Sakura menghembuskan nafas berat yang sedari tadi ia tahan. Jaket cokelat tebal bermotif hitam legam yang ia kenakan tak lagi mampu melindungi dari hawa dingin kota Malang, kota tempat ia dibesarkan dan mencari nafkah.
Iris Jade milikinya bergulir kesana kemari memperhatikan pemandangan untuk mengusir rasa kebosanan. Tas yang tengah ia sedekap pun ia ketuk perlahan. Membentuk irama lagu asal untuk menghibur diri.
Hujan lebat beradu turun membasahi bumi dengan seru. tak terlihat akan reda dalam waktu dekat. Moment pas untuk terlelap dalam mimpi, tapi ia berusaha untuk tetap terjaga walau otak telah mengirimkan sinyal 'kantuk' padanya.
"Lho ada Bu Sakura, anda kok masih berada disini?"
Seorang Anggota Polisi berpangkat Aiptu menyapa Sakura yang sedang duduk sendirian di kursi teras halaman depan Kantor Polisi Resort. Pria berumur sekitar 30 tahun tersebut mengenakan jaket sama seperti yang Sakura kenakan. Pertanda ia adalah rekan satu profesi gadis itu.
"Ya ampun pak Rudi. Siap, maaf saya daritadi melamun sehingga tidak menyadari kehadiran bapak disini!"
Sakura segera berdiri dari duduknya dan memberi hormat pada atasannya. Sedikit terperangah akibat larut dalam lamunan.
Anggota Polisi berpangkat Aiptu yang dipanggil Rudi itu tertawa melihat tingkah Sakura.
"Kenapa anda tidak segera pulang, Apel pagi sudah setengah jam yang lalu berakhir dan setahu saya bu Sakura tengah mengambil cuti bukan?"
Demi Tuhan, sudah berapa orang yang tahu perihal pengambilan cuti yang Sakura lakukan seminggu lalu dan mulai berlaku hari ini? Dari kemarin banyak rekan dan atasannya bertanya perihal cuti.
"Siap benar, saya sedang menunggu dijemput oleh teman. Sebentar lagi orangnya sampai."
"Wah pasti teman yang menjemput anda sangat spesial ya sampai rela ditungguin setengah jam disini?" ucap Aiptu Rudi dengan nada menggoda. Matanya menyipit penuh makna.
Sakura tersenyum malu. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus. ia berusaha tidak terlihat salah tingkah di depan sang atasan. Malu dong!
"Bapak bisa saja ah, cuma teman biasa kok pak." Balas Sakura, berusaha ngeles dari anggapan yang tidak-tidak.
Aiptu Rudi tersenyum. "Ya sudah. Kalau begitu saya pamit pergi dulu. Jika masih lama Bu Sakura lebih baik menunggu di dalam kantor saja, udara sedang dingin hari ini. Repot juga kalau kena flu kan?"
"Siap mengerti, hati-hati di jalan pak!"
Sakura memberi hormat. Aiptu Rudi membalas hormat kemudian pergi berlalu meninggalkan gadis itu kembali sendiri.
"Sial, sampai mana sih si bodoh itu?"
Tangan mungilnya kembali memeriksa notifikasi salah satu aplikasi Chatting di Smartphone miliknya. Tak ada balasan terbaru dari orang yang sedang ia tunggu. 3 kali Panggilan masuk pun tidak dibalas.
Padahal di status kontak tertulis; terakhir terlihat 2 menit yang lalu. Artinya ia dengan sengaja mengabaikan pesan dan panggilan Sakura.
Menyebalkan.
"Aku sudah otw, tunggu 5 menit. Jalan dekat alun-alun macet parah!"
Pesan terakhir yang dikirim 30 menit lalu itu membuat Sakura geli. Dikira ia bodoh mungkin. Untuk apa lewat Alun-Alun di Utara Polres jika rumah yang bersangkutan tinggal ada di Selatan?
Sungguh membangongkan
"Persetan lah, pesan Ojol saja!" Tukasnya geram.
Sakura baru saja membuka aplikasi pemesanan Ojek Online sebelum sebuah suara masuk ke dalam indera pendengarnya.
"Sakura!"
Suara khas Baritone bernada tinggi. Sakura merasa familiar betul pada pemilik suara itu.
"Sakura, maaf aku terlambat!"
Ia berbalik dan menoleh. Menemukan seorang pria tinggi berambut pirang dengan seragam Loreng Malvinas yang basah kuyup terkena air hujan berlari membawa payung menaiki tangga menuju halaman depan Mapolres dimana sedari tadi Sakura setia duduk dan menunggu kedatangannya selama kurang lebih 2 jam.
"Eh... awas ba—
Tepat sebelum Sakura berhasil memperingatkan soal anak tangga yang licin karena air hujan. pria itu mendadak tergelincir dan jatuh berguling menuruni tangga. Kembali ke anak tangga pertama dimana ia mulai berlari untuk menjemput sang gadis.
—sah..."
Sakura melongo di tempat. Sementara si Pria tergeletak di atas keramik halaman Polres. Dengan payung dan handphone berserakan di sekitar tubuhnya.
Dan disaat seperti ini si pria masih sempat mengulas senyum ke arah si gadis berambut merah muda. seolah berkata ia tidak apa-apa.
"Naruto goblok!"
*
*
*
*
Bersambung
Catatan Leopard:
Hai, selamat datang di Fict terbaru saya. Mungkin kalian bertanya-tanya, kenapa saya bikin Fict baru padahal Fict Story From The Desert masih on going? Well saya pingin coba explore bikin cerita yang berlatar belakang Militer Indonesia sih. Dan masih menggunakan ship NaruSaku. Semoga kalian suka, silahkan kritik sesuka hati klean di kolom komentar jika ada alur cerita, istilah maupun penulisan yang kurang berkenan.
Sampai jumpa di Chapter selanjutnya!
