Malam tiba di kediaman Chosokabe Motochika...
Shogun Tokugawa Ieyasu memimpin pertemuan kecil antara Date Masamune, Maeda Keiji, Katakura Kojuuro, dan Chikasada di ruang makan tamu di dekat kamar tidur Ieyasu. Dia ingin menerima semua laporan penyelidikan di hari pertama.
"Kita mulai dari Dokuganryu dan Katakura-dono. Bagaimana penyelidikan kalian sejauh ini?"
"Izinkan saya menyampaikan lebih dulu, sebelum nanti dilanjutkan oleh Masamune-sama," ucap Kojuuro sambil mengeluarkan beberapa lembar kertas berisi laporannya. Dia meneruskan, "Saya pergi ke bagian dapur istana dan berbicara dengan beberapa juru masak dan pelayan. Di hari Iblis Laut Barat itu keracunan, ada sebuah jamuan makan malam besar di istana. Karena hari itu bertepatan dengan Hari Panen Raya, dia mengundang para daimyo di Shikoku untuk merayakannya."
"Aku akan menyambung sedikit dari penjelasan Kojuuro," kata Masamune sambil mengeluarkan buku besar bersampul kulit dan ditunjukkan kepada semua yang hadir. "Ini adalah jurnal pelayaran yang ditulis sendiri oleh Saikai no Oni. Jurnal ini ada beberapa buku, dan semuanya disimpan di ruang kerjanya. Aku memeriksa beberapa catatan perjalanan yang tanggalnya berdekatan dengan Hari Panen Raya. 3 hari sebelum pelaksanaan, dia berlayar keluar dari perairan Seto untuk membawa tangkapan besar ke istana. Tidak hanya berlayar, dia juga sempat singgah di beberapa daratan untuk memberi kabar mengenai perayaan di Shikoku itu."
"Berikut adalah daftar barang komoditas, termasuk bahan makanan yang dibawa oleh Chosokabe Motochika dari pelayarannya selama 3 hari di luar perairan Seto," kata Kojuuro melanjutkan laporannya. Dia mengeluarkan selembar kertas yang kemudian diserahkan kepada Ieyasu. Selagi Shogun itu membacanya, dia berkata, "Chosokabe Motochika membawa banyak hasil bumi dan laut dari luar Shikoku. Tetapi laporan dari para juru masak mengatakan, tidak ada bahan makanan yang menyebabkan Iblis Laut Barat itu keracunan. Meski berasal dari luar Shikoku, mereka telah mengolah sesuai dengan petunjuk yang diajarkan oleh Chosokabe Motochika sendiri."
"Perihal ini sudah kami selidiki langsung setelah Aniki-sama jatuh sakit," kata Chikasada menyambung dari laporan Kojuuro. "Para juru masak sebelumnya sudah diajak bertemu dengan Aniki-sama untuk mengolah bahan makanan yang dia bawa dari luar Shikoku. Karena Hari Panen Raya adalah hari yang sangat istimewa, dia ingin menyajikan hidangan yang lain dari biasanya untuk para tamu. Jadi saya bisa pastikan bahwa makanan yang dimakan Aniki-sama dan para tamu adalah sama dan keracunan tidak disebabkan oleh makanan yang disajikan hari itu, Shogun-sama."
"Apakah ada yang mencatat daftar tamu yang hadir dalam jamuan makan itu?" tanya Ieyasu setelah membaca semua laporan yang ditulis oleh Kojuuro.
"Aku punya catatannya. Karena beberapa tamu ada yang diajak berlayar oleh Motochika dengan Fugaku," kini giliran Keiji yang melaporkan penyelidikannya. "Kebanyakan para tamunya adalah daimyo di wilayah Shikoku dan sekitarnya. Dia bahkan mengundang Kakek Shimazu karena ingin menghormatinya sebagai sesama daimyo wilayah barat. Untuk mengejutkanmu, Ieyasu, ada nama Mori Motonari di daftar tamu yang hadir di acara itu."
"Chikasada-dono, apa benar Mori Motonari juga hadir?"
