Note: Karagin Tsunehiko, Karagin Yusho itu milik gw dan Gakuen Basara milik Capcom. Fanfic ini berisi gaje (?) dan clichè Jepang.


Sudut Pandangnya Yusho:

Di siang hari, Aku sedang membaca buku Matematika. Semuanya pada tahu aku pintar sama matematika. Akademi Basara ini... cukup menarik, kah? Aku merasa senang disini. Tidak seperti di masa SD yang begitu suram. Ketika aku berjalan sambil baca buku, aku telah kepleset oleh sesuatu. "Aduh, ada apa ini?"

Sesudah aku berdiri dan aku melihat lantai di sekitar aku. Mataku melebar, ternyata minyak membuat aku jatuh di lantai. Kok bisa ya? Siapa melakukan ini? Aku penasaran deh.

"Yusho." ada suara familiar yang memanggil namaku.

"Sasuke, kamu sedang apa kesini?"

"Ini, aku lagi investigasi klub lain. Soalnya mau mengoleksi informasi tim kita. Kalau mereka tidak melakukan aktivitas klub, nanti bubar."

"Ooh... Begitu kah."

"Ngomong-ngomong, tadi kamu ngapain?" tanya Sasuke. "Tadi aku terjatuh oleh minyak."

"Apa? Minyak?"

"Nih." Aku menunjukkan minyaknya di lantai. Sasuke terkejut. "Kok bisa?!" Aku menggangguk. "Aku rasa ada seseorang yang melakukan kekacauan di akademi ini."

"Tetapi, siapa yang melakukan ini?"

"Tidak tahu. Oh iya, boleh aku ikut sama kamu? Soalnya aku nggak ada ngapain-ngapain."

"Boleh."

"Terima kasih." Aku tersenyum kepada Sasuke. Aku mengikuti dia untuk menginvestigasi aktivitas klub mereka. Aku dan Sasuke menuju ke lapangan, aku terkejut melihat Masamune dan klub member bisbol sedang berkebun sayur-sayuran. Jadi aku ingin sembunyi dengan kekuatan. Aku masih tidak berani mendekatinya. "Etto, Sasuke. Aku ingin sembunyi dulu ya."

"Lah, kenapa?"

"Nanti aku jelaskan." Aku berbisik. Aku menggunakan kekuatan tak kasat untuk sembunyi. Aku harus berhati-hati nih. Sasuke menuju ke perkebunan.

"Hei, semua! Maaf untuk mengganggu."

"Kau mau apa? Sarutobi? Kesini untuk membantu?" Masamune bertanya.

"Kamu becanda. Kami kesini untuk investigasi para tim dan klubnya."

"Kami mengoleksi informasi untuk melihat tim kita akan dibubarkan."

"Dibubarkan?" Masamune bertanya dengan mengerut sebelum menyeringai dan meninju kelapak tangannya. Ini mau ajak berantem atau gimana sih? "Baik, ayolah!"

Keringatnya mengalir di wajahku, Dia memang ganas menurutku. Tetapi Kojuro-dono mau menanganinya.

"Tunggu sebentar, biar Kojuro menanganinya."

"Okay, jangan membuat kacau." Dia langsung berbicara sama Sasuke dengan penting. Masamune sedang melihat langit sambil memikirkan tentang aku. Dasar lelaki sialan... Dia tidak segampang untuk melupakan aku, masih aja suka sama aku. Ugh...

Aku memperhatikan ke Sasuke bertanya Kojuro lalu dia menulis ke catatan kecil. "Iya, tapi bagaimana dengan ini?" Aku dan mereka melihat apa yang Sasuke menunjukkan dan ternyata itu sebuah warung sayur-sayuran.

"Aku yakin itu tidak diizinkan untuk menjalankan bisnis di properti sekolah."

Masamune dan klub member terkejut terus melihat ke Kojuro.

"Kojuro, apa yang terjadi?"

"Itu bukan disitu kemaren. Jika kepala sekolah bakal tahu..."

Mereka melihat ke Masamune.

"Bos!"

"Take it away!"

"Yeah!"

Dia memperintahkan para klub membernya untuk menghancurkan warung sayur-sayuran sebelum ketahuan sama kepala sekolah. Sasuke menulis informasinya ke catatan kecil.

"Ayo, Yusho." Aku menghentikan kekuatan tak kasat lalu menggangguk. "Baik." Sasuke dan aku berjalan di sekolah dan menuju ke lorong.

"Oh iya, Yusho."

"Apa?"

"Kenapa bersembunyi dari Naga Mata Satu? Ada hubungannya ya?"

Mataku melebar dan badanku gemetar lagi lalu berhenti jalan. "Itu... aku kenal dia di masa SD..." aku tertawa dengan waspada.

"Oalah, dari SD, kah? Tapi kenapa kamu harus bersembunyi darinya?"

"Dia... sering diam-diam menatapi aku di seluruh tempat..."

