Monarch of Despair
Rate: M
Disclaimer: Naruto [Masashi Kishimoto], Highschool DxD [Ichie Ishibumi], Grancrest Senki [Ryo Mizuno], Musaigaen no Phantom World [Soichiro Hatano], Tensei Shittara Slime Datta Ken [Fuse], Overlord [Kugane Maruyama]
Ditulis tanpa mengharapkan keuntungan materil sedikit pun
Genre: Fantasy, Hurt/Comfort, Action, Adventure, Family, Romance
Warning: Typo, gaje mungkin, masih jauh dari kata sempurna, OOC
Pairing: ?
Summary: Lahir karena pernikahan politik tanpa dilandasi cinta yang berujung sebuah perpisahan dan penghapusan keberadaannya… anak dari keluarga Earl Namikaze dan keluarga Marquess Lucifuge ini tak hanya dihapus keberadaannya tapi juga dibuang dan ditelantarkan oleh kedua orang tuanya. Namanya adalah Naruto, seorang bocah berusia 5 tahun yang nantinya akan tumbuh sebagai budak sekaligus orang yang terpilih untuk mewarisi gelar Monarch of Despair.
.
.
.
.
.
Chapter 14 : Akademi Kerajaan Lamia
3 Desember X615, Kalender Kerajaan Lamia
Genap dua minggu sejak Naruto menerima gelarnya sebagai Knight Kerajaan Lamia. Pada hari ini juga dia mulai menghadiri Akademi Kerajaan Lamia sebagai salah satu murid disana meski hanya tiga bulan. Dalam waktu tiga bulan dia akan diajari etika bangsawan dan pelajaran yang diperlukan untuk mengelola wilayahnya kelak. Sejujurnya dia tidak membutuhkan ilmu pelajaran dasar atau ilmu pelajaran lanjutan karena dia sudah membaca banyak buku.
Bahkan bisa dikatakan pengetahuannya melebihi atau berada di jajaran teratas murid Akademi baik dalam ilmu pengetahuan alam, ekonomi, matematika, ilmu sihir dan berbagai bidang ilmu lainnya yang dipelajari di Akademi. Bukankah hal itu jelas? Lagipula dia yang menciptakan [Ether Configuration System].
"Hmm ...,"
Saat ini Naruto sedang berdiri di depan cermin melihat apakah dia sudah memakai seragam Akademi dengan rapi. Sedangkan sedikit jauh darinya, ada Rossweisse yang sejak tadi memandangi Naruto.
"Rossweisse …, apakah aku sudah terlihat rapi?"
"A-Ah …, Anda terlihat rapi, Toruna-sama …," pertanyaan Naruto langsung membuyarkan segala imajinasi Rossweisse pagi itu ketika dirinya dibuat terpesona oleh Naruto dengan seragam Akademi Kerajaan.
"Dimana Haruhiko?"
"Dia sedang belajar mengenai etika dengan kepala pelayan,"
Naruto membuat senyum masam, dia tidak yakin Haruhiko baik-baik saja saat ini. Pasti akan sulit untuk orang dengan kepribadian sepertinya.
"Kalau begitu, biar saya perintahkan pelayan untuk menyiapkan kereta kuda-," ucap Rossweisse terpotong.
"Aku akan berangkat sendiri … tidak perlu mengantarku dengan kereta kuda, itu sedikit menggangguku entah kenapa," kata Naruto.
"Lalu bagaimana dengan …"
"Tenanglah, Rossweisse …, aku tahu apa yang harus kulakukan saat tiba di Akademi dan siapa yang harus kucari,"
Dengan berat hati akhirnya Rossweisse membiarkan keinginan Tuan nya. Naruto bahkan tidak memerlukan tas atau semacamnya karena memiliki item penyimpanan dimensional. Setelah selesai sarapan, dia mengucapkan salam kepada para penghuni mansion lalu pergi. Tentu saja dia harus keluar dulu dari kawasan yang diisi dengan bangunan milik para bangsawan ini.
"Hei, apa kalian pernah melihatnya?"
"Hmm? Itu seragam Akademi tapi aku tidak pernah melihatnya … itu aneh,"
"Iya, kan? Mana mungkin aku bisa tidak tahu atau melupakan pria bangsawan setampan itu di Akademi,"
Bahkan meski dia memutuskan untuk berjalan kaki, pesona nya benar-benar terlihat seperti bangsawan bermartabat yang mampu mengalihkan perhatian banyak orang atau bahkan murid dari Akademi yang ia lewati di jalan menuju Akademi. Kebanyakan dari mereka adalah murid yang berasal dari golongan orang biasa yang kaya raya.