"Benar, Yang Mulia. Aniki-sama memang mengundang Mori Motonari di acaranya. Meski mereka bermusuhan, Aniki-sama tetap menganggapnya sebagai tetangga yang hidup berdampingan."
Ieyasu kemudian kembali bertanya kepada Keiji, "Apa Motochika punya daftar awak kapal Fugaku yang biasa berlayar dengannya? Dalam satu kali pelayaran, dia akan mengajak anak buahnya bergantian. Kita perlu tahu juga siapa yang ikut berlayar dengan Motochika saat sedang pergi ke luar Shikoku."
"Ya, di catatan para tamu itu juga ada nama awak kapal yang ikut serta dalam pelayaran ke luar Shikoku."
"Hmm...akan memakan banyak waktu untuk menanyai orang-orang ini. Karena hari itu adalah sebuah perayaan besar, pasti banyak orang yang terlibat."
"Naa, Oni no Otouto," panggil Masamune kepada Chikasada. "Saat kakakmu keracunan, dia sedang berada di mana? Apakah masih di ruang makan bersama tamu yang lain atau ketika acara jamuan sudah selesai?"
"Beliau..." Chikasada sempat berhenti sejenak dan berpikir, lalu dia meneruskan, "Saat itu, beliau masih berada di ruang makan bersama para tamu. Malam itu sudah sangat larut, tapi Aniki-sama masih ingin bersenang-senang. Mereka minum arak dan menghisap tembakau. Salah satu tamu kemudian mengatakan untuk menyudahi pertemuan karena sudah lewat tengah malam. Anik-sama setuju dan memutuskan untuk pergi kembali ke kamarnya. Para tamu pun diminta kembali ke kamar masing-masing karena pagi harinya harus pulang ke wilayah mereka. Saat itulah dia mulai mengalami keracunan."
"Tunggu sebentar, Chikasada-dono. Aku mau bertanya kepada Katakura-dono," potong Ieyasu menyela penjelasan Chikasada. Dia lalu berkata kepada Kojuuro, "Katakura-dono, pada daftar barang komoditi yang dia bawa, apakah tertulis tembakau sebagai salah satunya?"
"Saya sudah membacanya beberapa kali dan tidak ada tembakau dalam daftarnya," jawab Kojuuro.
"Tembakau itu bisa jadi petunjuk kita, Ieyasu!" sahut Keiji.
"Oh, saya ingat sesuatu, Tuan-tuan!" Chikasada tiba-tiba berseru dan mengejutkan semua orang di sana. Dia meneruskan, "Malam itu, seorang tamu menghadiahkannya Kiseru dan tembakaunya yang sudah siap pakai. Karena ingin menghargai pemberian dari tamunya, beliau langsung menggunakannya."
"Berapa orang yang ikut menghisap tembakau malam itu?" tanya Ieyasu.
"Sepenglihatan saya, ada beberapa orang yang ikut menghisap tembakau."
"Apakah ada orang lain yang menghisap tembakau yang sama dengan kakakmu?" tanya Masamune.
"Aniki-sama malam itu tidak membawa tembakaunya sendiri. Jadi dia adalah satu-satunya orang yang menghisap tembakau pemberian tamunya—"
"Ikut aku, Kojuuro!" tukas Masamune cepat sebelum Chikasada menyelesaikan kata-katanya. Dia lalu keluar dan berjalan cepat menuju ruang kerja Motochika.
Tidak membutuhkan waktu lama bagi Naga Bermata Satu itu untuk menemukan Kiseru yang dimaksud Chikasada. Pada saat menyelidiki ruang kerja siang hari tadi, dia memang sudah melihat pipa tembakau itu diletakkan di laci meja kerja Motochika. Namun dia tidak menyangka bahwa Kiseru itu adalah petunjuk mereka. Kepergian Masamune ke ruang kerja diikuti oleh Ieyasu, Keiji, dan Chikasada.
"Ada 2 Kiseru di sini. Mana yang punya Saikai no Oni dan mana yang merupakan pemberian?" tanya Masamune kepada Chikasada yang terburu-buru mengikutinya ke ruang kerja Motochika.