"Hm..." Sasuke mengerti kenapa aku suka menghindar dari Masamune. Dia tersenyum dengan jahil. "Jangan-jangan, Naga Mata Satu suka sama kamu, kan?" Wajahku memerah lalu asapnya tiba-tiba keluar dari kepalaku. "I-itu tepat sekali... Tapi aku nggak suka dia dari awal, Cuma dia duluan suka sama aku."

"Lalu kenapa kamu nggak dekat sama dia?"

"Jika aku mendekati Masamune, aku akan mati."

Keringatnya Sasuke mengalir di wajahnya. "Jadi, kita langsung pergi ke tempatnya Tsuruhime-chan."

"Hm, ide yang bagus."

Sasuke dan aku pergi menuju ke tempat ramalan. Kita masuk ke dalam dan tiba-tiba...

"Jangan bergerak!"

Kita langsung berhenti.

"Ada aura firasat... Bencana berada dalam perjalanan."

"B-b-bencana macam apa ini?!"

"Tidak tahu. Di gambar itu, Ular putih akan mengikat kamu dan mengambil sesuatu yang berharga dari kamu."

Sasuke menelan ludah dan Tsuruhime-dono bilang.

"Dan! waktunya habis!"

"Loh, loh! Tung- Kok habis? Dan apa yang dimaksud, ular putih?" Tsuruhime-dono mendorong dia keluar dari ruang ramalan dan dia mengatakan sesuatu ke dia.

"Maaf ya! Aku sedang sibuk dengan sesuatu! Makanya aku mau ramal! Bye!"

Tsuruhime-dono mengatakan ke dia sebelum dia menggeser pintu untuk tutup.

"Ah! Apa yang dimaksud oleh ular putih? Hei, Tsuruhime-chan!"

Hm... Ular putih akan mengikat kamu dan mengambil sesuatu yang berharga dari kamu? Seperti aku mengerti keadaannya. Kalau nggak salah, di ruang UKS... Jangan-jangan... Akechi Mitsuhide-sensei akan mengikat Sasuke dan mengambil catatan kecil darinya? Waduh, gawat ini. Tapi aku harus tidak boleh mengasih tahu ke Sasuke jika ramalan dari Tsuruhime-dono pasti kejadian. Ekspresiku menjadi ketakutan.

"Sepertinya Tsuruhime-dono adalah seorang peramal di sekolah ini."

"Iya, ini dia. Tapi aku tidak tahu apa yang dimaksud oleh ular putih..."

"Aku penasaran deh apa ramalanku..."

Sasuke langsung menyeringai dan mengatakan sesuatu.

"Jika aku tidak tahu, Aku mau berkata kamu mau tahu masa depan dengan pacarmu."

Aku mencubit lengannya Sasuke, dia langsung kesakitan. Wajahku menjadi cemberut. "Aduh, sakit, sakit, sakit!"

"Dia bukan pacarku... Aku masih nggak berani mendekatinya! Jagalah perkataanmu! Terus, kita mau kemana?"

"Selanjutnya, ke ruang musik."


End of POV


Setelah itu, Sasuke dan Yusho sudah sampai di depan ruang musik. "Kamu tunggu disini, kamu tidak tahu Mori itu seperti apa, Jadi aku yang masuk aja."

"Aku mengerti. Aku akan tunggu di depan." Yusho menggangguk. Sasuke masuk ke ruang musik tanpa buka pintu, dia menggunakan jurus ninja untuk masuk. Lalu Motonari sampai tahu keberadaannya Sasuke sebelum dia melempar kaset CD.

"Siapa di situ?!"

"Lah? Bagaimana bisa tahu?"

"Kau! Kau mau menodai klub kami?"

"Kalau begitu, maaf." Sasuke keluar dari pojokan yang kegelapan lalu dia berdiri dan turun ke lantai.

"Ngomong-ngomong, apa yang kamu mendengar?"

"CD."

"Huh?" Dia melihat dia bingung ketika dia menjelaskan.

"Ini adalah Image Training." Sasuke menulis di buku catatan kecil dan dia mendengar musiknya menjadi aneh lalu Motonari berteriak dengan horror.

"Apa yang terjadi?! Melodi suciku!"

Sasuke mengeluarkan kaset CD dari radio, itu sudah retak dan berasap.

"Ah... Ini sudah gosong." Motonari mendorong dia dan memegang kaset CD yang sudah rusak. "Kenapa karyaku bisa begini?!"

Tiba-tiba, ada suara motor di luar sekolah, Motonari langsung membuka jendela lalu teriak sebelum dia melempar beberapa kaset CD.

"Chosokabe! Ini ulahmu, bukan?!"

"Huh?"

"Woi, sialan! Apa yang kau lakukan?"

"Kau tidak bisa tanya dengan hal yang benar!"

"Apa?" Motochika langsung cemberut, dia menyuruh dia turun.

"Turun kau, Mori!"

"Kaulah yang ke atas!"

"Kaulah yang turun!"

"Ke atas!"

"Turun!"

"Ke atas!"

"Turun!"

"Ke atas!"

"Turun!"

Sasuke langsung keluar dari ruang musik, dia pergi ke ruang penjas bersama Yusho.

END


Investigasi bakalan bersambung. Gila, gw tulis panjang bgt euy :v