupa review, favorite follow!

.

.

.

.

.

Chapter 11 : Ibukota Kerajaan Lamia, Lumina

19 November X615, Kalender Kerajaan Lamia

Perjalanan Villar beserta rombongan nya menuju Ibukota masih belum selesai. Sudah sehari sejak mereka meninggalkan wilayah [Trisia] yang dikuasai oleh Marquess Sitri.

Kunjungan mereka disana tidak bisa dianggap baik, namun juga tidak bisa dianggap buruk, tergantung darimana manusia melihatnya. Masing masing dari mereka pasti memiliki opini, terlebih jika mengingat hasil kunjungan Villar dan Naruto berujung sebuah kesepakatan mereka dengan Serafall dan Grayfia.

Silau terang matahari membangunkan Haruhiko dari tidurnya. Dia menguap sambil meregangkan tubuhnya, lalu setelah dia mendapatkan seluruh kesadarannya, dia memeriksa sekitarnya. Yang duduk di hadapannya adalah Naruto dan Rossweisse yang masih tertidur dengan posisi kepala yang ia sandarkan di bahu Naruto.

Melihat hal itu, Haruhiko hanya memasang tampang bodoh. Kemudian Naruto memberi isyarat dengan jari telunjuk yang ia tempel di bibirnya, menandakan dia meminta Haruhiko untuk diam dan tak membangunkan Rossweisse.

Haruhiko mengangguk paham dengan wajah malasnya. Naruto sendiri tidak keberatan dengan ini, karena dia sadar betul betapa melelahkannya perjalanan ini. Apalagi wanita di sebelahnya ini harus menerima beban yang begitu banyak setelah menjadi pelayannya.

Naruto berani bertaruh, Rossweisse sebenarnya lelah dengan semua hal mengejutkan yang Naruto tunjukkan kepadanya. Mulai dari menaklukkan paus iblis, membuat kesepakatan dengan [Grigori], menjadi bawahan Villar, mendapat panggilan dari Raja lalu membuat perjanjian dengan Sitri dan Lucifuge.

Dia sendiri tidak menyangka akan berjalan semudah ini. Meskipun tetap ada beberapa hal kecil yang tidak sesuai dengan harapannya, tapi secara keseluruhan… rencana nya masih lancar lancar saja.

"Ngghhh…"

Suara desahan dari Rossweisse tiba tiba saja menggelitik telinga Naruto dan Haruhiko. Wajah Haruhiko memerah dalam posisi masih mempertahankan ekspresinya yang malas, sedangkan Naruto hanya tersenyum kecut.

Tak lama kemudian, Rossweisse perlahan mendapatkan kembali kesadarannya. Dia terkejut dengan posisinya yang sudah memeluk tangan Naruto sambil bersandar di bahunya. Dengan panik, dia segera menjauhkan dirinya dari Tuan nya.

"Uwaahhh… maafkan kelancanganku, Toruna-sama!"

"Ah, aku tidak keberatan. Santai saja… aku mengerti kalau kau kelelahan,"

Bohong jika Rossweisse mengatakan dirinya tidak tersipu malu, hal itu diperhatikan benar benar oleh Haruhiko yang sekarang sedang memasang ekspresi mengejek dan menggoda ke arah Rossweisse. Perempuan yang sadar oleh tatapan Haruhiko itu, membalasnya dengan sebuah pukulan tanpa peringatan.

"Apa kita sudah sampai di Ibukota?" tanya Rossweisse.

"Umm… sepertinya,"

Rombongan Villar bergerak terus ke arah sebuah kota besar yang dikelilingi dengan benteng setingi 20-30 meter kurang lebih, yang diharapkan mampu digunakan sebagai bentuk pertahanan dari kota tersebut. Kota itu tak lain adalah Ibukota Kerajaan Lamia, atau lebih dikenal dengan sebutan saat ini sebagai Ibukota [Lumina] sesuai dengan nama mereka yang memimpin.

Gerbang masuk ke dalam Ibukota sekarang diisi oleh antrean kereta kuda yang panjang, para pedagang dan orang orang yang ingin mengadu nasib di Ibukota [Lumina]. Seolah tidak mau menunggu, nampaknya Villar memerintahkan utusannya untuk melaporkan kedatangannya pada penjaga gerbang agar dia dan rombongannya bisa segera masuk tanpa harus menunggu antrean.

"Uwaaaa… bangsawan benar benar bisa berbuat egois," komen Haruhiko dengan ekspresi datar saat dia melihat orang orang yang ada di depan rombongan mereka, membukakan jalan.

"Walaupun terkesan arogan, tapi untuk saat ini… hal itu diperlukan, Haruhiko. Ingatlah bahwa kita adalah tamu Raja hari ini,"

Usai membalas komentar Haruhiko, Naruto kembali melihat ke luar melalui jendela dari dalam kereta kuda karena merasakan kehadiran lain yang mengawasi mereka. Sebenarnya firasatanya sudah tidak enak sejak mereka meninggalkan [Trisia]. Dia sudah menduga kalau bangsawan Sitri akan mengutus beberapa orangnya, tetapi dia merasakan kehadiran lain yang tidak berasal dari Sitri.

'Firasat apa ini… perasaan diawasi oleh sepasang mata yang bahkan ku tidak yakin berasal dari mana,' batin Naruto.

