Monarch of Despair
Rate: M
Disclaimer: Naruto [Masashi Kishimoto], Highschool DxD [Ichie Ishibumi], Grancrest Senki [Ryo Mizuno], Musaigaen no Phantom World [Soichiro Hatano], Tensei Shittara Slime Datta Ken [Fuse], Overlord [Kugane Maruyama]
Ditulis tanpa mengharapkan keuntungan materil sedikit pun
Genre: Fantasy, Hurt/Comfort, Action, Adventure, Family, Romance
Warning: Typo, gaje mungkin, masih jauh dari kata sempurna, OOC
Pairing: ?
Summary: Lahir karena pernikahan politik tanpa dilandasi cinta yang berujung sebuah perpisahan dan penghapusan keberadaannya… anak dari keluarga Earl Namikaze dan keluarga Marquess Lucifuge ini tak hanya dihapus keberadaannya tapi juga dibuang dan ditelantarkan oleh kedua orang tuanya. Namanya adalah Naruto, seorang bocah berusia 5 tahun yang nantinya akan tumbuh sebagai budak sekaligus orang yang terpilih untuk mewarisi gelar Monarch of Despair.
Jangan lupa review, favorite follow!
.
.
.
.
.
Chapter 12 : Penobatan Gelar
Gerakan bagus serta aura luar biasa yang keluar dari Naruto mampu memukau seluruh prajurit yang hadir menonton pertandingan barusan. Berkat kesombongannya, salah seorang Komandan Kerajaan yang kita kenal dengan nama Brain, telah dipermalukan. Bukannya melatih dirinya lebih keras, dia justru menantang seorang pemuda yang baru baru ini mendapatkan pengakuan dari seorang bangsawan Earl terkenal di Kerajaan.
"Apa anda baik baik saja, Brain-san?" tanya Naruto memberikan uluran tangan kepada Brain.
"Ughh … aku tidak perlu belas kasihanmu, tinggalkan aku sendiri!" dia menolak bantuan Naruto dan bergegas pergi dari sana demi melindungi harga dirinya di depan para prajurit bawahannya.
"Apa aku berlebihan?" gumam Naruto.
Dia tidak berniat untuk pamer berlebihan saat ini tapi ternyata pertandingannya dengan Brain barusan cukup menarik perhatian meskipun dia sudah menahan dirinya sejauh itu. Jika dia mau, dia bahkan bisa membuat seisi ruang latihan ini menunjukkan ekspresi yang lebih menarik tapi, dia berusaha untuk menahannya.
"Pertandingan yang bagus, Toruna-dono … sesuai dengan rumor yang beredar, kau kuat!" puji Shion menghampiri Naruto.
"Pujian itu tidak pantas untuk saya, Shion-sama … mengingat saya yakin Shion-sama mungkin saja lebih hebat dari saya,"
Berusaha merendah meski hal itu adalah kebohongan. Tentu saja Shion menganggapnya hanya sebuah kata kata kosong dengan tujuan memuji dirinya dan bersikap rendah diri. Shion tau bahwa dia dan Naruto tidak bisa dibandingkan.
"Entahlah, aku tidak berpikir begitu … setidaknya sampai kita sendiri yang membuktikan dengan sebuah pertandingan latihan,"
Shion barusan menantangnya, Naruto sendiri tidak begitu terkejut kalau mengingat bagaimana watak perempuan ini yang gemar akan pertarungan. Sejujurnya banyak rumor yang beredar kalau beberapa masyarakat di daerah tertentu, menganggap Shion adalah seorang Goddess of War. Menangani beberapa pemberontakan, menahan invasi dari Kerajaan tetangga. Cerita itu sering di dengar oleh masyarakat dari para prajurit yang turut hadir dalam peristiwa peristiwa itu.
"Sebuah kehormatan bagi saya jika bisa menjadi pasangan latihan Shion-sama …"
"Kalau begitu, bagaimana jika kita lakukan sekarang?" tanya Shion sambil memegang gagang pedangnya.
Naruto sebenarnya tidak mau meladeninya tapi jika tidak ada yang menghentikan ini, dia tidak keberatan untuk melakukannya dengan kondisi menahan diri seperti yang dilakukannya barusan kepada Brain. Dari analisa nya sejauh ini serta rumor yang beredar, seharusnya setidaknya Shion memiliki kemampuan tempur setara dengan para Komandan.
"Maaf, Shion-sama … tapi hal itu tidak akan terjadi," ucap seorang wanita yang tiba tiba muncul sambil membawa beberapa dokumen.
"S-Shizuka?"
Dia adalah sekretaris Shion yang membantunya dalam mengurusi urusan urusan negara baik itu dalam negeri ataupun luar negeri. Kabarnya dia adalah anak yatim piatu yang diambil oleh Shion. Jika dilihat pun, umurnya sama dengan Shion. Jadi pasti mereka tumbuh bersama di dalam Istana sebagai Tuan dan pelayan sekaligus teman.
