"Aku hamil"
Kalimat tersebut menghantar keheningan diantara dua sejoli yang bertemu di bawah atap kafe kecil di pinggiran kota Tokyo.
Keduanya tidak menunjukkan ekspresi apapun padahal masalah yang mereka hadapi saat ini cukup berat. Kehamilan terjadi akibat kejadian yang tidak disengaja dan ternyata membawa dampak yang memusingkan kepala.
Setelah 15 menit terdiam, suara terdengar, " aku akan bertanggungjawab"
YOU
"Uchiha-san, kirimkan berkas ini ke email Kiri-san ya"
Uchiha Sasuke menganggukkan kepalanya sembari menerima tumpukan tipis dokumen yang disodorkan padanya, "arigatou, Shimura-san"
"No prob"sahut Shimura-san dengan senyumannya yang aneh, " oh ya, bagaimana kabar istrimu? Bukankah dia sedang hamil besar?"
"Dia baik-baik saja"jawab Sasuke sambil meneliti berkas yang akan dikirimkannya kepada kepala divisi lain nanti, "terima kasih sudah bertanya"
Shimura-san tertawa, " jangan kaku begitu, Uchiha-san"sahutnya, " kau sudah 7 bulan di perusahaan ini dan aku sudah menganggapmu sebagai teman. Jangan sungkan minta bantuan padaku"
"Hn, arigatou"
Shimura-san meninggalkan Sasuke yang mulai mengerjakan tugasnya. Tak terasa matahari sudah mulai tenggelam. Sasuke memberikan salam kepada rekan kerjanya saat berpisah. Langkah kakinya yang pelan membawanya ke sebuah halte bus yang agak ramai karena jam pulang kantor.
Bus tiba lima menit kemudian. Sasuke naik bersama yang lain. Bus berjalan menyusuri jalan kota yang diterangi lampu jalanan. Halte yang dituju oleh Sasuke sudah dekat. Dirinya bersiap-siap dan bus berhenti.
"Arigatou"ucapnya kepada supir bus yang membalasnya dengan senyuman. Dia turun dari bus dan berjalan menjauh dari halte bus menuju kawasan perumahan yang agak padat. Kakinya terus bergerak sampai akhirnya berhenti didepan sebuah rumah mungil yang lampu berandanya baru saja menyala.
Tangannya bergerak membuka gerbang. Setelah masuk, tak lupa ditutupnya kembali. Diputar kenop pintu berbahan kayu dan di dorongnya sedikit.
Mata hitamnya menemukan kondisi rumah yang sepi. Lampu sudah dinyalakan. Suasana hangat rumah sudah dirasakannya ketika masuk ke dalam. Dilepaskannya sepatu dan mengganti dengan mengenakan sendal.
Matanya bergerak ke segala arah, mencari seseorang yang seharusnya ada disini.
"Okaeri"
suara lembut itu menghentikan Sasuke yang siap naik ke atas lantai dua. Dirinya berpaling dan menemukan orang yang dicarinya.
"Tadaima"sahut Sasuke seraya mendekati sosok itu, " apa yang kau masak?"
"Ah, hanya kare aja"jawab si wanita seraya tersenyum lembut, " aku akan menyiapkan air panas untukmu. Duduklah dulu"
"Hm.. Hinata-san.."panggil Sasuke yang membuat Hinata berhenti bergerak, " aku..."
"Ya, ada apa, Sasuke-san?"
Matanya memantulkan sosok Hinata-san. Gadis baik-baik yang mengalami kejadian sial karena dirinya. Hamil diluar pernikahan. Gadis manis yang menjadi rekan kerjanya dulu di Tokyo. Keturunan keluarga baik-baik yang harus mengikutinya ke Konoha, kota kecil yang jauh dari hiruk pikuk kota besar. Gadis yang terpaksa menikahinya. Gadis yang tidak mencintainya.
