Shiroyukki-chan present
.
.
.
Summary : Di dunia ini Sihir adalah karunia yang di berikan pada segelintir orang. Naruto adalah salah dari sekian banyak orang tersebut. Petualangan panjang di mulai saat seorang tuan putri datang ke padanya. Kenapa tuan putri datang ke rumahnya?.
.
.
.
Sihir adalah suatu karuniah di dunia ini. Banyak sekali kerajaan di benua ini untuk mendapatkan seorang penyihir terlebih saat muncul seorang Moon Knight, Moon Knight adalah sebutan untuk seorang penyihir yang memiliki keahlian dalam memainkan senjata. Saat ada seorang Moon Knight muncul, para raja akan berlomba memberikan apa saja untuk Moon Knight itu walaupun mengorbankan kebebasan anak mereka dalam hubungan pertunangan. Namun ada suatu anomali di antara sedikitnya para ahli sihir dan sebutan untuk mereka adalah Loam. Loam adalah seorang yang dapat menyatu dengan unsur sihir yang ada. Seorang Loam yang ahli dalam sihir api dapat menyatu dengan api itu sendiri jadi selama ada api ia akan terus hidup, ataupun mereka dapat menyatu dengan unsur kegelapan dengan kata lain menjadi seorang immortal. Tapi seorang Loam yang lahir ke dunia ini hanya memiliki kemungkinannya hidup sekitar lima persen karena sel, jaringan, dan darah mereka menyatu dengan unsur yang mereka bawa di dalam tubuh seorang bayi yang sangat rapuh maka dari itu seorang Loam disebut sebagai anomali di antara para penyihir.
"Hah… kepala ku pusing sepertinya karena terlalu banyak meminum Ale di bar tadi. Kazuma dan yang lainnya sangat menghibur hehehe." Naruto saat ini sedang dalam perjalanan pulang menuju rumahnya yang ada di bagian dalam kekaisaran. Sebagai salah satu perwira tinggi tentara kekaisaran tak heran jika dirinya dapat hidup di bagian dalam.
Di wilayah kekaisaran yang sudah mulai korup terbentuk tiga lapis dinding. Pada bagian pertama adalah wilayah luar yang menjadi tempat tinggal rakyat biasa, pasar, dan daerah pertanian. Daerah ini mencakup wilayah pegunungan sampai lembah.
Lalu wilayah ke dua, berada di lembah yang awalnya adalah padang rumput. Dulu wilayah ini hanya di pisahkan sungai sekarang sungai itu telah menjadi parit dengan jembatan tarik yang menjadi tempat penyebrangan. Semua keperluan berada di wilayah ini. Bijih besi, sutra, katun, dan wilayah ini juga menjadi daerah pendidikan. Mulai dari pendidikan militer, manajemen keuangan negara, dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Wilayah dalam adalah wilayah pemerintahan. Tempat tinggal raja dan keluarga ada di dalam juga termasuk juga anggota pemerintahan.
"Ahhh… apa itu anda, Naruto-san? Sudah lama tidak bertemu." Naruto yang sedang berjalan dengan langkah goyah terhenti saat mendengar seseorang menyapa dari arah belakangnya.
"Ada apa, Klipe-san?" Klipe Pandoline adalah orang tua yang berasal dari kerajaan Stoneheart yang saat itu berada di selatan benua tengah. Ia hanyalah seorang pedagang yang bekerja pada siang hari dan bersenang-senang pada malam hari. Setidaknya sampai kekaisaran menyerang kerajaan dan dirinya menyerah pada kekaisaran. Singkat cerita, Naruto membantu mendapatkan hak tanah miliknya lagi dan memberikan seratus keping emas untuk memulai usaha kembali.
"Sudah lama rasanya aku tidak melihat Naruto-san keluar dari bengkel. Karena anda sudah keluar dari sana ayo kita bersenang-senang Gyahahahaha…" walaupun ia tahu bahwa Naruto adalah pemuda yang menjadi salah satu perwira tinggi, sikap yang ia berikan pada Naruto sama sekali tidak menunjukan rasa takut. Hubungan yang sudah terjalin lama sekali membuat Naruto tau kalau Klipe hanyalah orang sederhana.
"Aku harus pulang secepatnya Klipe-san, aku harus menyempurnakan penemuanku besok."
"Apa boleh buat, kan? Kalau kau bersih keras begitu. Awalnya aku hanya ingin memintamu menemaniku untuk membeli dua budak untuk membantu di toko." Seketika hawa dingin menusuk buluh roma miliknya. Saat melihat ke depan, Klipe serasa melihat seekor monster tengah menatapnya dengan mata merah yang sarat akan penderitaan.
"Kau tau bukan? Kalau aku sangat membenci perbudakan?"
"Bu-bukan begitu ta-tapi aku hanya ingin memperkerjakan mereka saja. Kau tau akhir-akhir ini pelanggan di toko milikku ramai sekali. Aku tidak sanggup jika harus mengurus sendiri." Rasa takut masih saja mencengkeram hatinya dan membuatnya sulit bernapas tak kala saat mata berwarna biru itu berubah menjadi sedingin es.
