Lima ratus tahun yang lalu, terjadi peperangan dahsyat yang memakan korban jutaan jiwa. Tanah bergetar, langit tertutupi awan gelap, asap yang membumbung tinggi ke langit, ribuan mayat Manusia, Orc, Dark Elf, dan semua ras yang mengikuti peperangan menjadi pemandangan yang biasa.

Seperti kebanyakan perang yang akan menimbulkan kesedihan, kesengsaraan, dan juga dendam. Para Istri yang menjadi janda karena kehilangan suaminya, para anak yang menangisi mayat orangtua, dan orang tua yang menguburkan mayat anaknya.

Melihat dunia yang sedang menuju kehancuran dan semua makhluk hidup yang saling membunuh membuat Oplyra bersedih. Dia merasa bersalah karena gagal menjaga keseimbangan dunia dan turun ke dunia bertujuan menghentikan perang ini.

Dewi keseimbangan menangis di hadapan kedua kubu yang saling berperang dan meminta mereka berhenti. Namun tangisan sang dewi tidak dianggap serius dan para monster mulai menyerang manusia yang sedang lengah.

Melihat itu tangisan sang dewi bertambah. Dataran bergetar, gunung berapi meletus, dan lautan bergulung-gulung menjawab tangisan sang dewi.

Retakan demi retakan pada dataran mulai memisahkan pasukan manusia dan pasukan monster. Air dari lautan mulai mengalir di sela-sela pemisahan daratan tersebut dan menjadikan dataran para monster sebuah pulau yang akan di kenal dengan nama Poiresh. Dengan kehendak sang dewi, ia mengorbankan nyawanya untuk mengembalikan keseimbangan dunia yang sudah rusak seperti sedia kala.

Akibatnya roda keseimbangan dunia hilang dan hukum keseimbangan tersimpan di dalam sebuah Orb. Celestial Orb, orb yang menyimpan kekuatan akan hukum keseimbangan yang hilang ketika eksistensi sang dewi lenyap. Orb ini tersimpan di dalam sebuah kuil bernama Celestial palace yang di jaga oleh Uranus, The king of Guardian dan juga Kaja, The Nazzar King. Kuil yang tersembunyi di antara luasnya langit dan hamparan awan di langit.

.

.

.

Shiroyukki Present

-Chapter 3 Has been Updated-

Naruto : Masashi kishimoto

Highschool DxD : Ichie Ishibumi

.

Summary : Di dunia ini Sihir adalah karunia yang di berikan pada segelintir orang. Naruto adalah salah dari sekian banyak orang tersebut. Petualangan panjang di mulai saat seorang tuan putri datang ke padanya. Kenapa tuan putri datang ke rumahnya?

.

.

.

Pagi menyingsing dari arah timur membuat semua insan membuka kelopak matanya dan melakukan aktivitas sehari-hari. Namun keadaan di kekaisaran menjadi sangat sibuk dengan adanya ribuan ksatria yang berjalan di setiap sudut kekaisaran.

Semua ini di lakukan karena Putri Gabriel berhasil lolos dari penjara dan dengan titah Madara yang memakai sihir untuk merubah wajahnya menjadi mirip kaisar, ia mengirim ribuan ksatria untuk mencari dan menangkap Gabriel.

"Kapten Kakashi, kami dari pasukan sembilan di bawah pimpinan kapten Agares. Kami disini untuk, memberi tahu bahwa kaisar memberikan perintah untuk menangkap Putri Gabriel yang kabur dari penjaranya." Ucap salah satu dari kedua ksatria kerjaan yang melaporkan perihal penangkapan tuan putri Gabriel.

"A-Apa putri kabur dari istana? Jangan bercanda denganku!" ucap Kakashi dengan wajah marah namun di dalam hatinya ia sangat khawatir karena Gabriel sudah ketahuan.

'Aku harus menyusun rencana agar tuan putri bisa keluar dari wilayah kekaisaran!'

"Kami tidak bercanda, Madara-sama memerintahkan semua unit untuk mencari tuan putri dan membawanya pulang. Kalau begitu kami permisi, kami harus memberi tahu pemimpin senior Naruto tentang ini." Mendengar itu membuat Kakashi sedikit panik dan melihat ke arah prajurit itu dengan senyum yang mengerikan.

