Shiroyukki Present

...

...

Naruto ©Masashi Kishimoto

HighSchool DxD ©Ichie Ishibumi

Beberapa character yang ada di dalam Fanfiksi ini milik para Author di Jepang dan saya hanya meminjam tanpa ada niatan menjadikan ladang pencarian.

...

...

Summary :

Ini adalah sebuah kisah seorang pemuda yang bertugas membuat wilayah yang ia pimpin maju dalam segala hal. Aku tidak akan melakukan kesalahan kedua!

...

...

#StayAtHome

[Let's start]

...

...

Chapter 4 : House of Duke

Umur, pasti setiap makhluk yang hidup dan juga tumbuh berkembang memiliki umur tak terkecuali juga manusia. Berada di bagian tenggara benua Althera terdapat sebuah kerajaan, kerajaan yang di bagi tiga di bawah kepemimpinan tiga orang Duke yang merupakan keturunan sang raja.

Namun di antara tiga anak yang mendapatkan wilayah masing-maskng, ada seorang anak yang di anggap 'Tidak berguna' mengurus wilayahnya. Pajak yang besar namun fasilitas publik yang tidak memadai, Keamanan yang kurang, belum lagi kurangnya penjaga di bagian perbatasan benua iblis membuat penyerangan monster di bagian desa dekat perbatasan semakin gencar dan akhirnya Exodus besar-besaran terjadi, membuat sekitar 80% rakyatnya pindah ke negara dan kerajaan lain. Hingga pada akhirnya, Duke itu memutuskan mengakhiri hidupnya dengan meminum racun.

'Namaku adalah Uzumaki Naruto. Di kehidupan sebelumnya aku adalah seorang Letnan yang meninggal dalam latihan terjun bebas dan sekarang aku adalah Namikaze Naruto, seorang pemuda dengan wajah seperti babi dan juga tubuh yang penuh dengan lemak. Ini adalah ceritaku untuk melanjutkan warisan Namikaze-san sebagai seorang pemimpin yang tidak berguna.'

'Banyak sekali masalah yang harus aku emban untuk memajukan wilayah ini. Bandit yang ada disini pasti bergerak di sekitar pegunungan dan juga hutan karena kurangnya personil tentara untuk melakukan patroli ataupun membuat pos keamanan. Lalu, Perbatasan yang di serang oleh para monster dari wilayah iblis pasti karena tidak adanya benteng yang menjadi basis pertahanan para prajurit dan juga tentang bangsawan korup, itu pasti karena 'Namikaze Naruto' ini tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang pengolahan wilayah.'

'Tekanan ini dan juga atmosfer ini, aku menyukainya. Semakin aku di tantang, aku semakin menyukainya. Maka dari itu mari kita selesaikan masalah ini karena aku adalah Uzumaki Naruto, Seorang Letnan dari Dunia yang berbeda! Akan ku tunjukkan kehebatan anak dari Colonel Uzumaki Kushina!'

"Ahhh... Akhirnya selesai." Ucapku. Aku saat ini sedang berada di dalam kamar, tepatnya berada di depan sebuah meja yang ku gunakan untuk melanjutkan catatan harian dari Namikaze-san. Beberapa hari yang lalu, aku menemukan catatan ini dan hasilnya jiwaku sebagai orang pinggiran bergejolak. Hidup bagaikan sampah? Konyol! Jika membandingkan dengan kehidupanku yang dulu, Penderitaan yang dialami Namikaze-san tidak ada apa-apanya.

Aku adalah seorang Yatim piatu yang di tinggal mati kedua orangtuaku karena perang. Aku selalu mengais sampah hanya untuk menyambung hidup, Tidur beralaskan pasir di temani hamparan bintang di gurun tak bernama dengan angin malam yang membelaiku dalam mimpi. Tentunya berbeda dengan pemilik tubuh ini, kan? Maksudku, dia memiliki pelayan, memimpin sebuah wilayah yang tentunya memiliki pemasukan, makan apapun yang ia inginkan sampai tubuhnya seperti babi. Aku tidak bisa memikirkan apapun itu. Namun, Aku mengerti dan juga paham akan penderitaan yang 'Dia' alami karena seperti kata temanku...

Kau tidak akan mengerti penderitaan seseorang sebelum kau merasakan penderitaan dalam hidupmu juga.

Mengingatnya saja membuatku serasa bernostalgia tapi sudahlah, sekarang dirinya sudah tenang di alam sana.

Tok... Tok... Tok...

"Naruto-sama, Apakah anda ada di dalam?"

Aku menolehkan wajahku dan menatap pintu masuk saat mendengar suara ketukan. Aku tau jika ini adalah jadwalku untuk sarapan pagi namun bukannya ini terlalu cepat?. Tanpa pikir panjang aku segera mengambil sebuah jubah yang menutupi seluruh tubuhnya tubuhku, Jubah ini adalah jubah kebesaran yang menunjukkan kalau aku adalah seorang Duke. Berjalan mendekati pintu dan kemudian membukanya hingga membuat seseorang terkejut.

