Sebuah kesepakatan telah tercapai di tengah kepanikan...

Date Masamune lalu berdiri dan mempersiapkan dirinya bertarung dengan Chosokabe Motochika. Sebelum dia masuk ke kuil, Katakura Kojuuro datang menghampirinya dan sangat terkejut melihat kondisi tuannya yang sudah babak belur. Dia merasa sangat bersalah telah membiarkan Masamune bertarung sendirian.

"Maafkan saya datang terlambat, Masamune-sama! Saya baru saja selesai—"

"Kerja bagus, Kojuuro. Kau sudah menyelamatkan semua penghuni istana dan membawa mereka ke tempat aman," potong Masamune tanpa melihat kepada Mata Kanannya.

"Masamune-sama, apa yang terjadi di dalam sana?"

"Iblis Laut Barat itu benar-benar menjadi iblis dan melawan kami. Aku tidak bisa membiarkan ieyasu bertarung sendirian di dalam. Aku harus segera menyusulnya."

"Izinkan saya ikut bertarung bersama Anda!"

"No! Tetaplah di sini dan jaga Chikasada! Ini urusanku dengan Saikai no Oni! Jika Ieyasu sudah kuwalahan, akan kuseret tubuh bongsornya keluar dari kuil agar tetap hidup. Dia tidak boleh mati!"

"Masamune-sama—"

"Tetap di tempatmu dan jangan melawanku, Kojuuro!" tukas Masamune cepat. "Aku sudah mengatakan kepadamu untuk tidak mencampuri urusanku! Akan kuselesaikan semuanya dengan tanganku sendiri. Jika kau berani mengayunkan pedangmu, kau yang akan kubereskan selanjutnya!"

Tidak ingin berdebat lebih panjang dengan Kojuuro, Masamune langsung berlari ke dalam kuil untuk segera bergabung dengan Shogun Tokugawa Ieyasu. Kojuuro dengan berat hati menuruti kemauan tuannya. Dia lalu menarik Chikasada agak menjauh dari kuil supaya tidak terkena imbas perhelatan di dalamnya.

Dalam lingkaran api yang membara, Motochika semakin memperlihatkan kekejamannya. Dia terus menyerang Shogun Tokugawa Ieyasu tanpa ampun sampai tidak sanggup lagi berdiri. Ieyasu sekarang berada di dekat reruntuhan pilar. Tubuhnya merasa lelah dan sakit luar biasa. Melihat Masamune datang menghampirinya, dia seperti mendapat udara segar untuk bisa bernafas.

"Kau baik-baik saja, Ieyasu?" tanya Masamune mencemaskannya.

"Aku baik-baik saja, Dokuganryu. Tapi, lihatlah Motochika..."

Mata kelabu Masamune bertemu dengan mata biru Motochika yang berkilat semakin marah. Naga Bermata Satu itu berkata, "He's going mad! Dia bisa menghabisi kita hanya dengan tangan kosongnya."

"Ya, kau benar," balas Ieyasu tersengal.

"Kau tidak boleh mati di sini, Shogun-san. Bisa-bisa aku yang dihukum karena lalai menjagamu selama bertugas di Shikoku."

"Heh, aku tidak akan menyesal jika harus mati setelah menyelamatkan sahabatku. Motochika layak mendapatkan hidup lebih baik dari ini. Kita bebaskan dia dari penderitaannya."

"Sayangnya aku tidak bisa melibatkanmu lebih dari ini, Ieyasu."

"Dokuganryu..."

Masamune lalu memapah Ieyasu dan berjalan perlahan menuju pintu kuil. Dia tetap waspada karena Motochika masih memperhatikannya dari jauh. Yang ingin dia lakukan sekarang adalah menjauhkan Ieyasu dari kuil. Dia sudah bertekad untuk menyelesaikan semuanya dengan tangannya sendiri. Tidak boleh ada seorang pun yang mengganggu urusannya.

"Tugasmu di Shikoku sudah selesai, Shogun-san. Sekarang saatnya giliranku."

"Kau yakin akan menyelesaikan semuanya, Dokuganryu? Motochika sudah tidak bisa mengendalikan dirinya. Kau bisa terluka parah nantinya! Jika dia sadar dan melihatmu babak belur, dia pasti sangat sedih!"

