Suasana di kamar tamu malam itu menjadi tegang. Chikasada nyaris kehilangan kekuatan untuk memulai pembicaraan karena dia sudah diancam oleh Date Masamune. Jika dia tidak bisa memberikan penjelasan yang bisa memuaskan hati para tamunya, nyawanya yang akan menjadi taruhannya. Naga Bermata Satu itu sedang ditenangkan oleh Katakura Kojuuro. Shogun Tokugawa Ieyasu juga sudah memperingatkan Masamune untuk tidak bersikap keras kepada Chikasada. Maeda Keiji memberanikan diri memegang pundak Masamune dan diajaknya mundur demi memberi ruang bagi Chikasada.
"Mari duduk dan kita bicarakan semuanya dengan baik," kata Ieyasu mencoba menengahi mereka yang sedang bertikai.
Setelah semuanya duduk tenang, Chikasada memberanikan diri untuk bercerita, "Saya bisa meyakinkan Anda bahwa apa yang saya sampaikan adalah benar adanya. Seperti yang saya katakan siang tadi, di permulaan musim semi tahun ini, Aniki-sama mengalami keracunan. Para ahli kesehatan berusaha mengeluarkan racun dari tubuhnya. Namun yang terjadi kemudian adalah kesehatan Aniki-sama mulai menurun. Dia tidak lagi bisa bangun dari tempat tidur. Berat badannya juga turun sangat banyak. Dua minggu setelahnya, Aniki-sama mengalami kejang dari malam hingga siang hari. Setelah kejang, dia akan meracau, berbicara seperti orang mabuk, bahkan sampai melukai diri dengan cara membenturkan kepala ke tembok atau mengiris urat nadinya."
Ieyasu mengangkat tangan untuk menyela dan berkata, "Bagaimana mungkin dari keracunan sampai bisa melukai dirinya sendiri begitu, Chikasada-dono?"
Chikasada menggeleng dan menjawab, "Karena para ahli kesehatan sudah menyerah dengan tugas mereka, kami meminta bantuan para pendeta kuil untuk memeriksa keadaannya. Dari pantauan kepala pendeta, mereka mendapati ada semacam sihir yang masuk ke tubuh Aniki-sama. Sihir itu mempunyai mantera kunci yang sangat kuat sehingga tidak bisa dikalahkan dengan mudah."
"Sihir, katamu?" ucap Keiji terkejut mendengar penjelasan Chikasada barusan. "Apakah ada orang yang membenci Motochika sampai mengirim sihir untuk membunuhnya?"
"Aniki-sama mempunyai banyak musuh baik di laut maupun di darat. Seperti yang Anda ketahui, Aniki-sama sudah lama bertikai dengan Mori Motonari dari Aki. Awalnya kami mencurigai pihak Morilah yang melakukan ini kepada Aniki-sama. Tetapi mereka membantah telah melakukannya."
"Kalau bukan Mori, lalu siapa lagi?" gumam Ieyasu, satu tangannya diletakkan di dagu.
"Bagaimana dengan orang-orang terdekatnya? Musuh itu tidak selamanya berasal dari luar rumah," kata Masamune kemudian menyambung pembicaraan. "Kau perlu mencurigai orang-orang yang selama ini setia melayaninya dan mendampinginya dalam pelayaran dan peperangan. Apa kau yakin dia tidak punya pembelot di wilayahnya?"
Sempat terdiam sejenak mendengar pertanyaan Masamune, Chikasada lalu menjawab, "Chosokabe Motochika adalah pemimpin yang sangat dicintai rakyatnya. Saya bisa pastikan tidak ada pengkhianat, baik di lingkungan luar maupun dalam istana. Jika kedapatan ada seorang pengkhianat di sini, bahkan jika orang itu adalah saya, maka hukuman yang paling tepat adalah seppuku."
"Apa buktinya kalau kau atau orang lain di istana ini bukanlah pelakunya? Jangan sampai aku, atau orang yang hadir di sini yang akan menelusuri jejak pelakunya!"
"Masamune-sama, saya mohon jangan tergesa-gesa," kata Kojuuro menenangkan tuannya yang hampir naik pitam lagi. "Ini adalah ranah keluarga Chosokabe. Anda harus menghormati segala usaha yang mereka lakukan untuk menyelesaikan masalah."
"Damn it!" gerutu Masamune sambil meninju lantai karena tidak tahan menahan amarah. "Aku bukannya mau ikut campur. Tapi peristiwa ini sudah berlangsung sejak awal tahun sampai sekarang. Aku sudah tidak lagi memikirkan bagaimana undangan pernikahanku bisa kembali tanpa dibaca sebelumnya oleh mereka."
