Tangan kecil
Haikyuu FurudateHaruichi, aku menulis cerita ini hanya karena aku mencintai Libero Mungil yang bernama Nishinoya Yuu.
Pairing : Atsumu x Nishinoya (You can hit me later)
Happy Reading
Itu adalah malam terbaik yang pernah Atsumu lalui. Mungkin, suatu saat nanti, dia akan mendapatkan malam-malam terbaik lainnya, yang pasti berupa kehidupan seks mereka, tetapi untuk sekarang bertelepon ria bersama pujaan hatinya sudah cukup untuk membuat seringai itu tidak pergi dari mulutnya. Hal itu membuat Osamu semakin kesal setiap kali mereka bertemu.
Atsumu melihat jejak telepon mereka. Tiga jam. Sebenarnya mereka hanya berbicara selama dua jam sebelum Nishinoya tertidur, tetapi Atsumu enggan menutup sambungan telepon. Dia hanya membiarkan dengkur Nishinoya yang lucu mengisi telinganya, sampai Osamu datang dan merusak suasana.
"Hapus seringai busuk itu dari wajahmu!" ketus Osamu kesal saat mereka makan siang.
"Hei! Watch your mouth!"
Osamu mengangkat sebelah alisnya. Masih tidak percaya dengan apa yang dilakukan Atsumu semalam. Kita menghela napas. Dia meletakkan makan siangnya ke bawah dan seketika si kembar itu berhenti berargumen.
"Aku sudah melihat kalian sejak tadi," katanya. Dia menoleh pada Osamu, membuat lelaki itu berjengit. "Biarkan kembaranmu bersenang-senang Osamu. Kau dan Suna tidak melakukan hal yang lebih baik daripada yang dilakukannya."
"Tapi dia ..."
Atsumu melotot. Dia telah menutup mulut Osamu dengan tiga puding yang bukan dari supermarket biasa. Dia menghabiskan hampir seluruh uang jajannya untuk itu, sehingga Atsumu pasti memastikan kembarannya takkan menyia-nyiakannya. Osamu menggigit bibirnya, dia bimbang kemudian mengangguk. Untuk kali itu saja, merasa salah dengan yang dilakukannya.
Atau tidak juga. Atsumu hanya menyumpal mulutnya untuk tidak memberitahu orang lain—kecuali Suna—tentang kebiasaannya menggunakan Nishinoya sebagai obyek khayalan. Tidak yang lain.
"Dia membisukan panggilannya dan mendengarkan suara Nishinoya tertidur untuk entahlah berapa lama."
Seketika itu juga, tatapan dingin dan mengadili Kita beralih ke Atsumu. Lelaki itu benar-benar ingin menelan kembarannya hidup-hidup. Dia seharusnya melakukan itu saat masih dalam kandungan. Beruntung, dirinya yang janin berinisiatif menahannya tetap di dalam sehingga dia mengambil posisi sebagai kakak.
Sayangnya, itu tidak menghentikan Osamu dari sikap kurang ajar. Lihat saja, dia menyeringai diam-diam di balik bekalnya yang dua kali lebih banyak dari sebagian besar porsi bekal yang mereka punya. Suna terbatuk-batuk, menyamarkan tawa yang menjengkelkan itu. Aran memutuskan dia tidak tahu dan tidak mau tahu. Akagi, menjadi Akagi, yang 'aku tidak ingin berurursan dengan kebodohan ini'.
"Apa itu benar?"
Berbohong hanya akan membuat segala hal lebih buruk.
"Mau bagaimana lagi," erang Atsumu. "Nishinoya sangat manis dan aku tidak bisa menemuinya lagi setelah pertandingan itu."
"Tetapi mendengarkan suaranya saat tertidur tanpa sepengetahuannya sangat tidak sopan," tukasnya tajam. "Apa kau ingin Nishinoya merasa jijik padamu, saat mengetahui kau mendengarnya tidur?"
Atsumu terbelalak kaget. "Apakah dia bisa merasa jijik dengan itu?"
