Pertengahan musim panas di istana Iwadeyama, setahun kemudian...

Matahari bersinar cerah di langit biru. Udara di sekitar taman istana pagi itu terasa sedikit lebih hangat dari sebelumnya. Musim panas tahun ini bertepatan dengan hari panen raya. Oshu sedang panen banyak buah, terutama buah-buahan yang mengandung air. Satu potong buah semangka bisa menyegarkan badan yang sedang berjuang melawan cuaca panas.

"Suamiku, aku membawa beberapa potong semangka dari kebun Katakura-dono. Mari beristirahat sebentar dari latihan pedangnya," sapa Megohime kepada suaminya yang sedang berlatih pedang di taman istana.

"Bring it here!" balas Date Masamune sambil berjalan menghampiri istrinya.

Ada 4 potong besar semangka berwarna merah disajikan untuk Masamune, ditemani dengan minuman sari buah yang dingin dan menyegarkan. Naga Bermata Satu itu menikmati sepotong semangka sambil melepas lelah.

"So fresh! Aku dengar di kebun sedang banyak buah semangka yang dipanen. Kojuuro benar-benar memanfaatkan masa pensiunnya dengan baik," kata Masamune setelah menggigit satu potong semangka.

"Masih ada buah segar lainnya yang bisa kau nikmati selama musim panas ini, Suamiku. Katakura-dono akan membawakannya untukmu setelah membagi hasil dengan para petani di desa," balas Megohime ceria.

Saat pasangan suami istri ini sedang menikmati waktu bersama di taman istana, seorang prajurit datang menyampaikan pesan bahwa ada tamu yang hadir di aula utama. Prajurit itu mengatakan tamunya adalah Shogun Tokugawa Ieyasu. Karena Masamune masih enggan meninggalkan taman, dia menyuruh prajuritnya mengantar Ieyasu masuk ke taman istana. Tak lama kemudian Ieyasu datang dan memeluk Naga Bermata Satu itu dengan erat. Keduanya lalu duduk di taman istana sambil menikmati beberapa potong buah semangka.

"Senang bisa bertemu denganmu lagi, Dokuganryu. Kau juga, Megohime-dono. Kulihat kalian semakin rukun dan bahagia. Aku harap tidak mengganggu kebersamaan kalian di pagi yang cerah ini."

"Merupakan sebuah kehormatan bisa bertemu dengan Anda, Yang Mulia Shogun. Kami senang Anda berkunjung kemari. Kami akan melayani kebutuhan Anda selama di sini dengan senang hati," balas Megohime sambil membungkuk.

"Kebetulan aku sedang bertugas di Sendai. Karena ini hari terakhir, aku menyempatkan untuk berkunjung ke Oshu."

"Kau tidak buru-buru pulang ke Edo kan? Karena kau sedang berada di sini, ikutlah denganku menikmati makan siang dan beberapa hidangan manis musim panas."

"Tentu saja aku mau, Dokuganryu! Semoga tidak merepotkanmu ya."

"Sayang, siapkan makan siang yang istimewa untuk Yang Mulia Shogun. Siapkan juga buah-buahan segar yang baru dipanen untuk nanti dibawa pulang olehnya ke Edo," perintah Masamune kepada istrinya. Megohime menurutinya dan pergi meninggalkan taman.

"Kau mau dengar berita baik dariku? Aku sedang menanti anak pertamaku, Ieyasu," ucap Masamune sambil meneruskan makan semangka.

Ieyasu hampir tersedak setelah mendengar kata-kata Masamune barusan. Dia berkata, "Wah, selamat, Dokuganryu! Kau akan menjadi seorang ayah!"

"Tidak pernah terbayangkan dalam hidupku untuk menjadi seorang ayah. Istana ini akan ramai suara anak kecil kalau nanti aku sudah punya anak. Ha! Kalau nanti aku jarang hadir di rapat kenegaraan, kau tahu di mana harus mencariku, Ieyasu."

