Keesokan harinya, Shogun Tokugawa Ieyasu melepas keberangkatan 5 orang bawahan Chikasada yang akan pergi menuju Sanuki. Dipimpin oleh Maeda Keiji, mereka akan melakukan penyelidikan daimyo Sanuki yang bernama Sogo Masayasu, yang mereka duga sebagai pelaku percobaan pembunuhan terhadap Chosokabe Motochika. Ieyasu memberikan waktu paling lama 2 hari untuk menyelesaikan penyelidikan. Jika terbukti Masayasu adalah pelakunya, dia harus mau dibawa ke kediaman Motochika di Tosa untuk diadili.

Satu pertanyaan terjawab, dan masih ada lagi yang harus diselesaikan...

Hujan turun deras di sore hari. Date Masamune sebenarnya ingin pergi ke luar istana, sekedar untuk jalan-kalan mencari udara segar. Dia juga ingin pergi ke pantai dan melihat Fugaku yang tengah bersandar di pelabuhan kota. Namun ketika melihat langit mendung dari siang, dia mengurungkan niatnya dan memilih untuk berada di istana saja. Dia lebih banyak menghabiskan waktunya di kamar tidurnya, terkadang duduk di teras kamar yang menghadap taman istana. Karena merasa jenuh melihat hujan tak kunjung berhenti, dia pergi sebentar keluar kamar.

Tempat yang dituju adalah kuil. Karena dia tidak boleh berada terlalu dekat, dia duduk di teras sebuah ruangan yang tidak jauh dari sana. Suara lantunan doa masih bisa didengar dengan jelas. Entah kenapa semakin lama dia dengar, rasanya semakin membuatnya bosan dan sedikit gelisah. Hingga kemudian dia dihampiri oleh Chikasada yang membawa secangkir teh untuk disajikan kepadanya.

"Saya harap teh rempah ini bisa menghangatkan badan Anda sedikit, Masamune-dono," kata Chikasada sambil duduk bergabung dengan Masamune.

"Terima kasih."

"Hujan seperti ini biasanya akan berlangsung sampai malam hari. Saya akan mengatakan kepada juru masak istana untuk menyajikan hidangan yang bisa menghangatkan."

"Semoga keberadaan kami tidak menyusahkanmu, Oni no Otouto," kata Masamune setelah menyeruput sedikit teh rempahnya.

"Kami tidak merasa kesusahan, justru kami ingin Anda semua bisa merasa nyaman berada di sini. Meski masih belum bisa bertemu dengan Aniki-sama."

Setelah terdiam sejenak, Masamune berkata, "Siang tadi aku pergi ke ruang kerjanya dan memeriksa kembali beberapa berkas kenegaraan yang diarsipkan. Aku melihat beberapa catatan pertikaiannya dengan klan Miyoshi. Sepertinya itu bukan cerita yang baru, disamping pertikaian abadinya dengan Mori Motonari."

"Anda benar, Masamune-dono. Semua itu dimulai dari Peristiwa Penyatuan Shikoku. Bahkan keinginannya itu ditentang keras oleh Oda Nobunaga. Beberapa daimyo di Shikoku yang memihak kepada Oda, melakukan banyak perlawanan kepada Aniki-sama. Namun sebagai daimyo terkuat di Shikoku, dia berhasil menunjukkan kekuatannya dan Shikoku menjadi satu di bawah pimpinannya."

"Menurutmu, apakah peristiwa percobaan pembunuhan ini terjadi karena dia lengah?"

"Aniki-sama memang tidak banyak membahas pertikaiannya dengan klan Miyoshi. Karena menurutnya, setelah Awa dan Sanuki ditaklukan, tidak akan ada lagi masalah. Bahkan sudah ada perjanjian damai di antara keduanya. Aniki-sama tidak mengambil pusing segala macam pertikaian antara dirinya dengan daimyo wilayah lain. Saat dia mengundang semua daimyo di Shikoku untuk datang ke kediamannya, dia pun menganggap semua orang adalah sama."

"Too careless, tidak heran jika kemudian ada orang yang ingin membalas dendam kepadanya dengan memanfaatkan kesempatan seperti ini. Kalian harus banyak memberi peringatan kepadanya jika akan mengadakan acara besar lagi nanti."

"Akan saya ingat nasehat Anda, Masamune-dono. Izinkan saya mewakili Aniki-sama mengucapkan selamat atas pernikahan Anda. Semoga nanti Aniki-sama sudah sembuh dan bisa hadir di acaranya. Namun bila belum sembuh, saya yang akan hadir mewakili klan Chosokabe."

