MONOLOG
A Marvel Studio's Loki Fanfiction
By NishiNomi
Author's note: Scene ini diambil dari episode akhir, tepat setelah Sylvie 'menendang' Loki kembali ke TVA, dengan fokus ke hal yang ingin Loki sampaikan pada Sylvie namun akhirnya tidak terucap. Tentunya dari segi romance.
Kita berdua mungkin orang yang sama di mata mereka, meskipun nyatanya tidak demikian. Atau mungkin juga benar adanya. Aku tahu betul kau pasti tidak akan sudi disamakan dengan sosok sepertiku. Karena begitu juga aku. Ya, begitulah kenyataannya. Tetapi, aku telah melihat sebagian dari perjalananku yang belum pernah kujalani. Barangkali kau tidak tahu bagaimana rasanya mengetahui sebuah kebenaran bahwa sesungguhnya dirimulah yang menjadi penyebab kekacauan yang terjadi selama ini, penyebab kau kehilangan sosok yang sebenar-benarnya kau cintai dari dalam lubuk hatimu, penyebab mengapa kau selalu sendirian. Ataupun bagaimana rasanya dirimu yang angkuh menyaksikan kematianmu sendiri, namun meski begitu kau masih memiliki sosok yang merasa sangat kehilanganmu, terlepas dari kebengisan yang telah kau lakukan selama hidup. Barangkali juga kau tidak peduli. Karena bagimu kita adalah orang yang benar-benar berbeda. Ya, aku sangat memahami itu. Hal itu terpantul jelas di matamu.
Aku bisa merasakan ambisimu yang hebat telah menguasai pikiranmu, menutupi hati nuranimu untuk melihat kebaikan yang ada di sekelilingmu. Bisa jadi sekarang ini bicara kepadamu juga akan sia-sia, karena kita berdua tahu bahwa kita ditakdirkan untuk tidak bisa saling mempercayai satu sama lain. Tapi, dengarlah. Aku hanya ingin kau baik-baik saja. Aku tidak ingin sesuatu yang lebih buruk dari ini, maupun sesuatu yang lebih buruk dari yang pernah kualami terjadi kepadamu.
Apa yang kurasakan saat ini, adalah yang pertama kali bagiku. Tak terpikir olehku bagaimana cara agar bisa mengutarakannya padamu. Tidak ada berkas dalam memoriku yang bisa kugunakan sebagai referensi untuk merangkai kata. Yang terpikirkan olehku saat ini adalah, aku tidak ingin kehilanganmu. Entah apa yang menyebabkan hal ini bersemayam di otakku, tapi semua ini terasa sangat nyata. Aku kau ingin tetap hidup, aku ingin kau tetap eksis di semesta ini. Pertemuan tak terduga denganmu ini membawaku ke titik di mana aku menyadari sesuatu. Begitu juga dengan dirimu bukan? Ya, aku tahu kau pasti tidak akan mau mengakui hal itu. Aku sangat tahu itu. Tapi berbeda denganmu, aku memilih untuk jujur dan mengatakannya padamu. Aku tak mau lagi dihantui rasa bersalah dan menyesal, jika sesuatu yang sangat buruk terjadi padamu karena aku membiarkanmu hanyut bersama dengan hasrat balas dendammu itu. Aku tahu aku egois, tapi aku benar-benar tidak ingin kau menghilang.
*
Pria semampai berambut hitam legam itu terduduk di lantai. Ekspresi wajahnya kaku, matanya menatap hampa, menelusuri langit-langit menuju sudut-sudut ruangan, meniti dari ujung lorong satunya ke ujung lorong lainnya. Tidak ada seorangpun di sana kecuali dirinya. Tentu saja, semua petugas TVA pasti sedang sibuk karena linimasa waktu sedang kacau. Loki terdiam membisu sembari menghela nafas. Matanya kembali memandangi langit-langit ruangan yang berhiaskan lampu berwarna kekuningan.
"…tapi aku bukanlah kau…"
Kata-kata terakhir Sylvie bergema kencang di kepalanya. Secara spontan Loki memejamkan matanya kuat-kuat sembari menundukkan wajahnya dalam-dalam, namun ia masih terdiam, tak bisa berkata sepatah kata, apalagi untuk berteriak. Kedua tangannya menopang kepalanya yang mulai terasa berat. Ia merasakan dadanya bergemuruh, sebuah sengatan tajam mulai menjalar ke sekujur tubuhnya. Kini tubuhnya gemetar, menyebabkan nafasnya menjadi berantakan tak beraturan, wajahnya perlahan memanas, memaksa kelenjar air matanya untuk menjalankan tugas yang semestinya. Loki meringkuk memeluk tubuhnya erat, dengan pilu. Lambat laun air mata mengalir di pipinya dan membasahi lengan kemejanya. Ia baru menyadari sebuah kepahitan lainnya, yaitu bahwa tidak ada seorangpun di dunia ini yang bisa mempercayai dirinya.
Sylvie…
Kumohon, tetaplah bersamaku…