"Apa kau akan memperkerjakan mereka tanpa gaji?"
"Tentu saja tidak, ibu ku pernah berkata tidak baik untuk tidak membayar keringat seseorang. Aku akan membayar mereka, memberi mereka atap untuk berteduh, dan kalau salah satunya berkenan untuk ku nikahi maka akan ku nikahi dia." Sorotan mata itu masih menatapnya dalam pandangannya ada sesosok makhluk yang sedang mencengkeram lehernya dengan tangan besarnya sedangkan sosok itu sedang tersenyum bahagia.
Dalam hidup Naruto ada beberapa hal yang ia benci salah satunya adalah perbudakan. Dulu ia pernah melihat seorang gadis dengan rantai di lehernya berjalan layaknya seekor binatang di depan majikannya. Walaupun ia tau kalau orang itu adalah anak pejabat negara, Naruto tidak segan untuk membuat anak itu masuk ruang perawatan intensif.
"Kalau kau melanggar perkataan mu, aku yang akan mengadili mu!" langkah kakinya sekarang berubah arah. Berjalan ke arah tembok luar menuju pegunungan. Pegunungan yang menjadi pintu masuk ke dalam City in the Ground.
.
.
.
"Aku dimana? Ini di atas sebuah gedung kan?" pandangannya beralih menatap area sekitar. Yang ada hanya kegelapan sampai ia melihat suatu titik terang bercahaya.
"Itu pintu keluarnya!" langkah kaki gadis itu berlari menghampiri cahaya itu. Terus dan terus namun semakin lama cahaya itu semakin memudar hingga cahaya itu menghilang sepenuhnya.
Tik… Bwush… Swush…
Tiba-tiba dari kegelapan itu muncul kobaran api ada dimana-mana, bangunan yang tinggi termakan oleh ganasnya sang pangeran kehancuran.
"Sekarang kau harus membunuhku tuan putri." Disana Gabriel melihat seorang perempuan yang sangat mirip dirinya. Perempuan itu berambut pirang menggunakan zirah berwarna putih yang mengkilap. Dapat ia lihat, dirinya yang lain sedang memegang pedang di hadapan seorang pria yang sedang terbaring kehabisan tenaga.
"Aku tidak bisa membunuhmu, Lord of Darkness! Karena aku mencintaimu." Gabriel melihat kalau dirinya yang lain sedang menangis dan entah kenapa ia pun merasakan apa yang dirasakan oleh dirinya yang lain. Rasa takut kehilangan orang yang di cintai.
"Cinta kita terlarang, tuan putri. Princess of Divine Light dan Lord of Darkness tidak dapat bersatu. Biarkan aku pergi dan beristirahat karena hanya cahaya yang dapat menghilangkan kegelapan. Kebaikan yang dapat menghilangkan kebatilan. Dan juga aku sudah lelah dengan hidupku hehehe. Huuffft… Terlalu banyak penyesalan sampai aku tidak bisa mengingatnya dan kenanglah aku di sejarah bukan sebagai pahlawan tapi sebagai pengkhianatan terbesar dalam sejarah. Generasi mendatang dapat belajar dari kesalahanku agar Lord of Darkness tidak terlahir kembali. Sekarang bunuhlah aku dan buat aku bebas, Ku mohon." Tangis Gabriel pecah, ini adalah kisah cinta sejati. Kisah cinta yang tidak bisa bersatu entah karena apa? Sejauh ini Gabriel hanya mendengar tentang pengkhianatan saja dan sejauh mata memandang hanya ada reruntuhan.
'Diriku yang lain entah dari masa lalu ataupun masa depan disana, ku mohon bebaskan pemuda itu dari penderitaannya' pintanya dalam hati.
Perlahan bilah pedang yang perempuan itu pegang mengeluarkan cahaya. "Kumohon maafkan aku."
"Ya, aku akan selalu memaafkan mu karena aku menyayangi mu." Bilah tajam itu mulai mendekati dada si laki-laki dan mulai melakukan tugasnya.
"Akhirnya aku bisa bebas…" dengan helaan nafas terakhir dalam hidupnya pemuda itu mengeluarkan kalimat terakhirnya.
"… Jaga anak kita, Princess of Divine Light." Bersama dengan berakhirnya kehidupan Lord of Darkness, Gabriel merasakan sesuatu menariknya menuju ketiadaan.
Wilayah dalam kekaisaran, Kediaman Uzumaki.
"Ugh…" perlahan kelopak mata itu terbuka dan menampakan iris Emerald yang sangat indah. Namun rasa sedih dari mimpi itu terbawa sampai saat ia sadar. "… Siapa sebenarnya mereka berdua? Kenapa sosok perempuan itu mirip denganku? A-apa yang terjadi sebenarnya?" siapapun pasti akan bingung mendapati mimpi seperti dirinya. Ia seperti sedang melihat pertunjukan teater tentang masa lalu ataupun masa depan.
Bwush… Sringg…
Didalam kebingungan mencari jawaban atas mimpinya. Tiba-tiba telapak tangannya mengeluarkan cahaya, cahaya yang sangat terang hingga dirinya sendiri terlihat terkejut.
