Shiroyukki Present

...

...

Naruto ©Masashi Kishimoto

HighSchool DxD ©Ichie Ishibumi

Dan, Beberapa character yang ada di dalam Fanfiksi ini milik para Author di Jepang. Saya hanya meminjam dan menggunakan tanpa ada niatan menjadikan ladang pencarian.

...

...

Summary :

Di dunia ini Sihir adalah karunia yang di berikan pada segelintir orang. Naruto adalah salah dari sekian banyak orang tersebut. Petualangan panjang di mulai saat seorang tuan putri datang ke padanya. Kenapa tuan putri datang ke rumahnya?

...

...

#StayAtHome

...

...

Malam telah berganti menjadi siang dan sekarang Naruto, Rosseweis, Kakashi, Setsuna dan juga Gabriel yang tentunya ada di dalam sihir Lucid Dream sudah bersiap untuk pergi dari kekaisaran ini. Perjalanan ini akan menjadi sangat melelahkan karena luasnya kekaisaran saat ini, belum lagi dengan adanya dinding berlapis membuat jalur pelarian sedikit sulit.

"Baiklah, kita akan menjutkan perjalanan kita. Semua sudah siap?" Naruto saat ini sudah bersiap dengan perlengkapan yang ia kenakan. Breastplate, Shoulder Protector dan juga sebuah gaunlet terpasang rapih di temani sebuah pedang yang menggantung di pingganganya. Dirinya kemudian mengambil jubah yang sudah di sediakan Klipe untuk menutupi identitas ya dari para pengajar.

Melihat semua anggotanya kembali hingga akhirnya Naruto menganggukan kepalanya. Kakashi dan Rosseweis sudah siap dan Setsuna sudah mengenakan jubah yang menutupi seluruh tubuhnya dengan tudung yang menutupi kepalanya. Pemuda itu kemudian mengambil barang bawaan yang berupa alas tidur dan juga beberapa bahan makanan untuk pelarian mereka dan tentunya itu adalah hadiah dari Klipe.

"Kalian tidak harus pergi melewati para penjaga itu." Klipe berjalan ke arah counter meja tempat dimana orang-orang melakukan pembelian di tokonya. Menghiraukan pandangan semua orang, Klipe kemudian menarik sesuatu hingga membuat sebuah lubang palka terbuka.

"Lorong ini dulunya digunakan untuk lari dari tentara kekaisaran yang menyerang kerajaanku dan aku bisa menjamin kalau tentara kerajaan tidak akan menyangka kalau lorong ini masih ada." Mendengar itu membuat semua orang di kelompok Naruto menganggukkan kepalanya dan satu persatu turun ke bawah.

"Naruto-san, aku tau ini tidak seberapa namun biarkan aku membantu tuan putri dalam pelariannya." Ucap Pria itu dan Naruto yang mengambil pemberian Klipe merasa sedikit tidak enak. Apalagi mengingat kalau pria itu sudah membantu menyembunyikan Gabriel semalam.

"Aku berjanji akan mengembalikannya setelah kekaisaran ini kembali normal!" Ucap Naruto dan akhirnya pemuda itu ikut turun kebawah meninggalkan Setsuna yang hampir menangis.

"Klipe Jii-san! Terima kasih atas makanannya dan jika saja kami sudah kembali apakah aku boleh makan makanan buatanmu lagi?" Pria itu tersenyum dan kemudian menganggukkan kepalanya membuat Setsuna sangat gembira.

Sebuah kecupan hangat mendarat di pipi Klipe dan kemudian Setsuna pergi bersama dengan Naruto dan yang lainnya sampai Klipe menutup pintu palka itu.

Lorong itu bukan seperti lorong kebanyakan bahkan bisa di bilang kalau itu adalah sebuah gua. Gelap namun di dalam kegelapan itu masih ada beberapa cahaya dari batu-batu yang menyerap energi sihir di sekitarnya.

Empat orang itu berjalan menuju arah selatan dan tanpa mereka sadari sesuatu mengikuti mereka dari belakang.

