Boboiboy Fanfiction

Character : All Tapops' Member

Age : 17-19 years old

Set : Tapops Station


Yaya menang!

Dan Ying kalah...

Ada apa? Apa terjadi perkelahian? Apa terjadi adegan saling menjambak antarsahabat yang sering ditonton Taufan? Oh, Bukan! Ini HANYA kontes gadis paling populer di tapops.

Entah apa yang membuat Laksamana Tarung dan Komander Kokoci membuat kontes konyol semacam ini. Yaya dan Ying sebenarnya tak berminat sedikitpun untuk menjadi populer. Lain halnya dengan teman landak mereka. Kalau saja itu kontes cowok paling populer di tapops, tentu saja si maniak lobak merah alias Fang akan langsung mendaftarkan dirinya dibarisan terdepan.

Tapi, setelah mendengar kontes ini memperebutkan suatu gelar, yang berarti juga memperebutkan posisi pertama, Ying dan Yaya langsung mendaftarkan diri. Meski usia mereka sudah remaja dan sekarang beranjak dewasa, tetap saja sifat tak ingin kalah dari sang sahabat masih sama adanya. Mereka akan bersaing seperti saat mereka menjadi rival ujian sewaktu masih di sekolah dasar. Gadis gadis lain di tapops rupanya tak ingin mendaftar, sepertinya tak tertarik atau tak ingin bersaing dengan yaya dan ying yang begitu mengerikan jika memperebutkan hal semacam ini. Daripada kena pukulan super Yaya atau seribu tendangan dari Ying, lebih baik mereka berlatih bersama kelompoknya masing-masing.

Jadilah kontes tersebut hanya memiliki dua kandidat. Ying dan yaya. Dan hasilnya sudah diumumkan. Yaya keluar sebagai pemenang dengan perolehan suara nyaris sempurna. Yah, nyaris semua memilih Yaya. Ada Boboiboy, Gopal, Fang, anggota anggota junior yang tak begitu dikenali oleh Ying dan bahkan seluruh alien mopmop juga turut memberikan suaranya untuk memilih Yaya.

Sementara Ying hanya mendapatkan 2 suara, yaitu dari si kembar perisai, Sai dan Shielda. Mereka memilih Ying karena merasa lebih dekat dengan Ying ketimbang Yaya.

Semua mengucapkan selamat kepada Yaya tak terkecuali Ying.

"Selamat Yaya!", sorak Ying dengan heboh.

"Terimakasih Ying!", balas yaya tak kalah heboh.

"Hahaha, Ying kau hanya mendapat 2 suara", tawa Gopal.

Gopal terus tertawa mengabaikan Ying yang menggeram kesal.

"Aku memilih Yaya karena Ying terlalu kejam dan selalu memukuliku. Bagaimana denganmu Boboiboy?", tanya Gopal seraya menyenggol lengan Boboiboy.

"Aku memilih Yaya karena dia teman baikku sejak kecil, lagipula kami bertetangga, tapi tak apa, Ying juga terbaik!", seru Boboiboy seraya mengangkat dua jempolnya yang menjadi ciri khas superhero elemen ini.

Ying malas saja menanggapi mereka berdua. "Aku tidak menanyakan alasan kalian kok", sahut Ying dengan lidah menjulur.

Mereka semua tertawa melihatnya. Mereka tertawa seolah mengganggap bahwa Ying tak terpengaruh dengan ejekan Gopal barusan. Ah, Ying memang ahli menyembunyikan perasaannya. Tapi semua itu tidak mempan bagi seseorang...


Ying hanya berkeliling sekarang, menyelusuri lorong lorong di stasiun tapops tempatnya berjuang bersama sahabat-sahabatnya beberapa tahun ini. Ying berjalan sambil menunduk,

"Ying galak sih..."

"Makanya belajar lembut dong ying."

"Iya, belajar jadi feminim sama yaya."

"Gimana mau menang kontes gadis populer kalau Ying sendiri tomboy, hahaha"

"Ish, Tak baik berkata begitu pada Ying"

Ingatan Ying melayang ketika Yaya berusaha melerai Gopal dan anggota lain yang masih saja menggoda Ying. Jujur saja perasaannya sedikit terluka. Ying tau ia tak akan bisa mengalahkan Yaya soal menjadi 'gadis' , terutama menjadi gadis yang feminim. Ying juga mengakui kalau dia sedikit tomboy, hanya saja tak perlu mengolok-oloknya bukan? Mendengar temannya mengatakan bahwa Ying 'Tidak terlalu gadis ' secara langsung membuat hati Ying bersedih sekarang. Ying terus melamun sehingga ia tak menyadari kalau Fang menghampirinya.