"Lanjutkan kerja kalian, aku akan memberi tahu Naruto." Setelahnya kedua ksatria itu pergi dari kediaman Kakashi.

'Aku harus pergi menemui Naruto'

"Shizuka, aku akan pergi sebentar."

.

.

.

Di sebuah rumah yang sangat sederhana dengan cerobong penempaan menyatu dengan rumah tersebut. Naruto dan Setsuna sedang khawatir mengingat keadaan Gabriel yang tiba-tiba pingsan.

'Apa yang harus ku lakukan? Setelah Gabriel pingsan, Kakashi-nii pergi pulang. Padahal aku tidak ada bakat merawat seseorang.' Pikir Naruto. Dirinya saat ini bingung karena tidak tau apa yang harus ia perbuat dalam keadaan seperti ini. Dalam hidupnya, Naruto tidak pernah merawat seseorang bukannya malas atau tidak memiliki hati nurani tapi karena ia tidak bisa.

"Ne Naruto-nii, apa dia akan mati?" dalam keadaan bingung Naruto tersadar saat mendengar suara kecil yang berada di sampingnya. Gadis cilik yang memiliki rambut berwarna biru seperti langit yang cerah.

Setsuna saat ini sedang menatap Gabriel dengan pandangan sedih, telinga dan ekornya tertunduk lesu. Ia tidak ingin kehilangan orang-orang terdekatnya dan berakhir dalam kesendirian lagi.

Puk...

Sesuatu menyentuh pucuk kepalanya dan sedikit elusan halus dapat Setsuna rasakan. Wajah gadis itu mendongak ke atas dan melihat sebuah senyuman yang amat cerah bagaikan matahari yang terbit dari timur.

"Tenang saja, Gabriel akan baik-baik saja."

Orang ini adalah alasan kenapa Setsuna sangat bahagia. Ia sudah kehilangan orangtuanya dan berakhir di tempat perbudakan yang mempertemukan dirinya dengan Tuannya walaupun sekarang ia harus memanggilnya dengan sebutan Onii-chan.

Brak...

"Naruto, kau ada dimana?"

Suara itu terdengar begitu menggema dan sangat cemas. Langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar dari arah ruang tamu dan akhirnya sosok tersebut dapat menemukan orang yang di carinya di dalam Master Bedroom.

"Madara, pria itu memberikan perintah untuk menangkap Tuan putri. Oh ya... Bagaimana keadaannya?"

"Untuk saat ini ia belum sadar tapi..." ucapan Naruto terhenti ketika mendengar erangan dari arah kasur dan melihat kalau Gabriel akan terbangun.

"Na-Na-Naruto i-ini sakit sekali..." kata-kata yang keluar dari mulut Gabriel menujukan kalau ia sangat menderita, gigi yang bergemelatuk, dan juga mata yang melotot keluar. "... Seluruh tubuhku seperti terbakar dari dalam, Tolong aku."

Naruto, Kakashi, dan Setsuna hanya terdiam melihatnya. Mereka tidak fokus melihat keadaan Gabriel melainkan sebuah segel yang ada di punggung tangan Gabriel yang terus menerus mengeluarkan cahaya.

"Aku akan menolongmu tapi untuk saat ini kau harus tidur sampai aku menemukan obatnya, Percayalah padaku." Dengan selesainya ucapan Naruto, sebuah Rune magic berwarna hitam dengan lambang Octagram muncul dengan sendirinya saat Naruto mengulurkan tapak tangannya ke depan.

"Dark Magic : Lucid Dream." Seketika tubuh Gabriel di selimuti aura berwarna hitam dan membungkus tubuh gadis itu dalam sebuah bola berwarna hitam.

"Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku menggunakan sihir." Gumam Naruto. Sudah lima tahun lamanya sejak terakhir kali ia menggunakan sihir miliknya semenjak ia berhenti dari kesatuan dan memilih menjadi peneliti.

