Tangan kecil

Haikyuu FurudateHaruichi, aku menulis cerita ini hanya karena aku mencintai Libero Mungil yang bernama Nishinoya Yuu.

Pairing : Atsumu x Nishinoya (You can hit me later)

Happy Reading

Sebenarnya dia tidak sengaja ketika berceletuk "Karasuno" di diskusi latih tanding bersama pelatih. Nama itu tiba-tiba muncul begitu saja dan Atsumu tidak ragu meneriakkannya dengan senyum lebar yang langsung ditendang Osamu begitu saja. berita baiknya, pelatih menerima nama itu sembari mengangguk serius.

"Aku akan menghubungi mereka," katanya saat meeting itu berakhir dan Atsumu tidak bisa menghilangkan senyum lebarnya.

Osamu menendang bokongnya saat dia keluar dari ruangan pelatih.

"Kau benar-benar kapten yang Brengsek, Tsumu."

"Hei!" bentaknya tidak terima. "Aku, kan, hanya menyarankan."

"Hanya menyarankan," cibir Osamu. "Kau hanya ingin bertemu Nishinoya, kan?"

Senyum Atsumu semakin lebar. "Apa salahnya, sih?"

"Dasar brengsek!"

Tiba-tiba Suna memeluk Osamu dari belakang mereka. Ketika mereka sampai di gedung olahraga. Semua pemain sudah mengetahui hubungan mereka dan sudah terlalu lelah menegur sikap lengket Suna pada kekasihnya. Sehingga itu menjadi pemandangan biasa bagi mereka. Namun, telinga Osamu memerah. Dia mencoba melepaskan diri dari Suna, tetapi Suna selalu mendapatkan apa yang dia mau. Pelukannya pada pinggang Osamu semakin mengerat.

"Ada apa dengan kalian?" tanya Suna sembari meletakkan dagu di bahu adik kembarnya. "Kenapa bertengkar?"

"Rin!" keluh Osamu sembari mencoba mendorongnya.

Bukannya menurut, Suna semakin mengerjainya dengan menciumi leher Osamu. Wajah Miya bungsu meledak merah, semua orang di dalam gedung olah raga membuang muka. "Yes, Babe?"

"Oh my God! Get a room you two!"

Suna tersenyum mengejek. "Itu yang akan kau dapatkan jika mendapat pacar,"

Atsumu menggeram kesal. Suna Brengsek, berani-beraninya dia mengatakan itu di wajahnya sekarang.

"Aku mulai menyesali keputusanku mendukung hubungan kalian."

"Okay! Stop!" tukas Osamu sebelum pertengkaran ini berlanjut. "Rin, please!"

Suna bersungut tidak terima, tetapi mengikuti permintaan Osamu. Sebelum itu, dia meraih dagu Osamu dan mencium pipinya tanpa rasa malu. Dasar Brengsek, Atsumu benar-benar menyesal telah mendukung hubungan mereka. Suna selalu tidak tahu malu memeluk, mencium, bahkan meninggalkan kissmark di tempat yang berbahaya.

Osamu di sisi lain, lemah terhadap perlakuan Suna. Sekalipun telinganya memerah malu, dia tidak bisa menolak perlakuan—Atsumu bersumpah takkan pernah mengatakan hal ini pada siapa pun—manisnya.

Suna menjauhkan dirinya dan berdiri di sebelah Osamu. Tangannya hampir tidak sabar memeluk pinggang kekasihnya. Astaga, Atsumu benar-benar iri. Dia penasaran bagaimana reaksi Nishinoya bila dia melakukan itu padanya.

Berbanding terbalik dengan lamuann Atsumu, Osamu hanya mendengus.

"Dia menyarankan latih tanding dengan Karasuno."

"Wah!" tukas Suna terpana. "Kau menggunakan posisi kaptenmu dengan sangat baik, Atsumu."

"Kalian berisik," pekiknya. "Jangan berlagak seolah kalian tidak ingin bertanding dengan mereka lagi!"

