SKET Dance by Kenta Shinohara. I don't take any material advantage by writing this story. Fanfiksi ini ditulis berdasarkan fanart yang digambar oleh username kumcimotor di Twitter. Makasih, Sepin, udah kasih izin!
From : Usui Kazuyoshi
To : Kibitsu Momoka
Subject : π Ceri
Momoka sudah pulang?
Ibuku buat pai ceri buat kamu. Kalau sudah pulang, nanti aku antarkan ke sana. Kalau belum pulang dan masih sibuk, balas email ini saat sudah luang saja, ya? Jangan lupa makan dan minumlah yang cukup (^o^)/
From : Kibitsu Momoka
To : Usui Kazuyoshi
Subject : Re: π Ceri
Aku sudah pulang. Baru saja sampai sekitar 20 menit yang lalu.
Kok Ba-san repot-repot, sih? Jadi enggak enak T_T Tolong sampaikan terima kasih, ya? Dan nanti aku kirim pesan buat Ba-san juga. Siniii, aku tunggu.
PS: Subyek emailnya nyebelin banget :( sempat mikir keras maksudnya apa, ternyata pai! Tapi itu pi, bukan pai!
From : Usui Kazuyoshi
To : Kibitsu Momoka
Subject : Re: π Ceri
Nanti aku kasih tahu alasannya secara langsung. Dan sudah aku sampaikan kalau kamu bilang makasih. Aku OTW.
PS: Sengaja ngelawak intelek :p
From : Kibitsu Momoka
To : Usui Kazuyoshi
Subject : Re: π Ceri
Hati-hati di jalan!
PS: IH BODO AMAT?! MAKSAIN LAGI?!
.
Meja makan Momoka yang sebelumnya sudah bersih dan bebas dari benda apa pun, kini memiliki sebuah kantung kosong, satu boks pai ceri, dan satu boks ceri yang belum diapa-apakan. Momoka menatap titipan yang baru saja diantarkan oleh Kazuyoshi dengan wajah berseri-seri. Aroma pai yang masih segar karena baru dibuat langsung menguar ketika tutup boks dibuka. Masih dengan senyum yang enggan luntur dari bibirnya, dia mengarahkan pandangan pada Kazuyoshi.
"Kok Ba-san repot-repot, sih? Aku betulan jadi enggak enak. Wanginya juga enak banget." Momoka menarik napas dalam-dalam. "Dari aromanya, sudah pasti rasanya enak juga."
"Hadiah karena kamu sudah beres syuting film kamu. Kaa-san penginnya undang kamu ke rumah, rayain di sana. Tapi takut ganggu jadwal kamu. Makanya jadinya begini."
Kening Kazuyoshi mengerut ketika mendapati Momoka yang tiba-tiba menunduk dengan wajah murung. Namun, ada sepintas senyum tipis di wajahnya. Dia menggeleng pada dirinya sendiri. Melihat itu, Kazuyoshi menangkup punggung tangan Momoka dan bertanya, "Kenapa?"
"Eh?" Momoka tersentak dan menengadah ke arah Kazuyoshi. Dia menggeleng lagi. "Enggak. Cuma … aku sudah lama enggak punya sosok ibu di hidupku selain managerku." Tangannya menyapu wajah untuk menyeka satu tetes air mata. "Dan sekarang ada Ba-san. Jadi terharu."
Tangkupan tangan Kazuyoshi berpindah ke wajah Momoka. Dia merangkum pipi Momoka sampai tampak kempes. Momoka memberengut, tetapi Kazuyoshi mengabaikan itu dan tetap tersenyum. "Ibuku sayang banget sama kamu, tahu?"
"Iya. Ba-san selalu peluk aku tiap aku ke sana. Terasa tulus sekali. Aku rasanya selalu ingin nangis, tapi aku tahan." Air mata Momoka jatuh tanpa bisa ditahan karena wajahnya masih ditawan Kazuyoshi. Kazuyoshi menghapusnya menggunakan ibu jari. "Adanya makanan favoritku setiap kali aku makan di sana pun bukan kebetulan, 'kan?"
"Bukan. Kaa-san memang selalu tanya aku dulu."
