Dibalik Topeng © Baby Pandaxx

Haikyuu © Furudate Haruichi

Sensitive Content | Angst | OOC | Typo(s)

Tags : Cigarettes, violence, harshwords, death.

.

.

Happy Reading~

.

Adalah hal yang mustahil untuk memiliki kesalahan bagi seorang Kita Shinsuke. Selain memiliki paras tampan yang diluar nalar, jabatannya sebagai Kapten team voli juga membuatnya semakin digilai para siswi.

Pembawaan yang tenang dan tidak banyak bicara membuatnya disegani murid lain, kepintarannya dalam semua mata pelajaran pun tak luput membuat namanya menjadi kebanggan para Guru. Tidak pernah sekalipun seorang Kita Shinsuke mendapat nilai dibawah sembilan koma lima.

Di mata rekan satu teamnya, Shinsuke adalah sosok Kapten yang sangat bertanggung jawab. Yang mampu mengontrol team baik di dalam maupun di luar lapangan, yang mampu menjadi penengah saat ada perbedaan pendapat, yang selalu datang paling awal untuk menyiapkan lapangan latihan, yang paling peduli saat rekannya ada masalah.

Dibalik wajah datarnya, terdapat sifat sangat manis yang bahkan mampu membuat Atsumu menangis saat mendapati ada sebungkus makanan dan obat di lokernya saat dirinya sedang sakit.

Tidak ada satupun yang luput dari perhatian Shinsuke, ia benar-benar menjadi Kapten yang sangat adil untuk teamnya. Dan sebuah keahlian Kita Shinsuke untuk memendam perasaan lewat wajah datarnya, tidak ada yang tahu apakah Shinsuke sedang senang, sedih, kesal, ataupun kecewa.

Semua tampak sama, hanya wajah datar dengan sorot mata yang tajam. Bahkan seorang Suna Rinatou yang menjadi admin Lambe sekolahnya pun tidak bisa mengulik kehidupan Kaptennya.

Kehidupan Kita Shinsuke bagai rahasia negara yang sangat rapat dijaga.

Tidak ada satu orangpun yang tahu kalau remaja dengan surai dwiwarna itu selalu berhenti di tepi pantai setiap pulang sekolah, sekedar menikmati pemandangan tenggelamnya matahari di ufuk barat dengan sebungkus rokok yang dihisapnya kuat-kuat.

Berterimakasih karna rumahnya berada di ujung kota dan tidak ada teman sekolahnya yang satu arah dengannya, hingga tidak perlu takut kalau sisi lainnya dilihat orang lain.

Kepulan asap yang mengudara menghalangi pandangnya pada hamparan laut di depan sana, deburan ombak yang saling bersahutan menjadi musik alam yang mengiringi. Iris madunya terlihat kosong, bahkan saat mendapati pemandangan sunset indah yang terpantul di ujung laut.

Shinsuke menyesap rokoknya sekali lagi, mendongakkan kepala menatap langit sambil menghembusnya perlahan. Burung camar berkejaran di atas sana, terbang meliuk-liuk memberi suguhan untuk memanjakan mata.

Sekali lagi, iris madunya tetap kosong.

Shinsuke hanya menatap kosong pada apapun yang ditangkap korneanya, pikirannya selalu berkecamuk setiap mendekati rumah. Remaja tujuh belas tahun itu muak mendengar suara piring yang dibanting setiap hari, teriakan dengan umpatan kasar, suara pukulan yang diiringi jerit kesakitan.

Shinsuke muak tiap bertemu lelaki paruh baya yang sialnya begitu mirip dengan dirinya.

Menjadi anak laki-laki tunggal yang dididik untuk menjadi kuat oleh sang Ayah lah yang membuatnya menjadi seperti ini. Menjadi anak yang tidak mampu mengeluarkan perasaannya, selalu memendam sendirian demi sebuah harga diri sebagai lelaki.

Entah kapan terakhir kali Shinsuke menangis. Yang diingatnya terakhir kali adalah saat dirinya berlari memeluk sang Nenek, saat tidurnya terganggu oleh suara teriakan dari kamar orang tuanya. Begitu dirinya mengintip dari celah pintu, pemandangan yang dilihat membuatnya membeku dengan mata melebar sempurna.

Shinsuke yang waktu itu berumur tujuh tahun, baru pertama kali melihat Ayahnya memukul sang Ibu. Padahal, setiap di depannya mereka selalu terlihat harmonis dan melakukan tugasnya sebagai orang tua dengan baik.

