SetsunaZ1 Present
...
...
Naruto ©Masashi Kishimoto
HighSchool DxD ©Ichie Ishibumi
Beberapa character yang ada di dalam Fanfiksi ini milik para Author di Jepang dan saya hanya meminjam tanpa ada niatan menjadikan ladang pencarian.
...
...
Summary :
Ilmu pengetahuan adalah akar dari masalah yang terjadi. Kegilaan tak ada hentinya menghiasi hari-hari anak SMA di jantung negara matahari terbit. Apakah mereka berhasil bertahan hidup di saat jutaan mayat hidup menghadang jalan mereka?
...
...
#StayAtHome
#BangkitFFn2021
#KeepWriting
#KeepReading
...
...
Chapter 10 : Safe House
Day 4, After Outbreak, 07.26
Hari sudah menjelang pagi dan beranjak siang membangunkan setiap orang untuk melaksanakan kewajibannya, setidaknya itu adalah hal yang wajar di saat-saat normal. Namun sekarang, Dunia sedang mendekati akhir dengan jutaan mayat hidup yang berjalan di seluruh dunia. Wabah ini terjadi pada saat yang sama di semua negara di dunia tanpa adanya tanda-tanda Patient Zero atau orang yang pertama kali terjangkit virus yang membuat setiap orang tewas dan menjadi mayat hidup.
Jepang, China, India, Prancis, Spanyol, Mengalami tragedi yang sama dimana pasukan keamanan yang mereka miliki tidak cukup cepat untuk menyelamatkan nyawa penduduknya. Italia dan juga Mesir terkena dapat paling parah dimana hampir 90% populasi tewas. Lalu Amerika yang dikatakan sebagai negara Power House sekalipun hancur karena wabah ini.
Puluhan pemimpin negara yang ada di dunia ini terpaksa membuka jalur komunikasi darurat untuk membicarakan semua masalah yang ada. Beberapa pemimpin mengajukan untuk membuat suatu daerah aman namun pengakuan tersebut tidak dapat di terima oleh pemimpin negara yang lain. Dan itu membuat beberapa pemimpin negara mengingat masa lalu yang seakan-akan menggorok leher mereka.
Ada saat-saat dimana kemanusiaan di pertanyakan.
Saat dimana kemanusiaan di pertanyakan dan sekarang adalah waktu yang tepat kata-kata itu di realisasikan. Pemimpin-pemimpin negara yang bertindak egois dimana memohon bantuan dan membuat zona aman bersama dan beberapa pemimpin negara yang tidak dapat berpaling dari rakyatnya. Kemanusiaan dan juga kewajiban, mana yang akan kalian pilih jika menjadi pemimpin negara?
...
...
Kawasan perairan negara Jepang.
Di lepas pantai Jepang tepat di arah barat berjajar rapih puluhan kapal yang saat ini menjadi basis pertahanan terlahir negara Jepang. Beberapa pulau yang ada di dekat mereka, dijadikan sebuah Base pengungsi yang tentunya sudah di netralkan pasukan militer termasuk pulau Gunkanjima yang sudah lama tidak di tinggali.
Di salah satu Mothership, Seorang pria berjalan di kawal dua orang berpakaian lengkap dengan sebuah senjata P90 yang tergantung di punggung mereka. Pria itu terlihat sudah berumur dengan pakaian yang lusuh membuatnya tampak seperti gelandangan belum lagi dengan brewok tipis yang menghiasi wajahnya.
"Kapten Crow, Senang melihatmu baik-baik saja."
Langkah kaki pria itu terhenti di ikuti kedua orang yang mengawalnya saat mendengar seseorang menyapanya. Seorang pria berambut merah dengan brewok tipis menghiasi wajahnya belum lagi dengan cerutu yang menghiasi mulut orang itu membuatnya tampak seperti pria brengsek. Namun, Pria itu, Azazel, Tau siapa yang sedang ia hadapi.
"Sudah lama aku tidak menggunakan Code-name tersebut, Namun senang berjumpa dengan anda, Mayor Red Dog." Ucapnya dan kemudian tangan Crow terangkat dengan telapak tangan berada di atas seakan-akan meminta sesuatu. Merasa mengerti dengan apa yang di inginkan sahabatnya, Red Dog mengeluarkan sebuah kotak yang terbuat dari kaleng dan mengeluarkan sebuah barang.
Panjang, Hitam, Keras dan juga berujung tumpul.
Tepat sekali, Sebuah cerutu keluar dari kotak kaleng milik pria tersebut. Setelah memotong ujungnya menggunakan pemotong khusus dan membakarnya, percakapan keduanya dimulai.
