Tangan kecil

Haikyuu FurudateHaruichi, aku menulis cerita ini hanya karena aku mencintai Libero Mungil yang bernama Nishinoya Yuu.

Pairing : Atsumu x Nishinoya (You can hit me later)

Happy Reading

Setelah pernyataan—atau candaan—entahlah, Tsukishima selalu datang ke rumahnya dan mengantakannya pulang. Satu-satunya alasannya bila Nishinoya bertanya adalah 'Untuk menjauhkan orang itu darinya', sebagai efek sampingnya, rumor kedekatan mereka menyebar tak terkendali. Nishinoya tidak keberatan, tetapi bagaimana dengan Tsukishima?

"Tidak peduli," katanya. Saat itu mereka berangkat berdua. Yamaguchi selalu bangun lebih siang, sehingga dia meninggalkannya. "Yang kulakukan hanya membuat orang itu berhenti mengikutimu. Kalau kau tidak sadar, Noya-san, orang itu masih tetap mengikutimu."

"Dia melakukannya?"

Dia hampir sama menoleh ke sekelilingnya, ketika Tsukishima berdecak dan menariknya mendekat. Hampir memeluk. Gerakan itu membuat jantungnya berdetak gugup.

"Apa yang kau lakukan?" gerutu Tsukishima. "Kalau kau mencarinya, apa gunanya aku berpura-pura mendekatimu?"

Nishinoya mengerjap bingung. "Oh! Jadi, kau berpura-pura?" Tsukishima tidak menjawab. Sehingga Nishinoya tersenyum lebar. "Terima kasih, Tsukishima, kau ternyata orang baik."

"Ternyata?" tanyanya kesal.

Nishinoya tertawa meresponsnya.

Selain hubungannya dengan Tsukishima, dia juga semakin akrab dengan Atsumu. Kalau dipikir-pikir, hidupnya lucu sekali akhir-akhir ini. Saat pertama kali dia melihat Tsukishima, yang ada di pikirannya saat itu hanyalah adik kelas tinggi menyebalkan dengan mulut kurang ajar. Dia tidak menyukai Tsukishima. Tidak, bukan membencinya, tetapi Tsukishima selalu sukses membuatnya kesal.

Di sisi lain, Miya Atsumu. Kesan pertamanya pada Atsumu adalah orang ini hebat, kemudian dia tertantang. Ayolah! Ini kali pertama Nishinoya diincar dan dipencundangi dalam banyak serve. Hal itu tentu membuatnya kesa pada Atsumu secara tidak sadar.

Dari dua kesan pertama yang tidak menyenangkan itu, sungguh sebuah kejutan yang tidak masuk akal karena sekarang dia pulang dan pergi selalu bersama Tsukishima dan bertelepon hingga tertidur dengan Atsumu. Bahkan dia membuat janji menginap untuknya. Akan tetapi, memangnya Atsumu serius akan menginap?

Malam tadi, dia bertanya pada Atsumu dan dia bercerita tentang rencananya selama akhir pekan itu dengan sangat bersemangat. Mereka belum memutuskan Osamu akan ikut atau tidak. Nishinoya berharap dia ikut, karena berjalan-jalan akan lebih menyenangkan saat beramai-ramai.

Atsumu bilang ingin mencoba banyak hal dan berkeliling di banyak tempat. Atau entahlah. Apa pun yang bisa mereka lakukan bersama. Mungkin voli? Ya. Bermain voli bersama akan sangat menyenangkan.

"Akhir-akhir ini, kau dan Tsukishima dekat sekali, ya?"

Itu adalah pertanyaan Ennoshita di jam makan siang. Dia baru membalas untuk Atsumu yang sekali lagi mengeluhkan perilaku kekasih adiknya, atau teman-teman sekelasnya, atau kebanggaannya setelah melakukan beberapa hal. Mendengar cerita Atsumu sangat menyenangkan, terutama jika dia menceritakan betapa dekatnya dia dengan saudaranya.

Mungkin itu terjadi karena ketidak dekatan Nishinoya dengan adiknya, atau dia merindukan kedekatan itu? Entahlah. Yang mana pun tidak mempengaruhi fakta bahwa dia suka mendengar cerita-cerita itu. Tanaka masih di ruang guru, seseorang berkata dia tertidur di kelas dan mungkin—dan pasti—mendapat hukuman.

"Dan kau lebih sering bermain ponsel sekarang."

Nishinoya memasukkan ponselnya ke saku. "Aku tidak dekat dengan Tsukishima." Ennoshita memberi Nishinoya tatapan 'aku tahu kau bohong' terbaiknya, hingga membuat Nishinoya memutar matanya. "Sejak dulu kita akrab. Dia kan adik kelasku."

Ennoshita menggeleng. "Aku tahu ada sesuatu di antara kalian."

