Pagi hari yang kelabu di aula utama kediaman Chosokabe Motochika...

Shogun Tokugawa Ieyasu memimpin pertemuan para perangkat istana. Untuk mengisi kekosongan pada pemerintahan, dia telah menunjuk Chikasada sebagai pemimpin sementara. Chikasada lalu menyampaikan kepada semua aparat mengenai keadaan Motochika yang sudah semakin mengkhawatirkan. Dia sangat berharap roda pemerintahan tetap berjalan, nilai-nilai sosial dan kemanusiaan tetap ditegakkan supaya rakyat bisa tetap menjalani kehidupan mereka sebagaimana mestinya. Segala bentuk kebijakan dan peraturan akan tetap mengacu pada undang-undang yang sudah dibuat kakaknya.

Selain memberi amanah kepada adik Motochika, Ieyasu juga meminta tolong kepada Maeda Keiji untuk melakukan penyelidikan di kalangan luar istana. Segala yang terjadi di dalam, pasti bersumber dari luar. Keiji diminta menyelidiki arus penerimaan orang dan barang yang keluar dan masuk ke Shikoku. Tempat utama yang akan diselidiki adalah pelabuhan dan pusat perdagangan. Kapal Fugaku juga akan menjadi tempat yang harus diselidiki, karena Motochika lebih sering berada di laut daripada di darat.

Ieyasu kemudian memberi peran penting kepada Date Masamune dan Katakura Kojuuro. Mereka diminta menyelidiki di lingkungan dalam istana. Chikasada memberi izin kepada Masamune untuk memasuki semua ruangan yang ada di istana tanpa terkecuali. Penyelidikan akan dimulai dari para pekerja istana dan bagian-bagiannya. Seperti yang dikatakannya kemarin, musuh tidak hanya berasal dari luar istana. Orang-orang terdekat Motochika pun harus diselidiki, tak terkecuali kalangan keluarga.

"Aku beri waktu paling tidak 5 hari dari sekarang untuk menyelesaikannya penyelidikan. Fokuslah pada tanggung jawab masing-masing. Tujuan kita adalah untuk menyelamatkan pimpinan kalian yang sekarang ini sedang dalam proses penyembuhan dari penyakitnya yang masih tidak diketahui. Jika kalian cinta pada pimpinan kalian, maka berikan usaha yang terbaik untuk menolongnya. Mengerti?"

"Siap, Yang Mulia Shogun!"

Pertemuan pagi itu diakhiri, dan semua orang yang sudah diberi amanah langsung diminta menjalankan tugasnya...

-000-

"Kojuuro, kita akan mulai dari mana?"

Sebelum menjalankan tugasnya, Masamune lebih dulu meminta bantuan Kojuuro untuk menentukan dari mana dia akan memulai penyelidikan. Meski sudah mendapat izin untuk bisa pergi ke mana saja di istana ini, dia tetap tidak boleh bertindak gegabah mengingat ini bukan rumahnya.

"Chikasada-dono mengatakan kakaknya mengalami keracunan di hari pertama dia sakit. Racun bisa masuk dengan cara apa saja. Salah satunya adalah lewat makanan dan minuman. Yang perlu diselidiki pertama adalah orang-orang yang bekerja di dapur istana. Kita perlu bertanya kepada mereka yang bertugas menerima pasokan bahan makanan, juru memasak, dan yang mengantarkan makanan kepada Motochika-dono," jelas Kojuuro menjawab pertanyaan tuannya.

"Dapur ya? Hmm...bisakah aku menyerahkan urusan dapur padamu? Karena ada tempat lain yang ingin aku selidiki," kata Masamune masih menimbang dalam pikirannya.

"Anda ingin ke mana, Masamune-sama?"

"Aku ingin tahu siapa orang-orang yang berhubungan dengannya terakhir sebelum dia sakit. Setiap hari dia pasti bertemu dengan banyak orang, baik yang dikenal maupun tidak. Aku perlu memeriksa setiap surat yang diterimanya, berkas-berkas penting yang dia tanda tangan, dan semua itu bisa aku temui di kamar tidur atau ruang kerjanya."

"Saya mengerti."

"Meski Iblis Laut Barat itu banyak bekerja di Fugaku, paling tidak ada beberapa hal yang dia simpan dan tidak dia bawa ke selama berlayar. Aku mungkin akan memeriksa Fugaku juga. Tetapi Tuan Pengembara pasti sudah ke sana, mengingat dia akan menyelidiki di lingkungan luar istana."

Karena tugasnya akan dilakukan di dalam istana, Masamune tidak akan mengenakan pakaian perangnya. Pedang yang dia bawa pun hanya sebilah saja untuk sekedar berjaga-jaga. Supaya identitasnya diketahui oleh para penghuni istana, dia mengenakan haori berlambang klan Date di punggungnya.

