Dua gumpalan asap tebal hitam dan hijau pekat, terbang di udara dengan gerakan seirama seperti spiral. Keduanya terbang cepat dan melesat melewati rimbun pohon hutan, danau, gunung, bahkan tebing-tebing yang curam.

Keduanya menuju cahaya yang berpendar dari menara istana batu biru. Akan tetapi kedua asap tersebut harus berhenti tepat di depan gerbang istana.

Kedua asap berubah menjelma menjadi dua orang pria bertubuh besar dengan penampilan yang menakutkan.

"Bagaimana menurutmu? Toru?" Satu pria berbaju hijau bertanya pada pria berbaju hitam.

"Hmm, bau gadis itu sangat kuat dari dalam sana," jawab Toru sambil mengusap janggutnya. Dia juga menunjukkan sebuah kain robekan pakaian yang terkoyak.

"Kita tidak bisa masuk ke sana, kau lihat pelindung itu? Raja Uchiha sudah memasang barier yang sangat kuat," ucap pria berbaju hijau.

"Kau benar, Jabu. Kita tidak bisa masuk tetapi gadis itu bisa keluar dengan sihir pembisik," jawab Toru sambil tersenyum penuh arti.

"Tentu saja. Kau ahlinya, tidak heran Yang Mulia sangat mempercayaimu," ucap Jabu.

"Kita tidak bisa melakukannya sekarang, terlalu ramai." Toru mendengus kesal.

"Ah, aku lupa. Raja Uchiha sedang melangsungkan ritual pernikahan." Kedua pria itu terbahak.

"Rupanya Yang Mulia sangat beruntung. Dua tumbal bisa dia nikmati sekaligus." Toru kembali berucap disertai tawa puas.

"Baiklah, kita tunggu sampai besok! Sebelumnya akan aku kirim mantra untuk ratu baru."

"Untuk apa?" tanya Jabu. "Raja Uchiha akan menyadarinya.

"Hanya satu tiupan kecil. Sang ratu akan merasakan kesedihan yang mendalam, sampai dia merasa putus asa." Toru meniup pada lapisan barier tak kasat mata, asap kecil seperti helaian rambut terbang ke atas dan lenyap begitu saja.

"Ratu dan gadis itu akan keluar besok pagi."

Hinata merasa tidak nyaman saat melihat Sasuke yang terus menatap puteri cantik di ujung pelaminan. Satu pertanyaan, kenapa sang raja tidak menjadikan putri itu sebagai pendamping hidupnya?

Sasuke malah memilih dirinya sebagai pendamping. Hinata meyakini sesuatu bahwa akan ada hal yang direncanakan Sasuke untuk kepentingannya sendiri.

"Madoka, bisakah kau membawaku pergi dari sini?" pinta Hinata pada pelayan pribadinya.

"Yang Mulia ingin pergi ke suatu tempat? Maaf, tetapi anda tidak bisa meninggalkan pesta." Madoka berucap dengan nada penuh sesal.

"Aku hanya ingin ke kamar mandi," bisik Hinata.

Madoka terpaksa menuruti keinginan Hinata, beruntung tidak ada yang menyadari kepergian Hinata karena semua orang sibuk dengan kegiatan masing-masing.

Ratu dan pelayan itu berjalan melewati beberapa anak tangga yang berhias bunga-bunga indah serta berwarna-warni. Aroma wangi menguar dari setiap bunga tersebut.

"Jangan ikuti aku, Madoka!!" Hinata berusaha berkata tegas agar pelayan pribadinya itu sedikit takut dan menurutinya. Hal itu berhasil membuat Madoka tidak berkutik.

Hinata berjalan sendiri di lorong menuju kamarnya. Tanpa disadari air matanya turun begitu saja, entah apa yang terjadi, seolah semua kesedihan yang pernah dia alami seperti datang kembali di saat yang bersamaan.

Lorong panjang menuju kamar cukup jauh sehingga memberinya waktu untuk mengisi kekosongan hatinya dengan lamunan.

'Nyonya, kenapa aku harus pergi? Aku tidak punya tempat tinggal selain di panti asuhan ini?'

'Maafkan aku, Nak! Panti ini akan di tutup karena kami tidak mendapat bantuan dari donatur lagi.'

'Hiks ... Jangan suruh aku pergi!'

