END OF SAIL
Cast : Chosokabe Motochika, Date Masamune, Maeda Keiji, Katakura Kojuuro, Tokugawa Ieyasu
Pairing : Motochika x Masamune
Genre : Drama, Angst
Rating : K+/T
Disclaimer : All characters belong to CAPCOM
Warning : boy's love, OOC, typos. Don't like, don't read!
Musim semi yang sejuk di Istana Iwadeyama...
Para tukang kebun dan pemelihara taman terlihat sibuk membersihkan sisa salju yang masih menutupi bagian taman istana. Karena akan menyambut bunga-bunga yang bermekaran, mereka memastikan taman harus dalam keadaan bersih dan indah. Apalagi nanti di istana ini, akan ada sebuah perayaan besar.
Pernikahan Date Masamune dengan seorang putri bernama Megohime...
Di akhir musim dingin, tepatnya di akhir tahun kemarin, pemimpin klan Date itu telah melangsungkan pertunangan dengan putri dari klan Tamura itu. Sebagai daimyo yang sangat menyukai musim semi, dia ingin pernikahannya diadakan dengan hiasan bunga-bunga cantik yang didapat dari taman istananya. Tidak hanya itu, keseluruhan komplek istana ini sedang bersolek, seakan bersiap memeriahkan acara besar tuan rumahnya. Seragam para prajurit akan diganti, tatanan rumah akan diatur kembali. Juru masak dan para pekerja dapur pun juga sibuk mempersiapkan daftar hidangan yang akan disajikan untuk para tamu. Satu bulan dari sekarang, semua persiapan harus sudah matang dan tidak boleh mengecewakan siapa pun yang hadir.
Di suatu pagi, Masamune sedang duduk di depan kamar dan menghadap taman istananya yang sedang dirapikan. Ditemani secangkir teh hangat dan kue beras, dia tengah membaca daftar undangan yang sudah disebar ke seluruh penjuru Jepang. Hampir seluruh daimyo dan pejabat negara diundangnya, tidak terkecuali Shogun Tokugawa Ieyasu. Semua undangan sudah disebar sejak beberapa hari yang lalu. Balasan demi balasan berdatangan kepadanya, dan mereka menyatakan bersedia hadir di acara pernikahannya.
Di tengah keheningannya, dia kemudian dihampiri oleh Katakura Kojuuro, "Masamune-sama, Anda kedatangan tamu di aula utama."
"Siapa yang datang?" tanya Masamune tanpa menoleh kepada Mata Kanannya.
"Yang Mulia Shogun Tokugawa Ieyasu dan Pemimpin Kaga Maeda Keiji."
Begitu nama Shogun disebut, Masamune langsung menghentikan semua urusannya dan bergegas ke aula utama istananya. Kojuuro dengan sigap langsung memakaikan haori kepada tuannya karena pakaian yang dikenakannya sekarang bukan pakaian dinasnya.
Tiba di aula istana, Masamune langsung bersimpuh dan membungkuk memberi hormat kepada Shogun Tokugawa Ieyasu, "Selamat datang, Yang Mulia Shogun. Mari ikut saya ke ruang jamuan minum teh."
Para tamu kemudian diajak Masamune ke ruang jamuan minum teh yang terletak tidak jauh dari taman istana. Shogun Tokugawa Ieyasu sangat menyukai pemandangan di taman ini. Ketika tiba di ruang jamuan, dia meminta kepada Masamune untuk tidak menutup pintu karena dia ingin melihat taman saat sedang berbincang-bincang nanti.
"Maaf tidak memberimu kabar terlebih dulu, Dokuganryu. Aku melihat istanamu begitu sibuk. Aku harap kedatanganmu tidak mengganggu segala persiapan yang sedang kau lakukan menjelang pernikahanmu," kata Ieyasu.
"Merupakan suatu kebanggaan bisa menerima kedatangan Yang Mulia Shogun di Istana Iwadeyama yang sederhana ini. Mohon maaf apabila kesibukan di istana ini sedikit mengganggu kenyamanan kunjungan Anda," kata Masamune sambil memberi hormat sekali lagi.
"Berbicaralah sebagaimana kau berbicara dengan temanmu. Kedatanganku kemari kali ini bukan sebagai Shogun yang harus kau segani, melainkan sebagai seseorang yang sudah mengenalmu sejak lama."
Masamune tertawa lembut menanggapinya dan berkata, "Jabatanmulah yang menuntutku untuk berbicara seperti itu, Shogun-san. Aku terkejut kedatanganmu kemari diikut oleh Tuan Pengembara dari Kaga."