"Masamune-sama," panggil Kojuuro sebelum mereka keluar dari kamar.

Masamune berbalik dan menjawab, "Ada apa, Kojuuro?"

"Saya ingin Anda berbahagia."

"Hah? Apa maksudmu?"

"Saya ingin Anda menjalankan amanah ini tanpa ada tekanan. Anda ingin menemukan jawaban dari kekhawatiran Anda selama berada di Oshu. Jika berada di sini adalah bagian dari usaha Anda menemukan jawaban, maka saya akan membantu Anda sampai selesai."

Mendengar perkataan Kojuuro, Masamune terdiam sejenak dan memikirkan apa yang dia inginkan sebenarnya. Mata Kanannya benar, bahwa yang diinginkannya sejak awal adalah mencari jawaban mengapa undangan pernikahannya tidak dibalas. Meski sudah tahu apa yang menjadi penyebabnya, ada masalah lain yang timbul dari jawaban yang dia dapat.

"Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja, Kojuuro," gumam Masamune lalu kembali membalik badannya dan bersiap untuk pergi. Dia melanjutkan, "Meski pintu kuil dibuka tidak lebar, tetapi mata ini seperti bisa menangkap apa yang sedang terjadi di dalam."

"Masamune-sama..."

"Sudah cukup banyak penjelasan yang diberikan oleh Chikasada, tetapi hati ini masih belum lega jika bukan Saikai no Oni sendiri yang menjelaskannya."

"Tetapi akan sangat mustahil bagi Anda melakukannya, mengingat dia berada di tempat yang sangat dilarang untuk dimasuki. Bukankah sebaiknya Anda menghindarinya demi menjaga keselamatan Anda, Masamune-sama?"

Lelaki bermata kelabu itu menggeleng dan berkata, "Aku tahu dia bukan orang lemah, dia begitu berkuasa dan ditakuti di lautan. Hanya karena penyakit ini dia bisa tumbang? Diserang ilmu hitam dan dia kehilangan akal? What a joke! Dia adalah iblis itu sendiri! Aku tidak percaya kalau dia bisa dikalahkan dengan hal sepele seperti ini."

"Apa yang akan Anda lakukan selanjutnya?"

"Akan kulepas semua belenggu di tubuhnya. Aku akan seret dia keluar dari kuil dan kupaksa dia bertarung melawanku. Jika keenam cakarku tidak bisa menjangkau jiwanya yang terkunci, maka jangkar besarnya akan membantuku membebaskannya. Tidak ada yang boleh melakukan hal ini kecuali aku, Kojuuro! Kau dengar itu?"

"Ya, saya dengar, Masamune-sama."

"Let's split up! Kau akan menyelidiki para pekerja istana, terutama yang berada di dapur. Aku akan pergi ke kamar tidur dan ruang kerja Saikai no Oni. Akan kucari jejak pelakunya dari hal-hal kecil yang nanti kudapat di sana."

Mudah bagi Masamune untuk menjelajahi istana Motochika. Ini bukan pertama kalinya dia datang kemari. Iblis Laut Barat itu sudah sering mengajaknya berkeliling kediamannya. Tentunya dia tahu di mana letak kamar tidur dan ruang kerjanya. Tidak butuh waktu lama baginya menemukannya.

Tiba di kamar tidur, Masamune berpapasan dengan beberapa orang pelayan perempuan. Nampaknya mereka baru saja selesai membersihkan dan merapikannya. Dia lalu mengajak bicara salah satu dari mereka, "Siapa di antara kalian yang paling sering keluar dan masuk kamar Iblis Laut Barat?"

"Sa—saya, Tuan! Saya yang ditugaskan untuk membersihkan dan merapikan kamar tidur Motochika-sama setiap hari," jawab seorang pelayan perempuan sedikit gugup.

"Sebelum kau pergi mengerjakan tugasmu yang lain, aku ingin bertanya. Apakah ada orang lain yang pernah diajak masuk ke sini sebelum dia sakit?"

"Sepanjang ingatan saya, Motochika-sama jarang mengajak siapa pun masuk ke kamarnya. Beliau biasanya menjamu tamu-tamunya di bangsal istana, ruang makan, atau di ruang kerjanya. Motochika-sama hanya mengajak orang-orang yang sangat dekat dengannya berbicara di kamar tidurnya. Yang Mulia Shogun Tokugawa, dan Anda, Tuan Besa Masamune."

"Apa kau pernah menemukan barang aneh atau tidak tidak biasa dilihat di kamarnya?"