"Apa yang kau lakukan Ying?", suara dingin itu, Ying mengenalnya, itu suara Fang.

"Kenapa kau masih berkeliaran di jam segini?", lanjut Fang.

"Tak ada, hanya mencari angin sedikit", Ying mencoba menyembunyikan perasaannya sekarang.

"Ooh kupikir kau sedang meratapi kekalahanmu", balas Fang sedikit menggoda.

Ying hanya memutar bola matanya kesal.

Sekian lama hening, Fang memulai pembicaraan, "Kau tak bertanya kenapa aku memilih Yaya?"

"Ceh, Untuk apa aku menanyakannya?"

"Mungkin saja kan?

Memang Ying akui, Fang menjadi satu-satunya yang tidak ikut menggodanya tadi bersama gopal dan yang lain. Tapi tetap saja, landak ini tak akan senang kalau tidak mengganggu Ying sehari saja.

"Yah, yaya itu baik, ramah...", Fang melanjutkan tanpa ada siapapun yang meminta pendapatnya.

"Sudah kubilang aku tak bertanya padamu kan!", potong Ying dengan segera.

Namun tampaknya Fang tak peduli. Ia terus saja berujar, "...Senang berbagi, walaupun aku tak bisa tenang saat dia membagikan biskuitnya, rajin, pin-"

"Aku tau itu", potong Ying dengan cepat.

"Asal kau tau saja aku bersahabat dengan Yaya lebih dulu daripada kau. Tak usah berlagak memberi tau seperti apa dirinya, aku jauh lebih mengenalnya dibanding dirimu. Dan apa maksudmu berkata seperti itu hah? Jangan coba coba untuk membandingkan siapa yang terbaik diantara kami!", Ying yang memang sedang dalam mood yang buruk semakin emosi mendengar ocehan Fang.

"Aku hanya ingin memberitahumu dimana poin kemenangan Yaya dalam kontes tadi dibandingkan denganmu"

"Ya ya ya aku tau itu! Yaya itu baik, feminim, dan cantik. Dia memiliki segala sifat yang menunjukkan kalau dirinya benar-benar seorang gadis. Semua anggota lelaki tentu akan memilih yaya. Oh ayolah, lelaki mana yang tak akan terpesona pada kecantikan Yaya?" Ying yang emosinya semakin meluap merasa bahwa matanya sudah semakin penuh ingin mengeluarkan bebannya.

"Bahkan Gopal yang tergila-gila pada makanan pun tau kalau Yaya itu cantik dan feminim, tidak sepertiku" lirih Ying di dua kata terakhirnya. Fang hanya diam sambil terus menatap Ying.

"Oh, my...

Ternyata selain tidak populer kau juga tak pandai membaca heh?"

Fang, Ying sedang ingin menangis dan kau malah mengejeknya? Tentu saja Ying dengan mudahnya tersinggung oleh ucapan Fang.

"Apa maksudmu hah?"

"Kau tidak mengerti apa? Tadi itu kontes gadis terpopuler, bukan kontes gadis tercantik. Bagaimana sih?"

"Hah! Aku tidak pernah mengatakan kalau tadi itu kontes gadis tercantik"

"Lalu kenapa kau hanya mengungkit perihal Yaya yang cantik dan feminim?"

Ying tak tahu harus menjawab apa lagi. Memang benar. Kenapa Ying hanya membicarakan soal cantik dan feminim? Apa Ying merasa dirinya terlalu tomboy sehingga tak pantas menyaingi Yaya dengan segala sifat gadisnya?

"Lagipula, kalau ada kontes untuk menentukan siapa yang tercantik, tidak mungkin aku memilih Yaya kan?" lanjut Fang sedikit mengalihkan pandangan matanya dari Ying.

"Eh?" Ying yang sedari tadi menunduk tiba tiba mendongak. Apa apaan itu? Apa Fang secara tak langsung mengatakan bahwa Ying itu... cantik? Dan akan lebih memilihnya dibanding Yaya?

Melihat Ying yang sepertinya salah tingkah, niat Fang untuk menjahilinya kembali lagi.

"Tentu saja. Yang paling cantik itukan ibuku"

Oh Fang... kau jahat sekali.

Fang sedikit terkekeh melihat Ying yang kembali merengut di hadapannya.

"Ini sudah malam.

