"Masih sakit?"
Naruto menyeka sedikit alkohol yang tersampir di ujung lengannya. Di depannya ada Sakura yang menatap dirinya dengan pandangan khawatir. Wanita itu mengusap luka pada ujung pipi si pria berambut kuning menggunakan kapas bercampur Alkohol.
Secara telaten Sakura membersihkan noda darah yang tersisa. Beberapa kali membuat Naruto mendesis akibat rasa perih dari reaksi Alkohol saat bertemu dengan bekas luka yang masih segar.
"Kau bodoh..."
"Apa?"
"Ya kau bodoh, sudah telat menjemput pakai acara jatuh lagi. Untung saja hanya luka di pipi, kalau kepalamu terbentur paving terus amnesia bagaimana?"
Sakura begitu lancar dalam mengantarkan barisan kalimat Sarkasme dari bibirnya.
"Yah kalau itu sampai terjadi aku akan sangat menyesal hingga seumur hidup." Balas Naruto. "Karena berarti aku harus melupakan kecantikan wajahmu selamanya, Saki."
Wajah Sakura memerah. Ia berusaha menutupinya dengan memalingkan wajah ke samping berpura-pura hendak mengambil kapas baru. Naruto melihat itu dan secara jahil mencubit perut Sakura.
"Ih apaan sih, Jangan berbuat macam-macam ya!"
"Aku tidak berbuat macam-macam Saki, di seragammu ada semut. Aku ambil dan buang itu saja." Kilah Naruto asal.
"Dasar pembual mata keranjang, dan aku peringatkan sekali lagi jangan panggil aku Saki, Aku risih mendengarnya!"
"Hohoho, baiklah, aku tidak akan memanggilmu dengan nama itu lagi Saki."
"ASTAGA KAU— AKAN KULEMPAR KAU KE SEL JERUJI SEKARANG JUGA DEMI TUHAN!!!"
Naruto tertawa lepas melihat karakter Sakura tengah lepas kendali begitu saja setelah ia menggodanya dengan beberapa hal. Orang mungkin tidak akan menyangka jika Polisi seperti Sakura yang terkenal disiplin, ramah juga tegas terhadap atasan maupun bawahan bisa sangat Out of The Character di kehidupan sehari-hari.
Ia menyukai sikap Sakura yang walaupun menggambarkan seorang Polisi teladan Masyarakat jika berhadapan dengan orang lain namun bisa berubah sebaliknya jika hanya berdua bersama dirinya. Sakura berubah jadi pemarah, ceroboh, suka mengancam, hipokrit dan sumbu pendek. Layaknya gadis SMA baru puber.
Apakah ia merasa terganggu? Sangat tidak! Naruto malah menyukai sikap Sakura di luar profesinya sebagai seorang Polisi. Terasa lucu saja dan Sakura yang "asli" sangat mudah untuk dijahili seperti tadi.
"Iya-iya aku minta maaf S A K U R A. sebagai bukti permintaan maaf ku yang tulus kau boleh meminta apa saja dariku pada hari ini."
Raut wajah Sakura berubah seketika saat Naruto memperbolehkan dia untuk meminta apa saja yang ia mau.
"Serius nih?"
"Serius lah!"
"Kalau begitu aku minta kau berlari bugil di depan kantor Waliko—
"Revisi! Tidak boleh ada permintaan yang mengandung unsur pelecehan, SARA, perundungan serta pelanggaran norma masyarakat." Potong Naruto cepat sebelum Sakura berhasil menyelesaikan kalimatnya.
"Apa? Kenapa kau seenak udel bisa mengubah-ubah janji??!!"
"Janjiku peraturanku, kalau kau mau protes ya monggo. atau lebih baik tidak usah saja."
Sakura mendengus. Naruto pintar sekali mempermainkan kata. Ia tidak mungkin membiarkan pria itu membatalkan janjinya hanya karena peraturan menyebalkan yang ia buat mendadak.
Ia memutar otak memikirkan permintaan apa ya dirasa cukup setimpal untuk membalas kejahilan Naruto padanya seharian ini
Berpikir Sakura, berpikir!"
Seorang tukang bakso melewati mobil yang mereka tumpangi dari arah belakang. Sakura melihatnya dan tiba-tiba sebuah ide muncul.
"Baiklah, aku turuti syarat itu."
Naruto tersenyum. Sementara Sakura berteriak girang dalam hati.
Pria itu telah masuk ke dalam jebakan mautnya.
