Tangan kecil

Haikyuu FurudateHaruichi, aku menulis cerita ini hanya karena aku mencintai Libero Mungil yang bernama Nishinoya Yuu.

Pairing : Atsumu x Nishinoya (You can hit me later)

Happy Reading

Kalau saja Atsumu bukan kakak kembar Osamu—yang notabene kekasihnya—Suna pasti sudah menendang orang itu jauh-jauh dari kamarnya. Saat ini jam sebelas, dia baru pulang dari kencannya bersama Osamu dan, demi tuhan, Suna tidak sudi mendua apalagi dengan Atsumu yang kapasitas otaknya hanya diisi dua hal, voli dan kebodohan, Atsumu tiba-tiba saja berdiri di pintu rumahnya mentang-mentang orang tuanya jarang pulang.

"Kalau ini bukan tentang Osamu. Pergi saja!"

"Kau brengsek sekali, ya?" gerutu Atsumu.

Dia benar-benar membutuhkan orang lain untuk mengatasi masalahnya. Kitabukan pilihan terbaiknya untuk saat ini, tapi dia menyimpannya untuk nanti. Aran, dia tidak akan lepas dari Kita bila mencari Aran untuk saat ini. Dan, yang terakhir, Osamu jelas bukan orang yang ingin dia beritahu sekarang.

Suna adalah pilihat terakhir yang dia punya. Mungkin dia memiliki akses informasi ke Karasuno melewati kepribadiannya yang 'menyebalkan' dan kegemarannya bermain gadget sampai malam. Akan tetapi, Suna menunjukkan ekspresi terganggu, sehingga satu-satunya cara untuk membuat Suna membantunya adalah dengan menggunakannya.

"Kau ingat tentang janji itu, kan?"

"Jadi, kau menggunakan kartu itu sekarang?" Suna mendengus, kemudian mendorong pintu hingga terbuka. "Aku akan menelpon Osamu tentang ini. Bodoh sekali jika kami bertengkar hanya karena salah paham kau kesini malam-malam."

Suna pernah menjanjikan satu permintaan pada Atsumu asal dia mau membantunya dalam hubungannya dan adiknya. Dengan seluruh fase Denial yang kacau, penolakan dari berbagai pihak, cemoohan, dan ketidak percayaan diri itu, satu permintaan jelas bukan apa-apa untuk Suna. Atsumu tidak pernah bermaksud menggunakan itu sejak awal. Ketika Suna menawarkannya, dia hanya menerima itu sebagai bukti keseriusan Suna pada adiknya. Tidak, dia mungkin berniat menggunakannya bila Suna melukai Osamu. Mungkin akan membuat perintah, 'Diam saja ketika kuhajar', tetapi saat ini Nishinoya lebih penting.

Atsumu mendengus. Dia memasuki rumah Suna dan duduk di sofa. Lelaki itu sedang ke atas, mengambil ponsel untuk menghubungi Osamu. Setelah beberapa menit yang menyebalkan, Suna akhirnya turun dengan wajah yang lebih kusut.

"Dia mengamuk," gerutunya. "Aku bilang, kau baik-baik saja di sini dan tidak perlu datang."

Atsumu mengangkat sebelah alisnya. "Samu bangun?"

"Kau pikir?" ketus Suna. Dia duduk di sofa panjang, merebahkan diri di sana, dan menggunakan lengannya sebagai bantal. Matanya melirik pada Atsumu, setengah tidak peduli. "Jadi, hal sialan apa yang membuatmu ke sini malam-malam?"

Sulung Miya menelan kekesalannya bulat-bulat. "Ini tentang Yuu-kun."

Suna mengerutkan keningnya. "Aku tidak ingat punya hubungan dengan Libero Karasuno hingga bisa membantumu dengan itu."

"Diamlah sebentar, Bajingan!"

