Suara kicau burung di pagi itu membangunkan Date Masamune dari tidur yang panjang. Ketika dia hendak bangun, dia merasakan sakit luar biasa di sekujur tubuhnya. Dia menggerutu saat mencoba untuk duduk di tempat tidurnya. Di kamar tidurnya, dia tidak mendapati siapa pun kecuali dirinya sendiri. Sinar matahari pagi mencoba menerobos masuk lewat pintu kamarnya. Naga Bermata Satu itu kemudian melirik ke samping tempat tidurnya dan mendapati segelas air. Dia meraihnya dan meminumnya sampai habis. Setelah minum, dia meletakkan gelasnya ke tempat semula. Dia kembali berbaring sambil memijat kepalanya.

"Masamune-sama, apakah Anda sudah bangun?"

Mendengar Katakura Kojuuro memanggilnya dari luar kamar, Masamune malah tidak ingin keluar dan memilih untuk tetap berada di tempat tidurnya. Mendadak dia mengingat kembali apa yang sudah terjadi sebelum dia tertidur panjang sampai hari ini.

"Maafkan saya, Masamune-sama. Saya harus masuk untuk melihat keadaan Anda," lanjut Kojuuro kemudian masuk ke kamar dan mendapati tuannya masih berbaring di tempat tidur. Dia merasa sedikit lega karena Masamune sudah membuka matanya.

"Apa Anda membutuhkan sesuatu, Masamune-sama?"

"Apa kita masih di Shikoku, Kojuuro?" tanya Masamune lesu.

"Mengingat kondisi Anda yang terluka parah setelah peristiwa di kuil, Yang Mulia Shogun meminta kita untuk tetap berada di Shikoku sampai Anda kembali sehat. Hari ini adalah hari ketiga Anda dirawat."

Belum selesai Kojuuro berbicara, pintu kamar Masamune lalu terbuka dan datanglah Shogun Tokugawa Ieyasu bersama Maeda Keiji. Melihat Masamune sudah bangun dari tidur panjangnya, mereka berdua sangat senang. Terutama Keiji yang baru pulang dari Sanuki. Dia tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini selagi sedang tidak di Shikoku. Dia langsung memeluk Masamune dengan erat sampai Naga Bermata Satu itu hampir jatuh dari tempat tidur.

"Akhirnya kau bangun, Dokuganryu! Aku benar-benar khawatir setelah mendengar cerita dari Ieyasu! Apakah tubuhmu masih sakit? Apakah ada luka parah?" tanya Keiji cemas.

"Ukh! Kau memelukku terlalu kencang, Tuan Pengembara! Tulang-tulangku bisa remuk karena didekap oleh tangan besarmu!" gerutu Masamune sambil mendorong lelaki berambut panjang itu menjauh darinya.

Ieyasu lalu duduk di dekat Masamune dan berkata, "Aku juga senang akhirnya kau bangun, Dokuganryu. Sore ini kita akan pergi ke pelabuhan kota."

"Ke pelabuhan kota, katamu?"

"Ya, keluarga Chosokabe dan penduduk Shikoku akan melarung jenazah Motochika ke laut Seto bersama Fugaku."

"Mengapa mereka melarungnya? Bukankah seharusnya dimakamkan atau dikremasi?"

"Gagasan ini pertama kali diusulkan oleh para anak buah Motochika yang bekerja di Fugaku. Mereka ingin membuktikan kesetiaan mereka kepada tuannya dengan ikut dilarung ke lautan. Keluarga Chosokabe tadinya kurang setuju karena ini bertentangan dengan kepercayaan mereka. Tetapi karena para anak buah Fugaku bersikeras, permintaan mereka dikabulkan oleh Chikasada."

"Aaah, iri sekali mendengar kesetiaan anak buah Motochika seperti itu. Meski tuannya sudah meninggal, mereka tetap ingin mendampinginya dilarung di lautan," kata Keiji sedih.

"Lalu bagaimana dengan urusanmu di Sanuki, Tuan Pengembara?" tanya Masamune berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Yah, setelah kudesak, akhirnya dia mau mengakui perbuatannya. Di Hari Panen Raya itu, dia sudah berniat untuk membunuhnya. Dia menghadiahkan kiseru dan kizami yang sudah diberi racun dan mantera ilmu hitam. Hanya karena dia tidak setuju Shikoku bersatu di bawah pimpinan Motochika, dia bersikeras untuk menyingkirkannya. Dia juga punya dendam kepada Motochika karena sudah membunuh salah satu saudara tuanya dari klan Miyoshi."