"Mengenai undangan itu, sekali lagi saya minta maaf, Tuan Besar Masamune," ucap Chikasada sambil membungkuk kepada Masamune. "Kami sudah menerima kiriman undangan pernikahan Anda. Dua di antaranya sudah kami baca, sedangkan yang satu lagi terpaksa harus kami kirim kembali ke Oshu karena kami tidak ingin kurir Anda menanti jawaban yang tidak pasti. Keadaan Aniki-sama saat itu sudah tidak memungkinkan untuk diajak bicara. Kami terpaksa menangguhkan jawaban sampai keadaannya sudah mulai membaik."
"Mari kita kembali kepada bahasan utama kita malam ini, Tuan-tuan," sahut Keiji sedikit gusar karena pembicaraan mereka tidak kunjung usai. "Jadi, apa yang sedang kalian lakukan di kuil tadi?"
"Sihir atau ilmu hitam yang menguasai Aniki-sama sudah semakin tidak terkendali. Para pendeta membaca doa sepanjang pagi dan malam, secara bergantian, supaya Aniki-sama tidak lagi menyakiti dirinya sendiri. Seorang pendeta terpaksa memasang rantai di tangan dan kakinya karena Aniki-sama pernah mengamuk dan hampir membunuh salah seorang penjaga kuil. Saya diminta oleh kepala kuil untuk tidak membuka pintu selama ritual doa dilakukan."
"Lalu kabut hitam yang menyerang Dokuganryu itu..."
"Saya rasa itu adalah entitas dari sihir yang sedang diperangi oleh para pendeta, Maeda-dono. Pintu kuil harus selalu tertutup demi mencegah kejadian tersebut menyerang siapa saja yang ada di luar. Saya bisa memaklumi keinginan Anda sekalian untuk bertemu dengan Aniki-sama. Apa yang sudah terjadi pada Tuan Besar Masamune, adalah menjadi tanggung jawab saya."
Keheningan lalu meliputi mereka yang tengah larut dalam pemikiran masing-masing. Yang mereka tahu sekarang adalah Chosokabe Motochika sedang mengalami penderitaan luar biasa. Dimulai dari peristiwa keracunan, lalu sihir atau ilmu hitam yang digunakan seseorang untuk membunuhnya. Pemerintahan di Shikoku akan mengalami gangguan. Harus ada orang yang menggantikan posisinya selama proses penyembuhan. Karena hal ini sudah berlangsung lama dan belum ada jalan penyelesaiannya, sebuah keputusan harus segera diambil.
Demi menuntaskan pembicaraan malam ini, Ieyasu lalu berkata, "Siapa pun yang melakukan ini kepada Motochika, adalah orang yang punya dendam dan sangat membencinya. Kita masih belum tahu apa tujuan orang ini membunuhnya. Dugaanku sementara adalah demi merebut kekuasaannya sebagai pemimpin Shikoku, atau murni karena tidak suka padanya. Chikasada-dono, mulai hari ini aku menunjukmu sebagai pengganti posisi kakakmu dalam hal pemerintahan untuk sementara. Kita masih belum tahu apakah Motochika bisa disembuhkan atau tidak, tetapi kekuasaan tidak boleh sampai kosong. Kau mengerti?"
"Saya mengerti, Yang Mulia Shogun," jawab Chikasada.
"Aku akan bekerja di Shikoku sampai urusan di sini menemukan titik terang. Aku minta Keiji juga tetap berada di sini untuk membantu menyelesaikan masalah."
"Kulaksanakan perintahmu, Ieyasu!" jawab Keiji bersemangat.
"Dokuganryu, aku tahu betul bagaimana perasaanmu. Tapi demi kelancaran segala usaha kita di sini, aku harap kau bisa menjaga sikap dan suasana hatimu. Sebisa mungkin kita bergerak cepat, mengingat kau punya urusan yang harus diselesaikan juga di Oshu."
"Tsk! Fine, I get it," ucap Masamune sedikit kesal.
"Dan Katakura-dono, tetap dampingi Dokuganryu sampai urusannya di Shikoku selesai. Tetaplah berkirim kabar ke Oshu untuk juga memantau persiapan pernikahan tuanmu."
"Tanpa Anda perintahkan pun, saya tidak akan meninggalkan sisi Masamune-sama. Saya akan bantu apa pun yang dibutuhkan untuk menyelesaikan urusan di sini, Yang Mulia."
