Pemandangan matahari terbenam memang lebih indah jika disaksikan dari pinggir pantai. Ditemani desir ombak dan angin laut yang berhembus pelan, suasana pergantian hari ke malam akan terasa khidmat dan menenangkan hati.
Date Masamune berjalan menyusuri pantai tanpa mengenakan alas kaki. Dirasakannya butiran pasir di telapak kakinya sedikit memberi pijatan lembut. Bagian bawah yukatanya sedikit basah diterpa air ombak yang dangkal. Pandangan matanya tidak lepas dari lingkar emas yang akan segera menghilang di ufuk barat.
"Dokuganryu!" suara seseorang terdengar memanggilnya dari kejauhan. Tak terasa kakinya sudah melangkah sangat jauh, hingga kemudian tiba di gundukan batu di pinggir pantai. Di atas gundukan batu itu, duduklah Chosokabe Motochika yang sedang memegang botol arak. Pria berambut perak itu melambaikan tangan kepadanya.
"Kemarilah! Aku hampir menghabiskan satu botol ini sendirian!"
"Apa yang kau lakukan di sini? Matahari akan segera terbenam. Bukankah sebaiknya kau kembali ke rumahmu?" tanya Masamune yang kemudian ikut duduk di dekat Motochika.
"Justru aku berada di sini karena ingin melihat matahari tenggelam. Kau harus melihat dari sini, Dokuganryu. Pemandangannya jauh lebih menyenangkan."
Sejenak keduanya terdiam menikmati angin laut yang berhembus pelan mengenai wajah dan rambut mereka. Suara desir ombak dan kicau burung camar menjadi satu-satunya pemecah keheningan di antara mereka. Senja di sore hari itu begitu cerah, tak ada awan yang berarak menghalangi matahari yang akan tenggelam.
"Mengapa kau suka memandang matahari tenggelam, Saikai no Oni?" tanya Masamune.
"Entahlah, aku hanya suka dengan suasananya. Tetapi jika cuaca sedang buruk, aku tidak akan bisa melihat matahari terbenam seperti sekarang," jawab Motochika setelah menegak araknya.
"Setiap kali aku berkunjug ke wilayahmu, kau akan mengajakku ke sini dan menikmati detik-detik pergantian hari ke malam. Tapi benar katamu, pemandangannya sangat indah."
"Benar kan? Kau tidak akan melihat pemandangan seperti ini jika sedang berada di Oshu. Karena kau tamu istimewaku, maka aku akan menyuguhkan sesuatu yang istimewa juga supaya kau senang."
"I'm honored..."
"Naa, Dokuganryu. Sebentar lagi kau akan menikah. Bersyukurlah kau menikah di saat Jepang sudah mencapai kedamaian. Apa kau masih akan melakukan sesuatu untuk membesarkan namamu?"
Masamune menjawab sambil terkekeh, "Namaku sudah besar, aku tidak perlu melakukan apa-apa lagi. Karena masa peperangan sudah berakhir, mungkin aku akan lebih banyak berada di Oshu dan mengembangkan sesuatu di sana. Lalu bagaimana denganmu, Saikai no Oni?"
Ombak kembali menerpa bebatuan yang mereka duduki dan menimbulkan suara keras. Motochika menjawab setelah suara ombak itu menjauh, "Iblis Lautan sepertiku tidak cocok menjadi pemimpin yang berjaya di daratan. Mungkin aku akan menjelajah lautan lebih jauh lagi."
"Apakah kau tidak lelah melaut terus? Kau akan melewatkan hal-hal menarik di hidupmu jika kau sibuk melihat ke luar."
Kini giliran Motochika yang terkekeh dan berkata, "Aku sudah berhasil menyatukan Shikoku. Pulau kecil ini sudah menemukan kedamaian. Jika suatu hari aku pergi, tidak akan ada rasa penyesalan karena aku sudah mewujudkan keinginan orang-orang untuk hidup dalam damai."
"Jadi kau merasa tugasmu sudah selesai di Shikoku?"
"Bukan tugasku, tapi tugas Fugaku yang sudah selesai di Shikoku."
"Apa kau berencana untuk mengistirahatkannya?"
"Aku butuh dermaga sendiri untuk menyandarkannya. Aku masih belum tahu apa yang akan kulakukan terhadapnya. Tetapi tenang saja, aku sudah punya penggantinya."
Tepat ketika Motochika menyelesaikan kata-katanya, dari arah laut, terlihat sebuah kapal besar bergerak ke arah pantai. Lebih tepatnya, bergerak mendekati mereka. Kapal itu tidak pernah dilihat Masamune sebelumnya. Bentuknya lebih mirip kapal layar pada umumnya. Ada beberapa layar besar berlambang klan Chosokabe membentang di atasnya. Ketika kapal itu sudah mendekat, Motochika lalu melompat turun dari gundukan batu dan berjalan ke pinggir pantai.
