Kepalsuan, dusta, tipu daya adalah keahlian makhluk magis untuk menghasut dan memperdaya makhluk lainnya. Cantik, menggoda bahkan menjerumuskan pada hal yang semu.
Hinata merasa kepercayaan dirinya menurun saat berkumpul dengan para ratu dari seluruh negri. Ratu Naga Violet, Ratu Harimau, Ratu Serigala, Ratu Rusa, Ratu Kucing, dan Ratu kelinci mempunyai penampilan bahkan wajah yang rupawan.
Sementara dirinya hanya manusia biasa yang tidak mempunyai sihir dan daya tarik pemikat yang berarti. Hampir semua dari ke enam ratu yang menemuinya berpenampilan seumpama bidadari, sangat menawan, anggun dan berkelas.
"Jangan tertipu penampilan, mereka semua palsu," bisik Shisui pada Hinata yang menampilkan wajah sedih.
Sasuke mendelik pada Shisui dan memperingatkan pangeran untuk tidak terlalu dekat dengan ratunya. Saat ini keluarga kerajaan sedang kedatangan tamu dari kerajaan lain.
Sebenarnya mereka adalah para calon isteri dari raja spesies masing-masing. Calon istri? Lalu kenapa mereka sudah mendapat julukan ratu?
"Anda ratu sejati, Yang Mulia! Kami sangat iri, jika Anda tidak keberatan maka salah satu dari kami bersedia menjadi istri kedua untuk Yang Mulia Raja," ucap ratu cantik bermata coklat. Analuna adalah calon ratu serigala.
Hinata membulatkan mata, tetapi itu tidak menjadi pertanyaan besar karena dia tahu semua raja di Palostra memiliki isteri lebih dari satu. Entah kenapa hal itu membuat Hinata merasa kesal.
'Jangan tertipu oleh ucapan Ratu Serigala! Dia pandai menghasut.'
"Eh?" Hinata mengalihkan wajah pada sang raja dan menatapnya. Dengan jelas dia mendengar suara Sasuke, tetapi pria tidak terlihat berbiara.
'Kau tidak salah dengar, Ratu.'
Hinata menelan ludah saat Sasuke membalas tatapannya dan berbicara dengan bahasa apa itu? Hinata tidak tahu. Apa Sasuke membaca pikirannya?
Hinata menutup mulut tidak percaya, beraninya raja sombong itu masuk ke dalam pikirannya. Ah, tidak, Hinata meringis, sejak kapan pria itu melakukan hal tersebut.
'Jangan cemas, aku melakukan hal ini di saat penting saja.'
Sasuke masih menatap Hinata dan wajah gadis itu terlihat marah. Hinata memang marah, sejujurnya dia hanya khawatir jika semua yang dipikirkannya bisa diketahui Sasuke.
Iya ... Hinata sedang memikirkan kejadian saat bangun tidur tadi malam, lebih tepatnya saat dia sadar setelah pingsan karena mantra.
Hinata mengingat Sasuke tidur di sampingnya. Tentu dia terkejut saat bangun, kenapa bisa mereka tidur di atas ranjang yang sama, dan dengan entengnya Sasuke berkata. 'Kau istriku, kita sudah menikah. Jadi itu bukan masalah.'
'Berhenti membaca pikiranku!!' Itu yang dipikirkan Hinata sekarang.
'Tidak masalah.' Hinata melihat senyum tipis dari bibir Sasuke, gadis itu terpana karena untuk pertama kalinya dia melihat itu.
"Wahh, Yang Mulia. Senyum Anda sangat memukau. Jadi Anda bersedia menjadikan salah satu dari kami untuk mendampingi Anda?" Rupanya bukan hanya Hinata yang melihat senyuman sang raja.
Entah kenapa hal itu membuat Hinata tidak suka, Hinata kembali menatap Sasuke. Apa kali ini Sasuke juga membaca pikirannya?
"Kami semua tidak berani menjadi istri pertama, kami sangat takut." Ratu kucing bernama Miette mulai berbicara.
"Untuk hal ini kami sangat menghargai Ratu untuk pengorb- ..."
"Ekhem ... Para ratu yang cantik, bagaimana jika kita menikmati jamuan kerajaan?!" Shisui memotong ucapan ratu naga violet yang hampir mengungkap kebenaran.
Hinata tidak boleh mengetahui rencana Sasuke. Sebagai seorang anggota kerajaan dia harus mengutamakan kepentingan di negrinya.
Sebenarnya Shisui tidak tega setiap kali melihat wajah Hinata. Gadis itu tidak tahu apapun tentang kenyataan yang akan dihadapinya. Tidak bisa dia bayangkan kehancuran yang Hinata rasakan nanti.