"Chikasada-dono, besok adakan pertemuan dengan semua perangkat istana. Aku akan hadir dalam pertemuan itu untuk membahas masalah Motochika. Jika penyebabnya adalah sebuah pengkhianatan atau rasa benci, maka kita cari sumbernya sampai ketemu. Kau harus menjadi pemimpin yang adil demi bisa menuntaskan masalah ini."
"Laksanakan, Yang Mulia!"
Pembicaraan malam itu akhirnya selesai. Chikasada memohon diri untuk kembali ke tempatnya. Keiji juga pamit untuk kembali ke kamarnya dan beristirahat. Sementara Ieyasu masih ingin berbicara dengan Masamune. Dia meminta Kojuuro untuk meninggalkan mereka dulu sebentar karena ada hal pribadi yang ingin disampaikannya.
"Dokuganryu, kau baik-baik saja?" tanya Ieyasu sesaat setelah Kojuuro pergi.
"Aku hanya mengikuti saranmu untuk tetap menjaga sikap dan suasana hatiku, Shogun-san," jawab Masamune dingin.
"Apa yang kau ingat saat Chikasada-dono membuka pintu kuil itu?"
Kedua tangan Masamune mengepal saat dia berkata, "Kau tidak akan mau tahu. Aku pun sedang berusaha melupakannya."
"Katakan saja, Dokuganryu. Kau punya penglihatan yang lebih tajam daripada aku dan Keiji."
Bibir Masamune mengatup kuat seakan tidak ingin mengucapkan apa yang ada di dalam pikirannya. Bulu kuduknya berdiri jika mengingat kembali peristiwa siang itu. Dia lalu berkata, "Dia duduk dibelenggu menghadap patung dewa dan membelakangi pintu. Aku tidak bisa melihat wajahnya. Tetapi aku bisa merasakan segala hal yang berkecamuk di dalam kuil itu. Selain black mass yang menyerangku, ada perasaan kecewa yang tersampaikan lewat hembusan angin kecil tadi."
"Perasaan kecewa?"
"Sebagaimana kita tahu bahwa Saikai no Oni tidak akan dikalahkan oleh apa pun. Tetapi ada satu hal yang membuatnya tidak berdaya melawan penyakitnya. Terus terang aku tidak begitu percaya dengan sihir atau pun ilmu hitam yang dibicarakan oleh adiknya. Aku malah mengira keadaan Iblis Laut Barat itu didasari perasaan kecewa karena tidak bisa sembuh dari penyakitnya."
"Jadi kau ingin bilang dia putus asa karena penyakitnya ini, Dokuganryu?"
"I don't know..."
Ieyasu menghela nafas dan berkata, "Berarti racun yang masuk ke tubuhnya sangat kuat sampai penawar apapun tidak bisa menyembuhkannya. Jika aku ada di posisinya, mungkin aku akan merasakan kekecewaan yang sama. Tetapi Motochika tidak semudah itu berputus asa! Pasti ada hal lain yang—"
"Aku juga tidak membenarkan perkataanku, Shogun-san. Ini hanya berdasarkan apa yang aku percaya saja. Kau sudah memerintahkan Chikasada untuk mengusut tuntas siapa dalangnya. Sebaiknya dia mengerjakan tugasnya dengan baik, dan hukuman harus diberikan tanpa memandang siapa dan dari mana asal pelakunya. Entah itu pihak musuh, atau orang terdekat Saikai no Oni."
"Tenang saja, Dokuganryu. Aku akan membantunya untuk menuntaskan permasalahan ini. Ada Keiji juga yang bisa kuminta berbaur dengan masyarakat demi mencari tahu pelaku di luar lingkungan istana. Oh ya! Aku juga akan memintamu mencoba memeriksa istana ini. Kau dan Katakura-dono akan kuberikan izin berkeliling istana dan masuk ke semua ruangan. Cari tahu siapa orang yang kira-kira punya niat buruk kepada Motochika."
"Yes, Sir..."
Kamar Masamune kembali diliputi keheningan ketika Ieyasu meninggalkannya sendiri. Satu-satunya suara yang menemaninya adalah dari api yang membakar sumbu lampu minyak di dekatnya. Masih duduk di tempat tidurnya, dia menarik selimut dan mendekapnya erat. Kepalanya terasa penuh, dadanya terasa berat. Banyak hal yang ingin diiutarakan, tetapi dia harus bisa menahan diri supaya bisa menjalankan tugasnya besok. Harapannya malam ini adalah dia bisa tidur lebih nyenyak dan melupakan segala apa yang sudah terjadi.
-to be continued-