Begitu Suna berhenti, Atsumu menjelaskan semua yang diceritakan Nishinoya padanya semalam. Juga keterkejutannya. Bagaimana bisa seseorang senekad itu hingga terus mengikutinya selama dua minggu terakhir. Atsumu khawatir, benar-benar khawatir hingga berada di taraf dia ingin pergi ke Miyagi saat ini juga. Dia ingin menaiki kereta cepat meski harus menguras dompetnya. Dia ingin berada di sebelah Nishinoya Yu hingga dia hampir saja berangkat saat itu juga.

Bila mengingat semua cerita Nishinoya membuatnya merinding. Apalagi setiap kali menelepon Nishinoya selalu berkata sedang sendiri di rumah, kakeknya sedang pergi, ibunya ... kemana? Nishinoya selalu berkata tidak lagi tinggal dengan ibunya. Tidak ada informasi lebih lanjut tentang itu.

Selama dia bercerita, Suna semakin tegang. Dia yang sebelumnya berbaring santai—bahkan meremehkan—mulai duduk. Wajahnya yang malas dan tidak mau tahu, semakin menegang. Dia mengumpat berkali-kali, bertanya berkali-kali untuk meyakinkan diri dan kemudian mulai memahami betapa gawatnya situasi itu.

Dia memijat dahi. "Aku tahu kau ingin ke sana sekarang," katanya lelah. "Tetapi ini tengah malam. Kita tiga hari lagi ke sana, jangan bertindak macam-macam!"

"Tiga hari!" pekik Atsumu. "Kita tidak tahu apa yang terjadi padanya. Bagaimana kalau lelaki Hidaka itu memutuskan menyerangnya sekarang?"

"Kau bilang masih ada Tsukishima, kan?" Wajah Atsumu langsung menggeram tidak suka, seolah Suna baru saja mengatakan hal bodoh, tetapi Suna yakin dia mengatakan hal yang benar. Kemudian dia baru menyadari satu hal. "Are you fucking kidding me?"

"Apa?"

"Kau cemburu?"

Atsumu terkesiap. "Tidak," katanya cepat. "Tentu saja, tidak."

"Damn, Atsumu!" bentak Suna. Dia menggelengkan kepalanya tidak percaya. Sial, di kondisi seperti ini, bisa-bisanya Atsumu memikirkan hal bodoh seperti itu. "Ini bukan waktunya cemburu. Kau gila?"

"Aku hanya," Atsumu terdiam. "Aku hanya tidak senang. Bagaimana jika Yuu-kun suka padanya karena dia melindunginya? Aku tidak mau kehilangan Yuu-kun."

Sekarang, Suna benar-benar ingin menendang orang ini secara harfiah. Di kepalanya kalau bisa, sehingga dia bisa sadar bagaimana situasinya sekarang. Bajingan sekali orang ini mengedepankan egonya daripada keselamatan Nishinoya.

Dia melipat tangannya. "Aku akan menelepon Kita-san dan dia akan membuatmu berhenti mendekati Nishinoya."

Atsumu mendongak panik. "What the fuck? No!"

"Kalau begitu berhenti bersikap egois, Brengsek!"

Atsumu mengacak-acak rambutnya, benar-benar bingung. Di satu sisi, dia ingin Nishinoya baik-baik saja, tetapi di sisi lain, dia tidak ingin Nishinoya semakin dekat dengan Tsukishima.

Memang benar, jika dia memikrikannya dengan kepala dingin, Tsukishima lah yang melindungi Nishinoya selama ini, sementara dia kebingungan, menggunakannya sebagai obyek fantasi amoral. Atsumu merasa begitu bersalah. Kalau saja dia tahu apa yang terjadi, dia takkan menggunakan malamnya dengan bercerita hal bodoh dan lebih memilih untuk mencari tahu apa yang bisa dilakukannya untuk membantu.

"Yah," desah Suna. Dia kembali membaringkan diri. Matanya tertutup. "Bukankah itu ada sisi positifnya?"

Atsumu mengerutkan dahi bingung. "Tentang?"

"Kita tahu Nishinoya tidak masalah dengan laki-laki."

