Tangan kecil
Haikyuu FurudateHaruichi, aku menulis cerita ini hanya karena aku mencintai Libero Mungil yang bernama Nishinoya Yuu.
Pairing : Atsumu x Nishinoya (You can hit me later)
Atsumu sadar dia memiliki ketertarikan pada tangan-tangan kecil karena Nishinoya. Nishinoya sadar bahwa dia takkan bisa mendapatkan Kiyoko ketika progress Tanaka dan Kiyoko semakin berjalan. AtsuNoya.
Happy Reading
Atsumu yakin, orang yang sedang memberi Handjob di dalam film porno itu sudah dewasa, tetapi, astaga, tangannya kecil sekali dan itu membuatnya semakin terangsang. Dia menyentuh kejantanan si pemain pria dengan dua tangannya, tetapi itu bahkan tidak bisa menyembunyikan semuanya. Tidak mengherankan, artis wanita itu memang lebih kecil daripada kebanyakan wanita.
"Damn!" Atsumu merintih. Tangannya tidak akan pernah bisa dibandingkan dengan jemari itu. Tangannya yang besar tidak akan sebanding dengan tangan-tangan kecil kuat yang dia hajar di pertandingan dengan servisnya. Astaga, Atsumu bahkan sudah berhenti melihat wajah si pemain film porno dan menggantikannya dengan libero karasuno.
Tangan itu pasti sangat memuaskan. Tangan kecil yang sedikit kasar dan kuat karena selalu berlatih voli. Tangan yang bahkan mampu menghentikan servis Ushijima. Tangan yang ... "Shit!" Atsumu merintih lagi. Dia menutup mata. Bayangan tentang tangan itu sekarang menjadi semakin jelas, lengkap dengan seringai kemenangan, dan ... dia menahan napasnya sejenak dan menikmati kedatangannya.
"Berapa kali aku melakukannya?" gerutunya sembari meraih tisu.
Tiba-tiba saja pintu kamarnya terbuka. Osamu memunculkan kepalanya dan masuk begitu saja. Atsumu beruntung dia sudah selesai meskipun kejantanannya masih terbuka lebar dan Osamu hanya mengerling padanya. Terlalu lelah untuk peduli. Osamu sudah memergokinya mansturbasi dan dia sudah melewati fase malu saat melakukannya.
Perhatiannya tertuju pada televisi yang masih menayangkan wanita dengan tangan kecil yang mulai melakukan blowjob. Osamu mendengus.
"Kau benar-benar menyukai Nishinoya, ya?"
Atsumu tersedak ludahnya sendiri. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus. Dia memang sudah mengakuinya pada diri sendiri, tetapi mendengarnya dari orang lain berbeda.
"What the fuck?"
Osamu menatapnya malas. "Kau mulai terobsesi dengan artis bertangan kecil sejak pertandingan itu, dan ..." Dia menopang dagunya pada televisi. Tangan-tangan itu sedang bermain dengan dua bola si pemain pria. "Tangan kecil memang imut."
"Aku tidak begitu."
Osamu mengangkat sebelah alisnya. "Ya?" Atsumu membuang mukanya. Dia mulai mengenakan celananya sendiri. "Kalau begitu, aku akan mengambilnya."
Sulung Miya menatapnya tajam. "Bukankah kau dan Suna pacaran?"
"Yeah. But i think, he'll not mind if Nishinoya join the game," jawab Osamu sembari menyeringai. "Aku ingat dia pernah bilang Libero itu imut."
"Don't ya dare!"
"Then make a move, Dammit."
Atsumu tidak menjawab. Dia tahu Osamu benar. Dia memang menyukai Nishinoya dan tidak pernah mencoba mendekatinya. Dia tidak punya ide. Nishinoya berada jauh di prefecture Miyagi dan mereka hanya pernah bertemu sekali, di lapangan, dengan dirinya yang mempermalukannya dengan servis jump float-nya.
Atsumu menyembunyikan wajahnya ke balik lipatan tangan dan lututnya.
"Bagaimana?"
Di luar dugaan, Osamu mengernyit jijik. "And they say, you are a genius setter."
"Itu kan tidak ada hubungannya."
Osamu menatap kembarannya. Ini adalah kali pertama dia melihat Atsumu se-desperate itu selain karena voli. Itu pemandangan yang langka, tetapi dia jelas tidak akan suka dia melakukannya. Itu akan sangat merepotkannya. Atsumu yang sedang merengek adalah hal terakhir yang ingin dia tangani.
Sembari menghela napas, Osamu mengambil ponsel Atsumu dan mengetik nama Rolling Thunderdi Twitter. Osamu sendiri juga tidak punya gambaran kenapa Nishinoya menamai sosial medianya dengan itu, tetapi Suna adalah pemalas yang terobsesi pada dunia maya. Kekasihnya menemukan salah satu postingan manager Karasuno yang cantik jelita itu dan balasan Nishinoya di bawahnya. Suna menunjukkannya sembari berkata, "Bukankah dia orang yang digilai Atsumu?" dan akhirnya Osamu menyimpan akun itu untuk saat-saat seperti ini.
Dia melemparkan ponsel pada sederet postingan Nishinoya yang tidak pernah menunjukkan wajah. Atsumu, dengan refleknya, langsung menangkap ponsel itu dan matanya melebar dengan kegembiraan.
"Bagaimana kau tahu?"
"Pacar pemalas yang selalu aktif di media sosial memiliki keuntungan tersendiri."
Atsumu tersenyum lebar. Dia segera berdiri dan hendak menerjang kembarannya ke dalam pelukan, tetapi Osamu menendang perutnya dengan penuh rasa jijik.
