"Hiks..."

Seorang gadis kecil meringkuk di pojok ruangan. Dia terisak pelan. Tangan dan kakinya terikat, dia tak bisa berbuat apa-apa.

Seorang pria dengan pakaian serba hitam berdiri di depannya. Sebuah pisau tergenggam di tangannya.

"Maaf, gadis kecil. Kau harus kubunuh," katanya. "Kau sudah melihat wajahku, jadi aku tak bisa membiarkanmu hidup walau mendapat uang tebusan."

"KYAAAA! TIDAAAKK!" teriak gadis itu ketakutan.

"Berteriaklah, tidak akan ada yang mendengarmu," ujar pria itu sambil mengangkat pisaunya. "Selamat tinggal..."

DOK! DOK! DOK!

"Hah?! Siapa itu?!" serunya heran saat mendengar suara gedoran pintu. "Bagaimana bisa dia menemukan tempat ini?!"

BRAK!

Pintu itu mendadak terbuka. Di depan pintu itu berdiri seorang anak laki-laki kecil yang berusia sekitar 14 tahun. Seekor anjing duduk di sampingnya.

"Siapa kau HAH?!" teriak pria itu.

Anak itu lalu tersenyum.

"Namaku Henry Joseph Bell, detektif!"

.

.

.


TRUE IDENTITY: FIRST CASE

Summary: Kasus penculikan anak bangsawan menjadi kasus pertama yang harus ditangani Sherlock Holmes dalam wujud barunya. [Sekuel dari True Identity: Silver Bullet]

Disclaimer: Moriarty The Patriot (c) Takeuchi Ryousuke dan Miyoshi Hikaru. Terinspirasi dari komik Detektif Conan. Tidak mengambil keuntungan apapun dari pembuatan fanfiksi ini.

Warning: kekerasan, Typo(s), OOC akut, dll

SELAMAT MEMBACA!


.

.

.

"Hah..."

John hanya bisa diam saat melihat Sherlock berbaring di kursinya dengan wajah muram.

"Wiggins dan yang lainnya masih belum menemukan orang berbaju hitam itu, bahkan setelah aku ikut bersama mereka..." gumamnya.

Ini sudah hari ketiga sejak John menemukan Sherlock berubah menjadi anak kecil. Tentu saja selama tiga hari itu Sherlock sudah menggunakan segala cara untuk mencari orang berbaju hitam itu.

Salah satu caranya adalah Sherlock menyebar Baker Street Irregulars, anak jalanan yang dia biasa tugaskan untuk mencari informasi. Bahkan di beberapa kesempatan dia turut mencari bersama mereka. Sherlock sendiri yakin dia berbaur dengan baik, hingga Wiggins pun sama sekali tidak menaruh curiga padanya. Masalahnya, orang berbaju hitam itu tidak ditemukan di mana pun, seolah mereka lenyap dari muka Bumi.

Sementara itu, John sendiri kerepotan menghadapi sikap Sherlock yang tetap bersikap seperti orang dewasa walau tubuhnya mengecil menjadi anak-anak.

"John! Biarkan aku merokok dengan tenang!"

"Tapi Kalau Hudson melihatmu merokok dengan wujud itu bisa mati aku!"

John memijat kepalanya sendiri, merasa pusing mengingat kejadian tersebut.

Akhirnya aku terpaksa mengizinkan Sherlock merokok sesekali secara sembunyi-sembunyi...

"Eh?" John melihat ada sebuah kereta kuda berhenti di depan apartemen mereka. Sosok yang sangat mereka kenali keluar dari kereta itu. Itu adalah polisi dari Scotland Yard, Inspektur Lestrade.

John buru-buru berdiri. Dia harus segera memberitahu Lestrade jawaban yang sama yang dia lontarkan kepada para klien yang meminta konsultasi dengan Sherlock. Yaitu Sherlock sedang pergi jadi untuk sementara waktu dia tidak menerima klien.

"Biarkan dia masuk, John," kata Sherlock tiba-tiba.

"Tapi... kalau dia melihatmu–"

"Dia takkan mengenaliku dengan wujud ini," potong Sherlock. "Aku ingin tahu apa tujuan Lestrade kemari."

John akhirnya menurut. Dia akhirnya diam di tempat, hingga akhirnya pintu dengan Lestrade di depannya.

"Selamat siang, John," sapanya. "Di mana Sherlock?"

"Maaf, Lestrade. Sherlock... sedang pergi selama beberapa waktu..."jawab John.