"Toruna-sama dan Rossweisse-sama bisa segera kembali ruang ganti pakaian, karena jadwal penobatan Toruna-sama oleh Yang Mulia akan dipercepat,"
"Ahahaha … sayang sekali, kita tidak bisa melihat Shion-sama beradu pedang dengan pria segenerasinya yang memiliki kemampuan sebagus itu," ucap Lassic David.
Roygun, Gazeff dan Lassic David berjalan ke arah mereka kemudian memasuki pembicaraan.
"Benar benar sangat disayangkan, padahal akan bagus jika setidaknya Toruna-dono yang masih sangat muda memberikan contoh kepada prajurit Kerajaan," tambah Roygun Belphegor sambil melirik ke arah para prajurit yang dibuat terpukau oleh Naruto.
"Jika ada kesempatan lagi, dengan senang hati … saya menerima permintaan tersebut," ucap Naruto.
Hanya Shion satu satunya yang tampak kurang setuju dengan jadwal yang di percepat. Terkadang dia bisa menjadi sangat egosi jika sudah berhubungan dengan hal hal yang dia sukai. Shion adalah putri Kerajaan yang anggun, cerdas, berpengalaman dalam perang dan cukup mahir mengurusi hal hal tentang kebijakan Kerajaan. Pada masanya dia bisa menjadi wanita anggun yang feminim dan ada waktunya juga dia menjadi putri yang gemar melakukan pertarungan.
"Huft … mau bagaimana lagi jika itu adalah keputusan ayah, aku hanya bisa mengikuti kehendaknya,"
"Lagipula, Shion-sama … anda harus mengurusi tumpukan kertas yang ada di meja anda," ucap Shizuka dengan ekspresi yang tajam.
"A-Aku mengerti, Shizuka …"
"Huft … kalau begitu Toruna-sama dan Rossweisse-sama bisa ikut dengan saya,"
"Baik, kami mengerti … kalau begitu, Shion-sama dan para Komandan yang Terhormat, saya pamit dulu …"
Naruto dan Rossweisse mengangguk pelan kemudian berjalan mengikuti Shizuka yang akan memandu mereka.
"Hmm … bukankah bocah itu menjanjikan?" ucap Lassic David sambil mengelus dagunya saat melihat punggung Naruto yang semakin menjauh.
"Harus kuakui, setidaknya dia mungkin setara dengan kita 6 Komandan Utama. Bagaimana menurutmu?" tanya Gazeff kepada Roygun di sebelahnya.
"Dari yang kulihat tampaknya dia cukup pantas menjadi calon suami Tuan Putri …" jawab Roygun.
Ketika Shion mendengar pendapat mereka terutama gurunya, dia sedikit terkejut untuk sesaat tapi sebagai seorang putri dia merasa harus menjaga pikirannya untuk tetap tenang. Tidak salah jika mengatakan Naruto cukup memenuhi kualifikasi untuk menjadi calon suaminya di masa depan, apalagi dengan kemampuan luar biasa dan sikap yang bagus itu.
"Kurasa itu bisa menjadi pilihan juga …" ucap Shion dengan ekspresi nya yang anggun.
"Hooh … tidak kusangka ternyata Shion-sama masih sanggup menjaga sikapnya," ucap Lassic David.
"Aku berani taruhan … Tuan Putri sempat terkejut tadi," tambah Gazeff.
Shion hanya menghembuskan nafas singkat seolah dirinya pasrah menjadi bahan perdebatan para Komandan Utama. Tapi untuk saat ini, dia jelas tahu satu hal bahwa dirinya tidak boleh melepaskan pandangannya dari pemuda bernama Toruna. Memiliki tampang yang bisa dibilang tampan, aura yang bagus dan menunjukkan kebangsawanan meski dia masih belum dinobatkan serta kemampuan yang luar biasa baik dalam fisik dan intelektual.
"Apakah Shion-sama sepemikiran denganku?" tanya seorang laki laki yang tiba tiba muncul.
Semua mata langsung tertuju kepadanya.
"Dulio …" sebut Roygun santai.
"Selamat siang, Roygun-san, Gazeff-san dan Lassic-san …"
"Aku tahu sejak tadi kau menonton disana tapi, kenapa kau tidak turun saja dan memperkenalkan dirimu pada Toruna-dono dan Rossweisse-dono?"
Dulio juga tidak mengerti, dia hanya merasakan sesuatu yang membuatnya tidak nyaman. Sesuatu yang menurutnya berasal dari Naruto, hal yang bahkan tidak dia ketahui namun dirasakan olehnya.
"Entahlah, ada sesuatu dari orang itu yang membuatku tidak nyaman meski aku sendiri tidak yakin,"
"Hmm? Bahkan dirimu bisa merasakan hal semacam itu?" tanya Shion.
"Begitulah, Shion-sama … meski aku dipuja puja sebagai jenius Kerajaan dengan posisi yang kuemban sekarang. Aku sendiri juga masih seorang manusia,"
"Apa maksudmu?" tanya Lassic David.