Ayo, aku akan mengantarmu"

Fang berjalan mendahului Ying, yang masih setia mengekor di belakang Fang menuju kamarnya. Masih tak ingin bicara, Ying terus menundukkan wajahnya sepanjang jalan dengan tak memperhatikan bahwa mereka sudah hampir sampai di kamar Ying.

"Ying, kita sudah sampai"

"Eh?" Ying merasa malu menyadari dia hanya menunduk sepanjang perjalanan dengan Fang tadi.

"Oh ya, sudah sampai. Kembalilah ke kamarmu Fang", Ying sudah ingin menutup pintu kamarnya kalau saja dia tidak melihat Fang masih berdiri disana, entah untuk apa.

"Ying", Fang sepertinya sedang merangkai sesuatu dalam otaknya.

"Ada apa lagi Fang?" keluh Ying.

"T-tidak...", Oh kenapa dia harus gugup disaat seperti ini?

Fang melanjutkan, "...Aku, a-aku hanya ingin mengatakan kalau..

...Menurutku Ying juga bisa terlihat cantik dan manis disaat bersamaan"

"..."

"T-tentu saja kau tidak bisa mengalahkan ibuku. Ibuku adalah wanita tercantik diseluruh galaxy", lanjut Fang memalingkan wajahnya.

"..."

"T-tapi Ying bisa jadi yang kedua kok, k-kalau mau"

"..."

"M-maksudku... Y-ya! Perempuan tercantik kedua di seluruh galaxy", terlihat sedikit rona merah di wajah Fang.

"..."

Ying belum mengucapkan sepatah kata pun. Masih memproses kejadian barusan di kepalanya.

"A-aku harus kembali. Kapten bisa memarahiku nanti kalau belum kembali di jam segini", Fang tak tahu harus mengatakan apa lagi.

"Eemmm selamat malam Ying, mimpi yang indah", ucap Fang, mulai melangkah meninggalkan Ying yang masih terpaku di tempatnya

Setidaknya butuh beberapa detik bagi Ying untuk kembali mendapatkan kesadarannya. Ying merasa bahwa hatinya menghangat. Ying menatap ke lorong dan melihat punggung Fang yang semakin jauh dari posisinya sekarang.

"Terima kasih Faaang!" teriak Ying dengan suara tinggi dari depan pintu kamarnya.

"Selamat malam juga Faaang!"

"Dan mimpi indaaah!" Ying mengakhiri teriakannya dengan melambaikan tangan ke arah Fang.

Fang tak berbalik untuk menjawab atau membalas lambaian dari Ying. 'Mungkin ia sudah terlalu jauh sehingga tak bisa mendengarnya lagi'' batin Ying. Padahal teriakan Ying bisa saja membangunkan seluruh penghuni stasiun tapops. Namun, entah bagaimana Fang tidak mendengarnya.

Ying tidak tahu saja, kalau saat ini Fang sedang menyembunyikan wajahnya yang memerah. Tak habis pikir kalau ia memuji gadis itu secara terang-terangan. Fang bahkan bisa membayangkan wajah berseri-seri Ying saat mendengar suara teriakannya yang sangat bersemangat itu. Fang terus merona sepanjang jalan mengira-ngira betapa manisnya wajah Ying saat kembali tersenyum setelah sempat hampir menangis tadinya.

Sial bagi Fang, perasaan menyenangkan sekaligus menggelitik itu tak bisa lama-lama dinikmati olehnya. Kaptennya alias abangnya memarahinya karena teriakan Ying mengganggu istirahatnya setelah menjalankan misi seharian penuh. Saat ini tubuhnya sangat lelah dan baru saja ingin beristirahat, saat tiba tiba mendengar teriakan Ying di ujung lorong. Akibatnya, Fang terkena hukuman menyiapkan sarapan selama seminggu oleh abang tersayangnya itu. Fang sedikit kesal memang, Ying yang berteriak, kenapa malah dia yang dimarahi?

Tapi tak apalah, yang penting Ying sudah kembali ceria dibuatnya. Yah, Ying memang belum menyadari sikap Fang yang sedikit terlalu baik dan perhatian kepadanya, itu karena Fang terlalu gengsi untuk mengakuinya. Fang yakin kalau suatu saat Ying pasti akan menyadari perasaan Fang dengan sendirinya. Lagipula mereka masih memiliki banyak waktu bukan?

Mungkin lain kali...


.

.

.

.

.

.


Hai semuanya! Gimana nih? Fang udah manis belum? Semoga menghibur yah.

Oh iyaa! Ini baru fanfic pertama, sayangnya belum ada ide baru. Teman-teman ada ide?