Lestrade menghela napas. "Sayang sekali... hm? Siapa anak ini?"

"Ah, dia Henry J. Bell. Anak sepupu jauhku. Orang tuanya memintaku untuk menjaganya untuk sementara ini," jawab John.

"Paman Lestrade," kata Sherlock–tidak, Henry tiba-tiba. "Kenapa Paman jauh-jauh ke sini hanya untuk mencari Paman Sherlock?"

Lestrade terdiam, lalu mulai menjelaskan. "Sebenarnya... aku ingin meminta tolong padanya. Terjadi sebuah kasus penculikan seorang anak bangsawan. Yang diculik adalah Alice Foster, putri dari Earl Foster..."

Henry mendengarkan penjelasan Lestrade dengan seksama. Hanya John yang menyadari kilat matanya yang berarti dia sangat antusias.

"...berdasarkan kesaksian pelayannya, orang yang menculiknya memakai pakaian serba hitam–"

Henry mendadak berdiri dari kursinya lalu mendekati Lestrade.

"Orang berbaju hitam?! Benar begitu Le–Paman?!" serunya.

"I-iya. Katanya begitu," jawab Lestrade sedikit terkejut. "Tapi sayang sekali Sherlock tidak ada di rumahnya. Aku terpaksa menyelidikinya sendiri–"

"IZINKAN AKU IKUT KE SANA, PAMAN!" teriak Henry tiba-tiba.

"Hei, ini bukan main-main, nak! Ini kasus penculikan tahu!" tolak Lestrade.

John akhirnya turut berdiri, "Lestrade, biar aku yang pergi bersamamu ke sana. Walau aku bukan Sherlock, aku mungkin bisa membantu. Tapi izinkan aku membawa Henry turut serta."

"Hei, John–!"

"Tenang saja," kata John sambil mengelus kepala Henry. "Walau masih kecil, tapi Henry sebenarnya sangat cerdas. Dia pasti akan berguna di sana. Aku akan menjaganya."

Lestrade terdiam, lalu akhirnya mengiyakan.

"Jadi, di mana lokasi penculikannya, Lestrade?"

.

.

.

"Kejadian penculikannya terjadi di sini, tepat di halaman rumah Earl Foster..."

Lestrade membawa Henry dan John ke sebuah rumah besar dengan arsitektur Victoria. Halaman ini cukup luas, tapi tidak banyak tanaman yang ditanam di sini. Hanya semak-semak kecil, beberapa tanaman bunga, dan pohon cemara besar yang terletak di pinggir halaman.

Di depan rumah itu, berdiri seorang pria paruh baya dengan wajah cemas. Di sampingnya berdiri seorang pelayan dengan rambut yang sudah memutih, yang juga menampilkan ekspresi wajah yang sama.

"Inspektur!" seru si pria paruh baya (sepertinya dia adalah Mr. Foster) sambil mendekati mereka. "Apa kau sudah membawa Detektif Holmes kemari?!"

"Sayang sekali Holmes sedang tidak ada di rumahnya," jawab Lestrade. "Tapi aku membawa Tuan Watson, rekan Holmes. Dia mungkin bisa membantu kita."

Mr. Foster lalu menggenggam tangan John erat. "Tuan Watson, kumohon, temukan putriku! Dia cahaya hatiku satu-satunya!"

"Eh, iya, jangan khawatir..." jawab John canggung. Dia lalu berdehem, lalu beralih kepada si pelayan.

"Pelayan, anda saksi mata penculikan ini kan? Bisa anda jelaskan secara detail kejadiannya?"

Pelayan itu dengan tubuh gemetar mulai bercerita. "Nama saya Nick. Waktu itu... saya sedang menemani Alice bermain di halaman ini seperti biasa. Saya hanya mengamatinya dari depan rumah ini, agak jauh darinya. Lalu orang berbaju hitam itu tiba-tiba muncul..."

Mata Sherlock sempat menajam saat mendengar 'orang berbaju hitam' itu disebut.

"...dia langsung membekap Alice sambil menodongkan pisau padanya. Dia lalu menyuruhku untuk mengatakan pada Mr. Foster agar dia meliburkan karyawannya selama 3 bulan kalau ingin Alice selamat. Lalu dia kabur membawa Alice dengan memanjat pohon itu. Begitulah, Tuan..."

"Anda tidak melihat wajahnya?" tanya John lagi.