"Ne Nii-chan, kenapa ada saja orang yang mengganggu masa damai seperti ini." Mendengarnya kedua alis pemuda itu menaut karena sebuah pertanyaan yang baginya mengada-ngada. 'Masa damai apanya? Semua orang hidup dalam ketakutan kalau kekaisaran mengadakan penyerangan!' Pikir pemuda itu. Dirinya tidak pernah menganggap perdamaian sejati itu ada karena selama masih ada rasa takut maka tidak ada kedamaian yang berarti. Bahkan untuk ukuran kekaisaran sekalipun masih memiliki rasa takut.

"Lebih baik kau tutup mulutmu, Setsuna! Masa damai itu tidak ada dan perdamaian sejati tidak akan pernah terjadi karena semua mahluk hidup pasti akan selalu berusaha untuk memenuhi ambisinya, hanya seorang petapa saja yang tidak akan memikirkan hal ini karena mereka selalu hidup menjauh dari dunia dan mengejar kedamaian batin. Apa kau tidak melihatnya? Setiap kerajaan di seluruh benua ini takut akan kekaisaran! Walaupun pertahanan kekaisaran sangat hebat namun masih saja ada penindasan, kekerasan dan juga tindakan yang tidak pernah kau lihat sebelumnya. Jadi, saran dariku KELUARLAH DARI SONA KHAYALMU, BODOH!" Ucapan Naruto lantas membuat Setsuna terdiam begitu juga Kakashi dan Rosseweis karena apa yang dikatakan Naruto ada benarnya. Semua ini hanyalah kebohongan dibalik kebodohan yang tidak akan pernah selesai. Kasar? Yah, Naruto akui kalau ini sangatlah kasar untuk ukuran seorang gadis belia namun Naruto mengajarkan suatu nilai kehidupan untuknya.

Sreet...

Kedua kakinya berhenti begitu juga dengan Kakashi dan Rosseweis karena mendengar dengusan nafas dan juga hawa keberadaan yang ada di sekitar mereka. Lorong-lorong gua yang lembab membuat mereka tau bahwa ada sesuatu yang berdarah panas mengikuti mereka sejak tadi. Uap panas yang keluar dari arah belakang mereka membuat semuanya berada di dalam posisi siaga hingga sampai...

"Menghindar!" Teriakan Kakashi membuat semua orang lompat berlainan arah dan menolehkan kepala ke arah belakang hingga menampakkan suatu monster.

Iron Salamander, Monster sihir yang berada di dalam gua dan memakan bijih-bijih besi sebagai makanannya. Tubuhnya sangat keras dan juga semua itu terbuat dari besi dari ujung ekor hingga ujung kepala tanpa terkecuali bagaikan armor tanpa celah membuat beberapa ksatria kesulitan untuk mengalahkan monster ini.

Set...

"Baiklah Setsuna, ambil ini." Kakashi dan Rosseweis terkejut saat melihat Naruto mengeluarkan sebuah pedang pendek dan menyodorkannya pada Setsuna namun saat ingin protes telapak tangan dan juga senyuman Naruto yang seakan mengatakan bahwa ini semua baik-baik saja membuat keduanya mengurungkan niat.

"Ambil ini dan lawanlah dia, Di dunia ini tidak ada yang mudah! Saat kau harus melawan maka lawanlah dan saat kau harus lari maka larilah. Semua mahluk hidup tau akan batasannya maka dari itu larilah saat kau merasa tidak sanggup melawannya." Kata-kata yang keluar dari mulut Naruto membuat Setsuna terdiam hingga akhirnya ia mengambil pedang tersebut dan menatap Salamander dihadapannya dengan kedua matanya.

...

...

Setsuna POV

Namaku Setsuna, Demi-human dari Klan Sky Wolf. Kami adalah pemburu yang sangat hebat dan selalu menjaga keseimbangan alam berdasarkan kepercayaan kami yang kuno. Namun semua berubah pada hari itu!