"Saya tidak pernah melihatnya. Namun Motochika-sama punya lemari besar di kamarnya yang berisi barang-barang unik yang dia dapat selama berlayar. Lemari itu selalu dikunci, dan hanya Motochika-sama yang memegang kuncinya."

"Hmm...harta karunnya ya?"

"Motochika-sama juga jarang sekali berada di istana ini. Beliau lebih sering berlayar dengan Fugaku dan mengurus pemerintahan dari laut. Meski begitu, segala kebijakan yang berkenaan dengan urusan pemerintahan dan kesejahteraan rakyat selalu bisa diterapkan dengan baik. Motochika-sama sangat mempercayai Chikasada-sama untuk menjadi wakilnya di daratan."

"Jadi adiknya terlibat langsung dalam pemerintahannya ya. Baiklah kalau begitu. Terima kasih atas bantuanmu, Maid -san. Aku akan masuk ke kamar tuanmu untuk sekedar memeriksa. Tenang saja, aku tidak akan mengambil apa pun dari sana."

Para pelayan perempuan itu lalu meninggalkan Masamune. Dia memulai penyelidikan di kamar tidur Motochika. Ketika dia masuk, pandangannya langsung tertuju pada lemari besar yang menurut para pelayan tadi digunakan Motochika menyimpan barang-barang temuan selama berlayar. Mereka bilang hanya Motochika yang memegang kuncinya. Bisa jadi kuncinya berada di kamar tidurnya. Pencariannya dimulai dari lemari pakaian. Masamune membuka beberapa kotak dan laci penyimpanan, kemudian memeriksa di saku baju-baju Motochika. "Got it!" katanya setelah berhasil menemukannya. Langsung saja dia gunakan untuk membuka lemari penyimpanan barang berharga milik Motochika.

"Wow...sudah bertambah banyak rupanya," gumamnya ketika melihat kumpulan barang berharga yang dimiliki Motochika. Dia memperhatikan satu persatu barang yang dipajang di lemari ini. Kumpulan keramik Tiongkok, seperangkat peralatan makan dari kuningan, perhiasan emas dan berlian, beberapa helai kain sutera, dan masih banyak lagi. Besar keinginannya untuk menyentuh salah satu barang tersebut, tetapi Masamune tahu bahwa Motochika sangat merawat semua koleksinya ini. Jadi sebaiknya dia bisa menahan diri untuk tidak menyentuhnya.

Mata kirinya kemudian tertuju pada sebuah kotak kayu kecil di pojok bawah lemari ini. Dia mengangkat kotak itu dan dibawa keluar untuk dilihat di dekat tempat tidur. Karena tidak dikunci, maka dia bisa membukanya dengan mudah.

"Oh, ini..." tidak disangka yang dilihat Masamune adalah sekumpulan surat. Ada kira-kira 20 sampai 50 pucuk surat di dalamnya. Kotak itu tidak besar, tetapi bisa menyimpan surat sebanyak ini. Pada sudut kiri amplop penerima, terdapat tanggal dan surat-surat ini disusun rapi berdasarkan tanggalnya. Masamune berpendapat tanggal-tanggal tersebut menandakan kapan surat itu diterima. Tetapi yang membuatnya terkejut adalah bahwa surat-surat itu berasal dari dirinya.

"Unbelievable..."

Satu per satu surat itu diperiksanya, dan benar saja, semuanya berasal dari Oshu. Dia membuka beberapa amplop dan membaca isinya. Surat-surat ini dikirim secara pribadi olehnya untuk Motochika. Karena mereka terpisah oleh jarak yang sangat jauh, berkirim kabar lewat surat adalah satu-satunya cara supaya mereka bisa tetap menjaga hubungan mereka. Hampir semua isi suratnya berisi celotehan tidak penting darinya, sekedar memberi kabar dan bercerita tentang apa saja. Tetapi mereka tidak begitu peduli dengan isinya. Yang penting mereka bisa berbicara untuk menyampaikan isi hati dan pikiran masing-masing. Semua surat pribadinya ini dikirim bersamaan dengan surat penting yang bersifat kenegaraan.

"Kau menyimpan semua suratku di kotak harta karunmu. Aku tidak percaya..." gumam Masamune sambil merapikan kembali surat-surat itu di kotaknya. "Bagimu, surat-suratku adalah harta karunmu, eh? Aku tidak mengerti mengapa kau melakukan itu. Isinya bahkan tidak penting untuk kau baca. Tapi kau menyimpan semuanya—ya, semuanya sesuai dengan tanggal. Kau bisa saja membuangnya, dan aku juga tidak peduli jika kau tidak menyimpannya."

