Saat takdir tidak bisa dilawan, Kau tetap menerima atau melarikan diri?

Nasib mungkin bisa dirubah tapi tidak dengan takdir seseorang, terutama takdir kematian. Bahkan kau tidak bisa menghindari takdir mimpi buruk.

Enjoy and read

Hinata menelan ludah, nyalinya menciut. Seperti yang sudah direncanakan, hari ini adalah ritual pertama pernikahan. Perkenalan dengan anggota kerajaan harus dilewati gadis manusia tersebut, semua keturunan Raja Uchiha akan diperkenalkan pada dirinya.

Hanya beberapa hari lagi royal wedding akan digelar di Negri Palostra. Pernikahan Raja Sasuke dengan wanita yang belum diketahui identitasnya.

Tangan Hinata digenggam Sang Raja, di aula istana yang megah, semua prodigy istana sudah menunggu kedatangannya, tidak hanya mereka, sepertinya ada banyak bangsawan lain yang hadir di tempat tersebut.

Sekilas menatap, Hinata merasa berada di negri dongeng, tidak ada yang berpakaian biasa, semua wanita dan pria mengenakan pakaian mewah, latar tempat, bahkan lantai yang dinjak pun tidak ubahnya batu mulia murni yang sangat indah. Di ukir sedemikian rupa dan hasilnya sangat menakjubkan.

Namun, semua keindahan itu berbanding terbalik dengan semua wajah yang menatapnya. Entahlah, gadis itu merasa terintimidasi oleh tatapan dingin mereka.

Seperti mimpi buruk yang ingin segera diakhiri, Hinata merasa tidak tahan dan ingin melarikan diri, pasalnya seluruh anggota istana punya sifat yang sama seperti raja sombong yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.

"Yang Mulia Permaisuri. Dia adalah Hinata Hyuga, calon istriku," ucap Sasuke sambil membungkuk hormat pada seorang wanita yang duduk di singgasana mewah yang berhiaskan batu murni biru yang berkilauan.

Hinata menekuk lutut dan membungkuk, gadis itu bersyukur dan berterima kasih pada Obito yang sudah mengajari semuanya, sehingga dia tidak kebingungan dan merasa canggung saat berinteraksi dengan keluarga istana.

"Kau yakin dengan keputusanmu. Putraku?" tanya permaisuri, wanita dengan rambut hitam, sangat cantik layaknya bidadari.

Sasuke melirik pada Hinata yang menatapnya. "Tentu. Yang Mulia," jawab raja muda tersebut.

Hinata ingin sekali tertawa dengan tingkah raja muda tersebut, dia pandai bersandiwara, itulah pendapat gadis itu tentang Sasuke.

"Aku sangat menginginkannya untuk menjadi pendampingku," kata Sasuke sambil mencium punggung tangan Hinata yang belum dilepas sejak tadi.

Sang calon ratu tersenyum miring, bersikap seolah dia menyukai perlakuan raja muda pada dirinya. Padahal jauh di dalam hati, dia ingin sekali mencabik mulut pria tersebut, yang sudah lancang mencium tangannya.

Ah, ayolah semua wanita ingin diperlakukan seperti itu, terlebih oleh raja muda dan tampan seperti Mr Uchiha yang ketampanannya overdose. Jangan tanyakan tentang kharisma dan pesona pria muda tersebut. Karena dia punya segalanya.

Hinata memutar matanya bosan, saat ini dia sedang menjadi seorang hipokrit dengan senyum palsu terpasang di bibirnya yang berpoles lipstik peach.

"Keputusanmu adalah mutlak, tidak ada yang bisa membantah," ucap permaisuri yang berstatus ibu kandung Sasuke.

Semua bersorak dan bertepuk tangan untuk raja muda dan calon ratu istana. Pesta dansa menjadi acara utama setelah memperkenalkan calon ratu di Palostra. Hinata tidak berminat untuk berdansa dengan siapapun, gadis itu memilih untuk duduk di kursi para petinggi istana, sambil melihat para tamu yang berdansa dengan gaya yang membuat gadis itu bosan.

"Aku tidak mengerti. Kenapa Kakak ku memilihmu sebagai istrinya," Suara khas gadis remaja terdengar menusuk di telinga Hinata.

"Tuan Putri?" sapa Hinata pada remaja tanggung tersebut. Rambutnya hitam kulitnya putih dan sangat cantik.

"Aku ragu Kau ingat namaku," cibir gadis tersebut tanpa sopan santun.

"Sarada Uchiha, Yang Mulia Raja mengatakan itu, kan?" jawab Hinata, terlihat gadis itu kesal, namun, Hinata tidak peduli.