Ada perbedaan jenis untuk murid di Akademi secara dasar yaitu golongan orang biasa yang kebanyakan orang tuanya adalah orang kaya dan golongan bangsawan yang tentunya berasal dari garis keturunan bangsawan. Tentu saja, kelas mereka di dalam Akademi juga dipisah seperti memberikan garis batas antara kedua golongan. Seragam untuk golongan biasa berwarna hitam sedangkan seragam untuk golongan bangsawan berwarna putih.
Sejujurnya Naruto tidak peduli hal itu, menurutnya hal itu tidak salah juga. Hanya saja dia tidak menyukai jika ada tindakan permusuhan atau diskriminasi secara fisik dan verbal. Dari yang ia ketahui nampaknya beberapa murid golongan bangsawan ada yang suka sekali menggunakan kuasa dan kedudukan mereka untuk menindas murid dari golongan biasa.
Meski begitu, sejujurnya kalau bisa dia tidak ingin terlibat jika dia melihat hal tersebut terjadi di Akademi. Dia khawatir emosi nya akan mengambil alih tubuhnya dan ikut campur ke dalamnya.
'Setelah ini aku harus mencari Ketua Dewan Murid … Sona Sitri dari tahun kedua, adik dari Serafall,'
Di Akademi ini terdapat dua divisi, yaitu jenjang menengah pertama, disebut divisi pertama lalu jenjang menengah akhir, disebut divisi akhir, dengan masing-masing divisi menempuh waktu tiga tahun. Usia Naruto harusnya sesuai dengan murid tahun pertama dari divisi akhir. Sebelum memasuki divisi pertama, murid yang akan masuk Akademi harus lulus pendidikan dasar selama enam tahun di Akademi Divisi Dasar Lamia.
Tentu saja semua murid yang ada disini sudah lulus pendidikan dasar melalui Akademi Divisi Dasar Lamia atau bisa juga keluarga mereka memberikan pendidikan dasar di rumah dengan memanggil atau membayar guru bersertifikat untuk mengajari anak mereka hingga anak tersebut lulus dari tes pengetahuan dasar.
"Maaf, bolehkah aku bertanya kepada kalian?"
Naruto dengan sopan menghentikan tiga gadis dari golongan biasa yang akan melewati gerbang masuk Akademi. Ketiganya tersipu kaget saat Naruto memanggilnya, sebenarnya dari kejauhan, mereka bertiga sudah mengamati Naruto yang hanya diam berdiri di depan batas masuk Akademi.
"A-Ah, apa yang ingin Anda tanyakan, Tuan Bangsawan?"
Naruto sedikit tidak nyaman dengan cara gadis ini memanggilnya tapi apa boleh buat, dia tidak ingin membuang waktu lebih lama disini.
"Bisakah kalian memberitahuku dimana aku bisa mencari Ketua Dewan Murid atau ruangan Kepala Akademi?"
Setelah itu, mereka memberitahu Naruto dimana ruangan Kepala Akademi karena sayangnya terlalu samar bagi mereka untuk menjawab dimana dia bisa mencari Ketua Dewan Murid. Tentu saja Dewan Murid memiliki ruangan besar yang dipakai untuk berbagai kegiatan seperti rapat dan lain-lain.
Naruto berjalan menuju ruangan Kepala Akademi sesuai petunjuk yang diberikan. Dan di sepanjang jalan menuju kesana, dia masih menjadi perhatian banyak murid bahkan para perempuan dari kelas bangsawan.
"Permisi …"
"Hmm? Masuk,"
Naruto baru akan membuka pintu ruangan, tiba-tiba saja dia merasakan hawa kehadiran besar yang berasal dari dalam ruangan, setidaknya ini setingkat dengan para Jenderal atau bahkan diatasnya. Tentunya dia sendiri belum pernah merasakan sensasi penuh kekuatan para Jenderal, dia hanya memperkirakan setinggi apa setelah dia berhadapan dengan para Komandan di aula latihan Istana.
"Saya mencari Kepala Akademi,"
"Ohh …, kau bangsawan muda baru yang dirumorkan itu ya? Ya aku sudah menerima laporan dari utusan Istana bahwa kau akan datang …"
Pria itu terlihat seperti berumur di pertengahan 40 namun entah kenapa Naruto merasakan firasat aneh.
"Aku adalah Kepala Magic Knight Academy Kerajaan Lamia, Uchiha Madara …"
'Patron God of Uchiha!' gumam Naruto dalam hati terkejut.
Otak Naruto terisi dengan banyak jawaban setelah menyadari bahwa orang ini adalah Uchiha Madara yang asli. Sosok legendaris Kerajaan Lamia yang melindungi Kerajaan sejak lama. Ternyata beliau selama ini ada disini.