"Ayo kita mulai hari yang cerah ini dengan pekerjaan yang menumpuk, Arthuria."

"Tapi, bukankah harusnya anda sarapan terlebih dahulu?"

Aku hanya tersenyum menanggapi pertanyaan temanku ini. Sebagai penambah, Aku sebagai tentara terkadang tidak memiliki waktu hanya untuk makan di medan perang terlebih siapa yang bisa makan dengan tenang dengan peluru yang berterbangan mengincar kepala mu?. Aku berjalan menghiraukan Arthuria yang menatapku dengan heran hingga membuat diriku tersenyum karena melihat ekspresi polosnya.

...

...

Di sebuah ruangan terlihat dua orang berbeda gender sedang sibuk dengan tumpukan kertas. Kedua manusia itu saling membantu namun melihatnya seakan membuat semua orang iri, pasalnya si Pria memiliki penampakan seperti Babi guling sedangkan si Wanita mempunyai penampakan bak malaikat.

"Naruto-sama, Ada sebuah kertas laporan dari Baron Gordain di selatan." Naruto yang sedang duduk membaca laporan-laporan dihadapannya teralihkan saat Arthuria menyodorkan secarik kertas yang berisi beberapa catatan. Melihat itu, Naruto membacanya dengan sesama dan juga kemudian pemuda itu mengeraskan rahangnya.

'Laporan konyol macam apa ini?' Wajah Naruto memuat dengan beberapa keringat muncul di keningnya. Dalam laporan itu terdapat beberapa kesalahan dan juga Naruto yakin kalau terdapat beberapa bangsawan korup di sekitar wilayahnya.

'Pantas saja wilayah ini kurang memadai entah itu untuk infrastruktur ataupun beberapa faktor penting lainnya. Setidaknya untuk membuat wilayah ini maju aku harus membasmi 'Hama' yang berkeliaran di wilayah ini. Pertama akan ku mulai dari menghapus beberapa bangsawan dan membuat Opini publik agar orang-orang kembali mempercayaiku. Hufft... Babi sialan! Namikaze Naruto! Kau membuatku mengurus semua ini. Baiklah, kesampingkan masalah ini dulu, Aku harus mencari beberapa penyelesaian untuk rakyatku.'

Dengan begitu, Naruto mulai fokus dengan pekerjaannya. Arthuria siap membantu dan juga beberapa Maid yang tanpa di perintahkan membawa beberapa camilan dan juga teh untuk tuan muda mereka. Semua orang di kediaman itu sedang berbahagia melihat perubahan yang terjadi pada diri tuan mereka karena mereka sudah tidak melihat semangat tuannya semenjak kematian tuan putri Earl Uzumaki, Uzumaki Kushina.

Dan sekarang saatnya makan siang, Naruto tetap melanjutkan pekerjaannya hingga membuat para Maid yang bertugas membawakan makanan ke ruang kerja 'Tuan muda' mereka. Dihadapan Naruto saat ini tersaji sebuah roti, dua buah daging yang saling bertumpuk dan juga salad yang tersaji di dalam mangkuk dari kayu.

'Bagaimana caraku makan? Aku tidak terbiasa dengan semua tata cara makan ala bangsawan!' Naruto berteriak keras dalam hatinya dan membuat Arthuria dan juga Maid yang membawa makanan tersebut menatap Naruto dengan wajah takut.

Prank...

"Sialan! Makanan macam apa ini!"

'Sialan! Ingatan dari Namikaze Naruto memasuki kepalaku, Dasar bedebah! Namun sekarang aku adalah Namikaze Naruto dan aku harus mengemban dosa yang sudah ia buat.' Pikirnya, Beberapa hari ini pecahan demi pecahan ingatan Namikaze Naruto mulai terbuka dan karena hal tersebut membuat 'Mantan Letnan' ini murka.

Sret...

Naruto bangkit dari duduknya dan kemudian berjalan ke arah Maid tersebut lalu salah satu tangannya terangkat dan membuat Maid tersebut menutup matanya. Maid tersebut takut jika apa yang dihidangkan tidak sesuai dengan kemauan tuannya namun bukannya tamparan ataupun perlakuan kasar yang diterima melainkan sebuah dekapan hangat dari pemuda gempal itu.

"Maafkan aku, Touwa. Aku sudah salah selama ini dan selalu menyakitimu dan maukah kau memberikanku kesempatan kedua?" Bahu gadis itu bergetar dan dapat Naruto rasakan kalau perutnya saat ini basah karena air mata.

"Hikss.. Ji Jika, Tuan Muda mau berubah maka saya akan memaafkan Tuan muda dan kumohon tuanku, buatlah wilayah kita maju tanpa adanya rakyat yang tertindas."

Puk...

"Tentu saja, Aku akan membantu rakyat kita karena aku, Namikaze Naruto! Tidak akan pernah menarik kata-kataku." Mendengar ucapan Naruto, Touwa hanya menangis dan sedikit menikmati belaian pada kepalanya.