Dulio memandangi ke arah Naruto pergi meski sudah tak terlihat sama sekali. Dia diam selama beberapa detik membiarkan Lassic memandanginya dengan tatapan bingung.
"Laki laki itu monster, dia bisa saja menunjukkan taringnya kapan saja. Aku yakin sekali lewat pertandingan tadi, dia terlalu menahan diri … aku tidak akan terkejut jika dia bahkan tidak mengeluarkan setengah dari kemampuannya lewat tebasan tadi,"
Lewat perkataan Dulio, mereka mengubah pemikiran dalam sekejap. Yang dikatakan Dulio tidak salah meski, saat ini pemuda itu adalah bagian dari Kerajaan, mereka tidak akan tahu ke depannya apa yang akan diperbuatnya dengan kemampuan sehebat itu di usia yang masih sangat muda.
"Ya, kau benar … kemampuannya benar benar tidak sesuai dengan usianya. Latihan macam apa yang dia jalani? Tentu saja bakatnya pasti luar biasa …" ucap Roygun.
"Apa memang seberbahaya itu?" tanya Shion.
"Bukan maksudku untuk sombong, Shion-sama … bahkan untukku sendiri, aku tidak yakin bisa mengalahkannya tanpa mengorbankan kaki dan tanganku. Atau bisa saja, aku yang akan kehilangan kepalaku jika melawannya …" ucap Dulio.
Shion terkejut karena Dulio berani mengambil kesimpulan sebesar itu hanya dengan sekilas pertarungan tadi antara Naruto dengan Brain.
"Lagipula … aku baru pertama kali melihatnya bertarung. Bagaimana dengan menurut Gazeff-san sendiri yang sudah melihatnya mengalahkan Paus Iblis?"
"Ya bagaimana pertarungannya? Aku juga penasaran kalau Dulio sampai mengatakan itu. Bukankah itu terlalu berlebihan?" ucap Lassic David.
Gazeff juga terdiam saat memikirkannya.
"Tidak … kurasa itu tidak berlebihan. Toruna-dono adalah orang yang jenius. Dia menggunakan sihir khusus yang belum pernah kulihat sama sekali untuk memicu kemunculan Paus Iblis, tapi konsep yang dia ciptakan dari dasar sihirnya sendiri sungguh brillian. Terlebih … gerakannya tidak ada yang sia sia, benar benar sangat efektif sampai mampu menghabisi Paus Iblis itu dengan satu serangan. Harus kukatakan, kurasa dia tidak hanya tau cara bertarung seorang ksatria, tapi dia juga tau seni membunuh para Assassin … dan aku yakin masih banyak kemampuan yang dia simpan."
Apa yang barusan diceritakan Gazeff cukup membuat mereka semakin menguatkan sikap untuk waspada kepada Naruto. Dalam hati tentu saja mereka bersyukur karena Naruto adalah milik Kerajaan.
"Setidaknya, aku bersyukur dia memilih bangsawan fraksi yang tidak terlibat dengan hal hal mengenai tahta, karena jika dia terlibat di salah satu fraksi … dia akan menjadi senjata yang benar benar tangguh … meski harusnya aku tidak mengucapkan hal itu, mengingat aku mendukung Michael-sama," ucap Dulio.
"Ya … aku juga bersyukur akan hal itu," ucap Shion sambil tersenyum.
.
.
.
.
.
xxx0xxx
Waktu terus berjalan meninggalkan masa lalu, hal yang diingat Naruto sekarang ketika dirinya di rias oleh para pelayan sambil mengenakan pakaian kebangsawanan adalah masa lalunya ketika dirinya masih tinggal di kediaman Lucifuge. Sungguh tidak menduga kalau nasibnya akan jadi seperti ini. Hal itu memberi kenangan tersendiri baginya, bagaimana Ibu nya membuangnya hingga akhirnya dia bertemu kembali dengan wanita itu di kediaman Sitri.
Amarah jelas sulit untuk ditahan oleh Naruto ketika Ibu nya bahkan tidak mengenali wajahnya, meski mungkin hal itu wajar mengingat usia nya ketika dia dibuang masih sangat kecil, apalagi dengan perubahan warna rambutnya serta kini dia telah tumbuh seperti pria dewasa. Kesan yang diberikan saat menatap wajahnya pun juga berbeda mengingat pertumbuhannya selama ini cukup keras.
Tak ada kesan anak laki laki manja sedikit pun disana. Atau siapa yang menyangka bahwa anak sekecil Naruto dulu yang dibuang oleh keluarganya akan tumbuh jadi seperti ini.
"Apa anda gugup, Toruna-sama?"
"Hmm? Kurasa tidak … apa kau gugup Rossweisse?"
"Y-Ya … sebagai penyihir yang mendampingi Toruna-sama, aku cukup gugup,"
Apa yang dirasakan oleh Rossweisse nampaknya juga dirasakan oleh Haruhiko yang sedang duduk tegang di salah satu sudut ruangan. Pelayan sudah merias Haruhiko sehingga dirinya terlihat lebih baik, tidak nampak lagi kesan seorang pencuri seperti saat pertama kali Naruto berjumpa dengannya.