"Thanks..."

-000-

...-ryu...

...-ryu...

...dokugan...ryu...

"Dokuganryu!"

Masamune tersentak dalam tidurnya setelah mendengar seseorang memanggil namanya beberapa kali. Ketika dia membuka mata, dia terkejut mendapati dirinya berdiri di sebuah dimensi gelap tak berujung. Seluruh tubuhnya nyaris tidak bisa digerakkan. Jantungnya berdegup kencang ketika dia melihat ada seseorang yang berjalan menghampirinya. Semakin dekat, dan semakin jelas sosoknya.

"Oh God..."

Yang dilihat di depan matanya sekarang adalah sosok Chosokabe Motochika mengenakan yukata berwarna ungu muda. Wajahnya tampak pucat, ada lingkar hitam di bawah mata kanannya. Urat-urat di wajahnya terlihat menonjol ke permukaan. Keduanya berdiri berhadapan. Mereka cukup dekat hingga Masamune bisa merasakan hawa dingin yang terpancar dari tubuh Iblis Laut Barat itu.

Sosok pucat pria berambut perak itu berkata dengan suara yang menggema, "Tinggalkan aku. Lupakan aku. Menjauhlah dari tempat ini dan pulanglah ke Oshu."

"Apa maksudmu—"

"Kau tidak akan bisa melihatku lagi setelah ini. Pergilah, dan lupakan aku."

"Jelaskan padaku apa yang sedang terjadi padamu, Saikai no Oni!"

"Aku sudah tidak lagi hidup di dunia ini. Maka itu lupakan aku."

Entah apa yang terjadi, pemandangan di depan mata Masamune berubah menjadi sangat mengerikan. Motochika dengan cepat menghujam sebuah benda tajam ke mata kanannya sendiri. Darah segar keluar dengan deras hingga mengenai wajah Masamune. Dimensi gelap itu lalu berubah warna menjadi merah seperti warna darah Motochika.

"Tidak...tidak...Saikai no Oni! Uukh!" belum selesai menelaah dalam pikirannya, tiba-tiba terdengar bunyi denging yang sangat tinggi hingga memekakkan telinga. Seketika itu juga Masamune terbangun dari tidurnya dan sudah kembali ke dunia nyata. Kedua tangannya mencengkeram kepalanya. Nafasnya tersengal dan jantungnya berdegup kencang. Keringat dingin membasahi wajah dan punggungnya.

"Masamune-sama! Anda baik-baik saja? Apa yang terjadi!" suara Kojuuro dari luar kamar kemudian menyadarkan Masamune.

"Kojuuro! Kojuuro!" panggil Masamune dalam keadaan panik.

Mata Kanan Naga itu lalu masuk dan menghampiri tuannya yang tengah ketakutan. Dia mendekap tubuh Masamune yang terguncang. Dia berkata, "Saya di sini, Masamune-sama."

DUAR!

Tepat saat Masamune hendak bercerita, keduanya mendengar suara ledakan yang sangat keras dari luar kamar. Kemudian disusul suara derap langkah kaki cepat melewati depan kamar mereka. Masamune melempar pandangan bertanya kepada Kojuuro, begitu pula sebaliknya. Karena khawatir akan terjadi sesuatu, keduanya mengambil pedang dan keluar dari kamar.

Betapa terkejutnya mereka mengetahui ada kobaran api tidak jauh dari kamar. Asap hitam dan lidah api membumbung tinggi ke udara. Kepanikan terlihat di sekitar lokasi. Orang-orang berhamburan mencari bantuan. Terdengar suara Ieyasu dan Chikasada yang memberi perintah kepada semua orang untuk menyelamatkan diri.

"Apa yang terjadi, Ieyasu?" tanya Masamune ketika sudah bertemu dengan Ieyasu di persimpangan lorong istana.

"Ada ledakan yang berasal dari kuil! Aku dan Chikasada belum bisa mendekat ke sana karena kobaran api sangat besar," kata Ieyasu sedikit panik.

"Kojuuro! Bantu Chikasada mengarahkan orang-orang untuk keluar dari istana. Pastikan semuanya dalam keadaan selamat!"

"Laksanakan, Tuanku!"

"Ieyasu, kau akan ikut aku ke kuil! Jika ledakan ini benar berasal dari sana, Saikai no Oni harus kita selamatkan!"

Tanpa berlama-lama, Masamune dan Ieyasu langsung pergi ke kuil. Di sana kobaran api terlihat sangat besar, bahkan menjalar sampai ke luar pintu. Para pendeta tampak ketakutan setelah menyelamatkan diri mereka keluar kuil. Salah seorang di antara mereka langsung menghampiri Ieyasu dan Masamune untuk meminta pertolongan.