"Nampaknya kau tidak terkejut melihatku ya …"
"Tidak, saya sangat terkejut melihat Anda ternyata menjadi Kepala Sekolah disini, suatu kehormatan bisa bertemu dengan sosok pelindung Kerajaan," kata Naruto menyampaikan jawabannya lalu memberikan penghormatan sesuai dengan etiket bangsawan.
Setelah mengetahui bahwa Patron God of Uchiha ada disini, dia merasa sedikit rugi karena hanya akan berada di sekolah ini dalam waktu yang singkat. Jika bisa, dia ingin mempelajari banyak hal dan mengeruk banyak pengetahuan dari pria tua yang berdiri di hadapannya saat ini. Tidak terbayangkan seberapa kuatnya aura yang ditekan oleh pria tua ini, namun Naruto masih mampu merasakannya.
'Dia benar-benar di level yang berbeda," gumamnya dalam hati.
Madara tersenyum hanya dengan melihat betapa waspadanya Naruto. Dia bahkan menyadari kalau Naruto bisa merasakan aura yang sudah ditekan olehnya. Jelas bahwa pencapaiannya dalam menaklukkan paus iblis bukan sebuah kebohongan. Dia bisa melihat sesuatu yang berbeda, yang tidak dimiliki para bangsawan penerus lain yang ada di Akademi. Anak yang satu ini spesial.
"Kurasa aku tidak perlu melakukan tes atau sejenisnya lagi untuk membuktikan kebenaran dari berita yang kudengar," kata Madara tersenyum.
"…?" Naruto tampaknya tidak mengerti.
Tak lama kemudian beberapa orang datang sambil membawa beberapa dokumen.
"Permisi …"
Naruto dan Madara menoleh ke arah datangnya suara. Disana berdiri dua perempuan yang sedikit terkejut melihat Kepala Sekolah sedang berbincang dengan seorang murid yang wajahnya tidak dikenali oleh salah satu dari mereka berdua.
"Toruna …" panggil gadis bersurai pirang yang dikenali oleh Naruto.
"Selamat pagi, Shion-sama … hamba memberikan penghormatan," ucap Naruto membalas panggilan Shion sambil memberikan etiket penghormatan ala bangsawan.
Gadis berkacamata yang datang bersama dengan Shion nampaknya terkejut. Pria itu adalah seorang petualang yang baru-baru ini mendapatkan perhatian seluruh Kerajaan karena menyelamatkan Kota [Mandra] dari serangan Paus Iblis. Tak hanya itu, bahkan kakak perempuannya yang saat ini memimpin keluarga Sitri memberikan pujian tertinggi nya kepada pemuda yang lebih muda dua tahun darinya. Dia telah melakukan beberapa penyelidikan dan menyimpulkan juga bahwa Toruna dan Haruto yang baru-baru ini bekerja sama dengan keluarga nya serta kediaman Lucifuge adalah orang yang sama.
Dia teringat akan kata-kata dari kakaknya…
"Jaga matamu baik-baik … jangan lepaskan pandanganmu pada setiap tindakan yang dilakukannya. Dia benar-benar akan menjadi badai baru yang mengguncang Kerajaan"
"Aku adalah Ketua Dewan Murid di Akademi, namaku Sona Sitri," ucap Sona memperkenalkan dirinya kepada Naruto.
Naruto langsung mengenali nya. Dia adalah adik dari Serafall dan kemungkinan perempuan ini tahu mengenai hubungan antara diriny sebagai Haruto dengan kakaknya. Terlebih lagi jika melihat reaksinya tadi sedikit mendukung firasat Naruto.
"Senang bisa bertemu dengan bangsawan Sitri, nama saya Toruna …" ucap Naruto membalas salamnya.
Sona sedikit menyeringai dan memikirkan sesuatu yang sedikit jahil.
"Bukankah Toruna-san sudah pernah bertemu dengan bangsawan Sitri yang lain sebelumnya?"
Shion sedikit terkejut mendengar Sona dengan lancang menanyakan langsung kepada Naruto. Tapi, Naruto sudah memperkirakannya juga dan menyimpan jawaban yang setidaknya bisa menangkis tuduhan tersebut.
"Jika yang senpai maksud adalah saat penobatan gelar Knight ku, ya tentu saja …"
Sona tersenyum mendengar jawaban itu.
'Gadis ini …' gumam Naruto dalam hati sambil masih mempertahankan senyumannya.
Gadis ini mungkin jauh lebih waspada dari yang diperkirakan Naruto. Tentu saja kakaknya pasti sudah memberitahunya untuk tidak melepaskan matanya dari Naruto. Beruntungnya Madara ada disana untuk menyelesaikan pembicaraan sebelum Sona menginterogasi Naruto lebih jauh.
