Happy reading.

'Menikahi seorang manusia?'

Tidak pernah kubayangkan hal ini akan terjadi, sebenarnya aku bisa menikahi hewan manapun yang kuinginkan.

Kelinci, angsa, rusa atau bahkan naga lain yang berjenis kelamin betina, tapi manusia punya daya tarik tersendiri, pemikiran yang maju dan lebih pintar, mereka juga punya sifat licik juga serakah.

Tapi mereka tetaplah mahluk teristimewa yang ada di dunia, cantik dan tampan, sederhana atau biasa, rupa mereka berbeda-beda.

Kami para hewan hanya punya dua julukan, jantan atau betina, tapi manusia punya sebutan lain, perempuan untuk betina dan laki-laki untuk pejantan.

Aku punya alasan tersendiri kenapa aku memilih manusia perempuan bernama Hinata untuk kunikahi, ada hal yang kuinginkan darinya, suatu hal yang bisa mengubah ramalan bahkan kutukan bagi para penguasa dunia kami.

Dragon Wife

Trangg. .

Brrrr

Grrr

Dua naga hitam saling beradu kekuatan, ukuran tubuh mereka hampir sama setinggi menara istana, menyemburkan api dan berusaha saling mengalahkan, suara erangan mereka yang mengganggu pendengaran menjadi pengiring pertarungan yang masih berlangsung, sampai salah satu dari mereka lengah dan mendapat serangan telak dari naga hitam dengan warna yang lebih gelap.

Naga hitam terjatuh ke bawah, wujudnya berubah seketika, dan sang naga hitam gelap segera menapakkan kaki di atas tanah, kepulan asap keluar dari tubuhnya, kemudian asap tersebut kembali ke tubuh sang naga seolah terhisap kembali ke tubuh yang sudah berubah wujud menjadi sosok manusia.

Dia berjalan menghampiri naga hitam yang masih tergeletak di tanah dan wujudnya juga sudah berubah.

"Kau tidak boleh lengah Shisui, musuhmu tidak akan berhenti mencari celah untuk mengalahkanmu!!" Pria berjirah hitam itu berkata dingin, mengulurkan tangan sekedar membantu pria yang sudah bangun dan duduk di atas tanah untuk segera berdiri.

"Maafkan aku, Yang Mulia!" Pria dengan rambut hitam pendek itu tersenyum.

"Ch, Yang Mulia??" Pria berjirah hitam itu mendecih, sedangkan lawan bicaranya hanya terkekeh.

"Tentu saja, Sepupuku Uchiha Sasuke memang seorang raja!! apa itu salah?" Shisui masih menggoda sepupunya.

"Apa yang sedang kau pikirkan?" Sasuke bertanya pada Shisui, dia tahu sepupunya sedang memikirkan sesuatu, Shisui tidak fokus saat berlatih tadi.

"Uchiha Shisui, jawab pertanyaanku!!" Sasuke menaikan nada suaranya, karena tidak mendapat jawaban dari sepupunya.

"Ahh, itu, tentang rencanamu untuk menikah," jawab Shisui yang membuat sang raja terdiam, pria itu mengalihkan tatapan ke arah lain.

"Apa itu benar? Sepupuku tersayang?" Shisui kembali bertanya.

"Aku ingin melihat manusia perempuan itu, apa dia cantik??" Sasuke mengerutkan dahi mendengar ucapan Shisui.

"Biasa saja!! dia tidak lebih baik dari semua betina yang ada di dunia kita!!" ucapan dingin dan datar keluar dari mulut Sasuke, sedangkan Shisui justru tertawa.

"Iya, tapi paling tidak wajah mereka tidak akan berubah, betina di dunia kita mungkin sangat cantik, tapi semua palsu hanya sihir dan ilusi, bahkan ketampanan kita ini hanya sebuah penyamaran!!" ucap Shisui panjang lebar.

"Tapi manusia selalu punya topeng di balik wajahnya, terlihat lugu tapi kenyataannya mereka licik dan tidak tulus!" jawab Sang Raja. Shisui terdiam setelah mendengar jawaban sepupunya.

"Oh ... jadi putri Sakura tetap yang terbaik di matamu?" tanya Shisui dengan senyum meremehkan.

"Kau ingin mematahkan kutukan itu dengan menikahinya? manusia perempuan itu?" Tatapan Shisui berubah serius, Sasuke mengangguk kemudian pergi meninggalkan sepupunya.

"Aku akan mengunjunginya, calon ratumu itu!!" Shisui berteriak tapi tidak dihiraukan oleh Sasuke.