"Tolong kami, Yang Mulia Shogun, Tuan Besar Masamune!"

"Apakah masih ada orang di dalam kuil?" tanya Ieyasu.

"Ada tiga orang yang belum bisa keluar. Kepala pendeta kami, seorang rekan kami, dan Motochika-sama."

"Mengapa kalian tidak menyelamatkan tuan kalian lebih dulu?!" tanya Masamune marah.

"Ka—kami sangat takut, Tuan Besar Masamune! Sebelum ledakan terjadi, Motochika-sama tiba-tiba berteriak dan mengamuk. Rantai-rantai yang membelenggunya lepas semua. Dia menyerang kami dalam kobaran api!"

Ketika Masamune hendak berlari ke kuil, Ieyasu langsung memegang tangannya dan berkata, "Nanti dulu, Dokuganryu! Kobaran api masih besar!"

"Aku tidak akan menunggu lebih lama untuk menyelamatkan semua orang di dalam sana, Ieyasu!" tegas Masamune berusaha melepaskan tangannya dari Ieyasu.

Proses tarik menarik berlangsung alot, sampai akhirnya Masamune berhasil lepas dan langsung merangsek masuk ke kuil yang terbakar. Dia terbatuk beberapa kali karena menghirup abu dan asap. Dadanya seketika terasa sesak, tetapi dia tidak bisa berhenti sekarang karena harus menyelamatkan semua orang yang tertinggal di kuil. Di depannya sekarang, terlihat sosok seseorang yang sedang berdiri menghadap patung dewa. Di bawah tempat peletakan patung, ada dua orang pendeta yang berusaha bersembunyi.

"Hadapi aku, Saikai no Oni!" seru Masamune mencoba mengalihkan perhatian.

Begitu namanya disebut, Motochika langsung berbalik menghadap Masamune. Kedua orang yang bersembunyi tadi langsung berhamburan keluar dari kuil. Kini tinggal Masamune dan Motochika yang sedang berhadapan satu sama lain. Kobaran api semakin besar, abu dan asap semakin tebal. Jika mereka terus berada di sini, mereka bisa mati kehabisan nafas. Masamune lalu mengayun pedangnya dan diarahkan ke langit.

"It's One-eyed Dragon!"

Dari ayunan pedangnya, berhembus angin sangat kencang dan menjebol atap kuil. Api kemudian sedikit mereda, abu dan asap tidak lagi mengepung mereka. Masamune kini bisa melihat jelas sosok Iblis Laut Barat di depannya.

"Saikai no Oni..."

Sosok Chosokabe Motochika, Iblis Laut Barat, Bajak Laut terkenal di Jepang, yang kini sedang berdiri di depan Masamune, terlihat sangat berbeda dan nyaris tidak bisa dikenali. Rambut peraknya yang sudah memanjang jatuh menutupi sedikit wajahnya. Badannya yang dulu berotot dan tegap, kini tampak kurus dan bungkuk. Penutup mata kirinya terkoyak sehingga bekas lukanya bisa terlihat. Masamune bisa merasakan gelombang jahat mengelilingi Motochika, terlihat dari mata birunya yang berkilat marah.

"Long time no see, Tuan Bajak Laut. Aku tidak menyangka pertemuan kita kali ini berada di antara kobaran api dan kepulan asap," ucap Masamune mencoba membuka pembicaraan. Perasaan di hatinya berkecamuk antara marah, senang, sedih, dan bingung. Tangannya gemetar memegang pedangnya.

Naga Bermata Satu itu melanjutkan, "Bukankah sebagai tuan rumah yang baik, kau harus menyambut tamumu dengan senyum ramah dan pelukan yang hangat? Ieyasu, dan adikmu, tidak akan senang melihatmu seperti ini."

Tak lama kemudian Ieyasu dan Chikasada bergabung dengan Masamune. Mereka terkejut setengah mati melihat sosok Motochika yang sudah berubah sangat drastis. Chikasada sampai jatuh berlutut dan menangis melihat keadaan kakaknya yang semakin tidak dikenali.

"Ya Tuhan, Aniki-sama..." ucap Chikasada lirih di sela isak tangisnya.

Ieyasu mencoba mendekat perlahan, tinjunya bersiap diacungkan ke arah Motochika. Dia berkata, "Berlututlah, Motochika. Kami akan membantumu..."