"Kalau aku sih akan merasa kau aneh," jawab Osamu sembari berdeham. "Aku tahu kau suka padanya, okay? Tapi sikapmu, kau tahu, kau jadi orang aneh. Yah, aku tahu kau memang aneh dari dulu ..."
"Hei!"
"Tapi yang kau lakukan ini? Kau seharusnya menutup telepon itu jika tahu Nishinoya tertidur dan bukannya tera—," dia berdeham sekali lagi, Atsumu tahu pilihan kata apa yang sebenarnya ingin dia katakan, "mendengarkannya tanpa izin."
Dari tatapan mata itu, Atsumu bisa melihat ancaman 'aku akan memberi tahu Kita-san—dan dia memilih untuk mengakhiri pembicaraan ini. Setidaknya sebelum adiknya benar-benar membuka rahasianya pada Kita. Mengetahui Atsumu mendengarkan suara Nishinoya saja dia sudah setegang itu, bila dia mengetahui hal lain yang dilakukannya, Atsumu yakin dia akan mendapat penghalang, alih-alih dukungan yang dibutuhkannya.
"Maafkan aku," katanya sembari menunduk. "Aku tidak akan melakukannya lagi."
"Bagus. Pastikan kau mengucapkan maaf pada Nishinoya karena melakukannya."
Atsumu terbelalak, mengucapkan maaf bukannya berarti dia mengakui tindakannya? Bukankah lebih dia menyembunyikannya? Siapa tahu Nishinoya tidak mengetahui panggilan itu? Atsumu mencari bantuan dari teman-teman dan kembarannya, tetapi, sekali lagi, mereka tidak membantu.
"Okay," katanya. Dia terbelalak melihat Kita dan mengulang, "Aku mengerti."
"Bagus."
Makan siang mereka memang menyebalkan—ucapkan terima kasih pada Osamu yang sekarang sedang berlatih serve di jam eskul mereka—tetapi dia masih tetap berkirim pesan dengan Nishinoya. Dia meminta maaf tentang tadi malam dan beralasan ikut tertidur karenanya. Beruntung, Nishinoya tidak keberatan sama sekali. Dia malah tertawa dan menganggap perilaku Atsumu lucu.
Demi puding Osamu yang dia curi hari lalu, Nishinoya sungguh menggemaskan. Atsumu benar-benar berharap dia bisa membawa laki-laki itu sebagai bagian dari keluarganya, meskipun tidak secara legal.
Osamu, sekali lagi menjadi bajingan, melempari kepalanya dengan bola voli di jam istirahat. Dia sedang berkirim pesan dengan Nishinoya dan ponselnya terlempar ke tanah.
"Brengsek! Apa yang kau lakukan?" bentaknya kesal dan segera mengejar Osamu yang melarikan diri.
Suna mendengus, anak kelas satu tertawa canggung, dan pelatih menggelengkan kepalanya menyerah. Terserahlah. Asal ketika latihan dan pertandingan mereka benar-benar seperti monster dengan fokus yang gila.
Saat akhirnya Atsumu bisa melempar bola voli mengenai dahi Osamu—yang meskipun pada akhirnya Osamu melemparnya lagi dua kali mengenai bahu dan pipinya—dia kembari mencari ponselnya sambil bersungut-sungut. Ponsel itu menghilang, dipegang Suna yang membaca semua pesannya dengan Nishinoya.
Dia menjauhkan ponselnya saat Atsumu hampir meraihnya dan melemparnya pada Osamu yang sudah siap menangkap. Lelaki itu menggeram dan Osamu tersenyum mengejek. Pasangan menyebalkan ini sengaja melakukannya.
"He!" gumam Osamu. "Nishinoya benar-benar terlalu bagus untukmu Tsumu."
"Berisik ah!" bentaknya dan menyambar ponsel itu darinya. Osamu menyeringai mengejek.
"Tapi tidak ada yang manis dari pesan kalian," komentar Suna. "Kalau kalian bertemu di lapangan, apa kau serius akan melawannya sekuat tenaga? Tidakkan kau ingin sedikit santai melawannya?"
