Senyuman menutup luka hati, keangkuhan menunjukan luka hati.

Senyumnya palsu, menyelimuti isi hatinya dari terkaan.

Senyumnya pahit, menyibak tirai luka terdalam di hatinya.

Dragon Wife

Hinata boleh bernafas lega, setelah semalaman terjaga dan tidak bisa tertidur karena memikirkan ritual bodoh yang sudah membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Pasalnya, ritual mandi bersama yang dia bayangkan, ternyata tidak terlalu buruk seperti bayangannya.

Berkali-kali dia memukul kepala, karena pikiran kotor yang sempat hinggap dalam otaknya. Hingga pagi dia hanya berpikir tentang melarikan diri, tetapi dia terlalu takut. Hinata takut mati, siapa yang tidak takut? Mengingat para makhluk raksasa yang mematahkan semua tulangnya.

"Yang Mulia, Anda sudah siap? Ritual akan segera dimulai!" Suara Madoka membuyarkan lamunan Hinata, gadis itu beranjak dari meja rias setelah para pelayan muda istana mengubah tampilannya.

"Anda sangat cantik, Yang Mulia," puji Madoka pada sang calon ratu. Hinata tersenyum kaku, mungkin dia terlihat begitu cantik, akan tetapi pakaian yang dikenakannya saat ini membuat Hinata sedikit risih.

Kain panjang berwarna hitam menutupi bagian bawah tubuh Hinata. Namun, dengan belahan sampai pertengahan paha kanannya. Sedangkan di bagian atas? Hinata harus mengambil nafas panjang saat melihat dirinya di cermin, tidak ubahnya sebuah bra dengan hiasan manik cantik, benda itu menutup bagian dadanya, sedangkan punggung dan perutnya terekspos seluruhnya.

Rambut yang ditata dengan mahkota dari batu-batu dan logam mulia, melingkar di kepala dan membentuk jalinan di kepangan rambut panjangnya.

"Madoka, Apa tidak ada pakaian lain untuk kupakai?" rajuk Hinata, sebelumnya Hinata tidak pernah berpakaian seperti itu, wajar jika Hinata merasa tidak nyaman dengan pakaiannya sekarang.

Pelayan Madoka hanya tersenyum geli, "Maaf, Yang Mulia. Pakaian ini untuk wujud manusia Anda, jika Anda berubah menjadi hewan, maka tidak akan ada pakaian lagi," jawab Madoka panjang dan lebar.

Glekk

'Tanpa pakaian? Demi Tuhan, Aku bukan sejenis hewan apapun.'

"Ap-Apa??" Hinata terkejut mendengar penuturan Madoka.

"Ba-Baiklah, Aku pakai ini saja," jawab Hinata dengan gugup, lebih baik di pakai dari pada tidak sama sekali.

"Ayo, Yang Mulia, Saya akan mengantar Anda ke tempat ritual." Madoka menggandeng tubuh Hinata secara pelan.

Dragon Wife

Di tempat lain

Sebuah istana dengan kegelapan mendominasi, sulur-sulur merambat di bagian dinding instana, gemerincik airyang keluar dari celah langit-langit, mengalir membentuk sebuah kolam kecil di tengah aula, tepat di depan sebuah singgasana yang berhiaskan batu hitam.

Seorang pria berjubah duduk di sana, beberapa pengawal berjaga di bagian sisi istana, dengan wajah mereka yang bersisik.

"Berita apa yang kalian bawa padaku?" Suara berat yang menggema memenuhi ruang istana. Seorang penguasa kegelapan tengah bertanya kepada para petinggi istana tempatnya berkuasa.

"Berita tentang raja Uchiha, Yang Mulia," jawab makhluk berwujud ular dengan dua daun telinga sesuai warna sisik hijau tua di kepalanya.

"Raja Naga Palostra akan melangsungkan pernikahan pertamanya," ucap makhluk lain serupa buaya dengan warna kulit hitam legam.

Sang raja kegelapan tertawa keras mendengar kabar dari para pengikut setianya. "Betina mana yang sudah beruntung mendapat kehormatan dari Raja Palostra?" tanya raja kegelapan.

"Mohon ampun, Kami akan menyelidiki dan mencari tahu," jawab ular hijau.

"Santai saja, berita ini sudah membuatku merasa senang, Raja Palostra, Sasuke, benar-benar membuatku merasa tersanjung," ucap pria dengan rambut hitam dengan sorot matanya yang berwarna merah.