"Maka itu, akan kubutakan satu matanya lagi supaya dia tidak melihatku seperti ini!"

"Uwah—!" Ieyasu tiba-tiba didorong keluar dari pintu kuil dan jatuh tersungkur di tanah. Dia membalik badan dengan cepat, namun pergerakkannya terhenti karena sebilah pedang teracung ke lehernya. Dia menengadah dan melihat Masamune sedang menatapnya. Sekilas mata cokelatnya melihat titik air mata menggenang di sudut mata kelabu lelaki itu. Setelah menghela nafas beberapa kali, dia akhirnya menyerah dan memilih untuk mundur.

"Baiklah, Dokuganryu. Aku serahkan semuanya kepadamu. Aku akan tetap berada di sini, bersama Katakura-dono dan Chikasada-dono. Jika kau butuh bantuan—"

"Sudah kubilang tidak boleh ada orang yang menghalangiku menyelesaikan urusanku! Kau berucap sekali lagi, pedang ini akan mencapai lidahmu dan memotongnya!"

Ieyasu lalu berdiri menghadap Masamune. Dia bisa melihat dengan jelas sekarang, mata kelabu Naga Biru itu berkaca-kaca. Sedikit terasa olehnya sebuah rasa sakit dan pedih yang sudah lama dipendamnya. Karena waktu yang tidak banyak, akhirnya Ieyasu pun membiarkan Masamune kembali ke dalam kuil. Bayangannya tenggelam dalam kobaran api dan asap tebal.

Kembali ke kuil, Masamune melihat Motochika tengah berlutut dan mencengkeram kepalanya sendiri. Sedikit gentar, dia mendekatinya dan pedangnya terhunus siaga. Mulut Motochika terlihat seperti menggumamkan sesuatu beberapa kali. Karena suaranya lirih dan nyaris tidak bisa didengar, Masamune ikut berlutut dan mencoba mendengarnya.

"Hentikan...pergilah...biarkan aku mati..." ucapnya lirih berulang-ulang.

"Saikai no Oni! Kau bisa dengar aku?"

"Uuurgh...pergilah...menjauhlah dariku! Huwaaaa!"

Suara Motochika tiba-tiba mengeluarkan gelombang udara sangat besar sehingga bisa mementalkan Masamune jauh darinya. Sekujur tubuhnya terasa sakit, apalagi ini sudah kedua kalinya dia dipentalkan. Tetapi dia tidak boleh menyerah di sini. Dengan kekuatan seadanya, dia kembali bangkit dan besiap menghadapi Motochika.

"You, Demon..." gumamnya ketika mata kelabunya menangkap bayangan hitam besar di belakang Motochika. "Tidak kusangka iblis terkuat di lautan Jepang bisa kalah oleh iblis yang entah dari mana datangnya! Apa pun yang menguasaimu sekarang, akan kukalahkan dengan pedangku!"

Motochika tiba-tiba menggeram dan menyebabkan kobaran api semakin besar. Jilatan apinya menjulang sampai ke udara. Dengan kecepatan satu kedipan mata, dia tiba di depan Masamune dan langsung melayangkan pukulan. Masamune tidak mau kalah cepat. Dia langsung menangkisnya dengan pedangnya hingga menyebabkan tangan Motochika terluka. Pria berambut perak itu mengerang kesakitan, tetapi langsung melayangkan kembali pukulan dengan satu tangannya dan mengenai wajah Masamune.

"Iblis terkutuk! Pulanglah kau ke neraka dan jangan kembali lagi ke sini!" Masamune langsung membalas serangan Motochika dengan jurus-jurus pedangnya.

Yang membuatnya terkejut adalah tubuh Motochika seperti tidak bisa merasakan sakit. Tidak peduli berapa banyak tebasan di dadanya, berapa banyak darah yang keluar dari luka-lukanya, Iblis Laut Barat itu masih bisa menyerang dengan beringasnya. Tak lama keduanya beradu kekuatan, mereka berjarak sebentar untuk mengumpulkan kembali kekuatan mereka. Motochika masih lebih unggul dan bisa mengalahkan Masamune dengan satu tendangannya. Naga Bermata Satu itu jatuh tersungkur, pedangnya terlepas dari genggaman tangannya. Yukata yang dikenakannya robek di sana sini karena Motochika sempat mencakar dadanya. Lukanya terasa perih terkena debu panas di sekitarnya.

