Shiroyukki Present

...

...

Naruto ©Masashi Kishimoto

HighSchool DxD ©Ichie Ishibumi

Beberapa character yang ada di dalam Fanfiksi ini milik para Author di Jepang dan saya hanya meminjam tanpa ada niatan menjadikan ladang pencarian.

...

...

Summary :

Ini adalah sebuah kisah seorang pemuda yang bertugas membuat wilayah yang ia pimpin maju dalam segala hal. Aku tidak akan melakukan kesalahan kedua!

...

...

#StayAtHome

[Let's start]

...

...

Chapter 5 : My sister and brother

Namaku adalah Namikaze Naruto. Seorang Duke dan pangeran dari sebuah kerajaan. Wilayah yang ku kuasai berbatasan dengan wilayah iblis tapi kesampingkan itu dulu. Wilayah yang ku kuasai sangat rusak dan menjadikan sebuah pekerjaan yang tidak ada habisnya untuk ku kerjakan.

Pertama, Masalah dengan bangsawan yang korup. Masalah ini sudah ku atasi dengan menggunakan sebuah rapat sebagai jebakan untuk menarik mereka semua. Korupsi dan beberapa pelanggaran hak rakyat menjadi catatan hitam dalam buku tugasku. Walaupun aku sudah mendapatkan kepercayaan rakyat dengan melakukan eksekusi publik tapi aku yakin tidak semua orang akan sepenuhnya percaya kepadaku.

Kedua, Untuk keamanan. Wilayahku di apit beberapa bangsawan yang merupakan orang-orang yang percaya kepada ibu ku. Mereka adalah orang-orang yang loyal dan juga selalu memberikan bantuan walaupun tidak sepenuhnya karena mereka juga memiliki masalah yang harus mereka kerjakan di wilayah masing-masing. Keamanan di wilayahku sudah sangat kacau dan ini menjadi masalah yang harus ku tangani.

Hufft... Untuk yang lainnya aku tidak ingin terlalu ambil pusing dan menyelesaikan permasalahan yang ada secara perlahan.

"Yup, Sudah selesai. Tak ku sangka menulis catatan harian menjadi kebiasaanku selama satu bulan ini." Ucapnya. Naruto sedang berada di luar ruang kerja. Saat ini adalah saat dirinya beristirahat. Tubuhnya sedikit menyusut karena dalam sebulan melakukan latihan rutin walaupun tetap terlihat sedikit gendut namun dirinya tidak terlihat seperti gumpalan lemak.

'Entah kenapa kehidupan seperti ini yang selalu aku inginkan. Tidak harus waspada dengan semua bahaya, entah itu dari Sniper, Ladang ranjau, Serangan mendadak pihak musuh.' Pikirnya.

Walaupun dirinya sendiri tahu jikalau ia bukan bagian dari dunia ini dan menempati jasad seorang Duke muda tapi dengan pengalaman dalam politik praktis dan juga beberapa hal yang ia temui di negara-negara federasi NATO, Naruto fikir sangat mudah untuk memajukan wilayah miliknya. Belum lagi dengan ilmu pengetahuan yang sedikit kurang maju, Dirinya memiliki mimpi untuk membuat sebuah negara yang paling pesat perkembangannya dalam segala bidang.

"Hufft..." Menghela nafasnya sejenak dan berjalan menjauhi pohon tempatnya beristirahat saat melihat 2 kereta yang di tarik 4 ekor kuda memasuki pandangannya.

Itu adalah kereta milik dua orang bangsawan yang sengaja ia undang untuk membahas masalah keamanan di seluruh wilayahnya. Entah itu di wilayah Duke, Marquess, Earl, bahkan untuk seorang Baron sekalipun. Karena mau bagaimanapun, semua bangsawan yang memiliki wilayah tidak lepas dari campur tangan ibunda dari 'Namikaze Naruto' yang sudah wafat.

Naruto yang melihat kedatangan mereka tidak bisa untuk menyembunyikan senyumannya dan memilih untuk pergi menghampiri mereka.

"Sudah saatnya kami bergerak."

...

...