"Aku harap kalian tidak melakukan keributan disini … dan juga Shion-sama serta Sona. Bisakah aku meminta tolong kalian berdua untuk mengantar Toruna ke kelasnya? Dia akan menghadiri kelas tahun pertama untuk tiga bulan ke depan sebagai formalitas tapi kuharapkan kau juga bisa beradaptasi dengan pelajaran yang diberikan. Akan diadakan sebuah ujian untuk memeriksa sejauh mana keterampilan dasar akademik mu nanti siang, jadi jangan lupa untuk mencari Sona siang nanti,"
"Baik," jawab mereka.
Dari sana keduanya keluar dari ruangan Kepala Akademi setelah Sona dan Shion menyerahkan dokumen-dokumen yang harus diurus oleh Kepala Akademi. Ada sedikit ketidaknyamanan di hati Naruto karena saat ini dia berjalan dengan dua wanita yang memiliki popularitas besar di Akademi. Hal itu menarik banyak pasang mata baik dari murid laki-laki maupun perempuan.
Hal yang tidak dia ketahui adalah bahwa sebagian besar murid perempuan tidak hanya tertarik karena dia berjalan bersebelahan dengan Tuan Putri Kerajaan dan Putri Kedua dari kediaman Sitri, tetapi juga karena pesona yang dipancarkannya. Entah itu dari kalangan bangsawan atau bukan, mereka terpesona.
"Jadi, Toruna-kun? Boleh kupanggil begitu? Sedikit aneh rasanya memanggil dengan Toruna-san atau Toruna-dono," tanya Shion.
"Tentu saja, Shion-sama …" jawab Naruto.
"Ah, tolong panggil saja senpai jika kita di Akademi," kata Shion.
"Baik, akan saya lakukan …"
Hal yang membuatnya tidak nyaman bukan hanya perhatian yang dia dapatkan dari orang-orang yang dia lewati di sepanjang lorong, tapi juga dari Sona yang terus memperhatikannya dari samping. Pasalnya hal itu menimbulkan kecurigaan tersendiri untuk orang-orang karena mereka bisa melihat Sona melakukan itu dengan sengaja. Beberapa orang mulai berbisik-bisik membahas soal hubungan Naruto dan Sona meskipun kenyataannya mereka baru bertemu hari ini untuk pertama kalinya.
'Ini menyebalkan,' kata Naruto dalam hati hanya bisa pasrah dengan situasinya.
"Toruna-kun, meskipun kau hanya tiga bulan di Akademi … apakah kau tertarik untuk melihat beberapa klub disini?" tanya Shion.
"Maaf, sejauh ini saya belum ada minat tertentu di sebuah klub tapi kemungkinan yang menarik minatku adalah Klub Penelitian Sihir Kuno," jawab Naruto.
"Hmm? Seperti yang diharapkan dari orang yang menggunakan sihir unik saat mengalahkan Paus Iblis," kata Shion terpukau.
Obrolan mereka terus berlanjut hingga akhirnya mereka bertiga tiba di depan kelas tahun pertama. Papan tulisan di atas pintu bertuliskan kelas "1-A" yang berisi murid-murid yang berasal dari kalangan bangsawan. Pembagiannya mudah, dari kelas A hingga C ditempati oleh kalangan bangsawan sedangkan D hingga F adalah kelas golongan biasa.
"Apa kau butuh bantuanku sampai disini?" tanya Shion.
"Tidak perlu, Shion-sa …-senpai," jawab Naruto.
"Kalau begitu, kami akan pergi dan jangan lupa temui kami siang nanti saat jam istirahat," kata Shion.
Sona juga memberikan sedikit menyapa nya sebelum pergi dan Naruto membalasnya juga sesuai dengan etiket bangsawan. Dari sini dia harus menghadapi anak-anak dari kediaman bangsawan yang kemungkinan akan menaruh rasa tidak suka kepadanya apalagi dia awalnya adalah petualang yang diangkat menjadi bangsawan.
Dia membuka pintu ruangan kelas dan dia disambut dengan banyak pasang mata yang memperhatikannya. Dari tempatnya berdiri sekarang, dia melihat bangku kosong yang bisa ditempatinya. Nampaknya pengajar kelas juga belum datang, jadi dia tidak menunggu lama.
"Apakah itu bangsawan muda yang baru-baru ini diangkat?"
"Iya, kudengar dia mengalahkan Paus Iblis yang bahkan tidak bisa dikalahkan oleh salah satu dari 6 Komandan Batalion, Gazef Stronoff …"
Naruto mulai mendengar bisik-bisik dari anak-anak bangsawan yang seumuran dengannya. Baik itu laki-laki ataupun perempuan namun yang paling menarik perhatiannya berasal dari salah satu sudut lain di ruangan kelas. Beberapa anak bangsawan yang tampak menonjol dibandingkan dengan yang lainnya. Dia juga pernah melihat dua dari mereka di sebuah berita mengenai festival [Magic Knight Academy] beberapa waktu lalu.