Suna dan Osamu saling pandang. Atsumu tersenyum puas ketika menyadari ucapannya benar. Tidak ada yang menolak kesenangan pertandingan penuh gairah yang mereka lakukan di nasional kemarin.

"Yah," kata Osamu memulai. "Tidak tidak salah. Aku memang mau melawan Hinata sekali lagi."

"Dan aku ingin menghadapi Middle Blocker nomor 11 itu lagi," sambung Suna acuh tak acuh. "Pria berkaca mata itu."

Osamu menoleh dan mengangkat sebelah alisnya. "Aku tidak tahu sesuatu terjadi di antara kalian."

"Tidak seperti itu," kilah Suna. Atsumu tahu Osamu bukannya cemburu, tetapi memang pemilihan katanya menjurus ke arah sana. Hal itu membuat Suna kembali memeluk Osamu, yang segera ditepis oleh kekasihnya. "Dia tidak termakan provokasiku."

"Wah! Benarkah?" tanya Osamu. Suna mengangguk acuh. "Wah tumben."

"Aku sendiri juga mau melawan Tobio-kun dan Shouyo-ku-."

"Kau ingin bertemu dengan 'Yuu-kun'-mu, kan?" tukas Osamu kejam sembari membuat tanda petik dengan tangannya. "Ya. Aku tahu."

"Hei! Aku tidak begitu."

"Yeah! Kata orang yang menggunakan Yuu-kun sebagai obyek mansturbasi."

"Shut up!" ketus Atsumu dengan wajahnya yang memerah. Suna hanya tertawa. "Aku tidak melakukannya agar mendekati Nishinoya."

"Do whatever you wanna do, Tsumu!" ketus Osamu. "Aku yang akan tertawa paling keras jika kau menangis saat Nishinoya jadian dengan orang lain."

"Aku akan menemanimu tertawa."

Pelatih memasuki gym tidak lama setelah itu, sehingga seluruh pembicaraan Miya bersaudara. Mereka melakukan latihan ringan seperti biasa, karena tim belum dibentuk hingga tahun ajaran baru. Atsumu bertanya-tanya apakah di kalangan anak baru nanti akan ada seseorang yang menarik? Sejenak dia berpikir demikian, tetapi pemikiran itu menghilang bersama dengan bayangan Nishinoya yang muncul begitu saja.

Tidak ada yang lebih menarik dari Nishinoya dan Hinata Shouyo. Dia memang menyukai Hinata Shouyo sebagai seseorang dengan kemampuan yang menarik, tetapi rasa suka itu benar-benar berbanding terbalik dengan rasa sukanya pada Nishinoya. Semua itu dimulai ketika setelah kekalahannya Nishinoya muncul dimimpinya, sedang melakukan handjob dengan tangan-tangan kecil itu.

Atsumu benar-benar tidak tahu kenapa dia bisa berimajinasi seperti itu tentang Nishinoya Yu, ketika seluruh pikirannya saat pertandingan itu hanyalah menghancurkan mental pemain bertahan terbaik mereka. Hasil akhirnya, sudah bisa ditebak, lelaki itu bukannya hancur malah menghadapi servis Atsumu dengan berani.

Itu mempesona. Benar-benar mempesona. Apa yang terjadi pada Nishinoya jika dia benar-benar menyerangnya? Apa yang akan dia lakukan jika dia menarik tangan-tangan kecil yang kuat itu ke atas hingga dia tidak bisa menggerakkannya dan menyadari betapa dia tidak berdaya?

Katakan Atsumu memang kejam dengan segala pemikirannya, tetapi hei! Itu kan hanya pemikirannya, kalian boleh menudingnya ketika Atsumu benar-benar melakukan hal itu.

Hah! Sekalipun imajinasinya seliar kuda yang tak pernah masuk kandang, dia tidak yakin akan melakukannya jika mereka bertemu. Lebih sederhana lagi, apa yang harus dia lakukan jika mereka benar-benar memiliki kesempatan untuk bertemu?