Kaki kecilnya langsung berlari menuju kamar sang Nenek, memeluknya erat sambil menangis hebat. Usapan di punggungnya secara ajaib membuat tangisnya mereda perlahan, dan lambat laun Shinsuke kecil tertidur dalam buaian sang Nenek.

Tapi esoknya, Shinsuke mendapati sang Nenek tak lagi bernafas tertidur di sampingnya. Raut wajah yang damai dengan bibir sedikit terangkat ke atas, memberi senyuman terakhir untuk cucu semata wayangnya sebagai salam perpisahan.

Sejak meninggalnya sang Nenek, Shinsuke setengah mati membiasakan diri untuk melihat dan mendengar kekerasan yang dilakukan sang Ayah pada Ibunya. Sebagai anak laki-laki, Shinsuke merasa bertanggung jawab untuk melindungi Ibunya. Tapi itu berakhir dengan tamparan keras di pipi kanannya oleh sang Ayah. Yang paling membuatnya bulat untuk tak lagi mencampuri urusan orang tuanya adalah, tatapan sang Ibu yang sinis dan menyuruhnya pergi saat dirinya memasang badan untuk melindungi.

Tak habis pikir. Shinsuke tidak tahu apa dan siapa yang salah. Masa kecil sampai remaja Shinsuke tidak seindah anak-anak lain. Tak jarang ia merasa iri pada anak-anak yang mendapat kasih sayang yang utuh dari orang tuanya

Jangan jauh-jauh, keinginan Shinsuke hanya sesederhana melihat orang tuanya duduk akur di ruang tengah sambil menonton televisi. Sayangnya, keinginan sederhana itu diganti dengan suara pecahan beling yang entah apa lagi yang dibanting.

Suara jerit kesakitan sang Ibu yang menembus kamarnya tak jarang membuatnya merasa pedih, merasa gagal jadi seorang anak laki-laki, merasa gagal melindungi satu-satunya wanita yang ia miliki, merasa gagal melindungi wanita yang melahirkannya ke dunia.

Tapi saat langkahnya mendekat, ingatan akan sorot mata tajam sang Ibu membuatnya urung. Dan semua itu berakhir dengan dirinya yang menghisap lintingan tembakau di balkon kamar, menatap taburan bintang di langit yang tak terhalang awan.

Saat memasuki SMA, Shinsuke ingin menambah kesibukan di luar karena suasana di rumahnya sudah lebih dari neraka. Ia tak tahu apa yang Ayahnya lakukan ke Ibunya, tapi yang jelas itu lebih parah dari sebelumnya.

Dirinya hanya asal mengisi kotak saat OSIS membagikan lembar kegiatan eksrakulikuler, di antara pilihan yang ada ia merasa club voli lebih bisa membuatnya benar-benar sibuk.

Di hari pertamanya, Shinsuke yang masih sangat gelap tentang voli berusaha keras untuk belajar ini dan itu. Para senior yang melihat kegigihan Shinsuke tersenyum senang karena punya penerus yang punya kemauan tinggi.

Hari demi hari, bulan demi bulan, dan tiba saatnya para senior undur diri dari club untuk fokus pada ujian kelulusan. Shinsuke yang saat itu sudah menjadi pemain andalan tentu merasa sedih karena ditinggal oleh orang-orang yang sudah mengajarinya dari nol.

Dan tanpa disangka, saat pemilihan Kapten yang baru. Para senior menunjuk Shinsuke untuk jadi pengganti, menjadi Kapten baru team voli Inarizaki dan melanjutkan mimpi untuk bermain di Kejuaraan Nasional.

Rekannya yang lain juga tidak keberatan dengan keputusan itu, mereka semua setuju kalau memang hanya Kita Shinsuke yang mumpuni menjadi pemimpin mereka. Yang membuat mereka terkejut adalah saat melihat cairan bening yang menggenang di pelupuk mata Shinsuke saat menggenggam seragam baru bernomor punggung satu.

Menjadi Kapten membuat kesibukan Shinsuke semakin bertambah. Ia merasa bertanggung jawab dengan apapun yang menyangkut dengan team dan club yang dipimpinnya. Ia juga selalu datang lebih awal setiap hari untuk menyikat toilet sekolah. Dan itu bukan hal aneh bagi murid Inarizaki.

