Tangan kecil

Haikyuu FurudateHaruichi, aku menulis cerita ini hanya karena aku mencintai Libero Mungil yang bernama Nishinoya Yuu.

Pairing : Atsumu x Nishinoya (You can hit me later)

Happy Reading

Mikado tersenyum lebar. Kali ini dia menraktirnya es sepulang latihan. Chikara benar-benar marah sejak tadi siang, tetapi Nishinoya tidak terlalu peduli pada hal lain. Mikado menawarinya es gari-gari gratis dan Nishinoya tidak pernah memiliki cukup banyak alasan untuk menolak tawaran semenggiurkan itu.

Akan tetapi, saat dia akhirnya berpisah dengan teman-teman satu timnya—setelah dia mendapat omelan panjang dari Chikara yang merubah perannya sebagai gabungan Daichi-san Sugawara-san—dia bertemu seseorang yang menyatakan perasaannya beberapa hari yang lalu.

Sejenak, Nishinoya merasa gamang, tetapi dia memilih menguatkan diri.

"Apa maumu?"

Lelaki yang menutupi sebagian wajahnya dengan poni itu tersenyum menyeramkan—seharusnya itu adalah senyum biasa, tetapi di mata Nishinoya itu tidak lagi—dan berkata, "Kau sulit sekali ditemui. Bukankah seharusnya kau menghubungiku? Dan kenapa kau malah pergi berkencan dengan Mikado, sementara kau memilikiku?"

Sinting.

"Kau gila," bentaknya. "Jangan menggangguku!"

"Aku tidak mencoba mengganggumu, Noya-san," katanya dengan suara serak yang sedikit tak sabar. Dia meraih tangan Nishinoya dan seketika instingnya berteriak 'hajar'. "Aku hanya menunggumu dan mengajakmu pulang bersama."

"Brengsek!"

Nishinoya hampir memukul wajah lelaki itu sebelum satu tangan panjang dan putih mencengkram tangan si lelaki. Lelaki Brengsek itu mendongak, begitupula Nishinoya, dan mendapati Tsukishima yang menatap mereka tajam.

"Kurasa Noya-san sudah bilang jangan mengganggu! Lepaskan!"

"Ini tidak ada hubungannya denganmu."

Cengkraman Tsukishima menguat. Hingga membuat lelaki itu menelan ucapannya dengan rintih. Sekali lagi Tsukishima menggeram, kali ini lebih mengancam.

"Kubilang lepaskan!"

Lelaki itu menatap Tsukishima sejenak kemudian mendecih kesal. Baru setelah itu dia melepaskan cengkramannya pada Nishinoya, meninggalkan bekas merah melingkar yang terlihat menyakitkan. Nishinoya menarik tangannya dan bergerak mundur karena reflek. Dia mengusap tangannya dan Tsukishima segera berdiri di depannya.

"Pergi!"

Lelaki itu mendengus. Saat itu, tatapannya pada Nishinoya terasa begitu berbahaya hingga dia bisa merasakan dingin merambat ke tulang belakangnya. Orang ini benar-benar menyeramkan dan dia takkan berhenti sampai di sana. Setelah berdecih, dia berbalik dan pergi dengan tergesa-gesa.

Baru setelah lelaki itu menghilang ke belokan, Tsukishima menghela napas dan berbalik.

"Kalau kau dalam masalah, beritahu yang lain. Jangan hanya memendamnya sendiri seperti orang bodoh!"

"Aku tidak tahu kau bisa seperhatian itu pada orang lain, Tsukishima-kun."

"Hentikan 'kun'-nya! Menyebalkan sekali." Tsukishima membenarkan letak kacamatanya. Dia baru saja akan mengatakan sesuatu, tetapi Mikadi berteriak dari belakang dan berlari ke arahnya. Tsukishima menghela napas. "Kau sudah ada temannya. Baiklah. Berhati-hatilah. Orang Brengsek seperti itu akan kembali lagi. Kalau itu terjadi telepon aku," dia terdiam sejenak, "atau siapa pun, terserah dirimu. Semua orang di klub voli bisa kau andalkan."

Nishinoya mengerjap pelan. Kemudian tersenyum lebar. Hanya itu yang bisa dia lakukan untuk menyembunyikan ketakutannya sekarang. "Oh! Okay. Terima kasih, Tsukishima!"