Kalau tidak salah acara itu memang diadakan untuk murid-murid bangsawan baru tiap tahunnya. Diadakan tiga bulan setelah pergantian murid baru yang masuk. Tentunya festival tersebut memiliki tiga cabang sesuai dengan tiga angkatan yang ada di Akademi. Dan pemenang dari seluruh angkatan tahun pertama saat ini adalah Namikaze Menma. Dengan kata lain …
… Saudara tirinya.
.
.
.
.
.
xxx0xxx
Naruto harus diam menunggu sambil memandangi langit dari balik jendela. Cukup lama waktu berlalu, hingga akhirnya wali kelas datang. Wali kelas mereka adalah salah seorang ksatria terkenal di Kerajaan yang disebut setara dengan '6 Komandan Batalion', dia adalah bawahan kepercayaan dari kediaman bangsawan Namikaze, Hatake Kakashi. Dan tampaknya dia tidak sendiri karena ada satu wanita yang merupakan pengajar magang datang bersamanya.
"Seperti yang kalian ketahui bahwa hari ini kalian akan mendapatkan teman baru … bisa kau maju dan perkenalkan dirimu?" tanya Kakashi kepada Naruto.
"Baik, sensei …" jawab Naruto segera bangkit dari kursinya.
Dia maju ke depan dan berhadapan langsung dengan seisi kelas. Tidak ada yang aneh sampai salah satu murid perempuan tiba-tiba memalingkan pandangannya setelah kedua tatapan mereka bertemu.
'Gadis itu … Hyuuga kah?'
"Perkenalkan namaku Toruna, saya adalah seorang bangsawan yang baru saja diangkat atas kebaikan dari Yang Mulia Raja. Atas perintah Yang Mulia, saya diminta untuk menghadiri Akademi ini selama tiga bulan. Walaupun waktunya singkat, tapi saya mohon bantuannya …"
Dan dengan itu dia meneruskan perkenalannya. Naruto tidak menyadari sejak tadi Kakashi memperhatikannya baik-baik.
'Dia … jika dilihat baik-baik, tidak … tidak mungkin," kata Kakashi menyangkal apa yang ia pikirkan sendiri.
Setelah itu dia kembali duduk di tempatnya dan kelas berjalan sebagaimana mestinya. Untuk saat ini setidaknya dia sudah mengenali siapa nama guru magang yang datang bersama Kakashi. Dia adalah Koyuki, jika dia tidak salah … wanita ini seharusnya adalah aktris di sebuah panggung theater hiburan yang terkenal di Ibukota dan berafiliasi dengan Marquess Jalucia.
'Apakah dia suruhan dari Alexis untuk mengawasiku?'
Dia tidak bisa memastikan akan tetapi untuk saat ini dia akan lebih terfokus dengan kehidupannya di Akademi ini. Dia punya firasat buruk entah kenapa karena sejak dia diperhatikan oleh kumpulan murid yang berkuasa di kelas ini. Mereka adalah Namikaze Menma, Uchiha Sasuke, Sabaku Gaara, Hyuuga Neji dengan sisanya seorang perempuan adalah Hyuuga Hinata. Mereka berlima berasal dari kediaman yang mendukung faksi Putri Shion. Sungguh kebetulan yang aneh.
Sebelumnya dia sudah memeriksa data yang ada di sekolah tentang murid-murid yang berasal dari kediaman bangsawan yang berpengaruh namun mayoritas di angkatannya di dominasi oleh bangsawan dari faksi Shion, tapi bukan berarti tidak ada penerus kediaman bangsawan yang berafiliasi dengan faksi pangeran Michael.
Tentu saja ada, mereka ada di kelas '1-B' yaitu Diodora Astaroth dan keempat anak angkat ibunya, Grayfia Lucifuge. Mereka adalah Sakura, Shizuka, Xenovia dan Irina. Dan lucunya, di kelas tersebut ada salah seorang putri Kerajaan ini, adik kandung Michael, Gabriel. Dua kelas dengan dua faksi berbeda, jelas bukan sebuah kebetulan tapi pengaturan.
Sedangkan di tahun kedua nama yang dia ingat selalu dalam benaknya, Mai Meletes dari kediaman Meletes, Himejima Akeno, anak perempuan Baraqiel dari [Grigori] lalu Rias Gremory, Sona Sitri dan Seekvaira Agares. Di angkatan tahun kedua terdapat tiga dari '4 Rookies' dari faksi pangeran Michael.