"Apa kabarmu, Dokuganryu? Jangan ragu meminta bantuanku untuk menyiapkan pesta pernikahanmu. Aku dan keluargaku siap memberikan bantuan apa pun yang kau butuhkan," sambung Maeda Keiji.
"Terima kasih banyak atas bantuan yang kau berikan selama ini, Tuan Pengembara. Aku pastikan kau mendapat tempat duduk istimewa di hari pernikahanku nanti untuk mendampingi Shogun."
Pembicaraan mereka terhenti sejenak ketika seorang pelayan istana datang menyuguhkan teh dan makanan ringan untuk para tamu. Setelah pelayan itu pergi, Ieyasu kembali meneruskan perbincangan, "Apakah para daimyo sudah membalas semua undanganmu, Dokuganryu?"
Demi menjawab pertanyaan Ieyasu, Masamune meminta Kojuuro untuk mengambil daftar nama tamu undangan di kamar tidurnya. Dia lalu berkata, "Ya, sebagian besar para daimyo sudah memberi jawaban atas undanganku. Beberapa dari mereka menyanggupi untuk hadir, dan tidak sedikit pula mengatakan tidak bisa hadir karena jarak yang jauh. Ah, ada pula yang tidak mau hadir karena masih berselisih denganku. Keh! Tidak kusangka permasalah di masa lalu masih menjadi alasan bagi mereka tidak ingin menjalin hubungan baik denganku."
Ieyasu tertawa dan berkata, "Selama mereka tidak melakukan hal yang merugikanmu, aku rasa sebaiknya tidak usah dipedulikan. Kau punya urusan lebih penting daripada memikirkan mereka."
"Keluarga Maeda juga sudah mengirim balasan padamu, Dokuganryu. Tak lama undangannya sampai pada kami, di hari itu juga kami langsung membalas. Jika tidak ada halangan, aku akan datang bersama Toshie dan Matsu Nee-chan."
"Sampaikan salamku kepada mereka jika kau kembali ke Kaga nanti, Maeda."
Kojuuro kembali ke ruang tamu dan menyerahkan daftar tamu undangan kepada Masamune. Naga Bermata Satu itu berkata, "Aku menandai semua nama daimyo yang sudah mengirim balasan atas undanganku, Shogun-san. Kau boleh memeriksanya."
Ieyasu mengambil beberapa lembar kertas berisi daftar nama undangan yang dicatat oleh Masamune. Satu persatu nama diperhatikan, sampai dia berhenti di satu nama yang sangat dikenalnya. Dia lalu berkata, "Aku tidak melihat tanda di nama Chosokabe Motochika. Apa kau sudah mengirim undangan padanya?"
Begitu mendengar nama itu disebut, Masamune memilih untuk tidak mengatakan apa pun dan membiarkan Ieyasu membaca sampai habis daftar namanya. Dia sudah menduga Ieyasu akan menanyakan hal ini. Sebagai Shogun, dia tentunya mengenal semua orang yang namanya tertera di daftar itu.
"Boleh aku lihat?" Keiji lalu merapatkan duduknya ke dekat Ieyasu dan ikut membaca nama-namanya. "Oh ya! Nama Motochika belum kau tandai, Dokuganryu."
"Aku yakin sudah memeriksa nama-nama ini tanpa ada satu yang terlewat. Hanya nama Motochika saja yang tidak ditandai. Aku tanya sekali lagi, apakah kau mengirim undangan ke sana, Dokuganryu?"
Merasa dirinya tersudut, dan masih enggan untuk menjawab, Naga Bermata Satu itu menoleh kepada Kojuuro dan memberi isyarat untuk menggantikannya memberikan penjelasan kepada Ieyasu. Mata Kanan Naga itu mengangguk dan berkata, "Semua undangan sudah disebar secara bersamaan di awal bulan kemarin. Jumlah undangan sudah disesuaikan dengan daftar nama yang dibuat Masamune-sama, termasuk Chosokabe Motochika. Cepat atau lambatnya balasan yang diberikan tergantung lokasi para daimyo. Namun sampai hari ini, kami belum menerima balasan dari pihak Shikoku. Kami sudah mengirim tiga kurir dan semuanya kembali dengan tangan kosong. Bahkan salah satu kurir kembali membawa undangan kami."
"Begitu rupanya. Apakah ada pesan dari pihak Shikoku meski undangan itu tidak sampai diterima oleh Motochika?" tanya Ieyasu penasaran.
