Disclaimer :
Naruto Masashi Kishimoto
Highscholl DxD Ichie Ishibumi
Summary : Ini adalah sebuah kisah seorang pemuda yang bertugas membuat wilayah yang ia pimpin maju dalam segala hal. Aku tidak akan melakukan kesalahan kedua!
[Let's start]
.
.
.
P.O.V
Sialan...
Apakah kehidupan ini menertawakan ku?
Semasa aku hidup aku selalu menderita dan sekarang aku harus menjalankan kehidupan seseorang di dunia yang gila?
Oke, baiklah tapi kenapa tubuh ini sangat tidak bagus!
Oh ayolah, tubuh gempal dengan timbunan lemak dan juga wajah jelek seperti wajah babi!
Aku harus melakukan sesuatu pada tubuh ini dan lagi dewi itu mengatakan bahwa akan ada hal besar yang akan terjadi cepat atau lambat.
.
.
.
Di sebuah mansion mewah dengan taman yang sangat indah di hiasi banyaknya bunga beragam warna. Di sana ada seorang pemuda berumur tujuh belas tahun sedang melakukan olah raga pagi mulai dari Push up, Scout jump, dan Sit up.
Tak jauh dari tempat pemuda itu ada seorang gadis berambut pirang dengan mata bak permata zamrud sedang menatap pemuda itu dengan wajah serius.
'Sudah seminggu semenjak Naruto-sama sadar dan aku tidak menyangka dengan perubahan yang tiba-tiba ini.' Pikir gadis itu. Gadis itu saat ini hanya mengenakan kemeja putih yang di sandingkan dengan rok panjang berwarna biru.
Gadis itu hanya memandangi pemuda yang ada di depannya yang saat ini sedang menggenggam sebuah pedang kayu untuk latihan. Namun tiba-tiba gadis itu terdiam saat melihat gerakan yang di gunakan oleh tuannya itu. Gerakan yang di gunakan sangat sederhana namun dapat gadis itu lihat bahwa yang menjadi titik serang adalah organ-organ vital seperti, tusukan pada dada yang mengarah pada jantung.
Setelahnya gadis itu hanya berdiri diam dengan sebuah nampan yang tak jauh darinya. Nampan itu terdapat sebuah handuk dan juga minunan dingin untuk, tuannya.
.
.
.
Sudah berapa jam Arthuria melihat tuannya berlatih dan melihatnya berlatih dengan sungguh-sungguh membuat hati kecil Arthuria sangat bahagia. Entah apa yang di alami tuannya dalam keadaan hidup dan mati setelah meminum racun yang sangat berbahaya.
Melihat kedudukan tuannya sebagai anak bungsu dan juga wilayah yang sangat berbahaya pasti membuat siapapun depresi namun mau bagaimanapun Arthuria bersyukur karena setelah melewati masa kritis tuannya bisa berubah.
Wajah Arthuria tiba-tiba berubah menjadi panik saat melihat tuannya berjalan ke arahnya dan mengambil handuknya sendiri.
"Naruto-sama, seharusnya anda tinggal memintaku untuk membawakannya!" ucap Arthuria sedangkan Naruto hanya menanggapi dengan tawa kecil dari mulutnya.
"Kenapa anda malah tertawa, Naruto-sama!" ucap Gadis itu dengan pipi yang menggembung dan membuatnya tampak imut bagi siapapun yang melihatnya.
"Maafkan aku, aku melakukan ini karena aku tidak ingin merepotkan Art-chan saja." Jawab Naruto dan kemudian pemuda itu menghela nafasnya sebelum ia melangkah memasuki mansion tempat ia tinggal.
'Gadis itu adalah Arthuria, dia adalah pengawal yang bertugas memenuhi segala kebutuhanku terkecuali kebutuhan sex.'
'Aku dan dia sebenarnya adalah sahabat sejak kecil dan lucunya kenapa dia mau berteman denganku yang berwujud seperti ini' Naruto sweatdrop saat memikirkannya. Seorang gadis cantik bagaikan malaikat yang berteman dengan seorang gumpalan lemak.
"Silahkan Naruto-sama..." gadis itu memberikan cawan berisi air yang di berikan potongan es.