'Maaf, Hinata. Kau sudah lulus SD. Carilah pekerjaan di luar sana. Kami di sini hanya bisa menampung bayi saja. Kami berharap ada yang mau mengadopsi mereka.'

Hinata berjalan dengan tatapan kosong, dia mengingat masa lalunya yang begitu pahit. Usia dua belas tahun dia harus bekerja sendiri karena terusir dari panti asuhan tempat dia tinggal.

Dia harus mengalah pada para bayi yang lebih membutuhkan perawatan. Kenapa ada orang tua yang tega membuang anak mereka. Hinata tidak pernah tahu bagaimana rasanya memiliki orang tua.

Prang ...

'Hey, kalau kerja yang benar!!'

'Maaf, Tuan. Aku tidak sengaja.'

'Gajimu aku potong. Mencuci piring saja tidak becus!'

Hinata tidak menyesali masa lalunya, tidak pernah, tetapi kenapa hal sepele yang pernah dilalui membuat dia teringat kembali dan itu menyakitkan.

Hinata tidak pernah menangis walaupun hidupnya sulit. Gadis itu selalu berusaha dengan penuh semangat untuk mencukupi semua kebutuhannya, sendirian.

Ternyata hanya satu kata bisa membuat dirinya merasa hina. Dia merasa sakit bukan karena masa lalu, tetapi masa depan yang tidak bisa dia lihat.

Hinata tidak menyadari ada sesuatu yang masuk ke dalam dadanya. Seketika, napasnya sesak, Hinata sulit untuk bernapas. Tidak hanya itu ada banyak bisikan tidak jelas yang dia dengar.

"Achh ..." Belum mencapai pintu kamar Hinata terjatuh karena tubuhnya terasa lemas.

Gadis muda itu seperti berhenti bernapas dengan mata yang terbuka.

"Ya Tuhan, apa aku akan mati?" Gadis itu seperti berada di ujung nyawanya.

Hinata melihat bayangan seseorang yang belum pernah dia lihat, tetapi dia merasa pernah bertemu dengan orang tersebut.

Dia bukan Sasuke, tetapi penampilannya menunjukkan bahwa orang itu bukan makhluk sembarangan, dia seperti seorang peminpin dari para monster reptil.

'Datanglah kepadaku!'

Hinata mendengarnya dengan jelas, apakah dia seorang malaikat kematian? Kenapa tidak? Sang pencipta bisa mengambil nyawa para hambaNya kapan saja dan dimana saja. Siapapun itu, tidak ada yang bisa menolak kematian.

"Sasuke ...!!" Hinata berkata lirih, tubuhnya sudah tidak berdaya, tetapi kenapa matanya tidak juga terpejam? Dia hanya menatap daun pintu dengan ukiran yang semakin memburam dalam penglihatannya.

Dia putus asa, apakah tidak akan ada yang peduli bahkan di saat dia sekarat seperti sekarang?

"Yang Mulia!!!"

"Hinata!!!"

Sasuke segera menghampiri tubuh tidak berdaya Hinata yang tergeletak di lorong. Pria itu menggendong tubuh ringan Hinata dan membawanya ke dalam kamar.

Sasuke menggeram tertahan. Raja muda itu marah saat terjadi sesuatu pada istrinya. Sebelumnya Hinata menghilang dari pesta, dengan segera Sasuke mencari keberadaan gadis itu.

Madoka menjadi sasaran kemarahan Sasuke karena tidak menemani sang ratu. Gadis muda pelayan hanya berlutut dan bersimpuh untuk mendapat pengampunan sang raja.

Seorang tabib istana berusaha mengobati sang ratu. Dia kewalahan pada mantra yang bersarang di dada Hinata.

"Ratu terkena dua mantra, Yang Mulia!" ucap tabib tersebut pada Sasuke yang masih setia menemani sang ratu.

"Saya akan pergi untuk memanggil tabib lain," ucap tabib tua itu lagi.

"Hn, katakan pada para petinggi istana untuk tetap tenang!" perintah Sasuke pada seorang panglima prajurit.

