Just read and enjoy
Rakyat Palostra sedang bersuka cita menyambut pesta besar pernikahan seorang raja termuda. Mereka bahagia, setidaknya tidak akan ada tumbal baru setelah ratu Palostra rela mengorbankan diri.
Itulah yang mereka ketahui, puluhan tahun kedepan hidup mereka akan aman sampai terlahir kembali seorang raja baru.
Hinata merasa bermimpi, dia dibawa Madoka dan beberapa pelayan serta pengawal ke sebuah istana baru yang belum pernah dia kunjungi.
Dinding istana dibuat dari bebatuan berkilau yang sudah diukir sedemikian rupa. Bagaimana cara memasangnya? Siapa saja yang membangun istana tersebut?
Hinata berpikir keras di tengah rasa kagumnya pada keindahan yang sedang dinikmati indra penglihatannya. Benar-benar seperti di alam mimpi.
Hinata berpikir jika dia mengambil satu buah batu saja yang menempel di dinding istana, maka batu mulia tersebut bisa dia jual dan hasilnya bisa dia pakai untuk biaya hidup. Itu jika dia bisa berhasil kembali ke dunia nyata.
Gadis itu merasa bodoh, bahkan gambaran tentang dunia nyata seperti menghilang, firasatnya mengatakan bahwa dia tidak bisa kembali dengan mudah.
Hinata mendengus, beruntung tidak ada yang bisa melihat ekspresi wajahnya karena sebuah tudung menutupi kepalanya.
Dari balik tudung yang menerawang dia bisa melihat semua yang tengah terjadi di sekitarnya. Ada banyak orang yang seperti rakyat biasa. Mereka terlihat bahagia dengan ekspresi wajah yang sedikit ... aneh ... bagi Hinata.
Ada seorang pria dengan tanduk seperti kambing di kepalanya. Wanita dengan telinga kelinci dan anak kecil
dengan ekor di belakang tubuhnya.
Hinata meringis, jauh di dalam hatinya dia merasa takut. Apakah dia sudah melakukan dosa besar sehingga terjebak di dunia para iblis? Apakah Tuhan sedang menghukumnya?
"Yang Mulia Ratu telah tiba!!" Teriakkan seorang pengawal membuat kesadaran Hinata yang menguap segera kembali pada tubuhnya.
Hampir semua orang bersorak gembira. Seperti ritual penyerahan tumbal pada sang iblis demi keamanan hidup mereka semua.
Ternyata hanya Hinata yang tidak mengetahui apapun, dia tidak tahu hal mengerikan apa yang akan dihadapinya beberapa waktu ke depan.
Gadis itu tidak tahu bahwa bayangan kematian sedang mengintai dan mengincar nyawanya. Takdir apa yang akan menimpa Hinata karena ulah Sasuke?
"Ratuku!" Sasuke yang sudah berada di altar menyambut kedatangan gadis itu. Raja muda itu mengecup lama tangan sang calon ratu.
Hinata terkesiap, gadis itu mengingat perlakuan Sasuke kemarin malam tidak semanis ini. Bahkan dia masih merasakan sakit di bibirnya yang bengkak karena ulah Sasuke.
Sekali lagi, beruntung tudung di kepalanya menutupi hal tersebut. Bibir Hinata yang memar tertutupi dengan sempurna.
Para petinggi istana dan para tamu menyaksikan ritual sakral pernikahan Raja Sasuke dan Hinata si gadis manusia.
Dari balik tudung Hinata melihat ke arah Sasuke. Pria itu terus menatap pada satu titik dimana seorang putri berwajah sedih juga menyaksikan pernikahan mereka.
Seorang puteri yang berada di pesta kerajaan tempo hari. Satu kesimpulan yang Hinata ambil, Sasuke punya ikatan batin dengan puteri tersebut.
Hinata merasa sakit, tetapi bukan karena dia cemburu. Dia merasa sakit untuk semua perlakuan kejam Sasuke padanya.
Tatapan lembut Sasuke pada gadis itu membuat luka hati Hinata semakin menganga. Sasuke menjadikanya istri tetapi tatapan pria itu begitu penuh dengan kebencian.
Hinata mengedarkan tatapan dari balik tudung, dia menitikkan air mata. Semua terasa asing, siapa dirinya? Siapa mereka?
Hinata menangis dalam diam, tidak pernah ada yang menghargai dirinya selama ini. Di buang orang tua, berjuang sendiri untuk hidup dan sekarang takdir menyakitkan mempertemukan dirinya dengan sejuta rasa sakit.
Dia merasa tidak lebih berharga dari sebutir debu yang terlupakan. Sekarang Hinata merasakan keputus asaan menguasai hidupnya.