"Tuh, 'kan." Senyum Momoka mengembang sebatas yang bisa dicapai karena pipinya sedang ditangkup. Bahunya gemetar dan air mata yang jatuh mengalir lebih deras.
Kazuyoshi melepas tangkupan tangannya dan menghapus air mata Momoka yang tidak henti-hentinya jatuh. "Sudah, dong. Kok malah nangis?"
Momoka memejamkan mata dan mengucek matanya sendiri. Dia menggeleng. "Nangis terharu, kok. Gapapa, 'kan?"
Dekapan erat langsung Kazuyoshi berikan pada Momoka setelah melihat dengan jelas bagaimana senyum tulus bersemi di wajah Momoka yang masih bersimbah air mata. Dia mengusap rambut kekasihnya dan membiarkan perempuan itu menangis di bahunya.
Cerita Momoka soal dia yang sudah tinggal sendirian sejak SMK berputar-putar di dalam kepalanya. Momoka tidak mengenal siapa ayahnya, tetapi mata biru dan rambut pirangnya jelas didapat dari ayah. Kibitsu adalah nama ibunya yang memang sejak awal tidak memberi afeksi padanya selain menyediakan tempat tinggal, makan, dan pakaian. Katanya, ibunya adalah orang yang ditakuti, tapi Momoka tidak mengerti kenapa; dan itulah penyebab orang-orang takut untuk berteman dengan Momoka. Di hari keduanya mulai bersekolah di SMK, ibunya menghilang. Momoka sudah melaporkan soal orang hilang pada polisi, tetapi hingga sekarang, bahkan setelah namanya melambung sebagai artis terkenal, dia tidak pernah berkontak dengan ibunya lagi. Momoka sudah pasrah.
Momoka mengangkat wajahnya dari bahu Kazuyoshi dan lingkaran tangannya melonggar. Dia mengusap wajahnya sendiri lagi sampai jejak air yang tersisa hanyalah dalam bentuk lembap. Kepalanya menengadah dan dia sudah tersenyum lagi.
"Makan painya, yuk?"
Kazuyoshi sudah makan sepotong sebelum dia berangkat. Namun, dia enggan Momoka merasa sendiri. "Yuk."
Sementara Momoka mengambil pisau, Kazuyoshi meraih dua piring kecil dan garpu. Kazuyoshi menaruh piring dan garpu tersebut bersisian di atas meja sembari menanti Momoka yang masih memotong pai. Di potongan yang kedua, dia menyela, "Buatku sedikit saja."
Momoka mengangguk dan memenuhi permintaan dari Kazuyoshi. Jari telunjuknya yang terkena remah-remah pai serta cerinya diisap, lantas binar di matanya semakin terang. "Ini … enak banget!"
"Baru juga makan sedikit."
"Justru itu. Baru sedikit saja sudah enak, apalagi banyak."
Momoka meraih ponselnya setelah pai sudah tersaji di meja. Sebelum Kazuyoshi bertanya, dia sudah menjelaskan, "Mau kufoto dan kukirim ke Ba-san. Sekalian bilang makasih."
"Kan sudah?"
"Gak cukup sekali. Dan aku mau bilang juga painya enak banget."
Kazuyoshi mengedikkan bahu, menyerahkan apa pun yang akan dilakukan Momoka sepenuhnya di bawah kuasa perempuan itu. Namun, diam-diam dia tersenyum memikirkan akrabnya pacarnya dengan ibunya.
Pai di piring sudah habis dan yang tersisa ditaruh di dalam kulkas bersama kotak berisi ceri. Momoka melirik jam dinding, sudah menunjukkan pukul setengah sembilan. Dia menoleh ke arah Kazuyoshi dengan wajah cemberut karena sadar dengan habisnya pai di piring, Kazuyoshi akan segera pulang.
"Mau tambah lagi?" tanya Momoka, suaranya sedikit memelas walaupun dia berusaha menahannya.
Kazuyoshi berusaha menahan tawa. Dia paham maksud dari pertanyaan Momoka. "Enggak. Di rumah juga aku sudah makan."