"Naruto onii-chan, kau seorang penyihir?" sebelumnya wajah Setsuna hanya menunjukan ekspresi khawatir namun setelah melihat sihir yang Naruto pakai perubahan besar terjadi pada wajah gadis kecil itu. Wajah yang menujukan ketakutan tiada akhir dan sebuah trauma berkepanjangan yang sangat fatal akibatnya bagi kehidupan.

Sebelum Setsuna di bawa ke kekaisaran ini, kampung klan Sky Wolf terbakar dalam lautan api yang di sebabkan oleh dua orang penyihir yang memakai elemen api.

"Tenang saja, kau tidak perlu khawatir..." telapak tangan itu mengelus pucuk kepala Setsuna dengan lembut dan senyuman yang tidak pernah luntur dari wajah Naruto. "... Aku tidak pernah menyakiti orang yang berharga bagiku."

Seketika hawa ruangan tersebut langsung menjadi serius kala Naruto memandang Kakashi dengan tajam. Sorot mata yang datar dan tak menampakan cahaya dengan kedua tangan yang mengepal.

"Kenapa kau tidak memberi tahu ku tentang segel 'itu', Kakashi-taichou?" panggilan itu sudah bukan lagi untuk seorang Big Brother melainkan untuk pemimpinnya.

"Tentang segel 'Itu' ya? Segel tersebut muncul semalam setelah Gabriel mengalami mimpi buruk. Ia bermimpi kalau ia melihat pertarungan Princess of Divine Light dan juga Lord of Darkness. Aku tidak begitu yakin tapi aku percaya kalau Gabriel adalah Reinkarnasi dari Princess of Divine Light dan akan menjadi kunci keselamatan dunia ini." Jelas Kakashi dengan tergesa-gesa pasalnya jika Princess of Divine Light muncul maka akan terjadi peperangan yang besar, sebuah peperangan yang menentukan nasib dunia.

Mendengar itu membuat Naruto mau tidak mau menelan pil pahit. Ia sudah mengikuti puluhan perang semasa ia berumur belasan tahun dan sekarang setelah lima tahun berhenti memegang pedang, ia harus mengangkat pedang lagi demi apa yang ia yakini.

"Perang? Lagi? Kau pergi saja sendiri, aku sudah cukup kehilangan orang yang berharga bagiku. 'Orang itu', anak buah ku, dan semua teman-temanku gugur dalam perang besar lima tahun yang lalu dan naasnya mereka di makamkan secara tidak terhormat." Kekecewaan, amarah, dan kesedihan begitu terasa dari setiap kata yang keluar dari mulut pemuda itu.

Dalam perang, setiap pasukan yang gugur akan di makamkan dalam sebuah lubang besar istilah kasarnya adalah pemakaman massal. Tak peduli seberapa berpengaruhnya orang tersebut saat mereka gugur di medan perang mayat mereka akan di tempatkan di dalam lubang yang sama dengan sebuah gelar Pahlawan. Naas bukan? Setelah kau mengorbankan diri untuk kerajaanmu dan saat kau gugur kau di makamkan secara tidak terhormat.

"Maka dari itu, kau harus mengangkat pedangmu kembali. Kekaisaran ini sudah rusak dan tugas kita untuk membuatnya menjadi sedia kala." Kakashi menatap Naruto tak kalah serius. Keluarganya sudah bersumpah untuk melayani keluarga kaisar bahkan dirinya juga sudah mengambil sumpah tersebut tapi jika ia sendirian menjalankan tugas ini rasanya ia tidak akan sanggup.

"Naruto-nii, sebelum kegelapan membungkus tubuh Hime-sama aku melihat cahaya di punggung tangannya. Apa itu segel Dawn of Light?"

"Ya, itu adalah segel Dawn of Light. Hime-sama kita akan menjadi pahlawan besar di dunia ini." Ucap Naruto dengan lembut. Rasanya setiap kali ia melihat Setsuna rasa khawatir, cemas, dan takut menghilang dari dirinya.

"Akhirnya aku menemukannya Hiks... Hiks..." senyuman dan tangis bahagia seketika menyeruak dari dalam hatinya. Akhirnya apa yang di ceritakan kakeknya dan para sesepuh klan Sky Wolf tak lama lagi akan menjadi kenyataan.