Alis Atsumu berkerut dalam, seolah Suna baru saja mengatakan hal paling konyol yang pernah dia dengar.
"Jika aku melakukannya Nishinoya akan marah padaku, kan?" tanyanya heran. Kali ini Suna dan Osamu yang saling pandang. Bingung. "Tekadnya. Kalau sampai aku mengalah bahkan sedikit saja, harga dirinya pasti tidak terima."
Osamu berdeham. "Kau benar. Itu salah satu alasan kau menyukainya kan. Selain 'Tangannya yang kecil'."
"Brengsek, Osamu!"
Pelatih meniupkan peluit dan mereka berkumpul untuk memulai jam latihan mereka. Pertandingan mereka berlansung cukup baik. Anak-anak kelas satu sudah lumayan bagus, meski terkadang mereka masih segan untuk mengerahkan seluruh tenaganya. Kalau mereka begini terus, formasi reguler interhigh tidak akan sekuat itu. Apa gunanya memiliki kemampuan dan teknik jika mental mereka belum siap menggunakan semua itu di pertandingan sebenarnya?
Untuk itulah dia benar-benar mengharapkan latih tanding yang membuat mereka bersemangat. Ada dua tim yang membuatnya bersemangat selama karirnya bermain voli, satu Itachiyama dan Karasuno. Itachiyama mungkin lawan yang luar biasa, tetapi tidak ada yang bisa mengalahkan perasaan meluap-luap melawan Karasuno dengan seluruh tekad dan perjuangan mereka.
Atsumu tertawa kecil, mereka adalah tim aneh yang masih bereksperimen meski melawan mereka. Ketidak takutan mereka membuat pertandingan sangat menyenangkan. Sebagai efek sampingnya, dia juga ingin mencoba-coba. Hasilnya sangat baik dengan Serangan cepat kembar mereka.
"Ada apa lagi kau tersenyum-senyum menjijikkan begitu?" gerutu Osamu saat pulang bersama. Dia masih bersungut-sungut karena Suna tidak bisa pulang bersama. "Jangan bilang kau ingin melakukannya 'itu' lagi!"
"Tutup mulutmu, Samu," gerutunya. "Aku hanya memikirkan kembali pertandingan hari itu."
"Ugh, ya, kan? Dasar mesum. Kuharap Nishinoya tahu sisi ini, tidak, mungkin aku akan memberitahunya saat ini juga."
"Bukan begitu!" bentaknya. Dia merentangkan tangannya dengan kesal. "Aku hanya berpikir, kalau anak-anak kelas satu berkesempatan menghadapi pertandingan seperti yang kita lakukan di Haruko, bukankah mereka akan lebih bersemangat?"
"Atau putus asa. Karasuno, meskipun terlihat berantakan, memiliki serangan yang sangat solid."
Atsumu menyilangkan tangannya. "Kalau mereka putus asa karena itu, lebih baik kita mengetahuinya sebelum formasi reguler dibentuk. Akan repot jika tim kita pecah lagi saat pertandingan sudah dimulai."
Osamu mengangguk. Dipikirannya hanya terisi dengan, 'Tumben saudara kembarnya bisa berpikir normal'. Dia memasukkan tangannya ke saku dan merapatkan jaket.
"Pelatih juga berpikir begitu," katanya. "Kau sudah mengatakannya pada pelatih juga. Mereka sedang menunggu konfirmasi dari pihak Karasunonya. Mungkin besok."
Atsumu mengerjap. Ada sesuatu yang salah.
"Kenapa kau tahu tentang itu?"
Osamu menyeringai. "Aku tidak tahu. Coach mendatangiku. Mungkin dia menyesali keputusannya menjadikanmu kapten."
Atsumu mengumpat dan dia mengejar saudara kembarnya sampai rumha. Berharap bisa memukul mulut dengan seringai kecil menyebalkan itu.
Setelah makan malam, Atsumu menjatuhkan dirinya ke sofa. Osamu pergi sejak tadi, entah kemana, mungkin berkencan. Beruntung dia sudah menyiapkan makan malam untuk Atsumu. Ibunya lembur lagi. Dia sendirian lagi di rumah. Sambil bermain bola voli, dia menunggu Nishinoya—entah melakukan apa—sebelum memulai janji telepon malamnya lagi.