Inilah Tuan muda yang ia cintai sejak sepuluh tahun yang lalu, Dirinya ingin membantu tuannya saat Sang ibu meninggal karena sakit dan membuat tuannya depresi. Setelah itu, Beberapa tindakan tidak berguna Tuannya lakukan mengadakan pesta tidak berguna, memperlakukan pelayannya layaknya budak dan hampir memperkosa Arthuria namun mereka semua tidak menyerah dan selalu berharap jika tuan mereka berubah.

"Dan Arthuria, Aku minta maaf jika saat itu aku hampir memperkosa mu. Aku tidak bisa berfikir saat itu dan aku juga tidak berfikir kalau ibuku juga seorang wanita sama sepertimu. Jadi, Maukah kau memaafkan diriku?" Arthuria terkejut atas tindakan Naruto. Bukan karena permitaan maafnya melainkan pemuda itu menundukkan kepalanya membuat Arthuria berlari ke arahnya dan mengangkat bahu Tuannya agar kembali tegap.

"Aku selalu memaafkan tindakanmu, Naruto-sama. Aku selalu mengerti tentangmu, Aku mengerti penderitaanmu, dan aku juga mengerti rasa sakitmu. Ini terdengar lancang namun sebagai syarat untuk memaafkanmu kami semua, orang yang bekerja di Kediaman anda hanya menginginkan Anda untuk memajukan wilayah ini. Apa anda mau Naruto-sama?"

"Heh... Asal kau tau Arthuria, Semakin diriku di tantang maka aku semakin senang. Lihat saja dalam satu bulan, aku akan memberikan apa yang kalian mau! Tapi sebelum itu, Aku akan memakan makan siangku dulu." Ujarnya.

Kemudian Naruto berjalan ke arah meja kerjanya yang terdapat nampan berisi makanan di atasnya. Naruto mengambil sebuah Roti lalu membelahnya menjadi dua dan menaruh Daging, Sayuran yang terdiri dari sayuran hijau dan juga beberapa Tomat.

"Siap dimakan." Ujarnya dan kemudian menggigit roti lapis itu dan memakannya. Tak jauh dari Naruto yang menikmati makan siangnya ada Arthuria dan juga Touwa yang menatap Naruto dengan wajah heran.

"Naruto-sama, Maafkan aku tapi apa yang sedang Naruto-sama makan?" Seorang gadis berambut biru bertanya pada Naruto, Gadis itu adalah Touwa dan karenanya Arthuria juga antusias menunggu jawaban Naruto.

'Jika aku menjawab ini adalah Sandwich maka akan menimbulkankan masalah, kan?' Pikir Naruto.

"Entahlah, Aku membuatnya tanpa sadar tapi karena isinya berlapis-lapis aku menamakannya Roti Lapis. Seperti namanya Roti ini memiliki isi berlapis-lapis dalam hal ini hanya berisi sayuran dan juga daging, Makanan ini sepertinya cocok untuk orang-orang yang sedang banyak pekerjaan sebagai contoh Petani karena cepat disiapkan. Makanan ini juga cocok untuk sarapan karena orang-orang mengejar waktu untuk pergi bekerja. Oh iya, Touwa kemarilah... Aku akan mengajarkanmu untuk membuatnya dan mulai besok sajikan Roti lapis untuk saran pada semua orang yang ada di kediaman ini." Dan begitulah, Naruto mengajarkan Touwa untuk membuat Roti lapis yang Arthuria dan Touwa tau adalah kreasi makanan yang Naruto buat. Melihat kedua perempuan itu memakannya membuat Naruto tersenyum belum lagi ternyata Arthuria memiliki nafsu makan yang sangat besar membuatnya bertanya-tanya tentang tubuh indah yang gadis itu miliki.

Naruto saat ini kembali mengerjakan tugasnya sebagai pemimpin wilayah dan Arthuria membantunya merapihkan berkas-berkas yang sudah di selesaikan dan yang Naruto tunda. Meletakkan kertas di tangannya lalu sedikit meminum teh yang ada di depannya sekedar merilekskan pikiran.

"Hmmm... Arthuria, Bagaimana dengan proyek yang ku perintahkan kau untuk mengerjakannya kemarin?" Mendengar ucapan Naruto, Arthuria meletakkan kertas-kertas di meja dan muali berbicara.

"Pekerjaan yang anda berikan pada saya sudah saya laksanakan. Sesuai dengan perintah anda, Saya sudah memberikan perintah kepada 50 warga sipil untuk mulai mengumpulkan cairan kental dari pohon swarda, semua pohon sudah di lukai dan total pohon yang sudah di lukai hampir menyentuh seribu pohon. Dengan tawaran berupa 5 koin emas untuk 1 bulan pengerjaan tidak membutuhkan waktu lama mengumpulkan pekerja. Tapi Naruto-sama, Aku tidak paham cairan itu akan anda gunakan untuk apa."

