Author's note : di chapter 2 ini, ada tokoh yang saya hadirkan untuk melengkapi cerita. Yaitu adik kandung dari Chosokabe Motochika, Kira Chikasada. Namun saya akan menggunakan nama Chikasada saja, dan tidak menggunakan nama marganya. Seluruh peristiwa dan percakapan yang ada di cerita ini adalah murni karangan saya. Tidak ada sangkut paut pada sejarah aslinya. Terima kasih, selamat membaca...


Butuh kurang lebih 3 hari untuk bisa tiba di Shikoku dari Oshu. Date Masamune bersama Shogun Tokugawa Ieyasu, Katakura Kojuuro, dan Maeda Keiji telah menempuh perjalanan panjang yang sangat melelahkan. Keberangkatan mereka tidak dikawal oleh banyak prajurit. Bahkan dari pihak Shogun hanya membawa 5 orang pengawal saja. Karena kunjungan mereka ke Shikoku bukan kunjungan resmi atau peperangan, melainkan kunjungan persahabatan.

Ieyasu mendapati Shikoku dalam keadaan aman dan terkendali, seperti tidak sedang dilanda masalah atau musibah. Saat menyusuri jalan menuju kediaman Klan Chosokabe, dia dan rombongan disambut baik oleh rakyat di ibukota. Mereka tiba di pagi hari, sehingga aktifitas di kota terlihat sangat ramai dan sibuk. Setibanya di gerbang istana, seorang perwakilan dari pihak keluarga langsung menghampiri mereka dan mengajak masuk ke aula utama. Lelaki itu memperkenalkan diri sebagai adik kandung dari Motochika.

"Selamat datang di Kediaman Chosokabe Motochika, Yang Mulia Shogun. Nama saya Chikasada, adik kandung kedua dari Aniki-sama."

"Salam kenal dan senang berjumpa denganmu, Chikasada-dono. Kedatangaku kemari didampingi oleh Tuan Besar Oshu, Date Masamune beserta pengawal pribadinya, Katakura Kojuuro. Kemudian ada sahabatku dari Kaga, yaitu Maeda Keiji," kata Ieyasu.

Chikasada lalu membungkuk di depan Masamune dan berkata, "Tuan Besar Oshu, Masamune-dono, saya ingin meminta maaf mewakili Aniki-sama karena tidak membalas undangan yang Anda kirim ke Shikoku. Kami sudah membaca undangan Anda, namun kami tidak bisa menentukan apakah akan hadir di acara pernikahan Anda atau tidak berkenaan dengan kondisi Aniki-sama saat ini."

Sebelum Masamune membalas kata-kata Chikasada, Ieyasu dengan cepat memberi isyarat kepada Naga Bermata Satu itu untuk tidak berkata apa-apa dulu. Dia lalu bertanya kepada Chikasada, "Di mana Motochika? Apakah sedang terjadi sesuatu di Shikoku?"

"Saya ingin mengajak Anda bertemu dengannya. Namun saya tidak yakin Anda ingin melihatnya sekarang, Yang Mulia," jawab Chikasada sedikit ketakutan.

"Apa Motochika sedang sakit?" tanya Keiji kemudian menyambung pembicaraan.

Chikasada mengangguk sedih dan menjawab, "Di permulaan musim semi, Aniki-sama tiba-tiba mengalami keracunan dan tidak bisa bangun dari tempat tidur. Namun kondisinya semakin memburuk sampai dengan hari ini. Maka itu kami tidak ingin Anda semua melihat keadaannya."

"Apakah sudah ada mantri atau tabib yang memeriksa keadaannya?"

"Kami sudah mendatangkan semua ahli kesehatan di Shikoku untuk memeriksanya. Tetapi hampir dari semua ahli yang didatangkan mengatakan tidak bisa menyembuhkan sakitnya. Kami disarankan untuk tetap memberi Aniki-sama makan dan minum supaya dia punya tenaga untuk bertahan melawan sakitnya."

"Yang aku tidak mengerti adalah kau melarang kami untuk bertemu dengannya. Seberapa parah sakitnya sampai kami tidak boleh melihatnya, Chikasada-dono?"