"Berkat kegigihanmu, Dokuganryu, mantera ilmu hitam itu berhasil dipatahkan. Kau sudah berjuang mati-matian untuk membebaskan Motochika dari penderitaannya. Aku sangat berterima kasih atas kerja kerasmu," kata Ieyasu sedikit menyemangati Masamune yang masih terlihat lesu.

Sejenak keempat orang di dalam kamar ini terdiam. Masamune teringat dengan mimpi panjang yang dia alami selama tertidur cukup lama. Kepergian Motochika dengan kapal barunya merupakan sebuah tanda perpisahaannya. Kemudian Ieyasu memberitahunya bahwa jenazahnya akan dilarung bersama Fugaku dan diikuti oleh semua anak buahnya, semakin menegaskan bahwa Motochika sampai akhir hayatnya akan terus berada di lautan.

"Memang takdir seorang Bajak Laut adalah tetap berlayar meski sudah tidak bernyawa," gumam Masamune memecah keheningan. Dia meneruskan, "Tidak ada kematian yang lebih baik baginya kecuali berada di atas kapalnya sendiri. Prinsip itulah yang dipegang oleh Saikai no Oni."

"Kau benar, Dokuganryu. Maka itu Chikasada mengizinkan semua anak buahnya untuk ikut dilarung bersama Motochika di lautan," kata Ieyasu.

"Apakah Motochika mengatakan sesuatu di saat terakhirnya, Dokuganryu?" tanya Keiji.

Masamune hanya menggeleng dan menjawab, "Dia hanya berterima kasih. Tidak lebih dari itu."

"Sayang sekali aku tidak berada di sana di saat terakhirnya. Aku terkejut mendengar kabar ini dari Ieyasu ketika pulang dari Sanuki. Pupus sudah harapanku untuk bertemu dengan Motochika dalam keadaan sehat."

"Kita semua bersedih, Keiji. Bahkan dunia ini pun akan bersedih telah kehilangan orang yang hebat seperti Motochika," kata Ieyasu. Shogun bermata cokelat itu kemudian berdiri dan membuka pintu kamar. Dia meneruskan, "Dokuganryu, jika kau sudah merasa lebih baik, aku ingin kau bersiap-siap untuk upacara pelarungan jenazah Motochika di laut Seto."

"Yes, Sir..." jawab Masamune.

"Keiji dan aku akan berangkat lebih dulu ke pelabuhan, sekedar memantau persiapan upacara. Atau kau mau ikut bersama kami sekarang ke sana?"

"Kalian berangkat saja lebih dulu. Aku dan Kojuuro akan menyusul setelah aku sudah siap. Paling tidak, aku akan memakai pakaian resmi untuk hadir di upacaranya."

-000-

Shikoku di sore hari itu diliputi duka yang sangat mendalam...

Istana Keluarga Chosokabe di Tosa dihiasi bendera dan umbul-umbul berwarna hitam. Tidak hanya di kompleks istana, bendera hitam juga berkibar di sepanjang jalanan kota sampai ke pelabuhan. Masyarakat sudah berkumpul di pinggir jalan untuk melihat iringan jenazah dari istana. Mereka merasa sangat kehilangan setelah mendengarn kematian pemimpin mereka, orang yang sudah berjuang mempersatukan semua wilayah di Shikoku dan hidup dalam damai, yaitu Chosokabe Motochika.

Iringan jenazah di mulai dari pelataran istana dan dipimpin oleh Chikasada dan 2 saudara kandungnya yang tidak tinggal di Tosa, yaitu Chikayasu dan Chikamasu. Ketiganya akan memimpin rombongan keluarga Chosokabe. Di belakang barisan mereka, adalah rombongan Shogun Tokugawa Ieyasu, Maeda Keiji, Date Masamune, dan Katakura Kojuuro. Peti jenazah Motochika dibawa menggunakan tandu besar yang dihias sedemikian rupa dan digotong oleh anak buah Motochika yang setia. Mereka adalah orang-orang yang tulus mencintai pemimpin mereka sehingga rela untuk ikut mati bersama tuannya.