Mulai dari kehidupan Azazel setelah pensiun dini dan juga keberadaan putra dari Namikaze Minato yang belum di temukan. Pemuda itu merupakan aset negara dan juga hasil penelitian pihak militer walau Kushina sebagai ibu dari pemuda itu menolak keras proposal tersebut. Tepat sekali, Naruto bukanlah manusia seutuhnya karena di dalam tubuhnya mengalir jutaan Micro-organisme yang memakan segala sesuatu yang mengancam tubuh tempat bernaungnya.
Lalu, Belum ada kabar juga dari Profesor Hyuga yang membawa sampel vaksin untuk sedikit mengatasi pandemi ini. Hanya setetes cairan yang dapat menyelamatkan jutaan nyawa manusia agar bertahan dari bencana, yang mana menurut orang-orang pecinta lingkungan merupakan salah satu seleksi alam untuk mengembalikan bumi kedalam kondisi sunyi.
"Yah, Tidak ada yang tau bagaimana keselamatan orang-orang itu namun yang pasti kita harus berdoa memohon keselamatan mereka."
...
...
Tokyo, 06.21am
Pusat kota Tokyo di pagi hari sangat berbeda dari hari biasanya. Setelah beberapa hari yang lalu, Sebuah wabah misterius mulai menyebar di seluruh dunia, Aktivitas kota yang merupakan ibu kota Jepang saat ini sangatlah sepi.
"U-ugh..."
Sebuah erangan kecil keluar dari mulut seorang pemuda yang terbangun karena tergelitik sinar matahari pagi. Di sampingnya, Seorang gadis berambut hitam dengan wajah yang sangat cantik sedang tidur bersandar di bahunya dan membuatnya mau tidak mau tersenyum tipis di wajah tampannya.
Tiba-tiba sekelibas ingatan muncul, Mengingat janji dengan teman-temannya dan juga Issei yang pergi mencari supply di kantor kepolisian membuatnya mau tidak mau membangunkan gadis tersebut.
"Toujou-san..." Suara yang ia keluarkan sangatlah pelan hingga gadis yang bersandar di pundaknya tidak merespon.
"Toujou-san... Bangun!" Dengan tangan kanannya pemuda itu menepuk pelan pipi Kuroka. Jujur saja, Dirinya tidak bisa terlalu lama membuang waktu karena tiap detik nyawa mereka semua di pertaruhkan.
"E-Enghh..." Lenguhan pelan keluar dari bibir mungil gadis itu. Rambutnya tampak kusut dan juga pakaiannya sangat kotor hingga tampak menempel di tubuhnya karena menyerap keringat berlebih. Tentu, Dalam kondisi tertentu tubuh manusia akan mengeluarkan zat bernama adrenalin dan melepaskan gas metan dan juga keringat, Tentunya siapa manusia yang tidak terkena efek adrenalin jawabannya tidak ada!
"Kita harus pergi dari sini dan bertemu dengan yang lainnya. Aku melihat beberapa Backpack mari gunakan itu untuk membawa pakaian untuk teman-teman kita." Ucapnya dengan lembut sedangkan Kuroka hanya menganggukkan kepalanya dan mengambil beberapa pakaian di toko tersebut.
...
...
Police Headquarter, Tokyo
Tak jauh dari sebuah gedung yang merupakan Markas Besar Kepolisian Daerah Tokyo, Seorang pemuda berambut coklat sedang terduduk di suatu kediaman. Pemuda itu sedang duduk dengan secangkir kopi yang memang ia seduh menggunakan sumber daya yang ada di dalam rumah tersebut. Dirinya sendiri tidak menyangka jika markas kepolisian akan runtuh hanya dalam beberapa hari, setidaknya masih ada sumber daya yang tersisa di markas tersebut tentunya peluru aktif dan juga beberapa senjata api.
"Hahhh... Melelahkan..." Desah pemuda itu. Bangkit dari tempatnya duduk dengan cangkir kopi di tangan kanannya. Dirinya melangkah menuju ke arah pintu yang membatasi balkon di lantai 2 tempat dirinya bermalam.
Tokyo? Ibukota negara Jepang? Siapa yang tau jika kota tersebut hancur dalam beberapa hari. Jalanan penuh dengan mayat hidup berjalan dan juga ratusan atau mungkin ribuan mobil berserakan. Membawa mobil di tengah pandemi mayat hidup seperti ini tidak mungkin berjalan baik, Jika kau menabrak ratusan mayat hidup ada kemungkinan besar ban mobil akan tergelincir dan mobil akan terjungkil.
Pemuda itu beranjak pergi dari balkon dan mulai bersiap-siap. Dirinya sudah tidak menggunakan pakaian sekolah melainkan pakaian pemilik kediaman ini. Kaos berwarna hitam berpadu dengan celana pendek yang memudahkan pergerakan dan sepasang sepatu Safety yang ia ambil dari mayat polisi, Walau berat dirinya sendiri yakin jika ia menentang kepala zombie maka tidak menjamin jika zombie itu tetap hidup.