"Kyaaaa…"
Brak…
"Ada apa tuan putri?" di daun pintu itu, kakashi memandangnya dengan wajah panik. Tuan putri yang harus ia lindungi untuk menjalankan tugasnya sebagai pelayan keluarga raja.
"Ti-tidak apa, kapten Kakashi! Hanya saja tadi telapak tanganku mengeluarkan cahaya yang sangat terang. Lihatlah sendiri kalau tidak percaya." Gabriel memberikan telapak tangannya pada Kakashi yang memandang tidak percaya.
Perlahan Kakashi mulai melangkahkan kakinya ke dalam kamar Naruto. Awalnya Kakashi tidak percaya dengan apa yang ia lihat pada telapak tangan putri Gabriel. Disana, pada telapak tangannya ada sebuah tanda berbentuk lingkaran dengan kristal berada pada tengah lingkaran itu.
"Aku tidak yakin dengan apa yang aku lihat! Gabriel-sama, anda adalah reinkarnasi sosok penyelamat dunia. Anda adalah Reinkarnasi Princess of Divine Light." Kakashi sangat antusias melihatnya, siapa yang tidak tau ramalan tentang cahaya yang menyatukan seluruh benua.
"Princess of Divine Light? Kumohon, Beritahu aku tentang hubungannya dengan Lord of Darkness." Pinta Gabriel. Walaupun ia tidak tau apapun tapi ia memiliki sifat ingin tau yang besar. Terlebih saat ia tau kalau dirinya adalah reinkarnasi Princess of Divine Light.
"Lord of Darkness? Dimanaanda mengetahui julukan itu?Hufft… jadi begini, dalam buku sejarah hubungan mereka hanyalah hubungan Raja dan ksatrianya. Namun, Lord of Darkness mengkhianati Princess of Divine Light. Maka dari itu Lord of Darkness menjadi kegagalan terbesar dalam sejarah dan juga bagi kami para ksatria." Kakashi menjelaskan apa yang perlu di jelaskan tapi tidak dengan Gabriel. Apa yang ia lihat dan apa yang ia dengar semua berbeda, sangat berbeda.
"Tidak! Lord of Darkness berbeda, dia adalah sosok yang kuat. Dia melakukan apapun untuk Princess of Divine Light. Aku sebagai reinkarnasi Princess of Divine Light tidak terima akan sejarah yang tertulis." Entah kenapa hatinya merasakan sakit saat tau kalau pengorbanan Lord of Darkness menjadi penyelewengan sejarah.
"Sudahlah, lebih baik anda istirahat dulu. Selain itu sejarah yang ku ceritakan tadi sudah berlalu selama seribu tahun lamanya." Kakashi berjalan menjauhi ranjang tempat Gabriel istirahat.
"Apakah sejarah akan terulang lagi, kapten?"
"Entahlah, akan tetapi aku mengharapkan sesuatu yang lain dari pada sekedar sejarah ataupun ramalan yang semu. Sekarang tidurlah, aku akan menjaga anda setidaknya sampai Naruto sampai di sini." Perlahan pintu kamar itu tertutup menghapus eksistensi Kapten kekaisaran meninggalkan dirinya dirinya sendiri.
"Kira-kira siapa anak dari Lord of Darkness dan Princess of Divine Light? Sudahlah, aku harus beristirahat." Saat tubuhnya ia rebahkan kembali di kasur yang empuk menghantarkan dirinya menuju alam mimpi.
.
.
.
City in the Ground.
Seperti namanya ini adalah sebuah kota yang berada di dalam tanah, lebih tepatnya ada di dalam jantung gunung. Kota ini adalah salah satu tempat terburuk dalam kekaisaran. Pedagang budak, penjahat, pemerkosa, dan juga tempat jual-beli informasi semua ada disini. Lalu yang membuat tertawa adalah kota ini adalah area yang memberikan pendapatan pajak terbesar di kekaisaran.
"Sebenarnya aku tidak ingin masuk ke sini. Aku selalu ingin menghancurkan dan mengubur kota ini di dalam tanah jika melihat sisi gelapnya. Tapi jika dilihat dari sisi baiknya…" Wajah Naruto yang awalnya suram dan terkesan datar mengalami perubahan dengan senyum gembira "… tidak ada tempat lebih baik untuk mendapat Ale selain disini." Ditangannya ada segelas besar Ale yang masih mengeluarkan busa pada bagian atasnya.
"Kau sangat menyukai Ale ya, Naruto-san?"
"Mau bagaimana lagi kan, Klipe-san? Aku harus begadang tiap malam untuk menemukan kesempurnaan penelitian ku dan lagi hawa dingin selalu menusuk kulit saat malam hari. Pada awalnya Madara-sama yang memberikan Ale pertama padaku kemudian hidupku serasa hampa jika tidak meminum segelas Ale untuk satu hari." Jelas Naruto. Mau bagaimana lagi kan? Minuman berakohol jika di konsumsi dengan takaran wajar dapat menghangatkan tubuh dan saat bangun dari tidur membuat badan serasa relax namun jika di konsumsi secara berlebih maka akan menimbulkan penyakit.