Kemudian sekali lagi, dia menganalisa apa yang dirasakan olehnya. Bila ada kemungkinan, dia dan rombongan Villar diawasi oleh pihak yang berbeda dengan faksi pangeran pertama Michael, sudah pasti jawabannya berasal dari faksi putri pertama, Shion. Apa mungkin Duke Uchiha atau Duke Senju mengirimkan pasukan juga? Dengan perasaan seperti ini…

'Mungkin kah… [Byakugan]?'

[Byakugan], sebuah sihir yang hanya dimiliki oleh keturunan murni dari keluarga Earl Hyuuga. Sihir ini memberikan semacam kemampuan kepada kedua mata milik keturunan Hyuuga untuk melakukan hal hal menakjubkan, seperti contohnya bisa melihat segalanya hingga radius 5 km, melihat aliran sihir tubuh lawannya, serta mampu mendukung berbagai kemampuan tempur jarak dekat. Sihir ini sangat ideal untuk digunakan dalam memata matai musuh.

"Entah kenapa, aku tidak terkejut kalau keluarga itu juga ada di pihak putri pertama…" ucapnya pelan.

"Uhm…? Ada apa, Toruna-sama?" tanya Rossweisse yang samar samar mendengar Naruto bicara.

"Ah, tidak ada…"

Hanya butuh waktu beberapa saat untuk rombongan mereka melewati orang orang di depannya dan masuk melewati gerbang pertahanan Ibukota [Lumina]. Tanpa ada nya perintah dan peringatan, Naruto keluar dari kereta kuda dan menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana pemandangan Ibukota Kerajaan Lamia.

Matanya terbuka lebar karena pemandangan kota, bangunan hingga Istana Kerajaan yang letaknya jauh dari daerah pinggiran tempatnya menginjakkan kaki sekarang. Sebuah istana besar dengan arsitektur yang indah, tidak berlebihan juga tidak membosankan untuk dipandangi berjam jam. Rumah rumah di daerah pinggiran yang ada di sisi kanan dan kiri jalan pun terlihat terawat dengan baik, seolah kota ini tidak memiliki daerah kumuh.

Aktivitas perekonomian di sekitar sana juga berjalan dengan baik, dia berjalan bersama dengan rombongan kereta kuda dan melihat ke salah satu cabang jalan utama yang diisi banyak pedagang dengan barang dagangan yang mereka jual serta konsumen yang akan membeli dagangan mereka. Tempat itu adalah pasar, salah satu dari sekian pasar yang ada di Ibukota.

"Mereka berjualan di pinggiran jalan di sepanjang jalan cabang itu ya…"

Bahkan meskipun pasar itu adalah sebuah pasar yang letaknya berada di pinggiran kota, mereka cukup teratur dengan pengawasan sejumlah pasukan Ibukota yang dikerahkan untuk menjaga keamanan sehingga pembeli pun juga merasa aman.

"Roda perekonomian di Ibukota berjalan dengan baik, kurasa hasil pertanian dan perkebunan di Ibukota juga baik, seperti yang diharapkan…"

Dia sendiri penasaran dengan pasar lain seperti apa, tapi Ibukota terlalu luas untuk dia jelajahi dalam waktu yang singkat. Bagaimana dengan bidang bidang lainnya seperti kesehatan dan pendidikan? Sejauh yang ia ketahui, jumlah orang yang bisa menghitung penjumlahan dan pengurangan sederhana atau sebut saja matematika dasar di Kerajaan Lamia adalah 60% dan yang bisa membaca hanya 40%.

"Adakah yang ingin kau tanyakan?" tanya seseorang mengagetkan Naruto.

"A-Ah, Margaret-san..."

"Aku diminta oleh Villar-sama untuk menjawab pertanyaan yang mungkin muncul di kepalamu saat melihat kondisi Ibukota,"

Seperti yang diharapkan dari Villar, dia bahkan mengerti hanya dengan melihat dari dalam kereta kuda. Ketika Villar melihat Naruto yang jarang sekali menunjukkan antusias tiba tiba keluar dari kereta kudanya, itu artinya dia menaruh minat kepada kondisi Ibukota.

Mungkin dia memiliki banyak pertanyaan juga, oleh karena itu, dia meminta Margaret, penyihir kebanggaannya untuk turun dan berjalan bersama Naruto dengan tujuan agar Naruto bisa bertanya kepada Margaret.

"Ano… aku ingin tau rasio jumlah orang yang bisa melakukan matematika dasar dan membaca di Ibukota,"

"Baiklah… rata rata orang yang bisa melakukan matematika dasar di Kerajaan adalah 6:10 sedangkan membaca sekitar 4:10, tapi untuk Ibukota [Lumina] sendiri memiliki rasio yang lebih tinggi, untuk mereka yang bisa melakukan matematika dasar sekitar 7:10 dan membaca sekitar 5:10. Hal ini adalah prestasi yang ditorehkan oleh Tuan Putri Pertama Kerajaan, Shion 'Lamia' Strada dalam waktu satu tahun ini,"

Setelah mendengar nama Tuan Putri Pertama Kerajaan, Shion… Naruto menaruh perhatiannya. Itu artinya dia menaikkan jumlah orang yang bisa membaca dan melakukan matematika dasar hingga 10% hanya dalam waktu satu tahun. Ini prestasi yang bagus.