"Kurasa itu wajar saja … tapi bukankah kau seorang penyihir terkenal di Kerajaan? [White Flame]-dono …?"
"Tetap saja … aku …"
"Tidak perlu khawatir …" ucap Naruto sambil menepuk bahu Rossweisse.
Rossweisse hanya memandangi Naruto dengan wajah yang sedikit merona seolah terpukau dengan wajahnya serta aura yang dikeluarkannya. Dia benar benar tampak seperti seorang bangsawan sekarang.
"U-Uhmm … kurasa aku bisa … selama bersama Toruna-sama,"
Naruto tersenyum mendengarnya, tak lama kemudian para pelayan akhirnya menyelesaikan riasan Naruto. Seorang wanita yang dikenal Naruto dan Rossweisse kemudian muncul untuk menjemput mereka bertiga, Naruto, Rossweisse dan Haruhiko. Wanita itu adalah Shizuka.
"Toruna-sama, Rossweisse-sama dan Haruhiko-sama, silahkan ikuti saya …"
"Baik …"
Ketiganya segera mengikuti Shizuka yang memandu mereka menuju ke aula penobatan gelar. Lorong menuju kesana dipenuhi dengan prajurit di sepanjang jalan memberikan rasa hormat kepada Naruto dan kedua bawahannya yang diakui sebagai pahlawan muda Kerajaan.
'Banyak sekali prajurit disini …' pikir Naruto.
Hingga akhirnya mereka tiba di depan pintu besar yang akan menghubungkan lorong dengan aula Kerajaan. Seketika pintu tersebut dibuka menunjukkan betapa megahnya aula yang dimiliki oleh Kerajaan. Di ujung aula terdapat singgasana yang sekarang sedang di duduki oleh seorang pria tua. Tentu saja dia adalah Sang Raja Kerajaan ini, Yang Mulia Vasco 'Lamia' Strada. Raja ke dua puluh tujuh.
Di sampingnya ada seorang wanita cantik yang ia tebak adalah permaisuri pertama, Yasaka sekaligus Ratu Kerajaan ini. Dia adalah ibu dari tuan putri pertama Shion, pangeran kedua Leonardo dan tuan putri ketiga Kunou. Pangeran kedua dan putri ketiga sendiri jarang disebut namanya di masyarakat karena Michael, Shion dan Gabriel selalu menjadi topik utama. Sedangkan Ibu dari Michael dan Gabriel sendiri adalah seorang selir yang berasal dari Kerajaan Heavenia, sampai sekarang identitasnya belum terungkap ke publik.
Di salah satu sudut aula dia juga bisa melihat 6 Komandan Utama dan 3 dari 4 Jenderal Kerajaan termasuk Azazel yang hadir di penobatannya. Ketiganya sama sama memiliki aura yang tidak biasa untuk seorang manusia. Dia sekilas berpikir, apa yang akan terjadi jika dia membunuh Sang Raja disini? Bisakah dia selamat dari ketiga orang itu? Untuk dirinya yang sekarang, hal itu mustahil.
'Ohh, jadi pemuda ini yang disebut sebut sebagai harta nasional oleh Azazel kemarin …'
Vasco Strada menunjukkan senyuman ketertarikannya saat melihat Naruto. Aura yang dipancarkannya memang tidak biasa, harus diakui bahwa pemuda lima belas tahun ini sangat cocok mengenakan pakaian ksatria dan benar benar terlihat seperti bangsawan pada umumnya.
'Jadi dia Raja Kerajaan ini …' gumam Naruto dalam hati merasakan aura milik pria tua di hadapannya.
Dia dan kedua bawahannya segera tunduk kepada Vasco Strada layaknya seorang ksatria yang akan diberikan gelar.
Semua orang yang ada disana cukup terpukau dengan sikapnya yang memang menunjukkan aura kebangsawanan. Dari segi wajah dan sikap, mereka sama sekali tak meragukannya. Bangsawan yang hadir disana adalah saksi bahwa hari itu pada tanggal 19 November X615 Kalender Kerajaan Lamia, seorang pemuda dengan potensi paling berbahaya di sepanjang sejarah Kerajaan akan diangkat menjadi bangsawan resmi dengan gelar Knight.
"Hamba memberikan hormat kepada Yang Mulia … "
"Hmm … kau boleh mengangkat wajahmu,"
Setelah menerima ijin dari Yang Mulia, Naruto mengangkat wajahnya melihat sosok Raja Kerajaan ini dari dekat. Wajah Naruto disinari oleh cahaya yang masuk dari luar melalui sebuah kaca jendela langit langit yang tepat berada di atas singgasana serta pantulan cahaya dari semacam monumen raksasa di belakang singgasana.
Beberapa bangsawan terpukau melihatnya, ada juga beberapa yang nampak terkejut seolah menyadari sesuatu.