Sementara itu di sebuah Masion yang terbilang sangat besar. Terdapat dua orang berbeda gender sedang berbicara kepada seorang pemuda berambut soft-yellow yang sedang duduk di meja kerja miliknya.

"Kumohon, Michael Nii-sama! Aku hanya ingin menjenguk Naruto Nii-sama karena ku dengar dirinya sudah sadar dari koma." Suara yang halus itu terdengar di seluruh ruangan tersebut.

Itu adalah suara dari Putri pertama dari raja, Gabriel. Gabriel dan Naruto sebenarnya lahir hanya berselang sekitar satu hari dari rahim yang berbeda. Ibunda Gabriel juga wafat dan menurut tabib istana kematian dari ibundanya sangat tidak wajar.

"Lalu kenapa kau mengajak Uriel bersama denganmu?" Tanya Michael. Pemuda itu sedikit memijat keningnya karena pusing atas tingkah laku Gabriel. Walaupun usianya sudah menginjak 17 tahun tetapi tetap saja dirinya tidak berubah, belum lagi dengan Puppy eyes yang sengaja di keluarkan adiknya tersebut. Pandangannya sekarang mengarah kepada adik laki-laki nya, Uriel.

"Lalu, Kau kesana untuk tujuan apa? Biar aku tebak pasti kau tidak bisa menahan diri karena kakak perempuanmu mengeluarkan Puppy eyes-nya, kan?" Tanyanya dan untuk Uriel dirinya hanya tertawa hambar dengan pandangan yang mengarah ke arah lain. Dirinya sendiri tidak sanggup untuk melihat kakak kembarnya mengeluarkan Puppy eyes miliknya. Sungguh, jika saja dirinya tidak di ajarkan sopan santun dan bagaimana tata cara bersikap sebagai seorang bangsawan maupun ksatria, dirinya ingin sekali menjitak kepala kakak perempuannya.

"Baiklah, Kalian aku izinkan pergi kesana tapi dengan satu syarat."

"Apa itu Michael Nii-sama?"

"Jangan kalian membuat Naruto menjadi stress karena tingkah laku kalian, Dirinya baru saja sadar dari koma dan karena itulah aku ingin kalian tetap bersikap sebagaimana mestinya kalian bersikap." Ujar Michael dan sebagai balasan Gabriel dan juga Uriel hanya menganggukan kepalanya dengan ekspresi senang menanggapi pernyataan kakak mereka.

"Baiklah, Kami akan berangkat secepatnya. Jaga dirimu, Nii-sama." Gabriel mengeluarkan senyumnya dan berjalan keluar ruangan itu meninggalkan Uriel dan juga Michael bersama.

Selepas kepergian Gabriel suasana di ruangan itu tiba-tiba menjadi hening. Ekspresi kedua pemuda itu menjadi serius dan karenanya bahkan anginpun berhenti bertiup di sekitar ruangan tersebut.

"Jadi, Ada berita dari mata-mata yang kau kirim Uriel?"

"Mata-mata yang ku kirim mengatakan..."

...

...

Di ruang pertemuan terlihat dua orang lelaki dewasa atau dalam kasus ini seorang Pria sedang menatap seorang pemuda dengan ekspresi serius. Untuk pemuda itu juga, dirinya hanya tersenyum melihat reaksi yang ia terima dari dua orang pria di hadapannya.

"Jadi bagaimana pendapat kalian tentang usulanku?" Tanya pemuda tersebut. Pria dihadapannya hanya diam dan kemudian sedikit meyunggingkan senyuman dihadapan pemuda tersebut. Rasanya sungguh menyenangkan bagi dirinya melihat orang-orang yang tidak mengerti arah pikirannya yang sedikit tidak masuk akal.

"Entah kenapa, Aku juga tertarik dengan apa yang anda sampaikan, Naruto-sama. Namun bolehkah saya memberikan usul?" Tanya Pria itu. Pria itu adalah Uzumaki Arashi, Seorang Pria yang merupakan Earl dari keluarga Uzumaki yang bergerak di sektor pertambangan di sekitar gunung.

"Silahkan bicara, Arashi-dono."