Seketika itu juga, Narita dan Kinnoshita ingin mengemasi makan siang mereka dan pergi dari sana. Meskipun tidak terlihat, Ennoshita sudah berperan sebagai ibu kedua—jangan katakan itu terang-terangan padanya—untuk Nishinoya. Dia mengingatkan Libero itu makan, membantunya belajar, membersihkan masalahnya, dan menemaninya tanpa ada rasa romantis. Hanya seperti kakak—dan sebenarnya lebih seperti ibu, tapi sekali lagi, jangan mengatakannya langsung padanya—untuk Nishinoya.

Karena bagi Ennoshita, Nishinoya adalah orang yang bersikap ceroboh dan sok berani. Baiklah, mungkin dia memang benar-benar berani, tetapi itulah masalahnya. Ennoshita pernah memergoki Nishinoya pergi ke kombini sendirian hampir tengah malam. Saat itu Ennoshita sedang pergi bersama salah satu temannya yang menginap setelah mengerjakan tugas. Nishinoya mengaku dia kelaparan, kakeknya belum pulang, dia adalah penghancur dapur kelas kakap, sehingga membeli beberapa potong roti, es, dan minum. Ennoshita menyeretnya pulang bersama.

Tidakkah Nishinoya menyadari orang-orang melihatnya sebagai lelaki manis yang unik?

Tidak. Mungkin tidak. Nishinoya menganggap dirinya sebagai lelaki yang jantan. Dia selalu berpikir, ketakutan itu terjadi karena dia tidak pernah mencobanya. Bahwa dia lupa, tidak semua hal yang menakutkan bisa dicoba. Nishinoya pernah hampir mengantar orang asing yang bertanya alamat dan kalau bukan karena Daichi, mereka mungkin tidak akan memiliki Libero lagi.

Sikapnya memang lebih mesum, tetapi untuk masalah kewaspadaan diri, Hinata lebih baik darinya. Daichi bahkan khawatir karena itu.

"Aku tahu kau dalam masalah," desahnya. "Aku menunggumu terbuka padaku, tapi kurasa kau takkan melakukannya."

Nishinoya menggigit bibirnya. "Itu … bukan masalah besar."

"Hidaka masih menguntitmu, kan?"

Seketika itu juga, Nishinoya tersedak. Kinnoshita dan Narita saling memandang satu sama lain. Nishinoya meraih botol minumnya dan menenggaknya sampai habis. Sialan, Ennoshita, seharusnya dia mengatakan itu setelah Nishinoya selesai menelan.

Dengan suara sedikit panik, Nishinoya berkata, "Bagaimana kau tahu?"

"Aku pasti gila bila tidak tahu," gerutunya. Dia menatap Nishinoya menuntut. "Kami semua tahu Nishinoya. Kau saja yang berpikir kami tidak tahu. Tanaka juga tahu, tetapi dia masih merasa bersalah tentang Kiyoko-san."

Nishinoya menggerutu. Jadi, hanya dirinya yang berpikir mereka tidak mengetahuinya?

"Kalau kau dekat Tsukishima, itu lebih bagus."

Nishinoya mengerutkan dahinya bingung. "Apa maksudnya itu?"

"Tsukishima yang menawarkan diri untuk menjagamu, kau tahu."

"Mustahil."

Narita ikut menimpali. "Dia melakukannya."

"Dan ini pertama kalinya aku mendengar hal itu," gerutu Nishinoya. Rasanya menyebalkan karena merasa mereka semua menyembunyikan sesuatu darinya. "Kenapa dia mau repot-repot melakukannya? Maksudku, kami tidak sedekat itu."

Ennoshita menghela napas berat. "Kupikir kau hanya bodoh di pelajaran saja."

"Hei!"

"Itu sesuatu yang harus kau cari tahu sendiri," gerutunya. "Hanya saja, jangan bertanya padanya terang-terangan! Kau tahu maksudku, kan?"

Itu tidak membantu sama sekali. Malah, Ennoshita memperburuk keadaan. Nishinoya tidak cukup bodoh untuk bertanya pada Tsukishima langsung, tetapi perkataan Ennoshita benar-benar mengganggu pikirannya. Apalagi jika dia mengingat perkataan Tsukishima tempo hari.

Apakah Tsukishima menyukainya?

Nishinoya tertawa atas pikirannya sendiri. Mustahil, tetapi dia sungguh penasaran. Dia benar-benar ingin bertanya langsung, tetapi Ennoshita melarangnya. Lagi pula, Nishinoya tahu. Jika dia bertanya perasaan Tsukishima ketika dia tak menyukainya kembali adalah hal paling kasar yang bisa dilakukannya.

Nishinoya juga tidak tahu harus mengatakan apa, bila Tsukishima mengaku.

Di dalam kekalutan pikirannya—okay, dia memang selalu menyelesaikan masalahnya terang-terangan dan berpikir tanpa melakukan apa pun membuatnya gila—Atsumu kembali mengirim pesan mengajak menelepon. Jam delapan, pantas saja.