Gadis manusia itu berbeda dengan manusia serakah lainnya. Dia yakin Hinata akan kecewa tetapi mematahkan kutukan Magora adalah hal lebih penting.
'Berhenti memikirkan istriku!'
Shisui mengalihkan perhatian pada Sasuke, tentu dia tahu kesaktian sang raja, pangeran muda itu mendengus.
'Kau merusak privasi, Yang Mulia!'
Mungkin jika mereka berbicara dengan mulut maka akan terlihat Shisui mencibir Sasuke, sayangnya Sasuke hanya bisa mengetahui pemikiran pangeran itu saja.
Sang raja dan ratu duduk berdampingan di kursi kebesaran mereka, sementara para tamu lainnya duduk melingkari meja besar dan panjang.
Hinata hanya memakan beberapa buah-buahan dan sayur, dia tidak berani menyentuh makanan berbahan daging, bukannya apa-apa dia hanya khawatir daging apa yang dihidangkan para juru masak istana.
Para tamu punya gaya bangsawan bahkan di saat makan, mereka begitu sopan dan rapi dengan tata krama yang ketat. Sungguh mereka memang pandai memperdaya.
Rupa mereka menawan, padahal kenyataannya mereka hanya hewan ajaib yang sedang menyamar. Hinata terkejut melihat pantulan mereka di cermin besar di ujung dinding meja makan.
Naga, Serigala, Harimau, Rusa, Kucing dan Kelinci dengan ukuran yang melewati batas. Tangan Hinata gemetar dia melihat bayangan di sisinya, naga hitam dengan rupa yang sangat menyeramkan.
Hinata tidak pernah tahu rupa Sasuke yang sebenarnya. Mereka palsu, pendusta, pembohong, serta penipu.
Hinata merasa takut, wajahnya tiba-tiba pucat.
"Yang Mulia, Anda baik-baik saja?" tanya Shisui, naga hitam bertanya. Hinata menatap pantulan naga itu, tetapi dia tidak semenyeramkan naga berwarna hitam pekat.
"Ratu, ada apa?" Hinata memutus penglihatan dari cermin. Dia mengaligkan perhatian pada wajah tampan Sasuke versi manusia. Hinata bersyukur kali ini pria dingin itu tidak masuk ke dalam pikirannya.
"Bolehkah aku pergi ke kamar, Yang Mulia?!" Hinata berkata gugup. Hinata tidak melihat wajah Sasuke yang tampan melainkan rupa naga dengan mata merah serta giginya yang runcing karena dia mengingat bayangan di cermin.
"Ada apa?" tanya Sasuke. Dia melihat raut wajah Hinata, sekarang gadis itu menunduk dan tidak berani menatapnya.
"Maaf, aku harus pergi!" Hinata takut dengan segera dia mundur, gadis itu bergerak kaku dan sedikit gemetar.
Sasuke terpaksa mengizinkan Hinata pergi, mungkin gadis itu masih sakit. Sang raja terpaksa melanjutkan formalitas ramah tamah kerajaan tanpa ratunya.
"Pangeran, bisakah kau teruskan ini?! Aku akan menyusul Ratu," pinta Sasuke, dia segera pergi setelah Shisui menjawab dengan berupa gestur hormat membungkukan badan.
Para ratu cantik hanya bisa saling menatap satu sama lain dengan beribu pertanyaan dalam pikiran mereka.
"Bagaimana, Yang Mulia? Apa Anda semua tidak keberatan jika Saya yang menjamu?" tanya Shisui dengan senyum andalan yang membuat para ratu terpesona.
"Ah, tentu saja tidak, Pangeran," jawab ratu kelinci yang memiliki mata bulat yang indah.
Siapa yang bisa menolak pesona para klan Uchiha yang memang terkenal dengan ketampanan dan kesempurnaan fisik mereka? Senyuman kecil saja mampu menghipnotis siapa saja terutama para kaum perempuan.
Hinata berjalan lunglai didampingi Madoka. Iya, Hinata ingat sekarang, gadis itu selalu berkata dan bertanya tentang hewan.
Jadi, inikah yang dimaksud Madoka?
Saat ini mereka tidak pergi ke kamar tetapi menuju taman bunga istana di bagian timur, Hinata merasa penat dan membutuhkan udara segar untuk menjernihkan pikiran.
"Madoka, k-kau jenis hewan apa?" tanya Hinata gugup, tetapi gadis pelayan itu malah tersenyum malu.
"Saya hanya hewan kecil, Yang Mulia! Ulat bulu," jawab Madoka.