Yang orang lain tahu hanya fakta kalau Shinsuke memang anak rajin. Padahal kenyataannya, semua ia lakukan agar tidak berada di rumah dengan waktu yang lama.

Dari saat dirinya mendapati sang Ayah melakukan kekerasan pada Ibunya, Shinsuke sudah tidak pernah lagi bertegur sapa dengan orang tuanya. Bahkan saat mata mereka secara tak sengaja bersitatap, Shinsuke langsung mengalihkan pandangnya. Tidak sudi memandang lelaki pengecut yang berani main tangan pada wanita.

Sentuhan benda di kakinya menarik Shinsuke dari lamunan, ia menatap ke bawah dan mendapati bola voli yang baru berhenti bergulir. Iris madunya mencari pemilik bola, namun yang didapatinya adalah sosok wanita memakai baju tangan panjang. Berjalan tertatih dengan bibir yang mengulas senyuman.

Iris madunya membelalak lebar. Itu Ibunya. Setelah bertahun-tahun jadi tahanan rumah sang Ayah, baru kali ini ia melihat Ibunya ada di luar.

"Ngapain?" Tubuhnya menegak saat sang Ibu semakin dekat, sampai lupa cara bernafas karena begitu terkejut melihat hal tak biasa.

Sang Ibu berhenti di ujung bangku, menatap sang Putra dengan mata yang berlinang air mata. Senyuman di bibirnya semakin melebar, entah Shinsuke terlalu pede atau gimana. Tapi, senyuman sang Ibu terlihat seperti senyuman penuh rasa ... Bangga?

"Mama boleh duduk di sini, nak?" Tanya sang Ibu. Butuh waktu cukup lama bagi Shinsuke untuk mengangguk dan memberi ruang untuk Ibunya duduk. "Anak Mama ternyata udah sebesar ini," ucapnya saat duduk dan melihat Shinsuke dari dekat.

Shinsuke kembali menatap ke depan, tidak tahu harus bagaimana setelah sekian tahun tidak saling komunikasi. Langit yang semakin gelap membuat udara mulai dingin, lampu jalan mulai dinyalakan, dan kesunyian mulai mendominasi.

Shinsuke baru menyadari indahnya sisa cahaya mentari yang terpantul di ujung laut.

"Mama dengar, kamu jadi Kapten Voli, ya?" Ibunya membuka topik pembicaraan, arah pandangnya mengikuti sang putra. "Mama tau ini telat, tapi ... Selamat, ya, Shinsuke. Maaf Mama baru ucapin sekarang, padahal kamu jadi Kapten udah dari tahun lalu." Sambungnya.

Shinsuke merasakan perasaan aneh yang begitu asing, seperti ada bunga bermekaran di dalam dada.

"Kamu selalu jadi juara umum, kan? Kamu juga setiap pagi bersihin toilet sekolah, kamu bertanggung jawab sama posisi kamu sebagai Kapten. Mama masih ngga percaya, anak Mama tumbuh besar secepat ini. Anak Mama hebat, Mama bangga sama kamu, Shinsuke."

Entah mengapa rasanya begitu sakit dan senang dalam bersamaan. Shinsuke mengepalkan tangan, matanya terasa panas dan pandangannya terasa buram.

"Maaf. Mama ngga bisa jadi Ibu yang baik untuk kamu. Mama ngga ada saat kamu butuh tempat cerita, Mama ngga ada untuk temenin kamu belajar, Mama ngga pernah ada disaat kamu butuh seorang Ibu. Mama ngga tau sedalam apa kamu benci sama Mama. Tapi, nak, Mama boleh minta satu hal? Setelah itu, Mama janji ngga akan ganggu kamu lagi."

Nggak, Ma. Jangan ngomong gitu. Ganggu aku terus, Ma.

"Apa?" Tanya Shinsuke menahan suaranya bergetar.

"Mama mau peluk kamu."

Kepalan tangan Shinsuke semakin erat, ia sedikit mendongak ke atas menahan butiran bening jatuh membasahi pipi. Entah apa yang dirasanya sekarang, ia juga tidak bisa mendeskripsikannya. Semuanya tercampur aduk sampai membuatnya merasa mual.

"Hm."