"Bagaimana cara Shion-sama melakukan hal itu?"

"Hmm… awalnya hal itu dianggap sebagai sesuatu yang sia sia oleh para bangsawan yang menganggap diri mereka adalah kaum superior, tapi dengan sikap yang baik… Shion mempertahankan pendapatnya. Bagi dirinya rakyat adalah aset Kerajaan yang penting, Kerajaan akan bisa maju jika pendidikan masyarakat nya juga baik. Dia dengan baik mampu mengurangi jumlah mereka yang buta huruf dan tidak bisa melakukan matematika dasar,"

Pendapat yang bagus, sejujurnya Naruto setuju dengan apa yang dikemukakan oleh Shion. Dia juga yakin sebagian bangsawan yang memiliki kecerdasan dalam mengambil keputusan dan bertindak dalam upaya mengembangkan wilayahnya jadi lebih baik juga setuju dengan pernyataan Shion. Apa ini akan jadi pertimbangan dirinya memilih faksi?

"Sangat baik, dia sangat tau apa yang diperlukan untuk maju… lalu bagaimana dengan pengendalian kota? Seperti sistem tata ruang di Ibukota? Apa Shion-sama juga?"

"Tidak, hal itu adalah upaya dan hasil kerja keras Pangeran Michael. Dia berbakat dalam hal itu, sosoknya dikenal elegan, penuh wibawa dan ramah kepada masyarakat. Tak hanya itu, saat ini pun Ibukota sedang mengembangkan sistem baru yang diusulkan oleh Michael-sama,"

"Sistem baru?"

"Pada awalnya, guild hanya ada satu jenis untuk para petualang dan penyihir, tujuannya adalah untuk memberi pekerjaan atas permintaan yang dikirimkan orang orang dan nantinya para petualang itu akan menerima upah hasil permintaan atau quest, tapi kemudian Michael-sama melihat bahwa sistem guild ini bisa dirubah ke bentuk lain yang mampu memberikan kemudahan ke banyak orang, terutama pedagang yang sering berpergian dari satu kota ke kota lain. Sesuatu yang mirip dengan guild tapi memiliki fungsi untuk menyimpan uang dari anggotanya, menarik uang dari simpanan nya dan membuat pinjaman uang dengan jaminan barang atau harta lain,"

Ketika mendengarkan penjelasan Margaret, Naruto membuka matanya lebar lebar. Itu adalah sistem yang sebelumnya pernah dipikirkan oleh Naruto untuk diterapkan di wilayahnya kelak. Dan ternyata sistem itu sendiri mulai diterapkan di Ibukota Kerajaan. Wilayah Ibukota sendiri sebenarnya sangat luas dan terdiri dari banyak kota di dalamnya. Tapi untuk Ibukota Pusat, kota [Lumina] terdiri dari gabungan 4 kota besar dengan patokan wilayah utara, selatan, timur dan barat. Dan saat ini rombongan Villar berada di wilayah timur.

Rombongan mereka secara kebetulan melewati salah satu bangunan dengan nama 'Lumina Bank'. Bentuk bangunannya tidak jauh berbeda dengan guild tapi bangunan ini adalah salah satu representasi dari sistem yang dicetuskan oleh Michael.

'Jadi ternyata pangeran dan putri Kerajaan memang bukan orang dengan pikiran dangkal belaka… keduanya berperan besar dalam kemajuan Ibukota bahkan Michael-sama bisa menyadari bentuk lain dari guild yang mampu mempermudah kebutuhan pedagang… mengesankan… seperti yang diharapkan dari seorang pangeran. Kurasa dalam hal pengembangan sistem kota, dia selangkah lebih maju dariku untuk saat ini,'

Setelah itu, dia bertanya banyak hal seputar Ibukota beserta pengaruh pengaruh yang ada dari entitas Michael dan Shion, Naruto cukup puas dengan jawaban jawaban yang diberikan oleh Margaret. Dia banyak mempelajari hal baru dari sana. Nampaknya masih sangat jauh bagi dirinya untuk mendekati kekuatan nyata dari Kerajaan.

"Toruna-sama!" panggil Haruhiko dan Rossweisse menyusul Naruto yang sedang berjalan bersama Margaret.

"Ah, mereka berdua… kalau begitu saya mengucapkan terima kasih kepada Margaret-san karena sudah menjawab pertanyaan saya…"

"Tidak perlu berterima kasih, itu yang diinginkan Villar-sama,"

Kemudian, Naruto undur diri dari hadapan Margaret dan menemui kedua pengikutnya. Dia menatap sekilas ke berbagai arah di sekitarnya, memastikan bahwa dia tidak akan melupakan pemandangan kota itu dan kemudian mengajak keduanya pengikutnya masuk ke dalam kereta kuda.

.

.

.

.

.

Akhirnya mereka mencapai Istana Kerajaan Lamia yang memiliki keamanan yang benar benar ketat. Seluruh rombongan di periksa sebelum mereka bisa masuk ke dalam wilayah Istana Kerajaan. Gerbang besar terbuka dan rombongan Villar masuk ke dalamnya. Setelah dipersilahkan untuk turun dari kereta kudanya, Naruto dan kedua pengikutnya keluar. Mereka semua disambut oleh para pelayan Istana.