"Aku akan menyeretmu ke Edo kalau kau mangkir dari pertemuan para daimyo setiap tahun. Bawa anakmu kalau perlu, nanti kusiapkan tempat untuknya bermain. Kapan kira-kira anak pertamamu lahir?"

"Sekarang usia kandungannya adalah 3 bulan. Jika tidak ada halangan, Megohime akan melahirkan di awal tahun depan."

"Semoga kalian selalu diberikan kesehatan. Aku akan sering-sering main ke Oshu untuk bertemu keponakan-keponakanku yang lucu-lucu," kata Ieyasu terkekeh.

"Bawakan oleh-oleh dari Edo, kedatanganmu pasti akan selalu kuterima."

Keduanya kembali menikmati semangka segar di tengah matahari yang sudah semakin terik. Masamune memanggil salah satu pelayannya untuk menyajikan sari buah kepada Ieyasu. Tak lama kemudian pelayan itu kembali membawa gelas kaca berisi sari buah dan beberapa camilan khas musim panas di Oshu.

"Naa, Dokuganryu, sudah lewat dari setahun sejak peristiwa di Shikoku. Kau sudah merasa lebih baik sekarang?" tanya Ieyasu setelah meminum sedikit air sari buahnya.

Masamune mendengus tertawa dan menjawab, "I'm doing alright. Aku banyak berubah, kau tahu? Kesibukanku di Oshu berhasil mengalihkan pikiranku seutuhnya. Karena aku sudah pensiun dari peperangan, aku banyak mengurus perdagangan ke luar Jepang."

"Ya, sungguh kerja keras yang luar biasa. Aku salut padamu mampu menjalin hubungan kerja sama dengan banyak orang dari luar Jepang. Tidak hanya di bidang ekonomi, Jepang jadi lebih maju dalam bidang teknologi dan budaya."

"Bicara soal Shikoku, aku belum cerita padamu hadiah yang diberikan oleh keluarga Chosokabe di hari pernikahanku."

"Oh, ceritakan padaku, Dokuganryu! Rasanya kau belum menceritakan apa-apa padamu soal itu."

"Mungkin lebih baik kutunjukkan saja. Follow me," kata Masamune kemudian berdiri dan mengajak Ieyasu pergi ke ruang penyimpanan barang berharga istana Iwadeyama.

Sebelum tiba di ruang penyimpanan itu, Masamune sempat menghampiri istrinya yang sedang membantu para pekerja memasak di dapur. Daripada nanti Megohime bingung tidak mendapati suaminya di taman, Masamune mengabari kalau dia dan Ieyasu akan berada di ruang penyimpanan untuk sementara sampai waktu makan siang tiba.

"Aku punya 2 ruang penyimpanan yang isinya adalah barang-barang berharga milik pribadi. Tetapi khusus dari Shikoku, aku menempatkannya di ruang tersendiri," kata Masamune kemudian membuka pintu ruangan penyimpanan khusus yang dia maksud tadi.

Ieyasu dibuat terkejut melihat isi ruangan yang dibuka Masamune adalah berisi semua harta karun yang dibawa oleh mendiang Chosokabe Motochika selama berlayar di laut Jepang. Ketika berkunjung ke Shikoku setahun yang lalu bersama Masamune dan Maeda Keiji, dia sempat melihat semua koleksi harta karunnya yang sangat beragam. Dia tidak percaya sekarang semua barang berharga itu berada di kediaman Masamune. Mulai dari kain sutera, keramik, emas, berlian, batu mulia, mutiara, koleksi pedang, baju perang, dan masih banyak lagi.

"Dokuganryu, benarkah ini—"

"Yes, kau tidak salah lihat, Ieyasu. Semua harta karun ini diberikan kepadaku sebagai hadiah pernikahan. Ketiga adik kandung Saikai no Oni ingin memberikan hadiah istimewa dan juga ucapan terima kasih."

"Aku pikir ketika mereka melarung jenazah Motochika, semua harta karunnya ikut dibawa ke Fugaku," kata Ieyasu masih takjub melihat semua harta karun Motochika.