"Jaga jarak amanmu, Ieyasu. Yang kita lihat sekarang, bukanlah Saikai no Oni yang kita kenal!" seru Masamune memperingatkan Ieyasu.

Motochika melempar pandangan marah ke adiknya yang berlutut dekat pintu, lalu pindah kepada Ieyasu yang sedang mencoba mendekatinya. Tak lama kemudian pandangannya pindah lagi kepada Masamune yang bersiap menyerangnya dengan pedang.

"Grrr...Manusia rendahan...!" satu kata terselip keluar dari bibirnya. Suaranya terdengar seperti menggeram. Matanya masih berkilat marah dan memandang keji kepada semua orang di dekatnya. Urat-urat wajahnya yang menonjol menambah seram penampilannya.

"Keh! Dia pikir dirinya adalah iblis yang—"

Belum sempat Masamune menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba Motochika melesat cepat ke depannya dan menendang tubuhnya sampai terpental membentur pilar kuil. Dia juga bergerak cepat ke arah Ieyasu dan menendangnya kuat membentur dinding. Menyadari ada satu orang lagi yang sedang memperhatikannya, dia lalu melempar pandangannya kepada Chikasada.

"Aniki-sama, hentikan! Ini bukan seperti Aniki-sama yang saya kenal!" seru Chikasada mencoba menyadarkan kakaknya. Dia sangat ketakutan melihat Motochika sudah hampir dekat padanya dan mengulurkan tangannya. Dengan sekali gerakan cepat, Motochika mencekik leher Chikasada dan diangkatnya tinggi.

"Kuhancurkan tubuh ini bersama api yang membara!" ucap Iblis Laut Barat itu sambil menggeram.

"Lepaskan dia! Motochika!" bentak Ieyasu yang kemudian langsung berlari ke arah Motochika. Namun usahanya berhasil digagalkan. Motochika dengan cepat meninju wajah Shogun itu sampai dia terpental jauh.

Masamune juga ikut geram melihat perilaku Motochika yang tidak kenal ampun kepada adiknya. Dia berusaha sekuat tenaga untuk berdiri dan langsung melesat ke dekat Motochika. Pangkal pedangnya dipakai itu memukul leher bagian belakang pria berambut perak itu sampai melepaskan cengkeraman tangannya dari leher Chikasada.

"Pergilah menjauh dari sini, Chikasada!" perintah Masamune tegas.

"Tapi saya ingin melihat Aniki-sama—"

"Kau tidak akan bisa melihat dia lagi setelah ini!"

Masamune langsung menyeret Chikasada keluar dari kuil dan menyuruhnya untuk tetap berada di sana. Sebelum dia kembali, Chikasada memegang tangannya dan dia berkata, "Saya mohon, perlakukan Aniki-sama sebagaimana Anda ingin memperlakukannya."

"Lepaskan—"

"Saya mohon dengan sangat, Masamune-dono!" tukas Chikasada cepat di sela rasa putus asanya. Tangisnya tak tertahankan ketika dia meneruskan, "Selamatkan Aniki-sama! Bebaskan dia dari penderitaannya! Saya—ukh! Saya tidak bisa melihatnya seperti itu terus!"

Masamune mencoba mengatur nafasnya yang tersengal. Dari posisinya dia sekarang, dia bisa mendengar suara rintihan Ieyasu yang berusaha melawan keganasan Motochika. Jika dia tidak cepat bergabung dengannya, maka Ieyasu bisa saja dibunuhnya. Rasa sakit di tubuhnya tidak seberapa jika dibandingkan rasa sakit hati semua orang di sini, termasuk hatinya. Besar keinginannya untuk bisa menyelamatkan Motochika dalam keadaan hidup. Tetapi jika keadaan tubuhnya yang sudah berubah seperti itu, dia tidak yakin hidupnya akan menjadi lebih baik.

Membuang segala amarahnya, Masamune berlutut dan memegang pundak Chikasada sambil berkata, "Kau ingin dia bebas dari penderitaannya kan?"

"Ya, Masamune-dono, saya ingin Aniki-sama terbebas dari penderitaannya."

"Apa pun keadaannya?"

Sejenak Chikasada terdiam dalam isak tangisnya. Hatinya remuk redam ingin menjawab dengan jujur. Sudah cukup baginya melihat kakaknya tercinta menderita seperti itu. Dia lalu mengusap air matanya, menarik nafas dalam dan menjawab, "Saya serahkan semuanya kepada Anda, Masamune-dono. Dan kepada Yang Mulia Shogun. Saya hanya ingin Aniki-sama bebas dari penderitaannya, dari sakitnya, dari keterpurukannya!"

-to be continued-