"Toruna-sama dan kedua pengikutnya, silahkan ikut saya…"

Nampaknya ada hal lain yang harus dilakukan sebelum bertemu dengan Raja. Secara garis besar, mereka meminta rombongan Villar untuk membersihkan diri dan mengganti pakaian dengan sesuatu yang lebih pantas daripada yang mereka kenakan sekarang. Lagipula dia tidak terkejut dengan prosedur semacam ini, menurutnya… hal ini cukup wajar mengingat seberapa tinggi kuasa dari orang yang akan ditemuinya.

"Baik… kami mengerti,"

"Kalau begitu, silahkan ikuti saya… lewat sini," ucap pelayan dengan sopan dan ramah menunjukkan jalannya.

Sebelum dia pergi, dia memandang sekilas ke arah Villar, Margaret dan Gazeff sambil menundukkan kepalanya sebagai bentuk hormat kepada Villar. Villar membalasnya dengan senyuman, kemudian Naruto, Rossweisse dan Haruhiko segera mengikuti para pelayan itu.

Mereka bertiga diarahkan ke sebuah ruangan besar berisi pakaian mahal, namun sebelum mereka mengganti pakaian mereka, mereka dipersilahkan untuk membasuh diri di salah satu kamar mandi Kerajaan yang terbagi untuk laki laki dan perempuan. Naruto, Haruhiko dan Rossweisse berdiri di depan kamar mandi yang malah seperti pemandian umum itu.

"Kalau begitu, kami kesini… nikmati waktumu, Rossweisse…" ucap Naruto.

"Baik…"

Setelah itu Naruto dan Haruhiko berpisah dengan Rossweisse. Di dalam kamar mandi laki laki, Naruto dan Haruhiko yang sudah melepaskan semua pakaiannya, masuk ke dalam bak mandi luas yang terkesan megah.

"Uwaaaahh, nyamannya…"

"Kau terdengar seperti orang tua, Haruhiko…"

"Hey, setidaknya biarkan aku menikmati kemewahan ini untuk sesaat, sebelum aku dipaksa bekerja untukmu!"

Naruto hanya menghela nafas pasrah. Setelah ini adalah momen bersejarah yang akan membukakan gerbang mimpinya. Bertemu dengan Raja Kerajaan Lamia, Yang Mulia Vasco Strada. Dia bertanya tanya, berapa banyak bangsawan yang akan muncul dalam acara pengangkatannya. Satu sosok yang benar benar dia inginkan untuk datang adalah guru sekaligus pamannya, Euclid Lucifuge.

"Kalau begitu aku duluan…" ucap Naruto kepada Haruhiko setelah dia berendam cukup lama.

"Oke…"

Dia bergegas membilas tubuhnya kemudian mengeringkan tubuhnya. Setelah mengenakkan pakaiannya lagi, dia keluar dari sana dan bertemu dengan Rossweisse yang secara kebetulan baru saja selesai.

'Hmm… kupikir dia akan sedikit lebih lama di dalam, mengingat dia adalah wanita,' gumam Naruto dalam hati.

"T-Toruna-sama…"

"Rossweisse, apa kau ingin pergi ke ruang ganti sekarang?"

"Uhm, bagaimana dengan Toruna-sama?"

Masih ada waktu sekitar 2 jam baginya sebelum menghadap Raja, dia ingin tahu apakah dirinya diperbolehkan berkeliling Istana Kerajaan yang besar ini. Dia ingin melihat pelatihan militer pasukan Kerajaan yang katanya sedang diadakan di aula pelatihan militer.

"Aku ingin berjalan jalan sebentar, apakah kau mau ikut denganku?"

"T-Tentu saja!"

Setelah itu, keduanya berjalan bersama menyisakan keheningan karena Naruto fokus mencari aula pelatihan militer, sedangkan Rossweisse berada dalam kondisi malu malu karena bisa berduaan dengan tuannya, Naruto… yang secara tidak sengaja juga orang yang merebut hatinya. Mereka tidak melihat banyak orang yang melintas di sekitaran lorong ini, bahkan tidak satu pun.

"Dimana aku bisa menemukan aula pelatihan militer itu…" gumam Naruto pelan saat bingung harus pergi kemana.

"Apa kalian berdua tersesat saat akan mencari sebuah tempat di Istana ini?"

Tepat pada saat itu, Naruto menyadari keberadaan lain di sekitar dirinya dan Rossweisse. Sejujurnya dia sangat terkejut karena dia menemukan seorang perempuan sebayanya yang memiliki paras begitu cantik dengan rambut pirangnya yang terikat ponytail dengan pakaian militer yang terkesan mewah dan mirip seperti bangsawan. Tak hanya itu, dia juga membawa sebuah pedang tipis yang ia kenal dengan sebutan Rapier jenisnya.

"Maafkan kami… nama saya Toruna dan wanita di sebelah saya adalah Rossweisse, kami diundang oleh Yang Mulia hari ini bersama dengan Earl Villar Constance-sama dari [Artuk]. Kami baru saja selesai membersihkan diri dan kebingungan mencari jalan untuk kembali…" ucap Naruto dengan sopan sambil menundukkan kepalanya.