"Akan tetapi tumbal Hashirama Senju lolos. Moa dan Iriana gagal membawanya."

"Hn, tidak apa, hari ini aku sangat senang mendengar berita pernikahan Sasuke, Aku bisa mengampuni Moa hanya untuk hari ini saja, tetapi terus cari gadis manusia itu!" Umpama petir menyambar, perintah sang raja menjadi cambuk bagi para pengikutnya supaya mereka tidak lengah, satu kali lagi kesalahan, maka bersiaplah meregang nyawa dengan tubuh hangus terbakar.

"Aku akan menunggu sampai bulan hitam tiba," ucap sang raja kegelapan.

Hinata sudah sampai di taman istana Palostra, wajahnya semakin bersemu menahan malu, selain merasa tidak nyaman dengan pakaiannya, dia juga tidak nyaman dengan tatapan Sasuke yang seolah menilai tampilan dirinya.

Sebuah kolam berdiameter hampir dua meter yang dipenuhi berbagai macam bunga, akan menjadi tempat untuk ritual mandi bersama, disaksikan seluruh rakyat Palostra.

"Silahkan, Yang Mulia," ucap Madoka dengan tangan menunjuk ke kolam yang artinya Hinata harus masuk ke kolam dimana Sasuke sudah berada di sana.

Sasuke mengulurkan tangan pada sang calon ratu untuk berendam bersama dengan dirinya. Berbeda dari biasanya, kali ini sang raja juga tidak berpakaian lengkap, bagian tubuh atasnya terekspos tanpa balutan pakaian dan hanya bertelanjang dada, otot di tubuhnya tercetak sempurna, cerminan pria sejati, sedangkan untuk bagian bawah dia juga mengenakan kain hitam saja.

Rasa dingin dirasakan Hinata saat telapak kakinya bersentuhan dengan air kolam yang memiliki kedalaman sebatas perutnya saja.

Kalau dipikirkan untuk apa dirinya didandani jika semuanya akan hilang terhapus air? Terlalu banyak yang Hinata pikirkan, tapi dia memutuskan untuk mengabaikannya, terserah.

"Yang Mulia, silahkan pasangkan kalung bunga untuk Ratu," ucap salah seorang biksu dengan tangan terulur membawa nampan dan kalung bunga di atasnya.

Hinata merasa gugup saat Sasuke semakin mendekat, mengalungkan bunga di leher putihnya. Sasuke mungkin sangat menyebalkan, tapi pria muda itu punya pesona di luar batas, dan sialnya berhasil membuat Hinata berdebar. Bukan tanpa alasan, gadis itu belum pernah berdekatan secara langsung dengan laki-laki, pacaran saja tidak pernah, jadi hal itu wajar saja.

"Dan silahkan, bisikkan kata cinta untuk Ratu Anda, Yang Mulia! Hal itu berguna untuk keharmonisan pernikahan, Serta sebagai penghormatan untuk Yang Mulia Ratu," Rasanya itu hanya sebuah lelucon, Sasuke hanya akan mengatakan kata makian untuk Hinata. Tatapan mata hitam Sasuke terasa menusuk manik bening Hinata bahkan menembus ulu hatinya.

"Jadilah merpatiku, terbanglah saat bulan tiba, dan Kami disini akan mengenangmu," bisik Sasuke, dengan tangan kiri merangkul pundak dan tangan kanan merangkul pinggang polos Hinata.

Entah apa yang dikatakan Sasuke, sungguh Hinata tidak mengerti, debaran jantungnya kian menjadi, para biksu dan semua orang membungkuk seolah memberi hormat pada sang calon ratu.

"Ini drama pernikahan, hanya sebuah tradisi, jangan terlalu menganggapnya serius," Sasuke kembali berbisik, kali ini dia bicara tanpa jarak, yang artinya mereka menyentuh satu sama lain.

'Benarkan? Dia menyebalkan.'

Sepertinya bisikan kedua Sasuke hanya untuk Hinata seorang, makanya raja muda itu berbisik lebih pelan dan memastikan hanya Hinata saja yang mendengarnya.

Hinata tidak melihat senyuman sedikitpun di bibir Sasuke, dia menebak Sasuke memendam sesuatu, sorot matanya begitu tajam dan penuh amarah, entahlah mungkin sesuatu seperti kebencian.

Dragon Wife

Hinata masih merasakan keanehan saat mengingat bisikan Sasuke, saat ritual mandi bersama tadi pagi, tidak mungkin Sasuke memberikan lelucon. Mengingat sikap dingin pria itu pada dirinya.