"Hiashi … apa dia benar pahlawan muda itu?"
"Ya … untuk apa kau bertanya lagi. Bukankah itu sudah jelas, Minato?"
Earl Namikaze Minato adalah salah seorang yang terdiam membisu ketika melihat wajah Naruto. Dia seolah merasa mengenali wajah itu namun tidak dengan warna rambutnya. Jantungnya berdegup kencang, matanya membulat tidak percaya, namun dia juga ragu dengan isi pikiran dan dugaannya.
'Tidak, dia hanya sekilas memiliki wajah yang cukup mirip … aku pasti hanya mengada ngada,' ucapnya dalam hati sambil menggelengkan kepalanya sedikit.
"Ada apa, Minato?"
"Tidak … tidak ada,"
Sedangkan itu di sudut lain yang berbeda dengan Minato, seorang pria dengan gelar Marquess nya, Euclid Lucifuge hanya bisa memberikan tatapan bahagia. Dia yang membesarkannya, meski wajahnya sudah cukup berubah, lebih dewasa dan lebih gagah. Dia tetap mampu mengenalinya.
'Jadi itu benar dirimu … Naruto,'
Hampir dia meneteskan air matanya saat melihat Naruto yang sudah tumbuh dewasa dan melakukan hal sesuai yang disarankan oleh Euclid. Mendapatkan gelar kebangsawanannya sendiri. Setelh cukup puas melihatnya, Euclid membalikkan tubuhnya dan berjalan pergi.
Masih di antara para bangsawan, kali ini datang dari keluarga Meletes. Dia adalah anak perempuan Earl Meletes yang sekarang berumur 16 tahun, Mai Meletes. Dia melihat wajah Naruto dengan ekspresi terkejut, wajahnya cukup mirip dengan seorang anak kecil yang dia ingat di masa kecilnya. Dia tidak yakin tapi warna rambut pria ini berbeda dengan bocah yang dia temui dulu di Kota [Rirua] saat dirinya menjadi budak.
"Kenapa dia mengingatkanku dengan Naruto …?"
Kembali lagi ke Naruto yang sudah berhadapan dengan Yang Mulia Strada. Pria tua itu mendekat bersama seorang prajurit yang membawa pedang Kerajaan sebagai media yang akan digunakan untuk memberikan gelar kepada Naruto. Semua orang yang ada disana hanya menyaksikan tanpa adanya niat untuk menginterupsi jalannya penobatan gelar.
"Jadi, kau pahlawan muda dari [Artuk] …"
"Untuk disebut sebagai pahlawan muda oleh Yang Mulia, merupakan sebuah kebanggaan tebesar di hidup hamba, tapi hamba yakin … hamba belum pantas untuk disebut sebagai pahlawan,"
"Hoho … sikap yang bagus, sebenarnya aku ingin melewati semua formalitas ini dan berbicara denganmu di ruanganku sambil menikmati teh, tapi apa boleh buat …"
"Hal itu akan menjadi kehormatan bagi hamba …"
Vasco Strada mencabut pedang Kerajaan dari sarungnya.
"Dengan ini, aku Raja Kerajaan Lamia ke-27 akan memberikanmu gelar sebagai Knight Kerajaan atas prestasimu menyelamatkan [Artuk] dari bencana … dengan tambahan syarat kau harus menjalani masa kehidupan di Akademi Kerajaan selama tiga bulan sebelum akhirnya bekerja di bawah bimbingan Earl dari [Artuk], Villar Constance … sebagai penguasa baru di salah satu wilayah [Artuk] yaitu [Mandra]. Tanah yang kau selamatkan dan wilayah pertama yang kuberikan padamu atas restu Earl dari [Artuk],"
Villar kemudian masuk ke adegan tersebut sambil memberikan hormat kepada Yang Mulia.
"Saya akan menerima tugas tersebut, Yang Mulia …"
"Hmm … dengan ini kuanggap semuanya selesai, lain kali jika ada kesempatan, aku ingin minum teh denganmu sambil membicarakan berbagai hal," ucap Yang Mulia Strada dengan santainya sambil memberikan pedang Kerajaan kepada prajurit yang membawa sarungnya.
Isi ruangan dipenuhi dengan suara tepuk tangan menyambut bangsawan baru yang diangkat oleh Yang Mulia sendiri. Normalnya, seorang bangsawan baru akan diangkat hanya dengan dikirimkan bukti surat Kerajaan mengenai pengangkatannya dan diberikan tanah. Kasus Naruto adalah sesuatu yang istimewa dan sebagian orang tidak tahu alasan Raja sendiri yang memintanya hadir dan membuatkan acara penobatan semacam ini di Aula Kerajaan.
Rossweisse dan Haruhiko tidak bisa menahan rasa gugup mereka sekarang. Apalagi di sekitar mereka penuh dengan bangsawan. Sejujurnya mereka berdua hanyalah pelengkap untuk mendukung Naruto yang diberkahi gelar.