"Menurutku untuk membuat Satuan keamanan yang anda maksud, sangat mudah untuk kami namun ada sebuah poin yang sangat besar untuk di tutupi." Ucapnya.

"Poin apa yang kau maksud, Uzumaki-dono?" Tanya Pria yang lain. Pria itu adalah Fugaku Uchiha, Bangsawan bergelar Earl yang menjaga perbatasan di Timur laut yang berbatasan dengan Duke Gilgamesh.

"Poin yang saya maksud disini adalah Apakah Satuan ini bergerak seperti Guild petualang di pusat benua? Maksudku, Apakah setiap anggota akan memiliki pangkat? Apakah mereka tidak akan di hukum saat melakukan kekerasan terhadap rakyat?" Penjelasan Arashi sedikit di maklumi Naruto, namun dirinya sudah memprediksi apa yang akan terjadi kedepannya dan menyusun jawaban atas apa yang akan terjadi esok hari.

"Baiklah, Sepertinya Arashi-dono sedikit tidak mengerti apa yang harus di lakukan sebagai orang yang berwenang di Satuan yang akan ku dirikan." Ucap Naruto dan terlihat Arashi sedikit menundukkan kepalanya karena malu. Siapa yang tidak malu jika orang dewasa tidak mengerti apa yang sedang di jelaskan kaum muda?

"Namun aku memberikan epresiasi untuk ke khawatiran anda terhadap rakyat kita, aku bangga kepadamu Arashi-dono." Kata-kata yang di keluarkan Naruto membuat Arashi terdiam dengan wajah sedikit memerah dan Naruto yang melihatnya hanya tersenyum kecil tak jauh berbeda dengan Fugaku yang ada di sampingnya juga.

"Pertama, Satuan ini aku dirikan untuk menjamin keamanan bagi setiap orang tanpa terkecuali. Satuan ini menjamin keamanan bagi Rakyat, Bangsawan, bahkan untuk mereka para pedagang yang memasuki wilayah kita semua.

"Kedua, Aku akan mendirikan 5 post dan juga 1 Markas di setiap wilayah bangsawan agar menjamin keamanan rakyat kita dan tentunya Markas pusat terletak di Namikaze Dukedom."

"Ketiga, Satuan ini juga aku buat untuk menumpas kutu-kutu kecil yang masih bersarang di wilayah kita. Sebut saja beberapa Bandit yang menguasai pasar, beberapa Bandit yang menghadang jalur perdagangan, dan sebagainya. Aku tidak ingin rakyatku terus menerus khawatir karena keamanan yang kurang."

"Keempat, Satuan ini juga aku dirikan sebagai unit pertahanan paling akhir jika saja terjadi invasi dari negara tetangga. Bukannya diriku ini meremehkan kekuatan kita semua, namun tetap saja tidak menutup kemungkinan jika ada pasukan yang menyusup masuk."

"Dan kelima, Jawaban dari pertanyaan Arashi-dono..." Naruto mengulum senyuman di wajahnya dan dengan bangga dirinya sedikit bangkit dari duduknya dengan wajah yang menjadi sangat serius.

"Satuan ini akan mengikuti konsep peringkat militer, dimana di mulai dari jajaran rekrutmen, Kopral, Sersan sampai seorang Jendral. Aku ingin yang menjadi anggota dari Satuan ini adalah rakyat itu sendiri tentunya dengan bimbingan dari Fugaku-dono dan juga Arashi-dono yang akan menjadi Jendral dari pasukan ini."

"Jadi seperti itu..." Ucap Fugaku dengan satu tangan yang mengeluh dagunya ketika pandangannya teralihkan ke arah langit-langit ruangan tersebut. "... Dengan adanya kami berdua, Uzumaki dan Uchiha, Proses pelatihan akan terbilang bertambah cepat setidaknya cukup untuk mengatur keamanan di sekitaran wilayah ini. Belum lagi dengan rekrutmen yang berasal dari rakyat dapat menaikkan moral rakyat dan juga membuat pemasukan rakyat. Baiklah, Aku paham dengan apa yang akan anda laksanakan."

