Tangan kecil

Haikyuu FurudateHaruichi, aku menulis cerita ini hanya karena aku mencintai Libero Mungil yang bernama Nishinoya Yuu.

Pairing : Atsumu x Nishinoya (You can hit me later)

Happy Reading

Atsumu tidak menjawab pesannya lagi sejak terakhir kali dia bilang menawarkan Karasuno sebagai rencana latih tanding. Setahunya, Karasuni dan Inarizaki tidak memiliki hubungan seperti Karasuno dan Nekoma. Atau mereka punya? Entahlah. Itu urusan Take-chan, dia tidak hubungannya dengan hal itu.

Nishinoya menjatuhkan dirinya ke tempat tidur setelah selesai mandi dan makan malam. Kakeknya di sini sejak tadi, lalu mereka keluar. Kakeknya membawa gadis cantik lain dan Nishinoya benar-benar iri dengan itu. Dia berguling dan menatap langit-langit. Apa yang salah dengan dirinya? Padahal kakeknya bisa menggaet wanita-wanita dan dia menggaet satu orang saja perlu tamparan, tindakan bodoh, dan yang terakhir malah dicampakkan begitu saja tanpa benar-benar dianggap serius. Dan yang paling mengerikan dari itu semua, kenapa dia malah menarik perhatian seorang creepy aneh yang tiba-tiba menariknya pergi, mengikutinya dengan tatapan aneh, dan terkadang menyapanya dengan senyum yang tak kalah mengerikan.

Satu-satunya orang yang tahu tentang itu adalah Tsukishima. Jangan tanyakan pada Nishinoya bagaimana lelaki salty berkaca mata itu bisa mengetahuinya! Dan bagaimana—dari semua orang di klubnya—harus Tsukishima yang mengetahui hal itu?

Ada Ennoshita yang seolah tidak pernah berhenti memperhatikannya—untuk memastikan dia tidak membuat ulah—atau Tanaka yang menghabiskan lebih banyak waktu dengannya, atau Sugawara, atau Mikado. Dari semua orang itu Tsukishima. Tsukishima Kei yang setahunya tidak peduli pada orang lain. Tsukishima Kei yang lebih sering menyindir orang lain daripada berbicara yang baik-baik. Nishinoya benar-benar tak habis pikir. Apalagi Tsukishima selalu hanya mengangkat bahunya, ketika Nishinoya bertanya saat mereka pulang bersama, atau lebih tepat dengan Tsukishima mengantarnya pulang terlebih dahulu sebelum berbalik ke rumahnya sendiri.

"Semua yang melihatmu pasti tahu kau dalam masalah, Noya-san."

"Ryu tidak mengetahuinya."

"Karena dia bodoh."

"Chikara?"

Tsukishima mengangkat sebelah alisnya. "Kau benar-benar ingin aku menjelaskan alasannya, ya?"

"Berterus terang itu lebih baik daripada membuat orang penasaran."

"Oh, jadi kau penasaran?" balas Tsukishima sembari tersenyum miring.

"Jangan bercanda!" ketusnya. "Ayolah, Tsukishima!"

Tsukishima mendengus. Dia menatap ke depan dan Nishinoya hampir menyerah mencari tahu. Setelah mereka berjalan sepuluh menit dalam keheningan—yang mungkin Nishinoya sedikit menghentikan kakinya tidak sadar karena kesal—Tsukishima mengehla napas.

"Aku memperhatikanmu," katanya serius. Tsukishima menghentikan langkahnya. Membuat Nishinoya ikut berhenti karenanya, kemudian berbalik. "Bagaimana kalau aku suka padamu, Noya-san?"

Nishinoya terdiam. Otaknya blank tiba-tiba. Dia tidak tahu apakah mulutnya terbuka, atau matanya melotot, atau wajahnya memerah. Dia tidak tahu. Yang dia tahu adalah kata-kata Tsukishima terngiang-ngiang di kepalanya seperti lebah yang tidak mau pergi.

Melihat kebekuan Nishinoya, Tsukishima tersenyum kecil. Dia berjalan dengan langkah lebar, mendahului kakak kelasnya yang membeku.

"Reaksimu lucu sekali, Noya-san."

Saat itulah, pikiran Nishinoya kembali. "Hah?"

"Aku seharusnya memfotonya," ujar Tsukishima geli. "Wajah itukah yang kau tunjukan pada orang itu sehingga dia tergila-gila padamu?"

"Apa-apaan?" ketus Nishinoya segera mengejar pria berkaca mata yang berjalan cepat itu. "Kau bercanda, ya?"

"Iya," jawabnya santai. "Aku punya setumpuk surat cinta dan kumpulan gadis yang menyatakan cinta padaku secara berkala. Kenapa aku harus suka padamu yang berisik?"

Nishinoya mengumpat kesal. Sayangnya, dia melewatkan semburat merah di telinga Tsukishima dan detak jantungnya yang gila-gilaan.