Pelayan itu menggeleng. "Saya tak melihat wajahnya dengan jelas, Tuan. Apalagi dia sepertinya memakai topeng."

John berpikir sejenak. Dia mencoba memahami cerita Pelayan Nick tersebut.

Aku merasa ada janggal dalam ceritanya. Tapi apa?

John lalu melihat ke arah Henry. Betapa terkejutnya dia saat melihat Henry sudah berjalan mendekati pohon cemara itu. Dia bergegas mendekat ke arahnya.

"Hei, She–Henry–!"

"GUKGUKGUK–!"

"UWAH!" jerit Henry saat tiba-tiba sesosok anjing besar muncul dari bawah pohon itu.

"Hei, kau tidak apa-apa?!" tanya John sambil membantu Henry berdiri.

"Aku tidak apa-apa John, jangan khawatir," ujar Henry.

John lalu merendahkan suaranya. "Jadi Sherlock, kau sudah menemukan petunjuk atau semacamnya?"

"Pelayan itu berbohong," kata Henry tiba-tiba.

"Apa?! Bagaimana kau bisa tahu?!" seru John kaget.

"Dari raut wajahnya saja ketahuan kok. Lagipula kasus ini terlalu aneh. Menculik anak bangsawan di depan rumahnya sendiri tepat di hadapan pelayannya? Pasti penculik itu terlalu berani atau terlalu sembrono. Dan ancamannya terdengar sangat tidak masuk akal. Biasanya penculik meminta uang tebusan, tapi dia malah meminta untuk meliburkan karyawannya."

Henry lalu menatap pohon besar itu. "Dan lagi... aku merasa aneh dengan pohon ini. Kenapa si penculik memilih kabur dengan memanjat pohon ini? Dia kan bisa kabur lewat jalan lain. Dan sejauh yang kulihat tidak ada bekas panjatan di sana."

John pun turut penasaran dengan pohon tersebut. Dia pun mencoba mendekatinya.

"GUKGUKGUK–!"

"WAAA!" jeritnya kaget saat tiba-tiba sesosok anjing kembali muncul di bawah pohon itu.

Mata Henry tiba-tiba melebar saat melihat anjing itu. "John... sepertinya aku tahu pelakunya."

"Benarkah?! Siapa?!" seru John tak percaya.

"Jadi–"

"Tuan Watson, sepertinya anda sejak tadi bicara terus dengan Henry," kata Lestrade tiba-tiba. "Apa yang sebenarnya kalian bicarakan?"

"B-bukan apa-apa..." jawab John asal.

Ini gawat. Aku terlalu banyak terlihat bicara dengan Henry. Kalau Lestrade menyadari kemiripan Henry dengan Sherlock, bisa-bisa...

"Tenang saja, John," kata Henry, seolah dia bisa membaca pikiran John. "Aku tahu caranya bagaimana memberitahu analisisku tanpa membuat Lestrade curiga pada kita."

.

.

.

"GUKGUKGUK–!"

"WAAAAAA! APA INI?!"

"PAMAN LESTRADE, TOLONGGG!"

Lestrade tampak sangat terkejut saat tiba-tiba Henry berlari bersembunyi di balik punggungnya, sementara seekor anjing besar mengejarnya.

"Hei, Henry! Ada apa ini?!" seru Lestrade.

"M-maaf Paman... aku cuma... jalan-jalan di bawah pohon itu, lalu anjing ini muncul dan mengejarku!" jelas Henry ketakutan.

"Ya ampun... Bobby, duduk," perintah Mr. Foster. Anjing itu langsung tampak patuh dan duduk manis.

"Maafkan aku, Tuan. Ini Bobby, anjing penjaga rumah ini. Dia memang galak, tapi dia sangat terlatih," jelasnya.

Henry mulai tenang lalu mulai mengelus kepala anjing itu. "Mr. Foster, dari caranya dia mengejarku, dia selalu galak kepada orang asing ya?"

"Iya... sudah kubilang, dia anjing penjaga yang sangat terlatih. Dia hanya akan menurut pada penghuni rumah ini," jelas Mr. Foster.

"Dan dia selalu berjaga di pohon itu ya?" tanya Henry lagi.

"Betul. Itu teritorinya, jadi dia selalu bersiaga di sana," jelas Mr. Foster.

Henry ber-oh pelan sambil mengelus kepala anjing itu. Walau garang, tapi ekspresinya kepada Henry sudah melunak.