"Cairan pohon itu akan mengental dan kemudian dengan beberapa pengolahan akan kubuat menjadi sebuah alat yang dapat menyalurkan air bahkan dari tempat yang jauh. Kerjakan saja dan awasi para pekerja selama sebulan ini, walaupun bau aku akan menggunakan rumah warga yang di tinggalkan untuk menyimpan cairan tersebut. Paham?" Paham dengan apa yang dimaksud, Arthuria hanya menganggukkan kepalanya dan melanjutkan pekerjaan.

...

...

Hari menjelang sore dan di sebuah lapangan, Naruto sedang berlari dengan keringat yang membanjiri pakaiannya. Terlihat pula, Nafas pemuda itu terengah-engah.

'Sialan, Tak kusangka jika memiliki tubuh seperti ini akan membuatku tersiksa.'

Beberapa ujaran kebencian dan juga perkataan yang tidak seharusnya Naruto keluarkan keluar dari mulut pemuda itu, mungkin itu adalah sifat bawaan dari kehidupan sebelumnya yang terbawa kemari. Walaupun dirinya adalah seorang perwira menengah di kemiliteran dan juga sanggup berlari puluhan kilometer namun sekarang berbeda, Dirinya tidak pernah menyangka jika mendiami tubuh seperti ini.

Setelah hampir satu jam, tubuh pemuda itu terjatuh keringat yang membanjiri semua pakaian yang ia kenakan. Terdiam memandangi langit dan kemudian seseorang datang dengan sebuah nampan yang ia bawa. Dalam pandangan Naruto, seorang gadis berambut biru yang membawakan handuk dan juga segelas air biasa.

"Ahh... Terima kasih, Touwa." Ujar Naruto seraya mengambil air dan juga handuk guna mengelap keringatnya. "Ah, Touwa untuk makan malam nanti, bisa kau carikan aku sayur-sayuran yang memiliki rasa pahit? Jangan kau masak hanya perlu kau cuci bersih dengan air saja sudah cukup." Setelahnya Touwa pergi dengan terburu-buru membawa nampan menuju bagian dapur mansion dan tentunya membuat Naruto sweatdrop.

"Erio Touwa, Gadis yatim piatu yang anda pungut dari jalanan saat Nyonya besar masih hidup." Mendengar seseorang berbicara Naruto sontak menolehkan kepalanya dan dapat ia lihat jika Arthuria sedang menatap kepergian Touwa.

"Ahh... Naruto-sama, Aku ingin memberi tahu jika aku sudah memberikan surat yang anda tujukan pada beberapa bangsawan di wilayah kita. Baron Goradin, Baron Yama, Ketiga Marquess utama, Earl Uchiha dan juga Earl Uzumaki, lalu Viscount Alucard bersedia bertemu dengan anda esok lusa. Lalu, untuk Sang The Old Man From The Mountain meminta anda untuk menemuinya. Sebelumnya saya ingin mengingatkan jika itu belum semua karena ada 7 Baron, 6 Count, 4 Viscount yang tidak menanggapi panggilan anda." Ujar gadis itu.

"Aku sudah menduga jika dirinya tidak akan hadir..." Pemuda itu lalu menghela nafasnya dan kemudian bangkit dari posisi duduknya. "... Yah, Mau bagaimanapun sebagai yang muda aku harus menemui dirinya jadi aku harus menghormati keputusannya. Tapi Arthuria, Kirim ulang undangan tersebut dan kirim ancaman jika mereka tidak datang maka Aku sebagai Duke akan menangkap mereka dengan semua wewenang yang aku miliki." Lanjutnya seraya berjalan ke arah susunan senjata. Tangan pemuda itu terangkat dan menggapai sebuah tombak, Walaupun di kehidupan sebelumnya Naruto tidak memiliki waktu untuk berlatih menggunakan tombak namun bukan berarti ia tidak bisa menggunakannya, belum lagi dengan ingatan 'Namikaze Naruto' yang sudah selesai ia terima.

Swush... Jleb... Jleb... Tuk...

Dengan terampil ia mengayunkan tombaknya lalu sedikit memutarnya dan menusuk arah depan dan berakhir dengan memukulkan ekor tombol pada tanah.

"Hei Arthuria, bisa kau temani aku latihan?" Tanya Naruto sedangkan Arthuria hanya tersenyum lalu mulai membuka roknya dan menunjukkan celana panjang berwarna hitam, berjalan sejenak lalu mulai mengambil sebuah pedang di susunan senjata itu.

"Arthuria Pendragon, Magic Swordman menyetujui permintaan anda untuk latih tanding wahai tuanku." Mendengarnya Naruto hanya tersenyum melihat sikap ksatria yang Arthuria tunjukkan di hadapannya. Melihat Arthuria yang bersiap, Narutopun mulai bersiap dengan kaki kanan yang sedikit maju dan mengarahkan mata tombak ke arah Arthuria.

Swush...

