'Tujuan hidupku adalah melindungi semua mahluk yang ada di dunia kami'

'Mengorbankan orang lain, demi semuanya'

'Tanggung jawab, kutukan dan pengorbanan berada di pundakku'

Kelopak mata dengan bulu matanya yang lentik terbuka secara perlahan, sedikit kebawah di pipi putihnya ada luka goresan, sudut bibir yang memar.

"Ahhh..." rintihan kesakitan terdengar dari mulutnya yang terasa sakit.

Tatapan sayu menilai sekeliling tempat yang menjadi pembaringannya, begitu luas, langit-langit yang sangat tinggi, kayu ukiran yang bertumpu pada tempat tidur yang nyaman, bersih dan hangat, tirai kelambu tergulung rapi pada tiang kayu ukiran tersebut, wangi ruangan pun terasa memabukkan.

Berusaha mengingat kembali dengan apa yang sudah terjadi, kali ini halusinasi apa yang dia rasakan, seperti di dalam mimpi, apa dirinya sudah mati? tempat yang menjadi pembaringannya saat ini begitu indah.

"Dimana aku??" Hinata bergumam, dia tidak bisa bangun karena seluruh tubuhnya terasa kaku.

"Aww,..." Dia juga tidak bisa menggerakkan kaki kanannya, kaki yang berbalut kain putih.

Hinata mengalihkan perhatian, gadis itu terkejut saat beberapa orang perempuan mendekatinya.

"Anda sudah sadar, Nona?" tanya salah satu dari mereka, yang terlihat begitu ramah. Hinata terdiam, gadis itu memejamkan mata, berharap semua menghilang saat dia membuka mata, tapi semua sia-sia, para perempuan itu semakin mendekat padanya.

"Si-Siapa kalian?" Gadis itu bertanya gugup.

"D-Dan tempat a-apa ini?" Hinata berusaha mengangkat tubuhnya, menepis tangan salah satu dari mereka yang menyentuh keningnya.

"Demam," ucap perempuan itu, dan yang lainnya menganggukan kepala.

"Anda berada di dalam istana, tempat paling aman di Negri Palostra," jawab perempuan itu, kerudung yang menjadi penutup kepalanya terlihat bergoyang di bagian ujung saat perempuan itu menundukan kepalanya.

'Istana? Palostra?'

'Ohh, Aku pasti sudah gila! Tidak ada tempat bernama Palostra yang aku tahu!"

Hinata bergumam, gadis itu memijat kepalanya yang sakit.

"Minumlah ini, Nona!" Hinata menatap perempuan yang sedang mengulurkan tangannya.

"Kami semua pelayan di istana ini!" ucap perempuan itu lagi.

"Apa ini?" Hinata menatap gelas keramik putih yang berisi cairan hitam di dalamnya, hanya gelas dengan ukuran yang begitu kecil.

"Ini adalah obat dari tanaman herbal, hampir semua tumbuhan di hutan punya khasiat untuk mengobati," jawab perempuan muda tersebut, Hinata mengangguk dan dengan ragu mengambil gelas kecil itu, kemudian meminum cairan hitam yang rasanya benar-benar pahit, membuat Hinata tidak tahan dengan rasa di lidahnya.

"Terima kasih, siapa namamu?" tanya Hinata pada pelayan yang terlihat begitu muda.

"Nama Saya, Madoka!" jawab pelayan muda tersebut.

"Jadi, Anda ini hewan jenis apa?" Madoka kembali bertanya.

"Apa?" Hinata tidak mengerti dengan pertanyaan pelayan Madoka.

"Kami akan membawakan gaun untuk anda pakai, jadi jika Anda sejenis kelinci atau angsa maka kami akan membawa gaun dengan warna putih, supaya Anda bisa terlihat lebih manis dalam penampilan Anda," jawab Madoka. Oh, otak Hinata belum sepenuhnya bekerja, gadis itu masih kebingungan dengan semua yang dikatakan Madoka.

"Bawakan gaun terbaik yang kalian punya!!" Baik Hinata atau para pelayan yang berada di kamar tersebut, mereka mengalihkan tatapan pada sumber suara.

Dari arah pintu berdaun dua dengan tinggi lebih dari 3 meter, muncul seorang pria dengan gaya yang sungguh menghipnotis semua orang yang berada di tempat tersebut.

"Yang Mulia!!" Para pelayan berkata dengan serempak saat pria itu masuk, Hinata menatap pria tersebut, mata hitam beningnya mengingatkan dia pada seseorang namun dia lupa siapa orang itu.

'Sepertinya Aku pernah melihat orang ini!'

"Kalian boleh pergi dan bawakan gaun terbaik untuk Dia!!" Pria itu berkata pada para pelayan dan perintahnya lansung dituruti oleh mereka.

Dragon Wife

Hinata terdiam sedangkan pria tadi masih menatapnya, jujur saja Hinata merasa risih dan tidak nyaman dengan tatapan pria itu.