John tiba-tiba mendekati Lestrade dan Mr. Foster.

"Tunggu, Lestrade, kau tidak merasa ada yang aneh?!" serunya. "Kalau memang anjing itu selalu bersiaga di bawah pohon itu, kenapa si penculik bisa kabur lewat pohon itu?!"

Lestrade dan Mr. Foster terperanjat, seolah baru menyadari fakta itu.

"M-mungkin karena penculik itu bersama Nona Alice, jadi anjing itu tidak menganggapnya sebagai ancaman..." jawab Nick si pelayan. Dia tiba-tiba tampak sangat gugup.

"Kalau memang begitu, harusnya anjing itu langsung menyerang si penculik saat melihat majikannya dalam bahaya..." sanggah John.

"Tapi si penculik berhasil menaiki pohon itu dengan aman. Artinya... si penculik itu adalah orang yang sudah dikenal oleh anjing itu!" simpul John pada akhirnya.

"Apa?! Tapi siapa orang di rumah ini yang berani-beraninya melakukan hal itu?!" seru Mr. Foster tak percaya.

"Ngomong-ngomong, Paman Nick aneh ya," kata Henry tiba-tiba. "Paman sendiri yang melihat Alice diculik, tapi kenapa Paman tidak melawan atau mengejarnya?"

Nick pun gelagapan. "I-itu karena Nona Alice ditodong pisau! Saya tidak bisa gegabah menyerangnya! Nona Alice bisa terluka!"

"Oh... begitu. Habisnya di pohon itu tidak ada bekas panjatan sih, jadi kukira karena Paman sengaja mengarang cerita itu supaya semua orang mengira Alice diculik. Satu-satunya saksi matanya cuma Paman Nick kan? Jadi itu bukan hal sulit!" celetuk Henry.

Mr. Foster langsung menarik kerah baju Nick. "Beraninya kau, Nick! Padahal aku sudah bertahun-tahun mempercayaimu, dan kau mengkhianatiku begitu saja!"

"S-saya sama sekali tak bermaksud begitu, Tuan! Lagipula jangan percaya kata-kata anak kecil itu!" seru Nick panik.

"Tidak, Tuan Nick. Perkataan Henry ada benarnya. Anda penghuni rumah ini, dan satu-satunya orang yang melihat kejadian itu. Keduanya masuk akal. Mengakulah," ujar Lestrade.

Lestrade sama sekali tidak menyadari bahwa saat ini John dan Henry saling mengedipkan mata sambil tersenyum.

"M-maafkan saya, Tuan!" seru Nick.

"Sekarang katakan! Di mana Alice-ku?!" teriak Mr. Foster.

"Dia–"

PLETAK!

"ADUH!" jerit Mr. Foster saat tiba-tiba sesuatu dilemparkan ke arahnya. Sebuah batu yang dibungkus kertas.

"Apa ini?" Henry pun mengambil batu terbungkus kertas itu. Henry sempat heran kenapa tali pengikatnya adalah sebuah pita berwarna merah muda.

"Tidak mungkin... itu pita Alice!" seru Mr. Foster histeris.

Henry pun membukanya. Sebuah tulisan tertera di dalamnya.

Putrimu ada padaku. Siapkan 10 juta poundsterling, letakkan di tong sampah di pinggir sungai Thames jika kau ingin dia selamat.

.

.

.

Mr. Foster mencengkram erat kerah baju Nick.

"Ternyata kau memiliki komplotan ya?! Cepat katakan di mana Alice-ku?!" teriaknya.

"Tuan, saya benar-benar tidak tahu soal hal ini!" seru Nick memelas.

"Tapi benar kan kau yang mengarang kalau Alice diculik?!"

"I-iya, Tuan... tapi saya tidak menyangka dia kini benar-benar diculik!"

"JANGAN BOHONG–!"

"Mr. Foster, cukup!" lerai John. "Tidak ada gunanya bertengkar! Sekarang kita harus mencari Alice!"

"Tuan Watson, bukannya Anda sendiri yang bilang Nick pelakunya?!" seru Mr. Foster.

"Iya, tapi saya yakin untuk kali ini Pelayan Nick tidak bersalah! Dia terus bersama kita!" sanggah John.

Sementara keributan itu terjadi, Henry masih terus mengamati surat tersebut yang jatuh ke tanah setelah dibaca oleh Mr. Foster.

Dilihat dari tulisannya yang berantakan, dia sepertinya menulisnya dengan terburu-buru. Kertas ini selain lecek juga agak menguning, ini pasti kertas lama.