Perjalanan di lanjutkan menuju sebuah tenda raksasa bagaikan tenda sirkus. Pada bagian pintu masuk di jaga oleh orang berbadan kekar dan juga seorang pria berpakaian rapih yang sepertinya akan membawakan acara pelelangan.
"Permisi tuan-tuan, pintu masuk ada di belakang?" ucap orang berpakaian rapih itu.
"…" tak ada respon dari Naruto maupun dari Klipe hanya wajah cengo yang mereka keluarkan.
"Bukan bermaksud tidak sopan tapi sepertinya kalian tidak mampu untuk masuk ke pelelangan malam ini. Tanpa pakaian resmi, tanpa pengawal, dan tanpa gadis-gadis. Jika bukan pelayan yang bekerja maka kalian salah tempat. Namun jika kalian bersikeras maka harap tahan rasa malu kalian." Ucap orang itu seraya dirinya pergi melenggang ke kerumunan orang-orang berpakaian formal.
'Tunggu dulu, maksudnya kami tidak mampu hanya melihat dari gaya berpakaian kami?' batin Naruto berteriak histeris. Apa maksudnya ini? Ini suatu penghinaan bagi seorang tamu.
"Orang itu harus di beri pelajaran, aku tidak mau tau!"
Dengan rasa kesal Naruto memasuki tenda raksasa itu bersama Klipe di belakangnya dengan keringat yang mengalir deras dari dahinya.
"Selamat malam tuan-tuan. Malam ini kami akan memulai pelelangan budak-budak yang kami dapatkan dari seluruh benua." Semua tamu yang hadir hanya diam tidak sabar melihat barang-barang yang akan di tawarkan malam ini.
"Pelelangan malam ini di mulai dari Demi-human yang di bawa dari dataran selatan…" saat tirai terbuka terdapat seorang wanita yang sepertinya berasal dari bangsa Pairie Hound. Ciri-cirinya sama seperti Demi-human dari ras anjing namun ia memiliki kulit yang sedikit coklat. "… dia memiliki stamina yang besar, kesehatannya juga terjamin dengan baik, lihatlah kulitnya yang mulus tanpa adanya bekas luka. Kami akan membuka dengan harga dua ratus keping emas!" sedikit melebih-lebihkan adalah cara agar konsumen tertarik dengan barang yang di tawarkan.
"Dua ratus lima puluh!"
"Tiga ratus delapan puluh!"
"Empat ratus dua puluh!"
"Lima ratus empat puluh"
"Seribu keping emas! Aku akan membayarnya." Seseorang mengacungkan tanda seperti kipas bernomor dua puluh.
"Seribu keping emas? Apa tidak ada lagi?..." semua hadirin yang datang diam, bagi mereka lelang hanyalah permainan karena barang bagus akan keluar di saat terakhir. "… TERJUAL!"
Pelelangan berjalan lancar dengan budak yang rata-rata dari Demi-human namun tidak hanya itu saja ada dari ras Manusia, Dark Elves, Nymph, dan Dwarf. Namun yang menjadi primadona adalah ras Demi-human karena stamina yang besar membuat ras Demi-human dapat melakukan apapun bahkan saat di atas ranjang terkadang tuan merekalah yang duluan kehabisan tenaga.
"Tuan-tuan kita sudah hampir sampai di penghujung acara. Ini adalah tiga barang terakhir kami yang memang sengaja kami siapkan terakhir. Baiklah tanpa banyak basa-basi kita mulai saja pelelangannya." Tirai terbuka menampilkan seorang gadis cantik dengan telinga runcing ke belakang. Kulitnya putih bersih bagaikan susu dan jangan lupa tubuh proporsional yang membuat mata kaum adam jelalatan.
"Dia adalah Elf dari Great Forest wilayah barat benua. Lihatlah kecantikannya, lihatlah betapa mulus kulitnya, dan yang terpenting ia masih perawan. Harga akan di buka dengan tiga ribu keping emas." Pelelangan di mulai.
"Tiga ribu dua ratus"
"Tiga ribu tujuh ratus"
"Tiga ribu sembilan ratus"
Tawaran demi tawaran terus terlontar dengan selisih dari dua ratus sampai lima ratus keping emas.
"Sepuluh ribu keping emas!"
"Sepuluh ribu keping emas? Tidak ada tawaran lagi…" pembawa acara itu memasang senyum merekah, malam ini ia akan mendapatkan upah yang sangat besar dari atasannya. "… Elf cantik ini terjual kepada tuan bernomor tujuh puluh tujuh disana. Glup" saat melihat orang yang membeli budak dari ras Elf itu entah kenapa rasanya Nyawa yang ada pada raganya sudah sampai pada tenggorokan. Disana pada bangku tujuh puluh tujuh seorang pemuda berambut pirang sedang tersenyum mengejek ke arahnya.
'Aku tidak akan memaafkan mu! Kroco busuk.' Di sampingnya Klipe sedang menangis dalam diam. Sepuluh ribu keping emas adalah seluruh kekayaan yang ia kumpulkan selama lebih dari lima tahun dan sekarang akan habis hanya dengan membeli satu budak?