Dan dehaman Shinsuke langsung dibalas pelukan oleh sang Ibu, udara dingin yang tadi menggelitik kulit langsung luntur berganti kehangatan tiada tanding. Langit yang sudah gelap seutuhnya dan tempat duduk yang tidak terkena cahaya lampu jalan, pada akhirnya membuat Kita Shinsuke mengizinkan butiran kristalnya menuruni pipi. Isakan sang Ibu dalam peluknya membuat tangannya gatal ingin membalas, tapi entah apa yang membuatnya begitu berat untuk mengangkat tangannya yang masih mengepal erat.

"Terimakasih, nak. Terimakasih udah izinin Mama peluk kamu untuk terakhir kali. Nak, terus jadi anak yang rendah hati, ya. Terus jadi anak yang suka menolong orang lain, terus jadi anak yang rajin belajar, terus jadi anak yang tanggung jawab. Mama bangga banget sama kamu. Maafin Mama. Maaf. Maaf. Ma-"

"Udah cukup ... Mama."

Lidahnya terasa asing saat menyebut kata yang sudah sepuluh tahun tak pernah disebutnya. Tapi rasanya begitu bahagia, membuatnya sadar kalau dirinya masih memiliki seorang Ibu, membuatnya sadar kalau kata Mama yang tidak pernah disebutnya masih ada di sini, tengah mendekapnya erat dengan tangisan yang semakin pecah.

Ajaibnya, setelah mengucap kata yang sangat asing itu. Kepalan tangan Shinsuke melonggar, terasa sangat ringan untuk membalas pelukan sang Ibu. Dengan lambat, Shinsuke akhirnya membalas. Ia merasa tubuh sang Ibu menegang saat tangannya menempel di lengan Ibunya, namun detik berikutnya dekapan sang Ibu semakin erat dan Shinsuke balas memeluk tak kalah erat.

Untuk pertama kalinya, setelah sepuluh tahun berlalu. Shinsuke merasakan hangatnya pelukan seorang Ibu yang selalu ia rindukan namun dikubur dalam-dalam. Butiran kristalnya tak henti mengalir, dadanya terasa ringan dalam dekapan sang Ibu yang seperti sihir. Bimsalabim, mantra tak terucap yang menghilangkan segala beban yang ditanggungnya seorang diri selama sepuluh tahun.

"Terimakasih, nak. Kamu harus tau. Mama selalu sayang sama kamu, dan akan selalu sayang. Tumbuh jadi anak yang bahagia, ya, nak. Mama sayang kamu, selalu. Maaf ngga bisa lebih lama dari ini, Shin ..."

Detik setelahnya, dekapan sang Ibu melonggar. Shinsuke terus mengucap kata Mama berulang kali, namun tidak ada jawaban yang ia dapat. Ia menepuk pipi sang Ibu, lebam kebiruan di ujung bibirnya mengungkit rasa benci dalam dadanya pada sang Ayah.

Terlambat. Shinsuke terlambat untuk menyelamatkan Ratunya dari genggaman Raja yang jahat. Nafas terakhir sang Ibu berakhir dalam dekapnya, dalam dekap anak semata wayang yang sudah beranjak dewasa.

Semuanya terlalu tiba-tiba, Shinsuke bahkan baru sekali memanggilnya Mama setelah sepuluh tahun. Umur hanyalah angka, Shinsuke yang sudah tujuh belas tahun masih butuh eksistensi sang Ibu dalam hidupnya. Dan akan selalu butuh.

Remaja pemilik iris madu menangis di bawah gelapnya malam, memeluk tubuh sang Ibu yang sudah tak bernyawa. Berteriak pada semesta tentang waktu yang terlampau singkat, marah karena akhir yang begitu pilu.

Kesalahan apa yang pernah dilakukan oleh Shinsuke hingga untuk bahagia pun ia tak berhak?

Dekapan sihir sang Ibu yang tadi mengusir dingin sekarang sudah luntur, angin pantai begitu menusuk kulit. Rasa sakitnya sama seperti yang ada dalam dadanya. Hanya suaranya yang satu-satunya terdengar di sana, suara yang memanggil Ibunya dengan penuh keputusasaan.

Sorot lampu mobil menyinari dirinya di bawah kegelapan, terdengar suara langkah yang seperti berlari mendekat. Entah siapa, dirinya tidak peduli.

Shinsuke hanya ingin Ibunya kembali.