"Bisa berikan aku air putih biasa?" pinta Naruto dan pemuda itu hanya tersenyum saat melihat wajah Arthuria seakan gadis itu bertanya Kenapa?
"Kau tau saat seseorang melakukan kegiatan yang berat tubuhnya akan merespon dengan mengaktifkan mekanisme metabolisme yang akan membuat tubuh serasa panas namun saat tubuhmu akan terkejut saat terhantam suhu berlawanan. Jantungmu akan memompa darah lebih cepat dan akhirnya kau akan mengalami kematian instan." Ujar Naruto dan Arthuria hanya menatap Naruto dengan pandangan terkejut karena Tuannya menemukan penyebab utama kematian tiba-tiba yang terjadi selama puluhan tahun.
"Kalau kau belum juga paham mari ikuti aku, Art-chan." Pemuda itu hanya tersenyum dengan handuk yang menggantung di lehernya.
Saat ini mereka sudah sampai di dapur dan dihadapan mereka ada sebuah gelas kaca yang sudah terisi dengan air panas dan di sampingnya ada sebuah mangkuk yang di isi dengan batu-batu es.
Naruto langsung saja membuang air panas itu dan mengisi gelas kacanya dengan air bercampur batu-batu es yang membuat gelas kaca itu retak dan pecah.
"Kira-kira seperti itu..." Naruto yang sudah selesai dengan praktiknya hanya bisa sweatdrop saat melihat Arthuria yang terbengong dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Grep...
Namun tiba-tiba Arthuria memegang kedua pundaknya dengan wajah serius membuat Naruto mengeluarkan keringat dingin.
"Naruto-sama jika anda memberitahu kaisar tentang ini mungkin kaisar akan senang dan lagi kita tidak akan kehilangan sesama manusia, kan?" ujar Arthuria sembari mengguncangkan tubuh Naruto membuat pemuda itu sedikit pusing karena sikap Arthuria yang tiba-tiba.
"Sudahlah aku tidak mau melakukan hal yang merepotkan seperti itu kalau kau mau kau bisa menggantikanku dan pergi menemui Kaisar." Ucap Naruto dengan santainya seraya melepaskan tangan Arthuria dari pundaknya dan berjalan ke ruangan miliknya.
.
.
.
Flashback ON
"Jadi aku akan di reinkarnasi?" tanya pemuda itu pada seorang kakek yang sedang duduk di sebuah lantai beralaskan tatami di depannya ada sebuah meja lengkap dengan teko teh dan juga kue mochi.
"Sebenarnya kau tidak di reinkarnasi, kau hanya akan menjalankan tugas di tubuh baru saja mengingat tubuhmu sudah tidak berwujud normal." Jawab santai kakek tua di hadapannya.
"Lalu bagaikan kalau aku menolak?"
"Mudah saja, kau tinggal pilih mau masuk lapisan ke berapa? Lapisan pertama, Limbo? Lapisan kedua, Lust pasti cocok dengamu mengingat setiap kau selesai bertugas kau akan bermain dengan wanita di tempat pelacuran! Atau Alam ketujuh, Violance?" jawab santai kakek di hadapannya itu dan Pemuda itu tidaklah bodoh dan tidak mengetahui maksud dari makna 'Lapisan' yang di maksud.
"sepertinya aku tidak boleh menolak, kan? Hufft... Mau bagaimana lagi aku akan menerimanya." Pasrah!
"Bagus kalau begitu aku berikan satu permintaan! Apa yang kau inginkan? Menjadi yang terkuat di dunia? Kehidupan menjadi abadi?" tanya kakek itu.
"Tidak, aku tidak ingin itu..." jawab pemuda itu dengan santai sebelum senyuman licik tampak di wajahnya. "... Aku ingin semua pengetahuan yang ada!"
"Kau sangat licik, nak!" kakek tua itu berjalan ke arah sebuah pintu dan membukanya, pintu itu sangat sederhana namun setelahnya tubuh pemuda itu menjadi pecahan-pecahan cahaya yang terhisap ke dalam ruang kosong di balik pintu tadi.
"Letnan Uzumaki Naruto, aku ucapkan selamat menikmati kehidupan selanjutnya dan semoga kebahagiaan menyertaimu."