Sreet...
Mengerahkan sarung tangan di kedua tangannya dan mengambil tas yang berisi beberapa makanan untuk teman-teman dan mengambil sebuah roti bakar yang ia sematkan di mulutnya. Sebuah Sickle ia genggam di tangan kanannya dan di tangan kirinya ia membawa sebuah pisau dapur yang lumayan besar, Berjalan keluar dengan mulut yang mengunyah roti panggang sedikit demi sedikit dan mulai mendekati markas kepolisian melewati gang-gang sempit.
...
...
"Aman, Kita bisa bergerak." Ucap seorang pemuda yang kita tau kalau dia adalah Naruto. Saat ini dirinya bersama dengan Kuroka berada di pintu belakang toko pakaian yang ia gunakan untuk bermalam. Dirinya sendiri sudah mengenakan pakaian berupa Kaos berwarna merah di balut dengan blazer sekolahnya yang ia ikat di pinggangnya, Sepatu olahraga berwarna hitam terlihat cocok dengan celana trainingnya yang berwarna senada sedangkan Kuroka menengenakan Hotpants 3cm di atas lutut dan stoking yang membalut kakinya sedangkan untuk atasan dirinya menggunakan pakaian olahraga yang mencetak lekuk tubuhnya juga menunjukkan perutnya.
Pemuda-pemudi itu berjalan dengan hati-hati dan di punggung mereka tersemat sebuah tas yang berisi pakaian dan juga makanan cepat saji yang mereka temukan di tempat mereka. Siapa sangka jika toko pakaian seperti itu memiliki sebuah dapur, Mungkin saja sebelum pandemi ini terjadi dapur tersebut di gunakan untuk keperluan pekerja, Belum lagi peralatan keduanya yang terbilang lumayan berat.
"Kita harus cepat berkumpul dengan teman-teman kita, Kemudian kita harus menyelamatkan Issei jika dia belum kembali." Mendengar ucapan temannya, Naruto hanya tersenyum kemudian mulai berlari. Dirinya sendiri tidak menyangka jika dirinya bisa melihat matahari lagi, Entah kenapa dirinya pesimis namun setelah mengetahui kalau Jepang sudah mulai runtuh siapa yang tidak pesimis jika harus berhadapan dengan jutaan zombie penduduk Jepang?
Mereka berdua terus berlari tanpa melihat kebelakang tentunya tanpa menurunkan kewaspadaannya. Kala ada tembok keduanya memanjat, kala ada pagar keduanya mencoba untuk memotong ataupun membuka entah dengan cara apa, Tentunya tujuan mereka menuju Villa milik keluarga Gremory. Jaraknya lumayan jauh dari posisi mereka saat ini, jika mereka berlari ataupun berjalan dan juga memperhitungkan waktu istirahat untuk mengumpulkan stamina maka keduanya akan sampai pada pukul 3 sore. Tapi, Bukan itu kendala saat ini melainkan menghemat tenaga dan waktu dengan menghindari pertarungan yang tidak perlu.
"Tunggu..." Ucap Naruto seraya mengangkat kepalan tangannya ke udara. "... Jalan kita tertutup. Tembok ini kira-kira memiliki tinggi sekitar 3 meter dan tidak ada waktu untuk memutar kembali." Ucapnya saat mengamati keadaan mereka semua. Namun, sayangnya Kuroka menepuk bajunya seakan memberi isyarat untuk berbalik hingga dirinya menemukan puluhan zombie mulai mengejarnya.
"Tunggu sebentar..." Ucap Kuroka seraya mencari ponsel dari dalam ransel miliknya sedangkan Naruto sudah bersiap dengan Katana dan juga Glock-17 di tangan kirinya mencoba menjaga Kuroka yang sedang membuka GPS yang ada di dalam ponselnya.
Crashh... Crashh... Crashh... Brukk...
Tiga zombie yang mulai menyerang harus tumbang dengan kepala yang terlepas dari tubuhnya saat Naruto mengayunkan Katana di tangan kanannya. Dirinya saat ini harus melindungi temannya. HARUS!
"Lewat sini!"
Kuroka berlari mendahului Naruto dan mengambil jalan ke arah kanan. Dirinya sendiri hanya mengikuti Kuroka dari belakang.
"Tunggu Kuroka!" Teriakan Naruto membuat gadis berambut hitam itu berhenti dari jalannya...
Dorrr...
Satu zombie jatuh tepat di bawah kaki Kuroka.