Darah, api dan juga teriakan berada dimana-mana. Pasukan yang membawa bendera perisai berkepala singa menghancurkan segalanya yang ada. Dapat kulihat beberapa anak menangisi orangtuanya yang mati, Wanita yang diperkosa dihadapan ku dan juga pemenggalan kepala suku kami yang dapat kulihat dari celah persembunyianku.

Kemudian karena suatu kesalahan, aku tertangkap dan di masukkan kedalam suatu penjara yang berisi anggota suku dan juga beberapa orang dari lain ras. Elf, Dwarf, Nymph, Demi-human, Demi-Demon berada dihadapanku saat ini hingga akhirnya kami semua sampai di sebuah kota yang berada di dalam sebuah gunung.

Siksaan demi siksaan terusku dapati seraya memanggil kedua orangtuaku yang sudah meninggal. Beberapa penjaga yang menyiksaku tertawa melihatku menangis dan berteriak sampai suaraku menghilang untuk sesaat. Hingga pada suatu hari.

"Hei, makanlah ini."

Seseorang memberikanku makanan, walaupun bukan daging namun orang itu memberikannya dengan senyum di wajahnya. Senyuman yang seakan mengatakan Kau sudah berjuang.

Orang itu adalah Naruto-sama namun ia meminta ku untuk memanggilnya dengan sebutan Nii-chan. Sekilas dari senyuman itu dapat kulihat kegelapan yang mengutuk benua ini untuk tenggelam dalam lautan luka dan juga dendam tanpa akhir. Namun, kegelapan itu tertutupi sebuah cahaya yang sangat terang entah karena apa namun aku merasakan bahwa cahaya itu bercampur rasa penyesalan yang mendalam.

Naruto Nii-chan membeliku dan membawaku ke rumahnya dan disana dapat ku lihat kalau ada seorang perempuan yang sangat cantik sedang tertidur lelap. Awalnya aku berfikir bahwa ia adalah istri Naruto-nii namun setelah keesokan harinya aku tau bahwa gadis itu adalah tuan putri dan juga reinkarnasi dari Princess of Divine Light dan saat itu juga aku tersadar akan sebuah kisah lama. Tentang seorang ksatria yang mengorbankan nyawanya untuk sang Ratu, orang yang paling ia cintai dan kenyataannya adalah Naruto-nii adalah reinkarnasi dari Lord Of Darkness yang di ramalakan akan terbunuh.

Beberapa peristiwa dan juga beberapa konfrontasi dengan pasukan kekaisaran membuat diriku seakan tersadar bahwa aku tidak bisa melakukan apa-apa dan hanya beban di dalam kelompok ini. Naruto-nii, Kakashi-nii, Rosseweis-nee, aku tidak akan pernah menjadi penghambat lagi dalam perjalana kali ini.

Dengan sebuah pedang di tanganku dan juga adrenalin yang memuncak membuat sesuatu di dalam tubuhku menegang dan memberontak ingin keluar. Tarikan nafas yang memenuhi dadaku ku lepaskan secara perlahan hingga akhirnya akupun bergerak tanpa sadar.

Trank... Trank... Trank...

Suara besi beradu membuat kedua telingaku berdansa dan juga percikan api itu membuat diriku sadar kalau kulit monster ini tak kalah dengan namanya. Serangan demi serangan aku berikan dan karena gerakan yang payah itu staminaku sedikit terkuras dan membuat diriku kelelahan.

Gaya pertarungan Demi-human adalah gaya acak yang menggabungkan insting binatang dalam darahnya dan juga pikiran manusia kuno yang menciptakan perpaduan mematikan namun di satu sisi menguras stamina. Mengandalkan kecepatan dan juga kekuatan untuk menghadapi musuh, Kami para Demi-human dari Klan Sky Wolf selalu melatih diri kami di dataran tinggi dan karenanya tubuh kami dapat menahan segala tekanan tersebut.