Bola itu dilemparkan, ditangkap lagi, dilemparkan lagi. Setiap ujung jarinya bisa merasakan pemukaan bola yang halus. Setiap instingnya mengatakan dia bisa melempar bola ini—dalam posisi tertidur di lantai—ke foto Suna dan Osamu berbingkai duduk di nakas sebelah tempat tidurnya. Tepat mengenai foto itu, memecahkan kacanya, dan membuat Osamu marah kepadanya.
Lebih baik dia hentikan itu.
Setelah beberapa menit hanya melempar-lempar kecil bolanya, ponselnya berdering. Dia segera duduk, mendekap bola voli, dan menyambar ponsel. Nama Nishinoya terpampang di sana dan tanpa basa basi dia langsung menekan tombol terima.
"Halo, Yu-kun!"
Di seberang sana, Nishinoya terdiam sejenak. "Wow, kau cepat."
"Tentu saja," katanya tak tahu malu. "Aku menunggumu sejak tadi."
Nishinoya tertawa kecil. Betapa hati Atsumu berdetak sangat kencang ketika mendengar tawa itu berkumandang. Sesungguhnya, Atsumu berharap dia ada di depannya, sedang tertawa atau memukul seperti yang dia lakukan pada Middle Blocker berkaca mata itu.
Ketika memikirkan Middle Blocker itu perasaan iri Atsumu mulai memuncak.
"Kenapa kau menungguku?"
"Karena aku ingin segera mendengar suaramu."
Nishinoya tertawa lagi. Atsumu bersumpah akan membawa lelaki kecil ini pulang.
"Untuk apa mendengar suaraku, sih?" katanya geli. "Apa yang kalian lakukan saat latihan?"
"Uh oh, Osamu bersikap menyebalkan. Dia melempariku bola saat aku berkirim pesan denganmu tadi."
"Yang kau katakan tadi?" tanyanya sembari tertawa. "Memiliki saudara kembar itu menyenangkan, ya."
"Terkadang," jawab Atsumu sembari mengangkat bahu. Tidak peduli meskipun Nishinoya tidak bisa menangkap gesturnya. Dia hanya membayangkan lelaki itu ada di depannya untuk melihat. "Terkadang aku menyesal tidak memakannya saat kita masih dalam kandungan."
Sekali lagi Nishinoya tertawa. "Memangnya memungkinkah?"
"Entahlah," bibir Atsumu mengerucut kesal, "Aku tidak mencobanya dulu."
"Oh man, mengobrol denganmu itu memang selalu membuatku tertawa."
"Aku hanya mendengarmu tertawa. Sayang sekali.
"Bagaimana kalau kita mengobrol langsung nanti?" tawa Nishinoya tanpa malu. Jantung Atsumu berdetak cepat. Bukankah itu artinya ajakan kencan? Nishinoya mengajaknya kencan, kan? Iya, kan? Atsumu tersenyum lebar karena pemikirannya sendiri, hingga lupa menjawab tawaran Nishinoya. "Kau tidak mau, ya?"
"Mau!" pekiknya senang. "Mau. Sangat mau. Liburan nanti, aku berkunjung ke tempatmu, ya?"
Nishinoya tertawa geli. "Tidak perlu menunggu liburan, bukan? Bukankah akhir pekan depan sekolah kita akan mengadakan latih tanding?"
Seketika Atsumu menegakkan punggungnya. "Hah?"
"Kau belum diberi tahu? Kupikir kau pernah berkata, kaulah kaptennya."
"Hah, iya. Aku memang kaptennya, tetapi aku belum mendapat jadwal pastinya. Siapa yang mengatakannya?"
"Take-chan."
"Take-chan?" Atsumu mencoba mengingat nama anggota Karasuno yang memungkinkan mendapat julukan itu, tetapi tidak menemukannya. "Yang mana?"
"Guruku. Yang berkaca mata."