"Aku tidak suka Kau menjadi istrinya!" tukas Sarada, sedangkan Hinata masih terlihat begitu tenang.

"Sayang sekali gadis kecil. Aku akan menjadi Ratu Sasuke. Biasakan dirimu, oke?" Calon ratu tersenyum menang, dia kesal pada semua orang terutama pada calon suaminya. Hal itu sudah di prediksi sang calon ratu, keluarga utama di istana, tidak akan mudah menerima dirinya sebagai ratu.

Hinata ingin pergi, tapi bagaimana caranya? Ditambah suara riuh tamu istana semakin membuatnya merasa penasaran, mereka berbisik satu sama lain.

Gadis muda tersebut melihat ke arah sumber dari kegaduhan, di lantai dansa, Sang raja muda sedang berdansa dengan seorang gadis yang sangat cantik.

'Oh, cantik sekali. Mereka terlihat serasi.'

'Aku iri pada gadis itu. Tapi aku ini memang tidak cantik, ck, menyebalkan.'

Rasa percaya diri Hinata menurun setelah melihat putri cantik tersebut. Tetapi, dia berpikir untuk tidak peduli, lagipula dia hanya tinggal sebentar di negri kuno yang sangat aneh dan menyebalkan, terutama si peminpin alias raja sombong, calon suaminya.

"Ah, Putri Sakura. Dia sangat cantik, bukankah mereka sangat serasi?" celoteh gadis remaja tanggung, yang sejak tadi duduk di sisi Hinata.

Sebenarnya bisa saja Hinata membungkam mulut gadis remaja tersebut, tapi saat ini dia begitu malas untuk menanggapi ucapan gadis cerewet itu yang jelas sudah membandingkan dirinya dengan putri cantik yang bernama Sakura.

"Aku lebih senang jika Putri Sakura yang menjadi Ratu Palostra," tambah Sarada, dengan nada sinis. Untuk kali ini Hinata hanya bisa tersenyum kecut, entah untuk alasan apa.

Ternyata benar, tidak ada yang menghargai dirinya, seberapa besar pun dia berusaha untuk bisa diakui orang lain. Apa salah dan dosanya selama ini? Dia hanya ingin disayangi banyak orang, tapi keadaan selalu tidak berpihak kepadanya.

"Bersediakah Anda berdansa dengan Saya, Yang Mulia?" Suara seorang pria membuyarkan lamunan sang calon ratu. Hinata menatap pria dengan rambut hitam pendek, seorang pria yang Hinata ingat dengan nama Shisui Uchiha, sepupu dari calon suaminya.

Hinata terpaku melihat senyuman Shisui yang terlihat manis. Tangan kanan sang calon ratu terulur untuk meraih tangan kiri Shisui. Tidak hanya itu, tanpa disadari sudut bibir gadis itu tertarik membuat senyuman yang menawan.

Shisui memindahkan genggaman tangannya, ah dia seorang pangeran tentu dia punya cara yang benar saat meminta seorang wanita untuk berdansa dengannya.

Mereka bergerak seirama musik yang lembut, entah kenapa Hinata merasa sedikit merasakan senang, Shisui terlihat lebih tulus dibandingkan Sasuke. Itulah yang dipikirkan calon ratu tentang sepupu dari calon suaminya.

"Anda pintar dalam berdansa, Yang Mulia," ucap Shisui, setelah beberapa menit berdansa.

"Obito yang mengajari Saya, Pangeran," jawab Hinata dengan sedikit senyum.

"Anda sangat cantik, Sasuke beruntung mendapatkan Anda," celoteh Shisui, sungguh ini yang membuat Hinata merasa kesal kembali.

Beruntung? Apanya yang beruntung, raja sombong itu bahkan tidak pernah bersikap manis padanya, tapi sekali lagi, Hinata tidak peduli.

"Bukankah, Saya lebih beruntung karena mendapatkan suami seorang raja?" kilah calon ratu.

"Ah, sebenarnya, ini membuatku canggung. Jangan terlalu formil, kita bisa berteman baik," kata Shisui, pria muda itu berucap setengah berbisik karena takut ada yang mendengar.

Mengabaikan sopan santun terhadap petinggi istana adalah pelanggaran, sebisa mungkin setiap orang dengan jabatan lebih rendah, harus tunduk dan santun pada seseorang dengan jabatan yang lebih tinggi.

"Benarkah? Kau ... Ah maksud Saya, Anda mau berteman dengan Saya?" tanya Hinata, terdengar kaku.

"Panggil saja Shisui, jika Anda mau," jawab Shisui sambil tersenyum.

"Kalau begitu panggil aku Hinata saja, sejujurnya Aku tidak biasa bicara formal," gerutu Hinata, rasa canggung diantara mereka sudah berkurang. Setelahnya mereka bercanda ringan dan tersenyum bersama.