"Tenang saja untuk kali ini aku akan meminjamkanmu uangku, Klipe-san."
"Tanpa bunga?"
"Tanpa bunga karena bunga sudah kau bayar dengan memberikan pertunjukan kepadaku." Klipe mengerti apa yang di maksud Naruto, pertunjukan melihat wajah orang yang sudah menghinanya tadi tergelagap bagaikan ikan yang di bawa ke daratan.
"Lalu barang selanjutnya…" kali ini tirai kembali tertutup dan dalam beberapa menit menunggu tirai kembali terbuka "… kali ini dari ras elf lagi, kami mendapatkannya dari hutan tenggara. Seperti yang kita tau, ras Elf memiliki para gadis yang cantik dan tanpa banyak basa basi. Lelang ini di mulai dari lima ribu koin emas."
"Sepuluh ribu koin emas!"
Lagi-lagi Naruto langsung menaikan harga lelang yang membuat pembawa acara itu sangat tertekan. Sudah lebih dari sepuluh tahun ia di bidang ini dan ia kecolongan hanya karena melihat penampilan.
"Terjual pada tuan nomor tujuh puluh tujuh."
Tirai kembali tertutup sendiri dan beberapa menit terbuka dengan sendirinya. Kali ini seorang perempuan dari ras Demi-human.
"Ini adalah barang terakhir, seorang gadis dari klan Snow wolf. Kami menemukannya terpisah dari kelompoknya dan membawanya kesini. Barang premium yang kami dapat dari dataran utara ini kami buka dengan harga lima ribu koin emas."
"Enam ribu koin emas."
"Delapan ribu koin emas."
"Sepuluh ribu koin emas."
"Dua belas ribu koin emas."
"delapan belas koin emas."
"Dua puluh ribu koin emas."
Penawaran masih berlanjut. Klan Snow Wolf adalah klan yang sangat hebat. Satu Demi-human setara dengan lima puluh pasukan kerajaan dan mereka tidak akan pernah hamil mau berapa kali pun kau mengeluarkan benih di dalamnya karena hanya ada satu minggu masa subur dalam satu tahun.
"Tiga puluh ribu koin emas!"
Semua orang di sana melotot melihat Naruto menaikan tawarannya. Tiga barang terakhir yang mereka tunggu-tunggu dari awal pelelangan di bawa pulang oleh seorang pemuda yang mereka tidak tau Backgroundnya. Kebanyakan orang yang datang adalah pengusaha, pejabat, dan orang terpandang lainnya.
"Sialan sebenarnya siapa kau hah?"
"Kau tidak terima? Di sini semua mengandalkan uang jika kau tidak mampu jangan ikut pelelangan." Naruto hanya menanggapi dengan santai. Baginya mereka hanyalah orang-orang yang bisa di bilang benalu bagi kerajaan maupun kekaisarannya.
"Tidak ada yang menawar lagi? Maka barang kali ini jatuh pada tuan nomor tujuh puluh tujuh. Lelang malam ini akan di tutup."
Semua orang pergi dari sana, tak terkecuali Naruto yang pergi menuju belakang panggung setelah seseorang menemuinya untuk pengambilan barang.
"Silahkan tanda tangani dokumen ini. Dan silahkan tuangkan darah anda untuk membuat segel budak."
"Bukannya sudah ada rantai budak?"
"Akhir-akhir ini efek rantai budak mulai memudar, kami mendapati satu kasus dimana seorang budak membunuh tuannya. Kami mendapati ahli sihir segel dan memperkerjakannya agar tidak ada kejadian yang sama terulang. Selama ada segel ini, para budak tidak akan bisa melawan tuannya."
Perlahan Naruto menorehkan pisau di telapak tangannya. Dari luka itu keluar darah yang sangat banyak di tampung di sebuah wadah dari plat baja.
"Karena waktu sudah larut, aku ingin mereka kalian bawa ke toko Pandoline straight. Aku akan membayar saat barang sudah sampai di tempat. Ahh… aku hampir lupa, aku ingin mereka di kirim oleh orang yang membawakan acara tadi." Seringai iblis tidak lepas dari wajahnya saat merencanakan sesuatu yang akan ia lakukan nanti.
"Baik kami akan menuruti perintah ada tuan."
Setelah menandatangani beberapa berkas, Naruto dan Klipe pergi menuju pintu keluar. Namun sutu hal yang membuat Naruto tertarik adalah adanya kandang kecil dengan jeruji besi.
"Klipe-san, kau duluan saja. Aku masih ada urusan. Dan ini…" Naruto memberikan amplop yang entah isinya apa pada klipe "… itu adalah surat kuasa untuk mengakses tabunganku di penyimpanan negara. Aku khawatir jika besok aku akan bangun kesiangan karena semua hal yang saat ini terjadi jadi aku percayakan ini padamu."
"Kau sampai sebegitunya Naruto-san."
"Kepercayaan itu di dapat bukan di beli jadi saat kau mendapat kepercayaan seseorang jangan kecewakan kepercayaan orang tersebut." Ucap Naruto.
"Kalau begitu, aku duluan Naruto-san. Terima kasih untuk malam ini." Klipe pergi begitu saja, mengingat dirinya harus membuka toko yang ia kelola sendiri.