Peluit tanda iringan jenazah dibunyikan, semua rombongan bergerak keluar dari pintu gerbang istana. Mereka berjalan perlahan, mengikuti lantunan doa yang dibacakan oleh para pendeta. Begitu rombongan memasuki kota, tangis meledak di antara masyarakat yang melihat. Mereka mengelu-elukan nama Chosokabe Motochika dan menabur bunga di sepanjang jalan. Langit di atas sana menjadi kelabu, seakan ikut bersedih atas kepergian orang ternama di Shikoku.

Setelah melewati perjalanan jauh, rombongan jenazah tiba di pelabuhan. Anak buah Motochika yang lain sudah bersiap di Fugaku menanti kedatangan tuan mereka yang akan dilarung. Chikasada menyerahkan peti jenazah kepada salah satu anak buah Motochika, Yamada, untuk selanjutya dibawa naik ke Fugaku.

"Teman-teman, ayo kita lanjutkan perjalanan terakhir kita bersama Aniki! Fugaku akan menjadi satu-satunya kendaraan kita menuju pelayaran abadi!"

Bunyi panjang dari cerobong asap Fugaku menjadi penanda bahwa kapal besar itu akan segera berangkat meninggalkan pelabuhan. Bendera berlambang klan Chosokabe dikibarkan di tiang tertinggi di Fugaku. Semua awak kapal melambaikan tangan kepada mereka yang di daratan, mengucapkan selamat tinggal untuk terakhir kalinya.

Berdiri di pinggir dermaga, Keiji tidak henti-hentinya menyeka air mata karena tak kuasa menahan tangisnya. Ieyasu berusaha tegar dan menjaga wibawanya untuk tidak menangis di depan banyak orang. Dalam hati mereka memanjat doa agar sahabatnya mendapat ketenangan dan kedamaian di kehidupan berikutnya. Keduanya lalu berpelukan dan memberi semangat satu sama lain supaya tidak terlalu larut dalam kesedihan. Mereka lalu menghampiri Masamune yang berdiri agak jauh dari mereka.

"Dokuganryu, kau baik-baik saja?" tanya Ieyasu sambil memegang bahu Masamune.

Sejenak Masamune terdiam dan masih memandang ke arah kapal yang bergerak semakin jauh. Sejak bertolak dari istana tadi, Masamune hampir tidak menunjukkan reaksi apa pun. Tak ada air mata yang menetes di pipinya, tak ada suara tangis yang keluar dari mulutnya. Meski demikian, dia tetap mengikuti rangkaian upacara dengan baik. Dia bisa mengendalikan dirinya untuk tidak membuat kekacauan di acara sakral tersebut.

"Dokuganryu? Apa ada hal yang ingin kau sampaikan?" tanya Ieyasu sekali lagi, kali ini sedikit mengkhawatirkannya.

"Aku melihatmu banyak diam sejak tadi, Dokuganryu. Kau baik-baik saja kan?" tanya Keiji juga ikut mencemaskannya.

Setelah terdiam cukup lama, Masamune akhirnya menjawab, "Naa, Maeda, kau bertanya padaku apa yang dikatakan Saikai no Oni terakhir kali kan?"

"Ya. Tapi kau bilang—"

"Dia mengatakan sesuatu padaku," ucap Masamune memotong kata-kata Keiji. Perlahan dia menoleh kepadanya dan berkata, "Berbahagialah, begitu katanya..."

"Oh, Dokuganryu!" Keiji lalu memeluk erat Masamune dan menangis puas di bahunya. Dia berkata di sela isak tangisnya, "Kau, dan kita yang ada di sini, berhak untuk bahagia. Doa setiap orang adalah untuk bisa hidup bahagia. Motochika selama ini selalu mengharapkan semua orang untuk hidup bahagia tanpa ada tekanan apa pun."

"Begitu mulia harapan seorang Bajak Laut seperti Motochika, yaitu bisa membahagiakan semua orang," sambung Ieyasu juga merangkul 2 sahabatnya.

Sejenak setelah Keiji melepas dekapannya, Masamune berkata lirih, "Apakah menurut kalian aku layak berbahagia seperti orang lain?"

Tetapi sebelum mendapat jawaban apa-apa dari Ieyasu dan Keiji, tiba-tiba Masamune berlari cepat ke arah kudanya dan melompat menungganginya. Dia tidak menghiraukan panggilan Ieyasu dan Keiji yang berusaha menghentikannya. Seruan Kojuuro pun tidak dia indahkan dan memilih untuk tetap pergi. Dia mengendarai kudanya dengan kecepatan tinggi menuju pedesaan yang tidak jauh dari pelabuhan. Di dekat desa itu, dia melihat daratan semenanjung yang menghadap ke laut. Laju kudanya tidak diperlambat supaya bisa sampai ke atas.