Sairaorg Bael yang juga merupakan salah satu dari '4 Rookies' ada di tahun ketiga. Dia ditemani oleh putri pertama dari kediaman Viscount Abaddon, Kuisha Abaddon yang sudah bertunangan dengannya dan juga Corianna Andrealphus, putri pertama Baron Andrealphus yang memberikan sumpah setianya. Sisanya di tahun ketiga berisi Tobio Ikuse yang merupakan anak angkat Jenderal Azazel sekaligus penerusnya dan Raiser Phenex dari kediaman Viscount Phenex.
Beberapa orang dari kelas golongan biasa juga ada yang menarik perhatiannya, mereka adalah orang-orang yang memberikan sumpah setianya kepada Rias Gremory dan Sona Sitri.
Untuk saat ini hanya itu saja yang dipikirkan olehnya. Sejauh ini Akademi tidak terlalu buruk, dia sudah menguasai materi yang disampaikan hari ini oleh Kakashi dan Koyuki jadi dia cukup merasa bosan. Beruntungnya waktu berlalu cepat hingga saat istirahat makan siang akhirnya tiba.
"Oke kalau begitu akan kita lanjutkan setelah istirahat," ucap Kakashi pergi meninggalkan ruangan kelas bersama Koyuki.
Naruto yang berniat bangkit dan pergi untuk mencari Sona dihalangi oleh beberapa orang. Mereka adalah Menma, Sasuke, Gaara dan Neji.
"Aku ingin bertanya …, apa benar dirimu mengungguli Gazef Stronoff, salah satu Komandan Batalion dan mengalahkan Paus Iblis?" tanya Sasuke langsung kepada Naruto.
Naruto terdiam sesaat sambil memandangi keempatnya. Dia sudah menduga tapi dia masih tidak nyaman ketika ditanya soal itu.
"Itu benar …," jawab Naruto.
Sasuke menyipitkan matanya dan perasaannya tidak senang entah kenapa.
"Kalau begitu, tidak perlu lama-lama lagi …, ikut denganku ke arena latihan. Aku ingin mengetahui apakah itu kebenaran atau bukan," ucap Sasuke menantang Naruto.
Naruto sendiri sedikit terkejut dengan tantangan yang terang-terangan seperti ini. Sejujurnya dia tidak memiliki keinginan untuk menanggapi duel paksaan ini. Sebaliknya dia tidak ada waktu juga untuk melakukan itu.
"Maaf, tapi Kepala Akademi mengatakan aku harus menemui Ketua Dewan Murid saat istirahat," jawab Naruto bangkit dari kursinya.
"Kalau begitu kita lakukan setelah semua pelajaran hari ini selesai," dan rupanya Sasuke masih tidak menyerah.
"Aku tidak ada kewajiban untuk mematuhi perintahmu, Uchiha-san," balas Naruto tak peduli.
Lalu, tiba tiba Menma berdiri di hadapannya menghalangi langkah Naruto yang akan keluar. Disana Gaara dan Neji hanya memperhatikan dengan serius. Sedangkan Hinata tampak kebingungan dan panik harus berbuat apa. Satu-persatu murid di dalam ruangan kelas juga berbondong-bondong keluar atau justru makin memperhatikan.
"Kami berbicara padamu, orang baru …, kami tidak percaya orang yang seumuran dengan kami dan bahkan berasal dari masyarakat biasa mampu mengungguli Komandan Batalion Gazef-san. Mustahil bagi orang sepertimu untuk bisa berada di atas kemampuan beliau," ucap Menma menatap mata Naruto dengan ekspresi yang terlihat sedikit kesal.
Naruto menghela nafas pelan namun terdengar sedikit kekesalan dari nada pelannya. Nampaknya dari kalimat yang diucapkan oleh Menma, mereka berempat ini menghormati Gazef. Tapi Gazef sendiri juga berasal dari masyarakat biasa. Itu lucu untuk didengar.
"Biar kusimpulkan, apakah artinya kalian menentang dan tidak percaya dengan keputusan Yang Mulia Raja?" tanya Naruto yang langsung membuat ekspresi Menma berubah.
"A-Apa? Aku tidak mengatakan itu …, kami hanya ingin tahu kebenarannya, apakah benar bahwa kemampuanmu seperti yang diberitakan," kata Menma dengan sedikit ketegangan.
Naruto lelah menanggapi mereka, pada akhirnya dia melewati Menma dengan paksa tanpa menghiraukan keempatnya. Sebenarnya dia tidak ingin memberikan kesan buruk kepada keempat orang ini di hari pertama tapi sejujurnya dia tidak begitu suka dengan tingkah laku mereka meskipun dia mengapresiasi mereka karena menghormati prajurit sejati seperti Gazef.
