Tangan kecil
Haikyuu FurudateHaruichi, aku menulis cerita ini hanya karena aku mencintai Libero Mungil yang bernama Nishinoya Yuu.
Pairing : Atsumu x Nishinoya (You can hit me later)
Happy Reading
Atsumu menatap layar ponselnya tidak berkedip. Sejak Nishinoya membalas pesannya, mereka berpindah obrolan ke email keesokan harinya, hingga membuat frekuensi mengobrol mereka semakin banyak. Nishinoya rupanya orang yang sangat menyenangkan, dia tahu itu sejak pertama kali melihatnya, tetapi berbicara langsung—meskipun hanya lewat email—tetaplah pengalaman yang berbeda.
Nishinoya menceritakan tentang dirinya secara terbuka. Hanya dalam dua hari, dia tahu Nishinoya hanya lebih muda lima hari darinya. Dia membuat candaan tentang itu banyak sekali. Nishinoya adalah satu-satunya lelaki di empat bersaudara, dan begitu Atsumu berkata 'Pantas saja dia manis', Nishinoya akan mengirimkan emoticon marah yang bila Atsumu membayangkan dia berekspresi seperti itu, Nishinoya pasti manis sekali. Osamu menendang bawah kasurnya, memintanya diam dan tidur.
Nishinoya adalah morning person, Atsumu tidak bisa menahan diri untuk menggoda Nishinoya dengan sebutan istri yang baik, amarah libero Karasuno itu manis sekali. Osamu sering menendangnya, jika dia menatap ponselnya terlalu lama, bahkan saat di meja makan.
Semua hal di hidupnya sekarang diisi oleh dua hal, voli dan Nishinoya. Atsumu tidak pernah menanti sesuatu setidak sabar ini, terakhir kali dia sangat bersemangat saat pergi ke Youth, tetapi sebagian dari dirinya menyayangkan absennya Miya Osamu, kembarannya sendiri, dan menjadi sedikit pada Kageyama, tetapi masa itu sudah terlewat.
Atsumu
Aku penasaran, kenapa kau tidak ada di Youth dengan kemampuanmu itu?
Yuu-chan
Apa sih yang kau katakan? Aku saja tidak bisa menerima servismu.
Atsumu
Tapi, kau bisa menerima spike dan servis Ushijima.
Yuu-chan
Itu berarti aku kurang hebat. Itu saja. Kenapa kau tidak terima sekali, sih?
Atsumu
Kalau kau ke Youth, aku bisa bertemu denganmu lebih cepat.
Yuu-chan
Kau ini aneh.
"Kau benar-benar akan menelan ponselmu cepat atau lambat," komentar Osamu saat makan malam. Ibunya masih belum pulang seperti biasa. Osamu meletakkan makam malamnya dan duduk di depan kembarannya. "Jadi, sampai mana hubungan kalian?"
Atsumu nyengir lebar. "Kami mengobrol panjang."
"Yeah, No shit," ketus Osamu kesal. Dia menunjuk Atsumu dengan sumpitnya. "Jadi, apa yang disukainya?"
Atsumu mengerutkan kening. "Voli?"
"Ya," gerutu Osamu sembari memutar matanya, "dan kau melihat Nishinoya di taman boneka."
"Hei! Aku tahu dia memang sudah manis seperti boneka, tetapi aku tidak bertemu dengannya di taman boneka." Osamu menendang kakinya di bawah meja. Kesabarannya sudah habis. "Ouch! Untuk apa itu?"
"Ya, tetapi semua orang tahu tentang kesukaannya terhadap voli!"
Dia memijat kepalanya sendiri. Osamu benar-benar tidak tahan lagi. Kalau dia terus begini, kakaknya hanya akan mendapati Nishinoya jadian dengan orang lain dan putus asa karenanya. Nishinoya populer dengan caranya sendiri. Mungkin para gadis tidak mengidolakannya seperti para gadis mengidolakan Atsumu—itu salah satu misteri yang ingin dipecahkan Osamu, kenapa gadis-gadis itu menyukai kakaknya?—tetapi Nishinoya menarik perhatian orang-orang di sekitarnya.
Atsumu menatap ponselnya kebingungan. Hingga membuat Osamu menghela napas.
"Apa film kesukaannya?"
"Oh?" Atsumu mengerjap, kemudian menggeleng.
Satu perempatan emosi tercetak di kepala Osamu.
"Apa makanan favoritnya?"
Sekali lagi gelengan dan perempatan emosi tercetak lagi.
"Apa yang dilakukannya saat libur?"
"Voli?"
Satu perempatan lagi dan Osamu menjitak kepala kembarannya tanpa ampun. Sulung Miya memekik dan memegangi kepalanya erat-erat.
"You damn stupid hopeless!" bentak Osamu penuh emosi.
"Hei! That's too much!"
Atsumu benar-benar tak tertolong. "Apa sih yang kalian bicarakan selama ini?"
Seketika itu juga, Osamu menyesal telah bertanya. Atsumu menjelaskan tentang Nishinoya dan kesehariannya dengan antusiasme yang menjengkelkan. Namun itu membuat Osamu mengkonfirmasi betapa tergila-gila Atsumu padanya. Yah itu tidak buruk juga. Osamu makan dan membiarkan Atsumu berbicara panjang lebar tentang Nishinoya.