Dia melemparnya langsung ke Mr. Foster di depan rumahnya. Pasti tempat penyekapan gadis itu tidak jauh dari sini. Tapi di mana? Apa dekat dengan Sungai Thames?

"Eh?" mata Henry sempat melebar saat baru menyadari ada bekas kehitaman di kertas itu. Dia lalu mengamati pita tadi, yang juga terdapat bekas yang sama.

Dia lalu meraba kertas itu. Bekas kehitaman itu rupanya berbentuk debu hitam kecil-kecil yang langsung Henry sadari sebagai bekas arang.

Kenapa ada arang di surat ini?! Jangan-jangan...

Pikiran Henry buyar saat tiba-tiba ada yang memegang telinganya dan–

"ADUH-ADUH-ADUH–!" jerit Henry kesakitan saat telinganya dijewer dengan kasar oleh Lestrade.

"Dasar Henry! Jangan bermain-main dengan surat itu! Itu barang bukti!" tegurnya.

"Uh..." Henry dengan wajah kesal langsung menyerahkan surat itu pada Lestrade.

Lestrade buru-buru membawa surat itu dan memperlihatkannya pada Mr. Foster dan John. Henry sempat melihat John meliriknya, seolah dia ingin bertanya padanya. Sayangnya Lestrade menahannya.

Aku sudah memperkirakan dengan pasti di mana Alice disekap. Sekarang aku harus memberitahu John–

Henry berhenti sejenak. Dia tiba-tiba teringat alasannya kemari. Yaitu bertemu dengan orang berbaju hitam yang telah mengecilkan tubuhnya.

Tapi mereka berbahaya. Kalau aku memberitahu John, bisa-bisa John terkena bahaya. Untuk kali ini, aku harus pergi sendiri.

Henry lalu melirik Bobby yang ada di dekatnya.

Mungkin aku bisa membawa anjing ini untuk berjaga-jaga. Dia akan berguna.

.

.

.

"Jadi di sini tempatnya?" gumam Henry sambil memandang gudang batu bara di depannya.

Kenapa dia berspekulasi bahwa di sinilah tempat persembunyian si penculik adalah noda hitam di surat itu. Si penculik pasti sering berada di sini untuk bekerja sebagai pengumpul batu bara atau semacamnya.

Lalu Sungai Thames. Banyak kapal di sungai ini yang menggunakan bahan bakar batu bara. Karena si penculik meminta tebusannya ditaruh di pinggir Sungai Thames, maka pasti gudang batu bara yang menjadi markasnya adalah gudang batu bara untuk persediaan kapal di sungai itu. Dan gudang inilah yang lokasinya paling dekat dengan rumah Mr. Foster.

"KYAAAA! TIDAAAKK!"

Tiba-tiba terdengar suara jeritan perempuan dari dalam gudang itu. Bobby yang ada di sampingnya menggeram. Henry langsung tahu teriakan siapa itu.

Henry langsung menggedor pintu gudang itu dengan keras.

Walau tertutup, tapi pintu ini tidak terlalu kuat. Kalau begitu...

BRAK!

Henry lalu menendang pintu itu. Sesuai yang dia duga, tendangannya cukup kuat untuk membuat pintu itu terbuka.

Di dalam gudang itu, dia dapat melihat seorang gadis kecil meringkuk di sudut dengan tangan dan kaki terikat. Di depannya berdiri seorang pria kurus berpakaian serba hitam dengan pisau di genggamannya.

"Siapa kau HAH?!" teriak pria itu.

"Namaku Henry Joseph Bell, detektif!" jawab Henry mantap.

Meski dia menjawab dengan penuh keyakinan, tapi ada sesuatu yang membuat kekecewaan muncul di hatinya.

Pria di depannya bukan orang berbaju hitam yang kucari. Dia hanya orang biasa.

Tapi Henry buru-buru menyingkirkan pikiran itu cepat-cepat. Sekarang dia harus fokus menyelamatkan gadis itu.

Henry langsung menerjang ke depan, lalu melancarkan tendangan ke arahnya. Pria itu berhasil menghindar di serangan pertama.

Henry menggeram kesal, lalu melakukan tendangan kedua. Tendangannya mengenai bagian tubuh pria itu, tapi pria itu langsung mencengkeram pergelangan kakinya.

"Kau pikir tendangan ini mampu mengalahkanku bocah?! HAH!"