"Kapan diadakan latihan pertempuran?" tanya Naruto sebelum membuka pintu kelasnya.
Menma dan Sasuke bertukar pandangan saat Naruto menanyakan hal tersebut.
"Dua hari lagi …," jawab Sasuke.
"Kalau begitu, biar kutunjukkan disana," ucap Naruto pergi meninggalkan mereka berempat.
Menma dan Sasuke melihat punggung Naruto sambil mengerutkan dahinya.
"Akan kupastikan untuk menghancurkan kesombongannya,"
.
.
.
.
.
xxx0xxx
Naruto berjalan sambil merasa bodoh dan baru kali ini dia melupakan hal penting. Dia lupa menanyakan dimana ruangan Ketua Dewan Murid kepada Sona tadi. Dia benar-benar mengutuk dirinya sendiri dalam hati. Dia berniat untuk menanyakan dimana ruangan Ketua Dewan Murid tapi ketika dia akan bertanya, murid-murid lainnya menjauh darinya entah karena alasan apa.
"Apa yang terjadi?" gumam Naruto pelan.
Sebagian dari mereka memberikan tatapan mata sinis dan sebagian lagi takut dan menjauh seolah tidak ingin terlibat dengannya. Sampai akhirnya dia tiba di salah satu sudut sekolah, di sebuah taman terbuka di dalam sekolah. Dia melihat seorang gadis bersurai hitam dari kelas kalangan biasa dikelilingi oleh tiga gadis yang berasal dari kelas bangsawan dan dua gadis yang berasal dari kalangan biasa.
Ada yang aneh dengan interaksi mereka, salah seorang dari gadis kalangan biasa membawa ember berisikan air. Nampaknya terjadi perundungan disana yang dilakukan oleh kelas bangsawan kepada kelas masyarakat biasa. Dan kedua gadis dari kelas masyarakat biasa itu tampaknya berada di pihak kelas bangsawan karena terpaksa.
"Kudengar gadis ini adalah gadis yatim piatu yang bersekolah disini karena beasiswa …," ucap salah satu gadis bangsawan.
"M-Maafkan aku, Chloe …" ucap gadis dari kelas masyarakat biasa sambil membawa ember dan bersiap menyiramkannya kepada gadis bernama Chloe Aubert.
Wanita bangsawan yang memimpin keempat orang itu nampaknya adalah gadis bersurai pirang dengan tatapan datar kepada gadis berambut hitam.
"A-Apa yang telah saya lakukan hingga mendapat perlakuan seperti ini, Yamanaka-sama?"
Gadis yang dimaksud adalah Yamanaka Ino, dia berasal dari kediaman Baron Yamanaka yang berafiliasi dengan faksi putri Shion.
"Aku tidak suka melihat Mai-senpai yang kukagumi memberikan perlakuan khusus kepadamu. Karena pengaduanmu juga Mai-senpai tidak mau bicara padaku. Hal wajar bila masyarakat kelas rendah sepertimu tidak seharusnya bersama dengan senpai!" kata Ino dengan ekspresi kesalnya.
"Ino, apa kau yakin akan baik-baik saja? Dia tidak hanya dekat dengan Mai-senpai tapi dia juga saudara angkat dari tangan kanan Shion-sama, Kapten dari pasukan pribadi Shion-sama, Hinata Sakaguchi,"
Naruto tadinya ingin pergi dari sana tetapi lama kelamaan dia mengamati kejadian itu, dia tidak tahan juga. Perlakuan mereka kepada gadis bernama Chloe itu sungguh konyol. Dari jauh pun dia bisa mendengar percakapan mereka tentang Chloe yang dekat dengan Mai. Yang lebih parahnya beberapa siswa yang melintas tidak ada yang memiliki inisiatif untuk membantu. Kebanyakan murid kelas bangsawan terlihat tidak peduli dan yang berasal dari kelas biasa, tidak mau terlibat karena takut.
"Siramkan air itu kepadanya!"
"B-Baik!"
Dan ketika siswa kelas biasa itu menyiramkan air di dalam ember itu kepada Chloe, gadis itu hanya bisa menutup matanya pasrah dan menerimanya. Selama beberapa detik dia menutup mata tapi dia masih tidak merasakan basah. Akhirnya dia membuka matanya dan terkejut ketika melihat air yang akan disiramkan kepadanya, melayang begitu saja.
"A-Apa? Siapa?" tanya Ino kebingungan.
"Akademi ini melarang adanya tindakan diskriminasi seperti ini … dari yang kuketahui, kau akan dapat hukuman berat jika melanjutkannya," ucap Naruto sambil mengangkat tangannya ke depan.