"Tepat sekali, dengan adanya keamanan yang meningkat akan membuat moral rakyat menjadi naik karena mereka tidak lagi ragu untuk membuka usaha mereka kembali. Dengan begitu, Kita akan memiliki pemasukan untuk wilayah masing-masing dan dengan pajak yang di bayarkan rakyat, Mereka akan mendapati bahwa pajak yang mereka bayarkan ternyata kembali kepada rakyat kita."

Naruto lagi-lagi tersenyum mendengar respon yang di berikan kedua pria dewasa di hadapannya. Dirinya tidak menyangka jika orang-orang ini akan sangat loyal pada dirinya dan haruskah ia sekarang berfikir seberapa loyal-nya mereka saat ibu-nya masih hidup?

"Apa yang kalian katakan memang benar, Untuk wilayah milik kedua kakak ku, Michael dan juga Gilgamesh, Aku tau mereka tidak akan melakukan penyerangan. Belum lagi dengan invasi iblis yang mulai menurun dan membuat ekonomi kita sedikit menanjak, yang aku khawatirkan adalah wilayah yang ada di bagian barat."

"Tuanku, apakah maksud anda Dvarga Kingdom?" Tanya Arashi, Dirinya sudah tau akan hal ini jauh lebih cepat daripada semua bangsawan yang ada di bawah naungan Duke Namikaze. Dan sebagai Earl yang bertanggung jawab atas pemasukan bagi wilayahnya dan juga tuannya, dirinya harus lebih banyak bergerak dibanding siapapun dan jangan lupakan koneksi dengan beberapa pedangan yang sudah lama ia bangun.

Dvarga Kingdom adalah kerajaan yang haus akan peperangan. Kerajaan itu pada awalnya hanyalah sebuah kawasan yang di pimpin oleh seorang prajurit dan sedikit demi sedikit, Prajurit itu merekrut orang-orang kuat yang membawa dirinya menuju kemenangan. Kerajaan itu tidak memiliki lahan yang subur namun mereka memiliki wilayah yang sangat kaya akan kandungan mineral, sebut saja besi, Baja dan bahkan ada desas desus di pasaran tentang adanya tambang Adamantine di dalam wilayah kerajaan tersebut.

"Untuk saat ini, Mereka tidak akan menyerang kita karena kita belum memiliki potensi menjadi masalah di lain hari. Namun tidak menutup kemungkinan kalau mereka akan menyerang kita saat keadaan kita masih melemah dan kesehatan tuan muda baru saja pulih."

Naruto dan juga Arashi menolehkan kepala mereka menatap Fugaku yang baru saja menyuarakan pendapatnya. Dirinya sendiri 'hampir' sependapat, sekali lagi 'Hampir'! Apa yang dikatakan Fugaku pada dasarnya adalah hal yang benar namun posisi mereka saat ini sangat tidak di untungkan. Beberapa pikiran dan juga perkiraan yang 'mungkin' akan terjadi mulai terlintas di pikiran Naruto.

"Arashi-dono, Fugaku-dono, Hari ini kita sudahi pertemuan ini. Earl Uzumaki dan Earl Uchiha, Dengan wewenang yang aku miliki sebagai seorang Duke dan juga Pangeran kerajaan ini. Aku memilih kalian sebagai pemegang kuasa tertinggi dalam satuan yang akan dibuat."

"Ha'i"

Kata-kata yang keluar dari mulut Naruto terdengar sangat lantang dan juga berwibawa pada saat bersamaan. Bahkan di mata Arashi dan juga Fugaku sempat terlintas bayangan seorang wanita berambut merah yang selalu memimpin mereka semua dengan tegas dan juga penuh cinta namun bayangan yang ada di dalam kepala mereka sedikit hancur saat melihat ekspresi yang terbilang konyol. Naruto, Tuan mereka, Saat ini sedang menahan tawanya hingga wajahnya sedikit menjadi pucat.

Buagh!

"Keponakan sialan! Kau menghancurkan ekspetasi paman mu ini." Ujar Arashi selepas menjitak kepala Naruto. Sesaat sebelumnya dirinya sadar jika pertemuan ini sudah berakhir dan membuat mereka semua kembali ke keadaan biasa. Karena pada dasarnya Arashi adalah kakak dari Kushina dan karena itulah dirinya juga termasuk sebagai paman Naruto.