Kepala, Ekor, Rusuk, Lengan, dan juga Punggung menjadi targetku namun tetap saja tidak ada perubahan selain goresan-goresan yang menghiasi sisik besi itu.

"Hei Setsuna, semua mahluk hidup memiliki kelemahan dan kau harus mencari kelemahan tersebut! Walaupun sebesar kerikil." Ucapan yang keluar dari mulut Naruto-nii tak jauh dari tempatku berdiri membuatku tersenyum kecil. Karena, setiap mahluk hidup pasti memiliki kelemahan dan itu adalah benar!

Tunggu dulu! Aku harus mencari kelemahan tersebut walaupun itu sebesar kerikil? Dan akhirnya aku tersadar bahwa perkataan Naruto-nii adalah sebuah petunjuk bahwa kelemahan Salamander ini terlatak pada matanya! Hanya itu satu-satunya bagian yang lunak dan juga dekat dengan bagian otaknya!

Langkah kaki ini mulai cepat dan singkat saja, aku berhasil menusukkan pedang ini ke bagian mata hingga sampai otak Salamander itu. Walaupun aku harus menderita luka karena sabetan ekor Salamander yang mengenai tulang Rusuk ku.

Dalam keadaan terbaring aku tersenyum sebelum akhirnya kegelapan menimangku dalam kegelapan.

...

...

Dalam kekaisaran, ada sebuah pertemuan yang dipimpin oleh seorang Duke. Pertemuan ini berada di bagian selatan dan Duke itu menguasai daerah tersebut membawahi beberapa Baron, Count, Earl, dan juga Marquess. Pertemuan itu berada di Namikaze Dukedom yang berbatasan dengan Kerajaan Arun yang berada di selatan.

"Jadi, Karena semuanya sudah berkumpul mari kita mulai pertemuan kali ini." Ucap seorang pria berambut pirang dengan pakaian yang sangat rapih, disampingnya ada seorang pemuda berambut merah dengan armor ksatria lengkap dengan sebuah pedang di pingganganya. Dihadapan pria itu ada beberapa orang yang memiliki kekuasaan di daerah selatan sebut saja Marquess Lucifuge, Count Einzbern dan beberapa pejabat lainnya.

"Dalam pertemuan ini, Aku tidak akan membahas tentang pajak ataupun masalah-masalah internal, di bagian selatan namun aku ingin membahas keanehan di bagian internal kekaisaran ini." Ucap Pria itu dan karenanya perhatian semua orang mulai tertarik pada pria itu.

"Apa maksud anda, Namikaze-donk?" Tanya seorang Pria yang memiliki rambut silver panjang di hadapannya. Pria itu adalah kepala dari kediaman Marquess Lucifuge dan juga di belakangnya ada seorang ksatria perempuan yang mana itu adalah anak dari Marquess itu.

"Lucifuge-dono benar, Kenapa anda membahas tentang hal tersebut?" Kali ini Perhatian pria bermarga Namikaze itu jatuh pada seorang wanita yang berdiri di jabatan Earl dan karenanya Pria itu menghela nafasnya.

"Apa kalian tidak merasa keanehan? Kaisar membiarkan korupsi besar dari beberapa bangsawan dan juga Hak rakyat untuk menyuarakan keluhannya di cabut dengan paksa, Beberapa Jendral termasuk diriku mengundurkan diri dan lagi para ksatria merajalela. Aku rasa ada yang tidak beres dengan Kaisar atau Kaisar yang sekarang bukanlah Kaisar yang sebenarnya?" Pria itu melemparkan beberapa lembar gambar dan disana ada seorang pria berambut hitam panjang menggunakan sihir yang merubah dirinya menjadi kaisar itu sendiri.

Orang-orang disana sangat terkejut dengan apa yang ada dihadapan mereka. Rasa tidak percaya menggelitik hati mereka dan juga beberapa ksatria yang mana membela Kekaisaran merasakan perasaan tidak enak karena melakukan penindasan atas nama kaisar. Lalu sebuah pertanyaan muncul di benak semua orang.