Karena pemikiran itulah Atsumu keluar dari kamarnya, mengganggu adiknya yang tengah bermesraan ruang TV. Mereka berdua yang sedang menonton Netflix sembari bergelung berdua dalam satu selimut sontak mendongak. Atsumu memang sengaja berdiam di rumah saat tahu Suna akan datang, dengan begitu mereka takkan bercinta di rumah. Ibu seperti biasa masih lembur di kantor.

Atsumu menyalakan lampu dan dia bisa melihat ekspresi Osamu yang ingin menelannya hidup-hidup.

"I hope you have a really good reason for that," geram Osamu siap melahapnya kapan saja. Suna tidak peduli. Dia memeluk Osamu lebih erat.

Atsumu tersenyum lebar seolah-olah meminta maaf. "Aku hanya kepikiran. Aku takut itu akan menghilang dari pikiranku jika tak segera mengatakannya."

Osamu mendesah lelah. Dia memijat kepalanya, lelah menghadapi saudara kembarnya yang lebih menyebalkan dari pada sepuluh anak nakal dijadikan satu.

Melihat hal itu, Suna hanya terkekeh dan mencium pipinya. "Just hear him, Babe! It will be faster."

Brengsek, Suna. Dia ingin mengumpati kekasih saudara kembarnya itu, tetapi dia tahu Suna mengatakan hal yang benar. Kalau Osamu menolak mendengarkan, dia pasti akan tetap memaksa.

Dengan itu, Osamu mendesah lelah. "Fine. Make it fast."

Atsumu menyeringai lebar. Dia tanpa tahu malu melompat ke sofa di atas sepasang kekasih itu. Suna dan Osamu duduk di bawah dan bersandar pada sofa. Di sebelah mereka ada botol cola besar yang tinggal setengah dan berondong jagung. Film yang mereka tonton jelas berada di titik terbaik mereka, hanya saja tanda pause menghentikan semua gerakan.

"Jadi, ada apa?" kata Osamu. Tidak berhasil menyelinap keluar dari pelukan Suna. "Ayolah, Rin!"

Suna tidak peduli.

"Aku bertanya-tanya, apa yang harus kulakukan saat bertemu Yuu-kun?"

"Sudah kukatakan, ini tidak penting, Rin."

"Ayolah, Babe," kata Suna geli. "Saudaramu perlu bantuan."

Atsumu melambaikan tangannya riang. "Aku di sini!"

"Yeah dan sangat mengganggu."

"Dammit!"

"Apa yang membuatmu berpikir kalian akan bertemu?" tanya Suna setelah mencium pipi Osamu yang cemberut. Dia berbisik pada Osamu. "I'll make it up later. Promise."

Osamu mendengus. "Sebenarnya kau berencana menemui Nishinoya meski rencana latih tandingnya tidak digunakan, kan?"

Atsumu menyeringai lebih lebar. "Aku menyadari berkirim pesan takkan berjalan kemana pun."

"Finally," desah Suna. "Jadi, apa yang ingin kau tanyakan?"

"Bagaimana cara mendekati Yuu-kun?" tanyanya tidak yakin. "Bagaimana caramu mendekati Samu dulu?"

"Dengan makanan," jawabnya lugas. "Dia menyukainya."

"Tapi aku tidak tahu makanan apa yang disukai Yuu-kun selain voli dan aku tidak punya banyak waktu untuk mencari tahu."

Suna memutar matanya. "Kau harus mendekati setiap orang dengan cara yang berbeda."

"Waw, kau berpengalaman," ketus Osamu sinis.

"Ayolah, Babe! Kau tahu, itu tidak begitu," erang Suna. Dia segera mengalihkan perhatian mereka. "Apa yang kau sukai dari Nishinoya?"

Sebelah alis Atsumu terangkat bingung. "Tangannya?"

"No Shit!" tukas Osamu kesal. "Coba katakan padanya, aku menyukai tanganmu dan aku ingin kau melingkari kejantananku dengan itu. Aku ingin tahu bagaimana dia akan menonjok mukamu saat itu juga."