'Akan ada saat dimana semua makhluk di dataran Ketrioke, dunia tempat kita hidup saat ini tak mengenal peperangan, perselisihan, dan kekerasan. Tak peduli Manusia, Elf, Dwarf, Demi-human, Orc, Magic beast dan Dragon akan hidup berdampingan di bawah kekuasaan seorang pemimpin dengan cahaya di tangannya. Pemimpin yang dermawan dan sangat baik hatinya, ia bagaikan perwujudan dari kata cinta itu sendiri, dia yang akan menjaga keseimbangan dunia ini dan mewarisinya pada generasi berikutnya.'

"Syukurlah Hiks... Hiks... Syukurlah Hiks... Hiks..."

Naruto yang melihat itu hanya terdiam sedangkan Kakashi hanya tersenyum kecil karena ia juga sudah tau isi ramalan dari seluruh ras yang ada. Walaupun ada perbedaan dalam setiap ramalan tapi nyatanya ada satu hal yang sangat mirip yaitu Seseorang dengan cahaya di tangannya.

"Sudahlah, kita pikirkan itu saja nanti. Sekarang keadaan kita sangat genting..." dari dalam jubah kebesaran miliknya, Kakashi mengeluarkan secarik kertas dan membukanya di lantai. "... Sebentar lagi, akan ada penyisiran pada daerah dalam ini dan bukannya tidak mungkin kediaman Naruto akan di periksa juga." Ucap Kakashi seraya memandang Naruto yang masih menatap peta dataran Ketrioke.

"Kau harus membawa Putri Gabriel keluar dari wilayah kekaisaran dan pergi menuju selatan ke arah kerajaan Auril dan meminta bantuan mereka." Jari telunjuk kakashi menunjuk ke arah sebuah dataran paling selatan benua ini. Sebuah dataran yang di dominasi pegunungan dan juga hamparan hutan.

Kerajaan Auril adalah kerajaan yang berada di bagian paling selatan di dataran Ketrioke dikenal dengan nama City of Freedom. Kerajaan yang menampung semua korban perang dan pengungsi yang meminta perlindungan pada mereka. Tak peduli dari mana ras itu berasal mereka akan menampungnya selama tidak membuat keributan.

"Aku yakin perjalanan ini tidak akan mulus, belum lagi dengan adanya segel Dawn of Light akan membuat Gabriel menjadi beban. Menurut sejarah yang ada, setiap pemilik Dawn of Light akan menjadi seorang Loam dan itu akan menjadi siksaan terbesar dalam hidupnya." Ucap Naruto tak kalah serius dari Kakashi. Saat melihat segel itu, ia langsung mengetahui bahwa Gabriel akan menjadi seorang Loam menggantikan kedudukan Princess of Divine Light yang sejarahnya sudah tertulis seribu tahun yang lalu.

"Siksaan seperti apa, Naruto-nii?"

Pandangan Naruto seketika teralihkan pada Setsuna yang menatapnya dengan penuh tanya. Naruto tau bahwa informasi mengenai Loam sangatlah rahasia dan tak semua orang dapat mengetahui itu.

"Bisa kau bayangkan otot milikmu robek dan saling bergesekan dengan tulang, Air dalam tubuhmu akan sedikit demi sedikit mengering membuat kulitmu keriput dan mengerut, lalu semua organ dalam tidak dapat bekerja secara normal membuat kau mengeluarkan semua isi perut dan secara perlahan kau akan menjadi mayat namun kau sebenarnya hidup. Setelah prosesi itu selesai kau akan keluar dari tubuh lama dengan tubuh baru dan menjadi setengah abadi." Penjelasan panjang Naruto membuat Setsuna sangat terkejut dan pandangannya beralih pada bola hitam di atas ranjang milik Naruto.

"Lalu apa gunanya sihir milikmu, Naruto-nii! Kalau dia sama saja menderita." Suara yang keluar dari Setsuna sangat parau. Ia sangat sedih kala mengetahui apa yang di alami Gabriel walaupun Gabriel adalah orang asing baginya tapi saat berada di dekat dengan gadis itu terasa sangat nyaman.