"Dimana sebenarnya Kaisar?" Tau akan pertanyaan tersebut, Ksatria di belakang Duke itu mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya dan meletakkannya di atas meja.

Hening!

Semua yang ada di dalam ruangan ini terdiam! Tidak percaya dengan apa yang ada di dalam lembaran kertas tersebut. Disana ada seorang gadis yang sedang terkulai lemah tidak berdaya di dalam sebuah ruangan.

"Apa ini benar? Gabriel-hime di penjara dan Jendral Madara melakukan pemberontakan secara diam-diam? Apa yang harus kita lakukan?" Duke Namikaze tidak menjawab namun jawaban tersebut diberikan seorang ksatria yang ada di belakang Pria itu.

"Sebelumnya maafkan saya karena lancang mengikuti pembicaraan ini. Tapi, semua yang ada di kertas itu adalah kenyataan. Kami, Namikaze memiliki sebuah unit yang bergerak di dalam bayangan untuk melakukan hal-hal yang melanggar hukum perang seperti Sabotase, Spionase, dan juga melakukan penyerangan pada team Medis di wilayah belakang musuh. Dan, karenanya pasukan ini mencari info dan di dapatilah hal itu. Aku tidak menyarankan namun ini adalah sebuah perintah! Kalian, para bangsawan yang ada di dalam ruangan ini pergilah ke daerah selatan dan bergabung dengan tentara sekutu kami. Namikaze-sama dan Aku akan tetap disini untuk mengahalau pasukan kerajaan yang tau akan pemberontakan ini." Ujar Ksatria itu namun ada dua orang yang terdiam dengan usulan Ksatria itu.

"Menma-dono, Apa maksud anda dengan perintah? Kalian para ksatria mendapatkan upah dari para bangsawan yang membayar upeti untuk membayar gaji kalian!" Bangsawan itu menggebrak mejanya dan menatap wajah Menma dengan amarah yang membara di wajahnya.

"Kalian membayar para Ksatria dan juga apa aku tidak tau bahwa anda, Baron Yaqrieq membayar upeti lebih untuk menutupi usaha anda?" Perkataan Menma membuat Baron itu terdiam dengan dahi mengeluarkan keringatnya. Dengan senyuman di wajahnya sebuah kertas melayang kembali dan mendarat di hadapan semua orang.

"Baron Yaqrieq menjalankan sebuah usaha tak terdaftar dan lagi ia menjual akses keamanan bagian utara pada bangsa Barbarian di Kepulauan tenggara demi kepentingan sendiri! Aku hanya ingin semua orang selamat dan kenapa anda masih membantah?"

Situasi di dalam ruangan tersebut semakin memanas.

...

...

Kelompok Naruto sudah sampai di sebuah lapangan luas. Padang rumput yang luas membentang di hadapan mereka, perjalanan untuk keluar dari gua tersebut mencapai dua hari dan dapat terlihat dari penampilan mereka yang lumayan kotor terlebih Setsuna yang penuh dengan debu di ekor dan juga di kupingnya.

"Ahh... Kakashi-nii, Aku akan pergi sebentar kalian istirahat saja." Mendapat respon dari Kakashi, Naruto pergi meninggalkan semua orang.

"Anata, ada apa dengan Naru-chan?"

"Biarkan saja, dia hanya ingin bertemu dengan teman-temannya." Ucapan Kakashi yang terkesan getir membuat Rosseweis membelalakan matanya. Dirinya baru sadar kalau ini adalah medan perang lima tahun silam dan saat itu tim Naruto gugur di medan ini.

"Dia akan mengambil pedang itu?"

"Ya, dia akan mengambilnya kembali dan kembali menjadi seorang Mayor yang paling ditakuti pasukan lawan." Setsuna yang tidak tau masalah apa yang terjadi berusaha bertanya dan Kakashi maupun Rosseweis hanya diam hingga Kakashi menghampiri gadis kecil itu dan mengusap kepalanya, Menceritakan sebuah cerita yang penuh dengan Anugerah, Kebencian, Cinta, dan juga perasaan-perasaan yang lahir di Medan perang.