Mendadak pikiran Masamune menjadi kacau. Entah kenapa dia jadi tidak bisa setenang sebelumnya. Ketika menyadari kekosongan di hatinya, dia menjadi sangat gelisah dan sedih. Air matanya tidak bisa dibendung dan dibiarkan berderai memgikuti derap langkah kudanya.

"Masamune-sama! Mohon hentikan kudanya!" seru Kojuuro yang mengejarnya dari belakang, disusul oleh Ieyasu dan Keiji. Namun seruan mereka tidak dihiraukannya.

Segala kenangan dengan Motochika kembali terulang di kepalanya. Pertemuan pertama mereka, perkelahian pertama mereka, waktu mereka mengungkapkan isi hati pertama kalinya, segala sentuhan kasih mereka, ciuman mereka, saat mereka bercinta, semuanya terulang begitu cepat dan bermunculan secara acak sehingga kepala Masamune terasa sakit. Segala perkataan Motochika tidak lantas hilang begitu saja dari ingatannya. Kharismanya, wibawanya, Chosokabe Motochika adalah orang yang telah menoreh kenangan manis dan pahit di hati dan pikiran seorang Naga Bermata Satu.

"Saikai no Oni!" ketika sudah hampir mencapai puncak semenanjung, Masamune melompat dari kudanya yang belum berhenti berlari. Dia jatuh berguling di tanah dan mengerang kesakitan. Tidak menghiraukan rasa sakitnya, dia langsung berdiri lagi dan meneruskan perjalanannya. Dia berlari kencang menuju tepian semenanjung. Namun ketika dia hendak melompat dari tepian, Kojuuro langsung mendekapnya dari belakang dan menariknya. Dia memberontak dan memaksa untuk dilepas, namun Mata Kanannya tetap mendekapnya kuat supaya tidak kembali ke tepian.

"Masamune-sama! Hentikan! Jangan seperti ini!"

"Lepaskan aku, Kojuuro! Aku belum membalas kata-katanya!"

"Anda punya cukup banyak waktu ketika berada di dermaga. Mengapa Anda tidak mengungkapkan perasaan Anda di sana saja? Semenanjung ini wilayah berbahaya! Anda bisa jatuh—"

"Shut up! Lepaskan aku!" berontak Masamune kuat dan nyaris terlepas dari Kojuuro. Beruntung Ieyasu dan Keiji langsung menyergapnya lagi sebelum dia kembali ke tepian.

"Dokuganryu! Kendalikan dirimu! Motochika tidak ingin melihatmu seperti ini!" kata Keiji tegas mencoba mengunci kembali pergerakan Masamune.

"Lalu dia ingin melihatku seperti apa, hah?! Dia sudah menemukan kedamaian, lalu bagaimana dengan aku yang ditinggalkannya?!"

"Sebentar lagi kau akan menikah. Pikirkan perasaan tunanganmu jika harus melihatmu seperti ini, Dokuganryu!"

"Dokuganryu, lihat aku!" kata Ieyasu kemudian memegang kedua sisi wajah Masamune. Mata kelabunya bertemu dengan mata cokelat Ieyasu yang sedang menatapnya penuh harap. Ada sedikit air mata di sudut matanya.

Ieyasu berkata, "Ucapkan apa yang ingin kau katakan kepada Motochika di depanku sekarang juga! Selagi kau masih bisa melihat Fugaku dari sini, kau masih punya waktu untuk mengungkapkan perasaanmu, Dokuganryu!"

"Masamune-sama, sudah cukup bagi Anda menyiksa diri Anda sendiri. Berhentilah merasa sakit, karena semua orang yang menyayangi Anda pun akan tersakiti," kata Kojuuro penuh harap.

Masamune jatuh berlutut, diikuti oleh Ieyasu yang memegang wajahnya. Keiji dan Kojuuro juga ikut berlutut dan memegang kedua bahunya. Hati Masamune seketika remuk redam melihat Fugaku yang bergerak semakin jauh. Rasa sesak di dadanya semakin tidak tertahankan.

"Aku mencintainya—ukh! Aku mencintainya, Ieyasu! Huwaaaaa~!"