Suasana sekitarnya tiba-tiba menjadi hening namun kemudian Arthuria dan Naruto melesat maju menuju lawan masing-masing. Arthuria yang menggunakan pedang sedikit tertekan karena jarak serang pedang sangatlah pendek tidak seperti tombak.

Trank... Trank... Trank...

Benturan, Tebasan, Tusukan keduanya lakukan guna membuat masing-masing lawan mundur. Walaupun ini hanyalah sebuah latihan terlihat Arthuria dan Naruto tengah tersenyum saling menikmati pertarungan mereka.

"Tak kusangka, Anda memiliki peningkatan yang begitu tajam Naruto-sama."

"Heh? Begitukah? Tidak juga, Kau tidak mengeluarkan semua kemampuanmu, kan? Tapi terima kasih, Wahai temanku. Mari kita akhir pertarungan ini, Aku ingin segera makan malam dan tidur untuk pertemuan besok pagi." Keduanya saling tertawa kemudian bersama memasuki mansion.

...

...

Gelap? Bukankah sebelum aku tidur api penerangan belum aku matikan.

"Selamat datang, Kau yang menempati tubuhku."

Suara? Siapa? Hey, Kau siapa? Kau bukan hantu kan? Ayolah, Aku takut jika kau adalah hantu jika manusia aku berani melawanmu bahkan sepuluh orang lebih pun aku tidak gentar!

"Aku ada di belakangmu."

Ahh... Sial. Aku memutar tubuhku dan dapat ku lihat seorang pemuda berambut kuning sedang tersenyum kepadaku. Ah... Rupanya kau, Namikaze Sialan!

"Maafkan aku, Uzumaki-san. Tapi Terima kasih karena sudah membuat semua penghuni Mansionku memaafkan diriku, Sekarang aku bisa pergi dengan tenang. Tapi sebelumnya, Aku harus memberitahumu tentang diriku. Siap?"

Yah, Mau tak mau aku harus siap kan? Jadi apa yang mau kau katakan?

"Sebelumnya aku mau memberitahu jika didunia ini ada sesuatu yang bernama sihir dan tentunya itu berbeda dengan dunia asalmu. Aku adalah Namikaze Naruto, Aku adalah penyihir peringkat Emas tingkat 6 dan aku juga tidak terlalu perduli dengan senjata jadi sedikit aneh jika aku menggunakan senjata dalam sebuah pertarungan tapi itu terserah kepadamu karena kau yang mengendalikan tubuh itu."

"Lalu, Ada suatu entitas yang tersegel di dalam tubuh mu. Salah satu dari makhluk paling mengerikan di dalam duniaku, Sang Raja dari segala Raja, Regulus. Regulus tersegel di dalam tubuhku namun aku belum bisa mengendalikan kekuatannya bahkan melakukan kontak dengannya saja belum pernah, Hah... Aku sangat Frustrasi."

"Lalu yang terakhir, Kumohon lindungilah Rakyatku!"

Yah, Aku tau pada saatnya aku akan bertemu dengan pemilik tubuh babi itu tapi bukankah ini terlalu cepat? Hei, jangan tertawa!

Aku sekarang menggunakan tubuhmu untuk tetap hidup dan sebagai ucapan terima kasih aku akan membuat reputasimu sebagai seorang 'Duke' membaik. Mau bagaimanapun, Dosa yang sudah kau lakukan sekarang aku yang mengembannya dan sebagai bayarannya bolehkah aku memukul mu? Sekali saja!

Buagh...

"Sialan! Tak kusangka jika kau memukulku tapi sudahlah, Terima kasih atas bantuanmu. Aku permisi."

Hah? Hanya itu? Hufft... Terserahlah, Do'a kan aku dan sampaikan salam ku untuk Dewa itu.

...

...

Hari telah berganti dan seharian Naruto berdiam diri di dalam ruang kerjanya tanpa seorangpun yang menemani karena dirinya memberikan Arthuria tugas untuk mengawasi proyek yang ia kerjakan. Berada di ruang kerja ditemani beberapa berkas yang sudah berdebu dan karenanya ia hanya mengoceh saat melihat laporan keuangan di dalam arsip itu. Dan untuk hari ini, Dirinya sudah memutuskan untuk menyelesaikan dan juga mencari kecacatan pada laporan dari bangsawan di wilayahnya.

Rencananya saat ini hanyalah mencari kecacatan dalam laporan yang diterima dan menjadikannya bukti guna menangkap bangsawan korup itu. Pertemuan yang di rencanakan semata-mata hanyalah pancingan yang dirinya letakkan dengan sengaja dan dengan beberapa manipulasi dan juga umpan yang tepat, maka kepercayaan rakyat dapat kembali kepadanya.

"Cacat! Laporan konyol macam apa ini? Menurutku dengan dana sebanyak 5000 keping emas seharusnya lebih dari cukup untuk membuat sebuah jalur aman untuk para perdangan untuk mencapai tempat ini namun..." Pemuda itu terdiam dan memilih memijat pangkal hidungnya untuk merilekskan pikirannya. Senyum masam ia keluarkan saat melihat isi laporan-laporan yang menurutnya menggelikan, belum lagi laporan itu sudah menggunung dan beberapa sudah hampir rusak karena ini merupakan tahun ke lima semenjak kepemimpinan seorang 'Namikaze Naruto' sebagai seorang Duke muda.