.
.
Di dunia ini ada lima benua dan beberapa pulau. Di antara kelima benua ini ada sebuah benua yang paling kuat yang di pimpin oleh seorang kaisar.
Namun cerita ini berfokus pada seseorang dengan julukan The Useless karena orang itu tidak bisa membawa kemakmuran bagi rakyatnya dan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan meminum racun dari seekor Magical Beast tingkat 7.
Selang satu minggu, orang itu kembali sadar namun pemuda itu tidak utuh. Bukan pada fisik tapi pada ingatannya yang melupakan semua orang. Seakan-akan orang yang sadar ini adalah orang lain.
.
.
.
.
.
"Jadi ada apa lagi Arthuria?" tanya Naruto yang sedang duduk di sebuah kursi kerja yang di depannya ada sebuah meja dengan tumpukan dokumen yang sudah ia baca dan tanda tangani.
"Bagaimana dengan ini?" gadis itu memberikan sebuah kertas yang pastinya dokumen yang harus di tanda tangani.
"Petani di selatan wilayah ini mengalami kemunduran karena jauhnya aliran air dari sungai? Sepertinya menarik tapi masalahnya adalah apa yang di pinta!" pemuda itu hanya memandang datar kertas di hadapannya sedangkan gadis di sampingnya hanya tersenyum kecut.
Keadaan wilayah yang di pimpin Naruto saat ini sedang kekurangan dana dan belum lagi beberapa bangsawan yang tidak bisa di ajak kerja sama. Padahal penguasa wilayah ini adalah Naruto tapi mereka tidak menghormati Naruto sama sekali.
"Hufft... Aku harus pergi sebentar untuk mendinginkan kepala ku jadi jangan cari aku."
.
.
.
Di sebuah hutan seorang pemuda berambut pirang sedang berjalan dengan santai dan melihat-lihat pohon yang ada saat sampai pemuda itu tersenyum saat melihat hamparan pohon yang sangat ia kenal. Pemuda itu adalah Naruto, dia saat ini mencari pohon yang getahnya dapat menjadi bahan baku pembuatan karet.
"Tak kusangka kalau pohon ini ada di dunia lain dengan begini aku akan memajukan wilayah ini dengan lebih baik!" karet pada awalnya bukanlah komoditi utama sebelum di temukannya Ban karet. "Untuk saat ini aku akan mengajarkan orang-orang menyadap getah dari pohon ini dan kemudian membangun sebuah gedung yang dapat mengelola getah dengan baik."
Pada awalnya Naruto ingin membuat sebuah selang agar dapat mengalirkan air namun karena kurangnya pengetahuan orang-orang di dunia ini maka niatnya ia urungkan sementara waktu dan membuat orang-orang menyadap getah dari pohon ini. Dalam waktu sebulan dan paling cepat dua minggu Naruto yakin bahwa dirinya sudah bisa memproduksi produk turunan dari karet dan mengajarkan beberapa orang dalam waktu tiga bulan.
"Saa ayo kita mulai membangun wilayah ini."
.
.
.
TBC
.
.
.
Author Note's
Yo, apa kabar ini adalah kelanjutan dari fic ini.
Di cap ini ada Arthuria yang berperan kaya asistennya si Narutod. Dia nyediain apa aja buat teh manusia walau umur dua pirang ini sama aja.
Ahh... apa kalian ada saran untuk chara yang cocok buat jadi Magic Caster?
Basing kalian mau dari anime apa dan pastinya ceue donk
Arthuria disini selain sebagai asisten dia juga perannya kaya body guard si Naruto tanpa tau kekuatan Naruto.
TERIMA KASIH KEPADA PARA SENPAI YANG SUDAH FAV, FOL, LIKE TERUTAMA UNTUK Alive to Die-senpai. Aku merasa tersanjung saat salah seorang idolaku mampir ke fic milikku.
Fic Curse milik senpai selalu ku tunggu kelanjutannya hehehe.
Ok, Sekiranya itu saja.
Sekali lagi terima kasih pada senpai sekalian yang sudah mendukung saya.
Salam, Gabriela Anastasya