"Ratu, terimalah ini!" Hinata terkejut saat Madoka memberinya sapu tangan dengan motif bunga kecil berwarna ungu. Apakah pelayan muda itu menyadari bahwa Hinata menangis saat ini?
Hinata segera menerima dan menggunakan kain kecil itu untuk mengusap wajahnya. Tanpa dia sadari sang raja muda juga melihatnya.
Tatapan Sasuke sangat sulit diartikan. Pria itu menatap Hinata yang sudah resmi menjadi istrinya dengan sorot mata kesedihan dan mungkin ... rasa bersalah.
Dragon Wife
Hinata menjadi ratu yang sesungguhnya, pakaian terindah di seluruh negeri terpasang manis di tubuhnya. Tidak ada yang menyaingi kecantikannya saat ini.
Seperti kata cermin ajaib dalam dongeng Puteri Salju, bahwa ratu adalah wanita tercantik di dunia.
Saat tudungnya dibuka untuk memperlihatkan wajah sang ratu. Semua orang yang melihat menatap kagum dan takjub. Tidak terkecuali raja muda yang sudah berstatus suaminya.
Sasuke terlihat sedikit gugup dan terpaku. Sementara Hinata sudah tidak tahu, gadis itu berpikir wajahnya pasti terlihat aneh karena bengkak di bibir dan jejak air mata.
Sasuke berada di sebuah taman, sedikit menjauh dari keramaian pesta yang membuatnya merasa penat. Dengan pengawalan ketat dari para penjaga pria itu menyendiri dengan sejuta pikirannya.
"Manusia memang luar biasa. Ratumu sangat sempurna, Sepupu!!" bisik Shisui pada Sasuke, saat ini pesta masih berlangsung tetapi kedua pria itu memilih untuk berbicara sejenak.
Sasuke terdiam, ucapan Shisui memang benar. Hinata memiliki kecantikan alami tanpa rekayasa ataupun sihir. Dia bisa melihat tatapan iri para tamu yang merupakan putri dari setiap penjuru negri. Termasuk adiknya--Puteri Sarada.
Namun, sikap iri mereka akan berubah menjadi rasa puas, karena kecantikan Hinata akan lenyap bersama raja kegelapan.
Itulah kenyataan sebenarnya tentang hidup Hinata. Sasuke tidak bisa menunggu lagi sampai saat itu tiba.
"Apa kau tidak akan menyesal? Ratu akan dibawa raja kegelapan?Bukankah manusia bisa menggoyahkan hatinya? Ah, kurasa yang beruntung adalah Magora Grand King." Shisui berkata panjang lebar. Ucapannya seperti hasutan untuk Sasuke.
"Diamlah!! Kutukan Magora akan terus berlanjut jika aku tidak melakukan ini!" Sasuke berkata marah.
"Tentu saja. Aku mengerti tetapi sebelum benar-benar menjadi tumbal dia akan mati. Karena Moa dan Iriana sedang mengincarnya di luar sana." Shisui kembali mengingatkan Sasuke. Gadis itu hanyalah tumbal acak dari manusia serakah, dengan kata lain Sasuke sudah menculik dan memanfaatkan gadis itu.
Hinata adalah tumbal dari kedua belah pihak. Gadis itu sudah ditakdirkan mati dengan cara yang tragis.
"Ratumu adalah korban para iblis berhati kejam," ucap Shisui.
Greb ...
"Berhenti berbicara!! Atau aku akan menghabisimu, Shisui!!" Sasuke mencengkram kerah sang pangeran, emosinya tersulut karena ucapan Shisui yang seratus persen benar.
"Katakan padaku!! Apa kau memiliki rasa pada isteriku? Jika itu benar, penjara bawah tanah akan terbuka bagi para pelanggar hukum!" geram Sasuke.
"Santai saja!! Jangan lupakan sesuatu, Magora melahap tumbal manusia pria selama ini. Ratumu adalah tumbal wanita pertama. Gadis suci yang akan memberi kekuatan tanpa batas. Jadi patahkan saja!!" Shisui berkata santai tanpa merasa takut pada ancaman Sasuke.
"Apa maksudmu?" tanya Sasuke dengan tatapan menyelidik, tangannya sudah lepas dari kerah Shisui.
Sang pangeran tersenyum penuh arti. "Lakukan saja malam pertama!" ucapnya.
"Sialan, Kau!!" Shisui tertawa kemudian pergi meninggalkan sang raja dengan perasaan dongkolnya.
TBC
Jiah ... Terima kasih untuk respon dari kalian semua
Jadi sampai di sini Hinata masih tidak tahu apapun tentang rencana Sasuke.
Bagaimana perasaannya nanti saat dia tahu semuanya?
Dan bagaimana sikap Sasuke selanjutnya?
See you next chap ya gaisss
I Love you all