Entah kenapa Naruto sangat tertarik dengan kandang kecil itu. Bukan pada kandangnya tapi pada isinya. Disana ada seorang gadis cilik yang sepertinya berasal dari ras Demi-human karena ia melihat ekor hewan di sana.
"Hei, aku ingin membelinya! Berapa harganya?" saat melihat ada seorang petugas yang lewat Naruto memberhentikannya dan bertanya langsung.
"Aku akan bertanya dulu pada atasan, silahkan tunggu beberapa saat." Orang itu langsung berlari dengan cepat bergegas menuju ruangan atasannya.
"Hei, gadis kecil. Kau lapar? Aku ada buah ini jika kau mau?" dari saku yang ia kenakan Naruto mengeluarkan sebuah apel berwarna merah.
"Aku tidak memakan buah-buahan, tuan. Aku hanya memakan daging." Suara cicitan kecil keluar dari mulut Demi-human human itu.
"Apa salahnya memakan buah cobalah rasanya tidak seburuk itu kok." Naruto menggelindingkan buah itu masuk ke dalam melalui celah jeruji besi itu.
Krauk…
Gigitan pertama itu adalah gigitan pertama baginya dalam mengkonsumsi buah. Selama ia masih bersama orangtuanya ia selalu memakan daging namun ini baru pertama kalinya ia memakan buah.
"Rasanya tidak buruk, tuan. Manis dan ada airnya juga perutku sedikit terisi. Uhuk uhuk..." pada awalnya Naruto melihat bahwa gadis itu baik-baik saja tapi sekarang entah kenapa ia merasakan sesuatu yang janggal.
"Apa kau sakit?"
"Tuan, aku hanyalah anak-anak. Peminat Demi-human anak-anak sangat sedikit jadi kesehatan ku tidak di perhatikan." Walaupun ini adalah hal yang kurang sopan untuk seorang budak berbicara panjang lebar pada seseorang dan menjelekkan tempat penjualan ini tapi dirinya percaya kalau orang di depannya ini berbeda dari yang lain.
Buagh… Buagh… Buagh…
"Sudah ku bilang jangan berbicara dengan orang lain." Penjaga tempat itu memukulkan tongkat kayu pada tubuh gadis itu sedangkan perempuan itu hanya bisa menangis.
"Oii hentikan, kau tidak bisa memperlakukannya begitu." Tongkat itu sekarang berada pada genggaman Naruto sedangkan penjaga itu hanya mengertakan giginya.
"Berapa harganya aku akan membelinya."
"Hahahaha… gelandangan sepertimu ingin membeli budak pasti makan saja kau mengais dari tempat sampah kan?" penjaga itu tertawa dan menghina Naruto. Dalam penglihatannya, Naruto hanyalah gelandangan yang saat ini sedang mencari cara untuk mencuri dari tuannya.
"jika kepala mu di pasang bandrol harga, aku akan membelinya." Kesal dan marah, sudah lebih dari satu kali ia di hina dengan sebutan gelandangan. Memang salah menggunakan pakaian simple dengan kaus dan celana panjang.
"Kalau begitu, aku pasang banderol kepalaku. Seribu keping emas." Setelah mendengarnya seringai di kepala Naruto bertambah lebar dan dari sakunya ia mengeluarkan sebuah kantong berbahan kulit.
"Kalau seribu keping emas mah, aku membawanya. Ini…" kantung kulit itu dia lemparkan kepada penjaga keamanan yang sedang melotot tidak percaya. "… dan sekarang, serahkan kepalamu."
Crash… Pluk…
Dengan kecepatan yang tidak masuk akal Naruto membabat kepala penjaga tadi dengan sebuah belati yang selalu ia bawa kemana-mana. Kepala itu terjatuh dengan suara seperti buah yang jatuh dari pohon karena sudah masak.
"Ada apa ribut-ribut begini?" orang yang Naruto panggil tadi datang dengan nafas yang terengah-engah dengan beberapa dokumen di tangannya.
"Ia memasang bandrol untuk kepalanya dan aku membelinya. Maafkan aku karena kelakuan diriku ini tempat mu menjadi kotor." Dengan wajah tak bersalah Naruto tertawa dengan bahagia.
"Jadi begitu. Baiklah, tuan saatnya berbicara tentang bisnis. Bocah itu adalah Demi-human dari Klan Sky wolf dari kerjaaan plastein di barat daya benua. Pada awalnya kami membuka harga lima ratus keping emas namun karena ia sakit dan juga umurnya masihlah bocah tidak ada seorangpun menginginkannya. Jadi kami hanya meminta biaya pembelian budak itu dan biaya pembuatan berkas juga segelnya nanti. Kira-kira sekitar empat puluh keping emas. Apa anda tidak keberatan?" Naruto dengan santainya menendang kepala milik pengawal tadi dan mengambil kantung uang milik penjaga tersebut.
"Karena aku menemukan uang yang tidak ada pemiliknya, aku akan memberikan lima puluh keping emas. Aku adalah orang yang selalu berbagi jika memiliki kelebihan." Ucap Naruto santai sedangkan orang di hadapannya hanya tersenyum kecut dalam keadaan Sweatdrop.