"Jadi..." Naruto menyalakan mesin mobil. siap pergi kemana saja sesuai permintaan sang wanita berambut merah muda. "Sudah memutuskan mau kemana?"
"Antar aku ke warung soto langganan kita, sekarang!"
*
*
*
*
Suara sendok dan garpu beradu seru dari salah satu meja di sebuah Warung Soto legendaris di tengah kota malang. Sepasang Polisi dan Tentara berpakaian dinas duduk tengah duduk sambil menyantap seporsi soto ayam Lamongan hangat ditemani segelas Es Teh dengan khidmat.
Lebih tepatnya 4 porsi. 3 untuk sang dan satu untuk sang Tentara.
Naruto takjub dengan porsi makan Sakura. Wanita itu tengah menghabiskan mangkuk soto terakhirnya. 2 mangkuk soto lain telah ludes ditambah 1 mangkuk tetelan ayam kampung dan 10 tusuk jeroan usus dan hati.
Luar biasa, ia jadi teringat seorang YouTuber yang gemar membuat konten mukbang berbagai macam makanan dalam porsi besar. Mungkin Sakura bisa menyalurkan bakat terpendam ini ke YouTube. Siapa tahu hasilnya lebih menjanjikan dari gaji dari Kepolisian sekarang.
"Uwahhhhhh, kenyaannnnggg."
Sakura menepuk perut yang kini telah sedikit membesar terisi segala macam makanan yang tadi ia santap. Ia meneguk segelas es teh hingga tandas sebagai penutup hidangan.
"Sudah kenyang?" Tanya Naruto.
Sakura mengangguk pelan. Matanya sayu sementara tubuhnya lemas. Berdiri saja malas sekali. Berat badannya serasa bertambah hingga belasan kilo setelah ini.
Tapi rasanya enak sekali. Ia sampai tidak puas hanya makan satu mangkuk. Penggila soto Lamongan dan jeroan seperti dia harus minimal dipasok lebih dari 1 mangkuk soto lengkap dengan jeroan dan es teh, kurang dari itu maka percuma, tidak mampu memuaskan diri.
"Tunggu sebentar, pesanan mama belum selesai dibuat."
Pesanan?
"Kamu pesan buat mama?" Naruto kembali bertanya, kali ini dengan nada bicara serius. Sakura menjawab dengan menganggukkan kepala ( lagi )
"Aku pesan satu, baru ingat kalau mama juga suka soto sepertiku."
"Cuma satu?" Ucap Naruto keheranan. "Lalu papamu? Sasori? Tidak dibelikan?"
Pria berambut kuning itu kenal betul keluarga Sakura. Mereka punya kegemaran makanan yang sama soal makanan dan Sakura begitu loyal pada keluarga. Ia selalu ingat dengan mereka dan mengambil lebih jika membeli sesuatu.
"Mereka berdua sedang tidak berada di rumah."
"Oh."
Naruto menggaruk kepala. Entah mengapa suasana berubah menjadi canggung.
Sembari menunggu pesanan soto yang dibungkus mereka berdua tampak sibuk dengan Smartphone masing-masing. Naruto sedang membaca pesan WhatsApp sementara Sakura melihat Postingan dari beberapa temannya di Instagram.
Dari antara puluhan post dari teman-teman satu angkatan kepolisian ada satu postingan dari Sahabatnya yang menarik atensi Sakura. Ia menggeser tempat duduk mendekat menuju Naruto di sebelah, memperlihatkan isi postingan itu.
"Yuni akan menikah." Ucap Sakura. Telunjuknya mengusap sebuah foto Pre Wedding di akun seorang sahabatnya.
Naruto mengalihkan pandangan dari aplikasi WhatsApp. Ia memandang postingan yang diperlihatkan Sakura. Foto sepasang lelaki dan perempuan berpose elegan sambil mengenakan pakaian formal dengan latar taman bunga. Si lelaki memakai seragam PDH TNI Angkatan Darat lengkap.
"Lihat siapa pasangannya." Sakura kini menunjuk wajah si pria yang menjadi pasangan sahabatnya.
"Siapa? Aku tidak kenal." Balas Naruto.
"Dia teman SMA ku yang masuk Akmil tahun 2017." Terang Sakura. "Orang Banjarmasin. Sekarang dinas di Kostrad. Karirnya moncer sekali."
Naruto tak merespon. Ia kembali membaca pesan yang masuk pada kontak WhatsApp. tapi tak lagi fokus seperti tadi.
"Yuni begitu beruntung, aku tidak bisa membayangkan waktu Pedang Pora mereka berdua lewat dibawah ayunan pedang terus difoto. Pasti keren sekali!!"