Cemberut yang muncul sebagai ekspresi wajah Momoka menegaskan dugaan Kazuyoshi. Momoka memang sengaja menahannya dari pulang. Dia mengangkat sebelah alis sembari menatap perempuan itu. Ditunggunya upaya Momoka yang lain. Walaupun dia paham, dia masih ingin melihat seberapa jauh usaha Momoka.
"Kazuyoshi, boleh gak aku minta kamu di sini sampai besok? Aku lagi enggak mau sendiri."
Tarikan alis Kazuyoshi segera turun. Kali ini, yang dilakukan Momoka jauh dari dugaannya. Dia pikir Momoka akan memberi petunjuk-petunjuk lain sampai Kazuyoshi menyerah dan bilang padanya bahwa dia tidak keberatan tinggal. Namun, dia lupa Momoka adalah orang yang lebih suka berterus terang.
"Boleh." Kazuyoshi tersenyum. "Sejujurnya aku memang gak niat pulang."
"Oh."
Respons dari Momoka begitu singkat. Namun, wajah merahnya sudah menyampaikan segala hal yang ada di dalam kepala perempuan itu.
.
Momoka punya satu ruangan khusus untuk pakaian-pakaian mewahnya, terutama untuk tampil; dan itu mengingatkan Kazuyoshi pada lemari pakaian milik Hannah Montana. Namun, ada satu lemari biasa yang berada di kamarnya; lemari yang sudah ada sejak lama sebelum dia menjadi artis, berisi pakaian-pakaian kasualnya. Kazuyoshi mengetuk pintu lemari pakaian itu untuk menarik perhatian. Saat Momoka sudah menoleh ke arahnya, dia bertanya, "Ada pakaianku 'kan di sini?"
"Ada. Buka dan ambil saja. Di segmen paling atas."
Kazuyoshi langsung membuka lemari dan tidak sulit untuk menemukan pakaian-pakaiannya. Segmen lemari paling atas semuanya diisi oleh pakaiannya. Dia mencari kaus dan celana yang nyaman untuk dipakai tidur sebagai pengganti kemeja dan celana jeans yang tengah dia gunakan. Pintu lemari ditutup dan dia membuka kancing kemejanya satu per satu. Di kancing ketiga, sebuah boneka kecil menimpuk kepalanya. Dia mengaduh dan lekas menoleh pada Momoka.
"Apa sih?!" sergahnya sembari meraih boneka kelinci yang sudah tergeletak di lantai.
Momoka membersut. "Jangan seenaknya ganti di sini!"
"Hah?! Kayak kamu gak pernah li—"
"Diem gak?!" teriak Momoka. Wajahnya sepenuhnya merah dan dia menyembunyikan mata di balik poninya.
Kazuyoshi mendecih. Bagaimana pun, dia mengakui bahwa Momoka amat sangat menyeramkan saat marah. "Ya sudah, kamu lihat saja ke arah lain."
"Kamu yang ganti di tempat lain! Ini kamarku! Sudah dibilang berkali-kali, masih saja begitu!"
Mendengar volume suara Momoka yang semakin tinggi, Kazuyoshi hanya menanggapi dengan mengangkat kedua tangan. Dia berjalan keluar kamar masih dengan posisi yang sama dan baru menurunkan tangannya saat pintu sudah ditutup. Pakaiannya diganti di kamar mandi dan dia lekas kembali ke kamar Momoka setelah usai.
Didapatinya Momoka berdiri di depan cermin dengan kondisi sudah mencepol rambutnya tinggi dan poninya ditarik oleh bandana. Setelan yang dikenakannya masih sama seperti saat perempuan itu membukakan pintu apartemennya—sebuah kaus tanpa lengan dengan celana pendek—tetapi tadi rambutnya masih digerai.
Gaya rambutnya yang sekarang mengekspos lebih banyak kulitnya, membuat Momoka tampak lebih santai, tetapi masih memesona. Kazuyoshi tidak mengerti bagaimana Momoka bisa melakukan keduanya di saat yang sama, karena dia yakin apabila orang lain berpenampilan persis seperti Momoka saat ini, mereka akan merasa tidak keruan dan kucel disebabkan terlalu santai dan tidak pedulinya pada penampilan saat berada di rumah dan hendak tidur. Atau mungkin Momoka sama saja dengan yang lainnya, dan perspektif jatuh cinta dari Kazuyoshi yang mengubah pandangannya. Kazuyoshi mendengus geli soal teorinya sendiri, tetapi itu memang terdengar masuk akal.