Sasuke menatap Hinata yang seperti kehilangan dirinya. Keringat membasahi seluruh tubuh gadis itu yang berbalut kain halus gaun tidurnya

Gaun berat Hinata memang sudah diganti oleh para pelayan istana. Sasuke memahami bahwa Hinata hanya gadis biasa, dia tidak akan tahan pada mantra yang diperuntukan bagi para makhluk magis seperti dirinya.

"Hinata, sadarlah!!" Sasuke mendekat kemudian duduk di tepi ranjang.

Dia melihat tatapan kosong Hinata, gadis itu terengah seperti kesulitan bernapas. Sebagai raja dia tahu mantra itu menjebak Hinata dalam dimensi kesedihan.

Dia tahu utusan Magora yang melakukan sihir itu pada Hinata. Mereka mungkin menyangka bahwa ratu Palostra adalah makhluk magis yang kebal terhadap mantra yang mereka anggap ringan.

"Apa yang kau tunggu? Yang Mulia Ratu hanya bisa disembuhkan oleh dirimu. Jangan biarkan para tabib itu kesulitan."

Sasuke mengalihkan perhatian pada Shisui yang sejak tadi menyaksikan semuanya.

"Kau bisa memberi sedikit inti kehidupan untuk membuatnya sadar kembali. Dia tidak akan tahan. Kalau ratumu mati, inti kehidupanmu tidak akan bisa mengganti nyawanya lagi."

Sasuke terdiam, ucapan Shisui selalu benar, dia bahkan lebih pintar dari penasehat raja--Juugo. Sebagai seorang raja hanya Sasuke yang memiliki kesaktian penyembuh untuk menolong orang-orang yang terluka.

Sasuke tidak punya pilihan, jika Hinata mati sekarang, maka semua usaha dan rencananya sia-sia belaka.

"Tunggu apa lagi?!" Shisui berkata gemas pada sepupunya itu.

Sasuke mendekat pada wajah Hinata. Dia tidak merasakan embusan napas Hinata. Sang raja muda memperpendek jarak bibirnya dengan bibir Hinata yang terbuka.

Sebuah sinar keluar dari mulut Sasuke dan berpindah ke dalam mulut Hinata. Sasuke menjauhkan kembali wajahnya, menunggu beberapa detik sampai energi penyembuhnya benar-benar bekerja.

Hinata terhenyak tanpa suara, kedua tangannya mencengram sprei putih dengan sangat kuat. Gadis itu seperti menahan rasa sakit yang luar biasa.

Sebuah asap seperti helaian rambut keluar dari dalam dada Hinata. Setelah itu sang ratu terlihat lemas dan tak sadarkan diri.

"Gadis yang malang," ucap Shisui pelan. Sasuke menghembuskan napas lega.

"Sukurlah!! Kau jagalah dia. Urusan istana biar aku yang mengatakan pada permaisuri." Shisui segera pergi meninggalkan pasangan pengantin baru tersebut.

Sasuke menatap wajah Hinata yang menunjukkan kembali rona merah. Alisnya gadis itu tertekuk tajam. Sasuke mengusap alis sang ratu mengembalikan pada garis yang tidak memperlihatkan kegelisahan.

Pikiran Sasuke menembus ke dalam pikiran Hinata. Dia melihat segalanya. Sang raja ingin tahu kesedihan apa yang diberikan raja kegelapan pada sang ratu.

Sasuke melihat semua visual yang memperlihatkan apa yang pernah Hinata lihat. Bahkan Sasuke melihat ingatan Hinata saat masih kecil.

Bagaimana Hinata sering mendapat perlakuan kejam dari orang-orang di sekitarnya. Satu pertanyaan, manusia adalah makhluk mulia, tetapi kenapa mereka saling merendahkan serta tidak memuliakan satu sama lain?

Raja muda merasakan sesuatu dalam dadanya. Perasaan yang menusuk dan memberi rasa sakit, itu adalah hal yang sedang Hinata rasakan.

Manusia memang luar biasa. Hinata menghadapi semua kesulitan hidupnya dengan senyuman sebagai pembungkus segala luka.

Sekarang luka itu akan semakin membesar karena kebohongan yang Sasuke ciptakan. Sasuke bisa membayangkan rasa sakit itu akan hilang saat nyawa Hinata juga menghilang untuk selamanya.

TBC

Garing oyyy

Saran ...

BG song untuk chap ini:

Yuki No Hana by Nakashima Mika

See you next chap

I Love U all