Pandangannya teralihkan pada sisi kanan dan dapat ia lihat gunung kedua dari laporan bangsawan, sedikit menghela nafas dan kemudian ia berbicara dengan lesu "... Astaga, banyak sekali yang harus ku kerjakan hari ini." Dan iapun melanjutkan membaca semua laporan di hadapannya selama seharian. Terkadang Touwa membawakan teh ataupun camilan manis untuk menemani dirinya selama seharian ini dan hasilnya ialah kantung mata yang berada di bawah matanya karena selama semalaman ia menulis kecacatan itu dalam sebuah buku kecil.

Ini adalah harinya, hari dimana dirinya akan merubah pandangan rakyat terhadap seorang 'Namikaze Naruto'. Di dalam ruangan itu, terdapat 25 orang yang memiliki jabatan tersendiri dan juga berada dalam wilayah kekuasaannya. Sebenarnya seorang Duke memiliki wilayah kekuasaannya masing-masing dan tidak menduduki bangsawan lain di dalam wilayah namun kerajaan ini adalah pengecualian, karena perintah raja mereka adalah Mutlak.

9 orang Baron, 6 Count, 5 Viscount, 3 Marquess, 2 Earl yang duduk menghadap sebuah meja panjang dengan Naruto sebagai tuan rumah. Mereka semua menatap Naruto dengan wajah segan kecuali satu orang yang sedang mabuk dengan sebuah botol anggur di tangannya.

"Baiklah, Disini aku hanya ingin..."

BRAK...

"APA-APAAN INI, HAH? Naruto-sama, Ayo kita minum-minum dan jangan bertindak BODOH SEPERTI INI!"

"Hmm... Apa itu Alkohol?" Tanya Naruto dengan sebuah tangan yang menjerit dagunya. Wajah Naruto seakan menimbang-bimbang akan ajakan orang tersebut. Tanpa diketahui semua orang, Arthuria sudah mengepalkan tangannya dan menahan emosinya sendiri.

"Ya, ada banyak sekali alkohol untuk anda nikmati dan juga aku akan memanggil wanita dari pelacuran dan tentunya dengan tubuh yang siap anda nikmati."

'Orang ini! Setiap kali ada pertemuan dia selalu menggoda Naruto-sama dan membuat Naruto-sama menjadi malas!'

"Baron Yama, Apa kau sudah gila?" Wajah Naruto terlihat sedikit mengelap karena orang di depannya termasuk kedalam daftar hitam di tangannya.

"HAH? APA ANDA SUDAH GIL..."

Swush... Prank...

Sebelum orang itu menyelesaikan ucapannya, Sesuatu meluncur dan menghancurkan botol kaca yang ia pegang membuat anggur di dalamnya mengitori lantai.

"Untuk yang selanjutnya, Aku pastikan akan melubangi kepala mu..." Ucap Naruto, Kemudian pemuda itu berdiri dari duduknya dan membuka sebuah buku. "...Baron Yama, Pertama aku adalah pemimpin tertinggi di wilayah ini. Kedua, Anda sudah bertindak tidak sopan dihadapan pangeran dan yang ketiga, Kau adalah salah satu alasan kenapa wilayah ini tidak berjalan semestinya." Kata-kata yang di keluarkan pemuda itu cukup untuk membuat orang itu terdiam. Semua orang tau walaupun Naruto adalah orang yang tidak kompeten dalam hal mengurus wilayah namun dalam hal sihir Naruto adalah orang yang lumayan hebat, seorang penyihir tingkat Emas yang terbilang jenius untuk pemuda berumur 17 tahun.

Krieet...

Pintu ruangan itu terbuka dan derap langkah lempengan besi memasuki ruangan itu, Pasukan infantri yang sengaja Naruto siapkan untuk menangkap orang-orang yang sudah ia anggap sebagai Hama di wilayahnya.

"Baron Yama, Baron Yaqrieq, Count Lumine, Count Borguird, Viscount serfri, dan 5 orang di daftar ini adalah orang-orang yang membuat wilayah ini terhambat dalam pengembangannya. Tangkap mereka semua dan lakukan eksekusi publik besok. Bawa mereka ke penjara, dan tangkap semua anggota keluarganya kecuali anak-anak di bawah umur 3 tahun dan seorang bayi." Mendengar titah Naruto, Semua tentara itu menangkap para bangsawan yang ada dalam daftar hitam. Sebelumnya Naruto sudah menyerahkan nama-nama target pada kepala penjaga yang merupakan sahabat Naruto sejak kecil dan karenanya mereka dapat bertindak cepat.