"Lucid Dream adalah nama sihirku, itu membuat seseorang berada dalam keadaan mati suri. Mereka akan menjalani mimpi yang sangat terasa nyata dan tak ada yang bisa mengeluarkan orang tersebut dari dunia mimpi kecuali pemilik sihir itu melepaskannya. Terlebih sihir ini dapat menghilangkan segala rasa sakit yang di alami korban. " Setelah menjelaskan efek sihir miliknya Naruto menatap lekat Kakashi.

"Aku tidak yakin kerajaan Aurilakan membantu terlebih mengetahui keadaan Gabriel yang seperti ini membuat mereka ragu walaupun Gabriel sadar dan tetap hidup akan memakan waktu lama untuk menyembuhkan tubuhnya." Ucap Naruto. Walaupun terdengar kejam tapi mana ada raja yang akan mengorbankan prajuritnya hanya untuk putri yang tidak bisa apa-apa terlebih melihat keadaan Gabriel yang seperti ini hanya akan menjadi beban bagi pasukan sekutu.

"Maka dari itu kalian pergi lah ke Timur menuju Halaya Great Forest disana kalian akan bertemu para Fairy dan juga beberapa klan Elf, kau tau kan kalau ramuan Elf dapat menyembuhkan segala penyakit. Lalu saat Gabriel sembuh pintalah bantuan pada Raja para East Elf di kerjaan Kloria, walaupun tidak mudah tapi aku yakin pada akhirnya mereka akan membantu kita." Ucap Kakashi dengan percaya diri kala melihat kearah Naruto yang juga memandangnya.

Mendengar Kakashi tentu membuat Naruto terdiam, Ramuan yang di maksud Kakashi adalah Elixir, itu adalah ramuan yang dapat menyembuhkan segala luka luar maupun luka dalam. Segala luka dapat disembuhkan menggunakan ramuan tersebut kecuali Luka hati tentunya. Dan lagi, kerajaan Kloria adalah salah satu dari sepuluh kerajaan yang menduduki benua timur yang di kenal karena pasukan Elf yang menggunakan taktik attack and run.

"Setelah Gabriel kembali seperti sedia kala dan kalian mendapatkan dukungan kerajaan Auriltinggalkan Gabriel disana... " Kakashi mengalihkan pandangannya pada wajah Naruto dan terlihat Naruto memadang Kakashi dengan pandangan tidak percaya "... Kau pasti heran tapi, Apa kau yakin hanya dengan dukungan kerajaan Auril dan Kloria, Kekaisaran ini dapat tumbang?"

Naruto mengerti dengan apa yang dimaksud Kakashi. Persenjataan Kekaisaran sudah sangat maju dengan menemukan potensi tersembunyi dari Eather Stone, yah semua itu karena dirinya sendiri yang melakukan beberapa penelitian dan pengembangan persenjataan.

"Melihat dari wajahmu pasti kau mengerti, maka dari itu kau pergilah ke arah barat tepatnya disini..." jari telunjuk Kakashi menunjuk ke arah bagian barat daya dari benua lebih tepatnya pada bagian berwarna kuning kecokelatan "... pergilah ke Desert of Soul mintalah bantuan para Desert Warrior dengan adanya mereka kekuatan kita sudah sangat besar, lalu pergilah ke sini... " jari telunjuk pria kepala tiga itu bergerak ke arah barat laut yang berwarna hijau muda. "... Disana kau akan bertemu para Arsya di Forbidden Ruins seperti yang kita tahu walaupun tempat tinggal kaum Arsya hanyalah reruntuhan tapi mereka adalah bangsa yang di takuti karena kemampuan mereka untuk berkomunikasi dengan makhluk hidup sangatlah berbahaya dan lagi mereka mengendarai Magical Beast dalam setiap pertempuran. Dengan serangan dari Timur, Selatan, Barat Daya, dan Barat laut akan membuat Madara kewalahan."

Rasa bangga tidak pernah lepas dari dada Kakashi dan dapat ia bayangkan kala Madara dan Kekaisaran juga pemerintah korup dapat di musnahkan.

Tok... Tok... Tok...