Ketika Naruto melirik ke arah Rossweisse, dia sedikit kebingungan karena ekspresi Rossweisse tidak seperti yang ia duga. Seolah dia sudah mengenal perempuan cantik dengan seragam militer itu.

"Maafkan ketidaksopanan saya, Shion-sama…" Rossweisse segera berlutut memberikan penghormatan.

'Shion? Jadi perempuan ini…'

Mengikuti Rossweisse, Naruto segera berlutut dan memberikan penghormatan juga seperti layaknya orang biasa kepada tuan putri mereka. Shion terkejut untuk beberapa saat setelah mendengar laki laki yang tersesat ini dan kemudian dia menghela nafas ketika Rossweisse memberinya penghormatan.

"Tolong hilangkan formalitas itu, Rossweisse-sensei…"

'S-Sensei?' tanya Naruto dalam hati.

"Shion-sama… aku hanya pernah melatih mu selama beberapa saat waktu itu, tidak perlu memanggilku dengan 'sensei', itu terdengar seperti aku jauh lebih atau uhh… hmm…"

Jawab Rossweisse segera berdiri dengan wajah yang sedikit memerah. Shion menatapnya bingung kemudian mengalihkan pandangannya kepada Naruto.

"Ah, jadi begitu…"

Seolah paham kenapa Rossweisse menunjukkan wajah semacam itu, Shion tersenyum ke arah Naruto.

"Maafkan saya juga… Toruna-dono… saya dengar anda adalah tamu ayah. Saya mendengar banyak hal tentang anda belakangan ini. Seorang petualang yang tiba tiba muncul dan secepat kilat mampu meraih kesuksesan bahkan di undang oleh Raja atas rekomendasi Earl Villar dan Jenderal Azazel,"

"Terima kasih atas pujiannya, Shion-sama…"

Perempuan di hadapannya ini memancarkan aura kebangsawanan yang luar biasa, Naruto juga merasakan beberapa pancaran sihir di tubuh Shion yang ia rasakan melalui kemampuan yang dia kembangkan bertahun tahun. Sudah jelas bahwa perempuan ini adalah sosok Tuan Putri, tapi bukan Tuan Putri sewajarnya, dia adalah entitas yang sedikit memberikan kesan lebih untuk posisinya.

Dia seperti seorang Ratu. Tidak diragukan lagi dari kemampuannya yang bisa lolos melewati medan pengawasan Naruto, meski disaat dirinya sedang lengah, tapi itu tetap merupakan bukti bahwa gadis ini memiliki kualitas dalam medan pertempuran.

"Tentunya saya juga tau bahwa Toruna-dono memaksa [Grigori] menerima perjanjiannya… mengendalikan alur negosiasi dengan menggenggam hal yang diinginkan oleh mereka,"

Naruto cukup terkejut dalam hati karena seingat dirinya, perjanjian antara dirinya dan [Grigori] seharusnya dijaga dengan baik oleh mereka.

"Anda tidak perlu terkejut… saya memiliki beberapa orang yang kutaruh di dalam [Grigori], sebuah organisasi yang memiliki sebagian kekuasaan dan otoritas independen seperti itu akan berbahaya jika tidak diawasi, bukan?"

Benar, seharusnya Naruto tidak perlu terkejut mengingat dirinya sudah diberitahu oleh Margaret, seperti apa Shion dan Michael. Dua anak dari Yang Mulia Strada yang memiliki bakat luar biasa baik dalam pengelolaan negara hingga kemampuan bertempur namun sayang keduanya terlibat dalam perselisihan faksi yang menginginkan satu dari mereka untuk memimpin Kerajaan.

"Anda terlalu tinggi memandang saya, saya hanya seorang petualang biasa yang masih kurang mengerti sistem kerja dunia seperti apa dan kebetulan mendapatkan keberuntungan selama petualangan pertama saya,"

"Hmm… nampaknya anda juga pandai dalam berkamuflase… anda pastinya adalah seorang yang berbakat dan mungkin sejauh ini adalah salah satu dari beberapa yang paling memiliki potensi di antara orang orang yang seusia dengan saya dan anda, bahkan anda mengungguli mayoritas anak anak bangsawan yang seumuran dengan anda,"

Naruto berada dalam situasi yang tidak diinginkannya, dia memang berniat mencuri perhatian sedikit dari prestasinya tapi dia tak menyangka kalau akan diperhatikan oleh Shion sejauh ini. Untuk ke depannya dia sudah belajar, dia harus lebih berhati hati.

"Ne~, Toruna-dono… bagaimana jika anda jadi milikku saja?" tanya Shion tersenyum dengan wajah polos.

Naruto dan Rossweisse sama sama terkejut dengan tawaran Shion. Untuk Rossweisse bahkan sekarang dia kesulitan menahan emosi dan wajahnya yang memerah sempurna.

"S-Shion-sama!" seru Rossweisse.

"T-Tolong, jangan bercanda, Shion-sama…" ucap Naruto sedikit panik.