"Aku pun berpikir demikian. Semua harta karun ini dikirim secara bertahap. Kemudian di hari terakhir pengiriman, Chikasada datang ke Oshu untuk menjelaskan mengapa semuanya diserahkan kepadaku. Dia membawa satu jurnal pelayaran yang ditulis Motochika pada musim gugur 2 tahun yang lalu."

Masamune mengambil sebuah kotak kayu berwarna ungu mengkilap dengan batu permata di atas penutupnya. Di dalam kotak itu, terdapat sepucuk surat yang amplopnya disegel dengan lambang klan Chosokabe.

"Surat ini ditemukan di antara lembaran jurnal pelayarannya. Bukalah, kau baca sendiri apa isinya. Aku sendiri sudah membacanya. Aku ingin kau tahu apa pendapatmu, Ieyasu," kata Masamune.

Sedikit gugup, Ieyasu kemudian mengambil suratnya dan membaca isinya. Kurang lebih surat itu menjelaskan keinginan Motochika memberikan semua harta karunnya kepada seorang pemimpin pujaan hatinya yang berjaya di wilayah timur Jepang. Di surat ini, Ieyasu bisa menilai bagaimana Motochika sangat memuja Masamune. Dia menggambarkan pemimpin besar Oshu itu dengan kata-kata yang sangat indah.

-Tak kusangka keenam cakar seorang pemain pedang terkemuka di Negeri Matahari Terbit ini telah menorehkan namanya besar-besar di hati Iblis Laut Barat sepertiku. Pertemuan kami adalah takdir, dan aku sangat beruntung bisa mengenalnya sangat baik. Semua harta karun yang kudapat tak lebih indah dari sosok lelaki dengan mata kelabu seperti mutiara hitam Haiti yang tersembunyi di laut dalam. Naga Biru kesayanganku, jika semua harta karunku tidak cukup untuk bisa memenangkan hatimu, akan kupersembahkan seluruh dunia beserta isinya padamu supaya kau tahu betapa besar keinginanku untuk memilikimu...-

"Aku sedikit tersipu membaca tulisannya," kata Ieyasu yang tidak bisa menyembunyikan senyum lebarnya. "Kau digambarkan begitu indah olehnya. Bahkan aku pun setuju dengan apa yang dia tulis di surat ini."

Masamune mendengus tertawa dan berkata, "Jangankan kau yang tersipu membacanya. Aku memikirkan bagaimana tanggapan adik-adiknya mengetahui kakaknya jatuh cinta pada seorang laki-laki sepertiku."

"Aku bisa bilang kalau mereka tidak keberatan. Buktinya, mereka mewujudkan keinginan Motochika untuk menyerahkan semua harta karun ini kepadamu sebagai hadiah. Walaupun bukan lagi untuk memilikimu."

"Aku tidak layak mendapatkannya, Ieyasu. Terus terang ini sangat berlebihan."

Sejenak Masamune terdiam dan pergi ke lemari penyimpan kain sutera. Dia mengambil satu lembar kain sutera berwarna biru emas mengkilap dan disampirkan di pundaknya. Dia lalu berkata, "Tanpa menyerahkan semua isi dunia ini kepadaku, aku sudah menyerahkan hati ini kepadanya. Tak pernah kutemui orang yang sangat tulus sepertinya, yang mampu mencintai tanpa melihat apa dan siapa aku. Dia tidak pernah mau memberikan alasan apa pun mengapa aku yang dia pilih. Yang aku ingat adalah bahwa dia mencintaiku sebagai Date Masamune."

"Iblis berhati lembut, itulah Chosokabe Motochika. Aku banyak belajar darinya tentang ketulusan."

"Aku mungkin belum menceritakan ini kepadamu, Ieyasu. Di malam sebelum pelarungan jenazahnya, aku bertemu dengannya lewat mimpi. Dia memperlihatkan padaku rancangan mutakhir kapal layarnya yang bernama Akatsuki Maru. Dia mengatakan akan melakukan pelayaran terakhir dengan kapal barunya itu."