"Oh, pelembap itu," komentar Kazuyoshi setelah perhatiannya tertuju pada tangan kiri Momoka yang memegang sebuah produk dan tangan kanan yang mengusap wajahnya. Itu adalah pelembap yang diiklankan Momoka. Dia berjalan sampai jarak di antara mereka terkikis. "Ternyata kamu benar-benar pakai, ya? Bukan hanya untuk iklan saja."
"Iya, dong. Produknya memang bagus, kok. Kamu pernah coba produk ini?"
"Enggak. Produk buat mukaku cuma pencuci muka saja."
Momoka nyaris tampak melompat saat memutar tubuh. Dia tampak antusias. "Ayo coba! Betulan lembut banget, deh. Sini, aku pakaikan."
Kazuyoshi hanya diam selagi Momoka memegangi bahunya dan mengarahkannya untuk duduk di depan meja rias. Momoka melepas kacamata Kazuyoshi lantas menaruhnya di meja rias, membuka laci, dan mengangkat tangannya dari sana saat jepitan rambut sudah dipegang. Dia berdiri di atas lutut ketika menyapu poni Kazuyoshi ke belakang dan menjepit rambutnya agar tidak menempel ke wajah. Tiba-tiba pergerakannya terputus; Momoka hanya tercengang sembari menatap Kazuyoshi dan merah di wajahnya amat sangat pekat. Tangannya masih memegangi jepitan rambut di kepala Kazuyoshi.
Kazuyoshi mengerutkan kening, lantas mendengus geli setelah mampu membaca situasi. "Apa? Ganteng, ya?"
Momoka tersentak. "Cih!" Tangannya langsung kembali ke sisi tubuhnya dan dia melengos. "T-tapi memang, sih."
Tawa Kazuyoshi yang menjadi respons tidak bertahan lama karena Momoka buru-buru membekap mulutnya.
"Berisik!"
Tidak berniat menggoda Momoka lebih lanjut, Kazuyoshi diam dan membiarkan Momoka mengoleskan pelembap ke wajahnya. Saat sentuhan Momoka sudah tidak terasa lagi di wajahnya, dia membuka mata dan memegangi pipinya sendiri.
"Betulan lembut," komentarnya.
"Memang." Momoka melonggarkan bandananya sampai poninya kembali menutupi dahi. "Aku enggak mau jadi duta produk yang iklannya lebai atau bohong."
"Wanginya kayak ceri, ya?"
"Iya." Momoka menarik napas dalam-dalam dan aroma ceri dari pelembapnya terhidu lagi. "Ah, aku jadi pengin makan ceri lagi."
"Dietmu gimana?"
"Ssh. Rahasia, ya? Sekali saja? Jangan bilang Manager-san." Momoka merapatkan kedua tangannya di depan dada sebagai pose memohon. "Aku enggak akan makan painya, kok. Cerinya saja. Gak apa-apa, 'kan? Seenggaknya gak ada karbohidratnya."
Kazuyoshi terkekeh. "Aku mana bisa sih nolak kamu?"
"Halah! Ngomong sama diri kamu sendiri di hari Valentine saat kita masih kelas 2, sana!"
Belum sempat merespons kata-kata terakhir Momoka yang memang sulit untuk ditanggapi, Momoka sudah memutar tubuh dan berjalan menuju pintu. Tak lama kemudian, perempuan itu kembali dengan mangkuk berisi ceri. Sudah ada satu buah yang ditahan di bibirnya.
Momoka memilih kasurnya untuk tempat duduk. Kazuyoshi melangkah ke sana dari kursi di depan meja rias, melewati Momoka dan duduk di belakang perempuan itu. Tangannya melingkari pinggang Momoka dan menarik perempuan itu sampai duduk di atas pangkuannya. Dia dengan sigap menangkap beberapa buah ceri yang nyaris jatuh selagi Momoka memekik karena terkejut. Sikutan tajam diterima tulang rusuk Kazuyoshi, dan respons yang dia berikan hanyalah sebuah tawa kering sebelum menenggelamkan wajah pada ceruk bahu Momoka. Bibirnya menempel di tengkuk perempuan itu dan embusan napas panjang dilepaskan untuk membelai kulit Momoka. Momoka bergidik.