"Tanganmu kotor!" pekiknya jijik. Atsumu baru saja menyentuh dirinya sendiri, dan Osamu jelas tidak ingin menyentuh Atsumu sekarang. Dia segera mengambil pakaiannya, sebelum pikiran jahil Atsumu datang dan mulai mengerjainya. "Aku akan menginap di rumah Suna!"
Atsumu bahkan terlalu bahagia untuk peduli makan malamnya tidak ada.
Akan tetapi, saat malam datang dan dia memakan bento sendirian—ibunya masih bekerja dan Atsumu tidak pernah bertemu ayahnya sejak sekolah dasar—dia tetap belum bisa memberanikan diri mengirim pesan pada Nishinoya. Dia sudah menekan tombol follow, tetapi setiap kali dia melihat balasan penuh semangat di setiap tweet Shimizu Kiyoko membuatnya enggan melakukannya. Alhasil, dia hanya membiarkan matanya dimanjakan dengan foto-foto Nishinoya yang kebanyakan bersama dengan semua temannya.
Sampai dia melihat pandangan middle blocker berkaca mata di salah satu foto Nishinoya. Atsumu jelas tidak cukup bodoh untuk tidak tahu arti tatapan middle blocker itu. Bila harus bersaing, Atsumu telah kalah start sejak lama, dan akan selalu begitu jika dia tidak memulainya.
Akhirnya, dia memberanikan diri untuk mengirim pesan, berupa 'Hi!' dan perkenalan diri. Setelah jantungnya berdetak kencang mengantisipasi jawaban Nishinoya dan bahkan tidak bisa tidur setelahnya, Atsumu datang ke sekolah dengan muka lesu. Pesannya tidak di balas, dibaca pun, tidak.
"Sudah ditolak?" komentar Osamu begitu mereka bertemu di sekolah.
Dia memang bilang akan menginap di rumah Suna dan berangkat sekolah dari sana. Kalau Atsumu mau membuka seragam kembarannya, dia takkan terkejut jika menemukan bekas hickey kenang-kenangan dari Suna. Tapi, dia tidak memiliki semangat melakukannya.
"Aku tidak ditolak," protesnya kesal.
"Lalu kenapa mukamu seperti baru saja tahu dunia akan berakhir lima menit lagi?"
Atsumu menjatuhkan tangannya. Dia berharap bisa membolos dan mengasihani dirinya sendiri di kamar.
"Kurasa aku memiliki rival."
Osamu bertanya, "Dan?"
"Dan itu artinya aku tidak punya kesempatan. Dia menyukai Shimizu Kiyoko seperti orang gila dan Kacamata serta wing spiker besar mereka menyukainya juga. Dia bahkan tidak membalas pesanku."
Osamu dan Suna saling bertukar pandang. Kemudian Osamu berkata, "Kami tahu kau akan punya banyak rival, Bodoh!"
"Tidak seperti Hinata yang polos, hingga ingin kita ajak berteman, Nishinoya memiliki pesonanya tersendiri," tambah Suna.
Atsumu menatap mereka bingung. "Pesona seperti apa?"
Osamu berdeham. "Kedewasaan."
Suna mengangguk. "Dia seksi."
Atsumu berhenti berjalan dan dia mengerjap. "Apa maksudnya itu?"
Si bungsu Miya mendengus. "Kau yang mansturbasi sembari membayangkannya, jangan bertanya padaku!"
Seketika wajah Atsumu selayaknya kepiting rebus. Dia segera mengejar Osamu dan mereka berlari hingga ke sekolah.
Pesan Atsumu akhirnya di balas saat siang hari. Mereka sedang makan siang bersama dan semua orang—kecuali Osamu dan Suna—bertanya-tanya 'Apakah Atsumu akhirnya sudah gila. Aran menyikut perut Osamu dan berbisik, "Apa yang terjadi padanya?"
Osamu menatap malas pada saudara kembarnya yang melupakan makan siang dan segera tenggelam dalam ponselnya penuh kebahagiaan.
"Gebetannya membalas pesannya."
Aran mengerutkan kening. "Siapa?"
Suna menjawab sembari berdeham. "Nishinoya Yuu."
Aran mengejap bingung, Kita—yang hampir tidak pernah peduli dengan hal semacam itu bahkan memperhatikan mereka—,"Sejak kapan dia menyukainya?"
Osamu menjawab dengan ujung lidahnya. "Dia menyukainya sejak awal, Atsumu hanya terlalu bodoh untuk membuat langkah."
Aran mengangguk-angguk. Atsumu terlalu tenggelam pada pesan, 'Oh, Hi, Miya-san! Maaf aku baru membuka twitter-ku. Ada apa?' dan notifikasi follback dari Nishinoya Yu. Dia menunggu semalaman dan setengah hari hingga mengorbankan semua penjelasan guru. Meskipun, pada akhirnya, dia tidak pernah mengerti apa yang diajarkan guru di depan sana.
Senyumnya mengembang dan dia bahkan tidak sadar akan itu. Teman-temannya menatapnya seperti orang gila, tetapi dia tidak peduli dengan itu.
Kita berdeham. "Biarkan saja dia bahagia."
Osamu terkekeh. "Sebelum dia ditolak dan patah hati."
"Hei! Aku dengar itu!"
Kemudian mereka semua tertawa, minus Atsumu yang sibuk berpikir akan membalas apa.
To Be Continued
Sepertinya aku membuat hutang baru. Aku mentok sama tulisanku di sebelah, jadi pengen refreshing dengan tulisan yang lebih ringan dan inilah dia. Aku tahu ini bakalan ngedrama meskipun aku yakin nggak akan parah kayak Onigiri Miya/ aku serius loh
Thanks for read dan sampai jumpa di chap depan.