"Pelayaran terakhir, katamu? Ah, kedengarnnya seperti sebuah salam perpisahan darinya, ya," kata Ieyasu sambil mendekati Masamune dan berdiri di sebelahnya.

"Sebagai orang yang berjaya di lautan, dia menganggap dirinya tidak layak menjadi pemimpin di daratan. Dia memantapkan hatinya untuk terus berlayar sampai ke laut paling jauh. Karena kami sudah menentukan jalan hidup kami masing-masing, maka di saat itu kami sudah memutuskan untuk mengakhiri cerita kami."

"Apakah dia mengatakan sesuatu sebelum akhirnya pergi berlayar dengan kapal barunya, Dokuganryu?"

Setelah menghela nafas dalam, Masamune lalu menoleh kepada Ieyasu dan berkata, "Dia mengatakan bahwa dia sangat mencintaiku."

"Bahkan sampai di akhir hayatnya, ketika kalian sudah tidak bersama lagi, dia masih mencintaimu," kata Ieyasu sambil tersenyum getir. "Dengan mengatakan itu, dia tidak punya hutang lagi kepadamu. Dia bisa melakukan pelayaran terakhirnya tanpa rasa penyesalan."

"That's right..."

"Lalu bagaimana denganmu? Apakah kau sudah bisa melanjutkan perjalananmu tanpa harus melihat ke belakang lagi?"

"Aku sudah sampai di sini sekarang. Tak ada waktu bagiku untuk mengenang apa yang sudah terjadi di belakang."

"Apa kau masih mencintainya walau dia sudah tidak ada lagi di dunia ini?"

Masamune mengangkat bahu dan memilih untuk tidak menjawabnya. Tetapi kemudian dia berkata, "Segala perasaanku sudah melebur dalam kobaran api yang membakar jenazah Saikai no Oni dan kapal Fugaku. Aku juga tidak ingin ada penyesalan dalam menjalani hidupku setelahnya."

"Kau sangat berbesar hati, Dokuganryu. Motochika sekarang sudah beristirahat dengan tenang."

"Eits! Kau lupa, Ieyasu? Dia tidak sedang beristirahat. Dia sedang menikmati pelayaran terakhirnya menuju keabadian..."

Pembicaraan kedua pembesar negeri Jepang itu berakhir ketika Megohime menghampiri mereka dan mengatakan bahwa makan siang sudah siap. Masamune menyuruh Ieyasu untuk pergi lebih dulu ke ruang makan karena dia perlu mengunci kembali ruang penyimpanannya.

Sebelum menutup pintu, Masamune sekali lagi memandang satu persatu harta karun milik Motochika yang diberikan kepadanya sebagai hadiah pernikahannya. Di satu sisi, dia sangat bersyukur atas pemberian luar biasa ini kepadanya. Di sisi lain, dia merasa tidak bisa menyimpan harta karun ini sendirian. Chosokabe Motochika adalah pembesar negeri Jepang yang sangat terkenal. Masamune tidak ingin menjadi satu-satunya orang yang mengenangnya. Dia ingin seluruh dunia mengenangnya juga. Mungkin suatu hari nanti, harta karun ini akan dia bagikan kepada orang-orang yang menurutnya layak menerimanya.

"Jika semua harta karun ini kuberikan kepada orang lain, aku tidak akan merasa kehilangan. Karena aku sudah memiliki harta karun yang nilainya lebih dari semua ini. Kau sudah menitipkannya padaku di hari pertama pertemuan kita, Saikai no Oni. That is love..."

-the end-


A/N : terima kasih buat para pembaca yang sudah mampir dan memberikan waktu untuk reviewnya. Fanfic saya yang berjudul End of Sail ini sudah mencapai chapter terakhir. Fyuh! Butuh waktu lumayan lama buat ngerjainnya. Gak tau tiba-tiba aja saya dapet ide buat nulis cerita ini. Masih dengan OTP saya, Motochika/Masamune. Sekali lagi terima kasih yaaaa...