"Kazu …." Momoka menelan ludah. "Aku lagi capek …."
"Iya, tahu." Kazuyoshi mengangkat wajahnya dan menjadikan bahu Momoka sebagai penyangga dagu. "Enggak, kok. Gak maksud begitu."
Pipi Momoka yang bersentuhan dengan pelipis Kazuyoshi terasa memanas. Tangannya yang berada di perut perempuan itu dapat merasakan detak jantungnya yang lebih cepat. Di balik reaksi tubuh seperti itu, Momoka masih berusaha tenang dan hanya menanggapi dengan, "Hm."
Satu ceri masuk ke dalam mulutnya lagi. Selagi mengunyah, tangannya sudah memegang sebuah ceri dan dia memperhatikannya dengan saksama. Bahu yang menjadi sandaran Kazuyoshi dikedikkan.
"Kamu mau gak?"
Kazuyoshi menanggapi dengan menegakkan tubuh, membuka mulut, dan bersuara, "Aah." Momoka mengarahkan tangannya pada Kazuyoshi, tetapi lelaki itu berakhir menggigit udara karena gerakannya meleset jauh. Momoka tertawa.
"Masa kayak gini aja no control?"
Kazuyoshi mengembuskan napas panjang sebagai respons dari ejekan Momoka. Namun, matanya masih tidak bisa lepas dari profil perempuan itu. "Enggak."
"Terus?"
"Gak ngerti." Kazuyoshi berkedip dan memperhatikan Momoka lebih lekat dari samping. "Kamu cantik banget. Aku gak bisa berhenti lihat kamu. Jadi salah fokus."
Semakin kerasnya detak jantung Momoka masih terasa oleh tangan Kazuyoshi. Perempuan itu kembali menunduk sampai matanya tersembunyi di balik poni. "Hobi kamu tuh memang bikin aku malu, ya?"
"Hahaha—" Tawa Kazuyoshi terhenti karena Momoka menempelkan ceri tepat di depan bibirnya. Posisi duduk mereka tetap seperti itu sampai Momoka memutuskan bahwa dia sudah cukup melanggar dietnya hari ini.
.
Sisa sumber cahaya hanya tinggal dari lampu remang-remang yang berada di atas meja nakas tepat sebelah tempat tidur. Walaupun kepalanya sudah menempel dengan bantal, mata Momoka masih terbuka dan fokus pada gerak jemarinya yang membentuk bayangan-bayangan di dinding. Dia tahu Kazuyoshi masih bangun di belakangnya, terasa dari embusan napas ke tengkuknya yang belum sestabil saat tidur, tetapi keheningan ini terasa nyaman bagi mereka berdua. Mata Momoka terpejam saat merasakan Kazuyoshi menyugar rambutnya, dan itu mengingatkan pada sebuah adegan aktingnya dengan sesosok wanita yang berperan sebagai ibunya melakukan hal yang sama persis seperti yang dilakukan Kazuyoshi. Tiba-tiba dada Momoka terasa perih.
"Aku masih kepikiran," ucap Momoka memecah keheningan, "bahkan setelah namaku besar begini, aku masih gak berarti di mata ibuku, ya?" Dia meneguk ludah dan menahan getaran tubuhnya. "Padahal kalau ibuku tiba-tiba kontak aku, aku bakal terima. Aku gak benci ibuku ataupun sayang yang betul-betul sayang, tapi tetap saja ada perasaan yang berdasarkan ikatan keluarga. Paham, 'kan?"
Kazuyoshi mengetatkan dekapannya pada Momoka. "Gak usah pikirkan yang gak ada. Kamu gak sendiri, Momoka. Kamu punya keluarga. Ada ibuku, ayahku, dan …" dia menjeda, "… aku."