...

...

Lima tahun yang lalu, saat peperangan untuk merebut daerah selatan benua tengah. Muncul sebuah unit yang sangat di takuti oleh semua pasukan musuh. Unit itu tidak kenal ampun dan membantai semua yang ada di hadapan mereka.

THE END

Seperti namanya, Unit itu muncul saat perang mencapai puncaknya. Unit itu hanya terdiri atas lima pemuda dan pemudi termasuk ketua unit mereka. Kemampuan pedang dan juga sihir mereka mengalahkan dapat mengalahkan satu pasukan lengkap dan satu Ksatria setara dengan seratus pasukan.

Saat itu kekacauan di wilayah selatan tidak terbendung lagi karena adanya pasukan Barbarian dari Tenggara. Pasukan yang tidak kenal ampun dibuat terdiam saat basecamp mereka hancur karena sihir berskala luas membakar semua orang. Peperangan dengan bangsa Barbarian terjadi lebih dari sepuluh hari tanpa istirahat hingga akhirnya pasukan Barbarian dipukul mundur dan pergi dari dataran tenggara menuju kepulauan tenggara.

Infantry, Cavalery, dan semua unit berat berhasil unit itu binasakan dalam waktu satu tahun. Namun keberhasilan yang mereka dapatkan membuat ketua mereka besar kepala hingga membuat anggota timnya tewas di medan pertempuran di hadapan pasukan terakhir daerah selatan.

Sepuluh ribu pasukan mengepung lima orang dari segala sisi membuat mereka bangga karena masalah terbesar di peperangan ini sudah mereka kuasai. Ratusan orang tewas hanya untuk membunuh satu orang dan pada akhirnya saat tersisa dua orang dari unit itu suatu hal terjadi.

Kaguya Otsutsuki, Bangsawan dari klan Otsutsuki yang menjadi Ground Mage unit tersebut tewas karena melindungi ketuanya. Enam ribu orang tertawa saat ketua unit itu terkepung namun pada akhirnya sesuatu muncul dan membakar yang ada di sekelilingnya. Sebuah kegelapan menelan semua orang dan hanya ada darah yang tersisa. Enam ribu pasukan itu tewas atas kehendak ketua unit tersebut.

Rumput yang hijau bercampur dengan darah yang terlihat seperti sungai, mengalir terus menerus tanpa tau kapan berhenti. Sebuah Sigil tercetak di punggung tangan ketua unit itu, Sigil yang berwarna hitam dengan lambang kepala Grim Reaper yang di segel dengan pola Hexagram.

"Aku adalah Lord Of Darkness! Apapun yang ada dihadapanku akan tenggelam kedalam kegelapan tanpa akhir maka dari itu tidurlah dalam damai!"

Ucapan itu terdengar menggema di seluruh medan perang membuat semua orang terdiam karena tau siapa itu Lord Of Darkness. Pasukan Selatan mundur dan pergi dari benua tengah mengantarkan kemenangan bagi Kerajaan Airia hingga melahirkan Kekaisaran Airia.

Di saat terakhirnya, Ketua Unit itu menanamkan pedangnya di tanah sebagai bukti bahwa disini ada perumahan darah. Hingga saat ini, Semua Ksatria hebat mencoba menarik pedang tersebut namun tidak ada yang bisa menariknya. Dikatakan bahwa itu adalah pedang milik Lord Of Darkness, Kembaran pedang yang dibawa Princess of Divine Light pada masa lampau.

"Tunggulah disini, sampai aku menarikmu keluar! Seraplah semua darah dimedan pertemuan ini karena akan menimbulkan penyakit bagi semua orang! Tunggu! Tunggu! Tunggu! Dan teruslah menunggu!"

Sudah lima tahun berlalu dan tidak ada seorangpun yang dapat menarik pedang itu. Sebagai penghormatan dihadapan pedang itu ada sebuah makam sebagai penghormatan atas unit kekaisaran yang tewas saat itu.