"Izinkan saya melihat dulu," Chikasada kemudian meneliti 2 Kiseru yang diperlihatkan oleh Masamune. "Kiseru milik Aniki-sama mempunyai lambang klan Chosokabe yang diukir di bagian gankubi. Warna pipanya ungu kemilau dengan panjang kurang lebih 2 jengkal."
Masamune meletakkan Kiseru berlambang klan Chosokabe ke meja, kemudian dia memperhatikan Kiseru satu lagi yang ukurannya lebih pendek dari milik Motochika. Di bagian gankubi, dia melihat lambang klan yang tidak pernah dikenalnya. Ini pasti milik salah satu klan di wilayah Shikoku dan sekitarnya.
"Ini klan siapa?" tanya Masamune kepada Chikasada.
Sambil memicingkan mata, Chikasada mencoba menebak lambang klan yang terukir di pipa tembakau itu. "Oh Tuhan..." ucapnya terkejut. "Ini adalah salah satu klan kecil yang terletak di Sanuki."
"Sanuki, katamu?" tanya Ieyasu penasaran. "Klan Miyoshi?"
"Benar! Klan Miyoshi! Dan nama tamu yang hadir dari Sanuki adalah—"
"Sebentar, Chikasada-dono. Klan Miyoshi, katamu? Tetapi di daftar tamu, tidak ada nama Miyoshi," sambung Keiji sambil memeriksa daftar tamu yang dibawanya.
"Klan Miyoshi memang sudah tidak berkuasa lagi di Sanuki dan Awa. Yang hadir malam itu tidak menggunakan nama Miyoshi, melainkan Sogo Masayasu. Dia masih saudara dengan Miyoshi Nagaharu, yang meninggal di peristiwa Penyatuan Shikoku oleh Aniki-sama."
Kiseru yang dipegang Masamune kemudian diberikan kepada Ieyasu. Sejenak pembicaraan mereka terhenti dan ruang kerja Motochika diliputi keheningan. Masing-masing dari mereka ingin segera bertindak. Tetapi mereka tidak boleh sembarangan bertindak karena hasil penyelidikan masih bersifat sementara. Supaya tidak ada pihak yang dirugikan, Ieyasu harus mengambil keputusan yang adil. Sebagai Shogun, dia menjadi satu-satunya orang yang bisa menentukan tindakan selanjutnya dari penyelidikan ini.
"Chikasada-dono, kirim beberapa orang untuk menyelidiki Sogo Masayasu di Sanuki," kata Ieyasu memecah keheningan. "Jika dia adalah pelakunya, bisa jadi keinginannya membunuh Motochika adalah karena dendam atas kematian kakaknya di Peristiwa Penyatuan Shikoku. Cari tahu juga apakah ada pihak lain yang terlibat dalam percobaan pembunuhan ini."
"Laksanakan, Yang Mulia!" jawab Chikasada.
"Keiji, ikutlah bersama orang-orang Chikasada-dono ke Sanuki. Aku perlu seorang daimyo yang bisa bertemu langsung dengan Masayasu-dono. Kau yang akan memimpin penyelidikan di Sanuki. Bujuklah dia lebih dulu untuk bertemu denganku di kediaman Motochika."
"Kulaksanakan perintahmu, Ieyasu!" sahut Keiji sebelum dia berjalan keluar bersama Chikasada.
Kini tinggal Ieyasu, Masamune, dan Kojuuro di ruang kerja Motochika. Masih ada ketegangan meliputi mereka meski sudah bisa sedikit bernafas lega karena kerja keras mereka tidak membutuhkan waktu yang lama. Ieyasu mengaku terkejut melihat Masamune bisa tetap tenang dalam peroses penyelidikan ini. Tangannya tidak sedikit pun menyentuh pedangnya ketika pembicaraan sedang panas-panasnya, apalagi setelah mengetahui nama orang yang menjadi dalang peristiwa ini.
"Dokuganryu, kau baik-baik saja?" tanya Ieyasu kepada Masamune.