"Hah... Kau tidak pernah berubah Naruto. Namun, Aku senang melihat kau kembali seperti dulu lagi sebelum kemat-" Tenggorokan Fugaku sedikit tercekat karena kesalahannya sendiri. Dirinya hampir saja kelabasan hingga membuat Naruto mengingat masa lalu-nya sendiri. Wajar saja karena selama ini Naruto selalu hidup bersama dengan Kushina tanpa adanya kasih sayang seorang ayah yang mana merupakan raja dari kerajaan ini. Mengingat itu menbuat Fugaku memasang wajah murungnya, karena mau bagaimanapun dirinya sudah menganggap Naruto sebagai anaknya sendiri.

"Ahh.. Tidak usah memasang wajah seperti itu Fugaku Ossan. Aku tau jika ibu sudah tiada namun aku sadar jika aku masih memiliki keluarga yang bahkan lebih besar. Keluargaku bukan hanya ibuku, Paman Arashi dan keluarga Uzumaki ataupun Arthuria yang selalu bersama ku sejak kecil namun aku memiliki keluarga yang bahkan lebih besar daripada itu semua! Orang-orang yang ada di wilayahku, orang-orang yang tertawa di wilayahku, mereka adalah keluargaku." Ucapnya.

"Wah wah wah... Sejak kapan kau menjadi dewasa seperti ini, Hah?" Arashi sedikit mengeluarkan nada yang sangat sarkas bagi Naruto. Jika dirinya yang dulu mungkin saja akan mengamuk namun dirinya bukan lagi Uzumaki Naruto yang tewas di bumi.

"Entahlah pam-"

Kriiet...

Semua orang yang ada di ruangan itu mengalihkan pandangannya pada pindu besar yang menjadi kases keluar-masuk ruangan tersebut.

"Maafkan saya atas kelancangan saya, Naruto-sama. Namun, Aku harus memberitahu kepada anda bahwa Gabriel-sama dan juga Uriel sama akan datang kesini. Keduanya saat ini berada di wilayah Viscount Alucard dan akan datang bersama dengan Alucard-sama. Alucard-sama juga datang menanggapi panggilan anda, Tuan-ku."

...

...

Gabriel, Salah satu dari keluarga Duke Tenshi, Putri pertama dari raja sebelum dirinya wafat. Duke Michael menggunakan nama keluarga yang ditinggalkan mendiang ibunya setelah pembagian wilayah kerajaan dan bersama dengan Duke Namikaze dan juga Duke Uruk menjadi salah satu dari tiga pilar penopang kerajaan.

Gabriel, Siapa yang tidak tau dan kenal dengan nama tersebut. Putri yang cantik, pintar, dan juga sangat dermawan bahkan untuk rakyat kecil sekalipun. Puluhan lamaran datang untuk putri itu namun dirinya menolak, tentu saja dengan bantuan Michael sebagai kakak dan juga Duke Tenshi.

Lalu Uriel Tenshi sebagai pangeran yang belajar tehnik berpedang dan juga sihir keluarga Tenshi membuat dirinya menjadi seorang Magic Swordman yang menjadi salah satu penopang kerjaan terpandang. Melakukan pengembaraan bersama dengan master pedangnya dan berakhir 4 tahun yang lalu setelah sang Master mendapatkan tugas untuk mengurus wilayah sebagai seorang bangsawan.

Namun, Tidak ada seorangpun yang tau jika keduanya sangat menghormati dan juga menyayangi Naruto lebih dari siapapun bahkan untuk kakak mereka, Michael. Naruto bagi keduanya adalah sosok kakak dan juga ayah yang sangat menyayangi keduanya dan saat berita tentang percobaan bunuh diri Naruto membuat keduanya menyesal karena tidak bersama dengan sang kakak saat ngalami musibah.

"Alucard Jii-san, Ku lihat wilayah anda berubah menjadi lebih baik daripada saat terakhir kami berkunjung ke wilayah Naruto Nii-sama."