"Hi!"

"Yuu -kun! Kau tahu, Samu tadi …."

"Brengsek, Tsumu, tutup mulut dan jangan mengadu pada Nishinoya setiap hari."

"Pergi sana kau! Jangan menggangguku!"

"Dasar Bedebah menyebalkan! Aku tidak akan menyiapkanmu bekal nanti."

"Samu!"

Suara Atsumu menghilang. Astaga mereka ramai sekali. Hal itu membuat pikiran kalut Nishinoya menghilang begitu saja. Sayup-sayup dia bisa mendengar Atsumu merengek-rengek. Entah apa yang mereka perdebatkan, mungkin masih tentang bekal tadi.

Setelah menunggu lima menit, Atsumu kembali sembari tertawa kecil. Mereka bercerita tentang banyak hal. Akan tetapi, pikiran Nishinoya selalu teralihkan pada Tsukishima. Pertanyaan-pertanyaan itu muncul begitu saja. Apa mungkin? Tidak kan? Dia ingin bertanya? Akh … kenapa semua masalah harus berbelit-belit, sih? Bukankah bertanya langsung akan membuat semua hal lebih mudah?

"Yu-kun, apa sesuatu mengganggumu?" tanya Atsumu. Oh, shit. Apa sejelas itu hingga ATsumu yang melihatnya saja bisa mengetahui dia dalam masalah. "Kau bisa bercerita padaku jika sesuatu terjadi, Yu-kun."

"Uh …."

Nishinoya menimbang-nimbang ragu. Haruskah dia menceritakan semuanya pada Atsumu? Apakah mereka cukup dekat hingga dia bisa bercerita tentang itu dengan sesuka hati? Tetapi, memikirkannya sendiri takkan memberikan jalan keluar.

"Kau tahu," mulainya. Atsumu hanya menunggu dengan sabar. Jantungnya berdetak cepat. Ini adalah kali pertama dia bingung memilih kata-kata untuk menceritakan sesuatu. Kenapa perasaan harus terlalu rumit, sih? "Tentang Tsukishima."

Atsumu diam saja. Nishinoya meringis. Ternyata mereka tidak cukup dekat untuk membicarakan masalah seperti itu pada satu sama lain.

"Lupakan saja!" katanya. "Hei! Bagaimana dengan rencanamu minggu depan? Kalian benar-benar menginap di rumahku?"

Setelah beberapa detik, Atsumu baru menjawab, "Tidak. Tidak. Jangan mengubah pembicaraan Yuu-kun! Aku hanya syok"

"Tidak perlu memaksakannya, Atsumu. Aku tahu kita tidak cukup dekat untuk saling, kau tahu, bercerita hal pribadi."

"Tidak. Bukan begitu," bantahnya. Dia terdiam sejenal. Great. Setelah membuat hubungannya dengan Tsukishima lebih canggung, sekarang dia melakukannya pada Atsumu. Setter Inarizaki itu berdeham. "Jadi, apa yang terjadi di antara kalian?"

"Apa kau yakin ingin mendengar, ehm … aku berkeluh kesah?"

"Tentu."

Nishinoya mulai menceritakan semua hal, termasuk Kiyoko, Hidaka, dan inisiatif Tsukishima yang aneh. Beruntungnya, Atsumu mendengarkan kisahnya dengan penuh perhatian. Setiap kali Nishinoya menceritakan masalah-masalahnya, dia begitu merasa lega. Entah kenapa, dia sungguh menyukai saat-saat mereka saling bercerita seperti ini.

Setelah semua cerita, terutama cerita Hidaka memaksa dan mengutitnya. Atsumu benar-benar marah. Dia mengumpat dengan seluruh bahasa kotor yang pernah Nishinoya dengar dan lebih dari itu. Dia bahkan bersumpah akan menghajar Hidaka bila dia masih melakukannya. Selain itu kekhawatiran Atsumu terasa manis.

"Terima kasih," katanya pada akhirnya. Suaranya sudah hilang karena kantuk. Hampir jam dua belas, Nishinoya hampir tidak pernah terbangun hingga selarut ini. "Aku senang memiliki teman sepertimu."

Entahlah apalagi yang dia katakan setelah itu, karena hal terakhir yang dia dengar hanyalah, "Selamat tidur, Yuu-kun. Maaf aku tidak ada di sana untuk membantumu."

To Be Continued

Baru update jam segini dong hahahaha ….

Hati ini oleng mulu ke TsukiNoya tapi kan ini AtsuNoya. Menurut kalian lebih bagus TsukiNoya atau AtsuNoya, nih? Salah satu jadi Sadboy sih pasti, tapi hum … tidak. Tidak. Mari tetap berjalan di rencana awal.

Thanks for read

See you In next chapter