"Pesan tertulis maupun lisan juga tidak disampaikan kepada kami, Yang Mulia."
"Berarti bisa saja undangan itu tidak disampaikan langsung kepada Motochika, dan kurirmu langsung diminta kembali ke Oshu. Apakah mereka pulang dalam keadaan selamat?" sambung Keiji ikut bertanya.
"Ya, kurir kami semua kembali dalam keadaan selamat. Saya pun memberi perintah kepada mereka untuk tidak memaksa apabila pesan dari Oshu tidak diterima oleh pihak Shikoku."
"Apakah sebelumnya Motochika pernah berkabar ke Oshu?"
Setelah terdiam cukup lama, Masamune akhirnya menatap Ieyasu dan berkata, "Kami rutin berkirim surat, baik urusan kenegaraan maupun urusan pribadi. Aku bahkan menyimpan semua surat-surat yang dia kirim. Terakhir kami berkabar adalah setelah aku melangsungkan pertunangan dengan Megohime."
"Oh, berarti dia tahu kau sudah bertunangan ya. Sudah pasti dia tahu kau akan menikah. Seharusnya tanpa undangan pun tidak masalah. Aku yakin dia pasti datang di pernikahanmu, Dokuganryu," kata Keiji mencoba menarik kesimpulan dari kejadian ini.
"Tetapi di surat terakhir yang aku kirim, aku belum mengatakan tanggal dan bulan berapa aku akan menikah. Aku hanya mengatakan sudah bertunangan dan akan mengirim undangan jika sudah ditentukan tanggal pelaksanaannya. Beberapa hari kemudian suratku di balas dan dia mengucapkan selamat atas pertunanganku. Dia juga bilang akan menunggu undangan yang aku kirim."
Ieyasu lalu berkata, "Jika memang dia menanti undangan darimu, seharusnya tidak ada kejadian seperti ini. Pertunanganmu berlangsung di akhir musim dingin tahun kemarin. Sekarang sudah masuk musim semi, berarti..."
"Apakah ada sesuatu yang terjadi di sana, Ieyasu?"
Ketiganya kemudian diliputi keheningan, mencoba memikirkan apa yang sedang terjadi di Shikoku. Chosokabe Motochika mempunyai ikatan yang erat dengan ketiga orang pembesar ini. Memang pada perang Sekigahara, dia tidak terlibat karena memutuskan untuk tidak memihak ke mana pun. Jadi bisa dibilang, pertemuan terakhir mereka adalah sebelum perang Sekigahara. Di sisi lain, Ieyasu mengetahui hubungan istimewa yang dijalin oleh Masamune dan Motochika. Dia bisa memahami mengapa Naga Bermata Satu itu sangat memikirkan hal ini. Dia sangat mengenal Masamune sebagai orang yang tidak mau ambil pusing untuk perkara yang tidak besar. Tetapi jika ini menjadi sebuah topik perbincangan pribadi yang serius, maka ini bukanlah hal kecil untuk dipikirkan olehnya.
"Naa, Ieyasu, aku ingin mengajukan permintaan padamu," ucap Masamune kemudian memecag keheningan di antara mereka.
"Sebutkan permintaanmu, Dokuganryu," kata Ieyasu.
"Aku tidak tahu apakah masalah ini patut diselesaikan atau tidak. Memang ini bukan perkara yang besar. Pernikahanku akan tetap berlangsung meski tanpa kehadirannya. Tetapi entah mengapa aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Setiap kali memeriksa daftar nama undangan, mataku selalu berhenti di nama Saikai no Oni yang belum kutandai."
Masamune lalu beringsut maju dan mendekat di hadapan Ieyasu. Dia membungkuk dan bersujud dan berkata lirih, "Help me, Shogun-san. Jika memang pernikahanku harus berlangsung tanpa kehadirannya, paling tidak aku harus tahu apa yang sedang terjadi di sana."
"Masamune-sama, jangan lakukan itu—"
"Duduklah dengan tegak, Dokuganryu. Aku mohon jangan seperti ini!" tukas Ieyasu cepat, bersamaan dengan Kojuuro yang langsung menarik Masamune untuk duduk tegak menghadap Ieyasu. Keiji juga ikut berpindah duduk dari samping Ieyasu ke dekat Masamune.
"Kau daimyo besar, Dokuganryu. Tidak sepatutnya kau melakukan ini," kata Keiji mencemaskannya.