Dalam kondisi yang amat lelah, Masamune melihat Motochika beberapa kali mendekap dirinya sendiri dan mencengkeram kepalanya sambil mengerang kencang. Sosok pria bermata biru sesekali berubah menjadi dirinya sendiri, dan selebihnya berubah menjadi iblis yang siap menyerangnya kapan saja. Di luar dari apa yang dipercayanya, di mata Masamune, Motochika seperti mempunyai kepribadian lain yang seharusnya tidak berada di tubuhnya. Jika dibiarkan, pribadi yang jahat itu akan semakin menguasainya dan jati diri sesungguhnya akan terkikis.

"Saikai no Oni, Chosokabe Motochika!" teriak Masamune kemudian di sela sengal nafasnya. Dia mencoba berdiri dan menopang tubuhnya yang sudah sangat sakit dengan kedua kakinya. Tenaganya seakan sudah habis, bahkan untuk mengangkat satu pedangnya.

"Kau tidak akan berakhir menyedihkan seperti ini. Aku akan memberikan akhir yang baik untukmu!"

Masamune mengeluarkan segenap tenaga dari dalam tubuhnya. Dari langit-langit kuil yang sudah berlubang, turun kilat besar berwarna biru terang dan mengelilinginya. Tidak hanya itu, keenam pedangnya ikut mendarat di sekelilingnya. Dia seperti mendapatkan kekuatan untuk bisa lebih berani dan kuat berdiri di kedua kakinya. Mata kirinya dipejamkan, pikirannya terpusat pada satu titik untuk bisa mendapatkan tenaga lebih besar. Meski sekarang dia sudah bisa berdiri tegap, tetapi masih ada satu hal yang menggoyahkan keyakinannya. Apa yang akan terjadi jika dia mengeluarkan semua kemampuannya? Apakah Motochika bisa selamat dan tetap hidup? Atau malah benar-benar bebas dalam arti tidak bisa merasakan apa-apa lagi? Chikasada sebagai adik kandungnya, Ieyasu dan Keiji sebagai sahabatnya, pasti akan sangat sedih jika Motochika harus mati.

Masamune pun akan sangat sedih...

Harapannya menjadi bahagia di hari pernikahannya seketika sirna...

Segalanya harus diakhiri di sini...

"I'll end your suffering here!" ucapnya dengan tekad yang bulat. Dia mengangkat kedua tangannya dan seketika itu kilatan dari pedang-pedangnya berkelebat ke udara. Bersamaan dengan itu, Motochika mengeluarkan geraman yang menggetarkan tanah. Bayangan hitam yang jahat itu kembali mengelilinginya. Dia menghadap Masamune dan bersiap untuk menyerang.

Pedang-pedang Masamune terangkat dari tanah. Dia lalu berkata, "Akan kutarik jiwamu kembali ke bumi dengan cakar-cakarku. Kau adalah Iblis Laut Barat! Kau tidak boleh kalah dari iblis terjahat dari neraka mana pun! Kembalilah, Saikai no Oni! Kembalilah padaku!"

Masamune mengayun tangannya untuk menerbangkan pedangnya ke arah Motochika. Keenam pedangnya dengan cepat menusuk kedua tangan, bahu, dan kakinya hingga pria berambut perak itu jatuh ke lantai kuil yang rusak. Besarnya kekuatan yang dikeluarkan pedang-pedang Masamune menyebabkan Motochika tidak bisa bergerak. Suara geramannya semakin kencang diselingi erangan kesakitannya. Melihat Motochika sudah tidak berdaya, Masamune melesat cepat dan berlutut di atas badannya. Tangan kanannya memegang Kiseru yang tadi dia ambil diam-diam dari lengan yukata Ieyasu. Dia siap menghujam ujung runcing pipa tembakau itu ke mata kanan Motochika.