"Shinsuke?"

oOOo

Sudah seminggu sejak kepergian sang Ibu, Shinsuke menjadi anak yang semakin pendiam dibanding sebelumnya. Kebiasaannya menyikat toilet dipagi hari tak lagi dilakukan, sorot matanya kosong saat jam pelajaran dan kegiatan ekskul.

Teman-temannya sangat mewajarkan. Terlebih club voli yang melihat Shinsuke begitu frustasi seminggu lalu, saat dirinya berteriak memanggil sang Ibu yang sudah tak bisa lagi menjawab.

Seminggu lalu, atas usul Miya Atsumu yang ingin main ke rumah sang Kapten. Team voli sepakat berkumpul di kediaman Miya sebelum pergi ke rumah Shinsuke menaiki mobil. Namun yang ditemui mereka adalah sang Kapten dalam kegelapan yang sangat memprihatinkan.

Mereka baru sadar, bahwa seorang Kita Shinsuke juga punya sisi lemah. Shinsuke juga manusia biasa yang butuh didengar. Selama ini, topeng yang dipakai Shinsuke begitu kokoh hingga tak ada seorangpun yang tahu wajah aslinya.

Shinsuke memasuki ruangan voli seperti biasa, tepat pada pukul setengah empat sore. Ia melirik jam tangannya untuk meyakinkan, apa ia telat? Teman-temannya sudah berkumpul semua di sana, menjadikannya pusat atensi saat membuka pintu.

"Gue telat?" Tanyanya. Mereka semua menggeleng, saling melempar pandang. Shinsuke tahu ada yang disembunyikan, "ngomong aja. Ada apa?"

Merasa tak ada mau memulai, admin lambe sekolah akhirnya berjalan mendekat. Menarik sang Kapten menuju ruang kebersihan, memberi ruang privacy supaya sang Kapten tak merasa tersinggung.

"Lo jangan ikut ekskul dulu." Ucap Rintarou tanpa basa-basi, memang dasarnya dia langsung bicara to the point.

"Maksud lo?"

"Jangan emosi dulu. Anak-anak tau lo lagi berduka, lo butuh waktu buat diri lo sendiri. Gue- kita semua bisa latihan sendiri. Lagian ngga ada tanding deket-deket ini, kan?"

"Lo nyuruh gue berduaan sama pengecut itu di rumah, gitu?"

"Itu bokap lo, Shinsuke."

"Masih pantes disebut bokap emang?"

"Shin-"

"Lo ngga tau apa-apa, Rin. Kalo lo semua maunya gue ngga di club, ok. Gue serahin club ke lo, Suna Rintarou." Shinsuke berjalan meninggalkan ruangan, emosinya tak terkendali sejak kepergian sang Ibu. Dalam hati ia tahu, tak seharusnya ia bicara begitu pada Rintarou. Tapi emosi menguasai tubuhnya.

Rintarou menatap punggung Shinsuke yang berjalan menjauh, menghela nafas kasar karena Kaptennya salah tangkap. Ingin ia mengejar dan menjelaskan maksudnya, tapi ia tahu bicara pada Shinsuke dalam keadaan emosi adalah hal yang sia-sia.

Anggota club yang sedang latihan mendadak diam saat Shinsuke melewati lapangan dan menutup pintu besi itu dengan membantingnya hingga menimbulkan suara boom yang bergema.

Atensi mereka beralih pada remaja bersurai coklat gelap yang baru keluar dari ruang kebersihan. Dalam tatapnya, Rintarou tahu mereka minta penjelasan tentang apa yang terjadi dengan Kaptennya.

"Lanjutin latihan. Hari ini latihan receive."

oOOo

Shinsuke benar-benar tidak lagi berkunjung ke tempat latihan, sudah dua minggu ini ia langsung pulang saat bel pulang berbunyi. Aneh rasanya saat pertama kali ia pulang lebih awal, saat baru saja jam tiga sore tapi ia sudah berada di tepi pantai, di tempat yang menjadi saksi bisu kepergian Ibunya tiga minggu lalu.

Shinsuke memilih menghabiskan waktu lebih lama di sini daripada harus berada dalam satu atap oleh sang Ayah untuk waktu yang lebih lama. Kadang juga, ia menghabiskan waktu di pusara sang Ibu hingga diselimuti malam.

Ia ingat betul reaksi Ayahnya saat jasad sang Ibu dibopong oleh teman-temannya memasuki rumah. Hanya diam dan melihat dari ujung tangga, tanpa mau mendekat sama sekali. Kalau saja tidak ditahan Rintarou, Shinsuke sudah mau menghajar Ayahnya saat itu.