Masamune sempat terdiam sebelum dia menjawab, "Maukah kau menemaniku minum sake malam ini, Ieyasu?"
"Ya, tentu saja aku mau."
"Kojuuro, bawakan sake untuk aku dan Ieyasu. Kami akan menikmatinya di dekat kuil tempat Saikai no Oni dirawat."
"Baik, Tuanku," jawab Kojuuro kemudian langsung melaksanakan perintah tuannya.
Malam itu langit tidak bertabur bintang, hanya diterangi bulan separuh yang dihalangi sedikit awan. Masamune dan Ieyasu duduk di pelataran taman yang menghadap kuil. Kojuuro datang membawakan sake untuk keduanya, kemudian berpamit demi memberikan ruang bagi mereka berbicara. Ieyasu menuang sake lebih dulu, kemudian diberikannya botol keramik itu kepada Masamune.
"Aku terkejut kau bisa begitu tenang mendengar semua ini, Dokuganryu," kata Ieyasu setelah menegak satu cangkir sake. "Aku hampir saja memarahimu ketika kau tiba-tiba keluar menuju ruang kerja Motochika demi menemukan Kiseru pemberian Masayasu-dono."
"Kau yang menyuruhku tetap tenang, jadi aku berusaha sebaik mungkin untuk tidak banyak bicara," kata Masamune dengan nada bicara yang datar. Dia meneruskan, "Aku sama sekali tidak menaruh curiga pada Kiseru itu. Setelah Chikasada bercerita bahwa kakaknya keracunan setelah menghisap tembakau, pikiranku langsung tertuju ke sana. Beruntung aku masih ingat di mana Kiseru itu diletakkan."
"Kau bahkan menanyakan kapan dan di mana Motochika mengalami keracunan. Aku bahkan tidak berpikir untuk menanyakan hal itu kepada Chikasada."
"Apakah usahaku sia-sia, Ieyasu? Karena aku dan Kojuuro sempat berpikir bahwa Saikai no Oni keracunan karena makanan."
"Semua pun akan berpikir hal yang sama, Dokuganryu. Pasti akan ditanya seputar makanan dan minuman apa yang dikonsumsi sebelum keracunan. Berkat penyelidikan kalian, kita jadi tahu bahwa ada perayaan besar di kediaman Motochika sebelum dia keracunan. Itu berarti peristiwa ini tidak terjadi beegitu saja. Apalagi tamu-tamu yang hadir saat itu adalah orang-orang yang dekat dengannya, baik kawan maupun lawan."
"Apa rencanamu selanjutnya, Ieyasu?"
"Aku akan menunggu penyelidikan dari Keiji dan orang-orang Chikasada di Sanuki. Jika benar terbukti Masayasu-dono adalah pelakunya, maka urusan selanjutnya akan kuserahkan kepada keluarga Chosokabe. Tugas kita di sini sudah selesai."
"Tugasmu, Shogun-san, sudah selesai di sini. Tetapi tugasku belum..."
"Dokuganryu..."
Dari posisi mereka duduk, lantunan doa dari kuil bisa terdenga dengan jelas. Dari pagi hingga malam ini, para pendeta tidak berhenti membacakan doa untuk kesembuhan Motochika. Entah sampai kapan hal ini akan terus dilakukan. Iblis Laut Barat itu bahkan tidak menunjukkan kemajuan apa pun dari penyakitnya.
"Naa, Shogun-san," kata Masamune setelah menegak sakenya. "Kau masih menyimpan Kiseru itu?"
"Ya, aku masih menyimpannya," jawab Ieyasu.
"Kau akan tetap berada di Shikoku sampai semua urusan selesai kan?"
"Aku akan berada di sini sampai Motochika sembuh, Dokuganryu."
Masamune menghela nafas dan berkata, "Aku juga akan berada di sini sampai Tuan Bajak Laut itu membuka matanya dan melihatku."
"Jangan patah semangat, Dokuganryu," kata Ieyasu sambil menuang sake ke cangkir Masamune. "Aku sudah berjanji, memastikan dirimu menjadi orang pertama yang dilihat oleh Motochika saat dia membuka matanya nanti."