"Semua sudah di tangap, Naruto-sama!" Suara itu adalah suara yang keluar dari mulut seorang pemuda yang seumuran dengan Naruto. Rambut hitamnya sedikit acak-acakan namun tetap menampilkan wajah tampannya dan sebuah pedang tergantung di pinggang pemuda itu.

"Terima kasih atas kerja kerasmu, Ikki. Singkirkan semua hama itu dari hadapanku..." Melihat Ikki mulai pergi bersama dengan pasukannya, Naruto mulai duduk di kurisnya. "Baiklah, mari kita lanjutkan pertemuan ini tapi sebelumnya..."

Duk...

Semua orang di ruangan itu terdiam melihat tingkah laku tuan mereka. Tuan mereka, Namikaze Naruto, sedang menundukkan kepalanya dan sedikit membentur meja "... Aku ingin minta maaf kepada kalian semua karena sudah menjadi tuan yang sangat merepotkan. Aku tau bahwa diriku tidaklah pantas untuk memimpin kalian semua tapi kumohon ulurkan tangan kalian dan tuntunlah diriku demi wilayah ini, Jika aku salah marahlah dan tunjukkan apa kesalahanku dan jika aku benar kumohon jangan memujiku. Ini semua ku lakukan semata-mata hanya untuk wilayah ini."

Semua orang terdiam dan kemudian suara tepuk tangan menggema di seluruh ruangan itu. Beberapa orang tertawa melihat wajah Naruto yang seakan-akan bertanya tentang apa yang terjadi dan beberapa hanya tersenyum melihat tuan mereka.

"Tuanku, Seorang pemimpin akan selalu berdiri di depan namun seorang pemimpin tidak layak disebut pemimpin jika tidak memiliki orang-orang yang mempercayainya. Kami memiliki mimpi untuk memajukan wilayah ini, dan kami juga akan selalu mendukung anda sesuai apa yang anda inginkan." Orang itu hanya tersenyum manis melihat Naruto, Dia adalah seorang pemburu iblis yang diberikan kekuasaan karena berjasa membantu wilayah Naruto. Seorang manusia setengah monster yang bisa dikatakan setengah abadi, seorang Viscount dan juga seorang Half-Vampire yang memilih hidup berdampingan dengan manusia, Alucard.

"Alucard-dono benar, Tuanku. Kami akan selalu mendukung anda dan kamu selalu menunggu titah anda. Walaupun anda masih terlalu muda tapi kami sebagai golongan tua akan selalu menuntun anda." Ucap seorang pria berambut hitam dengan wajah datarnya. Dia adalah seorang Earl yang memiliki hubungan erat dengan keluarga Namikaze, Senju, dan juga Uzumaki. Sebuah keluarga yang diberkati oleh Agni, sang dewi api untuk hidup berdampingan dengan api itu sendiri. Salah satu dari empat keluarga dengan kekuatan yang sangat besar, Uchiha sedang tersenyum kepadanya.

'Mari kita perbaiki semua ini secara bertahap. Aku tidak neh tergesa-gesa!'

Tanpa mereka sadari, Seorang gadis berambut pirang sedang tersenyum dengan air mata yang membasahi pipinya.

'Kushina Baa-sama, Apakah anda lihat itu? 4 tahun setelah kematian anda, Tuan muda berduka dan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Sekarang ia sudah bangkit menjadi sosok baru, Apakah anda lihat itu Kushina Baa-sama? Aku harap anda bangga dengan anak anda dan aku sebagai Pengawalnya, Sahabatnya, dan juga Keluarganya akan selalu mendukung dirinya apapun yang terjadi.'

Skip Time

Keesokan harinya, Semua orang berkumpul di Alun-alun kota. Saat melihat sepuluh orang bangsawan terkenal di arak dengan rantai di kaki mereka. Tak hanya itu, dapat di lihat jika keluarga bangsawan itu ikut mengalami nasib yang sama namun semua penduduk melihat jika tidak ada seorangpun bocah di bawah umur tiga tahun yang di bawa. Semua penduduk mengikuti para ksatria hanya ingin mengetahui apa yang sedang terjadi dan disinilah mereka semua, di sebuah alun-alun dengan sebuah panggung yang terbuat dari kayu.

Disana ada orang yang sangat mereka benci, seorang Duke yang 'Tidak berguna' ditemani seorang Algohi yang menutupi wajahnya menggunakan kain. Sebuah Great Sword berada di genggaman Algojo itu dan dapat mereka lihat walaupun samar, sebuah senyum mereka di wajah sang Algojo saat mendapati sepuluh bangsawan berserta keluarganya menaiki panggung tersebut.

"Apa kabar semuanya? Pasti kalian bertanya-tanya apa yang dilakukan para bangsawan dihadapan algojo, kan? Jawabannya sederhana, Mereka adalah Hama di wilayah ini dan mereka adalah penyebab wilayah ini tidak memiliki kemajuan sama sekali."

"Aku sudah menghabiskan waktu semalaman hanya untuk mencari kecacatan dalam laporan bulanan yang mereka berikan. Pemungutan pajak yang besar, Penindasan terhadap rakyat, dan juga perilaku sewenang-wenang yang mereka lakukan pada kalian."