Sasuke menghela napas, "aku akan mengurus air panas untukku. Istirahatlah" dan setelahnya dia beranjak dari sana tanpa mengucapkan sepatah kata lagi.
Anak adalah korban dari orang tuanya.
Itulah yang terjadi pada Hinata. Dia adalah anak tunggal yang menjadi korban keegoisan orang tuanya. Tumbuh sendirian sebagai pribadi yang terluka, mengharapkan cinta tulus.
Cinta adalah pembunuh.
Setelah dewasa, Hinata bertemu cintanya. Pria yang menghangatkan jiwanya yang dingin dan memunculkan harapan pada hatinya. Tapi hatinya hancur kembali ketika tahu bahwa prianya berselingkuh dengan gadis lain.
Takdir itu tidak bisa ditebak.
Ditengah kehancuran itu, sebuah tangan tak terduga terulur padanya. Cahaya lain yang muncul. Membawa harapan, walau kecil pada dirinya.
Manusia itu egois, tapi bisa memilih.
Pilihan pindah dari traumanya, membawa Hinata pada sebuah kehidupan baru yang sudah dikuburnya dalam-dalam karena pengkhianatan cinta.
Kedua mata Hinata terbuka. Hal pertama yang dilihatnya adalah kaus biru tua milik suaminya, Uchiha Sasuke.
Bukan itu saja, di bagian perutnya terasa berat. Pasti tangan Sasuke memeluknya semalaman.
Selalu seperti ini.
Pemandangan yang dilihat Hinata adalah baju Sasuke dan perasaan hangat yang diam-diam memasuki relung hatinya ketika sadar bahwa Sasuke memeluknya.
Awalnya, Hinata marah pada Sasuke karena berani menyentuhnya tapi pria yang menjadi suaminya ini sepertinya tidak peduli dan pada akhirnya, Hinata mengalah.
Pelan-pelan, Hinata memindahkan tangan besar suaminya yang selalu terasa hangat.
Tangan ini yang selalu mengelus perutnya yang sudah buncit setiap malam, setiap pagi, setiap pulang kerja, setiap habis mandi, setiap menonton televisi.
Tangan hangat yang ingin Hinata pegang namun tidak bisa karena dia merasakan penyesalan pada pria baik seperti Uchiha Sasuke yang terpaksa menikahinya karena perbuatan tak bertanggung jawabnya.
Uchiha Sasuke adalah rekan kerjanya dulu di Tokyo. Pria pendiam yang punya banyak kelebihan. Mereka tidak pernah berbicara sebelumnya, tapi kenapa takdir membawa mereka menjadi pasangan?
Hinata mencuci sayuran yang akan diolahnya menjadi sarapan ketika didengarnya suara langkah kaki dari atas.
"Ohayou"suara berat itu membuatnya berpaling. Sasuke yang baru bangun tidur dan sinar matahari yang menerpa sosoknya, membuat pria yang baru menjadi suaminya ini, kelihatan hangat.
"Ohayou, Sasuke-san"sapa balik Hinata ramah, " air mandimu sudah siap. Mandilah, sarapan akan siap setelah kau selesai"
"Hn"
Hinata berbalik, berniat melanjutkan pekerjaannya, ketika dirasakannya usapan lembut di perutnya. Tak usah tanya siapa pelakunya.
"Ohayou, nak"sapa Sasuke lembut. Suaranya terasa dekat sekali dengan telinga Hinata. Membuat bulu kuduknya meremang. Tapi hal itu terasa hangat.
Usapannya berhenti seiring kepergian Sasuke.
Hinata mencoba mengambil napas panjang. Jantungnya berdebar kuat. Tangannya bergerak ke arah perut, menyentuh kembali tempat dimana tangan Sasuke bergerak. Merasakan kehangatan pria dingin yang irit bicara itu.
Air mata meleleh.