Disini adalah tempat bersemayam para prajurit terkuat kekaisaran. Sebagai penghormatan dari kami atas jasa mereka, kami membuat makam ini di hadapan pedang miliki Lord Of Darkness.

Tertanda,

Rakyat Kekaisaran Airia

...

...

Namaku adalah Uzumaki Naruto. Seorang Mayor yang memimpin unit paling depan dalam peperangan High Ground lima tahun yang lalu dengan mengorbankan teman-teman ku.

Matterhorn, Walaupun ia adalah Demi-human namun kerena kemampuannya yang sangat hebat, aku merekrutnya dari perbudakan. Kemampuan yang sangat hebat karena dapat memberikan sihir yang dapat memperkuat tim ini dalam hal resistensi terhadap sihir dan lagi fisiknya yang sangat kuat dapat menembus tubuh musuh hanya dengan tinjunya.

Bakuyuki, Seorang ksatria yang sangat hebat. Pertemuanku dengannya sedikit lucu karena dia ku temukan dalam keadaan babak belur di depan sebuah pemandian. Walaupun begitu, saat bertugas ia selalu menolak untuk menyakiti seorang wanita dan yah, aku yang harus turun tangan untuk membunuh para perempuan di medan perang.

Frostnova, satu lagi Demi-human yang ku selamatkan dari perbudakan. Usianya masihlah sangat belia saat ajalnya menjemput dan gadis itu menganggapku sebagai kakaknya. Kemampuan untuk membuat suatu zona lingkup yang dapat membekukan musuh menjadi momok menakutkan bagi setiap orang.

Lalu, Kaguya Otsutsuki. Seorang gadis yang mengajarkanku tentang suatu hal yang bernama cinta. Hidupku dulu sangatlah berbeda sebelum bertemu dengan gadis itu. Dingin, Tanpa ekspresi, Sadis dan juga tak kenal ampun dalam semua misi yang diberikan semua semata-mata ku lakukan untuk kepentingan kekaisaran namun gadis itu selalu mengajarkanku untuk mengasihi musuh, berbelas kasih pada mayat musuh, tersenyum saat aku ingin, dan juga menangis saat aku terluka. Semua hal yang diajarkan oleh gadis itu masih melekat di otakku sampai dengan kegiatan orang dewasa di malam dingin. Namun saat peperangan High Ground, Kaguya tewas bersama dengan anak yang ada di dalam kandungannya.

Dan hanya itu sekilas cerita tentang unit yang ku pimpin dalam perang High Ground, Sekarang diriku sudah sampai di sebuah makam. Makam yang di buat rakyat kekaisaran tanpa bantuan pemerintah. Makam yang sederhana dengan batu kapur yang di ukir sebagai penghormatan terakhir dan juga penandatanganan bagi para peziarah.

Beberapa ksatria yang berziarah disini selalu berdoa untuk keselamatan mereka di medan perang dan juga beberapa berdoa agar diberi izin untuk mencabut pedang di depan makam ini.

"Apa kabar kalian semua Matterhorn, Bakuyuki, Frostnova-chan, dan juga Kaguya-chan? Aku ingin mengatakan maaf karena tidak bisa menyelamatkan kalian!" Ahh... Sialan, kenapa mataku harus mengeluarkan air sialan ini! Aku muak menunjukkan sisi lemahku pada siapapun namun kenapa harus sekarang?

'Menangislah saat kau ingin, Naruto-kun!" Aku membuka mataku dan melihat sekeliling dan mendapati seseorang sedang tersenyum kepadaku.

Ahh... Rambut putih seperti Luna yang sedang mekar, dan juga mata indah seperti permata di lautan itu! Aku menemukanmu!

"Bukan hanya dia saja yang ada disini, Taichou!" Akupun tersadar saat suara seorang pria yang bersemangat memasuki pendengaranku. Suara khas ini, suara seorang pria yang sangat akrab dengannku.