Tsukishima mengangguk. Begitu Mikado sampai dan merangkulnya dari belakang, Tsukishima mulai pergi. Yamaguchi baru keluar dari gerbang dan melambai padanya. Tak lupa memberi sapa yang Nishinoya sambut dengan penuh semangat.

Mikado mengejap. Matanya menatap lurus pada punggu Tsukishima yang tegak.

"Sesuatu terjadi, ya?"

"Hanya tentang voli," jawab Nishinoya acuh. "Hei! Kau berjanji menraktirku es kan? Ayo!"

"Iya! Iya!"

Mereka membeli es dan mengobrol tentang hal-hal random hingga matahari hampir terbenam. Nishinoya memilih pulang sekarang dan berpisah dengan Mikado yang terus menggodanya tentang move on. Nishinoya hanya tertawa setiap kali Mikado melakukannya dan menendang kakinya sembari mengingatkannya tentang Ichinose yang tak pernah bernai dia dekati. Setiap kali dia mengatakannya, wajah Mikado akan meledak merah dan berkata, "Aku tidak tahu dia straight atau tidak. Ini berbeda tahu." Dan Nishinoya tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tertawa.

Yang tidak diketahui Mikado adalah masalah terbesarnya bukanlah ketidak bisaannya merelakan Kiyoko pada Tanaka. Sejak awal, dia tahu kesempatannya tidak besar, bahkan nol. Jadi, ketika Kiyoko akhirnya benar-benar berkata dia menyukai Tanaka, yang ada dipikirannya saat itu hanyalah, "Ah! Saatnya benar-benar datang." Bohong bila Nishinoya berkata dia tidak sedih hanya karena itu, tetapi ada hal yang lebih penting yang membuatnya ketakutan.

"Lelaki itu bahkan berani menariknya tadi," gumam Nishinoya setelah akhirnya lega bisa sampai rumah.

Kakeknya masih pergi bersama entah pacarnya yang mana. Ibunya ... setelah perceraian itu, Ibunya membawa dua kakak perempuannya dan tak pernah mendengar kabar dari ayahnya. Dia tidak peduli, selagi hubungannya dengan ibu dan kedua kakaknya masih baik-baik saja. Hanya saja, Ibunya masih tidak bisa berhenti menyalahkan diri bila mereka bertemu. Dia mirip sekali dengan ayahnya. Bukan ibunya yang meminta Nishinoya tinggal di sini, dialah yang memilih. Ibunya menelpon sesering mungkin dan memintanya datang di hari libur.

Nishinoya tidak bisa menyalahkan ibunya bila masih mencintai ayah yang berselingkuh dan meninggalkan mereka, dan bila wajah Nishinoya membuatnya mengingat orang yang dicinta serta yang mengkhianatinya. Tinggal bersama kakeknya adalah pilihan terbaik yang dia punya.

Lagipula, kemarin mereka sudah bertemu dan menghabiskan hari sebagai perayaan keberhasilannya memasuki Nasional.

Nishinoya tak pernah mengasihani atau menyesali pilihan serta hidupnya.

Akan tetapi, lelaki itu benar-benar mengganggu. Nishinoya bisa melihat ancaman dan kegilaan dari mata itu setiap pandangan mereka bertemu. Dia takut lelaki itu akan melakukan hal yang gila. Hahaha ... tidak mungkin, kan? Mereka hanya anak sekolah menengah atas biasa.

Dia menghela napas dalam-dalam. Semoga tidak terjadi apa-apa.

Dia membuka ponsel dan twitter hanya untuk melihat balasan Atsumu. Lelaki itu tersenyum kecil. Lelaki ini aneh sekali. Dia tiba-tiba mengiriminya pesan dengan sangat canggung setelah pertemuannya di Nasional yang ... sejujurnya menyebalkan. Atsumu mengincarnya dengan baik di kelemahannya. Nishinoya begitu frustasi, ini adalah rasa frustasi pertama pada dirinya sendiri yang kurang baik dalam melakukan sesuatu, dan bagaimana dia tidak bisa diandalkan oleh tim. Akan tetapi, pada akhirnya, dia bisa melewati jurang yang curam itu.

Satu penerimaan atas yang begitu bagus. Setidaknya, begitulah menurutnya. Kesenangan dan kebahagiaan serta kebanggaan atas kemenangan individunya. Perasaan bahagia karena berhasil mengalahkan Miya Atsumu yang terang-terangan mengincarnya dengan serve.