"Ara~, tapi saya tidak bercanda… lagipula Rossweisse-sensei sedikit terlalu tua untukmu, onee-san masih 17 tahun lho,"

Naruto cukup terkejut, awalnya dia berpikir Shion seumuran dengannya tapi ternyata Shion lebih tua dua tahun darinya. Sisa percakapan itu akhirnya di akhiri dengan basa basi singkat. Kemudian…

"Jadi bagaimana kalau saya menjadi pemandu untuk anda dan Rossweisse-sensei? Saya tidak keberatan membawa anda melihat lihat Istana,"

"Atas kemurahan hati Yang Mulia, saya menerimanya. Sebenarnya saya mendengar adanya latihan militer di aula militer Istana,"

"Ah, kalau begitu… silahkan ikuti saya,"

Shion menuntun Naruto dan Rossweisse ke semacam aula besar yang berada di dalam Istana. Terdengar suara teriakan dan suara nyaring pedang yang beradu. Jumlah penghuni disana cukup banyak dan hebatnya aula militer ini sanggup menampungnya. Tak disangka ada aula pelatihan militer sebesar ini di dalam Istana.

"Ohh, Shion-sama… siapa kedua orang ini?" tanya salah seorang prajurit bertubuh besar yang mengenakan armor dengan pancaran aura yang berbeda dari prajurit biasa.

"Lasic-dono… perkenalkan, dia adalah Toruna-dono dan yang bersamanya adalah salah satu penyihir terkenal [White Flame] Rossweisse, tamu ayah yang datang bersama dengan Villar-dono hari ini,"

Ekspresi orang itu berubah ketika mendengar nama Toruna.

"Jadi pemuda ini… yang sudah mengalahkan seekor paus iblis dan bahkan mengungguli Gazeff… kau tidak terlihat kuat tapi aku bisa merasakan sesuatu yang aneh darimu," ucapnya sambil tersenyum.

Naruto nampaknya mengenal pria ini saat Shion menyebutkan namanya. Dia adalah salah satu dari 6 Komandan Batalion Utama Lamia. Sebuah gelar dan posisi yang hanya bisa di dapatkan oleh enam orang Komandan terkuat di antara Komandan lainnya.

Dia setidaknya mengetahui 4 di antara nya, Gazeff Stronoff yang dikenal dengan kemampuan pedangnya yang baik dan kekuatan fisik yang besar.

Lalu tak berbeda jauh dari Gazeff, ada Lasic David yang memiliki kekuatan dengan jenis yang sama. Kemudian ada satu satunya wanita dalam 6 Komandan Batalion Utama,

Roygun Belphegor dengan kekuatan sihir yang dikenal mengerikan. Dikatakan bahwa dia adalah seorang penyihir level 6 bahkan mendekati level 7 ditambah dia juga bisa bertarung dengan pedang.

Kemudian, ada Falbium Glasya-Labolas, tak terlalu jelas bagaimana kekuatannya tapi dia dikenal sebagai Komandan terkuat saat ini. Dirinya, Ajuka Astaroth yang sekarang menjadi Jenderal, Sirzech Gremory, Serafall Sitri, Euclid Lucifuge serta Minato Namikaze yang juga mantan 6 Komandan Batalion Utama dan sekarang sibuk dengan urusan wilayah mereka masing masing dulunya dikatakan sebagai formasi 6 Komandan Batalion Utama terkuat sepanjang sejarah.

Selanjutnya ada bangsawan dengan bakat kepemimpinan yang dikatakan paling baik sepanjang sejarah Kerajaan Lamia, Theo Cornaro. Dirinya mendapatkan posisi Komandan nya di umur 22 tahun ketika sudah memimpin wilayahnya sendiri sambil mengabdikan dirinya untuk militer. Kemampuan bertarungnya juga diakui oleh Komandan lainnya namun senjata utama nya adalah kepemimpinannya.

Lalu, dikenal sebagai pengawal satu satunya pangeran dengan bakat sihir yang luar biasa, Dulio Gesualdo. Dia mencatatkan namanya dalam sejarah setelah menjadi bagian dari 6 Komandan Batalion Utama di umur 18 tahun dan mematahkan rekor yang dibuat Theo Cornaro sebelumnya pada umur 22 tahun.

"Senang bertemu dengan anda, Lasic-dono…"

"Hmm… ya, aku juga senang bertemu dengan pahlawan muda [Artuk],"

Naruto kemudian melihat sekeliling dan menemukan Gazeff sedang melatih prajurit muda disana. Tak lama berselang, dia melihat satu orang di lantai atas aula yang sedang menonton pelatihan. Kemudian baru saja, dia merasakan kehadiran lain seorang wanita dengan pakaian militer yang dimodifikasi agar sesuai dengan penyihir juga.

Dia merasakan sensasi seorang Komandan yang levelnya setara atau bahkan lebih dari Gazeff dan Lasic dari kedua orang itu, terutama laki laki muda yang ada di lantai atas.

"Shion-sama… kenapa anda datang kemari?"

"Roygun-sensei… aku datang menemani Toruna-dono berkeliling,"

"Ohh, jadi ini si pahlawan [Artuk] yang dibicarakan banyak orang… masih sangat muda dan bukankah yang disebelahnya ini [White Flame]-san?"

"Lama tidak bertemu, Roygun-san…"

"Hey, jangan katakan itu… meskipun dia masih muda, kemampuannya mengerikan. Aku tidak terkejut kalau ternyata kemampuannya mampu mengungguli kita para 6 Komandan Utama," ucap Gazeff datang dan menyela pembicaraan.