Bersamaan dengan raungan panjangnya itu, terdengar ledakan dari kapal Fugaku. Disusul oleh ledakan-ledakan berikutnya sampai kapal itu tidak lagi terlihat. Kobaran api dan kepulan asap hitam menyelubunginya, kapal Fugaku sudah terbakar dan terus berjalan menjauh hingga menghilang di ujung penglihatan.

Ieyasu menarik Masamune dalam dekapannya, membiarkan Naga Bermata Satu itu mengeluarkan isi hatinya yang terpendam begitu lama. Tangisnya meledak, suara geramannya memecah langit di atasnya. Tidak pernah dilihatnya Masamune berduka demikian dalamnya. Dia bisa merasakan betapa tulus kata-kata Masamune yang terucap di sela isak tangisnya.

"Indah sekali..." gumam Keiji menanggapinya. "Kalian mempunyai ikatan yang sangat indah. Apa kau setuju, Katakura-dono?"

"Masamune-sama sangat menjaga hubungan baiknya dengan Iblis Laut Barat. Tidak peduli berapa kali mereka beradu senjata, bersilang pendapat, tetapi semua itu adalah demi terjaga ikatan yang mereka jalin sampai sekarang," ucap Kojuuro sambil tersenyum getir.

Perlahan Ieyasu melepas dekapannya meski tubuh Masamune masih bersandar padanya. Dia melihat ke arah lautan, dan tidak lagi mendapati Fugaku di penglihatannya. Pandangannya tertuju kepada matahari yang bersiap untuk tenggelam di ufuk barat.

Ketika semuanya sudah tenang, Ieyasu berkata, "Kau bekerja keras menjaga cinta yang bersemi di dalam hatimu sampai akhir hayat Motochika. Meski kau tidak mengungkapkannya secara lisan, aku yakin Motochika tahu bahwa kau sangat mencintainya."

"Motochika sangat beruntung bisa mendapatkan cinta darimu, Dokuganryu," sambung Keiji menahan tangisnya. "Karena itulah kubilang hubungan kalian sangatlah indah. Negeri ini seharusnya bisa tumbuh atas dasar cinta kasih, sehingga tidak ada peperangan dan pertumpahan darah."

"Tapi aku sudah membunuhnya," ucap Masamune sedikit mengisak. Dia masih enggan mengangkat wajahnya dan memandang sekelilingnya. "Katakan padaku, Ieyasu. Apakah Saikai no Oni akan memaafkanku? Apakah ini yang dia inginkan supaya bebas dari penderitaannya?"

"Kau tidak membunuhnya, Dokuganryu," jawab Ieyasu kemudian mendekap Masamune lagi. "Dia tahu apa yang terbaik untuk dirinya. Meski ini sangat memberatkannya, keputusan berat ini tetap harus diambil olehnya."

"Chosokabe akan lebih menderita melihat Anda bersedih, Masamune-sama. Kita tidak bisa memaksakan siapa pun untuk tetap ada di dalam kehidupan kita. Orang datang dan pergi sebagai pelajaran yang berharga," kata Kojuuro menyemangati tuannya. Dia meraih tangannya dan menciumnya sambil meneruskan, "Anda harus tetap hidup supaya cinta yang dia berikan tetap bersemi di hati Anda. Meski dia sudah tidak ada lagi di dunia ini, cinta itu akan membantu Anda menjalani kehidupan ini."

"Kojuuro...uuukh!" Masamune kemudian berpindah ke dekapan Mata Kanannya. Ada rasa penyesalan dalam hatinya yang tidak bisa dihilangkan. Membunuh Motochika tidak pernah menjadi keinginannya. Tetapi hal itu tetap harus dia lakukan karena itu adalah permintaan dari Motochika sendiri. Dia masih merasa tidak adil dengan kenyataan yang diterimanya sekarang. Jika Motochika sudah bebas, mengapa dirinya masih terbelenggu dengan rasa sakit hati ini? Bagaimana dia akan hidup bahagia jika harus membawa kenangan pahit ini bersamanya?

"Saya harap Anda tidak menyesalinya, Masamune-sama. Berbagilah beban itu bersama saya, Yang Mulia Shogun, dan Maeda Keiji. Kami ingin Anda berbahagia."

"Katakura-dono benar, Dokuganryu. Kami ingin kau berbahagia."

"Seperti doa dari Motochika untuk kita. Berbahagialah, Dokuganryu..."

-to be continued-