"Masih melamun?" Hampir saja Hinata terlonjak saat mendengar suara seseorang yang menjadi bahan pikirannya.

"Yang Mulia? Kenapa Anda berkunjung?" tanya Hinata, pintu kamarnya yang mewah tertutup, apakah para pelayan berada di luar pintu? Dan kenapa para pengawal tidak berteriak jika sang raja akan datang?

"Apa tidak boleh jika Aku menemui calon istriku?" Hinata menelan ludah, Sasuke semakin mendekat ke arahnya.

"K-Kau mau apa?" Hilang sudah tatakrana Hinata yang dia pelajari dari Obito.

Hinata panik saat Sasuke menghimpitnya ke atas ranjang, tanpa ragu Sasuke juga menekan bahu Hinata supaya gadis itu duduk di sisi ranjang. Wajah pria itu semakin mendekat, bahkan deru nafasnya menerpa wajah Hinata. Dia terkejut saat bibir Sasuke menyentuh bibirnya secara paksa, pria itu juga menggigit bibirnya. Sakit, Hinata merasakan bibirnya mengeluarkan cairan asin berbau amis.

"Hentikan! Kau pria mesum," marah Hinata, sambil mendaratkan satu tamparan keras pada wajah calon suaminya.

Gadis itu mengurai air mata, dengan satu usapan dia menghilangkan cairan merah yang menetes dari bibir bagian dalam.

"Berani sekali Kau menolakku?"

Greb ...

Tangan kekar Sasuke berada di leher jenjang Hinata, membuat gadis muda itu sulit untuk bernafas.

"Makhluk rendah seperti dirimu memang banyak tingkah." Amarah Sasuke semakin memuncak, mata hitamnya berubah menjadi merah dan sepanas api.

Bruk ...

Tubuh Hinata jatuh tersungkur di atas permadani, saat Sasuke menghempaskan dirinya. Telapak tangan Hinata terasa panas bahkan sedikit lecet karena bergesekan dengan ujung permadani karena terjatuh dengan keras.

"Kuingatkan padamu, sekali lagi Kau lancang padaku- ..." Gemeletuk gigi karena menahan amarah terdengar dari mulut Sasuke yang bergetar. Pria itu membungkuk dan menekuk lutut supaya tingginya sama dengan Hinata yang masih tersungkur.

"Akan kupastikan kepalamu terlepas dari tubuhnya!" lanjut Sasuke sambil mengangkat kembali tubuhnya untuk berdiri.

"Ingat besok adalah hari pernikahan, jangan sampai Kau berbuat ulah," ucap Sasuke, setelah itu dia pergi meninggalkan Hinata dengan beribu pertanyaan dalam pikirannya.

Ada apa dengan Sasuke? Sikapnya sungguh tidak bisa ditebak, Hinata merasakan sakit luar biasa, bukan hanya di bibirnya yang terluka, dia merasakan sakit di seluruh rongga dada, sampai menghela nafaspun terasa begitu nyeri.

Berbuat ulah?

Memangnya apa yang diperbuat Hinata, sejauh yang Hinata ingat dirinya tidak melakukan hal apapun selain ritual pernikahan pagi tadi. Dia bahkan tidak keluar kamar sejak sore hari.

Apa yang sebenarnya pria itu inginkan darinya? Jika dia begitu bernafsu untuk membunuh Hinata, kenapa waktu itu dia diselamatkan dan dibiarkan hidup bahkan mau dijadikan seorang istri.

Dosa apa yang sudah Hinata lakukan? Sehingga dia harus menerima perlakuan buruk Sasuke padanya.

Hutang budi?

Benar, Hinata berhutang nyawa pada calon suaminya. Sasuke meminta imbalan waktu itu. Lalu imbalan seperti apa yang dia inginkan dari seorang gadis yatim piatu seperti Hinata?

To be continue.

Yeaa

Masih misteri kan? Kenapa Sasuke bersikap kejam pada Hinata, ada alasannya ...

Stay ya untuk ceritaku ...

Ada sebuah komen yang mengatakan background song yg cocok untuk cerita ini adalah "Lily by Alan Walker"

Sungguh Aku baru tahu kalau lagu Lily itu sedikit banyak mirip dengan cerita ini ...

Padahal inspirasi cerita ini lagu lain yang berbahasa Jepang ... entahlah mungkin kebetulan.

See you next chap ...

Salam Aisya-Eva