Tatapan menilai dari mata hitam bening si pria menusuk sampai ke lubuk hati Hinata. Tatapan meremehkan dan merendahkan begitu jelas terlihat di mata pria tersebut, ditambah sudut bibir kanannya terangkat membentuk senyuman sinis yang menyebalkan.

"Maaf Tuan, bisakah Anda berhenti menatap saya, itu sangat tidak sopan!" Akhirnya Hinata bersuara karena merasa jengah dengan tingkah pria tersebut.

"Oh, jadi begitu cara manusia berterima kasih pada seseorang yang sudah menyelamatkan nyawanya?" Suara dengan nada yang dingin keluar dari mulut si pria, Hinata menekuk alis dan memutar ingatannya kembali.

"Jadi, Anda yang menyelamatkan Saya?" Sekarang Hinata ingat semuanya, pria itu mendecih, sangat menyebalkan.

"Jika itu benar, Saya sangat berterima ka-..."

"Kau harus membayarnya!" Pria itu memotong ucapan Hinata, mulut gadis itu masih terbuka, karena dia belum selesai berbicara.

"Apa?" tanya Hinata, dia tidak percaya dengan ucapan pria tersebut.

"Kau mendengarnya, kan?" Pria itu kembali berkata, menatap tajam gadis yang sedang berada di tempat tidur.

"Kamar ini adalah kamarku, bahkan tempat tidur itu juga milikku, peraduanku." Hinata menelan ludah, apa yang harus dilakukannya, dia tidak memiliki apapun saat ini.

"Ini barang-barangmu, kan?" Si pria bertanya dan memberikan tas punggung dengan warna putih, tentu Hinata mengenali benda tersebut, karena tas itu adalah miliknya. Tapi pertanyaannya bukankah tas itu tertinggal di lapangan golf, saat dirinya terseret sihir wanita hantu yang membawanya jauh ke dalam hutan.

Hinata segera memeriksa isi tas nya, semua lengkap, gadis itu mengambil dompet dan melihat ke dalamnya, sedangkan pria itu masih mengawasi gerak-geriknya.

"Saya, mm..." Hinata menggigit bibir bawahnya, apa yang harus dia katakan, dia tidak punya uang untuk membayar pada pria yang sedang menatapnya.

"Kau tidak bisa membayar dengan uang. Aku tidak membutuhkannya!" ucap pria itu sinis, "Aku akan mengatakannya nanti setelah kau pulih, dan Aku akan kembali dua hari lagi, jadi persiapkan dirimu!" tambahnya, kemudian pria itu pergi begitu saja setelah mengatakan hal itu.

Ingin sekali Hinata berteriak pada pria itu tapi dia tidak bisa. Pria itu terlalu menakutkan baginya, walau tidak di pungkiri si angkuh itu sangat tampan dan mempesona.

Dragon Wife

'Yang Mulia, kenapa Anda pergi tanpa pengawalan? dan kenapa Yang Mulia membawa orang asing ke istana?'

'Bukankah seharusnya Anda menemui Raja Kizashi dan Ratu Mebuki? Mereka sengaja datang dan menunggu Anda!!

'Pertanyaanmu terlalu banyak, Jugo?'

'Tidak ada alasan untukku bertemu dengan mereka!'

'Tapi, Yang Mulia, tentang perjodohan itu!!'

'Pergilah, Jugo!!'

Pria muda itu menyendiri di sebuah taman, mengabaikan pertanyaan penasehat istana, tiga hari yang lalu dia pergi dengan sengaja, menghindari sebuah pertemuan dengan penguasa kerajaan Adora, bukan tanpa alasan, dia tidak ingin menikah dan di jodohkan dengan putri cantik bernama Sakura Haruno.

"Yang Mulia!!"

Pria itu memejamkan mata, suara lembut itu menggelitik gendang telinganya, tidak, dia tidak ingin berbalik, dia tidak ingin terhipnotis oleh kecantikan, yah kecantikan putri Sakura yang setia berdiri di belakangnya.

"Yang Mulia!!"

Satu kali lagi putri cantik itu memanggilnya seolah memaksa dirinya untuk menunjukkan kerinduan yang dia pendam, tidak, dia tidak akan kalah dengan perasaannya.

"Putri Sakura!!" Pria itu berbalik dengan senyuman yang menawan, putri cantik itu membalas senyumannya, sungguh hatinya bergejolak saat gadis muda itu berjalan untuk mendekat kepadanya, gadis dengan bibir kecil dan manis, gaun mewah dan indah membalut tubuhnya yang berbentuk sempurna, rambut merah mudanya terurai rapi, sangat mempesona.

"King Sasuke. Anda pergi tanpa pamit, membuat Ayah dan Ibuku terhina, tapi mereka bisa mengatur ulang pertemuan untuk Anda!" Putri cantik berkata dengan lembut.