"Ha?"

Suna membuka sebelah alisnya. Beberapa helai rambutnya yang belah tengah dan panjang sedikit menutupi mata. "Kau tidak lupa tentang sebagian besar manusia di dunia itu menyukai lawan jenis, kan?"

Sialan. Dia benar-benar lupa tentang itu. Salahkan Osamu dan Suna yang selalu bermesraan, seolah hubungan mereka sangat normal. Dia tidak tahu apakah Nishinoya menyukai laki-laki, atau memiliki kecenderungan untuk itu.

"Aku tidak sadar. Bagaimana jika dia menolak Hidaka ini karena dia tidak suka laki-laki?"

Suna mengangkat sebelah alisnya heran. "Memangnya, kalau dia tidak menyukai laki-laki, kau bisa apa? Kau mau memaksanya menyukaimu?"

Mulut Atsumu mengerucut, hal itu membuat Suna mengerang jijik. Bayangkan wajah kekasihmu yang manis, bisa berekspresi semenyebalkan itu. Suna terkadang bertanya-tanya bagaimana dua wajah yang sama bila memiliki dampak yang berbeda untuk seseorang. Dia menyukai—tidakk—bahkan mencintai Osamu seperti manusia paling ... cantik, indah? Entahlah. Dia menyukai Osamu begitu saja, tidak akan ada cukup kata-kata untuk mendeskripsikan alasannya.

Namun, setiap kali dia memuji Osamu, dia akan malu-malu. Terkadang memukulnya. Bila dia memujinya di ranjang, seks mereka akan jauh lebih memuaskan. Oh god! Kenapa yang datang ke rumahnya sekarang adalah Atsumu dan bukannya kekasih hatinya yang manis?

"Apa-apaan ekspresimu itu?" sentak Atsumu.

"Aku merindukan Osamu."

"Kau ingin tidur dengannya?"

"Tentu saja," tukasnya tanpa malu-malu.

Atsumu mengerang. "Jangan hanya berpikir hal jorok tentang adikku!"

"Kata seseorang yang sudah memikirkannya, bahkan sebelum mereka bicara secara langsung," balas Suna. Dia tersenyum mengejek, membuat Atsumu ingin mencekiknya saat itu juga. Tidak. Dia masih ingin hubungannya dengan Osamu akrab, meski yang mereka lakukan adalah saling mengatai satu sama lain. "Lalu, apa yang kau lakukan sekarang?"

"Aku ingin pergi ke sana."

"Jangan bodoh!"

"Aku tahu," erangnya. "Lalu bagaimana lagi?"

Suna menghela napas. "Aku akan mencari tahu tentang itu. Untuk sementara, kau coba mengorek perkembangannya dari Nishinoya. Tiga hari lagi kita ke sana, dan seperti yang kau bilang, kau akan menginap, kan?" Dia mendesah tidak rela saat mengatakan, "Osamu juga."

"Samu bilang tidak mau meninggalkanku sendiri."

"Karena dia tidak percaya padamu, Dasar Bajingan!"

Atsumu bersungut-sungut. Suna mendesah. Kalau sudah seperti ini, jika dia tidak membantunya, jam kencannya dengan Osamu pasti akan berjalan seperti neraka. Lagipula, bila sesuatu terjadi pada Nishinoya dan membuat Atsumu sedih karenanya, akan membuat hubungannya dengan Osamu berantakan. Mereka tidak menunjukkannya, tetapi Miya bersaudara selalu mementingkan saudara mereka masing-masing daripada orang lain.

Jadi, dia menumpu tangannya, wajahnya yang biasanya malas mulai menunjukkan kilat tertarik. Atsumu meneguk ludahnya. Itu bukan pertanda baik.

"Aku punya rencana."

To Be Continued

Ini pendek. Karena apa? Besok langsung ke bagian pertemuan sama rencana mereka. Huum ... udah nggak gantian gini nanti. Okay? Ocre ...