Suara ketukan pintu membuat semua orang itu terdiam dan mulai berjalan ke arah pintu masuk. Mereka sangat yakin kalau Gabriel akan ketahuan dan lagi ini masih di dalam wilayah Kekaisaran terlebih ini adalah bagian dalam.

Pintu itu terbuka kala Setsuna membukakan pintu tersebut menampilkan seorang ksatria dengan menggunakan Full Plate Armor dan hanya memperlihatkan kepala tanpa pelindung.

"Maaf, atas kelancangan saya Pemimpin Senior Naruto dan juga Kapten Kakashi tapi saya di beri perintah untuk melakukan penggeledahan setiap rumah atas perintah langsung dari kaisar jadi bilakah saya masuk?" ucap Ksatria tersebut dengan sikap siap yang menunjukkan kalau ia adalah Prajurit yang disiplin.

"Silahkan, aku yakin tuan putri tidak ada disini." Ucap Naruto dan mempersilakan prajurit tersebut masuk ke dalam rumah nya.

Sejauh ini tidak ada yang mencurigakan ruang tamu, ruang tengah, dapur, kamar mandi, bengkel semua sudah di periksa hanya menyisakan kamar pribadi tuan rumah yang belum di periksa.

Dari Informasi yang Naruto dapat dari Prajurit ini, Madara melakukan penutupan pada akses keluar-masuk kekaisaran. Jika ada yang keluar maka akan di tindak tegas walaupun itu bukanlah target yang di cari.

Sekarang prajurit tersebut sudah sampai di depan kamar Naruto, merasa siap Prajurit itu membuka pintu masuknya. Didalam kamar tersebut tidak ada yang aneh kecuali sebuah bola raksasa berwarna hitam di atas kasur berukuran Queen size. Prajurit itu terdiam namun bukan karena penampakan bola hitam tersebut melainkan benda dingin dan rasa sakit yang bersarang pada bagian leher belakangnya dan seketika penglihatannya menggelap membuat tubuhnya jatuh ke lantai dengan darah yang mengalir dengan deras.

"Kau sangat kejam, Naruto."

Pelaku pembunuhan tersebut adalah Naruto yang menusukan sebuah pisau ke arah leher dan menembus bagian otak kecil milik prajurit tersebut.

Naruto hanya diam dan menatap pisau yang ia gunakan sebelumnya. Pisau biasa dengan panjang bilah sekitar lima belas centimeter, tak ada yang aneh pada pisau itu selain bagian gagangnya. Gagang itu terbuat dari tulang, yang sepertinya berasal dari tulang lengan manusia. Tulang tersebut terbungkus kain pada bagian pengunci bilah disalah satu pangkal tulang.

Naruto hanya menatap datar mayat prajurit yang sudah kehilangan nyawanya dan menarik pisau itu dengan kasar.

"Semua akses keluar masuk sudah tertutup, aku tidak yakin bisa keluar membawa Gabriel dari kekaisaran ini." Ucap Naruto.

"Tidak semua akses tertutup Naruto-nii ... " kedua pasang mata orang dewasa itu menatap Setsuna yang sedang menunjuk ke arah langit membuat otak mereka langsung tersadar akan hal tersebut. " ... Jalur udara tidak bisa di tutup, kan?"

Tap... Sret...

"Naruto, pergilah dari sini dan pastikan Gabriel aman! Biarkan aku yang menahan pasukan kekaisaran, berjanjilah padaku kau akan menjaganya." Setelahnya Kakashi berlari keluar dari rumah Naruto.

Setelah kepergian kakashi, Naruto memandang Setsuna dengan senyum lebar di wajahnya. Sebuah senyuman yang memiliki maksud tersendiri.

"Setsuna, apa kau memiliki mimpi untuk berada di langit?" tanya Naruto dan tanpa menunggu jawaban Setsuna, Naruto beranjak pergi menuju bengkel miliknya.

Kedua kakinya melangkah menaiki corong pembuangan hawa panas pada Forge miliknya dan menaruh sejenis selang yang terbuat dari kulit hewan. Kedua tangannya dengan telaten mengikat saluran itu dan memberikan sedikit Eather-Powder.