Ia benar-benar tidak tahu dimana hati nurani sang Ayah. Yang ada, tiga hari setelahnya. Saat Shinsuke di dapur untuk mengambil segelas air, sang Ayah tiba-tiba mendekat dan membuka suara padanya. Tapi bukannya untuk menenangkan, atau ucapan apapun layaknya ucapan Ayah pada anaknya. Ucapan yang dilontarkan sang Ayah semakin menambah rasa benci Shinsuke padanya.

"Kamu laki-laki. Ngapain nangis kayak kemarin?"

Persetan. Apa menangis memang sehina itu untuk laki-laki? Shinsuke mengutuk siapapun yang mencekoki sang Ayah pemahaman kalau laki-laki tidak boleh nangis.

Alam tidak berpihak padanya hari ini. Baru juga satu jam ia di sini, gumpalan awan hitam disertai gemuruh menyelimuti langit yang tadi cerah. Mengusir Shinsuke untuk segera pulang, dan mau tak mau lelaki surai dwiwarna itu melangkahkan kaki untuk pulang ke rumahnya.

Biasanya, kalau hujan begini ia meneduh di kafe terdekat. Tapi hari ini, memang hari sialnya. Dompetnya tertinggal di kamar, untung saja masih ada sisa uang kembalian di saku jaketnya yang tadi cukup untuk membeli segelas es teh di kantin untuk menghilangkan dahaganya.

Semakin dekat dengan rumah, semakin berat langkah kakinya. Rasanya, sudah tak sudi lagi ia menapaki kaki di rumah tingkat dua yang tiap sudutnya mengingatkan dengan rintihan sang Ibu. Terlebih ia harus bertemu dengan laki-laki yang membunuh Ibunya secara tak langsung.

Shinsuke sudah bertekad, selulus ia sekolah, ia akan langsung pergi ke Tokyo dan memulai hidup baru di sana.

Langkahnya berhenti di ambang pintu karena seseorang sudah menunggunya di sana. Dengan sorot mata yang tak mampu diartikan, menatap Shinsuke yang sudah basah kuyup diguyur hujan.

Ia berlalu, seakan tak ada siapapun di sana. Tapi tangannya ditahan sang Ayah saat ia tepat di sampingnya, "Ada yang mau Ayah omongin."

Bahkan tanpa rasa malu dia masih nyebut dirinya Ayah?

Hening. Shinsuke tidak merespon apa-apa, entah apa sedang Ayahnya lakukan. Menyiapkan mental, mungkin?

"Ayah nemu surat dari Mama kamu. Ayah ... baru baca isinya." Ayahnya menjeda cukup lama setelahnya, suaranya dengan jelas terdengar bergetar. "Ayah minta maaf ... nak."

"Memang anda salah apa sampai minta maaf sama saya?" Alih-alih membuat senang, ucapan sang Ayah justru membangkitkan kemarahan Shinsuke. Ia menepis genggaman sang Ayah, "apakah maaf dari anda bisa membuat Mama saya kembali?"

"Nak, Ayah minta maaf." Tujuh belas tahun ia hidup, ini adalah kali pertama melihat Ayahnya menangis. Dan lagi-lagi, itu menjadi boomerang untuk dirinya sendiri.

"Laki-laki ngapain nangis?" Sinisnya sekali lagi sebelum meninggalkan sang Ayah.

Pada akhirnya, setiap manusia pasti akan ada dititik paling rendah. Dan air mata adalah pemberian Tuhan untuk meringankan beban kehidupan. Laki-laki, ataupun perempuan, selama akal sehatnya waras, semua pasti pernah menangis meskipun harus sembunyi-sembunyi.

Shinsuke melempar tasnya begitu tiba di kamar, ia langsung menuju kamar mandi untuk bilas. Berharap mandi di bawah shower bisa meredakan emosinya.

Tiga puluh menit dihabiskan Shinsuke di kamar mandi. Begitu keluar, iris madunya langsung mendapati benda yang tak pernah ada di kamarnya.

Surat.

Shinsuke yakin betul tadi tidak ada surat itu di atas meja belajarnya. Mungkin Ayahnya masuk ke kamar selama ia mandi?