"Jujur saja, Apa yang anda katakan sangat menyakitkan hati Master mu ini Uriel. Namun sayangnya apa yang kau katakan adalah kenyataan tapi semenjak Naruto-sama sadar, dirinya mulai melakukan pekerjaannya dengan segenap hati dan juga menangkap penjahat di wilayah ini. Menjual beberapa harta miliknya dan semua aset milik bangsawan korup lalu memberikannya pada para bangsawan dengan harapan semua wilayah yang ada di bawah naungannya menjadi semakin berjaya."

Di hamparan ladang gandum yang sangat indah dengan gandum berwarna keemasan membentang di hadapan kedua manusia dengan hubungan Guru-murid. Alucard dan juga Uriel, Kedua manusia itu sedang berdiri di bawah sebuah pohon rindang menikmati angin yang berhembus menerpa wajah mereka. Pandangan mereka terarah pada wilayah pertanian dan beberapa petani yang sedang memanen gandum.

Namun wajah Alucard tetap saja tidak menunjukkan kalau dirinya sendiri bahagia. Tidak, Alucard sudah cukup bahagia saat melihat Naruto sadar dan juga melakukan tugasnya namun dalam hati kecilnya dirinya sadar jika ia kesepian. Tidak ada seorang wanita yang merindukannya? Bukan! Bukan itu! Dirinya hanya merasakan kesepian semenjak berhentinya dia dari jalan yang sudah ia tapaki sejak berumur 10 tahun.

Pedang, Darah dan Adrenalin yang memuncak saat menghadapi bahaya adalah apa yang ia rindukan. Sensasi antara hidup dan mati saat menghadapi para monster dan juga demonkin yang berasal dari Abyss Crack membuat dirinya kesepian. Cinta? Ingin rasanya dirinya tertawa saat orang-orang mengatakan hal tersebut dan jujur hanya satu hal yang ia cintai yaitu 10 detik antara hidup dan mati yang selalu membuatnya menjadi lebih hidup. Dan tugas ini bagaikan kekang yang mengunci pergerakannya. Dirinya tidak ingin mengkhianati kepercayaan Naruto dan juga mendiang ibunya namun kehidupan bangsawan seperti ini membuat dirinya tidak nyaman.

"Master, Kau baik-baik saja?" Ucap Uriel.

Uriel tidak menyangka jika akan melihat wajah Alucard seperti itu. Pria berusia hampir mencapai kepala lima itu hanya diam termenung dengan ekspresi yang sulit di mengerti. Ekspresi itu antara sedih dan juga ekspresi wajah yang menggambarkan kerinduan sang master akan sesuatu.

'Aku tidak tau ada seseorang yang Master cintai.'

Namun sayangnya, Uriel salah paham.

...

...

Di ruang kerja Namikaze Naruto saat ini terlihat seorang perempuan yang sedang tertidur di sofa panjang dan seorang pemuda yang sedang membaca beberapa arsip dokumen sebagai laporan harian dari beberapa orang di bawah naungannya. Naruto, Pemuda itu sedang mencoba menyelesaikan tugasnya dengan cepat karena hari mulai larut dengan kedua kertas di tangannya pemuda itu mencoba untuk membaca sekaligus berfikir pada saat yang bersamaan.

'Hmm... Laporan dari Arthuria. Di kertas ini dikatakan bahwa para pekerja sudah tidak tahan dengan bau dari getah yang di kumpulkan selama sebulan terakhir dan warga juga merasakan hal yang sama.'

'Laporan dari Ikki. Pelatihan prajurit sudah mencapai titik terang hanya tinggal pelantikan prajurit baru dan juga pembagian divisi mereka semua. Hmm...'

'Lalu laporan keuangan dari Earl Uzumaki. Penjualan aset para bangsawan yang sudah di sita mencapai puluhan ribu keping emas dan juga sudah di distribusikan secara merata pada seluruh bangsawan disini.'

'Laporan keamanan dari Viscount Alucard. Aktifitas monster dan juga demonkin akhir-akhir ini berkurang, kah? Dan juga, Ada beberapa monster seperti Orc dan Goblin yang membuat pemukiman di Mist Forest dekat dengan tambang Magic Stone.'