"Baik, silakan tandatangan disini dan tuangkan darah anda." Orang itu memberikan berkas dan juga wadah.
"Baik, kami akan mengurus anak ini sebentar. Silakan tunggu." Pria itu membuka pintu jeruji besi dan menarik bocah serigala itu dengan kasar. Saat melihatnya pertama kali, Naruto sedikit sedih. Bekas luka di mana-mana dan badan yang kurus tanpa isi jangan lupakan kain lap kumal yang menjadi pakaiannya. Sejauh ini yang dapat Naruto lihat hanyalah rambut panjang berwarna biru yang sangat indah.
"Perlakukan ia dengan baik jika saja aku melihat ia tersakiti. Aku tidak segan membunuh semua orang yang ada disini." Seketika angin dingin menyeruak memasuki tenda itu dan membuat buluh kuduk berdiri.
"Ba-baik tuan, sesuai permintaan anda."
.
.
.
Saat ini Naruto sedang ada di ruang tunggu. Dia menunggu bocah serigala yang ia beli sebelumnya. Rasanya ia sangat senang saat melihat senyum di wajah bocah itu.
'Aku bukan Lolicon bejad seperti seorang author berkode Lio.' Dirinya mengenyahkan pikiran itu. Ayolah, dirinya masih normal dan hanya memandang bocah serigala tadi seperti seorang adik yang tidak pernah ia dapatkan.
"Tuan, apa anda menunggu lama?" pria tadi datang dan membawa bocah serigala itu di belakangnya.
"karena tidak ada kepentingan lagi, aku akan pergi. Ayo pulang ke rumah, Loli-chan." Naruto berbicara dengan senyum yang mengembang di wajahnya bagaikan sinar matahari yang dapat dilihat saat terbit.
"Terima kasih, atas kunjungannya."
.
.
.
Tak ada seorangpun memulai percakapan di perjalanan menuju rumah Naruto. Tak seorangpun, mungkin karena lelah dan hari sudah malam tak ada bahan percakapan.
Sesampainya di rumah, Naruto kaget saat mendapati kalau rumahnya yang berantakan menjadi sangat rapih terlebih ia melihat sosok Kakashi yang sedang tertidur di sofa.
"Malam ini kau tidur dulu di dalam kamar, aku akan tidur di sini." Ucap Naruto dengan tangan yang mengelus kepala bocah itu.
"Ta-tapi tuan…"
"Tidak ada tapi-tapian. Ahh… aku lupa Namaku Naruto, hanya Naruto. Kau, boleh memanggil namaku. Lalu namamu siapa?" melihat senyuman Naruto membuat hati kecilnya sangat hangat, hangat bagai diterpa sinar matahari pagi di sebuah pegunungan dengan udara segar yang memenuhi paru-paru.
"Setsuna, namaku adalah Setsuna. Naruto-sama." Dengan semangat bocah itu memberi tahu namanya. Dalam kehidupan budak, selama budak itu belum memberitahukan namanya maka tuannya tidak dapat berbuat apapun. Maka dari itu kebanyakan para pemilik budak melakukan 'Perawatan khusus' agar budaknya memberi tahu nama aslinya.
"Yoroshiku, Setsuna-chan! Tapi bisakah kau hilangkan panggilan -sama itu? Kumohon!" dengan muka memelas Naruto memohon di depan bocah yang beranjak tumbuh menjadi seorang gadis.
"Ta-tapi Naruto-sama adalah pemilik Setsuna jadi kenapa Setsuna harus menghilangkan panggilan -sama itu?" Frustrasi, Naruto sangat frustrasi saat ini. Bocah di depannya ini sangat sulit di ajak berkompromi.
"Begini saja, bisakah kau panggil aku dengan sebutan Onii-chan, begitu?"
"Jadi, Setsuna memanggil Naruto-sama dengan sebutan Naruto Onii-chan?" Setsuna saat ini sedang berfikir dengan pandangan yang memandang langit-langit dan jari lentiknya berada di dagunya.
'Sialan, imut sekali!' jika dirinya adalah Lolicon maka saat ini dia akan langsung menelanjangi dan menarik Setsuna ke bawah kungkungannya tapi ia masihlah pemuda normal, ia masih menyukai seorang gadis. Ayolah, usianya akan memasuki dua puluh dua tahun dalam beberapa bulan ke depan dan ia menyukai seorang bocah, hell no.
"Baiklah, mulai sekarang Setsuna akan memanggil Naruto-sama dengan sebutan Naruto onii-chan."
"Yosh, sekarang kau tidur saja di dalam kamar bersama temanku." Ucap Naruto santai dan mulai membaringkan diri di sofa panjang. Mau bagaimana lagi, rumah ini hanyalah rumah sederhana dengan ruang tamu yang menyatu dengan ruang makan dan dapur tanpa sekat lalu hanya memiliki satu kamar, bagian yang paling luas adalah bengkel pribadi Naruto.
"Oyasumi, Naruto onii-chan." Entah kenapa saat mendengarnya hati Naruto serasa berterbangan bersama ribuan kupu-kupu di hamparan padang bunga.