Pria itu lalu menarik kaki Henry, lalu langsung membantingnya dengan keras ke lantai.

BRUK!

"Uh..." Henry mengerang kesakitan saat tubuhnya mendarat di lantai. Untung tidak terlalu keras, kalau iya mungkin Henry sudah pingsan.

Henry seketika terbelalak saat melihat pria itu berdiri di depannya dengan sebilah pisau. Dia bersiap menikamnya.

Sial, aku tidak akan bisa menghindar–!

"GUK!"

Bobby si anjing tiba-tiba menerkam pria itu. Pisau itu pun terjatuh ke lantai dan terdorong menjauh. Pertarungan mereka tampak sengit, tapi akhirnya pria itu berhasil menyambar balok kayu dan memukuli moncong Bobby sampai berdarah.

Tapi itu memberi waktu bagi Henry untuk berdiri. Dia kembali menyerang pria itu.

BUAK!

Sayangnya, gerakannya kurang cepat dibanding ayunan balok kayu pria itu. Pukulan itu telak mengenai wajahnya, membuatnya jatuh tersungkur.

"BOCAH KURANG AJAR!"

BUAK! BUAK! BUAK!

Pria itu pun dengan kalap memukulinya dengan balok kayu secara bertubi-tubi. Henry sendiri sama sekali tak bisa melakukan apapun, selain menggunakan tangannya untuk melindungi bagian vitalnya.

Hingga akhirnya pria itu berhenti dengan napas terengah-engah. Henry sendiri kondisinya jauh lebih buruk. Tubuhnya dipenuhi luka memar dan lebam. Bahkan bibirnya sedikit mengeluarkan darah.

Aku... tidak bisa bergerak...

Pandangan Henry mulai kabur. Samar-samar dia melihat pria itu kembali mengambil pisaunya.

"Bocah sialan! Sekarang terima akibatnya karena sudah menggangguku!" serunya.

Apa aku... akan mati seperti ini?

Pria itu meraung, lalu mulai mengayunkan pisau ke arahnya.

DOR!

"AAAAH! LENGANKU! LENGANKU!"

DUAK!

Henry melihat ada seseorang yang langsung memukul pria itu tanpa ampun. Dengan waktu singkat orang itu berhasil melumpuhkannya.

Saat pandangan Henry makin buram, orang itu menghampirinya dan memeriksanya panik.

"...Sherlock! SHERLOCK!"

Suara panggilan nama aslinya membuat Henry berhasil mengumpulkan kesadarannya. Matanya kembali bisa melihat dengan jelas.

"John...?" panggilnya pelan.

John langsung memeluknya erat. "Syukurlah, Sherlock! Aku benar-benar takut saat kau menghilang tadi! Aku kira kau akan mati!"

"John... sakit..." lirih Henry pelan. John buru-buru melepas pelukannya.

"Ya Tuhan! Apa yang terjadi?!"

"ALICE! Kau baik-baik saja?! Kau tidak terluka?!"

"PAPAAAAAAA!"

Dari pintu muncul Inspektur Lestrade dan Mr. Foster dengan wajah cemas. Mr. Foster langsung menghampiri putrinya. Sementara Lestrade langsung memborgol pelaku.

"John... bagaimana kalian bisa ke sini...?" tanya Henry pelan.

"Berkat Bobby," jelas John. "Waktu aku bingung karena kau menghilang, Bobby muncul dengan moncong berdarah di hadapan kami. Dia membawa sepatu Alice, jadi kami segera mengikuti anjing itu kemari."

.

.

.

"Uhh..."

"Henry, jangan banyak bergerak."

John dengan hati-hati merawat luka Henry. Walau hanya berbekal kotak obat darurat yang disediakan Mr. Foster, tapi itu lebih dari cukup untuknya.

"Yak, sudah selesai," ujar John sambil merapikan kotak obat itu. Tubuh Henry kini dipenuhi plester dan perban, terutama di bagian wajah. Untungnya lukanya tidak parah, hanya saja memarnya mungkin akan membekas untuk beberapa hari ke depan.

Sementara itu, Lestrade bersama Mr. Foster tengah menginterogasi si pelaku.

"Jadi kau berkomplot dengan pelayanku untuk menculik Alice HAH?!" seru Mr. Foster murka.

"Hah? Kenapa aku harus berkomplot dengan Pak Tua ini? Aku hanya menculik gadis itu saat dia sedang makan di restoran mewah sendirian!" seru si pelaku.