"Ulat bulu???" Hinata bertanya seolah tidak percaya, tengkuknya terasa merinding serta pori-pori kulitnya meremang saat membayangkan seekor ulat raksasa.
Tubuh Hinata limbung. "Tinggalkan aku, Madoka!!" perintahnya.
"Maaf, Yang Mulia. Saya tidak bisa, saya tidak ingin kejadian seperti kemarin terulang lagi."
"Pergilah!!" Hinata menaikkan nada suara, dia hanya merasa takut dan tidak bermaksud menyakiti gadis itu.
"Tinggalkan dia!!" Tubuh Hinata membatu saat mendengar suara yang sudah tidak asing lagi. Dari sudut matanya dia melihat gadis pelayan itu membungkuk dan mundur.
Hinata bergeming tanpa berniat untuk melihat ke arah sang suami yang sudah berdiri di sisinya.
"Sudah kukatakan untuk tidak bertingkah," ucap Sasuke dingin.
"Entah untuk apa kau membiarkanku hidup, tetapi aku tahu kau merencanakan sesuatu pada diriku." Hinata berkata dengan suara yang bergetar.
Sasuke terdiam gadis itu kembali melupakan sopan santun dan tata krama seorang ratu, tetapi persetan Sasuke tidak peduli pada gadis yang menurutnya banyak tingkah itu.
"Katakan padaku! Apa yang sebenarnya kau inginkan! Kau menikahiku, tetapi hatimu ada pada wanita lain," ucap Hinata, kali ini gadis itu memberanikan menatap Sasuke walaupun dia tidak bisa menahan laju air matanya.
"Aku menyadarinya sekarang. Kau menjadikanku tameng untuk melindungi wanita itu. Wanita yang kau cintai." Hinata berkata panjang lebar, itulah yang gadis itu pikirkan saat ini. Sasuke menikahinya demi melindungi puteri berambut merah muda yang selalu dia tatap.
"Tutup mulutmu, Manusia!! Kau sudah lancang!" Sasuke berkata dengan menahan nada suaranya supaya tidak ada yang mendengar.
Ucapan Hinata memukul keras perasaannya karena hal itu benar, tetapi dia masih menyangkal bahwa dirinya adalah seorang pengecut karena tidak bisa melindungi orang yang disayanginya.
Dia ingin melindungi Sakura supaya tidak menjadi tumbal raja ular. Sasuke menjadikan Hinata sebagai tameng supaya wanita yang dia cintai tetap aman.
"Hidupku sudah tidak berarti. Kau lebih kejam dari pada makhluk itu. Setidaknya mereka tidak membiarkanku mati secara perlahan," ucap Hinata, dia mengingat ular raksasa bernama Moa yang hampir saja memakannya.
"Kau manusia rendah!! Beraninya kau mencampuri kehidupanku!" Sasuke dan Hinata saling menatap benci. Tersirat rasa putus asa dari masing-masing tatapan mereka.
"Berurusan denganmu membuatku gila," geram Sasuke tanpa melepaskan tatapan.
"Kalau begitu bebaskan kegilaanmu dengan membunuhku," tantang Hinata walaupun matanya basah tetapi dia masih berani menatap sorot mata tajam Sasuke.
Untuk beberapa lama mereka hanya saling menatap benci. Hinata membiarkan semilir angin menerbangkan anak rambutnya serta mengeringkan jejak air mata di pipinya.
Sampai pada akhirnya Hinata memutuskan tatapan dan mulai menutup wajah dengan kedua tangannya. Tangisannya pecah sekarang, dia tidak kuasa menahan luka hati yang dia pendam selama ini.
Tenggorokan gadis itu terlihat naik turun karena menahan isak tangis agar tidak menimbulkan suara. Sasuke berjalan mendekat, tanpa ragu dia memangku tubuh Hinata yang seperti tidak berdaya.
Wajah Hinata tenggelam di dadanya, gadis itu hanya bisa pasrah saat tubuhnya di bawa sang suami. Sasuke tidak peduli pada rasa malunya.
Hampir seisi istana melihat adegan romantis di mata mereka, padahal saat ini adalah hari yang buruk bagi pasangan raja dan ratu tersebut. Tanpa mempedulikan tatapan berbinar dari orang-orang di istana, Sasuke membawa tubuh ringan Hinata dengan jarak yang begitu jauh dari taman menuju kamar pribadi milik mereka berdua.
'Maafkan aku.'
Sasuke terus berjalan tanpa menyadari seorang puteri melihat adegan mesra dirinya dengan sang ratu.
"Sasuke!"
TBC
Hallo ..
Bang Mago belum muncul ya
Aku banyakin dulu scene SasuHina ...
Ok see you next chap ...
I Love u all