"Baron, Count, Viscount ... Sepuluh orang yang ada di hadapan kalian adalah bangsawan yang menyebabkan kemunduran wilayah kita! Catat itu dalam ingatan kalian! Dan karenanya dengan segala wewenang yang ku miliki, Aku akan memberikan hukuman mati pada mereka! Selama empat tahun, Aku membuat rakyatku menderita Ikkikarena selama empat tahun ini sudah membiarkan rakyat ku menderita. Algojo, ku berikan mereka kepadamu." Algojo itu menganggukkan kepalanya dan berjalan ke arah salah satu dari para bangsawan itu.

"Jangan... Kumohon... Arggh!" Teriakan yang terdengar disana adalah parade kematian yang menghibur bagi para rakyat. Akhirnya, tuan mereka bergerak dan juga para bangsawan sudah di hukum di depan mata mereka membuat mereka mulai menaruh hormat kembali pada tuan mereka.

"Baiklah, aku minta perhatian kalian kemari." Mendengar ucapan Naruto, semua orang mengalihkan pandangannya dan menghiraukan eksekusi umum di hadapan semua rakyat. Namun semua orang disana terkejut, tak terkecuali algojo dan para bangsawan karena melihat Naruto saat ini sedang bersujud di depan mereka.

Keheningan melanda semua tempat karena sikap Naruto. Selain menjabat sebagai Duke, Naruto juga adalah seorang Pangeran dari kerajaan yang mereka tinggal Saat ini jadi semua orang terkejut melihat sikap Naruto yang sedang bersujud di hadapan rakyatnya.

"Kumohon maafkan aku!..." Semua orang terdiam mendengarnya, Mereka bingung kenapa seorang pangeran menundukkan kepalanya dihadapan rakyat yang kastanya jauh dari dirinya. Lain halnya dengan Naruto, pemuda itu sedang tersenyum dan senang karena mendapatkan simpati dari semua orang.

"... Aku tau kalau diriku sudah tidak becus mengurus kalian para rakyatku. Pemimpin yang diam saja melihat rakyatnya menderita selama empat tahun dan karena itulah aku meminta maaf kepada kalian." Ucapnya dan kemudian Naruto bangkit dari posisinya hingga berdiri dengan tegap menghadap semua orang.

"Lalu, aku ucapkan selamat kepada kalian! Berbanggalah karena sudah melewati ujian kesetiaan dariku! Sebenarnya selama empat tahun ini, aku selalu memantau kalian. Aku memilah dimana orang-orang yang setia menjadi rakyatku dan juga dimana orang-orang yang tidak setia kepadaku karena itulah selama empat tahun ini aku membuat kalian menderita! Namun, selama empat tahun juga aku akan membuat kalian bahagia dan aku, Uzumaki Naruto akan mengorbankan segenap jiwa dan ragaku untuk membuat kalian bahagia!"

Tangisan bahagia seketika pecah saat mengetahui alasan dibalik empat tahun penderitaan mereka semua. Akhirnya, tuan mereka mulai bergerak dan juga membahagian para penduduknya.

"Aku berjanji atas namaku dihadapan para dewa, bahwa aku tidak akan pernah istirahat dan tidak akan pernah meninggal jika rakyatku belum bahagia!"

Dan dengan begitulah, kehidupan bahagia di pinggir kerajaan yang berbatasan langsung dengan wilayah iblis mulai mengalami perubahan. Perubahan yang di awali pesta bersama rakyat selama semalam yang di hiasi tawa dan canda semua orang tak mengenal kasta.

...

...

TuBerCulosis

...

...

Moshi moshi, Gabriela desuuuu...

Wow... Sungguh, Aku menjadi semangat melihat review kalian! Dan untuk beberapa chapter kemarin aku meminta maaf karena belum ada tanda-tanda perubahan yang terlalu.

Review From Reader : "Bro, Kenapa fic ini tidak seperti fic yang lain? Terlalu pendek! Ini fic atau pantun si Jarjit?

Answer : "Pertama-tama, Aku berterima kasih kepada kalian yang mendukungku dan ini sudah aku perbanyak walaupun hanya mencapai 4,2K word. Tak kusangka, Kalian sangat antusias dengan fic ini dan karenanya aku semangat mengerjakannya."

Untuk Alive to Die-senpai, Wow terima kasih padamu senpai! Orang yang sangat aku idolakan masuk ke fic pinggiran ini membuat diriku sangat senang! Sungguh! Fic Cursed milikmu adalah favorit ku walau aku lupa sudah ku Follow atau belum hehehe...

Untuk yang bertanya siapa Erio Touwa, dia adalah gadis loli yang cukup cantik dari anime Denpa Onna no Seishun Otoko

Terima kasih untuk Kalian para senpai yang menanti fic ini, aku ucapkan terima kasih

Next Update

It's Just a Dream

...

...

See you and #StayAtHome

...

...