Tidak kuasa menahan segala perasaan yang berkecamuk di hatinya, tak terasa Masamune menitikkan air mata. Dia melihat Motochika kini menatapnya dengan mata birunya. Namun dia terkejut mengetahui kilat marah dari mata pria berambut perak itu menghilang. Bayangan hitam yang tadi menguasainya telah memudar. Dia seperti melihat Motochika yang sesungguhnya. Hatinya semakin sakit ketika bibir itu menyungging senyum kepadanya.

"Terima kasih telah membangunkanku, Dokuganryu," kata Motochika lemah.

"Damn it! Kau malah tersadar di saat seperti ini, Saikai no Oni!" protes Masamune kecewa. Dengan suara paraunya dia meneruskan, "Seharusnya aku bisa menusuk matamu lebih cepat daripada harus melihatmu tersenyum padaku!"

"Tidak ada waktu lagi, Dokuganryu. Kau harus melakukannya dengan cepat. Aku tak bisa menahannya lebih lama lagi."

"Apa katamu?"

"Kau harus tusuk mata kananku dengan ujung Kiseru itu. Tahan tanganmu sampai dia benar-benar pergi dari tubuhku."

"Aku tidak mengerti. Dia itu siapa?! Apa yang dia inginkan darimu?!"

"Dia masih ada di dalam tubuhku. Jika kau tidak melakukannya dengan cepat, pedang-pedangmu akan balik menyerangmu dan kau akan mati."

"Biarkan aku mati supaya jiwaku bisa melindungimu dari serangan iblis itu selagi kau naik ke nirwana!"

"Kita berdua akan tersesat jika tidak mengusirnya dari tubuhku, Dokuganryu! Cepatlah!"

"Tidak bisa! Tidak bisa, Saikai no Oni!"

Pedang-pedang yang menusuk tubuh Motochika tiba-tiba bergeming dan bersiap untuk lepas. Semakin Masamune merasa ragu, semakin kencang goncangan pedangnya. Jika ini dibiarkan, bisa jadi dia yang akan mati diserang senjatanya sendiri. Tetapi dia tidak bisa melihat orang yang sangat dirindukannya ini mati. Di tengah rasa kecewa dan putus asanya, Masamune menguatkan kembali tangannya yang menggenggam Kiseru. Jantungnya berdegup kencang, nafasnya semakin tidak beraturan. Hatinya menjerit kuat menyebut nama Tuhannya.

"Aku mohon cepatlah, Dokuganryu," ucap Motochika lirih. Suaranya terseling geraman iblis yang masih bersemayam di tubuhnya. Besar keinginannya untuk bisa menjangkau wajah lelaki pujaannya yang sedang bersedih melihatnya segera mati.

Masamune merasakan sesak luar biasa di dadanya ketika dia berkata, "Adakah cara lain yang bisa kita tempuh? Aku tidak bisa—"

"Biarkan aku pergi dengan tenang. Bebaskan aku, Sayang. Aku ingin tetap tersenyum meski harus berpisah denganmu."

"Aku akan membebaskanmu. Tapi bantu aku untuk bisa mengikhlaskanmu, Chosokabe Motochika!"

"Jika nanti aku sudah tidak ada, kenanglah aku seumur hidupmu. Dengan begitu, aku akan hidup dalam ingatanmu, Date Masamune."

"I'll keep you within me..."

"Semoga kau diberi umur panjang untuk bisa mengenangku lebih lama..."

Dengan satu teriakan panjang, Masamune menghujam ujung Kiseru ke mata kanan Motochika. Sesuai dengan arahan, dia tidak boleh melepas tusukannya sampai iblis jahat itu pergi dari tubuh Motochika. Dirasakan tangannya gemetar hebat karena iblis itu tengah melawannya.

"Dengarlah suara Naga membelah langit dan bumi. Pergilah kau, Iblis Jahat! Kembalilah ke neraka dan jangan pernah kembali lagi!"

Kobaran api kemudian mereda, debu dan asap hitam yang panas membumbung ke udara dan menghilang bersama pusaran angin. Suasana mencekam di kuil yang hampir rata dengan tanah itu berangsur menjadi lebih tenang.

Tak ada lagi suara geraman, tak ada lagi kemarahan...

Hanya ada damai dalam sunyi...

-to be continued-