"Selamat atas gelarmu, Toruna-kun …" ucap Villar.
"Terima kasih, Villar-sama …"
"Jangan senang dulu … yang sulit adalah setelah ini, bangsawan dari kedua fraksi akan datang untuk mendekatimu apalagi kau diperlakukan istimewa oleh Yang Mulia sendiri sampai dibuatkan acara semacam ini,"
Setelah acara penobatan selesai, bangsawan yang tertarik dengan Naruto mulai mendekat. Beruntungnya rombongan bangsawan itu berhenti ketika melihat sosok pangeran pertama menghampiri Naruto. Sosoknya terlihat elegan dan benar benar berwibawa, dia adalah kandidat terkuat sebagai calon Raja berikutnya. Dia diikuti oleh pengawalnya, salah satu dari 6 Komandan Utama, Dulio Gesualdo.
"Bagaimana kabar anda, Villar-dono?"
"Tidak pernah sebaik ini, Michael-sama …" jawab Villar.
"Yah, bisa dipahami alasannya," balas Michael sambil melihat ke arah Naruto.
"Hormat saya kepada pangeran pertama …"
"Ah, hentikan formalitasmu itu … kau bisa bicara santai denganku, Toruna-kun,"
"Baiklah, jika itu kemauan Michael-sama …"
Bangsawan lain segera menjauh dari sana, hanya beberapa bangsawan yang dengan berani mencoba bergabung dalam pembicaraan tersebut. Dia adalah Viscount Azazel yang merupakan Jenderal Kerajaan ini sekaligus pemimpin [Grigori] dan Marquess Gremory, Zeoticus Gremory yang merupakan ayah dari Sirzech Gremory.
"Azazel-dono dan Zeoticus-dono … nampaknya kalian berdua juga tertarik dengan Toruna-kun," ucap Michael merasa cukup terganggu dengan mereka berdua khususnya Azazel.
"Tentu saja, bagaimana pun … bocah ini yang sudah menemukan sesuatu yang selama ini kuidam idamkan, Michael-sama …" ucap Azazel dengan santainya.
"Azazel, jaga sikapmu di hadapan Yang Mulia," tegur Zeoticus.
"Ngomong ngomong, selamat atas gelarmu …"
Ucap Michael kepada Naruto diikuti oleh Azazel dan Zeoticus yang juga memberikan ucapan selamat.
"Kurasa kau memiliki keberuntungan yang bagus, Villar …"
"Ahaha … saya bersyukur atas hal itu, Jenderal Azazel-dono,"
Azazel dan Zeoticus sendiri memandang Naruto sebagai potensi yang bagus. Sama seperti Michael yang tertarik kepadanya, keduanya juga sama tertariknya. Masih muda dan memiliki kemampuan yang mumpuni, dia bisa menjadi rekan yang bagus atau mungkin seorang menantu.
"Saya merasa terhormat atas segala pujian yang diberikan Azazel-sama, Zeoticus-sama dan Michael-sama … sejujurnya saya sendiri merasa mungkin orang orang terlalu memandang tinggi saya hanya karena satu prestasi,"
Michael tersenyum mendengarnya. Dia sadar kalau Naruto ingin lebih aman dulu untuk sementara waktu dengan menyembunyikan banyak hal. Dulio yang ada di samping Michael juga menyadari hal itu sama dengan Tuan-nya.
"Satu ya …? Kau yakin dengan hal itu? Aku juga mendengar lho dari orang orang kepercayaanku tentang koneksimu dengan Azazel-dono … bahkan kalian juga sempat singgah di kediaman Sitri bukan?"
"Hahaha … seperti yang diharapkan dari Michael-sama …" ucap Villar.
Setidaknya hanya sampai sejauh itu yang mereka ketahui. Selebihnya, sesuai perjanjian meskipun Sitri dan Lucifuge adalah bagian dari fraksi pangeran pertama, mereka tidak bisa mengatakannya kepada Michael.
"Ya … bahkan Serafall tidak mau mengatakan padaku apa yang terjadi, apa kalian membuat kesepakatan lainnya? Serafall hanya mengatakan bahwa mereka membuat kesepakatan yang menguntungkan dengan kalian,"
"Tunggu! Apa itu inovasi lain yang ada di kepalamu? Apa kau menjualnya ke mereka?" tanya Azazel menuduh Naruto.
"Hmm … sepertinya aku sudah didahului oleh kediaman Sitri," tambah Zeoticus hanya bisa pasrah.
"Katakan padaku, Villar! Apa yang kau jual ke mereka?" tanya Azazel.
"Tenang saja, Jenderal Azazel-dono … itu bukan bagian dari yang kita sepakati. Itu juga tidak berhubungan dengan riset yang dilakukan [Grigori]," jawab Villar.