Pemuda itu membaca dan terus membaca dengan satu tangan yang menulis balasan dari semua laporan orang-orang. Sejujurnya dirinya terbiasa seperti ini saat masih ada di bumi. Sebagai salah satu perwira tinggi tidak menutup kemungkinan kalau dirinya selalu menerima laporan dari anak buahnya dimanapun dan kapanpun itu. Dan tanpa terasa dirinya sedang menulis surat terakhir dan mencoba membacanya.

"Viscount Alucard. Aku berterima kasih atas laporanmu. Berikan istirahat yang cukup untuk prajurit di perbatasan dan juga jangan sampai ketinggalan memberikan pasokan konsumsi untuk mereka. Untuk monster yang membuat pemukiman biarkan saja, selama tidak ada yang menyerang atau mengusik kita dan berarti mereka juga ingin hidup damai jauh dari peperangan. Terima kasih atas kerja kerasmu, Viscount Alucard."

Selepas membacanya dirinya tersenyum. Bukan karena senang bisa menyelesaikan tugasnya dan beristirahat namun dirinya tersenyum karena membaca tulisan yang ia tulis di kertas tersebut. Dirinya tidak menyangka jika bisa menulis surat dengan bahasa-bahasa yang sopan.

"Hufft.." Menghela nafasnya dan menaruh kertas tersebut di atas meja. Kemudian pandangannya berubah menjadi lembut saat melihat seseorang yang sedang tertidur di sofa panjang tepat di hadapannya.

'Gadis ini, Sudah berapa kali aku katakan kalau dirinya tidak perlu menungguku.' Entah kenapa setiap dirinya melihat tingkah laku Arthuria hatinya sedikit mengangkat. Sudah lama rasanya dan karenanya ia mengingat sosok operator yang selalu membantunya dalam setiap misi yang di berikan. Orang yang selalu menjaganya dari langit dan juga orang yang sangat mencintainya.

'Sara jika saja tidak ada kecelakaan dalam latihan itu mungkin aku akan melamarmu selepas pulang dari misi.' Pikirnya. Wajahnya sedikit sedih namun sesaat kemudian ia menggelengkan kepalanya dan sedikit menepuk kedua pipinya agar tetap sadar.

Sekali lagi ia tersenyum melihat Arthuria dan kemudian melepaskan jubah kebesarannya untuk menutupi tubuh Arthuria yang tertidur di sofa tersebut. Dengan dirinya yang kembali duduk di kursi kebesarannya, kedua matanya tertutup.

'Terima kasih untuk hari ini Arthuria dan selamat malam.'

...

...

TuBerCulosis

...

...

Yo, SetsunaZ1 here!

Pertama, Terima kasih untuk teman-teman yang menyukai fic ini. Semoga kalian puas untuk chapter ke-5 dan menjadi pembuka Arc kedua.

Baiklah mari kita bahas beberapa hal yang terjadi di Fic ini.

Pertama, Gabriel dan Uriel yang menyayangi Naruto melebihi siapapun. Yah, Itu sengaja aku lakukan karena Uriel dan juga Gabriel akan menjadi sesuatu yang berguna bagi Naruto di beberapa chapter ke depan.

Kedua, Siapa dan dimana mata-mata Uriel? Itu akan terjawab beberapa chapter ke depan.

Ketiga, Alucard menjadi Sword master dari Uriel kurasa tidak masalah, kan? Lalu untuk kalian yang berfikir Alucard disini wujudnya sama seperti Alucard di Mobile Legend jawaban adalah salah! Wujud Alucard yang aku gunakan adalah Wujud dari Dante Devil May Cry.

BTW, Karena munculnya adaptasi Anime dari Kaifuku jutsushi no Yarinoshi membuat diriku depresi. Kenapa? Tentu saja karena teman-temanku menjadikan nama SetsunaZ1 sebagai bahan lawakan, termasuk Author Sakura Itsuki. Aku bakal mengubah PenName dari lapak SetsunaZ1 ini.

'Ahhh... Sialan!'

Sudahlah,

Sekian dari saya, Author SetsunaZ1 A.K.A Hode Master.