"Itu tidak perlu, Putri. Aku tidak akan menikahimu!" Pria yang di panggil Sasuke menjawab. Namun, dengan kepala yang menunduk.

"Jangan menolak dengan apa yang Anda inginkan, Yang Mulia," ucap gadis itu kembali.

"Sebaiknya Kau kembali, tidak baik jika kita terlihat bersama tanpa adanya ikatan!" Sasuke berkata dengan suara yang datar, namun tidak membuat gadis itu tersinggung.

"Anda terlalu takut, Yang Mulia. Saya bukan gadis lemah yang harus Anda khawatirkan!" Gadis itu menjawab dengan tenang.

"Jangan berharap aku akan menikahimu, Putri. Tidak akan, Aku sudah memiliki calon ratu istana ini!" jawab Sasuke, emosinya tertahan karena ucapan gadis yang masih saja mengukir senyum.

"Wanita asing yang Anda bawa?" tanya sang putri, kali ini senyumannya terlihat sinis.

"Aku harus pergi, jika Tuan Putri masih ingin berada di sini, silahkan saja, Aku akan menyuruh para pengawal untuk berjaga!" Sasuke segera pergi dan meninggalkan Putri Sakura.

'Kau memilih menghindari takdir, Sasuke!!'

Gadis itu bergumam, tatapannya sendu setelah kepergian Sasuke.

Dragon Wife

Hinata menatap tidak suka pada pria yang ada di hadapannya sekarang, setelah dua hari pria itu datang kembali seperti yang dikatakannya, kesehatannya memang sudah pulih, memar dan goresan di wajahnya juga sudah berkurang.

"Hinata Hyuga, usia 20 tahun, tidak punya pekerjaan tetap, yatim piatu, berjuang keras untuk hidup, dan seringkali diabaikan manusia lainnya!!" Pria itu berkata seolah mengungkap jati diri Hinata.

"Bagaimana Anda bisa tahu?" tanya Hinata, tanpa menunjukkan sopan santun, pada seorang raja seperti pria yang sedang berhadapan dengannya sekarang, iya, Hinata mengetahui siapa pria itu dari para pelayan yang bercerita padanya dua hari yang lalu.

"Itu tidak sulit, banyak peramal handal di negri kami!!"

'Peramal??'

Rasanya Hinata ingin sekali terbahak, di dunia manusia hanya perlu mencari di internet untuk mengetahui identitas orang lain atau melalui media sosial lainnya.

'Tempat kuno macam apa ini?'

"Dan satu lagi, Kau ingin diakui oleh orang-orang disekitarmu, selama ini Kau berusaha menunjukkan diri, tapi hanya mendapat penolakan dari semua orang." Hinata terdiam, perkataan pria itu memukul telak kenyataan pahit hidupnya.

"Ch, jangan bertele-tele, langsung katakan saja, apa yang Kau inginkan dariku?" ucap Hinata ketus, pria itu mendelik karena tidak suka mendengar ucapan Hinata.

"Kau memang manusia rendah, tunjukan sopan santunmu sebagai seorang wanita! Aku adalah raja di negri ini, berikan rasa hormatmu pada orang yang sudah menyelamatkan nyawamu!!" tukas Sang Raja, pria itu menatap tajam gadis yang juga menatapnya dengan angkuh.

"Aku tidak memintamu untuk menyelematkan nyawaku! Jika kau memang ingin mendapat bayaran, kenapa kau tidak membiarkanku mati saja!!" Sang Raja mengepalkan tangan saat mendengar ucapan Hinata.

"Ternyata benar, lidah manusia memang sangat tajam, memutar balikkan kata, bahkan berkata kasar!"

"Jadi inikah manusia yang punya derajat lebih tinggi dari mahluk lainnya, bahkan melebihi malaikat?" pria itu berkata sinis, Hinata terdiam dengan menahan emosinya.

"Dengar, Nona Manusia. Di tempat ini aku yang berkuasa, jadi jangan bertingkah, dan turuti semua perkataanku!!"

"Apa yang Anda inginkan?" gadis itu bertanya dan di tanggapi senyuman oleh pria tersebut.

"Penawaran yang menguntungkanmu!" Hinata menekuk alisnya, karena tidak mengerti ucapan pria tersebut.

"Menikahlah denganku!!"

Hinata membulatkan matanya, apa ini? apa pria itu sudah gila? baru saja dia menghina dirinya dan mengatakan bahwa dia sangat rendah, lalu sekarang kenapa dia ingin menikahinya?

Oh, Hinata masih berharap semua hanya mimpi, jangankan menikah, dia bahkan belum pernah berpacaran.

Tbc ...

Ya chapter 3

Up special for

SHL

Maaf ya tidak kuedit lagi

Ayo suarakan dukungan kalian...

Vote or coment...

Terima kasih sudah menyempatkan untuk baca story ini...

See you next chapter...

Keep loving SasuHina and

Keep loving me ...