"Saya sungguh tidak bisa mengizinkan Anda semua untuk melihatnya, Maeda-dono. Kondisi Aniki-sama sekarang sudah sangat memprihatinkan. Jadi saya pikir—"

"Enough talking!" potong Masamune tiba-tiba menyela Chikasada. Dia nyaris kehilangan kesabaran karena seperti tidak mendapatkan penjelasan yang berarti. Dia lalu maju mendekat pada adik Motochika itu sambil berkata, "Kau pikir untuk apa kami melakukan perjalanan jauh dari Oshu jika bukan untuk melihat keadaan Iblis Laut Barat? Kau kenal aku, kenal Shogun dan Tuan Pengembara. Kami adalah orang-orang dekatnya!"

"Saya sungguh minta maaf—"

"Aku sudah berbaik hati memberitahu Iblis Laut Barat akan hari pernikahanku karena aku sudah berjanji akan mengirim undangan padanya. Lalu apa yang terjadi? Kau kirim pulang 3 orang kurirku beserta undangannya. Itu adalah bentuk penghinaan kepada Naga Bermata Satu, Date Masamsune! Sebaiknya kau segera melakukan sesuatu selain meminta maaf!" tegas Masamune sebelum Chikasada menyelesaikan kata-katanya.

"Dokuganryu, tenang dulu! Aku yakin Chikasada-dono akan mengajak kita bertemu Motochika setelah ini," kata Keiji mencoba menenangkan Masamune.

Namun tampaknya Naga Bermata Satu itu benar-benar tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Dia lalu menoleh kepada Ieyasu dan berkata, "Shogun-san, beri perintah kepada Chikasada untuk membawa kita bertemu dengan Saikai no Oni! Jika permintaanku tidak dipenuhi, maka seharusnya dia tidak boleh menolak perintah darimu, bukan?"

Ieyasu lalu memandang cemas Chikasada yang tampak ketakutan mendengar kata-kata Masamune. Dia lalu berkata, "Kami adalah sahabat dari Motochika. Kedatangan kami di sini tidak ingin membahas masalah kenegaraan atau peperangan. Kami ingin melihat keadaannya karena setelah perang Sekigahara, kami belum pernah bertemu dengannya lagi."

"Benar, Chikasada-dono. Jika memang Motochika sakit, kau harus mengabari Shogun sehingga beliau bisa menunjuk orang untuk menggantikannya sementara sampai dia sembuh," kata Keiji.

"Dan tentunya, kau harus mengabari Dokuganryu mengenai keadaannya. Kami di sini ingin membantunya mencari tahu mengapa Motochika tidak kunjung memberi balasan atas undangan pernikahan yang dia kirim ke Shikoku."

"Saya mengerti, Yang Mulia Shogun dan Maeda-dono. Maka itu saya ingin meminta maaf sudah membuat Anda dan semuanya khawatir. Terutama bagi Tuan Besar Oshu sampai harus datang kemari," sekali lagi Chikasada membungkuk di hadapan semuanya. Dia lalu meneruskan, "Aniki-sama tidak dirawat di Fugaku, sebagaimana Anda tahu Fugaku adalah tempat kesayangannya. Demi menjaga keamanannya, kami memutuskan untuk merawatnya di istana ini. Mari saya antar Anda semua untuk melihat keadaannya."

Chikasada akhirnya setuju untuk mengantar keempat tamunya menuju tempat Motochika beristirahat. Dia sebenarnya masih ragu apakah ini merupakan keputusan yang tepat. Namun para tamunya bukanlah orang biasa, melainkan seorang Shogun dan dua orang daimyo yang juga sahabat dekat kakaknya. Jika dia tidak mengabulkan permintaan mereka, sama dengan dia telah mencoreng nama besar Klan Chosokabe.

