Tangan kecil

Haikyuu FurudateHaruichi, aku menulis cerita ini hanya karena aku mencintai Libero Mungil yang bernama Nishinoya Yuu.

Pairing : Atsumu x Nishinoya (You can hit me later)

Happy Reading

Di kasus Nishinoya, cintanya hanya ada pada Kiyoko, meskipun dia sadar betul kesempatannya jauh di bawah Tanaka. Pertama, dia pernah melihat Kiyoko membiarkan Tanaka membawakan tasnya dan mereka berjalan beriringan. Kedua, dia tidak punya apa pun untuk menjadi senjatanya. Sekalipun Kiyoko melihatnya, Nishinoya bisa merasakan tatapan Kiyoko hanya berupa tatapan dari kakak kelas atau yang paling intim hanyalah seperti tatapan kakak perempuan tertuanya padanya. Dia memiliki tiga saudara perempuan dan dia tahu betul bagaimana tatapan mereka padanya.

"It's suck!"

"Nishinoya, sedang apa di sini?"

Nishinoya mengangkat wajahnya dan melihat Tanaka memasuki atap. Seharusnya tidak ada orang lain yang mengetahui keberadaannya di sini. Sekolah melarang siswanya pergi ke atap, tetapi Nishinoya bukan orang yang terlalu taat aturan untuk mempedulikannya. Di sini, dia bisa membiarkan dirinya bermuram durja, setidaknya, begitulah yang dia pikirkan sampai Tanaka membuka pintu itu.

Nishinoya tersenyum miring. "Udara di sini menyenangkan."

Tanaka melirik kotak bekal yang dibeli Nishinoya dari kombini. "Noya-san, makan di sini sendirian?"

Ya. Dia makan di sini sendirian karena kalian sangat bahagia dengan kejelasan hubungan kalian. Nishinoya memilih menyimpan jawaban itu untuk dirinya sendiri.

"Suasana baru."

Tanaka terdiam sejenak. Mereka sudah berteman cukup lama untuk tahu ada yang tidak beres dengan rekannya. Tanaka tahu betul dimana letak salahnya, tetapi terakhir kali dia membahasnya, Nishinoya menghajar mukanya karena menganggap dia menghinanya tentang itu, dan lelaki kecil itu tidak pernah menahan dirinya saat menghajar seseorang. Mungkin tubuhnya yang kecil menjadi satu-satunya alasan dia belum ditahan selama ini.

Sehingga, karena dia masih mengingat rasa sakit dan memar di wajahnya setelah itu, Tanaka hanya mendekati Nishinoya dan bersandar pada satu-satunya penahan siswa putus asa untuk melompat ke bawah. Nishinoya bukan orang yang akan menyimpan dendam, tetapi dia perlu waktu untuk mengenyahkan patah hatinya. Dia menatap ke lapangan dan bisa mendengar klub sepak bola berteriak satu sama lain dengan peluit sebagai pengiring mereka.

Tanaka berdeham. "Ennoshita mencarimu."

"Kapten baru kita," kata Nishinoya riang. "Aku mulai menyesal menjadikannya kapten. Sial, Ennoshita sama sekali tidak menahan diri."

Tanaka tertawa. "Setelah nasional banyak sekali orang yang tertarik pada klub voli, kan? Sudah berapa banyak surat yang kau terima, Noya-san?"

Nishinoya mendengus. "Aku kan bukan Kageyama atau Tsukishima." Dan dia masih tidak bisa move on dari Kiyoko yang akhirnya memilihmu. "Satu-satunya pernyataan cinta yang kudapat dari kelas 5, laki-laki, dia bilang aku imut."

Tanaka tertawa semakin keras, hingga memeluk perutnya dan ada air mata yang menetes di sana. Nishinoya meringis mengingat pengalamannya. Dia bukan homophobic, Nishinoya bahkan curiga dirinya Bi, tetapi menghadapi pertanyaan cinta tiba-tiba dan kurang ajar itu jelas membuatnya tidak senang. Nishinoya tidak memberitahu rekan-rekannya, hanya saja Hi—siapalah itu, memaksanya dengan sangat menyebalkan dan dia perlu menendang kemaluannya, kemudian melarikan diri seperti perawan ketakutan. Mengingat kejadian itu membuatnya begidik ngeri.

Nishinoya menendang Tanaka dengan kesal. "Jangan tertawa!"

"Maaf, Noya-san," katanya, tetapi tawa itu bahkan belum berhenti. "Man, seharusnya aku ingat kau lebih sering menarik perhatian lelaki lain dari pada lawan jenis."

Nishinoya menendang kaki Tanaka lebih keras. "Not cool, Man!"

"But you okay with it!" balas Tanaka.

Pembicaraan mereka terputus dengan Ennoshita yang menbuka pintu. Dia melipat tangannya dan mengangkat kedua alisnya dengan pandangan mencela. "Kalian tidak boleh di sini!"

"Ayolah, Kapten!" Nishinoya senang memanggil Ennoshita kapten karena dia tidak menyukainya. "Aku tidak akan melompat hanya karena Kiyoko-san tidak memilihku."

Ennoshita bahkan tidak bisa membawa dirinya untuk kesal. Dia hanya menghela napas dan mendatangi Nishinoya untuk menarik tangannya. Ennoshita melirik ke Tanaka dan menunjuk kotak bekal Nishinoya yang sudah habis.

"Bereskan itu, Tanaka! Nishinoya, Ayo!"

"Hei!"