Mr. Foster lalu beralih ke Nick. "Nick! Sebenarnya apa yang kau rencanakan hah?!"

"T-Tuan... sebenarnya..."

"Papa, hentikan! Paman Nick tidak bersalah!"

Alice tiba-tiba berdiri di antara Mr. Foster dan Nick.

"Alice? Apa yang kau bicarakan?" tanya Mr. Foster tak paham.

"Habisnya... yang merencanakan ini semua adalah Alice!" jawab Alice. "Papa selama ini selalu sibuk dengan bisnis Papa, sampai-sampai Alice kesepian... jadi Alice pikir, kalau Alice diculik, Papa akan kembali menyayangi Alice! Makanya Alice minta tolong Paman Nick untuk melakukan ini!"

Jadi itu alasan kenapa dia meminta untuk meliburkan karyawannya...

Mr. Foster terperangah. Dengan air mata berlinang dia lalu memeluk Alice erat.

"Maafkan Papa, Alice. Papa janji akan meluangkan waktu untukmu..." isaknya. Alice hanya mengangguk dengan mata berkaca-kaca.

Sementara John dan Henry hanya diam melihat drama kecil itu dari jauh. John melihatnya sambil tersenyum kecil.

"Henry, lihatlah. Dia selamat berkat kau," ujar John sambil melihat Henry.

Sayangnya, Henry justru melihat ke arah pelaku dengan wajah muram.

"Lagi-lagi gagal... orang itu bukan orang berbaju hitam yang kucari, John..." lirihnya.

John terdiam. Dia tahu tujuan awal mereka kemari adalah mencari orang berbaju hitam yang membuat tubuh Sherlock mengecil. Tapi ternyata dugaan mereka salah. Pasti itu sangat membuat Sherlock kecewa.

Alice tiba-tiba mendekati mereka berdua. Dia tersenyum kepada Henry, lalu mengecup pipinya.

"Terima kasih ya, Tuan Detektif..." ucapnya lembut.

"E-eeh?! S-sama-sama..." jawab Henry dengan wajah merona.

Rasanya lucu juga melihat wajah Sherlock merona begitu...

John tertawa kecil melihat tingkah Henry yang mendadak salah tingkah.

.

.

.

"Hei, John. Aku bisa jalan sendiri kok."

"Tidak apa-apa, Henry. Kau terluka kan? Kau sebaiknya jangan banyak bergerak dulu."

Henry akhirnya hanya bisa pasrah saat John menggendongnya di punggungnya. Mereka baru saja turun dari kereta kuda setelah kasus tadi. Lestrade mengantar mereka.

"Terima kasih banyak sudah membantuku hari ini, John," ujar Lestrade.

"Ah, tidak... aku hanya membantu sedikit. Lagipula yang pertama menemukan gadis itu Henry kan? Sudah kubilang, dia sangat cerdas!" ujar John.

"Ya... hanya saja aku sempat heran kenapa Alice memanggil Henry sebagai 'Tuan Detektif'..." ujar Lestrade.

Wajah John langsung memucat. Henry buru-buru bicara.

"A-ahahaha... aku... hanya kagum bagaimana Paman John bercerita tentang kemampuan analisis Paman Sherlock, makanya aku... ingin mencoba menjadi detektif!" jawabnya asal.

Lestrade tersenyum. "Kau mungkin memang cerdas, tapi sayangnya kau terlalu meremehkan penjahat, Henry. Kau masih terlalu kecil untuk menghadapi mereka. Kalau saja John tidak datang tepat waktu, kau mungkin sudah tewas. Lain kali bersikaplah lebih hati-hati..."

Lestrade lalu pamit dan kembali menaiki kereta kuda. Kereta kuda itu pun melesat ke jalan dan menghilang dalam gelap.

John dengan Henry di punggungnya pun masuk ke dalam Baker Street 221B.

"John, akhirnya kau pulang–YA TUHAN! APA YANG TERJADI PADA HENRY?!"

Sudah kuduga akan jadi begini...

"Aku hanya jatuh dari tangga karena menginjak kulit pisang, Hudson. Kau tak perlu khawatir," jawab Henry ringan.

"Hah?! Bagaimana bisa separah itu?! Henry, kau seperti anak yang habis dipukuli penjahat tahu!"

Memang begitu kenyataannya...

"Sudahlah, Hudson. Kita bahas ini besok saja ya? Henry butuh istirahat..." ujar John sambil buru-buru menaiki tangga.