Seketika wajah Atsumu memerah dan menendang punggung Suna. Suna memprotes tidak terima, tetapi salah sendiri dia menghalangi kakinya menendang Osamu saat itu.

"Kau tidak membantu!" pekiknya. "Ugh! Salahku karena meminta bantuan kalian, LoveBird!"

"Just go away, you Jerk!"

Atsumu bersungut-sungut ketika bangkit. Dia benar-benar membenci keputusannya membiarkan mereka berdua berpacaran sekarang. Osamu jadi lebih sering meninggalkan sendiri dan itu membuatnya kesepian. Meskipun begitu, salahnya lah yang tidak mengatakannya terus terang. Tapi, bagaimana mungkin seorang Atsumu Miya berkata 'Oh! Aku kangen padamu, Adik Kecil. Jangan meninggalkanku sendirian?', yang ada Osamu past menertawakan dan mengejeknya seumur hidup.

Namun, dia tetap tidak bisa mengenyahkan rasa tertinggalnya itu.

Itu pasti terlihat di wajahnya—atau mungkin Atsumu terlalu keras saat menutup pintu—sehingga Osamu menyusulnya. Dia sedang tengkurap di tempat tidur Osamu. Adik kembarnya itu mendengus dan menendang punggungnya perlahan.

"Don't be such a kid, Dumbass!" gerutu Osamu. Dia menjatuhkan diri di tempat tidur. "Come on! Let me hear you!"

"Aku benar-benar tidak tahu caranya mendekati Yuu-kun," katanya tertutup bantal.

"Lakukan saja seperti biasa kau lakukan."

Dia sontak bangkit. "Aku tidak pernah mendekati seseorang." Osamu membuat ekspresi seolah seseorang memaksanya memakan onigiri basi lima hari. "Aku serius."

"Bagaimana dengan Miko?"

"Dia yang tiba-tiba menembakku."

"Ichika-chan?"

Kali ini giliran Atsumu yang mengernyit bingung. "Kita bahkan tidak pernah pacaran."

"Liar."

"Kenapa kau tidak mempercayaiku, sih?"

"Tsumu, kau secara teknis mendapat julukan Playboy di sekolah."

Atsumu terbelalak tidak percaya. "What the hell?"

Osamu menggeleng-geleng tak percaya. "Well, setidaknya kita tahu rumor itu salah," gumamnya. "Aku hanya berkata berdasarkan kesukaanku, tapi aku suka saat Suna meneleponku setiap malam."

"Ya, kau benar-benar berisik ouch!"

Osamu memukul kepala kakaknya kesal. "Kau sebenarnya mau kubantu tidak, sih?"

"Bantu. Bantu," jawab Atsumu bersemangat. "Apa lagi, Osamu-san?"

"Hentikan san itu," gerutunya. "Kemudian aku suka jika Suna mengajakku jalan-jalan. Untuk makan. Karena kau tidak tahu apa kesukaannya, ajak saja dia berkeliling sesuai keinginannya. Pakai saja alasan aku tertarik dengan tempat ini, kau mengajakku berkeliling, tidak? Untuk obrolan, kalian pasti memiliki banyak hal untuk dibicarakan, mengingat betapa kalian berkirim pesan tanpa henti."

Atsumu terdiam. "Aku tidak pernah meneleponnya selama ini."

Osamu meraih ponsel Atsumu di tempat tidur atas dan menyerahkannya terbuka di pesan Nishinoya.

"Kirim pesan padanya sekarang, tanyakan apakah dia keberatan kau telepon," katanya sembari berdiri. "Dan jangan ganggu kami!"

Pintu kamar Atsumu tertutup kasar dan dia mengirim pesan pada Nishinoya. Berharap dia menyanggupi permintaan teleponnya malam ini.

To Be Continued

Kasian Tsumu ya, dipanas-panasin Suna mulu. Hahaha ... SunaOsa lovey dovey banget, dah. Aku baru ingat, aku kasih ini rating dewasa, jadi humornya ya gitu. Maaf hehe

Terima kasih sudah membaca, sampai jumpa di chapter depan.