"Ini rancangan mutakhir ahli mesin dan perkapalan Shikoku. Aku persembahkan padamu, Dokuganryu. Akatsuki Maru!"
Kapal itu lalu bergerak naik, air di sekitarnya beriak mengikuti geraknya. Di luar dugaan, di bawah lambung kapal, terdapat satu mesin lagi yang mempunyai bentuk seperti badan katak dan mempunyai 6 kaki besar. Mulut katak itu lalu terbuka dan mengeluarkan meriam berlaras panjang. Sebuah karya luar biasa dari Iblis Laut Barat. Masamune sampai tidak bisa berkata apa-apa saking takjubnya. Karena penasaran, dia melompat turun ke air dan bergabung dengan Motochika supaya bisa melihat lebih dekat.
"Akatsuki Maru..." gumam Masamune takjub.
"Kapal ini tidak akan secanggih dan semegah Fugaku. Tetapi mereka punya kesamaan, yaitu bisa berjalan di air dan di darat. Jika Fugaku menggunakan roda untuk bergerak, Akatsuki Maru menggunakan kaki-kaki itu untuk berjalan. Seperti yang kubilang tadi, aku tidak akan berada di Shikoku selamanya. Akan kubuka lebar mata ini supaya bisa melihat lautan yang lebih luas dari Perairan Seto," jelas Motochika.
"Weird ship, lihatlah kaki-kaki itu. Kapalnya malah terlihat seperti badan laba-laba."
"Kau benar. Laba-laba menggunakan kaki-kakinya yang panjang untuk bisa menjangkau medan yang sulit. Dia lalu membuat jaring untuk menangkap mangsanya. Semakin besar jaring yang dibuat, semakin banyak mangsa yang akan masuk ke perangkapnya."
"Apa yang kau rencanakan dengan kapal aneh ini, Saikai no Oni? Dari penjelasanmu soal jaring laba-laba, apa kau berencana menjangkau lebih banyak lautan di kemudian hari?"
Motochika berjalan mendekat ke salah satu kaki kapalnya. Dia menyeringai bangga dan menjawab, "Aku akan berlayar untuk terakhir kalinya menggunakan kapal ini."
"Berlayar untuk yang terakhir?"
Karena ingin membicarakan hal ini lebih serius, Motochika lalu menghampiri Masamune dan diajaknya lelaki itu kembali ke pantai. Keduanya duduk beralas pasir dan menghadap ke matahari yang sedikit lagi akan menghilang di ujung penglihatan mereka. Satu tangan Motochika melingkar di pinggang Masamune.
"Aku ingin mengatakan sesuatu sebelum aku pergi," ucap Motochika tanpa memandang Masamune.
"What is it?"
Iblis Laut Barat itu menarik nafas panjang dan menjawab, "Aku mencintaimu."
Masamune hanya memandang Motochika dalam diam ketika mendengarnya mengatakan itu. Mencintai, eh? Tidak pernah sekalipun kata itu terucap dalam hubungan istimewa yang mereka jalin sekian lama. Tetapi mereka cukup sadar bahwa rasa cinta itu telah tumbuh dan bersemi di hati mereka. Hanya saja, cara mereka mengungkapkan tidak seperti yang dilakukan orang lain pada umumnya.
"Mungkin aku tidak pernah mengatakannya padamu. Tapi aku ingin kau tahu, bahwa aku sangat mencintaimu. Jika aku harus mengungkapkan perasaan ini kepada seseorang, maka aku ingin mengungkapkannya kepadamu, Dokuganryu," lanjut Motochika.
"Tanpa kau katakan pun, aku tahu bagaimana perasaanmu padaku," kata Masamune.
"Karenanya, aku ingin kau mengingat hari ini untuk selamanya. Setelah ini, mungkin aku tidak akan mengatakannya lagi padamu."
"Apa kau sungguh akan pergi jauh sehingga aku tidak akan bertemu denganmu lagi?"
"Lautan luas di luat sana memanggilku lewat bisikan ombak dan hembusan angin. Aku sudah mantap untuk melanjutkan kehidupanku mengarungi lautan. Aku bisa saja kembali, tapi pasti waktunya akan sangat lama. Kalau pun nanti aku kembali, aku belum tentu bisa bertemu denganmu."
Hati Masamune terasa remuk mendengar keputusan Motochika. Dia lalu berkata sambil tersenyum pahit, "Aku berpikir kau akan mengajakku pergi berlayar dengan kapalmu."