Keesokan harinya, Atsumu bangun pagi. Dia segera mengecek ponsel dan mengirim pesan pada Nishinoya. Pesan itu dibalas cepat dan Atsumu lagi-lagi mengerang karena bangun lebih siang dari pada Nishinoya. Kemarin mereka berlomba untuk menentukan siapa yang lebih cepat. Atsumu bahkan memasang alarm—dan tidak bisa benar-benar tidur karenanya—tetapi tetap tidak bisa mengalahkan Nishinoya.
"Dia sebenarnya tidur atau tidak, sih?"
Gumaman Atsumu itu tidak dilewatkan oleh Osamu. Dia benar-benar melihat sisi baru kakaknya. Kemudian tiba-tiba saja dia teringat perkataan Suna di telpon kemarin.
"Manager cantik itu," katanya ragu. Atsumu hanya berdeham tidak terlalu peduli. "Suna bilang dia dekat dengan Baldy."
Seketika itu juga Atsumu mengangkat kepalanya. "Serius?"
Osamu mengerjap. "Ternyata kau cukup pintar untuk mengetahui maksudnya."
"Tentu saja," ujar Atsumu bersemangat. "Artinya aku bisa menghapus saingan terberat."
Osamu tersenyum mengejek. "Kau masih punya segudang penuh saingan dan yang kau lain dan yang kau lakukan hanyalah mengirim pesan padanya."
"Jangan merusak kesenanganku, Osamu-san!"rengek Atsumu main-main. Dia menghempaskan dirinya ke tempat tidur, kemudian kembali menatap pesan terakhir Nishinoya yang bilang akan bersiap-siap. Apa dia juga memasak seperti Osamu? Atsumu berguling dan melihat kembarannya yang sudah selesai mandi. "Menurutmu Nishinoya bisa memasak?"
"Menurutmu Nishinoya akan mau memasak untukmu?" balas Osamu. Dia bertanya-tanya apakah kembarannya ini benar-benar masih waras. Atsumu mencebik kesal, hingga membuat Osamu menghela napas. "Kenapa tidak kau tanya saja?"
Atsumu tidak membalas. Dia memainkan ponselnya. Foto-foto di twitter Nishinoya sudah tersalin habis ke galerinya. Bahkan sampai saat dia pertama kali masuk Karasuno sembari tersenyum lebar. Nishinoya benar-benar manis apa pun yang dia lakukan.
Melihat saudara kembarnya tersenyum tidak jelas, Osamu hanya begidik kemudian pergi dari kamar mereka. Atsumu bahkan tidak mau repot-repot mempedulikan kembarannya. Nishinoya sudah ada di sekolah, sedang bersiap latihan.
Atsumu mengiriminya pesan semangat dan menantangnya untuk bertemu di Nasional. Seperti biasa, dia menanggapinya dengan penuh semangat. Hal itu membuat semangatnya penuh. Dia bahkan melompat dan membuat suara berisik hingga terdengar di bawah. Ibu Miya mengangkat wajahnya penuh rasa penasaran.
"Ada apa dengan Atsumu?"
"Dia sedang naksir seseorang," jawab Osamu sembari tertawa kecil.
Ibunya menatap Osamu bingung, kemudian tersenyum kecil. Dia kembali memotong bawang bombai, lantas bertanya, "Bagaimana hubunganmu dengan Suna?"
Seketika Osamu terdiam. Mereka sudah melewati masa penolakan itu dan Osamu lupa semanis apa pun Nishinoya, dia tetaplah laki-laki. Apa yang akan dipikirkan ibunya bila semua anaknya mengencani laki-laki?
"Bu," panggilnya pelan. Dia tidak ingin menatap wajah lelah ibunya. "Atsumu menyukai laki-laki."
Hanya ada suara benturan pisau dan talenan kayu selama beberapa detik, sebelum ibunya bertanya, "Apa dia imut? Atau tampan?"
Osamu mengerjap terkejut. "Apa tidak apa-apa?"
Ibu Miya tersenyum. "Kalian tidak memaksakan kemana akan jatuh cinta," katanya. "Meskipun aku tidak bisa mengatakannya. Apa pun pilihan kalian, ibu hanya bisa mendukung, tetapi kalian pasti tahu konsekuensinya, kan?" Osamu mengangguk. "Kalau begitu, aku serahkan hal itu pada kalian. Osamu, mandilah dan ibu akan meneruskan memasak."
Osamu mengangguk dan kembali ke atas, hanya untuk melihat cengir lebar Atsumu yang sedang menatap ponsel. Perasaan ingin menghancurkan mood kembarannya membuatnya tergelitik, tetapi dia memilih untuk meraih handuk dan membiarkan Atsumu bahagia. Lagipula, sekalipun dia menyebalkan Atsumu adalah orang pertama yang mendukung Osamu dan Suna di semua kericuhan itu.
Sehingga satu-satunya hal yang dia katakan hanyalah, "Cepat bersiap-siap! Kau kan sekarang kaptennya."
To Be Continued
KOK JADI SUDUT PANDANGNYA OSAMU DAH
Wkwkwk nggak papa deh.
Sampai jumpa di chap depan.