Hinata merasakan gejolak emosi yang dikenalnya dengan baik. Egois. Hinata ingin Sasuke bersamanya. Dia ingin pria itu menjadi miliknya.
Tapi...
Sasuke terpaksa. Dia terpaksa karena kesalahan Hinata. Sasuke menanggung beban bernama Hinata. Gadis yang merenggut masa depannya yang cemerlang.
Ya Tuhan... Bunuh perasaan ini!
"Kudengar istri dari penanggungjawab Inuzuka membuka sebuah toko bunga"kata Shimura-san di suatu siang yang tidak terlalu terik tapi berangin.
Sasuke meneguk colanya, " bagus"
Shimura-san tertawa, "apa-apaan itu?? Kau memang pria berdarah dingin, Uchiha-san. Banyak wanita di kantor yang menyukaimu, tahu. Tapi ketika tahu kau sudah beristri, mereka tahu diri. Namun mereka tetap ingin mengakrabkan diri, tapi sikap dinginmu itu... Mengecewakan, kawan"
Sasuke cuek bebek mendengar penuturan senior di tempat kerjanya itu. Pria pucat yang sudah sok akrab padanya semenjak hari pertama dan tahan pada sikap Sasuke yang... Mengecewakan.
"Oi," Shimura-san mendekati Sasuke yang bersandar pada dinding, " kau pasti bertanya-tanya kenapa aku tahan dengan sikapmu itu kan? Asal kau tahu ya... Aku punya seorang kekasih yang sifatnya mirip denganmu. Namanya Hanabi. Menyebalkan, cerewet dan tukang marah-marah. Tapi aku sayang dirinya. Dan saat melihatmu pertama kali, aku langsung melihat bayangan Hanabi padamu. Itulah kebenaran ya"
Sasuke melirik Shimura-san yang lagi-lagi tersenyum aneh, "urusai"ucapnya lalu pergi dari sana
"Eh? Kau mengatakan hal itu pada seniormu? Hei, Uchiha-san!"
Sasuke menghela napas. Lelaki cerewet!
Mata Sasuke menangkap pemandangan sepasang suami istri yang tengah berjalan bersama. Keduanya tersenyum ceria, bergandengan tangan, memancarkan cinta yang membuat hatinya berdenyut sakit.
Dulu.. Sasuke punya memori seperti ini. Gadis ceria yang selalu berbicara. Punya semangat dan tekad kuat. Matanya selalu memancarkan kehidupan yang membakar hati Sasuke. Gadis itu menjadi pusat kehidupan Sasuke. Dia merasa bahwa tanpa gadis itu, dia akan kembali merasakan kehampaan. Harapan muncul dan dirinya siap menerjang apapun demi bersama gadis pujaan hatinya.
Harapan tinggal harapan. Bunga yang selalu disiram dan diterangi matahari, layu lalu mati karena kepergian si matahari.
Pusaran kekelaman menguasai Sasuke kembali. Dia ketakutan, dia mencoba mencari jalan keluar tapi tidak ditemukan. Dimana mataharinya??
Menjalani hidup seperti zombie dijalaninya... Sampai cahaya lain muncul.
Hyuuga Hinata.
Si bulan.
Menerangi malamnya.
Sasuke suka cahaya bulan. Tidak menyilaukan, tidak membakar. Malah membawa efek menenangkan. Jiwanya seperti dihanyutkan, membawa kepada kedamaian.
Dia tidak ingin cahaya bulan hilang.
Sekalipun keadaan mereka di awali oleh kesalahan, bolehkan dirinya berharap?
"Aku merasa sangat menginginkanmu... Tapi aku tahu bahwa ada yang salah. Ini bukanlah yang kau inginkan. Aku sudah membawamu kedalam masalahku. Maafkan aku. Aku mencintaimu"
"Semua tentang dirimu, membuatku ingin egois. Memilikimu adalah harapan dalam kediamanku. Aku mencintaimu"
Tbc.