Seketika tawa Atsumu meledak keras. Astaga. Apa-apaan sih Karasuno ini? Bisa-bisanya mereka memanggil guru mereka dengan panggilan chan.
"Kenapa kau tertawa keras sekali, sih?"
"Itu kan gurumu," kata Atsumu sembari mencoba menahan tawanya. "Kau memanggilnya chan. Astaga. Berani sekali."
Nishinoya tertawa kecil. "Take-chan memperbolehkan kami memanggilnya begitu."
"Kalian ini benar-benar menyenangkan," katanya geli. "Oh, aku akan memastikan jadwalnya nanti."
"Take-chan bilang sabtu nanti. Mungkin pagi."
Sabtu. Atsumu menimbang cepat. Ini kesempatannya. Dia tidak tahu kapan akan mendapatkan kesempatan sebagus ini. Sehingga dia langsung menyambar, "Minggu kau ada rencana?"
Hening sejenak. Jantung Atsumu berdebar-debar.
"Tidak kurasa. Kenapa?"
"Entahlah," jawabnya. Dia memainkan bolanya di lantai. "Aku tertarik dengan Karasuno. Kau tahu, tempat kalian, berwisata."
"Ah," kata Nishinoya. "Apa kau akan menginap? Biasanya, kan, latih tanding itu—terutama yang berbeda perfecture seperti ini, tidak hanya satu sekolah."
"Tidak masalah. Aku bisa mengambil libur, kan? Tidak harus mengikuti semuanya. Sesekali."
"Memang orang tuamu akan memperbolehkannya?"
"Tentu saja," katanya geli. "Miyagi dan bukan antah berantah."
Nishinoya tertawa pelan. "Kau akan menginap dimana?"
Atsumu belum berpikir hingga ke sana. Dia bahkan tidak memikirkan apakah itu diperbolehkan Pelatihnya. Yang ada dipikirannya adalah ini kesempatan terbaik yang dimilikinya sekarang. Dia menggigit bibirnya. Dia tidak punya waktu untuk mencari tahu.
"Entahlah," katanya. "Penginapan, hotel? Menurutmu mana yang lebih bagus."
"Rumahku saja."
Atsumu tiba-tiba saja tersedak ludahnya sendiri. "Ha?"
"Rumahku saja. Aku hanya tingga dengan kakekku. Ibu dan tiga kakakku tinggal terpisah meski sering datang. Rumah kami besar. Tidak masalah jika kau dan kembaranmu, kalau dia ikut, menginap di sini. Ada lebih dari satu kamar kosong. Kakek juga jarang pulang."
Tunggu! Tunggu! Tunggu!
Ini salah. Semua informasi itu tidak membuat semuanya lebih baik. Karena jika yang dikatakan Nishinoya benar, artinya mereka bermalam hanya berdua. Hanya dirinya dan Nishinoya. Nishinoya mungkin tidak memiliki pikiran ke arah itu sedikit pun, tetapi Atsumu benar-benar memikirkannya.
Atsumu meneguk ludahnya gugup. Tawaran itu sangat menggiurkan, tetapi apakah dia mampu menahan dirinya bila mereka hanya berdua?
Karena keheningan tiba-tiba itu, Nishinoya kembali bersuara, "Kau keberatan?"
"Tidak!" pekiknya. "Tentu saja tidak. Itu ... itu akan sangat membantu. Aku akan mempertimbangkan hal itu. Aku akan bertanya pada ibu. Ya. Oh! Dia baru pulang. Aku akan menghubungimu nanti. Sampai jumpa."
Atsumu bahkan tidak sempat mendengar balasan Nishinoya. Yang ada dipikirannya sekarang adalah rasa senang yang membuncak di dadanya.
Ah! Dia benar-benar tergila-gila pada Nishinoya Yu.
To Be Continued
Haloha, sesuai anuku kemarin. Inilah Tangan Kecil. Aku kaget kan, loh Tangan Kecil udah chap 7 aja, dan mereka belum ketemu. Jadi, inilah dia, janjinya. Wkwkwk ...
Terima kasih sudah membaca dan sampai jumpa di chap depan