"Aku tidak bohong kalau sebenarnya aku ingin kau ikut denganku berlayar ke tempat yang jauh. Peperangan sudah usai, tidak akan ada lagi perhelatan di tanah yang damai. Pedang-pedangmu akan beristirahat untuk selamanya. Begitupula dengan jangkar besar dan Fugaku milikku. Kita terbiasa menyapa lewat dentingan senjata dan peluh keringat. Tapi sekarang, kita tidak akan bisa melakukan itu lagi."
"Selama ini aku selalu beranggapan bahwa Sanada Yukimura yang selalu membuatku bersemangat lewat tombak apinya. Namun pertemuan denganmu adalah sebuah kejutan yang tidak pernah akan kulupakan sampai kapan pun. You're right.Aku akan merindukan saat di mana cakar-cakarku bisa beradu dengan jangkar besarmu."
"Kau sudah menentukan jalan hidupmu selanjutnya dengan pernikahan yang akan kau umumkan ke seluruh penjuru negeri. Sekarang giliranku menentukan jalan hidupku selanjutnya."
Demi mengusir keresahan di antara mereka, Motochika meraih tangan Masamune dan mencium buku-buku jarinya. Digenggamnya erat tangan lelaki pujannya itu lalu diletakkan di dadanya. Masamune bisa merasakan jantung pria berambut perak itu berdegup sedikit cepat. Entah kenapa bibirnya tidak bisa digerakkan, padahal dia ingin sekali mengatakan sesuatu dari dalam hatinya.
Motochika lalu mengajak Masamune berdiri. Keduanya kini saling tatap, mendalami perasaan masing-masing yang masih tertahan. Iblis Laut Barat itu tersenyum sambil membelai wajah Masamune dan berkata, "Terima kasih sudah hadir dalam kehidupanku, Date Masamune. Aku sangat bersyukur bisa mengenalmu dan menjalin hubungan yang baik bersamamu."
"Aku pun ingin berterima kasih padamu, Chosokabe Motochika. Kau telah memberikan banyak pengalaman baru untuk Naga Bermata Satu yang berjaya di daratan," balas Masamune sambil memegang tangan Motochika yang masih membelai wajahnya.
"Aku akan memulai pelayaran terakhirku hari ini. Tepat setelah matahari tenggelam, kita akan berada pada jalan kita masing-masing."
"Apakah ini perpisahan kita, Saikai no Oni?"
Dikuasai perasaan sedih, Motochika tiba-tiba menarik tubuh Masamune dan didekapnya erat. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Dirasakannya kepala Masamune bersandar di bawah lehernya. Naga Bermata Satu itu membalas pelukannya dengan erat. Ketika dia ingin mengangkat kepalanya, Motochika mencegahnya seakan melarang untuk melihat wajahnya.
"Dengarkan kata-kataku, Dokuganryu!" seru Motochika mengeluarkan isi hatinya. Dia tetap mendekap Masamune dan meneruskan, "Ini adalah perpisahan kita! Saat aku melepas dekapan tangan ini darimu, aku tidak akan melihatmu lagi. Aku akan naik ke kapal dan mulai melaju dengan kecepatan penuh. Jangan katakan apa pun setelah aku pergi, termasuk ucapan selamat tinggal!"
"Saikai no—"
"Berbahagialah, Sayang. Jadilah orang yang paling bahagia di muka bumi ini!"
"Tunggu—"
Belum sempat Masamune berkata, Motochika keburu menciumnya dengan cepat. Tanpa melihat kembali kepada lelaki berambut cokelat itu, dia langsung berlari ke air dan melompat ke kapalnya. Mesin kapal kemudian dinyalakan, gemuruh suaranya terdengar hingga menggetarkan tanah. Kapal Akatsuki Maru mulai bergerak menjauh dari pantai. Sementara itu, Masamune hanya bisa terdiam melihat Motochika pergi. Dia melihat pria berambut perak itu berdiri di pinggiran geladak sambil menatapnya. Namun tidak lama setelahnya, Motochika berbalik membelakanginya dan menghilang dari penglihatannya.
Bersamaan dengan tenggelamnya matahari, kapal Motochika menghilang seutuhnya. Pemandangan di sekeliling Masamune berubah menjadi ruangan gelap total tak berujung. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba muncul kobaran api mengelilinginya. Di tengah rasa bingung dan panik, Masamune mencoba berlari kencang menembus api. Tetapi semakin jauh dia berlari, api yang mengelilinginya menjadi semakin besar dan tidak bisa ditembus. Seketika itu dia merasa putus asa hingga jatuh berlutut di tanah. Dia mendekap tubuhnya sendiri dan ketakutan. Tidak ada hal lain yang diinginkannya kecuali bisa keluar dari dunia yang sedang dilihatnya ini.
Masamune tertawa getir dan berkata, "Jika kau ingin pergi, paling tidak jangan tinggalkan aku di tempat seperti ini..."
-to be continued-