"Hei, Setsuna..." panggil Naruto. Kedua wajahnya memancarkan raut bahagia seakan mengatakan kalau kita akan berhasil. "... Aku jenius kan?"

.

.

.

Sementara itu Kakashi sedang menghadang beberapa prajurit kekaisaran. Dengan jubah kebesaran miliknya, Kakashi memandang semua prajurit dengan siaga.

Bilah pedang miliknya ia tunjukan ke depan dengan kedua tangannya yang memegang gagang pedang tersebut. Pedang itu adalah Raikiri, sebuah artefak peninggalan keluarga ksatria, Hatake. Keluarga yang selalu bersumpah untuk melindungi keluarga raja. Pedang itu menggunakan sisik Thunder Dragon King yang dicampur dengan Blue Adamantine dan penempaan yang dikerjakan oleh Master Blacksmith, Ironhirm dari kerajaan Drawf, Egysia. Raikiri dapat mengeluarkan dan memanipulasi sihir berelemen petir sebagai serangan berbasis sihir.

"Kapten Hatake Kakashi, jelaskan kepada ku..." ucap salah seorang prajurit dengan amor jenis Breast plate dengan rambut berwarna biru "... Kenapa kau menghadang jalan kami dan menghunuskan pedangmu pada kami?"

Kakashi hanya mengeraskan rahangnya sampai terdengar gigi yang bergemelatuk. Di hadapannya saat ini adalah Komandan dari divisi kedua. ... Adalah namanya dan walaupun Kakashi bertarung dengannya ia bertaruh itu hanya sia-sia karena kuantitas yang berat sebelah. Sepuluh ksatria termasuk ... dan dua puluh lima prajurit berdiri dengan gagah di hadapannya. Jika menghiraukan semua Ksatria dan Prajurit di hadapannya maka ia akan keluar sebagai pemenang tapi Kakashi tidak pernah menyangka bahwa komandan sebuah divisi yang di perintahkan Madara akan menghadang jalannya.

"Tidak ada jawaban ya? Jika asumsiku benar maka putri Gabriel ada di rumah Naruto..." ucap... dengan senyum di wajahnya karena melihat perubahan ekspresi di wajah menjadi serius.

Melihat ini Kakashi tidak bisa tinggal diam karena yang dia tau jika Gabriel tertangkap maka kekaisaran akan berjalan seperti biasanya.

"Aku Kakashi Hatake, menantangmu dalam duel Ksatria!" ucap Kakashi serius dan menatap lawannya.

"Kalau begitu tidak ada alasanku untuk menolak!"

Keduanya melesat dan saling menghunuskan pedang masing-masing namun tiba-tiba sebuah getaran dan juga suara dentuman keras menghentikan kedua belah pihak itu. Seketika Kakashi dan seluruh prajurit melihat ke arah langit dan membelalakkan mata kala bayangan sebuah benda menutupi cahaya matahari.

Di sana, sebuah kapal laut yang melayang di angkat sebuah balon raksasa yang terbuat dari kulit binatang dan juga di belakangnya ada sebuah mesin yang berputar-putar.

'Kau memang tidak bisa di tebak, Naruto! Sekarang ku serahkan Gabriel-sama kepadamu!'

.

.

.

TuBerCulosis

.

.

.

Yo, bagaimana dengan kalian? Kabar baik?

Di chapter ini si Gabriel sama Naruto harus pergi dari Kekaisaran karena kalau gak kabur si Gabriel bakal di eksekusi dan Madara bakal jadi sosok raja lebih lama lagi.

Nah Kira-kira siapa yang di maksud dengan 'Orang Itu' ? Orang yang Naruto cintai? Istrinya? Atau keluarganya?

Siapa yang tau aku juga belum kepikiran Tehee~

Lalu bagaimana keadaan Kakashi di chapter depan? Nantikan saja, ok?

Ku rasa tidak ada yang perlu ku bahas lagi dan bagi kalian yang support fic ini aku ucapkan terima kasih.

Lalu bagi kalian yang

CommentLanjut Thor yah ini sudah lanjut kok hehehe

Salam, Gabriela Anastasya.

NEXT UPDATE

USELESS OR FALLEN

?