.
.
.
Pagi harinya…
Emmhh… kenapa rasanya hangat sekali ya? Dan sedikit geli?
Perlahan ku buka mataku, seperti biasa ini adalah kamar pribadi milik Naruto, pemimpin senior di militer kekaisaran. Kamar yang sederhana dengan kasur Queen size, satu buah lemari, dan sebuah meja kerja. Namun bukan itu masalahnya. Masalahnya adalah seorang Demi-human yang sedang terlelap di sampingnya.
Tunggu dulu… Demi-human?
Kyaaaaaaaaaaaaa
.
.
.
"Jadi, Naruto bisa jelaskan yang terjadi? Seingatku kau pergi ke bar hanya untuk minum-minum bukan pergi membeli budak." Saat ini Kakashi sedang dalam mode Big Brother yang sedang berkacak pinggang sedangkan Naruto, ia sedang terduduk lesu di lantai.
"Sebenarnya setelah pulang dari Bar, aku bertemu Klipe-san yang mengajakku pergi membeli budak untuk dirinya. Karena melihat Setsuna yang sakit dan terawat aku berkeinginan membelinya dan merawatnya, ayolah apa aku salah jika berkeinginan memiliki seorang adik? Memiliki keluarga? Apa kau tidak ingat perkataan Haku dulu, Kakashi-nii? Seseorang akan bertambah kuat saat ia memiliki seseorang untuk di lindungi, aku sudah cukup lama hidup sendiri. Apa kau tidak merasakan apa yang ku rasakan? Tentu saja tidak! Kau sudah memiliki keluarga sendiri dan aku akan selalu sendiri." Tangis Naruto pecah saat itu juga. Walaupun para tentara tau kalau ia adalah sosok yang hebat, kuat, dan cerdas karena berada di bawah pelatihan seorang Madara uchiha lalu dilatih Jendral Jiraiya, Jendral Orochimaru, dan juga kapten Kakashi tapi mereka tidak menyadari jika Naruto tetaplah manusia yang memiliki sisi kosong di hatinya.
Buagh…
"Walaupun aku sudah memiliki keluarga tapi bagiku kau tetaplah Baka-ototou ku yang selalu melakukan hal-hal luar biasa dan tidak masuk akal. Sadarlah, kau sekarang tidak akan sendirian. Ada Tuan putri Gabriel dan sekarang bertambah Setsuna-chan yang mengisi rumah ini. Sekarang kau tidak akan kesepian." Naruto hanya terdiam dan memegang pipinya yang sakit akibat pukulan Kakashi. Sekarang ia sadar, semenjak kedatangan tak di undang seorang putri di rumahnya hidupnya mulai berwarna dan sekarang Setsuna menambah warna itu.
"Yosh, saatnya bekerja dan melakukan sedikit perbaikan pada Eather-Moto 1." Dengan semangat yang berada di puncak Naruto berlari menuju pintu ke bengkelnya namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara benda terjatuh.
"Gabriel…!" di sana, seorang gadis cantik sedang terbaring dengan nafas terengah-engah dan telapak tangan yang terus menerus mengeluarkan cahaya.
.
.
.
TuBerCulosis
.
.
.
Author Note's
Ini adalah chapter 2 dari fic Baru garapan hamba.
Di dunia ini, semua di tentukan oleh pedang karena sihir adalah suatu karuniah yang sangat jarang di temui.
Lalu, tentang Princess of Divine Light dan Lord of Darkness. Mereka adalah sosok yang terus bereinkarnasi dari masa ke masa. Yahhh… kalo di Ori fandom Naruto seperti Indra dan Ashura.
Lalu disini, ada beberapa hal yang belum ku jelaskan.
Pertama wilayah kekaisaran. Kalian bayangkan saja peta benua Eurasia (Benua Asia dan Eropa yang jadi satu itu loh) nah, kira-kira seluas itu wilayah kekaisaran.
Kedua, aku masih bingung tentang akan adanya penghapusan sistem klan atau bangsawan iblis di DxD atau tidak ya? Aku akan memikirkannya dulu. (ku harap kalian bisa membantu).
Ketiga sistem uang. Seperti biasa ada perunggu, perak, emas dan platinum.
1 perak = 50 perunggu.
1 emas = 25 perak.
1 platinum = 10 emas.
Yah, setelah melakukan riset berulang kali. Aku rasa itu cukup dan setara dari pada memakai sistem yang sudah mainstream.
1 perak = 100 perunggu.
1 emas = 100 perak.
1 platinum = 100 emas.
Untuk fic My life sudah [90%] dan akan siap update pada besok hari, jadi tinggal tunggu saja.
Dan, nantikan fic garapan terbaruku. Fic ini bertema Zombie Apocalypse yang sepertinya akan hancur karena aku tidak terlatih di fic action. Tapi, karena hobiku menulis apa boleh buat kan? Setidaknya mencoba.
Akhir kata, terima kasih kepada seluruh pembaca dan senpai sekalian yang berkenan memasukan komentar kalian di kolom review.
Bye
Shiroyukki-chan Out
…