Shinsuke ingin membuang surat beramplop merah hati itu, tapi ucapan Ayahnya yang bilang kalau itu surat dari Ibunya membuatnya urung dan memilih menarik kursi belajarnya untuk membaca isinya.


Untuk Shin, anak laki-lakiku ...

Nak, menjadi laki-laki bukan berarti kamu tidak boleh menangis.

Menangislah, saat harimu terasa begitu berat.

Menangislah, saat tak ada satupun orang dapat kamu jadikan tempat untuk cerita.

Menangislah, saat kehilangan apa-apa yang kamu sayangi sepenuh hati.

Anakku, Kita Shinsuke ...

Sudah sepuluh tahun kita tidak bertegur sapa ya, nak?

Maaf, sepuluh tahun lalu Mama teriak mengusirmu saat kamu pasang badan untuk melindungi Mama.

Nak, Mama selalu bangga padamu. Sejak kamu hadir ke dunia, saat pertama kali mendengar kalimat pertamamu adalah 'Mama', saat kamu dengan bangga menunjukkan hasil karya gambarmu, saat kamu bersikukuh melindungi Mama dari amukan Ayahmu.

Mama selalu bangga padamu, nak.

Mama tidak mau anak kebanggaan Mama ikut kena amukan Ayahmu, tapi saat itu tepat di depan mata Mama ... Pipi gembil anak kebanggaan Mama memerah karna ditampar Ayah kandungnya. Mama tidak mau kamu disakiti lebih dari itu ... Mama lebih memilih menjauh supaya anak kesayangan Mama tidak terseret dalam masalah Mama dan Ayah ...

Nak, Mama pingin sekali temani kamu belajar. Mama pingin sekali peluk kamu yang sekarang sudah tumbuh besar. Mama pingin sekali dengar kamu panggil Mama lagi ... Maafin Mama ya, nak. Bukannya kasih sayang yang kamu dapat, malah pemandangan dan suara kekerasan yang menghancurkan mental yang kamu dapat.

Mama gagal jadi orang tua yang baik. Maafin Mama.

Oh, iya. Rin bilang, kamu jadi Kapten voli ya? Mama bangga banget sama kamu, nak. Anak Mama hebat bisa jadi pemimpin. Guru juga telpon Mama, bilang kalau kamu berprestasi dan setiap pagi bantu sikat toilet sekolah. Nak, makasih udah tumbuh jadi anak yang baik, ya. Makasih udah bikin bangga Mama dan Ayah.

Nak, kalau kamu baca surat ini. Berarti Mama sudah tidak ada di dunia, ya? Maaf untuk waktu yang terlampau singkatnya, ya. Mama besok mau coba kabur dari rumah, Mama tau kamu sering duduk dulu dipinggir pantai, kan? Besok Mama ke sana, bawa bola voli sebagai hadiah terakhir dari Mama. Mama tau, Mama tidak akan bisa kembali lagi ke rumah ini ...

Anakku, Mama tau kamu kecewa sama Ayah. Mama tau kamu marah sama Ayah. Mama tau kamu pikir Ayah yang udah bikin Mama meninggal.

Nak, buang pikiran itu jauh-jauh. Semua juga karna Mama yang tidak mau pergi dari Ayah kamu, Mama yang bersikukuh untuk terus ada di samping Ayah kamu, Mama yang dengan senang hati bertahan dalam rumah tangga ini.

Mama tau, pilihan Mama salah. Pilihan Mama hanya nyakitin kamu, nyakitin mental kamu yang saat itu baru berumur tujuh tahun. Mama sayang Ayah kamu, Mama sayang kamu. Mama tidak mau kehilangan kalian. Maaf, kalau Mama egois.

Shinsuke, anakku sayang ...

Mama tau memang tidak mudah memaafkan Ayah, tapi Mama mohon ... Perlahan, tolong buka pintu maaf untuknya, ya? Mama tau Shin anak baik, dan akan selalu jadi anak baik. Tolong maafin Mama dan Ayah yang udah nyakitin Shin di masa lalu, ya?

Mama sayang Shin. Sampai bertemu dikehidupan selanjutnya.

With love,

Mama.


Dan sesuai pesan Ibunya, menjadi laki-laki bukan berarti kamu tidak boleh menangis. Kita Shinsuke, laki-laki berumur tujuh belas tahun, untuk kedua kalinya menangis begitu hebat ditengah derasnya hujan di luar sana.

FIN_