Dari aula istana, mereka berjalan menyusuri koridor panjang yang kemudian mengarah ke kuil istana. Ieyasu dan yang lainnya terkejut ketika mereka dibawa ke tempat ibadah, bukan ke kamar tidur Motochika atau ruang rawatnya. Tiba di depan pintu kuil, Chikasada berbicara tanpa menoleh kepada para tamunya, "Saya tidak akan membuka pintu seluruhnya karena para pendeta sedang membaca doa saat ini. Sebisa mungkin Anda menyimpan semua pertanyaan setelah kita pergi dari sini. Satu lagi, tolong jangan menatap langsung mata Aniki-sama demi kenyamanan Anda semua."

Suara lantunan doa terdengar jelas dari luar kuil. Jantung Chikasada berdegup kencang ketika dia mulai membuka pintu kuil secara perlahan. Semakin pintunya dibuka, semakin jelas suara para pendeta membaca doa, dan semakin jelas pula pemandangan yang mereka lihat dari luar. Ada hembusan udara yang cepat seperti angin keluar dari celah pintu.

"Ukh! Tidak! Uwah—" tiba-tiba Masamune merasa kesulitan bernafas. Dia berpegangan pada Kojuuro dan berkata lirih di sela sengal nafasnya, "Aku tidak bisa bernafas! Sakit! Kojuuro!"

"Masamune-sama! Apa yang terjadi?!" tanya Kojuuro panik sambil memegangi tuannya yang terlihat menderita.

Yang paling mengejutkan adalah Masamune seperti tersedak dan memuntahkan cairan bercampur sedikit darah. Naga Bermata Satu itu tiba-tiba pingsan dan langsung didekap oleh Mata Kanannya. Dilanda kepanikan, sambil menggendong tubuh tuannya, Kojuuro berkata, "Yang Mulia Shogun, Masamune-sama tidak sadarkan diri! Saya harus membawanya menjauh dari sini!"

"Aku mengerti. Keiji, bantu Katakura-dono membawa Dokuganryu untuk beristirahat. Aku dan Chikasada akan menyusul sebentar lagi," perintah Ieyasu tegas.

Keiji dan Kojuuro langsung membawa Masamune menjauh dari kuil. Lantunan doa sempat terhenti karena mendengar keributan di luar. Salah seorang pendeta kemudian keluar menemui Chikasada dan berkata, "Ya Tuhan! Tuan Muda Chikasada, apa yang terjadi? Mengapa ada Shogun Tokugawa Ieyasu di sini?"

"Yang Mulia Shogun ingin menjenguk Aniki-sama. Dia datang bersama Date Masamune dan Maeda Keiji," jawab Chikasada sedikit panik.

"Mohon maaf, Yang Mulia Shogun. Untuk saat ini, Motochika-sama sedang tidak bisa ditemui dulu. Saya harap Anda bisa segera meninggalkan Shikoku demi kenyamanan dan keselamatan Anda," kata pendeta paruh baya itu.

"Aku tidak akan meninggalkan Shikoku sampai aku tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Motochika," tegas Ieyasu. "Kau dan Chikasada-dono berhutang sebuah penjelasan kepadaku. Kalian harus ikut aku bertemu Dokuganryu yang tadi pingsan. Dia adalah orang yang paling berhak mengetahui segalanya."

-000-

Hari berganti malam di Shikoku...

Date Masamune akhirnya siuman setelah pingsan cukup lama. Ketika dia membuka mata, dia mendapati Mata Kanannya sedang duduk bersimpuh menantinya bangun. Dia merentangkan tangan untuk meraih ujung jemari pria itu dan berkata lirih, "I'm awake, Kojuuro..."

Melihat tuannya sudah membuka mata, Kojuuro langsung menyambut tangan Masamune dan digenggam erat, "Masamune-sama! Ya Tuhan, syukurlah Anda sudah siuman!"

Berusaha membuka matanya yang masih terasa berat, Masamune melihat sekeliling dan mendapati Keiji duduk tidak jauh darinya. Pria berambut panjang itu juga sangat senang melihat Masamune sudah kembali sadar.

"Senang rasanya bisa melihatmu sadar kembali. Kau tadi tak sadarkan diri sangat lama, Dokuganryu! Kami semua khawatir padamu," kata Keiji mencemaskannya.