"I know..."
Bulan di langit malam itu menjadi satu-satunya pengalih pandangan Masamune. Meski beberapa teguk sake bisa membantu meringankan beban pikirannya, tetapi dia tidak bisa membohongi perasaannya sekarang. Kuatnya pengaruh sake itu sedikit memudarkan akal sehatnya. Ditambah malam semakin larut, kata-kata yang keluar dari mulutnya juga tidak bisa dikendalikan.
Di tengah kondisi mabuknya, Masamune berkata, "Aku merindukannya..."
Ieyasu tersenyum mendengar kata-kata Masamune barusan. Dia memilih untuk diam dan mendengarkan lelaki itu meneruskan, "Aku tidak begitu memikirkan siapa pelakunya dan apa tujuannya. Aku hanya tidak bisa melihat kondisinya seperti itu, Ieyasu. Kau mau tahu apa yang kupikirkan sekarang?"
"Kau ingin masuk ke sana dan membebaskan Motochika. Benar kan, Dokuganryu?"
Sekali lagi Masamune menghela nafas dan berkata, "Dia tidak layak diperlakukan seperti itu, Ieyasu. Kau sebagai sahabatnya, pasti tidak ingin melihatnya menderita begitu, kan?"
"Ya, tentu saja aku ingin dia terlihat sebagaimana mestinya."
"Apa yang harus aku lakukan untuk membebaskannya? Apakah dengan enam cakarku sudah bisa membantunya bebas dari penderitaannya?"
"Dokuganryu, sudah ya. Kita hentikan saja—"
"Sedikit lagi, satu teguk lagi..." kata Masamune meracau.
"Katakura-dono akan khawatir melihatmu seperti ini. Aku akan mengantarmu ke kamar dan beristirahat."
Tanpa disadari, Masamune lalu jatuh bersandar di bahu Ieyasu. Dia masih bergumam tidak jelas dalam kondisi mabuk berat. Yang mengejutkan Ieyasu adalah bahwa mata kiri lelaki itu tiba-tiba berlinang air mata. Tetapi Masamune tidak sedang menangis. Raut wajahnya juga tidak menunjukkan dia sedang bersedih. Entah kenapa ini malah membuat hatinya sakit. Naga Bermata Satu itu tengah tenggelam dalam kesedihannya yang tidak dia ungkapkan. Beberapa teguk sake ternyata bisa memaksa Masamune berbicara lebih jujur tentang perasaannya.
Sebelum meracau lebih banyak lagi, Ieyasu langsung mengangkat tubuh Masamune dan dibawanya pulang ke kamar tidurnya. Dibiarkannya lelaki itu tidur dalam pelukannya, hingga dia tiba di depan kamar dan sudah ditunggu oleh Kojuuro.
"Maafkan aku sampai dia begini, Katakura-dono," kata Ieyasu kemudian menyerahkan Masamune kepada Kojuuro.
"Saya yang meminta maaf karena sudah merepotkan Anda, Yang Mulia," jawab Kojuuro setelah meletakkan tuannya di tempat tidur.
"Biarkan dia tidur lebih lama. Aku ucapkan terima kasih atas kerja keras kalian hari ini. Beristirahatlah, besok pagi aku akan mengadakan pertemuan lagi."
Ketika Ieyasu akan pergi, Kojuuro berkata, "Yang Mulia, apakah Masamune-sama mengatakan sesuatu sebelum dia tertidur?"
Ingin sekali rasanya mengatakan yang sebenarnya, tetapi Ieyasu memilih untuk menunda jawabannya di lain waktu. Sebelum dia meninggalkan kamar Masamune, dia berkata, "Jaga dia baik-baik, Katakura-dono..."
-to be continued-
A/N : Kiseru adalah pipa rokok khas Jepang. Tembakaunya bernama Kizami yang sudah dipotong kecil-kecil. Gankubi adalah mangkuk di ujung pipa yang berfungsi untuk membakar tembakau. Sekian informasinya, terima kasih yang sudah mampir untuk membaca ^^