"Aku hanya ingin bilang jangan terlalu jauh. Kita harus terus kooperatif dalam bencana ini, Jangan bertindak ceroboh lagi, paham?" Ucap Naruto dengan nada yang sedikit ia beratkan.
"Hanya itu saja?"
"I-iya, Kenapa?"
"Lihat saja sendiri"
Beberapa zombie mulai keluar dari beberapa sudut gang, beberapa keluar dan jatuh dari lantai dua rumah-rumah ataupun keluar dari tempat-tempat gelap.
"Kau membuat kita jadi pusat perhatian sekarang."
Crashh...
Satu tusakan di kepala membuat zombie itu tidak berkutik lagi. Dengan cepat Kuroka mencabut anak panahnya dan mengayunkannya ke belakang tepat di pelipis dan zombie itu berhenti bergerak.
Kuroka kemudian berlari ke arah Naruto yang sedang mencoba membidik zombie yang berlari menuju dirinya. Setelah mengarahkan senjata di tangan kirinya ke arah kepala, Naruto mulai menarik pelatuknya.
Dorr...
"Kurasa kita harus segera pergi dari sini." Ujar Naruto seraya menentang kepala zombie di depannya. Lalu menarik tangan Kuroka dan berlari ke arah belakang. Namun perjalanan mereka terhenti kala sebuah gelombang zombie yang berisi puluhan zombie mengepung jalan mereka. Puluhan zombie mengepung dari segala arah berjalan menuju keduanya.
"Sialan, Kita terkepung!"
Crashhh...
"Aku tau, Bisakah kau bantu aku sedikit?" Kata Naruto saat menebas kepala zombie di dekatnya. Sedangkan Kuroka hanya mendecih, Dirinya sendiri bingung karena dirinya sendiri tidak memiliki senjata jarak dekat walau menggunakan anak panah sekalipun itu tidak dapat membantu banyak.
"Gunakan ini..." Ucap Naruto seraya memberi Kuroka Glock-17 miliknya, Jujur saja dirinya sendiri masih memiliki Desert Eagle di ransel miliknya namun tentu saja Naruto berfikir 2x karena dirinya sendiri tidak memiliki amunisi dari senjata tersebut.
Suara tembakan dan juga tebasan terus menerus mengisi gang sempit itu namun sayangnya zombie yang datang semakin banyak. Kedua pemuda-pemudi itu tampak sangat kelelahan dan dapat terlihat dari tangan mereka yang gemetaran.
'Sial, Jika seperti ini tidak ada habisnya.' Pikir Naruto hingga sekelibat ide terlintas di fikirannya. Seketika pemuda itu berlari ke arah ransel miliknya dan mengeluarkan sebuah pistol berwarna putih dan meletuskan satu peluru hingga membuat 8 zombie terpental karena daya dorong dari senjata miliknya.
"Kuroka, Pergilah! Aku tau dimana villa milik keluarga Rias! Tinggalkan aku sendiri disini dan biarkan aku jadi umpan."
"Narut-"
"Pergilah!"
Walaupun dalam hatinya ada perasaan enggan namun melihat tekad di mata Naruto dirinya sendiri harus pergi.
"Jangan mati." Ucap Kuroka seraya menerjang beberapa zombie dan mulai berlari menjauh dari Naruto.
Crashh... Crashh...
"Maaf, Kurasa cukup untuk bermain dengan kalian." Ucapnya. Walaupun luka di tubuhnya mulai terasa sakit dan staminanya mulai menurun namun entah kenapa dengan tekadnya sendiri kedua kakinya masih bertahan.
...
...
Beberapa menit sudah berlalu, Puluhan tubuh zombie dan juga darah bercucuran disana. Gang sempit yang penuh dengan zombie beberapa menit yang lalu, Sekarang menjadi gang berdarah yang terlihat menyeramkan karena puluhan kepala tergeletak seperti sebuah bola di lapangan.
"Sial."
Narito, Pemuda yang mencoba menjadi umpan untuk temannya sedang terduduk dan bersandar di tembok. Kedua tangannya gemetar dan pakaian maupun wajah di penuhi dengan darah. Kedua tangannya sudah tak sanggup untuk bergerak.
Jlebb...
Tak di sangka 1 zombie yang masih hidup mulai mendekati dirinya dan sebuah mata pisau menusuk ke arah tengkorak kepala zombie itu.
"Hahahha..." Bukan tawa seorang psikopat melainkan tawa miris. Dirinya sendirian, Entahlah namun jika tewas disini dirinya sendiri tidak masalah karena sudah membiarkan satu temannya hidup namun...
"Naruto!"
Teman adalah seseorang yang tertawa bersama dan selalu membantu kala susah. Kuroka, Tak di sangka dirinya kembali untuk menyelamatkan dirinya.