"Dasar Bajingan sombong mengesalkan. Kuharap orang yang kau taksir tidak menyukaimu."

Tsukishima hanya tertawa mendengarnya.

Nishinoya benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Tsukishima. Setelah melakukan candaan yang tak lucu itu, Tsukishima menendang—tidak secara harfiah, tentu saja, orang yang suka menendang orang lain adalah Nishinoya dan bukannya Tsukishima—nya ke rumah.

"Kunci pintunya yang benar!" perintahnya, sebelum mulut itu menyeringai. "Aku khawatir, mengingat hanya ada satu anak kecil yang tinggal di rumah sekarang."

"Berisik, Tsukishima!"

Setelahnya, Tsukishima pergi. Itu terjadi beberapa hari yang lalu. Saat bersama Yamaguchi—seperti hari ini—Tsukishima hanya berjalan di bekalang. Headphone terpasang rapi di lehernya, tangannya masuk ke saku jaket, dan dia tiak mengatakan apa pun. Hanya Yamaguchi yang mengajaknya bicara. Tsukishima bertindak seolah semua ucapannya beberapa hari lalu tak pernah terjadi. Atau memang begitulah kenyataannya, Tsukishima dan candaannya yang jelek.

"Setidaknya, dengan bersama Tsukishima, orang itu tidak mengikutiku," desahnya lelah. "Sial. Bagaimana bisa dia senekat itu? Aku tidak ingat pernah mengenalnya sebelum dia menyatakan perasaannya padaku dan aku sudah menolaknya terang-terangan."

Gerutuan Nishinoya berhenti ketika ponselnya kembali bergetar. Atsumu mengiriminya pesan.

Atsumu

Aku hanya berceletuk, tapi aku benar-benar berharap latih tanding itu disetujui.

Nishinoya

Saat itu aku akan menerima servis-mu dengan baik.

Atsumu

Bagaimana kalau kita bertaruh?

Atsumu

Ah!

Yuu-kun, apa kau sibuk?

Nishinoya

Tidak. Kenapa?

Atsumu

Kau mau kutelpon?

Nishinoya terdiam. Perlu beberapa waktu baginya untuk memastikan dia tidak salah baca. Kenapa Atsumu mengajaknya bertelepon? Tidak. Nishinoya seharusnya mulai bertanya-tanya sejak Atsumu menghubunginya lewat DM Twitter. Tidak. Itu tidak aneh, karena mereka sudah bertemu dan banyak hubungan pertemanannya terjalin setelah pertandingan. Lagipula, dia memang membuka Twitter-nya, tetapi kenapa? Kenapa Atsumu tiba-tiba mengiriminya pesan, mengajaknya mengobrol, dan mereka terlarut dalam obrolan-obrolan kecil. Bahkan bertaruh untuk hal-hal remeh seperti bangun pagi.

Sebenarnya, Nishinoya tidak terganggu. Seperti yang pernah dikatakannya, berkirim pesan dengan Atsumu menyenangkan.

Atsumu

Kalau kau keberatan, tidak masalah.

Nishinoya

Aku tidak keberatan. Kau bisa meneleponku.

Kemudian layar teleponnya dipenuhi oleh nama Atsumu. Dia mengangkat telepon itu tanpa berpikir dua kali, lagipula dia sudah menyanggupinya dan Atsumu tahu Nishinoya sedang memegang ponsel.

"Halo! Yu-kun?" Nishinoya tidak tahu mengapa, tetapi Atsumu menyapanya dengan kelewat senang.

"Halo, Atsumu!" Satu pekikan tertahan, mungkin, Nishinoya tidak benar-benar mendengarkan apa yang terjadi di seberang sana. "Kau baik-baik saja?"

"Hanya senang akhirnya mendengar suaramu."

"Kau aneh," jawab Nishinoya tertawa. "Orang-orang bosan mendengar suaraku, tetapi kau merindukannya."

"Karena mereka mendengar suaramu setiap hari!" pekiknya.

Ada suara gedoran pintu dan sayup-sayup dia mendengar seseorang berteriak, "Tutup mulutmu, Tsumu!"

Suara Atsumu menjauh. "Kau pergi sana. Berkencan sana dengan Suna!"

Tidak ada suara lagi selama beberapa saat, kemudian dia kembali mendengar Atsumu. Kali ini lebih tenang. "Adikku bertingkah menyebalkan."

Nishinoya turun dari tempat tidurnya dan mencari earphone yang entah dia simpan di mana. Seingatnya, dia meletakkan benda itu di salah satu laci mejanya setelah dia gunakan—atas paksaan Ennoshita di sesi belajar kelompok—untuk mendengarkan salah satu audio bahasa inggris. Kenyataannya dia hanya tertidur dan tidak tahu apa yang sebenarnya pembicara itu katakan selain yes dan no.

Sembari terus mencari, dia berkata, "Mereka pacaran?"