"Anda semua terlalu memuji saya… saya bahkan tidak pantas menerima pujian itu, saya hanya menyelesaikan pertarungan dengan paus iblis karena bantuan besar dari Gazeff-dono.."

Ada yang membuat Naruto gelisah. Entah kenapa, Naruto merasakan sedikit firasat buruk dari alur pembicaraan ini. Niat dia kesini hanya untuk mengawasi dan melihat secara langsung level dari prajurit Kerajaan atau bahkan lebih baik jika dia bisa melihat salah satu dari 4 Jenderal Kerajaan saat ini.

"Bagaimana jika kita melakukan latih tanding?" saran dari Lasic.

"Bukankah itu ide yang bagus?" tambah Shion yang turut antusias.

Seperti yang sudah ia duga sebelumnya. Mau bagaimana lagi, dia bahkan tidak bisa menolak jika sudah seperti ini bahkan Shion sudah menyetujuinya. Naruto tidak bisa melakukan apa apa mengingat statusnya sekarang masih lah warga negara biasa bukan seorang bangsawan.

"Jika kalian tidak keberatan dengan saya, saya menerima latih tanding tersebut,"

"Biarkan aku menjadi lawan si penipu itu!"

Tiba tiba saja seorang pria berteriak menantang Naruto. Dari perawakan serta pakaian militernya, dia adalah salah seorang Komandan Kerajaan meski bukan bagian dari 6 Komandan Batalion Utama.

"Brain… jaga sikapmu di hadapan Shion-sama dan tamu Raja," ucap Gazeff.

"Toruna-sama… orang ini adalah…" ucap Rossweisse.

"Aku tahu, aku juga pernah mendengar berita tersebut," jawab Naruto.

Brain Unglaus, dikatakan bahwa pada saat salah satu kursi 6 Komandan Batalion Utama kosong akibat ditinggalkan oleh Ajuka Astaroth yang dipromosikan menjadi Jenderal Kerajaan Lamia beberapa tahun lalu. Akibatnya salah satu kursi 6 Komandan Utama itu kosong beberapa tahun hingga akhirnya diadakan seleksi dimana Brain Unglaus adalah salah satu Komandan yang di katakan paling berpotensi sebagai anggota baru 6 Komandan Utama.

Namun tiba tiba saja, Pangeran Michael merekomendasikan Dulio Gesualdo, pemuda yang umurnya bahkan lebih muda 9 tahun dari Brain Unglaus. Akibatnya, terjadilah duel di antara keduanya untuk menentukan siapa yang pantas. Dan benar saja, Dulio keluar sebagai pemenang hanya dengan dua serangan.

Baru baru ini ada rumor di militer yang mengatakan bahwa gelar 6 Komandan Batalion Utama akan diganti menjadi 7 atau 8 Komandan Besar, yang artinya jumlah dari anggota nya akan bertambah satu atau dua orang lagi.

'Jadi dia ingin menggunakanku sebagai jalan mencapai posisi itu, ya? Kurasa dia lengah dalam membuat keputusan…'

"Bagaimana jika kita bertanding, pahlawan penipu dari [Artuk]?"

Naruto tidak menyukai pria ini, dia masih memberikan ekspresi yang tenang namun rasionalitas nya memberikannya hasil yang baik sehingga dia tidak terpancing emosi. Mungkin dia hanya akan memberi sedikit sindiran manis kepada orang ini.

"Aku tidak keberatan untuk seorang komandan seperti Brain-dono menjadi lawanku, tapi saya harap… pertarungan tidak akan selesai dalam dua serangan,"

Ucap Naruto dengan ekspresi datar dan sebuah senyuman. Mendengar itu dari Naruto, Shion, Rossweisse, Lasic dan Roygun mencoba menahan tawa mereka sedangkan Brain memasang ekspresi menahan amarah. Beberapa dari prajurit yang mendengar ucapan Naruto nampaknya juga kesulitan menahan tawa.

Setelah beberapa persiapan, keduanya sekarang berada di arena pertarungan dengan pedangnya masing masing. Berbeda dengan milik Brain, pedang Naruto adalah sebuah katana.

"Apa kau siap?" tanya Brain.

"Silahkan datang kapan saja,"

Setelah Gazeff memberikan aba aba, Brain berlari secepat mungkin ke arah Naruto. Dalam hatinya, Naruto terheran heran dengan gelar Brain sebagai komandan saat ini. Dia memiliki cukup banyak celah yang bisa dimanfaatkan. Pedang Brain kemudian beradu dengan katana Naruto. Naruto mampu menangkis semua serangan Brain tanpa bergerak dari posisinya sejak awal.

Hal itu tidak disadari oleh Brain sendiri. Semua prajurit yang melihatnya terkesima melihat Brain yang mereka pikir unggul karena menekan Naruto terus menerus, tapi yang tak mereka sadari dan hanya disadari oleh para Komandan dan beberapa Kapten pasukan adalah Naruto tidak serius sama sekali.

"Sungguh menyedihkan, dipermainkan oleh pemuda 15 tahun," ucap Roygun.