Naruto bersyukur karena Villar ada bersamanya mengatasi ketiga bangsawan yang mungkin akan menyusahkannya ini. Dia melirik ke salah satu sudut, nampaknya Rossweisse dan Haruhiko sudah diamankan oleh Margaret, dia bisa bernafas lega. Mereka tidak perlu bicara dengan para bangsawan. Beberapa bangsawan pasti ada yang memanfaatkan mereka untuk membuat pertemuan dengan dirinya.
"Kau benar benar punya pemikiran yang matang ya? Kau bahkan sadar kalau kedua bawahanmu itu bisa menjadi media penghubung para bangsawan yang ingin bicara denganmu,"
Michael ternyata cukup jeli dengan tindakan Naruto yang hanya sebatas memberikan sekilas lirikan ke arah Rossweisse dan Haruhiko. Sejujurnya dia cukup terkejut, ternyata Michael memperhatikan sampai sedetil itu.
"Tidak perlu terkejut begitu, nak … Michael-sama memang orang yang seperti itu," ucap Azazel.
"Hahaha … bahkan bukan cuma ayah, tapi Dulio juga mengakui kemampuanmu, tentu saja aku tidak bisa melepaskan mataku darimu,"
Dulio Gesualdo yang disebutkan Michael adalah pengawal di sampingnya yang merupakan salah satu Komandan Utama. Naruto menyadari orang ini juga sudah menyaksikan pertandingannya di aula latihan tadi. Wajar saja jika dia berkata seperti itu … hanya saja dia tidak tahu seberapa tinggi pria ini mengukur kemampuannya dan memberikan informasinya ke Michael. Hal itu sedikit mengganggu dirinya, apalagi pria ini dikenal sebagai orang termuda yang bisa menjadi bagian dari 6 Komandan Utama.
"Saya tersanjung atas pujiannya …"
"Tapi … jangan lupa bahwa kekuatan datang bersama dengan tanggung jawab," ucap Michael cukup serius.
Michael nampaknya akan membawa ini ke sesuatu yang lebih serius. Sejak awal dia sebenarnya sudah mencari momen dimana dia bisa membuka pembicaraan ke hal hal mengenai perebutan tahta dan memilih fraksi yang sesuai. Dia berniat memberikan sebuah tawaran.
"Toruna-kun, kau pasti juga sadar kan bahwa kekuatan yang kau miliki itu bisa menarik minat bangsawan lain?"
Kekuatan yang dimaksudkan disini tidak hanya kekuatan dalam entitas murni melainkan juga kekuasaan, pengaruh dan kecerdasan serta inovasinya. Pengetahuan Naruto adalah sesuatu yang diinginkan oleh Azazel, Pengaruhnya adalah sesuatu yang diinginkan oleh Michael.
"Saya sadar akan hal itu, oleh karena itu … saya berdiri di sisi Villar-sama untuk mendapatkan bimbingan,"
"Hooh, aku juga bisa memberikan hal yang sama dengan yang Villar tawarkan, lho …"
"Ahahaha … saya kurang paham apa yang dimaksud Michael-sama,"
Mungkin jalan lewat penawaran seperti ini sudah tertutup, itulah yang dipikirkan oleh Michael. Lalu bagaimana dengan jalur lain yang kemungkinan diinginkan oleh setiap bangsawan di negara ini?
"Jadi begitu …? Lalu bagaimana dengan opsi pernikahan? Kurasa ayah tidak akan keberatan memiliki menantu sepertimu,"
Naruto tahu apa yang dipikirkan oleh Michael. Walaupun belum pasti dan ini hanyalah percobaan tawaran yang disampaikan oleh Michael, dia tahu kalau Michael berniat menyodorkan adiknya, Gabriel sebagai hadiah dalam bentuk pernikahan dan ikatan keluarga Kerajaan untuk Naruto.
"Kurasa aku juga bisa memberikan hal yang sama, Toruna-kun … aku memiliki seorang anak perempuan yang lebih tua dua tahun darimu. Ngomong ngomong kau bisa mencarinya saat di Akademi Sihir jika kau butuh sesuatu …"
Kali ini Zeoticus yang menawarkan anak perempuannya. Meski mereka berdua adalah bangsawan dengan status tinggi, Michael sebagai pangeran dan Zeoticus yang merupakan seorang Marquess, anehnya mereka tidak ragu menawarkan adik atau anaknya untuk menikah dengan Naruto. Alasannya karena mereka tahu seberapa besar potensi pemuda ini, dia bisa jadi sesuatu yang lebih berpengaruh daripada sosok Theo Cornaro atau bahkan Villar.
Marquess Gremory berasal dari fraksi pangeran Michael, tentunya mereka menginginkan orang seperti Theo Cornaro di pihaknya untuk menaikkan kesan masyarakat. Akan sangat disayangkan jika mereka membuang orang yang dianggap harta nasional oleh Azazel ke fraksi netral. Dia bahkan sudah mendapat perhatian dari Yang Mulia Strada sendiri.