Nishinoya mencoba memprotes, tetapi cengkraman Ennoshita tidak mengendur. Dia hanya menyeretnya turun dari atap dan membawanya ke kelas. Semua orang sudah tahu tentang patah hatinya—mengingat dia mengejar Kiyoko seperti orang gila secara terang-terangan—dan mengasihaninya secara tidak sadar, karena kalau mereka terang-terangan melakukannya, Nishinoya takkan segan menonjok mukanya saat itu juga.

Ennoshita menarik tempat duduk di depan Nishinoya dan duduk dengan menghadap punggung kursi. Pemiliknya masih di kantin.

"Dengar, Nishinoya! Aku tahu kau patah hati, tetapi menghindari kami tidak akan ada artinya."

"Aku tidak ..."

"Yes, you are," potong Ennoshita tidak sabar. "Kau mengacau beberapa hari ini, okay? Tidak ikut makan siang, melamun saat latihan, apa kau tidak tahu berapa kali pelatih menegurmu? Kau menarik diri dari semua orang, Noya! Dan kau tidak bisa melakukannya."

"Kau salah paham," gerutu Nishinoya.

Dia menatap Ennoshita dan tanpa sengaja bertemu mata dengan lelaki yang menembaknya tempo hari. Lelaki itu tersenyum—yang sejujurnya terasa menakutkan—di balik rambutnya yang sedikit panjang. Nishinoya begidik ngeri. Ennoshita mengikuti pandangan Nishinoya, dahinya berkerut heran.

"Kau tahu dia?"

Nishinoya berdeham. "Dia orang yang menembakku tempo hari."

Kerutan di dahi Ennoshita semakin dalam. "Dan kalian jadian?"

"Tidak. Tentu saja tidak."

Pekikan itu terlalu keras, tetapi orang-orang sudah terbiasa dengan pekikannya. Nishinoya yang berisik adalah bagian dari mereka, dan kediamannya beberapa hari ini membuat suasana lebih berat.

"Wah, kau akhirnya berteriak juga, Nishinoya!" pekik Mikado. "Sudah selesai patah hatinya?"

"Berisik kau!" pekiknya balik.

Mikado hanya tertawa-tawa. "Padahal aku ingin mentraktirmu es krim kalau masih patah hati."

"Belikan dua," tantangnya sembari mengangkat dua jemari seolah memberikan tanda peace.

"Pulang sekolah? Sepakat."

Nishinoya menyeringai senang, hingga dia melupakan Ennoshita yang menggeleng lelah. "Kau harus menjaga perutmu Nishinoya!"

"Dua es krim tidak masalah," bantah Nishinoya lagi. "Hari ini latihan libur, kan?"

"Iya. Formasi baru bisa ditentukan bila tahun ajaran baru dimulai dan sebentar lagi ujian," jawabnya. Dia berdiri dan menepuk pundak Nishinoya. "Kau harus ingat, kita ada di sini kalau kau butuh bantuan."

Nishinoya mengangguk. Ennoshita keluar dari kelasnya dan menghilang dari pintu. Teman-temannya yang lain mulai masuk, sebentar lagi bel berbunyi. Mikado melambai padanya dan dia berjalan ke arah mereka sembari membawa ponsel.

Ada notifikasi dari twitter. Pesan dari Tsumusum. Nishinoya mengerutkan dahinya bingung. Sebelum membalas pesan dia mengecek akun tersebut dan melihat rambut kuning hasil cat dan cengiran lebar yang menyebalkan. Miya Atsumu. Dia ingat orang itu dan servisnya yang menjadi salah satu kegagalan terbesarnya. Dia masih belum puas dengan kemenangan atas Inarizaki kemarin, karena belum benar-benar mampu menghadapi Jump Float miliknya.

Mikado merangkul bahunya dan membuatnya duduk di meja. Dia mengintip ke ponsel Nishinoya.

"Wah, kau punya fans?"

Nishinoya menendang Mikado, tetapi lelaki itu menahan kakinya dengan sebelah tangan. "Dia Atsumu Miya, salah satu Best Setter."

Mikado mengangguk. "Yang servinya sulit itu, ya?" Nishinoya menendangnya lagi. "Hei, aku, kan, hanya lihat darimu. Kau kesulitan menerimanya. Aku tidak pernah melihatmu begitu kesulitan. Aku bingung. Itu, kan, pelan. Padahal kau bisa menerima servis Ushijima." Dia begidik ngeri. "Servisnya kuat sekali."

"Jump Float berbeda. Sekalipun pelan sulit untuk menerima servis seperti itu dan aku buruk dalam penerimaan atas," jelasnya sembari membalas pesan Atsumu. Sekalipun dia tidak punya ide kenapa orang ini mengiriminya pesan. 'Oh, Hi, Miya-san! Maaf aku baru membuka twitter-ku. Ada apa?'lantas menekan tombol follback. Begitu dia mengangkat kepala, dia hanya bisa melihat Mikado yang tersenyum lebar. "Kalian tidak paham, ya?"

Senyum Mikado semakin lebar dan dia mengangkat Nishinoya ke atas seperti anak kecil. Nishinoya mengumpat dan menendang tetapi kemudian mereka tertawa bersama hingga guru mata pelajaran mereka masuk. Nishinoya tidak sadar, seseorang memperhatikannya, dan tidak senang akan itu.

To Be Continued

Ya, loh! Aku nggak tahu mau ngomong apa buat ANnya. Ini AtsuNoya, aku nggak masukin yang laen kok wkwk