"Matterhorn, Bakuyuki! Dan juga, Frost-chan!"

Ku ucapkan nama mereka namun kenapa penderitaanku semakin menjadi-jadi? Apa ini karena aku masih terlalu lemah saat itu untuk melindungi kalian?

Empat orang yang berharga bagiku dan juga empat orang yang ku anggap keluarga sedang tersenyum di hadapanku. Aku tidak tau apa yang harus ku lakukan.

"Kau tidak akan pernah bisa mencabut pedang itu, Naruto-kun!"

Aku tertegun karenanya! Apa maksudnya? Aku adalah perwujudan dari Lord Of Darkness, sang penguasa kegelapan! Pedang itu adalah milikku, kuasa atas kehendakku dan karenanya aku akan mencabut pedang itu.

"Tidak akan! Kau tidak akan bisa mencabut pedang itu sebelum kau memaafkan dirimu sendiri. Aku sudah mengajarkanmu untuk memaafkan setiap musuhmu namun aku tidak pernah mengajarkanmu untuk memaafkan semua penyesalan dalam dirimu! Ku rasa sudah waktunya, Kami akan pergi ku harap kau baik-baik saja. Kami akan selalu mendukungmu mau bagaimanapun kamu berjalan di kegelapan ataupun di cahaya. Aishiteru, Naruto-kun!"

Aku terdiam! Kenapa mulutku tidak bisa mengeluarkan suara? Sialan! Kedua mataku hanya melihat teman-temanku pergi dan melebur menjadi pecahan-pecahan cahaya yang hilang di bawa angin.

Aku harus memaafkan diriku sendiri? Tapi bagaimana? Kaguya, tolonglah aku!

Langkah kaki ku semakin berat, emosi yang memuncak pada pikiranku direspon oleh energi sihir membuat tubuhku mengeluarkan uap kegelapan yang membuat rumput di sekeliling hamparan ini mati seketika. Emosi itu adalah Amarah, Kesedihan, Penyesalan, Penderitaan, Kesepian, Kehampaan, dan juga Dendam!

Aku harus melupakan dendamku! Kerajaan di benua Selatan adalah tujuan ku saat ini jadi aku harus melupakan dendamku pada mereka! Maafkan semua hal yang sudah berlalu dan aku tidak ingin terulang untuk kedua kalinya. Aku menarik nafasku dan kemudian menghembuskannya.

Kehampaan dan juga kesepian didalam diriku karena kehilangan teman-temanku sekarang sudah tergantikan berkat adanya Setsuna, Kakashi-nii dan juga Ross-nee yang selalu menjagaku belum lagi adanya Gabriel. Perlahan dadaku yang sesak mulai lega untuk sesaat.

Penderitaan karena penyesalanku tidak bisa menyelamatkan nyawa mereka akan ku balaskan dengan menyelamatkan dunia ini walaupun harus berada di jalan kegelapan! Hari ini tekad pada hatiku sudah bulat, Aku akan berjalan di jalan kegelapan untuk membuat dunia lebih baik tanpa adanya pertikaian.

Dengan memaafkan diriku sendiri dan juga air mata yang mulai keluar, Amarahku mereda. Perlahan namun pasti aku menaikan wajahku dan menatap tajam kedepan dengan tekad baru!

Kedua tanganku sudah sampai di gagang pedang tersebut. Aku tidak perduli apapun, walaupun aku mati akan ada beberapa orang yang percaya dengan legenda sang Lord Of Darkness dan juga semua warisannya pada dunia ini.

Dengan kehendakku, Pedang itu tercabut dari tanah. Pedang dengan gagang berwarna hitam dan pada bilahnya dihiasi oleh corak-corak berwarna merah seperti aliran sungai darah.

"Aku adalah Tuan-'Mu' yang melanjutkan kehendak dari seluruh Lord Of Darkness sebelum diriku, Maka dari itu mari kita berjalan di jalan yang berbeda dengan cahaya, Morgan!"

...

...

TuBerCulosis

...

...