Hinata ingin sekali berteriak, bagaimana tidak? Setumpuk buku berada tepat di hadapannya, iya dia sedang belajar, ucapkan terima kasih pada pria bernama Obito yang mau mengajari tatakrama, etika bahkan sejarah negri Palostra.

Pria tegas yang membuat nyali Hinata menciut, tatapan matanya menusuk dan dingin, pria kepercayaan Raja Sasuke yang kedudukannya sangat penting di istana, dan sekarang Hinata mengerti dari mana raja angkuh itu mewarisi sifat yang menurutnya sangat menyebalkan.

"Seorang ratu tidak duduk dengan membungkuk!! luruskan punggungmu dan bersikap dengan elegan!!" Tubuh Hinata merespon ucapan pria tua tersebut, gadis itu merasa pegal, sudah hampir tiga jam dia harus membaca semua buku dengan posisi yang disarankan sang pengajar.

Salahkan raja sombong yang sudah seenaknya bicara tentang pernikahan, siapa yang ingin menikah? siapa yang ingin menjadi ratu? Hinata tidak mau semua itu, dia hanya merasa dilema, jika tidak menikah dia tidak akan bisa kembali ke tempat asalnya, ya raja sombong itu memberinya penawaran yang sama sekali tidak menguntungkan.

Satu minggu lalu...

'Menikahlah denganku!!'

Mulut Hinata terbuka, gadis itu kehilangan kata, raja muda di hadapannya melamar dirinya dengan tatapan menusuk dan sinis, apa begitu cara seorang pria melamar wanita untuk menikah dengannya.

'Jangan salah paham! itu bukan karena aku menyukaimu! aku ... aku membutuhkan pendamping!'

Hinata masih terdiam dan tidak berniat untuk menjawab perkataan raja muda tersebut.

'Hanya satu tahun. Setelah itu kau bisa kembali ke tempat asalmu. Aku sendiri yang akan mengantarmu.'

'Tapi jika kau tidak mau, kau bisa keluar dari istanaku, kembali ke tempat asalmu dengan caramu sendiri. Dan jangan harap aku akan menolongmu, karena akan ada banyak mahluk di luar sana yang ingin memakanmu'

Gadis itu menelan ludah, mengingat kembali kejadian mengerikan yang sudah di alaminya. Hinata tidak langsung menjawab pertanyaan raja muda tersebut, Sasuke juga menawarkan kekayaan yang akan didapatkan Hinata saat kembali nanti.

Mungkin tidak ada ruginya jika dia menikah dengan Raja Muda Sasuke, hanya satu tahun, itu tidak lama, setelah semua berakhir dia bisa kembali lagi ke dunia asalnya dan kehidupannya akan normal kembali atau jauh lebih baik dari sebelumnya.

Ayolah, siapa yang tidak akan tergiur dengan penawaran yang diberikan Sasuke? mungkin sudah waktunya bagi Hinata mengubah nasib atau mungkin takdir.

'Hahaha...'

'Benarkah...'

'Yang mulia ingin pernikahannya dipercepat, ya ampun.'

Suara cekikikan tawa para pelayan muda istana terasa memenuhi kamar yang ditempati Hinata, para pelayan sedang sibuk menyiapkan semua keperluan pernikahannya dengan sang raja muda.

"Yang Mulia, hari ini adalah hari pertama ritual pernikahan Anda, jadi hari ini Anda tidak perlu beraktifitas, perbanyak istirahat," ucap Madoka yang merupakan pelayan pribadi Hinata.

"Upacara pagi ini adalah pengenalan para keturunan keluarga kerajaan." tambah Madoka.

"Bisakah kau tidak memaggilku 'Yang Mulia' aku hanya gadis biasa," ucap Hinata, pelayan muda itu tersenyum sambil membungkukan tubuhnya.

"Tidak bisa, Anda adalah calon ratu istana Palostra, Ratu yang kami cintai." Hinata terdiam percuma saja, bahkan pelayan pun tidak bisa dibujuk.

"Besok ritual kedua, Anda akan di mandikan bersama Yang Mulia Raja!" ucap Madoka, sambil tersenyum malu. Hinata menelan ludah, melihat ekspresi wajah Madoka, sepertinya dia akan mendapat masalah baru.

'Mandi bersama?'

Ingin sekali Hinata membenturkan kepalanya dengan keras, tapi semua sudah terlambat, dia sudah setuju untuk menikah dengan Sasuke.

To be continue

Mm ada yang nunggu ga cerita ini...

Sampai jumpa di next chap...