Namun, Nishinoya bukanlah orang yang membawa sesuatu ke luar lapangan kecuali perasaan positif untuk meningkatkan diri. Dendam individual sebagai lawan harus dihapus ketika peluit tanda berakhirnya pertandingan ditiup. Sekarang, mereka adalah teman.

Pesan-pesan yang dia lakukan dengan Atsumu membawa harinya lebih baik. Atsumu rupanya agak bodoh di sisi yang menyenangkan. Dia mengiriminya macam-macam pembicaraan tentang timnas voli saat ini dan impiannya. Tahu-tahu saja, berkirim pesan dengannya menjadi rutinitas yang tak tergantikan.

Atsumu

Aku penasaran, kenapa kau tidak ada di Youth dengan kemampuanmu itu?

Yuu-chan

Apa sih yang kau katakan? Aku saja tidak bisa menerima servismu.

Atsumu

Tapi, kau bisa menerima spike dan servis Ushijima.

Yuu-chan

Itu berarti aku kurang hebat. Itu saja. Kenapa kau tidak terima sekali, sih?

Atsumu

Kalau kau ke Youth, aku bisa bertemu denganmu lebih cepat.

Yuu-chan

Kau ini aneh.

Itu adalah salah satu pesan Atsumu yang membuat Nishinoya tertawa, seolah orang itu ada di depannya. Nishinoya tidak pernah mengharapkan karirnya dalam voli menjadi sesuatu yang serius. Dia berniat menikmati masa SMA-nya sebaik mungkin, hingga tidak ada yang bisa dia sesali sebelum berkeliling dunia.

Iya. Dia sudah memutuskan untuk mencoba segala hal yang belum pernah dia coba.

Dia menutup pembicaraannya dengan Atsumu malam itu dengan senyuman aneh yang terpatri di mulutnya. Iya. Aneh. Mikado bahkan sudah menyadari perbedaannya beberapa hari dan betapa dia bisa kembali dengan anak-anak voli dan melupakan masalahnya dengan lelaki itu. Dia terlalu sibuk berkirim pesan selama seminggu terakhir untuk memperhatikan sekeliling dan bertemu mata dengan lelaki aneh yang mengejarnya.

Namun, selama beberapa hari terakhir dia selalu pulang dengan orang lain. Setidaknya hingga mereka sampai di dekat rumah. Tsukishima juga—meskipun tidak mencolok—tetap bergerak di sekitarnya. Dia akan meningkatkan kewaspadaannya—itu bisa dilihat dari bahunya yang kaku—setiap kali lelaki itu ada di sekitarnya. Setiap kali Nishinoya berkata terima kasih, Tsukishima akan mendengus dan berkata, "Kau saja yang keras kepala. Sudah badannya kecil, pura-pura kuat menghadapi lelaki itu sendirian."

"Hei!" bentak Nishinoya. "Dia tidak akan melakukan apa-apa."

Tsukishima memutar matanya. "Itulah yang kumaksud," gerutunya. "Sudahlah! Akui kalau kau itu berbadan kecil yang bisa diserang orang lain dan mintalah bantuan orang lain bila terjadi sesuatu. Kau pikir hanya voli saja yang membutuhkan orang lain untuk bergantung?"

Nishinoya terbungkam. Tsukishima benar dan dia tahu itu. Lelaki berkaca mata itu tersenyum puas.

"Nah! Ayo pulang! Kalau kau tidak mau pulang bersama Tanaka-san atau Ennoshita-san, aku akan mengantarmu bersama Yamaguchi malam ini."

"Yamaguchi tahu?"

"Tidak."

Untunglah. Nishinoya kembali membuka ponselnya dan tertawa melihat pesan-pesan Atsumu yang mengeluh karena perlakuan saudara kembarnya padanya. Sekalipun dibilang mengeluh, Nishinoya tahu Atsumu menyayangi Osamu sebagai mana dia menyayangi saudara-saudaranya.

Tsukishima mengerutkan keningnya. "Itu siapa?"

"Atsumu," jawab Nishinoya. Setelah mengirim pesan balasan dia terkejut dengan bagaimana pesan Atsumu setelah itu. "Dia menyarankan latih tanding dengan Karasuno."

Tsukishima dan Yamaguchi mengerjap. "Ha?"

To Be Continued

Halo ... yang ini update, yang kemarin bukan update. Aku lagi on fire banget jadi bisa nulis tiga bab beda cerita, biar cepet kelar aja sih. Jadi, aku bisa beresin utangku yang lain. Wkwkwk

Sampai jumpa di chap depan, ya.