Dia adalah pelaku yang menghentikan siraman air tersebut, dengan sihirnya, dia memanipulasi air tersebut agar bergerak sesuai keinginannya. Beberapa siswa mulai berkumpul untuk melihat kejadian itu sedangkan Naruto berjalan mendekat.
"Kelas bangsawan …, siapa kau? Berani juga kau menggangguku?" tanya Ino.
"Ino! Dia itu murid baru! Toruna, pria yang baru saja diangkat menjadi bangsawan Knight di usianya yang masih lima belas tahun!"
"Apa?" nampaknya Ino juga terkejut mendengar informasi dari temannya.
Naruto berjalan mendekati Chloe dan mengulurkan tangan kepada Chloe, membantunya untuk berdiri.
"Apa kau terluka?" tanya Naruto tidak mempedulikan Ino di depannya.
Chloe hanya menatap Naruto dengan ekspresi kagum sambil menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, terlihat juga sedikit rona merah di wajahnya saat matanya bertemu dengan mata Naruto. Kemudian dia menerima uluran tangan Naruto lalu berdiri.
"Terima kasih, Toruna-sama …," ucap Chloe.
"Panggil saja aku Toruna," jawab Naruto kemudian menoleh ke arah Ino.
Ini baru hari pertamanya tapi dia sudah membuat masalah dengan beberapa bangsawan dari faksi putri Shion. Hal ini pasti nantinya hanya akan menambah beban di kepalanya apalagi jika Villar sampai mengetahui hal ini, tapi tindakan yang dilakukan oleh gadis yang berasal dari kediaman Yamanaka barusan ini adalah hal yang tak bisa dimaafkan olehnya. Perasaan superioritas serta kecemburuan yang dimiliki gadis ini menutup hati nuraninya hingga memperlakukan orang lain yang ia rasa tak sederajat dengannya bagaikan sampah pengganggu.
"Sekarang apa yang harus kulakukan ya?"
Naruto dengan ekspresi datar memanipulasi genangan air yang masih mengambang di udara itu dan menyiramkannya kepada Ino serta kedua teman bangsawannya.
"A-Apa!? K-Kau! Ukhh …," Ino menatapnya dengan penuh kebencian.
"Kurasa cukup sampai disitu saja, Toruna …," yang muncul dari keramaian orang yang menonton adalah Shion bersama dengan seorang wanita bersurai hitam pendek yang mengerutkan dahinya serta Sona yang datang bersama dengan satu temannya.
'Wanita yang bersama Shion …, siapa dia? Dia sengaja menunjukkan mana dan auranya di sekujur tubuh hingga ke tingkatan yang sama dengan para Komandan Batalion …,' ucap Naruto dalam hati melihat sosok wanita yang ada di sebelah Shion.
Itu adalah pertemuan pertama antara Naruto, Chloe Aubert dan Hinata Sakaguchi.
TBC
.
.
.
Author Note:
Tes, Shiba desu… dan akhirnya gw update setelah sekian lama. Ini pun karena perjanjian yang gw buat di grup FI. Emang kurang ajar member membernya, bercandaan gw dianggep serius dan akhirnya sesuai perjanjian karena udah 400 fav, nih gw update. Sebenernya chapter ini udah gw bikin sejak update terakhir kali sampe sekitaran 1000 an word, terus gw males mau ngetik dan eh waktu berjalan… udah tiga bulan. Maafkan saya yang begini.
Di chapter ini gw menunjukkan karakter karakter yang ada di Akademi Kerajaan. Gw berharap gaada typo atau kesalahan, kalo ada hal janggal tulis aja di kolom review. Btw, Chloe Aubert disini ya seperti yang kalian tau dia dari Tensura, dan yang gw tunjukkin disini itu Chloe yang versi dewasanya.
Hinata Sakaguchi juga dari Tensura. Gw emang kepengen mereka berdua muncul di fic gw karena keduanya favorite female character gw di Tensura termasuk Testarossa ama Shion. Testarossa ama Shion sendiri pengen gw munculin, ya walaupun di anime nya Testarossa belum muncul. Patokan gw sebenernya dari LN nya, gw baca baik versi WN sampai tamat dan LN nya walaupun official English dari LN nya sendiri juga baru rilis sampe volume 12 tapi gw nemu website yang ada LN nya sampe vol 18.
Gw masih bingung mau bawa Tensura sampe dimana, kemungkinan semua Primordial Demons tetep bakal gw munculin tapi Primordial Angels engga. Terus bawahan Rimuru yang dari Labyrinth keknya juga akan gw munculin kek Zegion, Apito, Kumara dan bawahan Rimuru yang lain di Labyrinth.
Cuma ya gw masih harus susun lagi… ya keknya itu aja sih, gw bingung mau bahas apalagi… Ohh ya buat fic gw yang lain… sabar dulu
See you in next chap