Sakura begitu girang membayangkan prosesi pernikahan sang sahabat. Walau ia tak bisa hadir karena jarak dan waktu. Yuni menikah di Semarang seminggu lagi dan Sakura tak bisa mendapat cuti lebih untuk pergi ke sana. Jadilah ucapan selamat Online dan bingkisan parsel ia kirim melalui jasa kurir ke Semarang pada pasangan pengantin itu.
Yuni sendiri berjanji akan mengirim video full prosesi akad nikahnya pada Sakura. Sedikit bisa mengobati kekecewaan karena tidak bisa hadir dalam proses paling sakral dalam hidup sang Sahabat.
Padahal ia dan yang lain sudah sepakat menjadi pagar ayu dalam acara resepsi dan ngunduh mantu Yuni. Sekarang semua sia-sia.
"Maaf ya aku tidak bisa memberimu pernikahan seperti itu..."
Naruto tiba-tiba berkata dengan nada dingin. Iris Sapphire miliknya terus menatap layar Smartphone.
Hatinya sedikit terusik saat Sakura menyebut "Pedang Pora". Sebuah prosesi sakral untuk perwira Militer yang akan melepas masa lajang pada wanita pilihan mereka.
Sekilas memang tidak ada yang salah. Namun ketika Sakura terlihat begitu iri pada sang sahabat hingga mendambakan prosesi itu. Makna kata "Pedang Pora" sudah berbeda di pikiran pria berambut kuning tersebut.
Seakan Sakura menyindir Naruto secara terang-terangan.
Ya, ia bukan seorang Perwira lulusan Akmil atau Secapa. Di seragam PDL yang sekarang ia kenakan hanya ada 3 segitiga merah. Berbeda jauh dengan pasangan dari sahabat Sakura dalam foto yang memakai satu balok emas di seragam miliknya.
"Kamu iri?" Sakura mematikan Smartphone lalu menatap kearahnya.
"Gak."
Bohong.
Naruto sadar ia tak mungkin bisa berbohong di depan Sakura. Ego lah yang memaksa dia berbuat demikian.
Keheningan melanda. Baik Sakura maupun Naruto tak berminat melanjutkan obrolan.
Naruto mendecak kesal. "Sotonya lama sekali astaga. Apa mereka bikinnya pakai sendok teh?"
Tepat setelah itu ia merasa ujung lengan seragamnya ditarik cukup kuat. Ia segera menoleh dan menemukan Sakura tengah melakukan sesuatu terhadap seragam miliknya.
Rupanya sebuah selotip hitam kecil telah Sakura tempel di bagian lencana kepangkatan. Wanita itu tidak mengatakan apapun setelah menempel selotip ke seragam Naruto melainkan juga menempelkan selotip itu ke seragamnya sendiri.
Naruto terheran-heran. Tetapi sebelum ia membuka mulut Sakura sudah terlebih dahulu membuka percakapan.
"Sekarang orang lain tidak akan tahu pangkat apa yang kita punya." Jemari Sakura menggenggam telapak tangan pria itu erat. "Aku tidak peduli kamu seorang Kopka, Pratu atau Prada sekalipun, di mataku kamu tetap Naruto, pacarku sekaligus tunanganku dari TNI-AD."
"Pedang Pora? Aku tidak menginginkannya. Aku hanya kagum pada prosesi itu, Yuni selalu bercerita tentangnya dan itu membuatku ikut senang sebagai sahabat."
Naruto tak lagi bisa menyembunyikan senyum yang sedari tadi ia tahan. Pelukan erat dihamburkan pada tubuh ramping Sakura.
Oh ya Tuhan, begitu beruntung ia mendapatkan wanita ini. Tidak hanya cantik secara fisik, Sakura sangatlah pengertian dan tidak menuntut.
Begitu besar perbedaan diantara mereka berdua dan wanita itu masih setia pada Naruto hingga selama ini.
Rasanya seperti hidup dalam dunia mimpi...
Pelukan Naruto tanpa ia sadari makin mengerat. Membuat Sakura memukul dadanya pelan karena kesulitan bernafas.
"Hei lepasss. malu tau diliatin orang!"
Naruto segera sadar bahwa ia memeluk Sakura di hadapan umum. Beberapa pelanggan warung yang melihat tampak berkasak-kusuk membicarakan mereka. Sontak saja Naruto melepas pelukan itu dan berdehem agak keras. Memperingatkan pelanggan lain agar tidak berpikir aneh-aneh pada mereka berdua.