Serangan dari sisi kanan yang dilancarkan Brain ditangkis dengan cepat, dia bahkan memberikan sebuah serangan fisik melalui tendangan, tapi selalu dihentikan dengan tangan kosong. Naruto benar benar tidak memiliki celah untuk dimasuki oleh Brain, sebenarnya dia sendiri justru memiliki sangat banyak kesempatan untuk melakukan serangan balik yang tidak dilakukan olehnya.

"Ini sia sia…" ucap Naruto.

"Ya, aku setuju denganmu…" balas Brain.

Brain mundur beberapa langkah, kemudian dia berkonsentrasi penuh pada pedang yang ada di genggaman kedua tangannya. Aura di pedangnya semakin besar, dia mengalirkan banyak sihir disana dan menajamkannya.

'Hmm, setidaknya dia tau cara menggunakan sihir pada pedangnya dengan baik,' batin Naruto.

Brain maju sekali lagi dan kali ini Naruto menganggapnya lebih serius, Naruto bergerak dengan cepat sambil mengaliri sedikit pedangnya dengan sihirnya. Hasilnya sama saja, Brain tidak mampu menekan Naruto sedikit pun.

Dia mencoba berbagai cara, dia melompat menebas dari atas, namun dihentikan oleh katana Naruto dan Naruto tidak membalas serangannya namun membiarkannya berusaha lebih keras.

'Aku salah tentangnya! Dia kuat…' ucap Brain dengan emosi di wajahnya.

"Aku tidak akan dipermalukan lagi!"

Naruto yang awalnya mulai bosan tiba tiba dikejutkan dengan akselerasi tubuh Brain yang meningkat dengan pesat. Dia semakin kesulitan untuk hanya sekedar menangkis serangan serangan Brain yang datang kepadanya. Dia masih bertahan dan mulai beradaptasi dengan kecepatan itu. Para penonton di sekitarnya mulai menunjukkan kekaguman disana.

"Heh~… Siapa orang itu? Dia mampu bertahan… dari serangan serangan Brain-san," ucap laki laki yang sejak tadi menonton dari lantai atas.

Brain setidaknya memiliki kualifikasi dalam hal kekuatan untuk menjadi seorang Komandan, itulah yang dipikirkan Naruto tapi teknik dan variasi serangannya masih kurang jika dibandingkan dengan Gazeff.

"Baiklah, akan kuakhiri disini…" ucap Naruto saat dia baru saja menangkis sebuah serangan dari Brain.

"A-Apa?"

Naruto menyarungkan katana nya dan melakukan semacam kuda kuda untuk menebas.

"Moon Slash"

Tebasan itu dengan mudah menghancurkan pedang milik Brain.

Pada akhirnya Naruto menyelesaikannya dalam satu serangan yang sekali lagi membuat harga diri Brain jatuh. Setelah momen singkat yang terjadi usai Naruto menebasnya. Brain jatuh berlutut dengan ekspresi kecewa dan tidak percaya.

"Perbedaan levelnya terlalu jauh kurasa…" ucap Lasic David.

Semua prajurit pelatihan terpana melihat momen singkat itu. Mata mereka tidak bisa mengikuti gerakan tangan Naruto saat memberikan tebasan pertama nya. Bahkan Shion yang menonton tak jauh dari sana, menunjukkan ekspresi yang cukup terkejut. Tangannya gemetar memegang pedang di pinggangnya seolah dia benar benar ingin menantang Naruto saat ini.

"Kuanggap pertandingan ini selesai…"

TBC

.

.

.

Author Note :

Tes tes… Shiba desu… akhirnya ku update fic ini lagi. Maafkan jika membuat kalian menunggu sangat lama, ku cukup sibuk dengan kuliah online dan beberapa urusan meskipun akhirnya aku update. Ada beberapa hal yang harus kujelaskan di author note kali ini.

Pertama, hmm… chap depan adalah chapter terakhir di arc prolog ini yang mana nantinya Naruto akan diangkat gelarnya.

Kedua, Lasic itu kuambil dari karakter Grancrest Senki.

Ketiga, karena tidak ada istilah Maou disini. Aku menggunakan nama asli keluarga Ajuka, Sirzech, Falbium dan Serafall pastinya yaitu Astaroth, Gremory, Glasya Labolas dan Sitri.

Keempat, bang kemana bang Kurama? Kurama ditinggal di mansion Villar. Karena kontrak nya dengan Naruto, sebenarnya dia bisa di summon pake sihir dan aku belum jelaskan bagian ini. Untuk ini benar benar aku minta maaf dan terima kasih sudah mengingatkan karena kalau tidak diingatkan salah satu reader, aku pasti lupa. Jadi silahkan kritik aku di bagian ini dan terima kasih untuk reader yang mengingatkan.

Kelima, ku rencana nya mau bikin fic ini harem mungkin sekitar 4-5 karakter perempuan. Kuharap kalian tidak keberatan karena fic ku sampai sekarang belum ada yang ku pastikan harem selain ini. Dan ya aku sudah mengincar beberapa karakter. Tenang saja, harem itu gak akan mempengaruhi pokok ceritanya.

Hmm, apalagi ya? Oh iya, selanjutnya aku akan update Fate of My Adolescence jadi bagi reader fic ini yang kebetulan suka dengan fic yang Fate, bergembira lah karena sudah banyak yang menuntutku untuk update fic itu. Itu saja dariku dan kuucapkan Selamat Menunaikan Ibadah Puasa.

See you in next chapter