"Maeda benar, Masamune-sama. Biar saya yang bersujud di depan Yang Mulia Shogun dan mengajukan permintaan Anda. Saya tidak bisa melihat Anda merendah di depan orang lain!" kata Kojuuro.
"Sudah cukup lama aku tidak mempedulikan perasaan ini karena urusan kenegaraan dan persiapan pernikahan. Tetapi semua kesibukan itu aku kerjakan supaya bisa menghilangkan rasa cemas ini."
Setelah semuanya sudah tenang, Ieyasu lalu berkata, "Aku mengerti perasaanmu, Dokuganryu. Jika aku ada di posisimu, aku pasti akan merasa gelisah juga. Motochika adalah orang yang mempunyai hubungan baik dengan kita. Tentu saja kehadirannya sangat diharapkan di hari pernikahanmu."
"Maka itu aku mengajukan permintaan padamu, Shogun-san. Bukan sebagai aparat negara, melainkan sebagai teman baik. Aku ingin kau membantuku menyelesaikan masalah ini. Waktuku tidak banyak sampai di hari pelaksanaan pernikahan nanti."
Tidak butuh waktu lama bagi Ieyasu mengambil keputusan karena ini menyangkut teman baiknya. Dia lalu berkata dengan tegas, "Besok kita berangkat ke Shikoku. Mengingat masih banyak hal yang harus dipersiapkan untuk pernikahanmu, supaya cepat selesai urusannya, maka tidak ada waktu yang lebih tepat selain besok pagi."
"Keputusan bagus, Ieyasu! Aku setuju!" sahut Keiji bersemangat.
"Alright, kita akan temui Iblis Laut Barat besok di rumahnya. Perjalanan panjang ini semoga membawa hasil yang baik untuk kita," kata Masamune sambil tersenyum lega karena permintaannya dikabulkan.
"Katakura-dono, aku ingin kau tetap mendampingi Dokuganryu sampai di Shikoku."
"Apakah saya diperbolehkan untuk ikut, Masamune-sama?" tanya Kojuuro.
"Sure! Tak ada orang yang lebih bisa menenangkanku kecuali kau seorang. Namun sebelum berangkat, kau perlu berbicara dengan semua orang yang terlibat dalam persiapan pernikahanku. Pastikan saat kita sudah kembali dari Shikoku nanti, semuanya sudah matang tanpa ada satu masalah pun yang menghalangi."
"Baik, Tuanku!"
"Aku harap permintaanku tidak mengganggu tugas-tugas kenegaraanmu, Shogun-san. Ah, aku harap juru masak istana sudah selesai menyiapkan hidangan makan siang. Kojuuro akan mengantar kalian untuk pergi ke ruang makan. Aku akan menyusul kalian karena harus berganti pakaian dulu."
"Dengan senang hati, Dokuganryu," jawab Ieyasu sambil tersenyum.
"Wah, sudah masuk waktu makan siang rupanya! Tidak terasa kita berbincang-bincang sampai tengah hari begini," kata Keiji kemudian berdiri untuk meregangkan otot-ototnya.
"Kalian menginaplah di kediamanku demi mempersingkat waktu. Akan aku minta orang-orang istana menyiapkan ruang istirahat terbaik untuk kalian."
Ieyasu dan Keiji kemudian keluar dari ruang tamu diantar oleh Kojuuro. Sedangkan Masamune akan kembali ke kamar untuk berganti pakaian. Ketika sedang berjalan menuju ruang makan, Kojuuro bertanya kepada Ieyasu, "Yang Mulia Shogun, mengapa Anda ingin membantu Masamune-sama menyelesaikan masalah ini?"
Shogun itu lalu menjawab, "Kau bisa melihat raut wajah tuanmu, Tuan Mata Kanan Naga. Selama yang aku tahu, Dokuganryu bukanlah orang yang mudah sedih. Tetapi hari ini, untuk pertama kalinya aku melihat dia seperti kehilangan harapan."
"Masamune-sama sering mengeluh kesulitan tidur setiap malam karena masalah ini. Saya sudah mencoba mengingatkan beliau untuk tidak terlalu memikirkannya. Tetapi karena tidak menemukan jalan keluar, saya khawatir ini malah akan semakin menyiksa batinnya."
"Karena itu, sebagai orang-orang yang dekat dengannya, kita akan membantunya supaya dia tidak lagi menunjukkan raut wajah yang seperti itu lagi. Kau tentunya ingin melihat tuanmu berbahagia di hari pernikahannya, bukan, Katakura-dono?"
-to be continued-