Setelah meletakkan kembali kotak itu ke lemari, mendadak hati Masamune terasa sakit. Satu tangannya mencengkeram gagang pintu lemari. Dia bergumam lirih, "Shit! Aku sudah datang jauh-jauh untuk bertemu denganmu. Tetapi kedatanganku tidak diterima olehmu. Iblis Laut Barat sepertimu bisa tumbang karena sakit dan sihir? Keh! Jangan membuatku tertawa, Saikai no Oni!"

Masamune tiba-tiba meninju pintu besar lemari penyimpanan itu dengan keras karena tidak bisa membendung perasaannya. Dia jatuh terduduk di lantai, satu tanganya mencengkeram kepalanya. "Bangunlah, Bajak Laut Bodoh! Bangunlah...aku ada di sini...uukh!" sekali lagi dia bergumam lirih.

"Dokugarnyu?"

Suasana sendu di kamar tidur Motochika seketika buyar ketika Masamune mendengar seseorang memanggil namanya. Dia menoleh ke arah pintu dan mendapati Ieyasu sedang berdiri di sana. Shogun berbadan tegap itu lalu masuk menghampirinya.

"Kau baik-baik saja, Dokuganryu?" tanya Ieyasu sambil ikut duduk di lantai.

Masamune menghela nafas dan menjawab, "Ya, aku baik-baik saja. Mengapa kau bisa di sini, Shogun-san?"

"Setelah memimpin rapat terbatas dengan Chikasada-dono dan beberapa perangkat istana, aku memutuskan untuk berkeliling istana sebentar. Aku sudah menduga akan bertemu denganmu ketika aku kemari. Bagaimana denganmu, Dokuganryu? Apa yang sudah kau temukan di sini?"

"Aku belum menemukan petunjuk apa pun mengenai peristiwa keracunan itu. Aku hanya membuka lemari penyimpanan harta karun milik Saikai no Oni."

"Oh ya! Dia seorang bajak laut, jadi kita pasti akan menemukan harta karun yang dia dapat selama menjelajah lautan."

"Buka saja lemarinya. Aku belum menguncinya lagi."

Ieyasu lalu berdiri dan membuka lemari penyimpanan yang dimaksud Masamune. Dia pun sama takjubnya dengan Naga Bermata Satu itu melihat barang-barang yang belum pernah dilihat sebelumnya. Motochika sering bercerita padanya mengenai penjelajahannya di laut Jepang dan menemukan banyak harta karun untuk dia kumpulkan. Daimyo besar Shikoku itu tidak pernah peduli dengan perebutan wilayah. Karenanya, dia dikenal sebagai Bajak Laut yang cinta damai.

Setelah melihat-lihat koleksi harta karun Motochika, Ieyasu menutup lemari dan kembali bergabung dengan Masamune. Dilihatnya lelaki berambut cokelat itu tertunduk sedih. Dia lalu meraih tangannya dan berkata, "Semuanya akan baik-baik saja, Dokuganryu."

Ketika Ieyasu meraih tangannya, Masamune sempat melihat mata cokelat Shogun itu menatapnya penuh harap. Namun dia kembali menunduk dan tidak mengatakan apa-apa. Kedua lututnya didekap di dadanya, kepalanya diletakkan di atas lututnya. Tangannya masih digenggam erat oleh Ieyasu.

Ieyasu lalu melanjutkan, "Aku tahu keadaan ini sangat menyiksamu. Bertahanlah sedikit lagi supaya kita bisa menemukan cara untuk menyelamatkan Motochika. Jika nanti dia membuka mata, aku pastikan kau adalah orang pertama yang dilihatnya."

Kali ini Masamune mengangkat kepalanya dan menghela nafas panjang. Dia membalas genggaman erat tangan Ieyasu dan berkata, "Aku tidak tahu, Ieyasu. Jika aku bisa, aku tidak ingin melewati proses ini dan segera pergi ke kuil untuk menyelamatkan Saikai no Oni dengan caraku sendiri."

Ieyasu tersenyum dan berkata, "Aku mengerti. Maka itu bersabarlah. Kita akan lalui ini bersama. Kau tidak sendirian, Dokuganryu. Ada aku, Keiji, dan Katakura-dono yang selalu ada di sampingmu."

"Thanks..."

Keduanya lalu berdiri dan merapikan pakaian mereka. Ieyasu lalu berkata, "Apa aku boleh memelukmu, Dokuganryu?"

Masamune mendengus tertawa menanggapinya. Dia berjalan menuju pintu kamar dan berkata tanpa melihat Ieyasu, "Peluk aku setelah nanti bisa membangunkan Saikai no Oni dari tidur panjangnya, Shogun-san..."

-to be continued-