Hinata bersyukur, paling tidak masih ada orang ramah seperti Shisui, pria muda itu tidak kaku seperti calon suaminya, yang tanpa Hinata sadari orang yang mengisi lamunannya terus menatap keakraban dirinya bersama Shisui.

Dragon Wife

"Bisa bertukar pasangan?" Hinata dan Shisui mengalihkan perhatian pada sumber suara. Laksana petir yang menyeramkan, tatapan intimidasi Sang Raja membuat Hinata menelan ludah.

"Tentu, Yang Mulia," jawab Shisui, pria itu memindahkan tangan Hinata pada genggaman Raja Sasuke, kemudian melangkah mundur dengan teratur dan membungkuk.

Sasuke membawa tubuh Hinata sesuai irama musik, tepat ditengah lantai dansa, calon pengantin kerajaan menjadi sorotan utama para tamu istana. Ada yang menatap kagum. Namun, ada juga tatapan yang sulit di artikan dari sebagian para wajah bak tokoh dongeng.

Tatapan Hinata lurus pada dada bidang Sang Raja, tubuh tegapnya berbalut kain indah, ya dia tampak sempurna. Tinggi badan yang proforsional dan juga memiliki wajah rupawan.

"Seorang Ratu tidak tersenyum kepada pria lain, selain suaminya," ucap Sasuke, nada suaranya terdengar dingin dan datar.

Hinata memasang senyum palsu, kemudian sedikit mendongak untuk melihat wajah calon suaminya, "As you wish, My King," jawab Hinata, gadis itu kembali menunduk, dia enggan untuk berdebat dengan orang asing yang akan menjadi suaminya.

"Satu pelanggaran saja, pintu penjara bawah tanah terbuka, bagi siapa saja yang melawan perintahku." Kilat tajam terlihat pada manik mata Sasuke, namun, Hinata tidak merasa takut sama sekali.

"Apa ini sebuah peringatan untuk Saya?" tanya Hinata dengan senyum getir.

"Siapapun itu, bahkan jika dia seorang Ratu," jawab Sasuke tanpa beban.

"Cih, Anda seorang Raja yang sangat bijak," puji Hinata, namun dia tahu Sasuke pasti mengerti semua yang dikatakannya adalah sebuah sindiran.

"Seorang Raja, tidak diperbolehkan untuk pilih kasih. Mengertilah, Ratuku." Sungguh Hinata merasa muak dengan calon suaminya.

Gadis itu menarik tangannya yang berada di dada Sang Raja, tapi pria itu menahannya dengan cara menyentuh punggung tangan calon ratu, untuk tetap berada di tempatnya.

"Bersikaplah seperti seorang ratu yang sesungguhnya. Bukankah Obito sudah mengajarimu," tukas Sang Raja, dengan senyuman di wajahnya, sekilas terlihat tulus, tapi hanya Hinata yang bisa mengartikan senyuman tersebut.

"Tenanglah, Kau tidak akan masuk ke penjara, selama Kau menjaga sikap dan mematuhi semua perintahku," tambah Sasuke, sambil mengeratkan pelukan di pinggang calon istrinya.

Sekali lagi pria itu membuat Hinata merasa tidak berguna, tatapan kebencian terlihat dari mata mereka masing-masing, Sasuke dengan kekuasaannya, dan Hinata dengan sikap keras kepalanya.

"Saya tidak mengerti, apa keuntungan yang Anda dapatkan dengan menikahi Saya?" tanya Hinata.

"Kau akan tahu, dan percayalah Kau sudah memberi keuntungan yang sangat besar untukku," jawab Sasuke, ya perjanjian yang mereka sepakati menguntungkan satu sama lain, tapi keuntungan apa yang didapat raja tersebut?

"Bersiaplah untuk pernikahan, masih ada beberapa ritual yang harus kau lewati, jadi jangan memikirkan hal lain, mengerti?"

Ya, besok ritual mandi bersama, entah ritual seperti apa itu, Hinata hanya berharap dirinya tidak akan dipermalukan raja sombong tersebut.

Debaran jantung Hinata semakin menggila, rasa gelisah menggerogoti relung hatinya, apakah lebih baik dia melarikan diri saja?

Dan itu artinya dia menantang kematian untuk kedua kalinya.

To be continue

Chapter 5

Ga edit ulang ... Maafkeun

Story dengan alur lambat tapi itu sengaja supaya lebih detail, mungkin cerita ini akan sedikit panjang, aku hanya berharap kalian untuk sabar menunggu.

Arigatou

Keep loving SasuHina and keep loving me

I love you all Sasuhinalover's wherever you are