"Aku belum memikirkan soal pernikahan … lagipula saya hanya seorang Knight. Rasanya tidak pantas jika dibandingkan dengan putri Kerajaan dan putri seorang Marquess. Masyarakat dan bangsawan lain bisa mencela saya,"
Dia sungguh pintar menghindari tawaran Michael dan Zeoticus. Michael hanya bisa tersenyum dan memasrahkan diri karena tampaknya, usahanya hari ini tidak membuahkan hasil. Dia sadar kalau kesempatannya hari ini sudah selesai begitu dia menyadari dua sosok mendekati mereka.
"Michael-sama …"
Mereka adalah sepasang kekasih yang sudah bertunangan. Yang laki laki adalah putra Marquess Jalucia, Alexis dan putri Marquess Kreische, Marriane. Mereka berasal dari fraksi yang sama dengan Villar Constance dan Theo Cornaro. Keduanya bisa dibilang adalah pemimpin fraksi netral saat ini.
Mereka juga memberikan sapaan kepada Azazel, Villar dan Zeoticus tentunya.
"Alexis dan Marriane … kalian datang di saat yang buruk," ucap Michael pasrah.
"Ara, kenapa bisa begitu, Michael-sama …?"
"Sudahlah … kita tidak perlu membahasnya. Kurasa usaha ku hari ini cukup sampai disini … Toruna-kun, pertimbangkan lagi tawaranku,"
"Aku juga harus undur diri … jangan lupakan kesepakatan kita, nak!" ucap Azazel.
"Saya mengerti, Jenderal Azazel-sama …"
Setelah mengucapkan itu, Michael, Dulio, Zeoticus dan Azazel pergi meninggalkan Naruto dan Villar. Naruto bersyukur bahwa pertemuan ini bisa diselesaikan dengan kedatangan pemimpin fraksi netral. Dengan begini dia bisa undur diri dari acara ini dengan aman tanpa harus meladeni bangsawan lain yang ingin bertemu dengannya.
"Bagaimana, sepupuku … apa kita akan pergi sekarang?" tanya Marriane kepada Villar.
"Ya … untunglah kalian berdua datang disaat yang tepat, mereka sudah sampai ke pembicaraan pernikahan. Jika dibiarkan lebih lama, Toruna-kun juga pasti akan kesulitan untuk menghindar," ucap Villar.
"Huft, syukurlah … perkenalannya nanti saja, sekarang kita pergi dulu," ucap Alexis sambil mengamati sekitarnya.
Naruto hanya bisa menuruti ketiga orang penting dalam fraksi netral ini dan berjalan bersama mereka melewati kerumunan bangsawan untuk meninggalkan Istana. Dari sini, Naruto sudah sadar akan pengaruhnya dan dia masih memiliki banyak rencana lagi ke depannya. Dia harus menyiapkannya matang matang, setiap kartu yang dimilikinya untuk menghadapi setiap lawan yang akan berdiri menghadangnya.
TBC
.
.
.
Author Note :
Yo, Shiba desu … oke gimana kabar kalian? Jika baik, syukurlah dan yang buruk, semoga lekas membaik. Aku sendiri menjalani masa masa terkurung di rumah ini dengan baik meskipun tersiksa juga dikarenakan kuliah online itu jujur lebih menyulitkan. Ini fakta ya bukan aku mau beralasan. Ya maafkan aku kalau update nya lama… aku sendiri tidak sempat memeriksa atau mengedit ulang chapter ini karena setelah ini aku harus mengerjakan tugas lagi.
Apa ya yang ingin kubahas di chapter ini? Hmm … ah iya untuk arc selanjutnya adalah arc di Akademi tapi aku tidak berniat panjang, palingan hanya 5-7 chapter mungkin? Karena aku tidak ingin terlalu membuang waktu disana. Sejujurnya aku malas tapi ya gimana ya sudah begini jalannya di otakku… ya sudahlah … maaf kalau cerita ini misalkan gaje atau apalah… aku memang author pemula yang imajinasinya masih rendah, silahkan bisa kritik sepuasnya.
Oh ya, terima kasih juga atas saran saran dan review nya. Aku selalu membaca review kok hanya saja kadang aku lupa untuk menerapkan saran saran yang diberikan. Yah, itu juga kalian bisa jadikan bahan untuk mengkritikku dan aku akan terima saja karena ya itu kesalahanku.
Untuk update selanjutnya, aku tidak tau mau update apa? Karena aku masih proses membaca ulang dan menemukan gairah untuk Symbol of Revenge dan Warrior From The Heaven. Kemungkinan kalau bukan fic ini ya … yang Fate of My Adolescence. Itu saja dariku mungkin, jika ada sesuatu yang mau ditanyakan dan arahnya bukan ke fic ini tapi personal… bisa WA saja.
Jangan lupa gabung juga ke grup WA tercinta kita semua dengan berbagai author idaman yang doyan hiatus dan menggantungkan readernya… grup WA Fanfiction Indonesia yang dikelola dan dipimpin oleh author nya Golden Magic si Eins… ya entah apa penname nya sekarang. Dia suka gonta ganti. Itu saja…
See u in next chap