"Maaf mbak, mas. Ini sotonya sudah jadi."
Ibu penjual soto menghampiri mereka sambil membawa kresek berisik satu porsi soto yang telah dibungkus untuk dibawa pulang.
"Berapa semua Bu?" Naruto mengeluarkan dompet, siap membayar tagihan.
"92 ribu mas."
Ia mengeluarkan 1 lembar seratus ribuan. Menyerahkannya pada si ibu penjual soto. "Ambil saja kembaliannya Bu."
"Oh ya ampun, terimakasih mas. Sudah ganteng, baik lagi."
Dipuji seperti itu membuat kadar narsis Naruto meningkat 2 kali lipat. Ia tertawa kecil sambil melipat kedua tangan di pinggang. Berlagak seperti baru menyumbang seluruh hartanya untuk sedekah pada kaum dhuafa.
Yaelah 8 rebu doang.
Setelah basa basi singkat dengan ibu penjual soto Naruto dan Sakura beranjak keluar dan bergegas menuju mobil di area parkiran yang berjarak beberapa puluh meter. Di sepanjang perjalanan menuju parkiran Naruto tak henti hentinya membahas soal betapa 'Dermawan' dirinya karena mengikhlaskan uang kembalian di warung soto tadi.
"Begitulah Saki, kita tidak boleh perhitungan soal uang pada orang lain."
Sakura berusaha menghiraukan ocehan sok bijak Naruto dengan memasang earphone di telinga. Namun tetap saja suara menyebalkan pria itu menyusup masuk ke dalam gendang telinganya.
"Prinsip hidupku soal uang sangatlah simple." Naruto berbicara dengan nada seperti motivator kondang Indonesia, Mario Sepuh. "Dibalik sumbangan dan uang yang aku berikan ada rejeki untuk orang lain."
Ia mengatakannya dengan nada penuh percaya diri.
"Serius nih?"
Mereka berdua telah sampai ke parkiran tempat mobil mereka diparkir. Sakura mendadak menahan lengan Naruto yang hendak membuka kunci mobil.
"Iyalah, aku kan sudah bilang itu prinsip hidupku."
Dengan gesit tangan Sakura menelusup di dalam kantong celana Naruto dan mengambil dompet pria itu. Naruto yang tidak siap hanya bisa melongo melihat Sakura membongkar isi dompet kulit berwarna cokelat miliknya.
"Wah ada yang baru ambil uang ternyata." Wanita itu menarik segepok uang dari dalam kantung dompet. Ia lalu menghitung lembaran demi lembaran uang kertas rupiah itu.
"Banyak juga duit kamu. pantesan dermawan banget tadi ya!" Sakura memasukkan uang tadi ke dalam dompet miliknya. Sementara dompet milik Naruto ia kembalikan pada sang pemilik yang seperti hendak menangis melihat kondisi dompet tersebut sekarang.
Kosong.
Sakura benar-benar menggasak semuanya. Ia hanya meninggalkan surat penting seperti KTP dan SIM, bekas struk Alfamart dan beberapa koin receh.
"Saki, uang itu sebenarnya akan aku gunakan untuk—
"Untuk Belanja bukan? Kamu perhatian banget deh, tahu aja aku pingin baju baru."
Sakura mengatakan itu sambil tersenyum bak malaikat namun dengan aura iblis.
"Inget lho, kamu sendiri yang bilang tadi, uangmu adalah rejeki untuk orang lain. Berarti uang ini adalah rejeki ku!"
Pria berambut kuning itu kehilangan kata-kata. Ia termakan omongannya sendiri.
Dan seperti yang bisa ditebak, Naruto hanya bisa mengiyakan permintaan Sakura dengan lesu. Mereka berdua segera masuk ke dalam mobil dan berkendara menunju pusat perbelanjaan.
Di dalam mobil 2 raut wajah yang sangat bertolakbelakang hadir di kursi kemudi dan penumpang. Sakura, yang dengan semangat menceritakan soal pernikahan sang Sahabat, sementara Naruto... Entah dia masih bisa dikatakan sadar atau tidak. Karena iris Sapphire pria itu memandang kosong jalanan di depan dari balik stir tanpa arti.
Duh
Tamat sudah keinginannya membeli Action Figure baru.
Dan sekarang Naruto hanya bisa berdoa. Berharap Sakura menunjukkan sedikit belas kasihan padanya dengan tidak menghabiskan seluruh uang itu di meja kasir butik favoritnya.
*
*
*
*
Bersambung