"Anda tiba-tiba seperti kesulitan bernafas dan langsung tak sadarkan diri, Masamune-sama. Sekarang Yang Mulia Shogun sedang berbicara dengan perwakilan keluarga Chosokabe mengenai keadaan pimpinan mereka," jelas Kojuuro.

"Aku mau bangun. Bantu aku untuk duduk, Kojuuro."

Ketika Masamune bangun, pintu kamar terbuka dan masuklah Ieyasu bersama Chikasada. Shogun berbadan tegap itu sangat senang bisa melihat Masamune sudah membaik. Dia duduk di samping Keiji dan berkata, "Apa yang kau rasakan sekarang, Dokuganryu?"

"Dizzy, dan sedikit mual," jawab Masamune lirih.

"Aku harap kau sudah merasa lebih baik sekarang. Karena sekarang Chikasada akan menjelaskan semuanya padamu."

"Sebelum aku mendengar penjelasannya, aku ingin dia menjawab pertanyaanku dulu, Shogun-san."

Masamune lalu melempar pandangan dingin kepada Chikasada yang masih ketakutan untuk menatap matanya. Dia bertanya, "Apa yang aku lihat tadi di dalam kuil?"

"I—itu..." Chikasada mencoba menjawab dengan gugup.

"Tunggu sebentar. Memangnya kau melihat apa, Dokuganryu?" tanya Keiji.

"Kau berdiri di depanku, Tuan Pengembara. Seharusnya kau bisa melihat dengan jelas apa yang ada di dalam kuil. Begitu pintunya dibuka, aku melihat ada black mass yang keluar dengan cepat dan langsung mengenai tubuhku. Tiba-tiba saja aku langsung merasa dadaku sakit dan susah bernafas. Sesuatu membakar tenggorokan dan perutku sampai aku muntah hebat. Setelahnya, aku tidak ingat apa-apa lagi."

"Kabut hitam, katamu?" tanya Ieyasu tidak mengerti. "Aku tidak melihatnya. Tetapi aku merasa seperti ada hembusan angin kecil keluar dari celah pintu."

"Oh, hembusan angin itu aku juga merasakannya! Sedikit mengenai telingaku tapi tidak besar, jadi aku pikir itu bukan sesuatu yang berbahaya," kata Keiji.

"Hei, Chikasada. Kau boleh membenarkan atau menyalahkan apa yang aku lihat. Tetapi mata kiriku tidak pernah melakukan kesalahan untuk melihat hal-hal rinci," kata Masamune tanpa mengalihkan pandangan dinginnya dari Chikasada. "Aku melihat tubuh Iblis Laut Barat itu duduk bersimpuh menghadap patung dewa yang kalian sembah. Ada belenggu yang mengikat tangan dan kakinya. Seingatku, kau bilang dia sakit karena keracunan. Tapi mengapa kalian perlakukan dia seperti itu?"

Setelah mendengar kata-kata dari Masamune, Ieyasu dan Keiji sontak melempar pandangan bertanya kepada Chikasada. Sementara adik dari Motochika itu hanya menunduk sambil meremas-remas tangannya sendiri karena gugup dan takut. Kembali dikuasai rasa tidak sabarnya, Masamune lalu bangkit dari tempat tidur dan menghampiri Chikasada. Dengan cepat dia meraih kerah yukata laki-laki itu dan dipaksanya berdiri untuk menghadapnya. Kojuuro langsung menghampiri tuannya dan berusaha mencegah perubatannya, sementara Ieyasu dan Keiji berdiri di belakang Kojuuro bersiap untuk membantunya.

"Tolong ampuni saya, Masamune-sama! Jangan sakiti saya—"

Masamune memotong cepat kata-kata Chikasada dengan nada marah yang ditahan, "Aku, Date Masamune, bersumpah demi nama Tuhanku, akan menghukum siapa saja yang memperlakukan Iblis Laut Barat dengan keji seperti itu. Apa yang kulihat barusan, bukanlah sebuah usaha yang baik untuk menyembuhkannya. Sebaiknya kau berikan penjelasan yang bisa diterima oleh kami, atau kau akan kehilangan lidahmu. Understand?"

-to be continued-