Momoka memutar posisi tubuhnya untuk melihat wajah Kazuyoshi. Dari cahaya remang-remang, semburat merah di wajah lelaki itu tetap bisa dilihat. Mendadak kesedihan Momoka soal ibunya terusik oleh dengusan. "Kamu pacarku, bukan keluargaku."
"Tapi 'kan kalau kita meni—ekhem." Kazuyoshi memalsukan batuk berkali-kali dan kekehan Momoka semakin tidak bisa ditahan. Topik ini tiba-tiba terasa memalukan baginya, tetapi dia mengekspresikannya dengan senyum lebar. "Maksudku, orang tuaku sudah memperlakukan kamu seperti anak mereka sendiri."
Isi kepala Momoka langsung dipenuhi oleh kilas balik dari segala interaksi yang dilakukannya dengan orang tua Kazuyoshi. Kehangatan dari seluruh dekapan ibu Kazuyoshi tiba-tiba terasa di sekujur tubuhnya. Hilangnya rasa kikuk ketika ayah Kazuyoshi mengajak bicara santai padanya dengan sikap hangat yang tidak tampak di wajah tegasnya membuat tubuhnya terasa semakin rileks. Ada hal-hal lain yang sampai ke hatinya hingga haru mendorong air matanya lagi. Dia lekas mengusap ujung matanya sampai terasa lebih kering.
"Makasih," bisiknya. Suaranya serak karena menahan tangis. "Makasih sudah kasih semua ini untuk aku. Aku senang sekali."
Tangan Kazuyoshi menangkup pipi Momoka dengan ibu jarinya yang memberi usapan. "Bukan aku yang kasih, tapi memang kamu yang mendapatkan semuanya sendiri. Dan kamu memang layak untuk itu."
Momoka menunduk dan menyelinap ke bawah dagu Kazuyoshi. Tangannya melingkari punggung lelaki itu. Pegangannya pada kaus yang dikenakan Kazuyoshi mengerat. Dia menangis dalam diam sementara Kazuyoshi mengusap rambutnya. Saat isakan Momoka sudah tidak terdengar lagi, Kazuyoshi bertanya, "Ada yang mau dibilang lagi? Ada yang masih mengganjal?"
Respons Momoka adalah sebuah gelengan. "Kalau kamu?"
"Gak ada juga," tanggap Kazuyoshi. "Ya sudah, tidur sana. Jangan banyak pikiran."
"Iya. Kamu juga."
Kazuyoshi mundur sedikit agar dapat bertatapan dengan wajah Momoka. Hidung mereka saling bersentuhan.
"Selamat tidur, cantik," bisiknya sembari mengikis jarak di antara bibir mereka.
Belum sempat timbul adanya kontak, pergerakan Kazuyoshi terhenti karena tangan Momoka menahan bibirnya.
"Sebentar."
"Hm?"
"Aku mau ke rumahmu besok. Bawa apa, ya, buat Ba-san?"
"Pikirkan besok saja."
"Ba-san suka apa?"
Cubitan dilakukan Kazuyoshi pada hidung Momoka. "Pikirkan besok saja, Momoka."
"Kalau sisa ceri tadi aku buat selai terus jadi isian kukis, gimana? Ba-san suka makanan manis, 'kan? Eh, tapi masa aku kasih balik apa yang Ba-san kasih? Menurut kamu gimana?"
"Jangan banyak pikiran, Momoka. Aku 'kan tadi sudah bilang. Tapi menurutku gak masalah. Ceri dibalas ceri?"
"Jangan bikin ini terdengar kayak 'mata dibalas mata dan gigi dibalas gigi' gitu!"
Kazuyoshi terkekeh mendengar respons Momoka. "Hm. Tidur sana."
Momoka mengangguk. "Selamat malam, Kazu."
"Selamat malam, cantik."
Upaya Kazuyoshi kali ini untuk mengecup bibir Momoka berhasil. Momoka tertawa karena teringat apa yang dia lakukan sebelumnya secara refleks. Tawa itu menular pada Kazuyoshi dan baru berhenti saat pipi mereka terasa pegal. Mereka saling bertukar senyum dengan mata yang semakin menyipit karena kantuk. Kazuyoshi merentangkan tangan untuk mematikan lampu di meja sebelum mata mereka benar-benar terpejam.