"Hei–!"

Mengabaikan omelan Hudson, John langsung masuk ke kamar apartemen dan menutup pintunya. Dia pun menurunkan Henry dari punggungnya.

"Yah, Sherlock, sebaiknya kau segera–"

Kata-kata John berhenti saat menyadari kalau Henry–tidak, Sherlock tampak sangat muram. Seolah ada mendung menggantung di wajahnya.

Sherlock tanpa bicara apapun langsung melangkah pergi ke kamar tidurnya.

"Sherlock, aku tahu kau kecewa karena gagal menemukan orang berbaju hitam itu. Tapi aku yakin kita–"

"John," potong Sherlock. "Bahkan kau menganggapku sebagai anak kecil yang tak berdaya ya?"

"Sherlock–!"

Sherlock langsung membanting pintu, meninggalkan John seorang diri.

John menghela napas frustasi sambil duduk di kursi. Dia baru menyadari apa yang ada di pikiran Sherlock saat ini.

Walaupun fisiknya berubah menjadi anak berumur 14 tahun, tapi dia tetaplah Sherlock Holmes, seorang pria dewasa berumur 24 tahun. Sebagai seorang laki-laki, tentu Sherlock punya harga diri yang tinggi.

Insiden pemukulan dirinya oleh penjahat tadi (sepertinya alasan dia pergi sendiri adalah untuk menghindarkan dirinya dari kemungkinan jahat dari orang berbaju hitam) telah melukai harga dirinya itu. Dan kata-kata Lestrade tadi pasti membuat Sherlock merasa dirinya kini hanyalah anak kecil bodoh yang tak berdaya.

Apa sikapku padanya terkesan seolah aku menganggap dia anak kecil? Padahal aku hanya ingin menjaganya...

"Maafkan aku, Sherlock..."

.

.

.


TBC or The End


Oke... saya sebenarnya punya rencana fic ini jadi berseri, jadi alurnya mungkin bakal gak runtut hehehe /ditabok

Yak, bagi yang udah baca Detective Conan pasti tahu kasus ini. Dan saya memodifikasinya dengan sangat tidak elit ya... hahaha... /ngumpet

Aku ngerasa Sherlock disini rada OOC, tapi semoga kalian menikmati ceritanya!

Apa ada sekuel lagi? Hohoho, kita lihat saja!

REVIEW! REVIEW! REVIEW!

.

.

.

BONUS

"Hei, John! Lagi-lagi kau menyebut-nyebut Sherlock di depan Henry!"

Sherlock dan John yang sedang berdiskusi langsung berhenti saat melihat Hudson menatap mereka tajam.

"Memangnya ada apa? Sherlock dan Henry tidak akur hah?" tanya Hudson curiga.

"Eh... Hudson... kurasa kau salah paham..." ujar John pelan.

"Lalu apa?! Aku curiga! Jangan-jangan Sherlock dan Henry..."

"S-Share location!" teriak John tiba-tiba.

"Haah?!" Hudson berseru heran. "Apa yang kau bicarakan John?!"

"Iya, sebenarnya aku kagum bagaimana Henry 'membagikan lokasi'nya menggunakan anjing pada kasus kemarin! Karena menurutku kata share location terlalu panjang, jadi kusingkat menjadi shareloc! Pengucapannya memang mirip Sherlock ya?! Ahaha!" jawab John sambil tertawa canggung.

Hudson mendelik. "Aku tak paham kasus apa yang kalian bicarakan. Tapi istilahmu itu aneh sekali, John."

"Ahahaha..." John kembali tertawa hambar.

Hudson hanya memutar matanya kesal lalu pergi meninggalkan mereka berdua.

Akhirnya Sherlock bicara dengan nada kesal. "Sherlock jadi share location hah? Konyol sekali."

"J-jangan tersinggung, Sherlock! Aku hanya mengarang agar Hudson tidak curiga pada kita!" ujar John mencari alasan. "L-lagipula istilah itu keren kan?! Siapa tahu di masa depan nanti saat orang bisa memberi tahu lokasinya dengan cepat, istilah 'shareloc' itu akan dipakai!"

"Kau itu bersikap seperti peramal saja, John. Mana mungkin ada orang mau memakai istilah aneh itu," ujar Sherlock.

"Yah, kita tidak tahu apa yang terjadi besok kan?" ujar John. "S-sudahlah! Itu tidak perlu dibahas lagi!"