"Siapa?" sambar Atsumu cepat. "Samu dan Suna?"

"Iya," jawabnya. Ah, dia menemukan earphone-nya di balik buku yang hanya berisi coretan kata-kata random penyemangat jantan yang dia temukan di kepalanya. Tulisannya keren sekali. Sebaiknya dia memfotonya nanti dan mengunggahnya di Twitter. "Sebentar."

Atsumu menunggu dengan sabar. Mungkin. Karena setelah itu Nishinoya menjauhkan ponsel dari telinganya dan berganti menggunakan earphone. Begitu selesai dia merebahkan dirinya ke tempat tidur dan menjatuhkan ponselnya begitu saja.

"Oke. Sudah."

Atsumu melanjutkan, "Mereka berpacaran. Astaga setiap hari bermesra-mesraan di depanku. Menyebalkan sekali."

Nishinoya tertawa lebar. "Kenapa kau tidak mencari pacar juga kalau begitu?"

"Sedang mengusahakannya," jawab Atsumu cepat.

"Oh!"

"Bagaimana denganmu?" tanyanya. "Ada yang sedang kau sukai?"

"Kiyoko-san," jawabnya ringan, kemudian mulutnya cemberut. "Tapi kalah dengan Ryu."

Atsumu menjawab bingung, "Ryu?"

"Wing Spiker, Tanaka Ryunosuke." Nishinoya mengerutkan dahinya. Bagaimana lagi dia harus mendeskripkan Ryu?

"Ah," jawab Atsumu. "Yang botak?"

Nishinoya tertawa semakin keras. Dia melupakan satu ciri-ciri khusus yang melekat erat pada temannya itu. "Iya. Yang itu. Kenapa kau tidak ingat dengan nama-nama timku, sih?"

"Kau hanya memanggilnya Ryu," gerutu Atsumu. "Aku tidak mengenal mereka sampai nama belakang atau panggilannya."

"Tapi kau memanggilku Yu," balas Nishinoya. "Kau juga memanggil Shouyo dan Kageyama dengan Tobio."

"Aku mengenal Tobio sejak Youth," jelas Atsumu. Suaranya sedikit diisi oleh kebanggaan. "Dan aku hanya mengingat nama-nama yang menarik perhatianku."

Nishinoya mengerutkan dahinya. "Aku menarik perhatianmu?"

"Tentu saja," erang Atsumu. "Kalau tidak untuk apa aku mengirimimu pesan selama ini."

"Kau benar."

Pembicaraan mereka berjalan dengan sangat santai. Mulai dari hal paling remeh seperti keluhan Atsumu tentang saudara kembar dan pacarnya, sampai tentang voli, voli, dan voli. Yah, hanya itu yang menyatukan mereka.

Mereka mengenang saat-saat dimana Atsumu mengolok-oloknya dengan serve float-nya yang sulit ditangani. Kemudian dia merengek dengan "Tapi kau kan hebat sekali akhirnya berhasil menerimanya."

Itu memang benar. Nishinoya tidak sekalipun merasa dendam dengan Atsumu. Ketidak mampuannya menghadapi serve Atsumu terjadi karena dia kurang berlatih dan karena Atsumu memang sangat jago melakukannya.

"Kau mengantuk?" tanya Atsumu saat Nishinoya menguap untuk kesekian kalinya.

Nishinoya mengangguk dan mengusap matanya, kemudian dia sadar bahwa Atsumu tidak melihatnya.

"Ya," jawabnya setengah tidak sadar. Dia menekan pipinya ke bantal. "Lalu apa yang kau lakukan saat Suna mengerjai adikmu?"

Alih-alih menjawab, Atsumu malah bertanya, "Kau ingin tidur saja?"

Nishinoya hanya bergumam. "Tidak. Aku suka mendengarmu bercerita."

Karena permintaan Nishinoya itu, Atsumu kembali menceritakan banyak hal. Meskipun, Nishinoya tidak lagi benar-benar mendengarkan. Sampai akhirnya, pembiacaraan mereka berakhir ketika Nishinoya tertidur dengan telinga yang masih tertutup earphone.

"Yuu?" panggil Atsumu. Hanya suara dengkur Nishinoya yang membalasnya. Atsumu terkikik geli. "Selamat malam, Yuu-kun."

To Be Continued

Kalo pakek POV Nishinoya tuh kenapa kok bawaannya pengen bikin masalah dia banyak gitu, tapi kalo sam Atsumu pengen bikin dia jadi bucin(ya dia kan bucin) atau dikerjain sama kembarannya. Hahaha ... Bawaannya pengen nistain Miya Kuning.

Dah, ini, karena Nishinoya belum suka sama Atsumu, jadi dia cuma nyaman aja diajak ngobrol. Santai. Jadi, ya gini akhirnya, haha ...

Sampai jumpa di chapter depan ya

Eh bentar, lupa mention kalo ... ini kenapa jadi ada TsukiNoyanya ya?

Hahahaha